You are on page 1of 7

HAK ASASI MANUSIA

Perhatian pemerintah terhadap HAM ada sejak para pendiri negara ini menyusun
UUD45. Dilihat dari kebijakan politik sejak 1945 perhatian tersebut tampak pada
penyusunan GBHN tahun 1993 yaitu dengan dibentuknya KOMISI NASIONAL HAM
( KOMNAS HAM ). Pada tahun 1998 pemerintah mencanangkan Rencana Aksi
Nasional HAM dengan program dan kegiatan lima tahun yaitu 1998 s/d 2003.

Sejarah Perkembangan Hak Asasi Manusia


Secara historis, sebelum adanya Universal Declaration of Uman Rights terdapat
ketentuan-ketentuan yang mengatur HAM, adalah :
1. Magna Charta; Inggris ( 1215 )
Sebagai cikal bakal HAM, yang berisi kompromi antara Raja John dengan
para bangsawan tentang pembagian kekuasaan, khususnya dalam rangka
mengurangi kekuasaan raja. Yang diperjuangkan adalah kepentingan para
bangsawan. Prinsip yang dikemukakan oleh para bangsawan adalah mengatur
mengenai pembatasan kekuasaan raja, sedangkan HAM lebih penting daripada
kekuasaan raja, dan perlindungan hak-hak warga negara yang selalu didasarkan
pada pertimbangan
hukum.

2. Bill of Rights; Inggris ( 1689 )


Lahir sebagai akibat dari Glorious Revolution ( Revolusi tanpa
pertumpahan darah ) pada th. 1688, yang merupakan hasil perjuangan parlemen
melawan pemerintah raja-raja dari Dinasti Stuart dan menundukkan Monarki di
bawah kekuasaan Parlemen Inggris. Intinya adalah sebuah Undang-undang yang
menyatakan hak-hak dan kebebasan warganegara dan menentukan penggantian
raja.

3. Declaration of Independence, USA ( 1776)


Deklarasi kemerdekaan merupakan alasan masyarakat Amerika untuk
melepaskan diri dari kekuasaan Inggris yang terjadi pada th. 1776. Isi dari
deklarasi ini sebenarnya diambil dari filsuf Prancis.al.Montesquieu (1689-1755), JJ
Rousseau ( 1712-1778), perumus deklarasi ini adalah Tohomas Jefferson, seorang
yang kemudian menjadi Presiden amerika Serikat yang antara lain berbunyi :
Kami menganggap bahwa kebenaran-kebenaran berikut ini sudah jelas dengan
sendirinya; bahwa semua manusia diciptakan sama, bahwa penciptanya telah
menganugerahi mereka hak-hak tertentu yang tidak dapat dicabut, bahwa
diantara hak-hak ini adalah hak untuk hidup bebas, dan mengejar kebagiaan.
Bahwa untuk menjamin hak-hak ini, orang mendirikan pemerintahan yang
memperoleh kekuasaannya yang benar berdasarkan persetujuan yang
diperintahnya. Bahwa kapan saja suatu bentuk pemerintahan merusak tujuan-
tujuan ini, rakyat berhak untuk merubah dan menyingkirkannya.

4. Bill of Rights, USA ( 1791)


Adalah Undang-undang yang berisi; a.l; Melindungi kebebasan beragama,
kebebasan Pers, kebebasan menyatakan pendapat dan berserikat, melindungi
individu terhadap penggeledahan dan penangkapan yang tidak berdasar, dan
hak atas proses hokum yang benar.

5. Declaration of the Rights of Man and the Citizen


Deklarasi ini merupakan cita-cita yang didasari Revolusi Prancis dan
kemudian dijabarkan dalam konstitusi 4 Oktober 1958. dalam preambul
dicantumkan kata-kata a.l:
Rakyat perancai menyatakan dengan kidmat pengakuan atas hak-hak manusian,
sebagaimana telah digariskan oleh Deklarasi th. 1789, yang diperkuat dan
dilengkapi oleh Mahkamah Konstitusi 194.

