You are on page 1of 24

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Stroke adalah penyakit pada otak berupa gangguan fungsi syaraf lokal dan/

atau global, munculnya mendadak, progresif, dan cepat. Gangguan fungsi syaraf

pada stroke disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik.

Gangguan syaraf tersebut menimbulkan gejala antara lain: kelumpuhan wajah

atau anggota badan, bicara tidak lancar, bicara tidak jelas (pelo), mungkin

perubahan kesadaran, gangguan penglihatan, dan lain-lain. Didefinisikan sebagai

stroke jika pernah di diagnosis menderita penyakit stroke oleh tenaga kesehatan

(dokter/perawat/bidan) atau belum pernah didiagnosis menderita penyakit stroke

oleh nakes tetapi pernah mengalami secara mendadak keluhan kelumpuhan pada

satu sisi tubuh atau kelumpuhan pada satu sisi tubuh yang disertai kesemutan atau

baal satu sisi tubuh atau mulut menjadi mencong tanpa kelumpuhan otot mata atau

bicara pelo atau sulit bicara/komunikasi dan atau tidak mengerti pembicaraan.

(Riskesdas 2013).

Berdasarkan World Health Organization tahun 2012 didapatkan 17,5 juta

orang meninggal akibat stroke atau 31% dari semua kematian di dunia, Prevalensi

stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 7%.

Prevalensi Stroke tertinggi di Sulawesi Utara (10,8), diikuti DI Yogyakarta

(10,3), Bangka Belitung dan DKI Jakarta masing-masing 9,7%. Prevalensi

Stroke berdasarkan terdiagnosis nakes dan gejala tertinggi terdapat di Sulawesi

1
Selatan (17,9), DI Yogyakarta (16,9), Sulawesi Tengah (16,6), diikuti Jawa

Timur sebesar 16 per mil .

Berdasarkan data RISKESDAS Sulawesi utara tahun 2013, Prevalensi

stroke di provinsi Sulawesi Utara yang terdiagnosis tenaga kesehatan sebesar 10,8

persen dan yang terdiagnosis tenaga kesehatan dan gejala sebesar 14,9 persen.

Kejadian stroke tertinggi di Minahasa Utara (19,2), diikuti kota Manado

(15,3), kota Tomohon (15,1), Kepulauan sangihe (14,2 ) dan Minahasa

(12,7%). Sedangkan berdasarkan umur, tertinggi pada umur 75 tahun (58,9

dan 69,4). Berdasarkan jenis kelamin tertinggi pada wanita (13,9 ) dibanding

laki-laki (7,9 ). Prevalensi stroke cenderung lebih tinggi pada masyarakat

dengan pendidikan rendah sebesar 15,6. Kejadian stroke lebih tinggi di kota

daripada di desa, baik berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan (14,0) maupun

berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala (17,3). Prevalensi lebih

tinggi pada masyarakat yang tidak bekerja baik yang didiagnosis tenaga kesehatan

(17,1) maupun yang didiagnosis tenaga kesehatan dan gejala (21,6).

Berdasarkan data pasien stroke dari bulan Juni sampai bulan agustus 2016

di RS Pancaran Kasih didapatkan bahwa, pada bulan juni berjumlah 11 pasien,

pada bulan juli jumlah pasien stroke menurun menjadi 7 pasien dan pada bulan

agustus berjumlah 1 pasien.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis rekomendasi untuk asupan

natrium menyerukan pengurangan asupan natrium untuk mengurangi tekanan

darah dan risiko penyakit kardiovaskular, stroke dan penyakit jantung koroner.

WHO merekomendasikan pengurangan untuk kurang dari 2.000 mg / hari natrium

2
pada orang dewasa. Pada bulan Oktober tahun 2013, setelah meninjau penelitian

terbaru tentang efek natrium pada tekanan darah, Hipertensi di Kanada

merekomendasikan bahwa untuk mengurangi tekanan darah, orang dewasa harus

mengurangi asupan sodium 2.000 mg (5 g garam) per hari.

Di antara lemak yang dikonsumsi sehari dianjurkan paling banyak 10%

dari kebutuhan energy total berasal dari lemak jenuh, dan 3-7% dari lemak tidak

jenuh ganda. Konsumsi kolesterol yang dianjurkan adalah 300 mg sehari.

