You are on page 1of 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan hak-hak yang dimiliki manusia sejak ia lahir yang
berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapapun.Hak Asasi merupakan sebuah
bentuk anugrah yang diturunkan oleh Tuhan sebagai sesuatu karunia yang paling mendasar
dalam hidup manusia yang paling berharga. Hak Asasi dilandasi dengan sebuah kebebasan setiap
individu dalam menentukan jalan hidupnya, tentunya Hak asasi juga tidak lepas dari kontrol
bentuk norma-norma yang ada. Hak-hak ini berisi tentang kesamaan atau keselarasan tanpa
membeda-bedakan suku, golongan, keturunanan, jabatan, agama dan lain sebagainya antara
setiap manusia yang hakikatnya adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan.
Terkait tentang hakikat hak asasi manusia, maka sangat penting sebagai makhluk ciptaan
Tuhan harus saling menjaga dan menghormati hak asasi masing-masing individu. Namun pada
kenyataannya, kita melihat perkembangan HAM di Negara ini masih banyak bentuk pelanggaran
HAM yang sering kita temui.

1.2 Rumusan masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah yang akan dibahas sebagai
berikut:
a. Apa pengertian dan ruang lingkup Hak Asasi Manusia ?
b.Bagaimana perkembangan Hak Asasi Manusia di Indonesia ?
c. Apa saja pelanggaran Hak Asasi Manusia ?

1.3 Tujuan penulisan


Adapun tujuan penulisan sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui pengertian Hak Asasi Manusia, serta mengetahui ruang lingkup Hak Asasi
Manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Hak Asasi Manusia
Hak asasi manusia (HAM) secara tegas di atur dalam Undang Undang No. 39 tahun 1999
pasal 2 tentang asas-asas dasar yang menyatakan Negara Republik Indonesia mengakui dan
menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia sebagai hak yang secara
kodrati melekat pada dan tidak terpisahkan dari manusia, yang harus dilindungi, dihormati, dan
ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan
kecerdasan serta keadilan.
Hak asasi manusia dalam pengertian umum adalah hak-hak dasar yang dimiliki setiap
pribadi manusia sebagai anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir. Ini berarti bahwa sebagai
anugerah dari Tuhan kepada makhluknya, hak asasi tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pribadi
manusia itu sendiri. Hak asasi tidak dapat dicabut oleh suatu kekuasaan atau oleh sebab-sebab
lainnya, karena jika hal itu terjadi maka manusia kehilangan martabat yang sebenarnya menjadi
inti nilai kemanusiaan.Hak asasi mencangkup hak hidup,hak kemerdekaan/kebebasan dan hak
memiliki sesuatu. Ditinjau dari berbagai bidang, HAM meliputi :
a. Hak asasi pribadi (Personal Rights)
Contoh : hak kemerdekaan, hak menyatakan pendapat, hak memeluk agama.
b. Hak asasi politik (Political Rights) yaitu hak untuk diakui sebagai warga negara
Misalnya : memilih dan dipilih, hak berserikat dan hak berkumpul.
c. Hak asasi ekonomi (Property Rights)
Misalnya : hak memiliki sesuatu, hak mengarahkan perjanjian, hak bekerja dan
mendapatkan hidup yang layak.
d. Hak asasi sosial dan kebuadayaan (Sosial & Cultural Rights).
Misalnya : mendapatkan pendidikan, hak mendapatkan santunan, hak pensiun,
hak mengembangkan kebudayaan dan hak berkspresi.
e. Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan Pemerintah
(Rights Of Legal Equality)
f. Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum.
2.2 Ciri dan Tujuan Hak Asasi Manusia
Hak Asasi Manusia pada dasarnya bersifat umum atau universal karena diyakini bahwa
beberapa hak yang dimiliki manusia tidak memiliki perbedaan atas bangsa, ras, atau jenis
kelamin.
Berdasarkan beberapa rumusan HAM di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang ciri pokok
hakikat HAM, yaitu sebagai berikut :
a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. HAM merupakan bagian dari manusia
secara otomatis
b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis,
pandangan politik , atau asal usul social dan bangsanya
c. HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk melanggar dan membatasi
orang lain
Tujuan Hak Asasi Manusia,yaitu sebagai berikut:
a. HAM adalah alat untuk melindungi orang dari kekerasan dan kesewenang
wenangan.
b. HAM mengenmbangkan saling menghargai antar manusia
c. HAM mendorong tindakan yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab untuk
menjamin bahwa hak-hak orang lain tidak dilanggar
2.3. HAM di Indonesia
Sejak kemerdekaan tahun 1945 sampai sekarang di Indonesia telah berlaku tiga undang-
undang dalam 4 periode, yaitu :
a. Periode 18 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949, berlaku UUD 1945,
b. Periode 27 Desember 1949 sampai 17 Agustus 1950, berlaku Konstitusi
Republik Indonesia Serikat.
c. Periode 17 Agustus 1950 sampai 5 Juli 1959, berlaku UUDS 1950.
d. Periode 5 Juli 1959 sampai sekarang, berlaku kembali UUD 1945.
2.4 Komisi Nasional HAM
Komnas HAM adalah lembaga mandiri yang kedudukannya setingkat dengan lembaga
Negara lainnya yang berfungsi untuk melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan,
pemantauan dan mediasi hak asasi manusia.
Tujuan Komnas HAM antara lain :
1. Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai dengan
pancasila, UUD 1945 dan piagam PBB serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.
2. Meningkatkan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia guna berkembangnya pribadi
manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuannya berpartisipasi dalam berbagai bidang
kehidupan
2.5 Hak Asasi Manusia Dalam Perundang-undangan Nasional
Dalam peraturan perundang undangan RI paling tidak terdapat empat bentuk hukum
tertulis yang memuat aturan tentang HAM. Pertama, dalam konstitusi (Undang-undang Dasar
Negara). Kedua, dalam ketetapan MPR (TAP MPR). Ketiga, dalam Undang-undang. Keempat,
dalam peraturan pelaksanaan perundang-undangan seperti peraturan pemerintah, keputusan
presiden dan peraturan pelaksanaan lainnya.
Kelebihan pengaturan HAM dalam konstitusi memberikan jaminan yang sangat kuat,
karena perubahan dan atau penghapusan satu pasal dalam konstitusi seperti dalam
ketatanegaraan di Indonesia mengalami proses yang sangat berat dan panjang antara lain melalui
amandemen dan referendum. Sedangkan kelemahannya karena yang diatur dalam konstitusi
hanya memuat aturan yang masih global seperti ketentuan tentang HAM dalam konstitusi RI
yang masih bersifat global. Sementara itu bila pengaturan HAM melalui TAP MPR,
kelemahannya tidak dapat memberikan sangsi hokum bagi pelanggarnya. Sedangkan pengaturan
HAM dalam bentuk Undang-Undang dan peraturan pelaksanaannya kelemahannya pada
kemungkinan seringnya mengalami perubahan
Menurut UU no 26 Tahun 2000 pasal 1 tentang pengadilan HAM , Dalam Undang-undang ini
yang dimaksud dengan :
1. Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan
keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh
negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta
perlindungan harkat dan martabat manusia.
2. Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat adalah pelanggaran hak asasi
Manusia sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang ini.
3. Pengadilan Hak Asasi Manusia yang selanjutnya disebut Pengadilan HAM
Adalah pengadilan khusus terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat.
4. Setiap orang adalah orang perseorangan, kelompok orang, baik sipil, militer,
Maupun polisi yang bertanggung jawab secara individual.
5. Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan
Menemukan ada tidaknya suatu peristiwa yang diduga merupakan pelanggaran hak asasi
manusia yang berat guna ditindaklanjuti dengan penyidikan sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam Undang-undang ini.
2.6 Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Banyak macam Pelanggaran HAM di Indonesia, dari sekian banyak kasus ham yang
terjadi, tidak sedikit juga yang belum tuntas secara hukum, hal itu tentu saja tak lepas dari
kemauan dan itikad baik pemerintah untuk menyelesaikannya sebagai pemegang kekuasaan
sekaligus pengendali keadilan bagi bangsa ini.
a. Kasus pelanggaran HAM yang bersifat berat, meliputi :
1. Pembunuhan masal (genosida: setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud
menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa)
2. Pembunuhan sewenang-wenang atau di luar putusan pengadilan
3. Penyiksaan
4. Penghilangan orang secara paksa
5. Perbudakan atau diskriminasi yang dilakukan secara sistematis.
b. Kasus pelanggaran HAM yang biasa, meliputi :
1. Pemukulan
2. Penganiayaan
3. Pencemaran nama baik
4. Menghalangi orang untuk mengekspresikan pendapatnya
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan isi dari pembahasan diatas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan
fundamental sebagai anugrah dari Tuhan yang harus dihormati, dijaga dan dilindungi oleh setiap
individu
2. Rule of Law adalah gerakan masyarakat yang menghendaki bahwa kekuasaan raja maupun
penyelenggara negara harus dibatasi dan diatur melalui suatu peraturan perundang-undangan dan
pelaksanaan dalam hubungannya dengan segala peraturan perundang-undangan
3. Dalam peraturan perundang undangan RI paling tidak terdapat empat bentuk hokum tertulis yang
memuat aturan tentang HAM. Pertama, dalam konstitusi (Undang-undang Dasar Negara).
Kedua, dalam ketetapan MPR (TAP MPR). Ketiga, dalam Undang-undang. Keempat, dalam
peraturan pelaksanaan perundang-undangan seperti peraturan pemerintah, keputusan presiden
dan peraturan pelaksanaan lainnya.
4. Pelanggaran Hak Asasi Manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang
termasuk aparat negara, baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara
hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang
atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang dan tidak mendapatkan atau
dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyesalan hukum yang adil dan benar berdasarkan
mekanisme hukum yang berlaku.