Instrumen Internasional yang berkaitan dengan HAM


1. Convention on the Political Rights of Women ( Konvensi Hak-Hak Politik
Perempuan ) dan ditetapkan dalam UU No. 68 th 1958.
2. Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Women
( Konvensi tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita )
dan ditetapkan dalam UU No. 7 th 1984.
3. Convention on the Rights of the child ( Konvensi tentang Hak-hak Anak ) dan
ditetapkan dalam Kepres No. 36 th. 1990.
4. Convention Against Apartheid in Sport ( Konvensi anti Apartheid dalam Olah
raga). Dan ditetapkan dalam kepres No. 48 th 1993.
5. Convention Against torture and Other Cruel Inhuman or Degrading Treatment
or Punishment ( Konvensi Menentang penyiksaan lain yang kejam, tidak
manusiawi dan Merendahkan Martabat Manusia) dan ditetapkan dalam UU No. 5
th 1998.
6. Convention on the Elimination of all Forms of Racial Discrimination ( Konvensi
Tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial ) dan ditetapkan dalam
UU No. 9. th 1999.

UU RI No. 39 /1999 tentang HAM


Ps.1.(1) HAM :
Seperangkat Hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia
sebagai makhluk Tuhan YME dan merupakan anugerah Nya yang harus
dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara, hokum, pemerintahh
dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan Martabat
manusia

Ps. I (6) Pelanggaran HAM


Setiap perbuatan seseorang/kelompok orang termasuk aparad Negara baik
disengaja / tidak / kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi,
menghalangi, membatasi dan mencabut HAM seseorang / kelompok yang di
jamin UU dan tidak mendapatkan / dikawatirkan tidak akan memperoleh
penyelesaian Hukum yang adil dan benar.

UU No. 26 th 2000 tentang Pengadilan HAM


BAB : I Ps. I (2) Pelanggaran HAM BERAT adalah pelanggaran HAM sebagaimana
dimaksud dalam Undang-undang ini.
Penyelidikan : serangkaian dindakaan penyelidik untuk mencari dan menemukan
ada tidaknya suatu peristiwa yang diduga merupakan pelanggaran HAM berat
guna ditindaklanjuti dengan penyidikan sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam uu ini

Hal-hal yang berkaItan dengan pelanggaran HAM berat terdapat dalam Ps. 7.a.b.

Psl. 104 UU no. 39 th 1999. BAB. IX tentang Pengadilan HAM Psl. 104
(1) Untuk mengadili pelanggaran HAM berat dibentuk pengadilan HAM
dilingkungan Pengadilan umum
(2) Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibentuk dengan UU
dalam juangka waktu paling lama 4 th
(3) Sebelum terbentuk Pengadulan HAM sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
maka kasus kasus pelanggaran HAM sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
diadili oleh pengadilan yang berwenang
HAM selalu berhubungan dengan kewajiban asasi manusia, bahkaan kewajiban-
kewajiban asasi tersebut karus terlebih dahulu dilakukan agar HAM terpenuhi.

Kewajiban-kewajiban asasi yi: kewajiban dasar yang pokok yang harus dijalankan
oleh manusia dalam kehidupan bermasyarakat, seperti kewajiban taat pada
peraturan perundang-undangan, kewajiban untuk bekerja demi kelangsungan
hidup. Maka apabila orang tersebut menuntut HAM-nya terpenuhi, maka pada
saat yang sama pula terdapat keharusan agar orang tersebut melaksanakan
kewajiban-kewajiban asasinya

Pelanggaran HAM menurut UU RI No. 26/2000 tentang Pengadilan HAM,


meliputi :
1. Kejahatan Genosida ( Ps. 7.a. )
2. Kejahatan terhadap kemanusiaan ( Ps. 7. b. )
Ad.1. Kejahatan Genosida; Adalah setiap perbuatan yang dilakukan
dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau
sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok, etnis, kelompok agama,
dengan cara:
- membunuh anggota kelompok
- mengakibatkan penderitaan fisik yang berat terhadap angota kelompok
- menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan
kemusnahan
- memaksa tindakan yang mencegah kelahiran
- memindahkan secara paksa anak-anak.

Ad. 2. Kejahatan terhadap kemanusiaan; Adalah perbuatan yang dilakukan


sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang
diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung
terhadap penduduk sipil berupa ;
- pemusnahan
- pembunuhan
- perbudakan
- pengusiran
- penyiksaan
- perkosaan
- penganiaan terhadap suatu kelompok
- menghilangkan orang secara paksa
- kejahatan aparheid.