(Almatsier, 2004).

Berdasarkan data tersebut diatas, maka peneliti berkeinginan untuk

mengetahui asupan lemak dan natrium pada pasien sstroke rawat jalan di RS

Pancaran Kasih Manado.

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah asupan lemak dan natrium pada pasien stroke di instalasi

rawat jalan di ss Pancaran Kasih.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui bagaimana asupan lemak dan Natrium pada penderita stroke

yang di rawat jalan di RS Pancaran Kasih.

2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui asupan lemak pada pasien stroke yang di rawat jalan di RS

Pancaran Kasih Manado.

3
2. Mengetahui asupan natrium pada penderita stroke yang di rawat jalan di RS

Pancaran Kasih
3. Untuk menganalisis asupan lemak dan natrium pada pasien stroke yang

rawat jalan di RS Pancaran Kasih.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4
A.Stroke

1. Definisi Stroke

Stroke menurut World Health Organization adalah tanda-tanda klinis

yang berkembang cepat dari gangguan otak fokal atau global dengan gejala-

gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih atau menimbulkan kematian

tanpa penyebab lain selain vaskuler. Secara klasik stroke ditandai sebagai

defisit neurologis yang dikaitkan dengan cedera fokal akut susunan saraf pusat

sistem (SSP) oleh penyebab vaskular, termasuk serebral infark, perdarahan

intraserebral (ICH), dan subarachnoid perdarahan (SAH).

2. Klasifikasi Stroke

Dikenal bermacam-macam klasifikasi stroke, berdasarkan atas gambaran

klinik, patologi anatomi, system pembuluh darah dan stadiumnya. Dasar

klasifikasi yang berbeda-beda ini perlu, sebab setiap jenis stroke mempunyai

cara pengobatan, preventif dan prognosis yang berbeda, walaupun

patogenesisnya sarupa.

Klasifikasi modifikasi Marshall, yaitu

A. Berdasarkan patologi anatomi dan penyebabnya

1. Stroke Iskemik

a. Serangan iskemik sepintas (Transient Ischemic Attack)

b. Trombosis serebri

c. Emboli serebri

5
2. Stroke Hemoragik

a. Stroke intra serebral

b. Stroke subarakhnoid

B. Berdasarkan stadium/pertimbangan waktu

1. Transient Ischaemic Attack (T.I.A)

2. Stroke-in-evolution

3. Completed stroke

C. Berdasarkan sistem pembuluh darah

1. Stroke karotis

2. Stroke vertebra-basiler

Bamford (1992), mengajukan klasifikasi klinis saja yang dapat dijadikan

pegangan, yaitu:

1. Lacunar infarct (LACI)

2. Total Anterior Circulation Infarct (TACI)

3. Partial Anterior Circulation Infarct (PACI)

4. Posterior Circulation Infarct (POCI)

3. Insiden Stroke

Kasus stroke di seluruh dunia diperkirakan mencapai 50 juta jiwa, dan 9

juta di antaranya menderita kecacatan berat. Yang lebih memprihatinkan lagi

10 persen di antara mereka yang terserang stroke mengalami kematian. Di

Amerika serikat, stroke menempati urutan ketiga penyebab kematian setelah

penyakit jantung dan kanker. Tingginya angka kejadian stroke bukan hanya di

6
negara maju saja, tapi juga menyerang negara berkembang seperti Indonesia

karena perubahan tingkah laku dan pola hidup masyarakat. Keadaan rawan

stroke di Indonesia terus meningkat menjadi 10 kali atau 15 kali atau yang pasti

jauh lebih besar dibandingkan masa-masa sebelumnya. Hasil Rikesdas 2007,

prevalensi stroke di Indonesia ditemukan sebesar 8,3 per 1000 penduduk.

4.
Tanda dan gejala klinis Stroke

Gejala neurologis yang timbul tergantung berat ringannya gangguan pembuluh

darah dan lokasinya. Manifestasi klinis stroke dapat berupa:

Kelumpuhan wajah atau anggota badan (biasanya hemiparesis) yang timbul

mendadak.

Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan (gangguan

hemihipestesi).

Perubahan mendadak status mental (somnolen, delirium, letargi, stupor,

atau koma).