3.2 Saran
Kepada para pembaca agar lebih banyak mencari informasi tentang HAM dan Rule of Law untuk
memahami kedua aspek pembahasan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Kaelan. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Paradigma. Jogjakarta


Zaelani, Endang Sukaya.Pendidikan Kewarganegaraan.Paradigma.Jogjakarta
Herdiawanto, Hery.Pendidikan Kewarganegaraan.Erlangga.Jakarta
Azra,Azyumardi.Demokrasi Hak Asasi Manusia Masyarakat Madani.ICCE UIN.Jakarta
Raika, Tika.2012.Pengertian-hak-asasi-manusia. (diakses lewat internet)
inforingankita.blogspot.com/.../
Chieva,C.Perkembangan dan pemikiran ham di Indonesia.2012. (diakses lewat internet)
chieva-chiezchua.blogspot.com
Makalah Hak Asasi Manusia (HAM)
Selasa, 09 Maret 2010
Makalah Hak Asasi Manusia

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam

penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan

interaksinya antara individu atau dengan instansi. Hak juga merupakan sesuatu yang harus

diperoleh. Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas terutama

dalam era reformasi ini. HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam era reformasi

dari pada era sebelum reformasi. Perlu diingat bahwa dalam hal pemenuhan hak, kita hidup tidak

sendiri dan kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Jangan sampai kita melakukan

pelanggaran HAM terhadap orang lain dalam usaha perolehan atau pemenuhan HAM pada diri

kita sendiri. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk membuat makalah tentang HAM. Maka

dengan ini penulis mengambil judul Hak Asasi Manusia.

Secara teoritis Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri manusia yang

bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Allah yang harus dihormati, dijaga, dan

dilindungi. hakikat Hak Asasi Manusia sendiri adalah merupakan upaya menjaga keselamatan

eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara kepentingan perseorangan

dengan kepentingan umum. Begitu juga upaya menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi
Hak Asasi Manusia menjadi kewajiban dan tangung jawab bersama antara individu, pemeritah

(Aparatur Pemerintahan baik Sipil maupun Militer), dan negara.

Berdasarkan beberapa rumusan hak asasi manusia di atas, dapat ditarik kesimpulan

tentang beberapa sisi pokok hakikat hak asasi manusia, yaitu :

a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah bagian dari manusia

secara otomatis.

b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis,

pandangan politik atau asal usul sosial, dan bangsa.

c. HAM tidak bisa dilanggar, tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau

melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara

membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam makalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

Apa pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)

Penjelasan Hak Asasi Manusia (HAM) pada tataran Global

Permasalahan dan Penegakan HAM di Indonesia

Apa saja contoh-contoh pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)


BAB II

ISI

2.1 Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)

HAM adalah hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia,tanpa hak-hak itu manusia

tidak dapat hidup layak sebagai manusia.Menurut John Locke HAM adalah hak-hak yang

diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. Dalam pasal 1

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan bahwa Hak Asasi Manusia

adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk

Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan

dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta

perlindungan harkat dan martabat manusia.

Ruang lingkup HAM meliputi:

a. Hak pribadi: hak-hak persamaan hidup, kebebasan, keamanan, dan lain-lain;

b. Hak milik pribadi dan kelompok sosial tempat seseorang berada;

c. Kebebasan sipil dan politik untuk dapat ikut serta dalam pemerintahan; serta

d. Hak-hak berkenaan dengan masalah ekonomi dan sosial.

Hakikat Hak Asasi Manusia sendiri adalah merupakan upaya menjaga keselamatan eksistensi

manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan

kepentingan umum. Begitu juga upaya menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi Hak
Asasi Manusia menjadi kewajiban dan tangung jawab bersama antara individu, pemeritah

(Aparatur Pemerintahan baik Sipil maupun Militer),dan negara.

Berdasarkan beberapa rumusan hak asasi manusia di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang

beberapa sisi pokok hakikat hak asasi manusia, yaitu :

a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah bagian dari manusia

secara otomatis.

b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis,

pandangan politik atau asal usul sosial, dan bangsa.

c. HAM tidak bisa dilanggar, tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau

melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara

membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM.

2.2 Hak Asasi Manusia (HAM) pada tataran Global

Sebelum konsep HAM diritifikasi PBB, terdapat beberapa konsep utama mengenai HAM ,yaitu:

a. Ham menurut konsep Negara-negara Barat

1) Ingin meninggalkan konsep Negara yang mutlak.

2) Ingin mendirikan federasi rakyat yang bebas.

3) Filosofi dasar: hak asasi tertanam pada diri individu manusia.

4) Hak asasi lebih dulu ada daripada tatanan Negara.


b. HAM menurut konsep sosialis;

1) Hak asasi hilang dari individu dan terintegrasi dalam masyarakat

2) Hak asasi tidak ada sebelum Negara ada.

3) Negara berhak membatasi hak asasi manusia apabila situasi menghendaki.

c. HAM menurut konsep bangsa-bangsa Asia dan Afrika:

1.Tidak boleh bertentangan ajaran agama sesuai dengan kodratnya.

2.Masyarakat sebagai keluarga besar, artinya penghormatan utama terhadap kepala

keluarga

3.Individu tunduk kepada kepala adat yang menyangkut tugas dan kewajiban sebagai anggota

masyarakat.

d.HAM menurut konsep PBB;

Konsep HAM ini dibidani oleh sebuah komisi PBB yang dipimpin oleh Elenor Roosevelt dan

secara resmi disebut Universal Decralation of Human Rights.

