You are on page 1of 20

I.

PENDAHULUAN
A. Latar belakang

Analisis genetik penting bagi pemulian tanaman dalam pengembangan

varietas baru. Suatu varietas tanaman baru yang dikembangkan merupakan

modifikasi dari suatu populasi. Pemulia tanaman tertarik untuk mengarahkan

evolusi dari suatu populasi dengan tujuan memperbaiki sifat dari tanaman

tersebut. frekuensi gen yang mengatur ketahanan penyakit dalam populasi

merupakan hal yang menarik bagi pemulia tanaman. Pengertian tentang susunan

genetik populasi dan kekuatan yang mengubah frekuensi gen berguna dalam

mempertahankan konsentrasi gen yang diinginkan.

Kelompok individu dapat berkembangbiak atau melakukan paersilangan

secara acak atau berpasangan secara bebas berdasarkan populasi mendel. Populasi

tersebut mewariskan alelnya pada keturunanya dari generasi ke generasi

berikutnya berdasarkan hukum segregasi dan persilangan secara bebas. Populasi

tersebut dapat dilihat atau dihitung jumlah frekuensi alel dan frekuensi

genotipnya. Frekuensi alel dapat ditentukan berdasarkan jumlah genotip yang

berada dalam populasi.

Frekuensi alel dalam populasi akan tetap dalam keseimbangan yang stabil,

jika individu-individu dalam populasi mengadakan persilangan secara acak dan

beberapa asumsi dipenuhi, dengan kata lain frekuensi alel tidak berubah dari satu

generasi ke generasi berikutnya. Tiap gamet yang berbeda akan terbentuk

sebanding dengan frekuensi masing-masing alelnya dan frekuensi tiap tipe zigot

akan sama dengan hasil kali dari frekuensi gamet-gemetnya. Keadaan demikian
disebut keseimbangan Hardy-Weinberg. Asumsi-asumsi dalam keseimbangan

Hardy-Weinberg adalah: perkawinan secara rambang, tidak ada seleksi, tidak ada

migrasi, tidak ada mutasi, tidak ada penghanyutan genetik rambang dan meiosis

normal.Praktikum perhitungan frekuensi alel, frekuensi genotipe, pengukuran

sifat-sifat kualitatif dan kuantitatif ini, dilakukan dengan menggunakan kancing

baju yang telah disediakan lalu hasil perhitungan tersebut dianalisis untuk

membuktikan hokum Hardy-Weinberg, serta untuk pengukuran sifat kuantitatif

digunakan kavang tanah yang akan diamati bobotnya.

B. Tujuan

1. Menghitung frekuensi alel dan frekuensi genotip.


2. Membuktikan hokum Hardy-Weinberg.
3. Mengukur sifat-sifat kuantitatif dan kualitatif.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Frekuensi merupakan perbandingan antara banyaknya individu dalam suatu

kelas dengan jumlah seluruh individu. Setiap individu memiliki sifat-sifat

kualitatif dan kuantitatif. Timbulnya berbagai variasi dalam sifat keturunan

tertentu merupakan pengaruh dari gen-gen ganda (multiple gen atau poligen).

Poligen merupakan salah satu dari seri gen ganda yang menentukan pewarisan

secara kuantitatif (Suryo, 1984). Fenotip adalah penampilan organisme (individu)

tersebut atau dapat disimpulkan sebagai jumlah total seluruh karakter atau sifat,

misalnya warna, bentuk, tabiat, kerangka dan lain sebagainya (Pane, 1993).

Suatu populasi terdiri atas individu-individu sejenis yang saling berinteraksi.

Dalam suatu poulasi menurut hukum Hardy-Weinberg adalah tetap (tidak terjadi

perubahan). Menurut hukum Hardy-Weinberg tersebut, jika individu-individu

dalam populasi melakukan atau mengadakan persilangan secara acak dan

beberapa asumsi terpenuhi, maka frekuensi alel dalam populasi akan tetap dalam

keseimbangan yang stabil, yaitu tidak berubah dari generasi ke generasi

berikutnya. Tiap gamet yang terbentuk akan sebanding dengan frekuensi masing-

masing alelnya dan frekuensi dari tiap tipe zigot akan sama dengan hasil kali dari

frekuensi gamet-gametnya (Stanfield, 1991).

