You are on page 1of 25

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Dosen : Restu Pangestuti Program Studi : D IV Bidan Pendidik


NIM : R 1116065 Fakultas : Kedokteran

Nama AKBID : AKBID Mambaul Ulum Surakarta


Mata Kuliah : Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana
Semester : IV
Kode Mata Kuliah : Bd.5.205
Beban Studi : 5 SKS ( T=3; P=2)
Pokok Bahasan : Masalah kesehatan reproduksi
Sasaran : Mahasiswa D-III Kebidanan
Alokasi Waktu: 100 menit
Standar Kompetensi : Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada wanita
dengan permasalahan kesehatan reproduksi yang didasari sikap,
konsep dan keterampilan.
Kompetensi Dasar : Mahasiswa mampu memahami tentang permasalahan gangguan
kesehatan reproduksi
Indikator : a. Mahasiswa mampu menerangkan pengertian gangguan siklus
haid
b. Mahasiswa mampu menyebutkan jenis-jenis gangguan siklus
haid
c. Mahasiswa mampu memahami tanda gejala pada gangguan
siklus haid
d. Mahasiswa memahami tentang Menopause
e. Mahasiswa mampu mengetahui pengertian dan manfaat
pemeberian HRT
f. Mahasiswa mampu menyebutkan indikasi dan kontra indikasi
HRT
g. Mahasiswa mampu mengetahui cara pemberian HRT

A. Tujuan Pembelajaran
1. Mahasiswa mampu memahami pengertian gangguan siklus haid
2. Mahasiswa mengetahui berbagai jenis gangguan siklus haid
3. Mahasiswa mampu memahami tanda gejala pada gangguan siklus haid
4. Mahasiswa mengetahui tentang Menopause
5. Mahasiswa mengetahui pengertian dan manfaat pemberian HRT
6. Mahasiswa mengetahui indikasi dan kontra indikasi pemberian HRT
7. Mahasiswa mampu mengetahui metode pemberian HRT

B. Materi Pembelajaran
1. Pengertian gangguan siklus haid dan HRT
2. Jenis gangguan siklus hai
3. Tanda gejala pada gangguan siklus haid
4. Pengertian, tanda gejala, dan langkah penanganan menopause
5. Pengertian dan manfaat pemberian HRT
6. Indikasi dan kontra indikasi pemberian HRT
7. Metode pemberian HRT

C. Metode Pembelajaran
Ceramah, tanya jawab dan diskusi

D. Alat dan Media Pembelajaran


1. LCD
2. Sound
3. Laptop
4. Power Point
E. Tabel Kegiatan Pembelajaran
Alokasi
No Tahap Kegiatan Pembelajaran Metode Media Sumber Belajar
Waktu
1 Awal 1. Memberi salam dan LCD, 10 menit
menginformasikan bahasan yang Ceramah Laptop,
akan diajarkan sound,
2. Menjelaskan tujuan powerpoint
pembelajaran
3. Melakukan apersepsi
2 Inti 1. Menjelaskan pengertian Tanya jawab & LCD, 60 menit 1. Varney H, dkk. (2007).
gangguan siklus haid dan HRT Ceramah Laptop, Buku Ajar Asuhan
2. Menjelaskan jenis-jenis sound, Kebidanan. Jakarta:
gangguan siklus haid EGC
powerpoint
3. Menjelaskan tanda gejala 2. Permadi W (2013).
Terapi Hormon pada
gangguan siklus haid
Menopause. Jurnal
4. Menjelaskan pengertian, gejala,
UNPAD : makalah
dan penanganan menopause seminar nasional, pp: 1-
5. Menjelaskan manfaat pemberian 15.
HRT 3. Manuaba IB, dkk.
6. Menjelaskan indikasi dan kontra (2009). Memahami
indikasi pemberian HRT Diskusi 20 enit
Kesehatan Reproduksi
7. Menjelaskan metode pemberian Wanita. Jakarta : EGC
HRT 4. Sinclair C (2010). Buku
8. Memberikan soal kasus Saku Kebidanan.
Jakarta : EGC
5. Marmi (2014).
Kesehatan Reproduksi.
Yogyakarta: Pustaka
Belajar.
6. Prawirohardjo S (2011).
Ilmu Kandungan.
Jakarta: PT Bina
Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
7. Prawirohardjo S (2003).
Menopause dan
Andropause. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.

