You are on page 1of 8

BAB II

DASAR TEORI

II.1 Dasar Teori


II.1.1 Ekstraksi
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan substansi dari campurannya dengan
menggunakan pelarut yang sesuai.
Berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi, dapat dibedakan dua macam
ekstraksi yaitu :
1. Ekstraksi padat-cair jika substansi yang diekstraksi terdapat di dalam campurannya
yang berbentuk padat.
Proses ini paling banyak ditemui di dalam usaha untuk mengisolasi suatu
substansi yang terkandung di dalam suatu bahan alam. Oleh karena itu, hanya
proses ektraksi ini yang akan dibahas dalam bab ini.
2. Ekstraksi cair-cair jika substansi yang diekstraksi terdapat di dalam campurannya
yang berbentuk cair
Berdasarkan proses pelaksanaannya ekstraksi dapat dibedakan :
1. Ekstraksi yang berkesinambungan (Continous Extraction)
Dalam ekstraksi ini pelarut yang sama dipakai berulang-ulang sampai proses
ekstraksi selesai
2. Ekstraksi bertahap (Bath Extraction)
Dalam ekstraksi ini pada tiap tahap selalu dipakai pelarut yang baru sampai proses
ekstraksi selesai
Dalam proses ekstraksi padat-cair diperlukan kontak yang sangat lama antara pelarut
dan padatan. Seperti sudah dinyatakan di atas bahwa proses ini paling banyak ditemui di
dalam usaha untuk mengisolasi suatu substansi yang terkandung di dalam suatu bahan
alam, sehingga yang berperan penting dalam menentukan sempurnanya proses ekstraksi ini
adalah sifat-sifat bahan alam tersebut dan juga bahan yang akan diekstraksi.

II.1.2 Klasifikasi Ekstraksi


Beberapa cara dapat mengklasifikasikan sistem ekstraksi. Cara klasik adalah
mengklasifikasikan berdasarkan sifat zat yang diekstraksi, sebagai khelat atau sistem

II-1
Bab II Tinjauan Pustaka

ion berasosiasi. Sekarang klasifikasi didasarkan atas proses ekstraksi. Bila ekstraksi ion log
am berlangsung, maka proses ekstraksi berlangsung dengan mekanisme tertentu.
Golongan ekstraksi berikutnya dikenali sebagai ekstraksi melalui solvasi sebab
spesies ekstraksi disolvasi ke fase organik. Golongan ekstraksi ketiga adalah proses yang
melibatkan pembentukan pasangan ion. Ekstraksi berlangsung melalui
pembentukan spesies netral yang tidak bermuatan diekstraksi ke fase organik. Sedangakan
kategori terakhir merupakan ekstraksi sinergis. Nama yang digunakan menyatakan adanya
efek saling memperkuat yang berakibat pada penambahan ekstraksi dengan memanfaatkan
pelarut pengekstraksi (Febri, 2009).
Tiga metode dasar pada ekstraksi cair-cair adalah ekstraksi bertahap, ekstraksi
kontinyu, dan ekstraksi counter current. Ekstraksi bertahap merupakan cara yang paling
sederhana. Caranya cukup dengan menambahkan pelarut pengekstraksi yang tidak
bercampur dengan pelarut semula kemudian dilakukan pengocokan sehingga terjadi
kesetimbangan konsentrasi yang akan diekstraksi pada kedua lapisan, setelah ini tercapai
lapisan didiamkan dan dipisahkan (Khopkar, 1990).
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan substansi atau zat dari campurannya
dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Ekstraksi dapat digolongkan berdasarkan bentuk
campuran yang diekstraksi dan proses pelaksanaannya. Berdasarkan kesetimbangan
distribusi antara pelarut yang saling tidak bercampur, dapat dibedakan tiga prosedur
pemisahan yaitu:
a. Ekstraksi Sederhana. Apabila harga pembanding distribusi salah satu spesies dalam
campuran cukupmenguntungkan (faktor D = 5-10 atau lebih besar), sedangkan nilai
pembandingdistribusu spesies lainnya sangat tidak menguntungkan (faktor D <
0,001) makaekstraksi kuantitatif dapat dilakukan dengan sangat mudah dan
sederhana (Katili, 2012).
b. Ekstraksi Kontinyu (Sampai Habis)
Ekstraksi sampai habis memungkinkan pemisahan komponen-komponendalam
campuran yang mempunyai nilai pembanding distribusi kurang menguntungkan(D
< 1) dibanding nilai pembanding distribusi komponen lainnya yang mendekati nol
(Katili, 2012).
c. Ekstraksi Dengan Arah Berlawanan