Afasia (bicara tidak lancer, kurangnya ucapan, atau kesulitan memahami

ucapan).

Vertigo, mual dan muntah, atau nyeri kepala.

5. Faktor Risiko Stroke

Beberapa faktor risiko stroke bersifat genetic dan sulit atau bahkan tidak

mungkin untuk diubah atau dipengaruhi (misalnya: umur, jenis kelamin).

Faktor risiko lainnya dipengaruhi oleh lingkungan dan mudah dicegah

7
(misalnya infeksi). Faktor risiko tertentu dipengaruhi oleh gaya hidup

(misalnya merokok) dan ada pula faktor risiko yang merupakan kombinasi

antara lingkungan dan familial (misalnya hipertensi). Jenis-jenis faktor risiko

tersebut.16

1. Hipertensi

Hipertensi adalah faktor risiko utama stroke. Hasil dari 28 rumah sakit

hipertensi sebesar 73,9%.17 Tekanan darah terdiri dari dua komponen yang

disebut tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi didefinisikan sebagai

suatu peningkatan tekanan darah sistolik dan/atau diastolik yang tidak

normal. Hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya maupun menyempitnya

pembuluh darah otak. Apabila pembuluh darah otak pecah maka timbullah

perdarahan otak dan apabila pembuluh darah otak menyempit maka aliran

darah ke otak akan terganggu dan sel-sel otak akan mengalami kematian. 16

Berdasarkan hasil perhitungan, hipertensi merupakan faktor risiko terbesar

stroke iskemik, baik untuk pria maupun wanita. Menurut perhitungan

statistic dengan variabel usia, ternyata hipertensi dan normotensi

mempunyai risiko stroke sebesar 3 berbanding 1 untuk pria dan 2,9

berbanding 1 untuk wanita. Artinya dengan faktor risiko hipertensi

ditambah usia lanjut, kejadian strokeuntuk pria 3 kali dan wanita 2,9 kali

lebih sering dibandingkan dengan mereka yang berusia lanjut dengan

tekanan darah normal.

2. Diabetes Melitus

8
Menurut WHO seseorang disebut sebagai penderita diabetes melitus

apabila kadar glukosa darah vena dalam keadaan puasa lebih dari

140mg/desiliter dan kadar glukosa darah vena 2 jam setelah diberi minum

75 mg glukosa lebih dari 200mg/desiliter. Banyak penderita stroke yang

mengidap diabetes melitus. Diabetes melitus dapat menebalkan dinding

pembuluh darah otak yang berukuran besar. Menebalnya dinding pembuluh

darah otak akan menyempitkan diameter pembuluh darah tadi dan

penyempitan tersebut kemudian akan mengganggukelancaran aliran darah

ke otak, yang ada pada akhirnya menyebabkan infark sel-sel otak. 16 Para

pakar sepakat, apabila gula darah diatas 150mg/100mL, akan terjadi infark

otak aterotrombotik pada wanita yang lebih sering dibandingkan laki-laki

dan merupakan faktor risiko independen peningkatan kejadian stroke

wanita usia lanjut. Dari hasil penelitian di 28 rumah sakit, diabetes melitus

didapatkan sebesar 17,3%.

3. Penyakit jantung

Berbagai penyakit jantung berpotensi untuk menimbulkan stroke di

kemudian hari. Penyakit jantung rematik, penyakit jantung koroner dengan

infark otot jantung dan gangguan irama denyut jantung merupakan faktor

risiko stroke yang cukup potensial. Studi Framingham, mendapatkan

peningkatan 5,6 kali lebih besar kejadian stroke pada orang dengan fibrilasi

atrium (FA). Fibrilasi atrium juga merupakan penyebab aritmia kardiak

pada orang tua. Kejadian FA meningkat dari 0,2 per 1000 di usia 30-39

menjadi 39,0 per 1000 di usia 80-89 tahun. Berdasarkan hasil analisa 28

9
rumah sakit di Indonesia FA didapatkan pada 5,8% penderita stroke dan

penyakit katup jantung sebesar 3,4%. Sementara penyakit jantung bawaan

pada umumnya sudah diketahui sejak dini. Koreksi terhadap penyakit

jantung bawaan dapat menurunkan risiko stroke.