3 Akhir 1. Memberikan kesempatan Ceramah LCD, 10 menit


mahasiswa untuk menanyakan Laptop,
hal yang belum jelas sound,
2. Melakukan evaluasi dengan powerpoint
metode tanya jawab tentang Tanya jawab
materi yang diberikan
3. Menyimpulkan bersama Ceramah
tentang materi yang diberikan
4. Menutup pelajaran dengan
salam
F. Evaluasi
Setelah mengikuti pembelajaran mahasiswa dapat menjawab pertanyaan,
meliputi :
1. Menerangkan pengertian gangguan silus haid dan HRT
2. Menyebutkan dan menjelaskan 3 jenis gangguan siklus haid
3. Menyebutkan indikasi dan kontra indikasi penggunaan HRT
4. Menjawab soal pilihan ganda berupa soal kasus

G. Referensi
1. Varney H, dkk. (2007). Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC
2. Permadi W (2013). Terapi Hormon pada Menopause. Jurnal UNPAD :
makalah seminar nasional, pp: 1-15.
3. Manuaba IB, dkk. (2009). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.
Jakarta : EGC
4. Sinclair C (2010). Buku Saku Kebidanan. Jakarta : EGC
5. Marmi (2014). Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
6. Prawirohardjo S (2011). Ilmu Kandungan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
7. Prawirohardjo S (2003). Menopause dan Andropause. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
MATERI

A. Pendahuluan
Alat kandungan pada saat lahir belum berkembang. Setelah
pancaindera menerima rangsangan yang diteruskan ke pusat dan diolah
hipotalamus, melalui system portal mengeluarkan hormone gonadotropik
perangsang folikel dan luteinizing hormone yang merangsang indung telur.
Hormone perangsang folikel (FSH), merangsang folikel primodial yang dalam
mperjalanannya mengeluarkan hormone estrogen untuk pertumbuhan tanda
seks sekunder (pertumbuhan rambut, pembesaran payudara, penimbunan
jaringan lemak, sesuai dengan pola wanita yaitu di bokong dan di payudara).
Pada permulaan hanya hormone estrogen saja yang dominan dan
perdarahan (menstruasi) yang terjadi untuk pertama kali (menarche) muncul
pada umur 12-13 tahun. Dominannya estrogen pada permulaan menstruasi
sangat penting karena menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan
perkembangan tanda seks sekunder. Itu sebabnya pada permulaan perdarahan
sering tidak teratur karena bentuk menstruasinya anovulatoir (tanpa pelepasan
telur). Baru setelah umur wanita mencapai remaja sekitar 17-18 tahun,
menstruasi teratur dengan interval 26-32 hari.
Pada proses menstruasi dengan ovulasi (terjadi pelepasan telur),
hormone estrogen yang dikeluarkan makin meningkat yang menyebabkan
lapisan dalam Rahim mengalami pertumbuhan dan perkembangan (fase
poliferasi). Peningkatan estrogen ini menekan pengeluaran hormone
perangsang foliel (FSH), tetapi merangsang hormon luteinizing (LH) sehingga
dapat merangsang foliel Graf yang telah dewasa, untuk melepaskan telur yang
disebut sebagai proses ovulasi. Telur ini akan ditangkap oleh rubai pada tuba
fallopii, dan dibungkus oleh korona radiata yang akan memebri nutrisi selama
48 jam. Folikel Graf yang mengalami ovulasi menjadi korpus rubrum dan
segera menjadi korpus luteum dan mengeluarkan dua macam hormon indung
telur yaitu estrogen dan progesterone.
Hormon estrogen yang menyebabkan lapisan dalam rahim
(endometrium) berkembang dan tumbuh dalam bentuk poliferasi, setelah
dirangsang oleh korpus luteum mengeluarkan estrogen dan progesteron
lapisan dalam rahim berubah menjadi fase sekresi, sehingga pembuluh darah
makin dominan dan mengeluarkan cairan (fase sekresi). Bila tidak terjadi
pertemuan antara spermatozoa dan ovum (telur), korpus luteum mengalami
kematian. Korpus luteum berumur 8 hari, sehingga setelah kematiannya tidak
mampu lagi mempertahankan lapisan dalam rahim, oleh karena hormon
estrogen dan progesteron berkurang sampai menghilang. Berkurang dan
menghilangnya estrogen dan progesteron, menyebabkan terjadi fase
vasokonstriksi (pengerutan) pembuluh darah, sehingga lapisan dalam rahim
mengalami kekurangan aliran darah (kematian). Selanjutnya diikuti dengan
vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) dan pelepasan darah dalam bentuk
perdarahan yang disebut menstruasi (Manuaba, 2009).

Gambar : Siklus Menstruasi


B. Pengertian
Gangguan menstruasi adalah masalah yang umum terjadi pada masa
remaja. Gangguan ini dapat menyebabkan rasa cemas yang signifikan pada
pasien maupun keluarganya. Faktor fisik dan psikologis berperan pada
masalah ini (Manuaba, 2009).
HRT (Hormone Replacement Theraphy) disebut juga terapi
sulih/mengganti hormon. Terapi ini biasanya diberikan kepada wanita yang
sudah menopause sebagai pengganti dari estrogen yang menurun drastis
akibat menopause tersebut. Terapi sulih hormon ini penting bagi kehidupan
wanita, karena pascamenopause, sebagian besar wanita tidak merasa percaya
diri lagi lantaran tidak bisa "melayani" lagi suaminya dengan baik. Selain itu,
keluhan akibat menopause yang disebabkan drastisnya penurunan estrogen
dalam tubuh wanita amat banyak dan hal tersebut menimbulkan
ketidaknyamanan bagi wanita (Prawirohardjo, 2003).