Laboratorium Dasar-Dasar Kimia Fisika II-2


Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
Bab II Tinjauan Pustaka

Metode ekstraksi ini dikenal dengan metode ekstraksi Craig. Metode ini
merupakan salah satu dari berbagai cara untuk memisahkan dua zat atau lebih,
apabila perbandingan distribusi (D) dari zat-zat tersebut perbedaannya
kecil sekali. Ekstraksi campuran-campuran merupakan suatu teknik dimana suatu
larutan (biasanya dalam air) dibuat bersentuhan dengan suatu pelarut kedua
(biasanya organik), yang pada hakikatnya tidak tercampurkan dengan yang
pertama, dan menimbulkan perpindahan satu atau lebih zat terlarut (solut) ke dalam
pelarut kedua itu. Untuk suatu zat terlarut A yang didistribusikan antara dua fasa
tidak tercampurkan a dan b, hukum distribusi(atau partisi) Nernst menyatakan
bahwa asal keadaan molekulnya sama dalam kedua cairan dan temperatur adalah
konstan (Katili, 2012).
Dan kesempurnaan ekstraksi tergantung pada pada banyaknya ekstraksi yang
dilakukan. Hasil yang baik diperoleh jika jumlah ekstraksi yang dilakukan berulang kali
dengan jumlah pelarut sedikit-sedikit (Katili, 2012).

II.1.3 Koefisien Distribusi


Bila suatu zat terlarut membagi diri antar dua cairan yang tak dapat campur, ada
suatu hubungan yang pasti antar konsentrasi zat terlarut dalam dua fase pada
kestimbangan. Nernst pertama kalinya memberikan pernyataan yang jelas mengenai
hukum distribusi ketika pada tahun 1891 ia menunjukkan bahwa suatu zat terlarut akan
membagi dirinya antara dua cairan yang tak dapat campur sedemikian rupa sehingga angka
banding konsentrasi pada keseimbangan asalah konstanta pada suatu temperatur tertentu :
[A]1 : [A]2 = tetapan
[A]1 menyatakan konsentrasi zat terlarut A dalam fase cair satu.
Meskipun hubungan ini berlaku cukup baik dalam kasus-kasus tertentu, pada
kenyataannya hubungan ini tidaklah eksak. Yang benar, dalam pengertian termodinamik,
angka banding aktivitas bukannya rasio konsetrasi yang seharusnya konstan. Aktivitas
suatu spesies kimia dalam satu fase memelihara suatu rasio yang konstan terhadap aktivitas
spesies itu dalam fase cair yang lain;
aA1 : aA2 = KDA
Disini aA1 menyatakan aktivitas zat terlarut A dalam fase 1. Tetapan sejati K DA,
disebut koefisien distribusi dari spesies A. Dalam perhitungan kira-kira yang memedai