4. Hiperkolesterolemi

Meningginya kadar kolestrol dalam darah disebut hiperkolesterolemi.

Meningginya kadar kolestrol dalam darah, terutama low density lipoprotein

(LDL), merupakan faktor risiko penting untuk terjadinya aterosklerosis.

Apabila peningkatan LDL disertai penurunan HDL dapat meningkatkan

risiko terjadinya penyakit jantung koroner dan hal tersebut merupakan

faktor risiko stroke.

5. Obesitas

Obesitas atau berat badan yang berlebihan masih menjadi bahan

perdebatan apakah memang merupakan faktor risiko stroke yang kuat atau

tidak. Hal ini didasarkan atas berbagai hasil penelitian yang bersifat belum

dapat disimpulkan secara pasti. Yang jelas obesitas merupakan faktor risiko

untuk terjadinya penyakit jantung. Dengan demikian, kemungkinan

obesitas merupakan faktor risiko sekunder untuk stroke.

6. Merokok

Merokok merupakan faktor risiko kuat terjadinya infark miokard dan

kematian mendadak. Merokok meningkatkan risiko stroke trombotik dan

perdarahan subarakhnoid juga sudah diterima secara luas. Risiko relative

perdarahan subarakhnoid pada perokok dibandingkan bukan perokok

10
sebesar 2,7 pada laki-laki dan 3,0 pada wanita. Dari hasil di 28 rumah sakit

di Indonesia, merokok didapatkan cukup tinggi yaitu sebesar 20,45%.

7. Alkohol

Risiko stroke pada peminum alkohol tergantung berapa banyak alkohol

yang dikonsumsi. Alkohol dan merokok telah diketahui akan meningkatkan

hematokrit darah dan viskositas. Gangguan irama jantung termasuk AF bisa

timbul akibat keracunan alkohol. Keracunan alkohol merupakan faktor

risiko untuk terjadinya stroke baik stroke trombotik maupun perdarahan

subarakhnoid. Dari hasil 28 rumah sakit di Indonesia didapatkan dalam

jumlah kecil, yaitu 1,4%.

8. Gaya Hidup

Faktor resiko terjadinya stroke tidak hanya selalu pada pola

makan saja. Ada berbagai macam faktor pencetus munculnya penyakit

stroke seperti stress baik itu stress psikologi maupun stress pekerjaan

dimana stress meningkatkan resiko terjadinya stroke 10% kali. Selain

stress, faktor pencetus terjadinya stroke bisa berupa merokok dapat

meningkatkan risiko terjadinya stroke hingga 3,5% dan resiko itu

akan menurun seketika setelah berhenti merokok dan dapat terlihat

jelas dalam periode 2 4 tahun setelah seseorang berhenti merokok

(Dinkes Kebumen, 2013). Berdasarkan hasil Widyakarya Nasional

Pangan dan Gizi (WKNPG) VI (1998), makanan modern telah menjadi

bagian dari kebiasaan makanan masyarakat. Pengkonsumsian

makanan modern seperti fastfood serta kurangnya mengkonsumsi

11
buah dan sayur beresiko 30% lebih tinggi terkena penyakit stroke

dibanding dengan orang yang mengkonsumsi 8kali/hari atau lebih.

(Maukar M et al, 2014).

Penelitian terkait yang dilakukan oleh Ovina (2013) di rumah

sakit Jambi, didapati pola makan yang abnormal dipicu oleh dua

faktor yakni faktor kebiasaan mengkonsumsi makanan dalam jumlah

banyak dan kebiasaan makan tidak teratur

B. Asupan Lemak dan Natrium

1. Lemak

Lemak merupakan pelarut yang baik bagi vitamin A, D, E, dan

K. Lemak juga berperan sebagai pembangun organ tubuh tertentu dan

menjadi alas organ (bantalan). Beberapa organ tubuh penting umumnya

dilindungi lapisan lemak. Ketika kita kedinginan maka lemak yang

dimiliki tubuh menunjang sebagai pemberi kehangatan bagi tubuh

(Ridwan, 2009).