C. Macam-macam gangguan haid atau menstruasi


Menstruasi pada awalnya terjadi secara tidak teratur sampai mencapai
umur 18 tahun setelah itu harus sudah teratur. Menstruasi dianggap normal jika
terjadi dengan interval 22-35 hari (dari hari pertama menstruasi sampai pada
permulaan periode menstruasi berikutnya) dan pengeluaran darah menstruasi
berlangsung 1-8 hari. Jumlah rata-rata hilangnya darah selama menstruasi adalah
50 ml (rentang 20-80 ml), atau 2-5 kali pergantian pembalut/hari. (Manuaba,
2009)
Gangguan menstruasi paling umum terjadi pada awal dan akhir masa
reproduktif, yaitu di bawah usia 19 tahun dan di atas 39 tahun. Gangguan ini
mungkin berkaitan dengan lamanya siklus haid, atau jumlah dan lamanya
menstruasi. Seorang wanita dapat mengalami kedua gangguan itu (Prawirohardjo,
2011).
Klasifikasi gangguan menstruasi menurut Prawirohardjo (2011) adalah sebagai
berikut :
1) Gangguan lama dan jumlah darah haid :
a. Hipermenorea atau menoragia
Hipermenorea adalah pendarahan haid yang lebih banyak dari normal
(lebih dari 8 hari). Terjadinya pada masa haid yang mana haid itu sendiri
teratur atau tidak. Pendarahan semacam ini sering terjadi dan haidnya
biasanya anovoasi penyebab terjadinya menoragia kemungkinan terdapat
mioma uteri, polip endometrium atau hyperplasia endometrium
(penebalan dinding rahim, dan biasanya terjadi pada ketegangan psikologi
(chalik, 1998).
b. Hipomenorea
Hipomenorea adalah pendarahan haid yan lebih pendek dari biasa
dan/atau lebih kurang dari biasa penyebabnya kemungkinan gangguan
hormonal, kondisi wanita dengan penyakit tertentu

2) Gangguan siklus haid :


a. Polimenorea
Yaitu siklus haid pendek dari biasanya (kurang dari 21 hari pendarahan).
Polimenorea dapat disebabkan oleh gangguan hormonal yang
mengakibatkan gangguan ovulasi, akan menjadi pendeknya masa luteal.
Penyebabnya ialah kongesti ovarium karena peradangan, endometritis,
dan sebagainya.
b. Oligomenorea
Yaitu siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari. Perdarahan pada
oligomenorea biasanya berkurang. Penyebabnya adalah gangguan
hormonal, ansietas dan stress, penyakit kronis, obat-obatan tertentu,
bahaya di tempat kerja dan lingkungan, status penyakit nutrisi yang
buruk, olah raga yang berat, penurunan berat badan yang signifikan
c. Amenorea
Merupakan perubahan umum yang terjadi pada beberapa titik dalam
sebagian besar siklus menstruasi wanita dewasa. Sepanjang kehidupan
individu, tidak adanya menstruasi dapat berkaitan dengan kejadian hidup
yang normal seperti kehamilan, menopause, atau penggunaan metode
pengendalian kehamilan. Selain itu, terdapat beberapa keadaan atau
kondisi yang berhubungan dengan amenorea yang abnormal.
Amenorea dibagi menjadi dua bagian besar :
1) Amenorea primer di mana seorang wanita tidak pernah
mendapatkan sampai umur 18 tahun. Terutama gangguan poros
hipotalamus, hipofisis, ovarium, dan tidak terbentuknya alat
genitalia.
2) Amenorea sekunder, pernah beberapa kali mendapat menstruasi
sampai umur 18 tahun dan diikuti oleh kegagalan menstruasi
dengan melewati waktu 3 bulan atau lebih. Penyebabnya sebagian
besar bersumber dari penyebab yang mungkin dapat ditegakkan
Sebab terjadinya amenorea:
a. Fisiologis :
sebelum menarche
hamil dan laktasi
menopause senium
b. Kelainan congenital, didapatkan :
infeksi genitalia
tindakan tertentu
kelainan hormonal

tumor pada poros hipotalamus-hipofisis atau ovarium


kelainan dan kekurangan gizi
(Manuaba, 2009).
3) Gangguan pendarahan di luar siklus haid :
a. Menometroragia
Perdarahan dari vagina pada seorang wanita tanpa ada hubungan dengan
suatu siklus haid. Perdarahan terjadi pada pertengahan siklus sebagai
suatu spotting dan dapat diyakini sebagai pengukran suhu basal tubuh.
b. Metroragia
Pada keadaan ini terdapat gangguan siklus menstruasi, perdarahan terjadi
dengan interval yang tidak teratur, dengan jumlah darah menstruasi
bervariasi, pola menstruasi ini disebut metrorargia. (Permadi, 2013)