Laboratorium Dasar-Dasar Kimia Fisika II-3


Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
Bab II Tinjauan Pustaka

untuk banyak maksud, dapatlah konsentrasi bukannya aktivitas digunakan dalam problem
yang melibatkan KD seperti yang terdapat pada akhir bab ini.
Andaikan bahwa A murni berupa zat padat, dan perhatikan suatu larutan A dalam
pelarut 1 yang berada dalam kesetimbangan dengan kelebihan zat padat; ini larutan jernih,
dan [A]1 sama dengan SA1, dengan SA1 adalah kelarutan molar A dalam pelarut 1. Serempak
dengan itu, andaikan larutan berada dalam kesetimbangan dengan suatu larutan A dalam
pelarut 2. Kini, jika kedua fase berada dalam kesetimbangan satu dengan yang lain, dan
salah satunya berada dalam kesetimangan satu dengan fase ketiga (dalam hal ini, zat padat
A), maka yang lain pun berada dalam kesetimbangan fase ketiga ini. Dengan perkataan
lain, [A]2 sama dengan SA2. Jika [A]1 : [A]2 sama dengan suatu tetapan, maka tetapan ini
juga sama dengan SA1 : SA2 artinya KDA dapat dipandang sebagai rasio kelarutan A dalam
kedua pelarut itu. (meskipun demikian ingat, bahwa angka banding [A] 1 : [A]2 akan tetap
konstan jika kedua larutan itu telah di setimbangkan satu sama lain, tak peduli apakah
mereka jenuh dengan zat terlarut itu atau tidak.) (Underwood, 2002).

II.1.4 Mekanisme Ekstraksi


Menurut Febri (2009), proses ekstraksi pelarut berlangsung tiga tahap , yaitu :
1. Pembentukan kompleks tidak bermuatan yang merupakan golongan ekstraksi.
2. Distribusi dari kompleks yang terektraksi
3. Interaksinya yang mungkin dalam fase organik.
II.1.4.1.Pembentukan Kompleks tidak bermuatan
Pembentukan komleks tidak bermuatan merupakan tahap penting dalam ekstraksi.
Jelaslah bahwa kompleks bermuatan tidak akan terekstraksi sehingga mutlak kompleks
diekstraksi harus tampa muatan. Kompleks tidak bermuatan dapat
dibentuk melalui proses pembentukan khelat (yaitu; khelat netral), solvasi atau
pembentukan pasangan ion. Pada fenomena solvasi ataupun pada ekstraksi yang
melibatkan pembentukan pasangan ion, komleks yang terbentuk dapat berupa anion atau
kation yang selanjutnya berasosiasi dengan masing masing kation atau anion lain untuk
menghasilkan kompleks tidak bermuatan yang dapat diekstraksi ke fase organik
(Febri, 2009).
Pada tahap ini penting untuk memperhatikan sifat kompleks logam dan faktor-
faktor yang mempengaruhi pembentukannya. Pertama, akan dilihat kompleks