Adapun Beberapa asumsi yang mendasari perolehan kesimbangan genetik

seperti diekspresikan dalam persamaan Hardy-Weinberg adalah:

1. Populasi itu tidak terbatas besarnya dan melakukan secara acak (panmiktis).
2. Tidak terdapat seleksi, yaitu setiap genotype yang dipersoalkan dapat

bertahan hidup sama seperti yang lain (tidak ada kematian diferensial).
3. Populasi itu tertutup yaitu tidak terjadi perpindahan (migrasi).
4. Tidak ada mutasi dari satu alelik kepada yang lain. Mutasi diperbolehkan jika

laju mutasi maju dan kembali adalah sama atau ekuivalen.


5. Terjadi meiosis normal, sehingga hanya peluang yang menjadi faktor operatif

dalam gametogenesis.

Perubahan yang terjadi dalam suatu populasi maka dalam keseimbangan

populasi tersebut akan terjadi pelanggaran batasan hukum Hardy-Weinberg yang

akan menyebabkan poulasi tersebut bergerak menjauhi frekuensi keseimbangan

gametik dan zigotik (Stanfield, 1991).

Suatu populasi terdiri atas individu-individu sejenis yang saling berinteraksi.

Dalam suatu poulasi menurut hukum Hardy-Weinberg adalah tetap. Menurut

hukum Hardy-Weinberg jika individu-individu dalam populasi melakukan atau

mengadakan persilangan secara acak dan beberapa asumsi terpenuhi, maka

frekuensi alel dalam populasi akan tetap dalam keseimbangan yang stabil, yaitu

tidak berubah dari generasi ke generasi berikutnya. Tiap gamet yang terbentuk

akan sebanding dengan frekuensi masing-masing alelnya dan frekuensi tiap tipe

zigot akan sama dengan hasil kali dari frekuensi gamet-gametnya (Stanfield,

1991).

Sifat kualitatif adalah sifat yang tidak dapat diukur tetapi dapat dibedakan

secara tegas misalnya warna bulu, ada tidaknya tanduk dan sebagainya. Sifat ini

dikendalikan oleh satu atau beberapa gen dan sedikit atau tidak sama sekali

dipengaruhi oleh lingkungan (Hardjosubroto, 1994). Sedangkan menurut Warwick

et al (1990), sifat kualitatif adalah sifat luar yang tampak atau bahkan tak ada

hubungannya dengan kemampuan produksi seperti warna, bentuk dan panjang

ekor, ada tidaknya tanduk dan sebagainya.


III. METODE PRAKTIKUM
A. Bahan dan Alat

Praktikum perhitungan frekuensi alel, frekuensi genotip, pengukuran sifat-

sifat kualitatif dan kuantitatif ini dalam pelaksanaannya membutuhkan bahan

dan alat. Adapun bahan yang dibutuhkan adalah polybag berisi kancing warna
dan polybag berisi kacang tanah. Alat yang dibutuhkan adalah neraca

(timbangan elektrik), kalkulator dan alat tulis.

A. Prosedur Kerja
Percobaan 1
1. Polybag yang berisi kancing warna merah (MM) dan kuning (mm) disiapkan

sebanyak dua buah (kedua kantong diisi sama banyak).


2. Kancing warna diambil secara acak sebanyak 200 kali.
3. Warna individu yang terpilih dicatat.
4. Frekuensi genotip dan frekuensi alel M dan m dihitung dan dinmasukka ke

dalam tabel.

Percobaan 2

1. Polybag yang berisi kancing warna merah (MM) dan kuning (mm) disiapkan

sebanyak dua buah (kedua kantong diisi sama banyak).


2. Kancing diambil secara acak dari setiap kantong dan dicatat warnanya.
3. Pengambilan dilakukan sebanyak 100 kali.
4. Frekuensi genotip dan frekuensi alelnya dihitung.
5. Data dimasukkan ke dalam tabel yang tersedia dan dianalisis dengan X2.