4) Gangguan lain yang berhubungan dengan haid :


a. Dismenorea
Dismenorea adalah nyeri atau rasa sakit yang menyertai
menstruasi sehingga dapat menimbulkan gangguan pekerjaan sehari-hari.
Nyeri sering bersamaan dengan rasa mual, sakit kepala, perasaan mau
pingsan, lekas marah, dll. Keluhan ini biasanya baru timbul 2 atau 3 tahun
sesudah menarche. Umumnya hanya terjadi pada siklus haid yang disertai
pelepasan sel telur. Kadang-kadang juga pada siklus haid yang tidak
disertai pengeluaran sel telur (disebut siklus anovulatory), terutama bila
darah haid membeku di dalam rahim. Jadi rasa sakit terjadi ketika beku-
bekuan itu didorong keluar rahim. Rasa sakit yang menyerupai kejang ini
terasa di perut bagian bawah. Biasanya dimulai 24 jam sebelum haid
datang dan berlangsung sampai 12 jam pertama dari masa haid. Sesuatu
itu semua rasa tidak enak tadi hilang. Derajat rasa nyerinya bervariasi
mencakup ringan (berlangsung beberapa saat dan masih dapat
meneruskan aktivias sehari-hari), sedang (karena sakitnya diperlukan obat
untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi masih dapat meneruskan
pekerjaannya), berat (rasa nyerinya demikian beratnya sehingga
memerlukan isirahat dan pengobatan untuk menghilangkan nyerinya).
Sebab dismenorea dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu dismenorea
primer, semata-mata berkaitan dengan aspek hormonal yang
mengendalikan uterus dan tidak dijumpai kelainan anatomis, umumnya
dijumpai pada wanita dengan siklus haid berevolusi. Dismenorea
sekunder, rasa nyeri yang terjadi saat menstruasi berkaitan dengan
kelainan anatomis uterus seperti endometriosis dan infeksi kronik
genitalia interna (Manuaba, 2009).

b. Sindroma prahaid (PMS)

Merupakan keluhan-keluhan yang biasanya terjadi mulai satu


minggu sampai beberapa hari sebelum datangnya haid yang menghilang
sesudah haid datang walaupun kadang-kadang berlangsung terus sampai
haid berhenti. Penyebab terjadinya tidak jelas, tetapi mungkin faktor
penting ialah ketidakseimbangan estrogen dan progesteron dengan akibat
retensi cairan dan natrium, penambahan berat badan, dan kadang-kadang
edema. Dalam hubungan dengan kelainan hormonal, pada premenstrual
syndrom terdapat defisiensi luteal dan pengurangan produksi
progesterone.

Faktor kejiwaan, masalah dalam keluarga, masalah sosial juga


memegang peranan penting. Yang lebih mudah menderita keluhan-
keluhan ini adalah wanita yang lebih peka terhadap perubahan hormonal
dalam siklus haid dan terhadap faktor-faktor psikologis.

Keluhan terdiri dari gangguan emosional berupa emosional


berupa iritabilitas, gelisah, insomnia, nyeri kepala, perut kembung, mual,
pembesaran dan rasa nyeri pada mammae, dsb. Sedang pada kasus yang
berat terdapat depresi, rasa ketakutan, gangguan konsentrasi, dan
peningkatan gejala-gejala tersebut di atas (Manuaba, 2009).
D. Penyebab Terganggunya Siklus Haid

Banyak penyebab kenapa siklus haid menjadi panjang atau sebaliknya.


Penanganan kasus dengan siklus haid yang tidak normal, tidak
berdasarkan kepada panjang atau pendeknya sebuah siklus haid,
melainkan berdasarkan kelainan yang dijumpai :

1. Fungsi hormon terganggu

Haid terkait erat dengan sistem hormon yang diatur di otak, tepatnya di
kelenjar hipofisa. Sistem hormonal ini akan mengirim sinyal ke indung
telur untuk memproduksi sel telur. Bila sistem pengaturan ini terganggu,
otomatis siklus haid pun akan terganggu.

2. Kelainan Sistemik

Tubuhnya sangat gemuk atau kurus dapat mempengaruhi siklus haidnya


karena sistem metabolisme di dalam tubuhnya tak bekerja dengan baik,
atau wanita yang menderita penyakit diabetes, juga akan mempengaruhi
sistem metabolisme sehingga siklus haidnya pun tak teratur.

3. Stress

Stress akan mengganggu sistem metabolisme di dalam tubuh, karena


stress, wanita akan menjadi mudah lelah, berat badan turun drastis,
bahkan sakit-sakitan, sehingga metabolisme terganggu. Bila metabolisme
terganggu, siklus haid pun ikut terganggu.

4. Kelenjar Gondok

Terganggunya fungsi kelenjar gondok/tiroid juga bias menjadi penyebab


tidak teraturnya siklus haid. Gangguan bisa berupa produksi kelenjar
gondok yang terlalu tinggi (hipertiroid) maupun terlalu rendah
(hipertiroid), yang dapat mengakibatkan sistem hormonal tubuh ikut
terganggu.