Universal Decralation of Human Rights menyatakan bahwa setiap orang mempunyai:

Hak untuk hidup

Kemerdekaan dan keamanan badan

Hak untuk diakui kepribadiannya menurut hukum


Hak untuk mendapat jaminan hukum dalam perkara pidana

Hak untuk masuk dan keluar wilayah suatu Negara

Hak untuk mendapat hak milik atas benda

Hak untuk bebas mengutarakan pikiran dan perasaan

Hak untuk bebas memeluk agama

Hak untuk mendapat pekerjaan

Hak untuk berdagang

Hak untuk mendapatkan pendidikan

Hak untuk turut serta dalam gerakan kebudayaan masyarakat

Hak untuk menikmati kesenian dan turut serta dalam kemajuan keilmuan.

2.3 Permasalahan dan Penegakan HAM di Indonesia

Sejalan dengan amanat Konstitusi, Indonesia berpandangan bahwa pemajuan dan

perlindungan HAM harus didasarkan pada prinsip bahwa hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial

budaya, dan hak pembangunan merupakan satu kesatuanyang tidak dapat di pisahkan, baik

dalam penerapan, pemantauan, maupun dalam pelaksanaannya. Sesuai dengan pasal 1 (3), pasal

55, dan 56 Piagam PBB upaya pemajuan dan perlindungan HAM harus dilakukan melalui sutu

konsep kerja sama internasional yang berdasarkan pada prinsip saling menghormati,

kesederajatan, dan hubungan antar negaraserta hukum internasional yang berlaku.


Program penegakan hukum dan HAM meliputi pemberantasan korupsi, antitrorisme, serta

pembasmian penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya. Oleh sebab itu, penegakan hukum

dan HAM harus dilakukan secara tegas, tidak diskriminatif dan konsisten.

Kegiatan-kegiatan pokok penegakan hukum dan HAM meliputi hal-hal berikut:

1. Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM) dari 2004-2009

sebagai gerakan nasional

2. Peningkatan efektifitas dan penguatan lembaga / institusi hukum ataupun lembaga yang

fungsi dan tugasnya menegakkan hak asasi manusia

3. Peningkatan upaya penghormatan persamaan terhadap setiap warga Negara di depan

hukum melalui keteladanan kepala Negara beserta pimpinan lainnya untuk memetuhi/

menaati hukum dan hak asasi manusia secara konsisten serta konsekuen

4. Peningkatan berbagai kegiatan operasional penegakan hukum dan hak asasi manusia

dalam rangka menyelenggarakan ketertiban sosial agar dinamika masyarakat dapat

berjalan sewajarnya.

5. Penguatan upaya-upaya pemberantasan korupsi melalui pelaksanaan Rencana, Aksi

Nasional Pemberantasan Korupsi.

6. Peningkatan penegakan hukum terhadao pemberantasan tindak pidana terorisme dan

penyalahgunaan narkotika serta obat lainnya.


7. Penyelamatan barang bukti kinerja berupa dokumen atau arsip/lembaga Negara serta

badan pemerintahan untuk mendukung penegakan hukum dan HAM.

8. Peningkatan koordinasi dan kerja sama yang menjamin efektifitas penegakan hukum dan

HAM.

9. Pengembangan system manajemen kelembagaan hukum yang transparan.

10. Peninjauan serta penyempurnaan berbagai konsep dasar dalam rangka mewujudkan

proses hukum yang kebih sederhana, cepat, dan tepat serta dengan biaya yang terjangkau

oleh semua lapisan masyarakat.

2.4 Contoh-Contoh Kasus Pelanggaran HAM

1. Terjadinya penganiayaan pada praja STPDN oleh seniornya dengan dalih pembinaan

yang menyebabkan meninggalnya Klip Muntu pada tahun 2003.

2. Dosen yang malas masuk kelas atau malas memberikan penjelasan pada suatu mata

kuliah kepada mahasiswa merupakan pelanggaran HAM ringan kepada setiap mahasiswa.

3. Para pedagang yang berjualan di trotoar merupakan pelanggaran HAM terhadap para

pejalan kaki, sehingga menyebabkan para pejalan kaki berjalan di pinggir jalan sehingga

sangat rentan terjadi kecelakaan.

4. Orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anaknya masuk pada suatu jurusan

tertentu dalam kuliahnya merupakan pelanggaran HAM terhadap anak, sehingga seorang

anak tidak bisa memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.
5. Kasus Babe yang telah membunuh anak-anak yang berusia di atas 12 tahun, yang artinya

hak untuk hidup anak-anak tersebut pun hilang

6. Masyarakat kelas bawah mendapat perlakuan hukum kurang adil, bukti nya jika

masyarakat bawah membuat suatu kesalahan misalkan mencuri sendal proses hukum nya

sangat cepat, akan tetapi jika masyarakat kelas atas melakukan kesalahan misalkan

korupsi, proses hukum nya sangatlah lama

7. Kasus Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri mendapat penganiayaan

dari majikannya

8. Kasus pengguran anak yang banyak dilakukan oleh kalangan muda mudi yang kawin

diluar nikah

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan kiprahnya. Setiap individu

mempunyai keinginan agar HAM-nya terpenuhi, tapi satu hal yang perlu kita ingat bahwa Jangan

pernah melanggar atau menindas HAM orang lain.Dalam kehidupan bernegara HAM diatur dan

dilindungi oleh perundang-undangan RI, dimana setiap bentuk pelanggaran HAM baik yang

dilakukan oleh seseorang, kelompok atau suatu instansi atau bahkan suatu Negara akan diadili

dalam pelaksanaan peradilan HAM, pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui

hukum acara peradilan HAM sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang pengadilan HAM.
3.2 Saran-saran

Sebagai makhluk sosial kita harus mampu mempertahankan dan memperjuangkan HAM kita

sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa menghormati dan menjaga HAM orang lain jangan

sampai kita melakukan pelanggaran HAM. Dan jangan sampai pula HAM kita dilanggar dan

dinjak-injak oleh orang lain.Jadi dalam menjaga HAM kita harus mampu menyelaraskan dan

mengimbangi antara HAM kita dengan orang lain.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam

penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan

interaksinya antara individu atau dengan instansi. Hak juga merupakan sesuatu yang harus

diperoleh. Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas terutama

dalam era reformasi ini. HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam era reformasi

dari pada era sebelum reformasi. Perlu diingat bahwa dalam hal pemenuhan hak, kita hidup tidak

sendiri dan kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Jangan sampai kita melakukan

pelanggaran HAM terhadap orang lain dalam usaha perolehan atau pemenuhan HAM pada diri

kita sendiri. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk membuat makalah tentang HAM. Maka

dengan ini penulis mengambil judul Hak Asasi Manusia.


Secara teoritis Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri manusia yang

bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Allah yang harus dihormati, dijaga, dan

dilindungi. hakikat Hak Asasi Manusia sendiri adalah merupakan upaya menjaga keselamatan

eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara kepentingan perseorangan

dengan kepentingan umum. Begitu juga upaya menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi

Hak Asasi Manusia menjadi kewajiban dan tangung jawab bersama antara individu, pemeritah

(Aparatur Pemerintahan baik Sipil maupun Militer), dan negara.