Lemak itu sendiri dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu asam

lemak jenuh dan tak jenuh . Asam lemak jenuh merupakan asam lemak

yang dapat disintesis sendiri oleh tubuh. Asam lemak ini biasanya pada

suhu ruang berbentuk padat. Sementara itu, asam lemak jenuh dapat

meningkatkan kolesterol darah. Peningkatan kadar lemak dalam darah

secara abnormal disebut lipemia, sedangkan penimbunan lemak secara

12
abnormal dalam jaringan disebut lipomatosis. Asam lemak tak jenuh

biasanya berwujud cair dan terdapat dalam lemak nabati. Asam lemak

esensial merupakan asam lemak yang tidak diproduksi oleh tubuh,

misalnya asam arakhidonat dan asam lemak linoleat. (Ridwan, 2009).

Kolesterol adalah suatu zat lemak yang beredar di dalam

diproduksi oleh hati dan sangat diperlukan oleh tubuh. Kolesterol yang

berlebihan dalam darah akan menimbulkan masalah terutama pada

pembuluh darah jantung dan otak. Darah mengandung kolesterol,

dimana 80 % kolesterol darah tersebut di produksi oleh tubuh sendiri

dan hanya 20% yang berasal dari makanan. Kolesterol yang diproduksi

terdiri atas 2 jenis yaitu kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) dan

kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein). Kolesterol LDL yang

jumlahnya berlebihan di dalam darah, akan diendapkan pada dinding

pembuluh darah dan membentuk bekuan yang dapat menyumbat

pembuluh darah. Sedangkan kolesterol HDL, mempunyai fungsi

membersihkan pembuluh darah dari kolesterol LDL yang berlebihan.

Pengaturan pola makan merupakan pilar utama dalam menangani

pasien dengan kadar lemak darah tinggi. Banyak faktor yang

mempengaruhi profil lipid seperti berbagai penyakit (DM, hipertensi,

obesitas), gaya hidup (pola makan salah, kebiasaan merokok, dan

kebiasaan minum alkohol). (Septianggi, 2013).

Tubuh manusia memiliki kemampuan untuk menyimpan lemak

tidak terbatas (sebagian besar di jaringan adiposa) simpanan ini

13
digunakan ketika tubuh kekurangan energy. Lemak jenuh (terutama

susu dan lemak hewan) memperburuk ristensi insulin dan meningkatkan

kolesterol LDL. Oleh karena itu, konsumsi harian lemak harus dibatasi

pada 7-10% dari asupan kalori. (Shankar & Sundarka, 2003). Lemak

cukup, yaitu 20-25% dari kebutuhan energy total. Utamakan sumber

lemak jidak jenuh ganda,batasi sumber lemak jenuh yaitu < 10% dari

kebutuhan energy total. Kolesterol dibatasi < 300 mg. (Almatsier, 2006).

Hati mengemas trigliserida menjadi VLDL dan

dilepaskan ke aliran darah. VLDL yang kaya akan

trigliserida dipecah menjadi VLDL remnan yang lebih

kecil. VLDL remnan dipecah lebih jauh menjadi

Intermediate Density Lipoprotein (IDL). IDL diubah

menjadi LDL yang merupakan hasil akhir dari proses

tersebut. LDL membawa kolesterol dari hati ke sel-sel

tubuh yang memerlukan. Jika terlalu banyak yang

dibawa, maka bisa terjadi penumpukan pada dinding

pembuluh darah. LDL akan menumpuk di bagian dalam

arteri yang memasok organ tubuh dengan oksigen dan

nutrisi. Penumpukan LDL ini dapat mempersempit dan

menyumbat arteri melalui pembentukan ateroma.

Proses tersebut dinamakan aterosklerosis.

Aterosklerosis dapat mengurangi aliran darah dan

menyebabkan pasokan oksigen berkurang sehingga

14
organ tidak dapat berfungsi dengan semestinya.