Sistematis; Suatu tindakan yang terorganisasikan secara mendalam mengikuti


pola-pola tertentu yang terus menerus berasarkan kebijakan yang melibatkan
sumber daya publik dan prifat yang subtansial, meskipun bukan kibijakan negara
secara formal.
Meluas : Suatu tindakan massive/berulang-ulang dan berskala besar yang
dilakukan secara kolektif dengan dampak serius dan diarahkan kepada sejumlah
besar korban HAM selalu berhubungan dengan kewajiban asasi manusia,
bahkaan kewajiban-kewajiban asasi tersebut karus terlebih dahulu dilakukan
agar HAM terpenuhi.
Kewajiban-kewajiban asasi yi: kewajiban dasar yang pokok yang harus dijalankan
oleh manusia dalam kehidupan bermasyarakat, seperti kewajiban taat pada
peraturan perundang-undangan, kewajiban untuk bekerja demi kelangsungan
hidup. Maka apabila orang tersebut menuntut HAM-nya terpenuhi, maka pada
saat yang sama pula terdapat keharusan agar orang tersebut melaksanakan
kewajiban-kewajiban asasinya.
Kewajiban dasar manusia apabila tidak dilaksanakan, tidak dimungkinkan
terlaksananya dan tegaknya HAM. Bahwa kebebasan menjalankan hak setiap
orang dibatasi oleh HAM orang lain, dan wajib tunduk kepada pembatasan yang
ditetapkan UU. Dengan maksud untuk mendapatkan pengakuan, penghormatan
HAM./kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan adil sesuai
pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam
masyarakat yang demokratis., kewajibnan ini juga berlaku begai setiap
organisasi pada tataran manapun baik pemerintah /nagara. Dengan demikian
pemerintah / negara bertanggung jawab untuk menghormati, membela dan
menjamin HAM setiap warga negaranya tanpa diskriminasi.

Sistematis; Suatu tindakan yang terorganisasikan secara mendalam mengikuti


pola-pola tertentu yang terus menerus berasarkan kebijakan yang melibatkan
sumber daya publik dan prifat yang subtansial, meskipun bukan kibijakan negara
secara formal.
Meluas : Suatu tindakan massive/berulang-ulang dan berskala besar yang
dilakukan secara kolektif dengan dampak serius dan diarahkan kepada sejumlah
besar korbsn.

Undang-undang Republik Indonesia no. 26 th. 2000 tentang Pengadilan Hak


Asasi Manusia. Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada
dilingkungan Peradilan Umum. Yang terpenting dengan lahirnya UU Pengadilan
HAM ialah; KOMNASHAM merupakan lembaga satu-satunya yang berwenang
melakukan penyelidikan pro justitia sehingga dengan wewenang tersebut
KOMNASHAM menjadi lembaga PENYIDIK INVESTIGATOR yang harus memperkuat
kinerja Kejaksaan Agung dalam menuntaskan penyidikan atas pelanggaran HAM
berat di tanah air.

HAKEKAT HAM
Merupakan upaya menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui
aksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta
keseimbangan antara kepentingan perorangan dengan kepentingan mum. Begitu
juga upaya menghormati, melindungi dan menjunjung tinggi HAM, menjadi
kewajiban tanggung jawab bersama antara individu, pemerintah ( aparatur
pemerintah baik sipil maupun militer ) dan negara.

Ciri ciri Pokok hakekat HAM


1. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. HAM adalah bagian dari
manusia secara otomatis.
2. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras agama,
etnis, pandangan politik, asal usul bangsa.
3. HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorangpun mempunyai hak melarang,
membatasi, melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM, walaupun
sebuah negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM.

HAM dalam Perundang-undangan Nasional:


1. Konstitusi ( Undang-Undang Dasar )
Pengaturan HAM dalam konstitusi negara RI selain pada hasil amandemen kedua
UUD 1945, juga ditemukan di beberapa konstitusi yang berlaku yaitu UUD 45
( termasuk dalam amandemen I IV Pasal 28 huruf A J ).
2. TAP MPR
Dalam ketetapan MPR dapat dilihat dalam TAP MPR No. XVII th 1998 tentang
pandangan dan sikap Bangsa Indonesia terhadap HAM dan Piagam HAM
Nasional.
3. Undang Undang
Pengaturan HAM dalam UU yang telah dikeluarkan pemerintah a.l:
- UU No. 5 th 1986 tentang Peradilan tata Usaha Negara.
- UU No. 5 th 1998 tentang Ratifikasi Konvensi anti Penyiksaan, perlakuan atau
penghukuman yang kejam tidak
- manusiawi dan merendahkan martabat.
- UU. No. 9 th 1998 tentang Kebebasan Menyatakan Pendapat.
- UU. No. 39 th 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
- UU No. 26. th. 2000 tentang Pengadilan HAM
4. Undang-Undang No. 27 th. 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi.
5. Peraturan pemerintah, Keputusan Presiden, dan peraturan pelaksaanaan
lainnya. Ketentuan yang terdapat dalam peraturan pemerintah a.l:
- Peraturan pemerintah pengganti Undang-undang ( Perpu) No. 1 th 1999
tentang pengadilan HAM.
- Kepres No. 181 th 1998 tentang Pendirian Komisi Nasional Penghapusan
Kekerasan terhadap Wanita.
- Keputusan presiden No. 129 th 1998 tentang Rencana aksi Nasional HAM th
1998-2003, yang memuat rencana ratifikasi berbagai instrumen HAM PBB serta
tindak lanjut.

a. Keputusan Presiden No. 31 th 2001 tentang Pembentukan Pengadilan HAM


pada Pengadilan Negri Jakarta Pusat, Pengadilan Negri Surabaya, dan PN
Makasar.
- Kepres No. 5 th 2001 tentang Pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc pada PN
Jakarta Pusat, yang dirubah dengan Kepres No. 96 th 2001.
b. Keputusan Presiden No. 181 th 1998 tentang Komisi Nasional anti kekerasan
terhadap perempuan.

Bahwa subtansi HAM merupakan sesuatu hal yang bersifat Universal, mengingat
sifatnya yang inherent, sebagai konsekuensinya oleh karena HAM dikaruniai oleh
Tuhan dan bukan pemberian dari orang atau penguasa tertentu, maka siapapun
tidak punya hak untuk merampas ataupun mencabut HAM seseorang.
Mengenai pelaksanaan HAM bersisat Partikular, artinya disesuaikan dengan
situasi dan kondisi lingkungan yang bersifat lokal.

Sifat particular HAM merupakan kompleksitas HAM yang multidimensi, artinya


HAM mengandung banyak element di dalamnya, seperti aspek ekonomi, social,
budaya, hukum., maupun aspek politik. Universalitas HAM merupakan
Substansi / esensi HAM, sedangkan Partikularasi adalah masalah aktualisasi.
Pelanggaraan terhadap hak sipil, Politik, yang berupa pembatasan kemerdekaan
berserikat dan berkumpul yang secara sistematis di langgar.
Pelanggaran terhadap hak ekonomi, sosial dan budaya yang berupa pelanggaran
hak masyarakat adat, hak lingkungan, dan kemiskinan.

Klasifikasi pelanggaran HAM menurut KOMNAS HAM a.l. :


1. Penangkapan dan penahan sewenang-wenang
2. Penghilangan secara paksa
3. Penyiksaan & perbuatan kejam
4. Pembunuhan diluar proses pengadilan
5. Intimidasi / tindak kekerasan
6. Pelanggaran di Timor Timur, Maluku, Maluku Utara, Tanjung Priyok, Tragedi Mei
1998.

Pelanggaran HAM selama Orde Baru, menurut Adnan Buyung Nasution


dikelompokan :
1.Crimes Againt Humanity; yang terjadi di Timor Timur, Papua, Tanjung Priyuk.
2.Crimes Againt Integrity of Person, a.l. Penembakan Misterius, penghilangan
orang;

Secara Yuridis, seseorang dapat dikatakan melakukan pelanggaran HAM, apabila


telah diputuskan oleh Pengadilan HAM sebagai pelanggar HAM beserta seluruh
prosesnya yang meliputi penyelidikan yang dilakukan oleh Komnasham,
penyidikan dan penuntutan, serta keputusan hukum oleh Pengadilan HAM.
Undang-undang Pengadilan HAM, berisi Hukum Acara dari Pengadilan HAM
dilaksanakan berdasarkan Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana. KOMNAS
HAM dapat meminta keterangan mengenai perkembangan penyidikan dan
penuntutan. Pemeriksaan di Sidang penyidikan dilakukan oleh Majelis Hakim
yang terdiri dari; 2 ( dua) orang Hakim Pengadilan HAM dan 3 (tiga) orang Hakim
Ad Hoc dan diketahui oleh Hakim pengadilan yang bersangkutan.Hakim Ad Hoc
diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Mahkamah Agung.