Berdasarkan beberapa rumusan hak asasi manusia di atas, dapat ditarik kesimpulan

tentang beberapa sisi pokok hakikat hak asasi manusia, yaitu :

a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah bagian dari manusia

secara otomatis.

b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis,

pandangan politik atau asal usul sosial, dan bangsa.

c. HAM tidak bisa dilanggar, tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau

melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara

membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam makalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

Apa pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)


Penjelasan Hak Asasi Manusia (HAM) pada tataran Global

Permasalahan dan Penegakan HAM di Indonesia

Apa saja contoh-contoh pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)

BAB II

ISI

2.1 Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)

HAM adalah hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia,tanpa hak-hak itu manusia

tidak dapat hidup layak sebagai manusia.Menurut John Locke HAM adalah hak-hak yang

diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. Dalam pasal 1

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan bahwa Hak Asasi Manusia

adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk

Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan

dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta

perlindungan harkat dan martabat manusia.

Ruang lingkup HAM meliputi:

a. Hak pribadi: hak-hak persamaan hidup, kebebasan, keamanan, dan lain-lain;

b. Hak milik pribadi dan kelompok sosial tempat seseorang berada;

c. Kebebasan sipil dan politik untuk dapat ikut serta dalam pemerintahan; serta
d. Hak-hak berkenaan dengan masalah ekonomi dan sosial.

Hakikat Hak Asasi Manusia sendiri adalah merupakan upaya menjaga keselamatan eksistensi

manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan

kepentingan umum. Begitu juga upaya menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi Hak

Asasi Manusia menjadi kewajiban dan tangung jawab bersama antara individu, pemeritah

(Aparatur Pemerintahan baik Sipil maupun Militer),dan negara.

Berdasarkan beberapa rumusan hak asasi manusia di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang

beberapa sisi pokok hakikat hak asasi manusia, yaitu :

a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah bagian dari manusia

secara otomatis.

b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis,

pandangan politik atau asal usul sosial, dan bangsa.

c. HAM tidak bisa dilanggar, tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau

melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara

membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM.

2.2 Hak Asasi Manusia (HAM) pada tataran Global

Sebelum konsep HAM diritifikasi PBB, terdapat beberapa konsep utama mengenai HAM ,yaitu:

a. Ham menurut konsep Negara-negara Barat

1) Ingin meninggalkan konsep Negara yang mutlak.


2) Ingin mendirikan federasi rakyat yang bebas.

3) Filosofi dasar: hak asasi tertanam pada diri individu manusia.

4) Hak asasi lebih dulu ada daripada tatanan Negara.

b. HAM menurut konsep sosialis;

1) Hak asasi hilang dari individu dan terintegrasi dalam masyarakat

2) Hak asasi tidak ada sebelum Negara ada.

3) Negara berhak membatasi hak asasi manusia apabila situasi menghendaki.

c. HAM menurut konsep bangsa-bangsa Asia dan Afrika:

1.Tidak boleh bertentangan ajaran agama sesuai dengan kodratnya.

2.Masyarakat sebagai keluarga besar, artinya penghormatan utama terhadap kepala

keluarga

3.Individu tunduk kepada kepala adat yang menyangkut tugas dan kewajiban sebagai anggota

masyarakat.

d.HAM menurut konsep PBB;

Konsep HAM ini dibidani oleh sebuah komisi PBB yang dipimpin oleh Elenor Roosevelt dan

secara resmi disebut Universal Decralation of Human Rights.

Universal Decralation of Human Rights menyatakan bahwa setiap orang mempunyai:


Hak untuk hidup

Kemerdekaan dan keamanan badan

Hak untuk diakui kepribadiannya menurut hukum

Hak untuk mendapat jaminan hukum dalam perkara pidana

Hak untuk masuk dan keluar wilayah suatu Negara

Hak untuk mendapat hak milik atas benda

Hak untuk bebas mengutarakan pikiran dan perasaan

Hak untuk bebas memeluk agama

Hak untuk mendapat pekerjaan

Hak untuk berdagang

Hak untuk mendapatkan pendidikan

Hak untuk turut serta dalam gerakan kebudayaan masyarakat

Hak untuk menikmati kesenian dan turut serta dalam kemajuan keilmuan.

2.3 Permasalahan dan Penegakan HAM di Indonesia

Sejalan dengan amanat Konstitusi, Indonesia berpandangan bahwa pemajuan dan

perlindungan HAM harus didasarkan pada prinsip bahwa hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial
budaya, dan hak pembangunan merupakan satu kesatuanyang tidak dapat di pisahkan, baik

dalam penerapan, pemantauan, maupun dalam pelaksanaannya. Sesuai dengan pasal 1 (3), pasal

55, dan 56 Piagam PBB upaya pemajuan dan perlindungan HAM harus dilakukan melalui sutu

konsep kerja sama internasional yang berdasarkan pada prinsip saling menghormati,

kesederajatan, dan hubungan antar negaraserta hukum internasional yang berlaku.

Program penegakan hukum dan HAM meliputi pemberantasan korupsi, antitrorisme, serta

pembasmian penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya. Oleh sebab itu, penegakan hukum

dan HAM harus dilakukan secara tegas, tidak diskriminatif dan konsisten.

Kegiatan-kegiatan pokok penegakan hukum dan HAM meliputi hal-hal berikut:

1. Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM) dari 2004-2009

sebagai gerakan nasional

2. Peningkatan efektifitas dan penguatan lembaga / institusi hukum ataupun lembaga yang

fungsi dan tugasnya menegakkan hak asasi manusia

3. Peningkatan upaya penghormatan persamaan terhadap setiap warga Negara di depan

hukum melalui keteladanan kepala Negara beserta pimpinan lainnya untuk memetuhi/

menaati hukum dan hak asasi manusia secara konsisten serta konsekuen

4. Peningkatan berbagai kegiatan operasional penegakan hukum dan hak asasi manusia

dalam rangka menyelenggarakan ketertiban sosial agar dinamika masyarakat dapat

berjalan sewajarnya.
5. Penguatan upaya-upaya pemberantasan korupsi melalui pelaksanaan Rencana, Aksi

Nasional Pemberantasan Korupsi.

6. Peningkatan penegakan hukum terhadao pemberantasan tindak pidana terorisme dan

penyalahgunaan narkotika serta obat lainnya.

7. Penyelamatan barang bukti kinerja berupa dokumen atau arsip/lembaga Negara serta

badan pemerintahan untuk mendukung penegakan hukum dan HAM.

8. Peningkatan koordinasi dan kerja sama yang menjamin efektifitas penegakan hukum dan

HAM.

9. Pengembangan system manajemen kelembagaan hukum yang transparan.

10. Peninjauan serta penyempurnaan berbagai konsep dasar dalam rangka mewujudkan

proses hukum yang kebih sederhana, cepat, dan tepat serta dengan biaya yang terjangkau

oleh semua lapisan masyarakat.

2.4 Contoh-Contoh Kasus Pelanggaran HAM

1. Terjadinya penganiayaan pada praja STPDN oleh seniornya dengan dalih pembinaan

yang menyebabkan meninggalnya Klip Muntu pada tahun 2003.

2. Dosen yang malas masuk kelas atau malas memberikan penjelasan pada suatu mata

kuliah kepada mahasiswa merupakan pelanggaran HAM ringan kepada setiap mahasiswa.
3. Para pedagang yang berjualan di trotoar merupakan pelanggaran HAM terhadap para

pejalan kaki, sehingga menyebabkan para pejalan kaki berjalan di pinggir jalan sehingga

sangat rentan terjadi kecelakaan.

4. Orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anaknya masuk pada suatu jurusan

tertentu dalam kuliahnya merupakan pelanggaran HAM terhadap anak, sehingga seorang

anak tidak bisa memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

5. Kasus Babe yang telah membunuh anak-anak yang berusia di atas 12 tahun, yang artinya

hak untuk hidup anak-anak tersebut pun hilang

6. Masyarakat kelas bawah mendapat perlakuan hukum kurang adil, bukti nya jika

masyarakat bawah membuat suatu kesalahan misalkan mencuri sendal proses hukum nya

sangat cepat, akan tetapi jika masyarakat kelas atas melakukan kesalahan misalkan

korupsi, proses hukum nya sangatlah lama

7. Kasus Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri mendapat penganiayaan

dari majikannya

8. Kasus pengguran anak yang banyak dilakukan oleh kalangan muda mudi yang kawin

diluar nikah

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan kiprahnya. Setiap individu

mempunyai keinginan agar HAM-nya terpenuhi, tapi satu hal yang perlu kita ingat bahwa Jangan

pernah melanggar atau menindas HAM orang lain.Dalam kehidupan bernegara HAM diatur dan

dilindungi oleh perundang-undangan RI, dimana setiap bentuk pelanggaran HAM baik yang

dilakukan oleh seseorang, kelompok atau suatu instansi atau bahkan suatu Negara akan diadili

dalam pelaksanaan peradilan HAM, pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui

hukum acara peradilan HAM sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang pengadilan HAM.

3.2 Saran-saran

Sebagai makhluk sosial kita harus mampu mempertahankan dan memperjuangkan HAM kita

sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa menghormati dan menjaga HAM orang lain jangan

sampai kita melakukan pelanggaran HAM. Dan jangan sampai pula HAM kita dilanggar dan

dinjak-injak oleh orang lain.Jadi dalam menjaga HAM kita harus mampu menyelaraskan dan

mengimbangi antara HAM kita dengan orang lain.

Blog Pengetahuan

Sabtu, 21 Januari 2012

MAKALAH Perlindungan Anak & Perempuan (kekrasan dalam rumah tangga)


MAKALAH
Perlindungan Anak & Perempuan

(kekrasan dalam rumah tangga)

HENDRIEANTO PRATAMA P

09400214

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MALANG
TAHUN 2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya sampaikan kehadirat Allah SWT bahwa saya telah
menyelesaikan artikel yang berjudul: Kekerasan pada istri dalam rumah tangga
Walaupun masih jauh dari kesempurnaan, namun saya bersyukur dapat selesai
tepat waktu dan untuk itu kami mengharapkan saran yang bersifat mem-bangun
untuk perbaikan artikel ini.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memahami tentang kekerasan dalam
rumah tangga. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai referensi yang
berpengetahuan tentang pemahaman tentand hukum perlindungan
anakdanperempuan
Adapun maksud dan tujuan menyusun makalah ini adalah untuk melengkapi dan
menyelesaikan tugas yang diberikan pada mata kuliah Hukum perlindungan anak
dan perempuan. Penulis berharap agar makalah yang kami susun dapat bermanfaat
bagi penulis dan para pembaca makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, sehingga saran dan kritik dari pembaca sangat penulis
harapkan.Dengan segala kerendahan hati kami berharap artikel ini berguna dan
bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................ i

Daftar Isi ................................................................. ii

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.....................................................................................

B. Tujuan Penulisan..................................................................................

II. PEMBAHASAN.....................................................................
A. Kekerasan Terhadap Perempuan..........................................................

B. Bentuk-bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan..................................

C. Faktor-faktor yang mendorong terjadi tindak kekerasan pada istri dalam

Rumah tangga..........................................................................................

D. Implikasi keperawatan yang dapat diberikan untuk menolong kaum

perempuan dari tindak kekerasan dalam rumah tangga.........................

III. KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................

Kesimpulan ....................................................................................................

Saran .............................................................................................................

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga merupakan masalah sosial
yang serius, akan tetapi kurang mendapat tanggapan dari masyarakat dan para
penegak hukum karena beberapa alasan, pertama: ketiadaan statistik kriminal yang
akurat, kedua: tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga memiliki ruang
lingkup sangat pribadi dan terjaga privacynya berkaitan dengan kesucian dan
keharmonisan rumah tangga , ketiga: tindak kekerasan pada istri dianggap wajar
karena hak suami sebagai pemimpin dan kepala keluarga, keempat: tindak
kekerasan pada istri dalam rumah tangga terjadi dalam lembaga legal yaitu
perkawinan.

Tindak kekerasan di dalam rumah tangga merupakan jenis kejahatan yang


kurang mendapatkan perhatian dan jangkauan hukum. Tindak kekerasan di dalam
rumah tangga pada umumnya melibatkan pelaku dan korban diantara anggota
keluarga di dalam rumah tangga, sedangkan bentuk tindak kekerasan bisa berupa
kekerasan fisik dan kekerasan verbal (ancaman kekerasan). Pelaku dan korban
tindak kekerasan didalam rumah tangga bisa menimpa siapa saja, tidak dibatasi
oleh strata, status sosial, tingkat pendidikan, dan suku bangsa.Perspektif gender
beranggapan tindak kekerasan terhadap istri dapat dipahami melalui konteks sosial.
Menurut Berger (1990), perilaku individu sesungguhnya merupakan produk sosial,
dengan demikian nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat turut membentuk
prilaku individu artinya apabila nilai yang dianut suatu masyarakat bersifat patriakal
yang muncul adalah superioritas laki-laki dihadapan perempuan, manifestasi nilai
tersebut dalam kehidupan keluarga adalah dominasi suami atas istri.Mave Cormack
dan Stathern menjelaskan terbentuknya dominasi laki-laki atas perempuan ditinjau
dari teori nature and culture. Dalam proses transformasi dari nature ke culture
sering terjadi penaklukan. Laki-laki sebagai culture mempunyai wewenang
menaklukan dan memaksakan kehendak kepada perempuan (nature). Secara
kultural laki-laki ditempatkan pada posisi lebih tinggi dari perempuan, karena itu
memiliki legitimasi untuk menaklukan dan memaksa perempuan. Dari dua teori ini
menunjukkan gambaran aspek sosiokultural telah membentuk social structure yang
kondusif bagi dominasi laki-laki atas perempuan, sehingga mempengaruhi prilaku
individu dalam kehidupan berkeluarga.