(Arifnaldi, 2014)

Kadar trigliserida yang tinggi dikaitkan dengan

peningkatan resiko penyakit vaskular. Orang dengan

kadar trigliserida tinggi seringkali memiliki kadar

kolesterol LDL tinggi dan kolesterol HDL rendah

(Freiberg et al., 2008).. Peningkatan kadar trigliserida

juga membuat kolesterol LDL bersifat toksik pada

dinding arteri dan mengurangi efek menguntungkan

HDL (Bull, 2007). Orang yang mengalami kelebihan

berat badan atau obesitas, seringkali juga mempunyai

kadar trigliserida yang melewati batas normal. Kondisi-

kondisi tersebut akan meningkatkan resiko untuk

menderita penyakit jantung atau stroke. (Arifnaldi,

2014)

Journal of the American Medical Association (JAMA)

menyatakan bahwa tingginya trigliserida dikaitkan

dengan peningkatan faktor resiko stroke iskemik tiga

hingga empat kali lipat (Freiberg et al., 2008). Hal

serupa di dapatkan dalam Annals of Neurology yang

menyatakan bahwa peningkatan kadar trigliserida

meningkatkan risiko stroke iskemik pada pria dan

wanita (Varbo, 2011). Penelitian lain yang dilakukan

15
oleh Thomas Bowman dan rekannya menyebutkan

terdapat hubungan antara peningkatan rasio kolesterol

total dan High Density Lipoprotein (HDL) pada kejadian

stroke iskemik tetapi tidak terdapat hubungan antara

trigliserida dengan kejadian stroke iskemik (Bansal S

et al, 2015).

2. Natrium

Garam adalah sumber utama natrium, unsur yang sangat penting bagi

kesehatan. Tubuh membutuhkannya untuk membantu menjaga keseimbangan

cairan tubuh, membantu mengirimkan impuls saraf dan proses kontraksi dan

relaksasi otot. Ginjal secara alami menjaga keseimbangan jumlah natrium di

dalam tubuh. Bila kadar natrium rendah, ginjal akan menahan pengeluarannya.

Bila kadar natrium tinggi, ginjal akan mengeluarkannya melalui urine. Dalam

masalah tertentu ginjal tidak dapat mengeluarkan natrium, maka natrium akan

terakumulasi di dalam darah. Karena natrium bersifat menarik dan menahan

air, volume darah akan meningkat.

Peningkatan volume darah membuat jantung bekerja lebih keras untuk

mengalirkan lebih banyak darah ke pembuluh darah dan meningkatkan

tekanan darah. Hal ini pada akhirnya dapat menyebabkan hipertensi.

Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam

cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya, cairan intraseluler

ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat.

16
Meningkatnya volume cairan menyebabkan meningkatnya volume darah

sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi.

Asupan natrium merupakan hal yang sangat penting pada mekanisme

timbulnya hipertensi. Pengaruh asupan natrium terhadap hipertensi adalah

melalui peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah.

mengkonsumsi garam (natrium) menyebabkan haus dan mendorong kita

minum. Hal ini meningkatkan volume darah di dalam tubuh yang berarti

jantung harus mempompa lebih giat sehingga tekanan darah naik. Karena

masukan (input) harus sama dengan pengeluaran (output) dalam sistem

pembuluh darah, jantung harus memompa lebih kuat dengan tekanan lebih

tinggi. Hipertensi berarti tekanan tinggi di dalam arteri yang dapat

menyebabkan meningkatnya risiko stroke.

Natrium sebagai kation utama dalam cairan ekstraselular, natrium

menjaga keseimbangan cairan dalam kompartemen tersebut. Natriumlah yang

sebagian besar mengatur tekanan osmosis yang menjaga cairan tidak keluar

dari sel.

Bila jumlah natrium didalam sel meningkat secara berlebihan, air akan

masuk kedalam sel, akibatnya sel akan membengkak. Inilah yang

menyebabkan terjadinya pembengkakan atau oedema dalam jaringan tubuh.

Taksiran kebutuhan Natrium sehari untuk orang dewasa adalah sebanyak 500

mg. Kebutuhan natrium didasarkan pada kebutuhan untuk pertumbuhan,

kehilangan natrium melalui keringat dan sekresi lain. (Almatsier,

17
2004).Asupan natrium yang dianjurkan pada penderita stroke dan tekanan

darah tinggi perhari kurang dari 2,4 gram/hari.(AKG, 2013)

C. Kerangka Konsep

Stres
Mental
Fisik

ASUPAN
Lemak PENDERITA STROKE
Natrium

GENETIK 18
Bawaan
Keturunan
BAB III METODELOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan cara deskriptif untuk mengetahui

asupan lemak dan natrium pada pasien sstroke rawat jalan di RS Pancaran

Kasih Manado.