Laboratorium Dasar-Dasar Kimia Fisika II-4


Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
Bab II Tinjauan Pustaka

koordinasinya . Pembentukan kompleks oleh ion logam tergantung pada


kecendrunganuntuk mengisi orbital atom kosong dalam usaha mencapai konfigurasi
elektron yang stabil. Sealama proses polarisasi, deformasi ion akan lebih disukai dengan
logamkation yang mempunyai muatan besar, ukuran ligan yang besar, dan dengan ion
logamyang mempunyai tipe konfigurasi atom gas yang bukan gas mulia. Biasanya
kompleks bermuatan diusahakan untuk dinetralkan oleh muatan ion lain, untuk
memudahkan ekstraksi (Febri, 2009).
Kestabilan kompleks koordinasi tergantung pada keasaman ion logam, kebebasan
ligan yang akan berkoordinasi , pertimbangan stereokimia serta konfigurasi kompleks yang
terbentuk. Jika logam mempunyai muatan atau valensi kation yang besar , keasamannya
akan lebih besar pula.
Tahap berikutnya yang penting pada mekanisme ekstraksi adalah proses distribusi
dari zat yang terekstraksi ke fase organik. Menurut Febri (2009), distribusi tergantung
pada bermacam faktor, yaitu :
1. Kebasaan ligan
2. Faktor stereokimia
3. Adanya garam pada sistem ekstraksi
Menurut Febri (2009), ada beberapa elektrolit yang mempunyai kemampuan
mempertinggi ekstraksi dari kompleks. Peran utama dari elektrolit ini adalah :
1. Mempertinggi kosentrasi kompleks anion melalui mekanisme aksi massa sehingga
akan menambahkan kosentrasi kompleks dan mempertinggi ekstraksi
2. Akibat ikatan molekul air dengan ion elektrolit menjadikan pelarut tidak bebas lagi.
3. Konstanta dielektrik dari fase akua berkurang dengan bertambahnya kosentrasi garam,
selanjutnya akan mempertinggi pembentukan asosiasi ion.
Terakhir dalam pembahasan mekanisme ekstraksi adalah interaksi pada fase
organik. Interaksi ini mempengaruhi kosentrasi kompleks dan tingkat ekstraksi yang
dihasilkan. Padaekstraksi dengan mekanisme solvasi, polimerisasi dapat terjadi. Pada
kosentrasi yang besar , polimerisasi dapat terjadi. Pada kosentrasi besar, polimerisasi
berlangsung cepat. Polimerisasi ini mengurangi aktivitas zat asosiasi ion dapat terjadi
pada larutan polar yang encer sehingga menghasilkan pertambahan ekstraksi
(Febri, 2009).

Laboratorium Dasar-Dasar Kimia Fisika II-5


Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
Bab II Tinjauan Pustaka

II.1.5 Hukum Distribusi


Hukum distribusi atau partisi. Suatu zat yang dapat larut dalam dua zat pelarut yang
tidak saling campur dan ketiga-tiganya ada bersama, maka zat tersebut akan terbagi
kedalam dua pelarut tersebut. Pada keadaan setimbang, perbandingan fraksi mol dari zat
terlarut dalam kedua pelarut berharga tetap pada temperatur tetap. Pernyataan ini dikenal
dengan hukum distribusi. Hukum ini hanya berlaku bila larutannya encer dan zat terlarut
mempunyai struktur molekul yang sama dalam dua pelarut (Sukardjo,1996). Berikut ini
tabel koefisien distribusi pada 250c:
Tabel II.1 Koefisien Distribusi pada 250c (C dalam mol/l)
I2 dalam H2O/CCL4 HgBrs dalam H2O/C6H6 H3BO3 dalam H2O/amil
alcohol
CH2O CCCl4 K= CH2O CH2O CC6H6 K CH2O CA K
Cccl4

0,000322 0,02745 0,0117 0,00320 0,00353 0,90 0,02602 0,00805 3,24


0,000503 0,0429 0,0117 0,00394 0,00436 0,90 0,05104 0,01545 3,31
0,000763 0,0654 0,0117 0,00634 0,00715 0,89 0,01808 0,0540 3,35

Menurut hukum distribusi Nerst, jika dua cairan a dan b dapat


bercampur parsial perilaku antar mereka perlu tidak ideal.Tetapi dalam bagian
ini kita perhatikan perilaku komponen ketiga (subskribsi) yang hadir dalam
ke dua lapisan cair itu. Jika zat ini cukup encer dalam tiap lapisan ia dapat
berperilaku secara individu sebagai zat terlarut ideal dalam keduanya,
walaupun sistem itu keseluruhan tidak ideal (Denbig, 1993).
Penentuan koefisien distribusi disebabkan oleh dua pelarut yang dicampurkan
tetapi tidak saling melarutkan. Dalam melakukan penentuan koefisien distribusi dikenal
dengan hukum Distribusi Nernst. Untuk dua pelarut yang tidak saling melarutkan, seperti
air dan karbontetraklorida, ketika dicampurkan akan terbentuk dua fasa yang terpisah. Jika
ke dalamnya ditambahkan zat terlarut yang dapat larut di kedua fasa tersebut, seperti
iodium yang dapat larut dalam air dan CCl4, maka zat terlarut akan terdistribusi di kedua
pelarut (yang berbeda fasa) tersebut, sampai tercapai keadaan kesetimbangan. Pada saat

Laboratorium Dasar-Dasar Kimia Fisika II-6


Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
Bab II Tinjauan Pustaka

tersebut, potensial kimia zat terlarut di fasa 1 sama dengan potensial kimianya di fasa 2.
Karena keduanya tidak bergantung pada komposisi, maka pada T tetap.