5. Hormon prolakin berlebih

Hormon prolaktin dapat menyebabkan seorang wanita tidak haid, karena


memang hormon ini menekan tingkat kesuburan. Pada wanita yang tidak
sedang menyusui hormone prolaktin juga bisa tinggi, buasanya
disebabkan kelainan pada kelenjar hipofisis yang terletak di dalam kepala
(Prawirohardjo, 2011).

E. Menopause

Menopause adalah masa berakhirnya siklus menstruasi. Seiring dengan proses


penuaan, semua wanita akan mengalami proses ini. Fase alami tersebut
disebabkan oleh perubahan pada kadar hormon tubuh wanita. Menjelang akhir
usia 30 tahun, kinerja ovarium akan menurun dan pada akhirnya berhenti
memproduksi hormon reproduksi di kisaran usia 50 tahun (Prawirohardjo, 2003).

Usia dan Penyebab Menopause

Sebenarnya usia terjadinya menopause pada tiap wanita berbeda-beda,


tapi umumnya terjadi pada sekitar usia 50 tahun. Meski demikian, ada juga
sebagian wanita yang mengalaminya sebelum usia 40 tahun. Inilah yang
disebut menopause dini atau prematur.

Menopause prematur terjadi akibat ovarium berhenti menghasilkan


hormon-hormon reproduksi dalam jumlah normal. Penyebab masalah ini
belum diketahui secara pasti, tapi kelainan genetika atau penyakit autoimun
diduga berpotensi menjadi pemicunya.
Di samping fase alami, menopause juga dapat dipicu oleh sejumlah faktor. Di
antaranya adalah:

Prosedur medis, misalnya operasi pengangkatan rahim atau ovarium.


Metode pengobatan kanker, seperti kemoterapi dan radioterapi. Kedua metode
ini dapat memicu menopause dini. Namun siklus menstruasi terkadang dapat
kembali terjadi setelah proses kemoterapi dan radioterapi berakhir.

Kondisi kesehatan tertentu, contohnya sindrom Down atau penyakit Addison.


(Marmi, 2014)
Gejala-gejala Menopause
Tidak semua wanita memiliki proses menopause yang sama. Proses ini umumnya
ditandai dengan menstruasi yang berakhir secara bertahap. Frekuensi dan interval
menstruasi akan semakin jarang sebelum akhirnya berhenti sama sekali.

Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa ada sebagian wanita yang mengalami
menopause dengan siklus menstruasi yang berakhir secara tiba-tiba. Jika ini terjadi,
gejala-gejala yang dialami biasanya akan lebih parah.

Menjelang menopause, terdapat beberapa indikasi emosional serta fisik yang dapat
dirasakan oleh seorang wanita. Gejala-gejala tersebut biasanya meliputi:

Perubahan pada siklus menstruasi, misalnya frekuensi menstruasi yang tidak


teratur, volume pendarahan yang sedikit atau berlebih.
Sensasi rasa panas, berkeringat, dan jantung berdebar (hot flushes).

Kekeringan pada vagina yang dapat menyebabkan rasa gatal atau sakit saat
berhubungan seks.

Penurunan gairah seks.

Berkeringat pada malam hari.


Gangguan tidur, seperti sering terbangun tiba-tiba dan insomnia.

Sulit konsentrasi.

Emosi yang tidak stabil, misalnya uring-uringan, sedih, atau depresi.

Kenaikan berat badan dan metabolisme yang lambat.

Sakit kepala.

Rambut yang menipis dan kulit kering.

Lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih.

Hubungi dokter jika mengalami gejala menopause yang parah, misalnya terjadi
infeksi atau muncul rasa nyeri akibat vagina yang kering, maupun apabila terjadi
pendarahan setelah melewati masa menopause. Pemeriksaan rutin untuk mencegah
penyakit-penyakit tertentu juga sebaiknya dilakukan, misalnya dengan mammografi,
kolonoskopi, serta pemeriksaan kondisi payudara dan panggul (Marmi, 2014).

Langkah Penanganan Sederhana Untuk Menopause

Menopause umumnya tidak membutuhkan penanganan khusus. Gejala-gejalanya juga


tidak bersifat permanen dan akan berkurang seiring waktu.

Sebagian besar wanita dapat melakukan perubahan dalam gaya hidup mereka untuk
mengurangi gejala-gejala tersebut. Beberapa langkah sederhana berikut mungkin
dapat membantu.

1. Mengatasi sensasi rasa panas, berkeringat, dan jantung berdebar (hot flushes).
Gejala ini dapat ditangani dengan mengenakan pakaian tipis berbahan katun,
serta menghindari faktor pemicu berupa kafein, minuman panas, makanan
pedas, minuman keras, serta stres. Langkah ini juga berguna untuk menangani
gejala berkeringat pada malam hari.
2. Menerapkan pola makan yang seimbang (perbanyak serat dengan
mengonsumsi buah serta sayur) dan teratur berolahraga. Selain mencegah
kenaikan berat badan yang cenderung mengiringi masa menopause, langkah
ini juga berguna untuk menguatkan tulang agar tidak mudah keropos.