Percobaan 3

1. Alat dan bahan disiapkan.


2. Individu dan populasi kacang tanah yang tersedia diambil secara acak dan

disiapkan.
3. Pekerjaan tersebut dilakukan sebanyak 100 kali.
4. Warna dan bobotnya diamati.
5. Data dimasukkan ke dalam tabel dan dibuat grafiknya.
IV. HASIL DAN KESIMPULAN
A. Hasil

Percobaan 1

Frekuensi Alele

Merah (MM) = 53 (x)

Putih (Mm) = 90 (y)

Kuning (mm) = 57 (z)

Z 57
q2 = 200 = 200 = 0,28

q = 0,28 = 0,53

p+q =1

p =1- q

p = 1 0,53
p = 0,47

Frekuensi Genotipe

1. PP = p2 x 100%
= (0,47)2 x 100 %
= 22,09 %
2. 2 pq = 2 (p) (q) x 100 %

= 2 (0,47) (0,53) x 100 %

= 49,82 %

3. qq = q2 x 100 %
= (0,53)2 x 100 %
= 28,09 %

= 22,09 % + 49,82 % + 28,09 %

= 100 %
pp : 2pq : qq
1 :2 :1
Tabel uji x2 X tabel = 5,99

Karakteristik

MM Mm mm
O 53 90 57 200
E x 200 = 50 2/4 x 200 = 100 x 200 = 50 200
(O - E)2 9 100 49 158
(OE )2
E 0,18 1 0,98 2,19

X2 0,18 1 0,98 2,19

Kesimpulan : X2 tabel > X2 hitung


5,99 > 2,19
Maka hasil signifikan (pengujian sesuai dengan perbandingan).
Percobaan 2
Frekuensi alel
Merah (MM) : 27 (x)
Putih (Mm) : 53 (y)
Kuning (mm) : 20 (z)

z 20
=0,2
q2 = 100 = 100
q= 0,2=0,45
p+q=1
p=1q
p = 1 0,45
p = 0,55

frekuensi Genotip

1. pp = p2 x 100 %
= (0,55)2 x 100 %
= 30,25%
2. 2pq = 2 (p)(q) x 100%
= 2 (0,55)(0,45) x 100%
= 49,5%
2
3. qq = (q) x 100%

= (0,45)2 x 100%

= 20,25%

=30,25 + 49,5 +20,25 =100

pp: 2pq: qq

1: 2:1

Tabel X2 x2 hitung = 5.99


Karakteristik
MM Mm mm
O 27 53 20 100
E 25 50 25 100
OE 4 9 25 43

( )

OE 0,4 0,18 1 1,58

2



X2 0,4 0,18 1 1,58
Kesimpulan : X2 tabel > X2 hitung
5,99 > 1,58
Maka hasil signifikan (pengujian sesuai dengan perbandingan).
Percobaan 3
Tabel bobot kacang tanah (g)

X 0,2 0,3 0,4 0,5


3 40 47 10

Grafik bobot dan jumlah kacang tanah


50
45
40
35
30

jumlah 25
20
15
10
5
0
0.2 0.3 0.4 0.5

Berat (gr)

B. Pembahasan
Populasi didefinisikan sebagai kelompok kolektif organisme dan spesies

yang sama (kelompok-kelompok lain di mana individu-individu dapat bertukar

informasi genetika) menduduki ruang atau tempat tertentu, memiliki berbagai ciri

atau sifat yang merupakan sifat milik individu di dalam kelompok itu. Populasi

mempunyai sejarah hidup dalam arti mereka tumbuh, mengadakan pembedaan-

pembedaan dan memelihara diri seperti yang dilakukan oleh organisme. Sifat-sifat

kelompok seperti laju kelahiran, laju kematian, perbandingan umur, dan

kecocokan genetik hanya dapat diterapkan pada populasi (Odum,1993).

Genetika populasi merupakan cabang ilmu genetika yang mempelajari

mengenai komposisi gen-gen dalam populasi, serta menguraikan secara

matematik akibat dari keturunan pada tingkat populasi yang dihasilkan dari

berbagai faktor (Campbell et al., 2002).