Sebagian besar perempuan sering bereaksi pasif dan apatis terhadap tindak
kekerasan yang dihadapi. Ini memantapkan kondisi tersembunyi terjadinya tindak
kekerasan pada istri yang diperbuat oleh suami. Kenyataan ini menyebabkan
minimnya respon masyarakat terhadap tindakan yang dilakukan suami dalam ikatan
pernikahan. Istri memendam sendiri persoalan tersebut, tidak tahu bagaimana
menyelesaikan dan semakin yakin pada anggapan yang keliru, suami dominan
terhadap istri. Rumah tangga, keluarga merupakan suatu institusi sosial paling kecil
dan bersifat otonom, sehingga menjadi wilayah domestik yang tertutup dari
jangkauan kekuasaan publikCampur tangan terhadap kepentingan masing-masing
rumah tangga merupakan perbuatan yang tidak pantas, sehingga timbul sikap
pembiaran (permissiveness) berlangsungnya kekerasan di dalam rumah tangga.
Menurut Murray A. Strause (1996), bahwa kekerasan dalam rumah tangga
merupakan moralitas pribadi dalam rangka mengatur dan menegakkan rumah
tangga sehingga terbebas dari jangkauan kekuasaan publik.
Di Indonesia data tentang kekerasan terhadap perempuan tidak dikumpulkan
secara sistematis pada tingkat nasional. Laporan dari institusi pusat krisis
perempuan, menunjukkan adanya peningkatan tindak kekerasan terhadap
perempuan,. Menurut Komisi Perempuan (2005) mengindikasikan 72% dari
perempuan melaporkan tindak kekerasan sudah menikah dan pelakunya selalu
suami mereka. Mitra Perempuan (2005) 80% dari perempuan yang melapor
pelakunya adalah para suami, mantan suami, pacar laki-laki, kerabat atau orang
tua, 4,5% dari perempuan yang melapor berusia dibawah 18 tahun. Pusat Krisis
Perempuan di Jakarta (2005); 9 dari 10 perempuan yang memanfaatkan pelayanan
mengalami lebih dari satu jenis kekerasan (fisik, fisiologi, seksual, kekerasan
ekonomi, dan pengabaian), hampir 17% kasus tersebut berpengaruh terhadap
kesehatan reproduksi perempuan.Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rifka Annisa
Womsis Crisis Centre (RAWCC, 1995) tentang kekerasan dalam rumah tangga
terhadap 262 responden (istri) menunjukan 48% perempuan (istri) mengalami
kekerasan verbal, dan 2% mengalami kekerasan fisik. Tingkat pendidikan dan
pekerjaan suami (pelaku) menyebar dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi
(S2); pekerjaan dari wiraswasta, PNS, BUMN, ABRI. Korban (istri) yang bekerja dan
tidak bekerja mengalami kekerasan termasuk penghasilan istri yang lebih besar dari
suami (RAWCC, 1995)Hasil penelitian kekerasan pada istri di Aceh yang dilakukan
oleh Flower (1998) mengidentifikasi dari 100 responden tersebut ada 76 orang
merespon dan hasilnya 37 orang mengatakan pernah mengalami tindak kekerasan
dalam rumah tangga, kekerasan berupa psikologis (32 orang), kekerasan seksual
(11 orang), kekerasan ekonomi (19 orang), kekerasan fisik (11 orang). Temuan lain
sebagian responden tidak hanya mengalami satu kekerasan saja. Dari 37
responden, 20 responden mengalami labih dari satu kekerasan, biasanya dimulai
dengan perbedaan pendapat antara istri (korban) dengan suami lalu muncul
pernyataan-pernyataan yang menyakitkan korban, bila situasi semakin panas maka
suami melakukan kekerasan fisik.

Dari penelitian ini terungkap bahwa sebagai suami yang melakukan tindak
kekerasan kepada istri meyakini kebenaran tindakannya itu, karena prilaku istri
dianggap tidak menurut kepada suami, melalaikan pekerjaan rumah tangga,
cemburu, pergi tanpa pamit. Hal ini diyakini oleh pihak istri, sehingga mereka
mengalami kekerasan dari suaminya dan cenderung diam tidak membantah.
Penelitian yang mengkaitkan tindak kekerasan pada istri yang berdampak
pada kesehatan reproduksi masih sedikit. Menurut Hasbianto (1996), dikatakan
secara psikologi tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga menyebabkan
gangguan emosi, kecemasan, depresi yang secara konsekuensi logis dapat
mempengaruhi kesehatan reproduksinya. Menurut model Dixon-Mudler (1993)
tentang kaitan antara kerangka seksualitas atau gender dengan kesehatan
reproduksi; pemaksaan hubungan seksual atau tindak kekerasan terhadap istri
mempengaruhi kesehatan seksual istri. Jadi tindak kekerasan dalam konteks
kesehatan reproduksi dapat dianggap tindakan yang mengancam kesehatan
seksual istri, karena hal tersebut menganggu psikologi istri baik pada saat
melakukan hubungan seksual maupun tidakdari latar belakang ini, penulis tertarik
untuk membahas lebih jauh mengenai tindakan kekerasan pada istri dalam rumah
tangga berdampak terhadap kesehatan reproduksi.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum: mampu memahami secara menyeluruh tentang tindak kekerasan


pada istri dalam rumah tangga dan dampaknya terhadap kesehatan reproduksi
perempuan serta implikasi keperawatan yang dapat diberikan.

2. Tujuan Khusus:

a. Dapat mengidentifikasi bentuk tindakan kekerasan dan kategori pada istri dalam
rumah tangga.

b. Dapat menjelaskan faktor-faktor yang mendorong terjadi tindak kekerasan dalam


rumah tangga.

c. Memperoleh persepsi istri terhadap tindakan kekerasan yang dialaminya.

d. Dapat menjelaskan dampak tindak kekerasan pada istri terhadap kesehatan repro-
duksinya.

e. Dapat mengetahui adanya issu tentang kekerasan dalam rumah tangga

f. Dapat mengimplikasikan peran perawat dalam melakukan pendampingan korban


tindak kekerasan dalam rumah tangga

II. PEMBAHASAN
A.Kekerasan Terhadap Perempuan

Dasar pertanyaan,jika ada soerang suami selingkuh lalu si istri tahu, apakah
termasuk kategori kekerasan terhadap perempuan? Dua dari tiga orang
perempuan menjawab pertanyaan tersebut adalah tidak termasuk kekerasan
terhadap perempuan, karena asumsi dan dua orang perempuan tersebut kekerasan
dua orang perempuan tersebut kekerasan terhadap perempuan adalah kekerasan
yang bersifat fisik. Apakah anda setuju dengan jawaban 2 orang perempuan
tersebut? Yang bagaimanakah kategori kekerasan terhadap perempuan?
Kekerasan terhadap perempuan (kekerasan fisik, psikologis, sesksual, sosial, dan
ekonomi) akan memberikan dampak psikologis ini tidak di tanggulangi dengan baik
akan merugikan berbagai pihak yaitu individunya sendiri, keluarga dan masyarakat.
berbagai kekerasan terhadap perempuan seingkali di sembunyikan dan di tutup-
tutupi karena berbagai alas an karena merasa aib atau mendapat tekanan atau
ancaman dari pihak pelaku. Kekerasan terhadap perempuan biasanya berkaitan
dengan masalah kesehatan dan hak asasi manusia.
Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan yang berkaitan atau
mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan, secara fisik,
seksual, psikologis, ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan dan perampasan
kebebasan baik yang terjadi di lingkungan masyarakat maupun di lingkungan
rumahtangga(DepkesRI,2006).Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap
perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau
penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan,
pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup
rumah tangga.

Adapun yang termasuk lingkup rumah tangga adalah :


Suami, Istri dan anak.
Orang orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan suami, istri dan anak,
kanrea hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan dan perwalian, yang
menetap dalam rumah tangga, dan atau.
Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga
tersebut.
BENTUK BENTUK KEKERASAN
1. Bentuk bentuk kekerasan terhadap perempuan di lingkungan masyarakat.
Perdagangan perempuan (Trafficking)
Pelecehan seksual di tempat kerja / umum.
Pelanggaran hak-hak repdoduksi.
Perkosaan, pencabulan.
Kebijakan / Perda yang diskriminatif / represif.
Aturan dan praktek yang merampas kemerdekaan perempuan di lingkungan
masyarakat.
2. Bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dilingkungan rumah tangga.
Kekerasan fisik, psikis dan seksual (KDRT)
Pelanggaran hak-hak reproduksi.
Penelantaran ekonomi kekeluarga (KDRT)
Inses (KDRT)
Kekerasan terhadap pekerja rumah tangga (KDRT)
Ingkar janji / kekerasan dalam pacaran.
Pemaksaan aborsi oleh pasangan.
Kejahatan perkawinan (Poligami tanpa izin) atau kekerasan dalam Rumah Tangga
(KDRT).