3. Cukup beristirahat. Pastikan untuk tidur yang cukup.

4. Melakukan senam Kegel untuk menguatkan otot dasar panggul sehingga


mengurangi inkontinensia urine atau sulit menahan urine.

5. Menerapkan teknik relaksasi. Misalnya meditasi, mengatur pernapasan, yoga,


serta taichi. Teknik ini dapat membantu untuk mengurangi tingkat stres atau
depresi.

6. Jangan merokok. Selain meningkatkan risiko dari berbagai penyakit, merokok


juga dapat memperparah gejala menopause dan memicu menopause dini
(Marmi, 2014).

Langkah Penanganan Medis Untuk Menopause

Tidak semua wanita berhasil mengatasi gejala-gejala menopause dengan langkah-


langkah sederhana. Apabila mengalami gejala menopause yang parah hingga
mengganggu rutinitas, dokter biasanya akan menganjurkan penggunaan obat-obatan
untuk menguranginya. Jenis penanganan medis akan ditentukan berdasarkan pada
gejala-gejala yang dialami serta riwayat kesehatan.

Terapi penggantian hormon atau HRT merupakan langkah penanganan menopause


yang paling sering digunakan karena tingkat keefektifannya yang tinggi. Obat-obatan
dalam terapi ini tersedia dalam bentuk tablet, krim, gel, koyo, dan implan. Di
samping mengurangi gejala menopause, terapi penggantian hormon jangka panjang
juga dapat mengurangi risiko osteoporosis.

Sesuai namanya, kinerja terapi ini adalah dengan menggantikan hormon-hormon


reproduksi alami yang menurun seiring proses menopause. Terapi penggantian
hormon terbagi dalam dua kategori, yaitu terapi penggantian hormon estrogen dan
kombinasi.

Terapi penggantian hormon estrogen hanya dianjurkan bagi wanita yang telah
menjalani operasi pengangkatan ovarium dan rahim karena estrogen dapat
meningkatkan risiko kanker rahim. Sedangkan terapi penggantian hormon kombinasi
(estrogen dan progesteron) diberikan bagi wanita yang masih memiliki rahim.

Penggunaan obat-obatan dalam terapi ini dapat dihentikan secara bertahap setelah
gejala-gejala menopause berakhir. Pada umumnya, durasi gejala menopause yang
dialami oleh seorang wanita adalah sekitar 4 tahun setelah menstruasi terakhir
(Permadi, 2013).

F. Pemberian HRT (Hormone Replacement Theraphy)

Terapi Sulih Hormon (TSH) atau saat ini disebut terapi hormone
merupakan terapi hormon estrogen untuk mengurangi gejala menopause, pada
wanita yang masih memiliki uterus maka terapi dikombinasi dengan
pemberian estrogen untuk melindungi lapisan endometrium. Estrogen yang
diberikan dapat secara oral, intravagina atau transdermal.sedangkan
progesteron cara pemberiannya dapat secara oral, transdermal maupun
diberikan bersama alat intrauterine (Mirena, Bayer Schering). Pada terapi
hormon, regimen estrogen diberikan setiap hari, dengan diselingi pemberian
progesteron ataupun juga diberikan setiap hari. Tibolone adalah obat steroid
sintetik dengan efek estrogenik, androgenik dan progesterogenik yang dapat
juga digunakan pada terapi hormone (Prawirohardjo, 2003).

G. Indikasi dan Kontra Indikasi


1) Indikasi
Terapi hormon diberikan untuk pasien dengan gejala pada saat
menopause, dengan Premature ovarian failure, menopause akibat
pembedahan atau pencegahan Osteoporosis. Indikasi utama dari terapi
hormon atau tibolone adalah jika didapatkan gejala gangguan vasomotor.
( muka kemerahan, keringat malam, baik dengan atau tanpa diserta
bangun pada malam hari). Gejala vasomotorik cukup sering terjadi pada
80% wanita pada masa transisi menopause dan 20 % diantaranya
menujukkan gejala yang berat. Durasi dari masa transisi ini bervatriasi
dengan rerata 4 tahun, namun banyak kasusn yang berlanjut hingga 12
tahun pada 10 % kasus.
2) Kontra Indikasi
Terapi hormon tidak diberikan apabila pasien memiliki riwayat atau factor
risiko kanker payudara, kanker endometrium, penyakit Thromboemboli
(DVT, PE), kelainan hiperkoagulasi , Liver disease atau bila ada
perdarahan pervaginam yang tidak jelas sebabnya (Manuaba, 2009).