Menurut Suryo (2012) genetika populasi ialah cabang dari genetika yang

mempelajari gen-gen dalam populasi, yang menguraikan secara matematik akibat

dari keturunan pada tingkat populasi. Pola pewarisan sifat tertentu pada manusia

sulit untuk dilakukan percobaan persilangan karena pola pewarisan suatu sifat

tidak selalu dapat dipelajari melalui percobaan persilangan buatan. Seluk-beluk

pewarisan sifat pada tingkat populasi dipelajari pada cabang genetika yang disebut

genetika populasi. Populasi mendelian ialah sekelompok individu suatu spesies

yang bereproduksi secara seksual, hidup di tempat tertentu pada saat yang sama,

dan di antara mereka terjadi perkawinan (interbreeding) sehingga masing-masing

akan memberikan kontribusi genetik ke dalam lungkang gen (gene pool), yaitu
sekumpulan informasi genetik yang dibawa oleh semua individu di dalam

populasi.

Hukum Hardy Weinberg memudahkan kita dalam asumsi apakah suatu

populasi berada dalam keseimbangan yang stabil frekuensi alelnya yakni dengan

membandingkan populasi alel dalam lokasipada lokasi berada, kita dapat

menentukan apakah terjadi penyimpangan atau keseimbangan. Ciri ciri

keseimbangan Hardy Weinberg ialah jumlah frekuensi genotipe harus sama

dengan 1, yaitu : p2(CC) + 2pq (Cc) + q2(c) =1. Hubungan P2+ 2pq + q2 tetap,

tidak peduli besarnya frekuansi alel permulaan dan tidak bergantung dari

frekuensi alel permulaan dan tidak bergant ung dari frekuensi genotipe dari

populasi asal. Keseimbangan dapat tercapai dalam satu generasi kemudian

frekuensi alel dan genotipe tidak berubah dari generasi kegenerasi asal syarat

syarat Hardy Weinberg terpenuhi (Crowder, 1986).

Beberapa asumsi yang mendasari perolehan keseimbangan genetik seperti

diekspresikan dalam persamaan Hardy-Weinberg adalah:

1. Populasi itu tidak terbatas besarnya dan melakukan secara acak (panmiktis).
2. Tidak terdapat seleksi, yaitu setiap genotype yang dipersoalkan dapat

bertahan hidup sama seperti yang lain (tidak ada kematian diferensial).
3. Populasi itu tertutup yaitu tidak terjadi perpindahan (migrasi).
4. Tidak ada mutasi dari satu alelik kepada yang lain. Mutasi diperbolehkan jika

laju mutasi maju dan kembali adalah sama atau ekuivalen.


5. Terjadi meiosis normal, sehingga hanya peluang yang menjadi faktor operatif

dalam gametogenesis.

Perubahan yang terjadi dalam suatu populasi dalam keseimbangan populasi

tersebut maka akan terjadi pelanggaran batasan hukum Hardy-Weinberg akan


menyebabkan poulasi tersebut bergerak menjauhi frekuensi keseimbangan

gametik dan zigotik (Stanfield, 1991).

Mangoendidjojo (2003), mengatakan bahwa pewarisan sifat yang pada

keturunannya dapat berupa sifat kuanlitatif dan kuantitatif. Pengelompokkan

berdasarkan sifat kualitatif lebih mudah karena dapat dilaukan dengan cara

melihat langsung sifat yang tampak, misalanya warna dan bentuk. Sedangkan sifat

kuantitaif harus dilakukan dengan analisis varian dan modifikasinya. Menurut

fitriani et al (2013), sifat kuantitatif merupakan sifat yang dikendalikan oleh

banyak gen dengan pewarisan komplek dimana kontribusimasing-masing sangat

kecil, contohnya waktu dan berat atau proporsi.

Perbedaan dasar antara sifat kualitatif dan sifat kuantitatif melibatkan

jumlah gen yang berkontribusi pada variabilitas fenotip dan derajat di mana

fenotip itu dapat dimodifikasi oleh faktor-faktor lingkungan. Sifat-sifat kuantitatif

dapat diatur oleh banyak gen (mungkin 100 sampai 100 atau lebih), masing-

masing berkontribusi terhadap fenotip begitu sedikit sehingga pengaruh-pengaruh

individunya tidak dapat dideteksi dengan metode-metode Mendel. Gen-gen yang

bersifat demikian disebut poligen (Stansfield, 1991).

