You are on page 1of 27

4.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Biosistematika dan Ekologi Ikan Air Tawar Indonesia


Tabel 1. Klasifikasi ikan air tawar

Klasifikasi Jumlah
Ordo 21
Famili 85
Genera 301
Spesies 1240

Dari tabel tersebut maka dapat diketahui jumlah ordo ikan air tawar di
Indonesia didapatkan sejumlah 21 ordo. Pada tahun 2002 ditemukan 85 jenis
famili yang ada di Asia (Leveque dkk, 2008), jumlah tersebut sama dengan
jumlah famili yangdi dapatkan sekarang di Indoenesia. Dari 85 jumlah famili
maka 301 jumlah genera terdapat di dalamnya. Jumlah genera di Indonesia
adalah 301 genera dimana sama dengan 68,41% dari genera yang berada di
wilayah Oriental atau sama dengan 13,0472% dari jumlah genera di 6 wilayah
biogeografis dunia. Spesies ikan air tawar yang ada di Indonesia pada tahun
2002 ditemukan lebih dari 1240 spesies (Budiman dkk, 2002), sedangkan untuk
spesies ikan air tawar yang ditemukan tahun sekarang hanya didapatkan 1.240
spesies. Jadi spesies tersebut mengalami penurunan yang diakibatkan oleh
punahnya spesies tersebut atau spesies tersebut mengalami penggabungan atau
perubahan genera.
Tabel 2. Lima ordo ikan air tawar yang paling mendominasi
Ordo Jumlah
Famili Genera Spesies
Perciformes 30 103 365
Siluriformes 11 46 219
Cypriniformes 7 67 357
Atheriniformes 5 14 86
Beloniformes 3 8 60
Dari 21 jumlah ordo ikan air tawar yang ditemukan, terdapat 5 ordo ikan
air tawar yang paling mendominasi di perairan Indonesia. Ordo perciformes
memiliki habitat disekitar sungai yang terdapat puing dan bebatuan kayu. Ordo
Silluformes berasal dari benua bagian selatan yang lama-kelamaan berkembang
ke Amerika Selatan dan Afrika. Ordo Cypriniforme memiliki daerah
penyebaran di Asia Tenggara dan di Indonesia terdapat di Sumatera,
Kalimantan dan Jawa. Ordo Atherinformes terdistribusi oleh adanya invasi
habitat air tawar yang terus-menerus berlangsung.
14

300

Jumlah (genera dan spesies)


243
250

200

150 123

100
62
45 44 37
50 34
13 9 9
0
Cyprinidae Gobiidae Eleotridae Siluridae Cobitidae
Famili

Genera Spesies

Gambar 1. Grafik lima famili ikan air tawar yang ada di Indonesia beserta
genera dan spesies
Dari grafik tersebut ditampilkan 5 famili yang paling mendominasi di
Indonesia. Famili Cyprinidae memmpunyai 70 species yang sudah tervalidasi
valid dan tersebar di seluruh Dunia. Gobiidae dapat ditemukan di seluruh
wilayah indo-pasifi dengan keragaman spesies yang dimilikinya. Famili
Eleotridae daerah persebaran dari Barat Hemisphere sampai Asia. Famili
Siluridae paling banyak ditemukan di Asia Tenggara tetapi di Asia timur
kearagamannya menurun dikarenakan suhu yang mulai menaik dan tidak cocok
untuk jenis famili ini. Famili Cobitidae daerah persebarannya kebanyakan
berada di Asia Timur.
60 56
52
50
41
Jumlah (spesies)

40

30
24
20
20

10

0
Rasbora Betta MelanotaeniaOsteochilus Pangio
Genera

Gambar 2. Lima genera ikan air tawar yang mendominasi di Indonesia


Rasbora merupakan famili Cyprinidae yang memiliki diversitas tinggi
dengan yang sudah divalidasi ada 70 spesies dan memiliki variasi corak yang
beragam, habitatnya mulai dari Sumatera sampai Kalimantan bagian selatan.
Melanotaenia merupakan genus ikan air tawar endemik dari New Guinea dan
Australia. Habitat pada perairan dengan suhu suhu 25-26oC, pH 6-9 dan kadar
15