B. Lokasi Penelitian dan waktu penelitian

Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di Instalasi Rawat Jalan RS.Pancaran Kasih Manado

19
Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan selama kurang lebih satu bulan yaitu pada bulan

Oktober sampai dengan bulan November tahun 2016.

C. Subjek Penelitian
Adalah semua pasien stroke yang tercatat di klinik penyakit dalam

sebagai pasien rawat jalan RS Pancaran Kasih Manado

D. Variabel Penelitian
Variabel Bebas: Asupan lemak dan natrium
Variabel Terikat: Penderita stroke

E. Definisi Operasional
Stroke adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat

gangguan fungsi otak local (atau global), dengan gejala-gejala yang

berlangsung selama 24 jam atau lebih, atau menyebabkan kematian, tanpa

adanya penyebab lain yang selain vaskuler.

Natrium atau sodium merupakan salah satu mineral penting bagi

tubuh. Kadar natrium di dalam tubuh sekitar 2 persen dari total mineral.

Tubuh orang dewasa sehat mengandung 256 gram senyawa natrium

klorida (NaCl) yang setara dengan 100 gram unsur natrium. Kadar natrium

normal pada serum 310-340 mg/dL.

Asupan lemak adalah jumlah total lemak, yang bersumber dari

makanan yang dikonsumsi, yang diperoleh dari survei konsumsi

menggunakan metode food recall 24 jam, kemudian dibandingkan dengan

AKG dan dikalikan 100%.

20
Parameter :

Klasifikasi tingkat kecukupan lemak sebagai berikut (WNPG, 2004):

Baik : 80 110 % AKG

Kurang : <80% AKG

Lebih : > 110% AKG

Skala : Ordinal

F. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan instrument meliputi sarana

computer/laptop, alat tulis menulis, kuesioner, identitas responden dan

kuesioner kebiasaan makan, formulir recall 24 jam.

G. Prosedur Penelitian
1. Persiapan
Pengurusan izin penelitian
2. Pelaksanaan
a. Permohonan izin penelitian
b. Bekerjasama dengan staf RS Pancaran Kasih guna menjelaskan

dan pemahaman tentang penelitian yang dilakukan oleh peneliti


c. Memilih sampel yang memenuhi kriteria inklusi
d. Meminta responden untuk menandatangani lembar persetujuan

(informed consent) yang telah disiapkan sebelumnya oleh peneliti

sebelum melakukan penelitian.


e. Mengumpulkan data dasar

H. Analisa Data
Pengolahan dan analisa dimulai dengan editing, coding, entry, dan

analisis zat gizi, membuat tabulasi dan proposi, analisis data univariat.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Riskesdas 2013. Badan penelitian dan pengembangan Kesehatan

kementerian RI

2. Hasil Riset kesehatan Dasar (RISKESDAS) Provinsi Sulawesi Utara 2007.

Badan penelitian dan pengembangan Kesehatan. 2008. 65-8.

3. World health organization. Cardiovascular Disease. 2016. Diunduh dari:

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs317/en/ Diakses tanggal 14

September 2016

4. Organisasi Dunia WHO (World health Organization)

5. Trvelsen T and Bonita R. The Worldwide Burden Of Stroke: Current

Status and Future Projection. In: Aminoff MJ, Boller F, Swaab DF editors.

Handbook of Clinical Neurology 3rd ed. USA: Elsevier Science. 2009. p.

1399-402.

6. Lombardo MC. Penyakit Serebrovaskular dan Nyeri Kepala. Dalam: Price

SA, Wilson LM, editor. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses

Penyakit edisi 4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1995. 962-4.

7. Sacco R, Kasner S, Broderick J, Caplan L, Connors J, Culebras A, et all.

An Updated Definition of Stroke For The 21 st Century. Journal of The

American Heart Association. 2013

22
8. Misbach J, Jannis J. Diagnosis Stroke. Dalam: Soertidewi L, Jannis J,

editor. Stroke, Aspek Diagnostik, Patofisilogi, Manajemen. Jakarta: Badan

Penerbit FKUI:2011;58-61
9. Yayasan stroke Indonesia. Rawan Stroke di Indonesia Meningkat 10 Kali.