Konsep poligen (polygenes, berarti banyak gen)dalam genetika kuantitatif

digunakan untuk menjelaskan terbentuknya sifat kuantitatif. Ronald Fisher, dapat

menjelaskan bahwa sifat kuantitatif terbentuk dari banyak gen dengan pengaruh

kecil, yang masing-masing bersegregasi menuruti teori Mendel. Karena

pengaruhnya kecil, fenotipe yang diatur oleh gen-gen ini dapat dipengaruhi oleh

lingkungan. Meskipun demikian, penjelasan Fisher ini tetap menempatkan gen-


gen yang mengatur sifat kuantitatif sebagai sesuatu yang abstrak karena hanya

merupakan konsep. Langkah pembuktian mengenai adanya gen-gen yang

mengatur sifat kuantitatif mulai terbuka setelah tersedianya banyak penanda

genetik sehingga memungkinkan orang membuat peta pautan genetik yang dapat

menjangkau sebagian besar kromosom. Penanda-penanda genetik digunakan

untuk menunjukkan situasi alelik pada bagian kromosom tertentu. Variasi alel

pada suatu penanda menjadi genotipe bagi kromosom atau kelompok pautan

(apabila kromosomnya belum teridentifikasi) (Rohmad, 2012).

Praktikum perhitungan frekuensi alel, frekuensi genotip, pengukuran sifat-

sifat kualitatif dan kuantitatif ini betujuan untuk mengethui frekuensi alel dan

frekuensi genotp, membuktikan hokum Hardy-Weinberg serta pengukuran sifat-

sifat kualitatif dan kuantitatif.Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini

antara lain polybag berisi kancing warna, dan polybag berisi kacang tanah, neraca

(timbangan elektrik) kalkulator dan alat tulis.

Percobaan 1 diawali dengan penyediaan polybag berisi kancing warna yaitu

warna merah (MM), PUTIH (Mm), dan kuning (mm). Kemudian, kancing diambil

secara acak sebanyak 200 kali. Warna individu yang terpilih dicatat, lalu dihitung

frekuensi alel M dan alel m. Kemudian, data dimasukkan dalam tabel yang sudah

disediakan lalu dianalisis dengan uji X2. Hasil perhitungan dari percobaan 1 yaitu

frekuensi alel MM = 53, Mm = 90 dan mm = 57, q = 0,53 dan p = 0,47. Frekuensi

genotipnya yaitu 22,09 % pp+ 49,82 % 2pq+ 28,09 % qq.sehingga rasio

perbandingan genotip pp : 2pq : qq adalah 1 : 2 : 1. Hasil dari ananlisis dengan X 2

yaitu X2 hitungnya sebesar 2,19 dan X2 tabelnya sebesar 5,99 maka dapat
disimpulkan bahwa X2 tabel lebih besar dari X2 hitung sehingga hasil signifikan

dan hokum Hardy-Weiberg terbukti.

Percobaan 2 diawali dengan penyediaan polybag berisi kancing warna yaitu

warna merah (MM), merah-kuning (Mm), dan kuning (mm). Kemudian, kancing

diambil secara acak sebanyak 100 kali. Warna individu yang terpilih dicatat, lalu

dihitung frekuensi alel M dan alel m. Kemudian, data dimasukkan dalam tabel

yang sudah disediakan lalu dianalisis dengan uji X 2. Hasil perhitungan dari

percobaan 2 yaitu frekuensi alel MM = 27, Mm = 53 dan mm = 20, q = 0,45 dan p

= 0,55. Frekuensi genotipnya yaitu 30,25 pp+49,5 2 pq+20,25 qq sehingga

rasio perbandingan genotip pp : 2pq : qq adalah 1 : 2 : 1. Hasil dari ananlisis

dengan X2 yaitu X2 hitungnya sebesar 1,58 dan X2 tabelnya sebesar 5,99 maka

dapat disimpulkan bahwa X2 tabel lebih besar dari X2 hitung sehingga hasil

signifikan dan hokum Hardy-Weiberg terbukti.