Jenis jenis Kekerasan


Kekerasan terhadap perempuan dapat terjadi dalam bentuk :
3. Tindak kekerasan fisik: yaitu tindakan yang bertujuan untuk melukai, menyiksa
atau menganiaya orang lain, dengan menggunakan anggota tubuh pelaku (tangan,
kaki) atau dengan alat-alat lain. Bentuk kekerasan fisik yang dialami perempuan,
antara lain: tamparan, pemukulan, penjambakan, mendorong secara kasar,
penginjakan, penendangan, pencekikan, pelemparan benda keras, penyiksaan
menggunakan benda tajam, seperti : pisau, gunting, setrika serta pembakaran.
Tindakan tersebut mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit dan luka berat bahkan
sampai meninggat dunia.
4. Tindak kekerasan psikologis: yaitu tindakan yang bertujuan merendahkan citra
seorang perempuan, baik metalui kata-kata maupun perbuatan (ucapan
menyakitkan, kata-kata kotor, bentakan, penghinaan, ancaman) yang menekan
emosi perempuan. Tindakan tersebut mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa
percaya diri, hilangnya kernampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan/atau
penderitAan psikis berat pada seseorang.
5. Tindak kekerasan seksual: yaitu kekerasan yang bernuansa seksual, termasuk
berbagai perilaku yang tak diinginkan dan mempunyai makna seksual yang disebut
pelecehan seksual, maupun berbagai bentuk pemaksaan hubungan seksuat yang
disebut sebagai perkosaan. Tindakan kekerasan ini bisa diklasifikasikan dalam
bentuk kekerasan fisik maupun psikotogis.

Tindak kekerasan seksual meliputi:


a) Pernaksaan hubungan seksual (perkosaan) yang dilakukan terhadap orang yang
menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut : Perkosaan ialah hubungan seksual
yang terjadi tanpa dikehendaki oleh korban. Seseorang laki-laki menaruh penis, jari
atau benda apapun kedalam vagina, anus, atau mulut atau tubuh perempuan tanpa
sekendak perempuan itu.
b) Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang anggota dalam lingkup
rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan / atau tujuan
tertentu.
c) Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi
seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diinginkan oleh orang yang
menjadi sasaran. Pelecehan seksual bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, seperti
di tempat kerja, dikampus/ sekolah, di pesta, tempat rapat, dan tempat urnum
lainnya. Pelaku pelecehan seksual bisa teman, pacar, atasan di tempat kerja.
6. Tindak kekerasan ekonomi: yaitu dalam bentuk penelantaran ekonomi dimana
tidak diberi nafkah secara rutin atau dalarn jumlah yang cukup, membatasi dan/
atau metarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah, sehingga
korban di bawah kendati orang tersebut.

Penyebab Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan


Ada beberapa penyebab terjadinya tindak kekerasan dipandang dari berbagai aspek
yaitu :
7. Terkait dengan struktur sosial-budaya/politik/ekonomi/ hukum/agama, yaitu pada
sistim masyarakat yang menganut patriarki, dimana garis ayah dianggap dominan,
laki-laki ditempatkan pada kedudukan yang tebih tinggi dari wanita, dianggap
sebagai pihak yang lebih berkuasa. Keadaan ini menyebabkan perempuan
mengalami berbagai bentuk diskriminasi, seperti: sering tidak diberi hak atas
warisan, dibatasi peluang bersekolah, direnggut hak untuk kerja di luar rumah,
dipaksa kawin muda, kelemahan aturan hukum yang ada yang seringkali merugikan
perempuan. Terkait dengan nilai budaya, yaitu keyakinan, stereotipe tentang posisi,
peran dan nilai laki-laki dan perempuan, seperti adanya perjodohan paksa,
poligami, perceraian sewenang-wenang.
8. Terkait dengan kondisi situasional yang memudahkan, seperti terisotasi, kondisi
konflik dan perang. Dalam situasi semacam ini sering terjadi perempuan sebagai
korban, misaInya dalam lokasi pengungsian rentan kekerasan seksual, perkosaan.
Dalam kondisi kemiskinan perempuan mudah terjebak pada pelacuran. Sebagai
imptikasi maraknya teknologi informasi, perempuan terjebak pada kasus pelecehan
seksual, pornografi dan perdagangan.

Komnas Perempuan (2001) menyatakan bahwa kekerasan terhadap


perempuan adalah segala tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan
yang berakibat atau kecenderungan untuk mengakibatkan kerugian dan
penderitaan fisik, seksual, maupun psikologis terhadap perempuan, baik perempuan
dewasa atau anak perempuan dan remaja. Termasuk didalamnya ancaman,
pemaksaan maupun secara sengaja meng-kungkung kebebasan perempuan.
Tindakan kekerasan fisik, seksual, dan psikologis dapat terjadi dalam lingkungan
keluarga atau masyarakat.

Kekerasan dalam rumah tangga menurut Undang-undang RI no. 23 tahun 2004


adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat
timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau
penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan,
pemaksaan, atau pe-rampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup
rumah tangga.Tindakan kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga merupakan
salah satu bentuk kekerasan yang seringkali terjadi pada perempuan dan terjadi di
balik pintu tertutup. Tindakan ini seringkali dikaitkan dengan penyiksaan baik fisik
maupun psikis yang dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan yang
dekatTindak kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga terjadi dikarenakan telah
diyakini bahwa masyarakat atau budaya yang mendominasi saat ini adalah
patriarkhi, dimana laki-laki adalah superior dan perempuan inferior sehingga laki-
laki dibenarkan untuk menguasai dan mengontrol perempuan. Hal ini menjadikan
perempuan tersubordinasi. Di samping itu, terdapat interpretasi yang keliru
terhadap stereotipi jender yang tersosialisasi amat lama dimana perempuan
dianggap lemah, sedangkan laki-laki, umumnya lebih kuat. Sesuai dengan yang
dinyatakan oleh Sciortino dan Smyth, 1997; Suara APIK,1997, bahwa menguasai
atau memukul istri sebenarnya merupakan manifestasi dari sifat superior laki-laki
terhadap perempuan.

Kecenderungan tindak kekerasan dalam rumah tangga terjadinya karena


faktor dukungan sosial dan kultur (budaya) dimana istri di persepsikan orang nomor
dua dan bisa diperlakukan dengan cara apa saja. Hal ini muncul karena transformasi
pengetahuan yang diperoleh dari masa lalu, istri harus nurut kata suami, bila istri
mendebat suami, dipukul. Kultur di masyarakat suami lebih dominan pada istri, ada
tindak kekerasan dalam rumah tangga dianggap masalah privasi, masyarakat tidak
boleh ikut campur (http://kompas.com).

Saat ini dengan berlakunya undang-undang anti kekerasan dalam rumah


tangga disetujui tahun 2004, maka tindak kekerasan dalam rumah tangga bukan
hanya urusan suami istri tetapi sudah menjadi urusan publik. Keluarga dan
masyarakat dapat ikut mencegah dan mengawasi bila terjadi kekerasan dalam
rumah tangga (http://kompas.com).

B. Bentuk KDRT terhadap perempuan

Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tindak kekerasan terhadap istri dalam
rumah tangga dibedakan kedalam 4 (empat) macam :

1. Kekerasan fisik

Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau
luka berat. Prilaku kekerasan yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah
menampar, memukul, meludahi, menarik rambut (menjambak), menendang,
menyudut dengan rokok, memukul/melukai dengan senjata, dan sebagainya.
Biasanya perlakuan ini akan nampak seperti bilur-bilur, muka lebam, gigi patah atau
bekas luka lainnya.
2. Kekerasan psikologis / emosional

Kekerasan psikologis atau emosional adalah perbuatan yang mengakibatkan


ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa
tidak berdaya dan / atau penderitaan psikis berat pada seseorang.

Perilaku kekerasan yang termasuk penganiayaan secara emosional adalah


penghinaan, komentar-komentar yang menyakitkan atau merendahkan harga diri,
mengisolir istri dari dunia luar, mengancam atau ,menakut-nakuti sebagai sarana
memaksakan kehendak.