H. Efektifitas Pemberian Terapi Hormon


Terapi hormon saat ini merupakan pengobatan paling efektif menangani
masalah vasomotorik. Penelitian secara sistematis menunjukkan pengurangan
secara signifikan frekuensi dari gejala vasomotor hingga 87 % dibandingkan
dengan plasebo. Uji acak yang besar dilakukan dan menunjukkan bahwa
terapi hormon menurunkan kemungkinan insidensi fraktur, mengurangi gejala
Vagina yang kering, dan memperbaiki juga fungsi seksual. Selain itu
didapatkan juga perbaikan kualitas tidur, mengurangi nyeri otot, dan
meningkatkan kualitas hidup pasien. Dari penelitian menunjukkan keunggulan
dari pemberian terapi hormon pada wanita pasca menopause usia 50-59 tahun
atau < 10 tahun setelah menopause setelah menopause, berdasarkan latar
belakang risiko pada wanita di Amerika, dengan menggunakan data dari hasil
Uji acak terbesar pada penelitian pemberian terapi hormon dibandingkan
dengan pemberian plasebo hingga saat ini ( penelitian Womens Initiative
Study). Terapi hormon (baik estrogen maupun gabungan) menunjukkan
manfaat yang sangat besar untuk pengobatan gejala vasomotor, vagina kering,
dan pengurangan risiko fraktur serta pencegahan diabetes. Kemanjuran relatif
Tibolone dibandingkan dengan konvensional terapi hormon tidak begitu jelas
terlihat. Dalam satu penelitian besar didapatkan bahwa Tibolone mengurangi
gejala muka kemerahan sama baiknya dengan dosis rendah (1 mg) estradiol
peroral pada wanita menopause berusia 45-65 tahun. Tibolone mengurangi
jumlah pendarahan pada tiga bulan pertama pengobatan, mengurangi nyeri
payudara dan juga dapat meningkatkan fungsi seksual (Manuaba, 2009).

I. Metode Pemberian HRT


1) Pemberian Oral
Potensi relatif estrogen yang tersedia secara komersial ini sangat penting
ketika meresepkan estrogen, dan dokter-dokter harus familiar dengan
potensi-potensi sebagai berikut:
Kelompok etinil estradiol 17-etinil (melalui penahanan metabolisme)
meningkatkan pengaruh hepatik, karena pemberian melalui jalur manapun
akan tetap mempengaruhi fungsi hati. Hal yang sama juga berlaku untuk
estrogen equin terkonjugasi. Berlawanan dengan kasus estradiol, hati
tampaknya lebih memilih mengekstrak etinil estradiol dan estrogen equinin
terkonjugasi walau dengan pemberian melalui cara apapun. Jadi, jalur
pemberian tampaknya mempengaruhi respon metabolik hanya dalam kasus
estrogen spesifik, terutama estradiol. Faktor utama dalam perbedaan potensi
antara berbagai estrogen (estradiol, estron, estriol) adalah lamanya waktu
pengikatan estrogen dengan reseptornya. Makin tingginya tingkat disosiasi
dengan estrogen lemah (estriol) dapat diatasi dengan pengunaan
berkelanjutan untuk memperpanjang waktu dan aktivitas pengikatan.
Estrogen teresterifikasi secara sintetis disiapkan dari prekursor tumbuhan
dan sebagian besar tersusun atas sodium estron sulfat dengan 6-15%
komponen sodium equilin sulfat. Valerat estradiol terhidrolisis dengan cepat
menjadi estradiol, karena itu, farmakologi dan pengaruhnya sebanding pada
dosis yang sama
2) Hal yang harus diperhatikan pada terapi hormone
a. Riwayat kanker payudara, terapi hormon dapat meningkatkan risiko
kekambuhan kanker payudara dan kanker payudara baru.terapi
hormon dapat meningkatkan risiko kanker payudara setelah
penggunaan terapi hormon empat sampai lima tahun.
b. Riwayat atau diketahui memiliki risiko tinggi dikenal vena atau arteri
penyakit tromboemboli, termasuk stroke dan penyakit
kardiovaskular.Tibolone meningkatkan risiko stroke pada wanita yang
lebih tua. Pemberian transdermal dengan minimal estrogen lebih
disarankan
c. Hipertensi yang tidak terkontrol.
d. Perdarahan abnormal vagina. terapi hormon tidak boleh diberikan kpd
wanita dengan perdarahan vagina abnormal.
e. Fungsi hati abnormal. hindari produk terapi hormon oral. karena terapi
hormone dimetabolisme di hati
f. Migrain. migrain diperburuk oleh terapi hormon, oleh karena itu
migrain bukanlah kontraindikasi, namun pemberian dosis rendah
dengan transdermal lebih dianjurkan.
g. Riwayat kanker endometrium atau kanker ovarium.
h. Memilik resiko tinggi penyakit kandung empedu. Risikonya mungkin
lebih rendah dengan terapi transdermal.