Percobaa 3 dilakukan dengan cara individu dari kacang tanah yang telah

tersedia diambil secara acak, lalu ditimbang menggunakan neraca. Langkah

tersebut dilakukan sebanyaka 100 kali. Warna dan bobot diamati lalu dimasukkan

ke dalam tabel. Hasilnya yaitu pada bobot 0,2 berjumlah 3, bobot 0,3 berjumlah

40, bobot 0,4 berjumlah 47 dan pada bobot 0,5 berjumlah 10 dengan rata-rata

bobot dengan bobot rata-rata adalah 0,28. Pada percobaan ini bobot 0,4 lah yang

paling dominan.

Percobaan tersebut sesuai dengan literature, hal tersebut diperkuat dengan

pernyataan Campbell (2002), pola pewarisan sifat pada tingkat populasi, dalam

pelaksanaannya terlebih dahulu perlu dilakukan pemahaman pengertian populasi


dalam arti genetika atau lazim disebut juga populasi Mendelian. Populasi

mendelian ialah sekelompok individu suatu spesies yang bereproduksi secara

seksual, hidup di tempat tertentu pada saat yang sama, dan di antara mereka

terjadi perkawinan (interbreeding) sehingga masing-masing akan memberikan

kontribusi genetik ke dalam lungkang gen (gene pool), yaitu sekumpulan

informasi genetik yang dibawa oleh semua individu di dalam populasi.

Deskripsi susunan genetik suatu populasi mendelian dapat diperoleh apabila

kita mengetahui macam genotipe yang ada dan juga banyaknya masing-masing

genotipe tersebut. Sebagai contoh, di dalam populasi tertentu terdapat tiga macam

genotipe, yaitu AA, Aa, dan aa. Maka, proporsi atau persentase genotipe AA, Aa,

dan aa akan menggambarkan susunan genetik populasi tempat mereka berada.

Adapun nilai proporsi atau persentase genotipe tersebut dikenal dengan istilah

frekuensi genotipe. Jadi, frekuensi genotipe dapat dikatakan sebagai proporsi atau

persentase genotipe tertentu di dalam suatu populasi. Dengan perkataan lain, dapat

juga didefinisikan bahwa frekuensi genotipe adalah proporsi atau persentase

individu di dalam suatu populasi yang tergolong ke dalam genotipe tertentu

(Campbell, 2002).

Hukum Hardy-Weinberg menyebutkan apabila tidak ada faktor-faktor yang

dapat mengubah frekuensi gen pada suatu populsi, dan populasi tersebut

mengadakan perkawinan secara acak dari generasi ke generasi berikutnya maka

frekuensi gen tersebut tidak akan mengalami perubahan (Muliadi Dudung dan

Johar Arifin, 2010).


Hardy-Weinberg menyatakan bahwa bila suatu populasi dalam keadaan

seimbang, maka baik frekuensi alel atau genotipe akan konstan dari generasi ke

generasi. Selanjutnya temuan ilmuan itu disebut sebagai prinsip keseimbangan

Hardy-Wenberg. Seperti diketahui, fenotipe yang berbeda sering kali mempunyai

nilai ekonomis yang berbeda, dan apabila ini terjadi maka diharapkan untuk

mengubah frekuensi dari alel-alel yang memproduksi fenotipe, peningkatan

frekuensi alel tersebut mengontrol fenotipe yang diinginkan dan mengurangi alel

yang tidak diinginkan. Jika alel yang diinginkan ditetapkan (f=100%) dan alel

yang tidak diinginkan dihilangkan (f=100%), populasi akan menghasilkan galur

murni dan akan berharga seperti brood stok (Suryo, 2005).