Diunduh dari http://www.yastroki.or.id/read.php?id=143. Diakses tanggal

24 September 2013
10. Soertidewi L, Misbach J, Epidemiologi Stroke. Dalam: Soertidewi L,

Jannis J, editor. Stroke, Aspek Diagnostik, Patofisilogi, Manajemen.

Jakarta: Badan Penerbit FKUI:2011;1-3


11. Gofir A. Diagnosis Dini Stroke. Dalam: Manajemen Stroke. Yogyakarta:

Pustaka Cendekia Press, 2009;60


12. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Gangguan Peredaran

Darah Otak. Dalam: Buku Ajar Neurologi Klinis. Jakarta: Gadjah Mada

University Press.2008.
13. Soertidewi L, Misbach J. Faktor Resiko Stroke. Dalam: Soertidewi L,

Jannis J, editor. Stroke, Aspek Diagnostik, Patofisilogi, Manajemen.

Jakarta: Badan Penerbit FKUI: 2011;4-9


14. Maria G, Puspita RD, Sulistyowati Y. Hubungan Asupan Natrium Dan

Kalium Dengan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Unit Rawat

Jalan di Rumah Sakit Guido Valadares Dili Timor Leste.. Universitas

Respati Yogyakarta. 2012.


15. Heart And Stroke Foundation. Dietary Sodium, Heart Disease and Stroke.

2014.
16. Huang CY. Nutrition and stroke. Asia Pac J Clin Nutr:2007; 266-274.
17. Centers for Disease Control and Prevention. Sodium. National Center for

Chronic Disease Prevention and Health Promotion Division for Heart

Disease and Stroke Prevention. 2016

Yang BARU ( SYG URUTKAN BERDASARKAN ABJAD YAH)

23
18. Dinas Kesehatan Kebumen (2013). Apa Penyebab Stroke?. Kebumen.
http://www.dinkeskebumen.wordpress.ac.id diakses tanggal 20 Oktober
2016
19. Maukar M, Ismanto AY, Kundre E (2014). Hubungan Pola Makan Dengan
kejadian Stroke Non Hemoragik Di Irina F Neurologi RSUP Prof. DR. R.
D. Kandou Manado.
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/viewFile/5217/4731
Diakses 20 Oktober 2016
20. Ovina, Y. (2013). Hubungan Pola Makan, Olahraga, Merokok Terhadap
Prevalensi Penyakit Stroke Non Hemoragik di RSUD Raden Mattaher
Jambi. http://online-
journal.unja.ac.id/index.php/kedokteran/article/view/1249/851. Diakses 20
Oktober 2016.
21. Arifnaldi MS. (2014) Hubungan Kadar Trigliserid Dengan kejadian Stroke
Iskemik Di Rsud Sukoharjo. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas
Sam Ratulangi. http://eprints.ums.ac.id/28323/17/NASKAH_PUBLIKASI.pdf
Diakses 20 Oktober 2016.
22. Bansal S., Buring J., Rifai N., Mora S., Sacks F., Ridker P., 2007. Fasting
Compared With Nonfasting Triglycerides and Risk of Cardiovascular
Events in Women. Journal of the American Medical Association.
298(3):309-316. Available from:
http://jama.jamanetwork.com/article.aspx?articleid=208018
23. Freiberg J., Hansen A., Jensen J.S., Nordestgaard B.G., 2008. Nonfasting
Triglycerides and Risk of Ischemic Stroke in the General Population.
Journal of the American Medical Association. 18:2142-2152. Available
from: http://jama.jamanetwork.com/article.aspx?articleid=1028652
24. Sacco R., Benson R., Kargman D., Albala B., Tuck C., Lin I., Cheng J.,
Paik M., Shea S., Berglund L., 2016. High-Density Lipoprotein
Cholesterol and Ischemic Stroke in the Elderly The Northern Manhattan
Stroke Study. Journal of the American Medical Association.
285(21):2729-2735. Available from:
http://jama.jamanetwork.com/article.aspx?articleid=193886
25. Varbo A., Nordestgaard B.G, Hansen A.T, Schnohr P, Jensen G.B, Benn
M., 2011. Nonfasting triglycerides, cholesterol, and ischemic stroke in the
general population.Annals of Neurology. Volume 69, pages 628634.
Available from: http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ana.22384/full
(diakses 20 Oktober 2016)

24