You are on page 1of 1

1.

Contoh-contoh Pelanggaran HAM di Indonesia yang diatur dalam Pasal 28A 28 J

Hak dan Kewajiban merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, akan tetapi terjadi pertentangan
karena hak dan kewajiban tidak seimbang. Bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban
untuk mendapatkan penghidupan yang layak, tetapi pada kenyataannya banyak warga negara yang
belum merasakan kesejahteraan dalam menjalani kehidupannya. Semua itu terjadi karena pemerintah
dan para pejabat tinggi lebih banyak mendahulukan hak dari pada kewajiban.
Salah satu pelanggaran yang sering terjadi akhir-akhir ini di kalangan masyarakat adalah dalam Pasal
28A yaitu seperti Hukuman Mati. Dalam konteks hukuman mati kita sesungguhnya berbicara tentang
Hak Asasi Manusia yang dalam UU, hukuman mati masih menjadi kontrovesi yang terjadi dalam
masyarakat Indonesia, ada yang setuju dan sebaliknya.
Seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu ketika seorang suami dengan tega memutilasi istrinya
sendiri dan membuang potongan tubuh istrinya itu di sepanjang jalan tol cawang arah
cikampek, terjadinya kekerasan yang berujung pada dugaan pelanggaran HAM tersebut juga
merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia yang secara yuridis telah dibentuk
dan berlaku di wilayah Indonesia. Hak untuk hidup masih menjadi induk dari semua hak asasi lain ada
di Indonesia.
Dalam kasus yang berbeda mempunyai lebih dari seorang istri adalah masih menjadi hal yang di
anggap tidak wajar dalam kalangan masyarakat, namun adanya poligami pada zaman nabi membuat
kasus ini membuat pro kontra dalam masyarakat saat ini yang menganggap bahwa poligami adalah
hak asasi setiap masyarakat. Menteri Agama M. Maftuh Basyuni pun mengatakan bahwa poligami
bukanlah maksud hak asasi manusia yang tercantum pada pasal 28 B ayat (1) UUD 1945.
Perlindungan hukum di negeri ini masih menjadi hal yang di begitu diragukan kepastiannya,
Contohnya saja kasus nenek Minah asal Banyumas yang divonis 1,5 bulan kurungan dengan masa
percobaan 3 bulan akibat mencuri tiga buah kakao membuat Menteri Hukum dan HAM Patrialis
Akbar prihatin. Para penegak hukum harusnya mempunyai prinsip kemanusiaan, bukan cuma
menjalankan hukum secara positifistik. Seperti yang tertera dalam pasal 28D pasal (1) yang berbunya
Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama di hadapan hukum bagaimana pelanggaran ringan yang dilakukan oleh seorang
nenek bisa mendapatkan hukuman layaknya seorang yang telah melakukan tindak pidana yang sangat
merugikan masyarakat dan orang-orang disekeliling kita.
Hak asasi manusia adalah hak yang amat melekat dengan semua lapisan masyarakat, tidak melihat
gender, ras,warna kulit dan berbagai perbedaan lainnya, sehingga hak asasi setiap manusia dapat
terpenuhi tanpa ada sesuatu yang membuat hak tersebut tidak terpenuhi oleh seba satu orang atau
kelompok. Hak asasi manusia tidak dapat di copot atau di rebut begitu saja,terkecuali hak tersebut
dibatasi dikarenakan orang tersebut telah melakukan tindak pidana yang dapat melanggar hukum dan
merugikan masyarakat.
Contoh kasus pelanggaran HAM di atas hanya sebagian kecil dari berbagai pelanggaran yang terjadi
di Indonesia, terlepas dari banyaknya pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia kita hanya bisa
berharap tidak ada lagi pelanggaran-pelanggaran lain yang terjadi di Indonesia, dan pemerintah
semakin tegas dalam menyikapi berbagai permasalahan pelanggaran HAM.