2 /1 =
..(1)
Dengan k koefisien distribusi atau koefisien partisi, yang harganya tidak tergantung
pada konsentrasi zat terlarut pada T yang sama. Jika sejumlah tertentu zat terlarut sudah
setimbang dalam dua fasa yang berbeda dan kemudian ditambahkan lagi terlarut
kedalamnya, maka terlarut itu akan terdistribusi lagi dalam kedua pelarut sampai diperoleh
keadaan kesetimbangan baru yang konsentrasinya berbeda dengan konsentrasi sebelum
penambahan akan tetapi nilai perbandingannya di kedua fasa berharga tetap (Mulyani,2007)
Bila suatu zat-terlarut membagi diri antara dua cairan yang tak-dapat bercampur,
ada suatu hubungan yang pasti antara konsentrasi zat terlarut dalam dua fase pada
kesetimbangan. Nernst pertama kalinya memberikan pernyataan yang jelas mengenai
hukum distribusi ketika pada tahun 1891 ia menunjukkan bahwa suatu zat terlarut akan
membagi dirinya antara dua cairan yang tak-dapat bercampur sedemikian rupa sehingga
angka banding konsentrasi pada keseimbangan adalah konstanta pada suatu temperatur
tertentu:(Underwood, 1998).
Hukum distribusi banyak dipakai dalam proses ekstraksi , analisis dan penentuan
tetapan kesetimbangan. Ekstraksi mempunyai arti penting dalam laboratorium dan teknik,
Dalam laboratorium ekstraksi dipakai untuk mengambil zat-zat terlarut dalam air dengan
menggunakan pelarut-pelarut organic yang tidak bercampur seperti eter, CHCl 3, CCl4 dan
benzena (Sukardjo,2002).

II.1.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Koefisien Distribusi


Menurut Himaki (2012), hukum distribusi adalah suatu metode yang digunakan
untuk menentukan aktivitas zat terlarut dalam satu pelarut jika aktivitas zat terlarut dalam
pelarut lain diketahui, asalkan kedua pelarut tidak tercampur sempurna satu sama lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi koefisien distribusi diantaranya:
1. Temperatur yang digunakan
Semakin tinggi suhu maka reaksi semakin cepat sehingga volume titrasi menjadi kecil,
akibatnya berpengaruh terhadap nilai k.

Laboratorium Dasar-Dasar Kimia Fisika II-7


Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS
Bab II Tinjauan Pustaka

2. Jenis pelarut.
Apabila pelarut yang digunakan adalah zat yang mudah menguap maka akan sangat
mempengaruhi volume titrasi, akibatnya berpengaruh pada perhitungan nilai k.
3. Jenis terlarut.
Apabila zat akan dilarutkan adalah zat yang mudah menguap atau higroskopis, maka
akan mempengaruhi normalitas (konsentrasi zat tersebut), akibatnya mempengaruhi
harga k.
4. Konsentrasi
Makin besar konsentrasi zat terlarut makin besar pula harga k.Harga K berubah dengan
naiknya konsentrasi dan temperatur. Harga k tergantung jenis pelarutnya dan zat
terlarut. Menurut Walter Nersnt, hukum diatas hanya berlaku bila zat terlarut tidak
mengalami disosiasi atau asosiasi, hukum di atas hanya berlaku untuk komponen yang
sama.

Laboratorium Dasar-Dasar Kimia Fisika II-8


Departemen Teknik Kimia Industri
FV - ITS