Bobot kacang tanah pada percobaan 3 dengan jumlah 3 biji yaitu 0,2 gram,

40 biji 0,3 gram, 47 biji 0,4 gram dan 10 biji seberat 0,5 gram. Menurut Halim,

Abdul (2004), produktivitas kacang tanah varietas gajah berkisar antara 1,6-1,8

ton per ha dengan umur panen 100 hari. Berat 100 biji varietas gajah ini 53 gram.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
1. Praktikum dilaksanakan untuk mendapatkan data sebagai berikut : pada

percobaan 1, frekuensi alel MM = 53, Mm = 90 dan mm = 57, q = 0,53 dan p

= 0,47. Frekuensi genotipnya yaitu 22,09 % pp+ 49,82 % 2pq+ 28,09 %

qq.sehingga rasio perbandingan genotip pp : 2pq : qq adalah 1 : 2 : 1.

Frekuensi alel percobaan 2, frekuensi alel MM = 27, Mm = 53 dan mm = 20

sehingga dapat diperoleh nilai q = 0,45 dan nilai p = 0,55 . Sedangan frekuensi

genotip yang diperoleh adalah pp = 30,25%, 2pq = 49,5% dan qq = 20,25%

dengan perbandingan rasio 1: 2 : 1.


1. Hasil x2 tabel pada percobaan 1 dan 2 lebih besar disbanding x 2 hitung. Oleh

karena itu, hasil pengujian dikatan signifikan artinya pengujian sesuai dengan

perbandingan dan hukum Hardy-Weinbergn terbukti.


2. Sifat kualitatif kacang tanah berdasarkan hasil percobaan yaitu pada kacang

tanah bobot 0,2 berjumlah 3, bobot 0,3 berjumlah 40, bobot 0,4 berjumlah 47

dan pada bobot 0,5 berjumlah 10.

B. Saran
1. Alat dan bahan dalam praktikum diperbanyak lagi agar praktikm dapat

berjalan secara lebih efektif dan efisien.


2. Praktikan diharapkan agar lebih teliti dan cermat dalam menjalankan

percobaan agar hasil yang didapatkan dapat sesuai dengan literatur.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G. 2002. Biologi. Erlangga: Jakarta.

Crowder, L.V. 1986. Genetika Tumbuhan, Edisi Indonesia. Gadjah Mada


University Press: Yogyakarta.
Fitriani, L., Toekidjo, dan Setyastuti P. 2013. Keragaan Lima Kultivar Cabai
(Capsicum annum. L. ) Dataran Medium. Jurnal Vegetalika. Vol. 2 (2): 50-
6.

Halim, Abdul. 2004. Pengarih Jarak Tanam dan Pemberian Berbagai Dosis
Kotoran Ayam Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kacang Tanah
(Arachis hypogaea L.) Varietas Gajah. Skripsi. Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.

Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT.


Gramedia Widiasarana Indonesia: Jakarta.

Mangoendidjojo. 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Kanisius: Yogyakarta.

Muliadi Dudung dan Johar Arifin. 2010. Pendugaan keseimbangan Populasi dan
Heterozigositas menggnakan Pola Protein Albumin Darah pada Populasi
Domba Ekor Tipis (Javanese Thin Tailed ) di Daerah Indramayu. Jurna
Ilmu Ternak. Vol. 10 (2): 65-72.

Odum, H. 1993. Ekologi Sistem Suatu Pengantar. Universitas Gadjah Mada:


Yogyakarta.

Pane, I. 1993. Pemuliabiakan Ternak Sapi. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Rohmad, 2012, Diktat Kuliah Genetika Ternak, Universitas Islam Kadiri, Kadiri

Suryo. 1983. Genetika. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

. 2005. Genetika Strata 1. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

. 2012. Genetika Untuk Strata I. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Stansfield, W. D., 1991. Genetika. Alih Bahasa M. Affandi dan L. T. Hardy.


Erlangga, Jakarta.
Warwick EJ, Maria A, Wartomo H. 1990. Pemuliaan Ternak. Gajah Mada
University Press: Yogyakarta.

LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA TUMBUHAN

ACARA VI
PERHITUNGAN FREKUENSI ALELE, FREKUENSI GENOTIP,
PENGUKURAN SIFAT- SIFAT KUALITATIF DAN KUANTITATIF
Oleh:
Nama : Retna Ayu Tresnaning Kusuma Devi
NIM : A1D015091
Rombongan :4
Pj Acara : Elin Nurjanah

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENEDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016