3) Skrining sebelum terapi hormone


a. Pertimbangkan pemberian terapi hormon pada wanita perimenopause
atau wanita postmenopause dengan faktor risiko rendah untuk
penyakit kardiovaskular atau tromboemboli.
b. Pertimbangkan sifat dan keparahan gejala menopause dan dampaknya
terhadap fungsi dan kualitas hidup,usia wanita dan status kesehatan,
serta keinginannya untuk pengobatan.
c. . Diskusikan mengenai faktor-faktor risiko penyakit kardiovaskular
yang dapat dirubah untuk, seperti alkohol, merokok, diabetes dan
hipertensi yang terkontrol. Evaluasi pemberian terapi hormon pada
wanita yang berisiko tinggi fraktur jika ada kontraindikasi. hitung
risiko patah tulang dengan menggunakan densitometri tulang. Evaluasi
apakah kecemasan dan / atau depresi yang menyebabkan gejala
somatic menopause, seperti palpitasi dan gangguan tidur. terapi
hormon dapat mengurangi palpitasi dan memperbaiki tidur dan dapat
memperbaik suasana hati tapi bukan merupakan pengobatan untuk
kecemasan atau depresi.
d. Perlu dibahasan risiko dan manfaat. Diskusikan manajemen lainnya
mungkin.
e. Skrining payudara dan skrining serviks.
4) Monitoring penggunaan terapi hormone
a. Pantau efektivitas dengan perbaikan gejala.
b. Mastalgia dan perdarahan yang tidak teratur dapat ditangani dengan
menurunkan dosis estrogen.
c. Jika gejala vasomotor menetap selidiki penyebab lain.
d. Evaluasi penggunaan terapi hormon setidaknya setiap tahun untuk
mengevaluasi indikasi, menilai risiko individu dan Jadwal untuk tes
skrining lainnya seperti mamografi dan pap smear tidak berubah (sama
dengan wanita tanpa terapi hormon)

5) Memulai terapi hormone


a. Preparat terapi hormon yang dapat dijumpai berbeda setiap Negara dan
daerah. Lihat formularium masing- masing daerah.
b. Gunakan terapi hormon dosis yang paling rendah yang paling efektif
untuk durasi yang paling minimal untuk menghindari gejala efek
samping, sebagaimana disarankan oleh protocol.
c. Wanita perimenopausal memerkulkan kontrasepsi. Pada mereka yang
tidak memiliki kontraindikasi, Pil Oral Kombinasi akan menterapi
gejala vasomotor dan mengurangi risiko fraktur.
d. Tidak didapatkan consensus yang jelas mengenai apakan terapi oral
atau transdermal yang dijadikan terapi lini pertama. Namun pemberian
secara transdermal lebih disukai pada pasien dengan risiko
tromboemboli kecuali jika obsorbsi secara oral dapat dibatasi.
e. Estrogen tunggal sebaiknya digunakan pada wanita yang telah
menjalani histerektomi. Komponen progesteron pada terapi hormon
dapat berupa progesteron atau progestogen, yang dapat mengikat pada
reseptor progesteron. Studi observasi mengusulkan bahwa preparat
terapi hormon yang mengandung progesteron mikronisasi atau
dihidrogesteron dihubungkan dengan menurunnya risiko kanker
payudara, penyakit kardiovaskuler, dan kejadian tromboemboli,
namun penelitian yang lebih mendalam belum dilakukan.
f. Pada wanita perimenopause disarankan pemberian terapi hormon
secara siklik atau (wanita usia <50th) dosis rendah kontrasepsi oral
untuk meminimalisir kemungkinan perdarahan ireguler. Pada wanita
pasca menopause dan ingin menghindari perdarahan, disarankan
penggunaan terapi hormon kombinasi secara kontinyu atau Tibolone.
g. Pastikan bahwa tenaga kesehatan melakukan diskusi dengan keinginan
dan harapan pasien. Beberapa wanita akan lebih senang jika
mendapatkan gejala samping yang lebih ringan akibat terapi hormon.
Sesuaikan dosis dan jenis terapi hormon dengan gejala dan
kemungkinan efek samping. Mulai dengan dosis rendah estrogen dan
pikirkan untuk kemudian meningkatkan dosis setelah 4-6 minggu jika
ganggun vasomotorik masih berlanjut.
6) Melanjutkan atau menghentikan terapi hormon
Buat keputusan berdasarkan atas gejala dan risiko serta manfaat didapat,
jangan membuat rentang waktu untuk pemberian terapi. Pada 50% kasus
terjadi rekurensi dari gejala jika terapi dihentikan. Tinjau kemungkinan
gangguan kualitas hidup jika gejala vasomotorik kembali terjadi. Efek
samping terapi hormon dapat dihubungkan dengan lama penggunaan
terapi. Sebagai contoh, risiko tromboemboli vena meningkat paling tinggi
pada tahun pertama penggunaan terapi hormon, namun risiko kanker
payudara meningkat seiring bertambahnya waktu. Kebanyakan panduan
pemberian terapi hormon menyarankan pemberian terapi hingga 4- 5
tahun. Tidak ada konsensus yang jelas mengenai bagaimana menghentikan
terapi hormon, dan gejala dapat timbul kembali tanpa melihat apakah
terapi hormon tersenut dihentikan secara
mendadak ataupun secara perlahan (Permadi, 2013).