3. Kekerasan seksual

Kekerasan jenis ini meliputi pengisolasian (menjauhkan) istri dari kebutuhan


batinnya, memaksa melakukan hubungan seksual, memaksa selera seksual sendiri,
tidak memperhatikan kepuasan pihak istri.

4. Kekerasan ekonomi

Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya,


padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau
perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada
orang tersebut. Contoh dari kekerasan jenis ini adalah tidak memberi nafkah istri,
bahkan menghabiskan uang istri

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadi tindak kekerasan dalam

Rumah tangga

Strauss A. Murray mengidentifikasi hal dominasi pria dalam konteks struktur masya-
rakat dan keluarga, yang memungkinkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga
(marital violence) sebagai berikut:

1. Pembelaan atas kekuasaan laki-laki

Laki-laki dianggap sebagai superioritas sumber daya dibandingkan dengan wanita,


sehingga mampu mengatur dan mengendalikan wanita.
2. Diskriminasi dan pembatasan dibidang ekonomi

Diskriminasi dan pembatasan kesempatan bagi wanita untuk bekerja


mengakibatkan wanita (istri) ketergantungan terhadap suami, dan ketika suami
kehilangan pekerjaan maka istri mengalami tindakan kekerasan.

3. Beban pengasuhan anak

Istri yang tidak bekerja, menjadikannya menanggung beban sebagai pengasuh


anak. Ketika terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap anak, maka suami akan
menyalah-kan istri sehingga tejadi kekerasan dalam rumah tangga.

4. Wanita sebagai anak-anak

konsep wanita sebagai hak milik bagi laki-laki menurut hukum, mengakibatkan kele-
luasaan laki-laki untuk mengatur dan mengendalikan segala hak dan kewajiban
wanita. Laki-laki merasa punya hak untuk melakukan kekerasan sebagai seorang
bapak melakukan kekerasan terhadap anaknya agar menjadi tertib.

5. Orientasi peradilan pidana pada laki-laki

Posisi wanita sebagai istri di dalam rumah tangga yang mengalami kekerasan oleh
suaminya, diterima sebagai pelanggaran hukum, sehingga penyelesaian kasusnya
sering ditunda atau ditutup. Alasan yang lazim dikemukakan oleh penegak hukum
yaitu adanya legitimasi hukum bagi suami melakukan kekerasan sepanjang
bertindak dalam konteks harmoni keluarga.

D.Implikasi keperawatan yang dapat diberikan untuk menolong kaum

perempuan dari tindak kekerasan dalam rumah tangga adalah :

1. Merekomendasikan tempat perlindungan seperti crisis center, shelter dan one


stop crisis center.

2. Memberikan pendampingan psikologis dan pelayanan pengobatan fisik korban.


Disini perawat dapat berperan dengan fokus meningkatkan harga diri korban,
memfasilitasi ekspresi perasaan korban, dan meningkatkan lingkungan sosial yang
memungkinkan. Perawat berperan penting dalam upaya membantu korban
kekerasan diantaranya melalui upaya pencegahan primer terdiri dari konseling
keluarga, modifikasi lingkungan sosial budaya dan pembinaan spiritual, upaya
pencegahan sekunder dengan penerapan asuhan keperawatan sesuai permasalah-
an yang dihadapi klien, dan pencegaha tertier melalui pelatihan/pendidikan, pem-
bentukan dan proses kelompok serta pelayanan rehabilitasi.

3. Memberikan pendampingan hukum dalam acara peradilan.

4. Melatih kader-kader (LSM) untuk mampu menjadi pendampingan korban


kekerasan.

5. Mengadakan pelatihan mengenai perlindungan pada korban tindak kekerasan


dalam rumah tangga sebagai bekal perawat untuk mendampingi korban.

III. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Tindak kekerasan dalam rumah tangga merupakan jenis kejahatan yang


kurang mendapat perhatian dan jangkauan hukum pidana. Bentuk kekerasannya
dapat berupa kekerasan fisik, psikis, seksual, dan verbal serta penelantaran rumah
tangga.Faktor yang mendorong terjadinya tindak kekerasan pada istri dalam rumah
tangga yaitu pembelaan atas kekuasaan laki-laki, diskriminasi dan pembatasan
bidang ekonomi, beban pengasuhan anak, wanita sebagai anak-anak, dan orientasi
peradilan pidana pada laki-laki.Implikasi keperawatan yang harus dilakukan adalah
sesuai dengan peran perawat antara lain mesupport secara psikologis korban,
melakukan pendamping-an, melakukan perawatan fisik korban dan
merekomendasikan crisis women centre.

Fenomena KDRT mulai terungkap setelah undang-undang KDRT tahun 2004


diberlakukan, dimana KDRT yang sebelumnya masalah privacy manjadi masalah
publik ditandai laporan kasus KDRT semakin meningkat setiap tahunnya dan pelaku
mendapat hukuman pidana walaupun saat ini kultur Indonesia masih dominasi laki-
laki.
B. SARAN

Dengan disahkan undang-undang KDRT, pemerintah dan masyarakat lebih


berupaya menyadarkan dan membuka mata serta hati untuk tidak berdiam diri bila
ada kasus KDRT lebih ditingkatkan pengawasannya.

Meningkatkan peran perawat untuk ikut serta menangani kasus KDRT dan menekan
dampak yang terjadi pada kesehatan repsoduksinya dengan memfasilitasi setiap
Rumah Sakit memiliki ruang perlindungan korban KDRT, mendampingi dan
memulihkan kondisi psikisnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abrar Ana Nadhya, Tamtari Wini (Ed) (2001). Konstruksi Seksualitas Antara Hak

dan Kekuasaan. Yogyakarta: UGM.

Dep. Kes. RI. (2003). Profil Kesehatan Reproduksi Indonesia 2003. Jakarta: Dep.

Kes. RI

__________. (2006). Sekilas Tentang Undang-undang Penghapusan Kekerasan

Dalam Rumah Tangga. Diambil pada tanggal 26 Oktober 2006 dari

http://www.depkes.co.id.

Hasbianto, Elli N. (1996). Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Potret Muram Kehidupan

Perempuan Dalam Perkawinan, Makalah Disajikan pada Seminar Nasional

Perlindungan Perempuan dari pelecehan dan Kekerasan seksual. UGM

Yogyakarta, 6 November.

Komnas Perempuan (2002). Peta Kekerasan Pengalaman Perempuan Indonesia.

Jakarta: Ameepro.

Kompas. (2006). Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dipengaruhi Faktor Idiologi.

Diambil pada tanggal 26 oktober 2006 dari http://kompas.com.


Kompas. (2007). Kekerasan Rumah Tangga Bukan Lagi Urusan Suami Istri. Diambil

pada tanggal 25 Maret 2007 dari http://kompas.com.

Monemi Kajsa Asling et.al. (2003). Violence Againts Women Increases The Risk Of

Infant and Child Mortality: a case-referent Study in Niceragua. The

International Journal of Public Health, 81, (1), 10-18.

Rahman, Anita. (2006). Pemberdayaan PerempuanDikaitkan Dengan 12 Area of

Concerns (Issue Beijing, 1995). Tidak diterbitkan, Universitas Indonesia,

Jakarta, Indonesia.

Sciortino, Rosalia dan Ine Smyth. (1997). Harmoni: Pengingkaran Kekerasan

Domestik di Jawa. Jurnal Perempuan, Edisi: 3, Mei-Juni.

WHO. (2006). Menggunakan Hak Asasi Manusia Untuk Kesehatan Maternal dan

Neunatal: Alat untuk Memantapkan Hukum, Kebijakan, dan Standar

Pelayanan. Jakarta: Dep. Kes. RI.

____ . (2007). Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga Bagi Wanita. Diambil pada

tanggal 25 Maret 2007 dari www.depkes.go.id.