DO sekitar 7 ppm. Betta merupakan genus yang memiliki spesies ke tiga


terbanyak, banyaknya jumlah spesies yang ada di dalamnya dikarenakan genus
ini cocok pada iklim yang hangat dan lingkungan yang lembab. Osteochilus
adalah genus ikan yang banyak ditemukan di Indonesia meliputi Pulau
Sumatera sampai Sulawesi. Kondisi perairan dengan DO berkisar 5-9 ppm,
suhu 19-270C dan pH 7-8,4. Contoh jenis yang ditemukan di Indnesia seperti
Osteochilus hasseltii, Osteochilus hasselti dan Osteochilus vittatus. Pangio
merupakan genus yang masuk kedalam famili Cobitidae, genus ini merupakan
genus terbesar dari famili Cobitidae dengan 32 spesies ada di Asia. Genus ini
dikenal dengan eel loaches karena tubh dari genus ini memanjang seperti belut.
Persebaran genus ini mulai dari india ke asia tenngara kemudian ke
Semenanjung Malaya dan terakhir ada di Kalimantan, Jawa, dan Sumatera.
4.2 Konservasi
4.2.1 Mangrove
A. Identifikasi Jenis Mangrove
Berdasarkan hasil identifikasi dan pengamatan jenis mangrove
di lapangan dengan menggunakan metode transek. Secara
keseluruhan baik pada tingkat pohon, pancang dan semai hanya
ditemukan 2 jenis mangrove yaitu Avicennia marina dan Rhizophora
mucronata. Kedua jenis ini ditemukan di semua stasiun walaupun
penyebarannya tidak merata. Berikut ciri-cirinya:
a. Avicennia marina
A.marina dapat mencapai ketinggian hingga 30 meter. Akar
A.marina tergolong dalam akar napas berbentuk seperti pensil
dan memiliki lentisel. Kulit kayu halus dengan burik-burik hijau-
abu dan terkelupas dalam bagian-bagian kecil. Daun berbentuk
bulat kecil berwarna hijau. Bentuk buah seperti biji kacang
polong.

Gambar 3. Avicennia marina

b. Rhizophora mucronata
R. mucronata memiliki daun lebar dengan ujung daun yang
meruncing, di bagian bawah/belakang daun terdapat bintik-bintik
16

hitam, warna daun hijau muda. Bentuk buahnya memanjang dan


agak membulat, panjang antara 30-35 cm dengan diameter 3-4
cm, permukaan berbintil dan agak kasar, berwarna hijau agak
kecoklatan. Bunganya agak besar berwarna kuning yang terdiri
dari 6-8 bunga per kelompok.

Gambar 4. Buah Rhizophora mucronata


B. Analisis nilai mangrove
Dari hasil pengamatan yang dilakukan pada seluruh transek
hanya terdapat 2 jenis mangrove yaitu jenis A. marina dan R.
mucronata. Dari kedua jenis tersebut A. marina mendominasi seluruh
transek. Hal ini disebabkan karena parameter lingkungan yang sesuai
dengan A. marina yakni salinitas 25-26 ppt, suhu air 250 C, pH 5,
serta kontur tanah yang lembab dan berlumpur. Adapun hasil analisis
nilai mangrove tersaji pada Tabel 3.
Tabel 3. Analisis nilai mangrove
Pohon Pancang Semai
A. R. A. R. A. R.
marina mucronata marina mucronata marina mucronata
Tegakan 701 3 1.903 65 970 13
(ind)
Di 527,07 2,26 5.723.31 195,49 18.233 244,36
(ind/ha)
RDi (%) 99,57 0,43 96,7 3,3 98,68 1,32
Fi 0,66 0,01 0,87 0,09 0,37 0,01
(ind/ha)
RFi (%) 98,88 1,12 90,63 9,38 98 2
Ci 90.974,4 212,4 - - - -
(ind/ha)
RCi (%) 99,77 0,23 - - - -
INP 298,22 1,78 187,32 12,68 196,68 3,32
a. Kerapatan Jenis dan kerapatan relatif jenis
Secara umum hasil analisis kerapatan jenis baik pada tingkat
pohon, pancang dan semai menunjukkan bahwa kerapatan A.
marina untuk tingkat pohon mengalami penurun. Tahun 2010
17

kerapatan mangrove untuk tingkat pohon adalah 9 ind/100 m2


(Humaidy, 2010). Tetapi pada pengamatan yang dilakukan nilai
kerapatan mangrove tingkat pohon hanya 5 ind/100 m2 dan ntuk
tingkat pancang dan semai dari hasil pengamatan adalah 14
ind/25m2 dan 2 ind/m2 (Lampiran 1). Kerapatan jenis A. marina
di kawasan PPN Karangantu untuk tingkat pohon masih
tergolong rusak (<1000 ind/ha), berbeda dengan tingkat pancang
dan semai yang sudah tergolong tinggi (>1500 ind/ha).
b. Frekuensi jenis dan frekuensi relatif jenis
Berdasarkan nilai frekuensi jenis untuk seluruh tingkat
menunjukkan bahwa A. marina lebih besar dari R. mucronata.
Frekuensi kehadiran jenis mangrove dipengaruhi oleh
banyaknya jumlah kuadrat dimana ditemukan jenis tersebut.
Berdasarkan hal tersebut maka jenis A. marina memiliki peluang
kehadiran jenis atau frekuensi yang lebih tinggi berbanding yang
lain.
c. Tutupan jenis dan tutupan relatif jenis
Nilai tutupan mangrove hanya dapat dilihat pada pada tingkat
pohon (Kusmana, 2009). Berdasarkan pengamatan yang telah di
lakukan dan pengambilan data observasi lapangan didapat hasil
penutupan jenis, yaitu: A. marina sebesar 909 ind/100m2 dan R.
mucronata sebesar 2 ind/100m2. Sehingga nilai tutupan relatif
jenis A. marina 99,7% dan R. mucronata 0,23%. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa A.marina termasuk dalam
kriteria sangat baik dan R.mucronata termasuk dalam kriteria
rusak berat.
d. Indeks Nilai Penting
Indeks Nilai Penting (INP) tergolong tinggi yaitu 298, hal ini
menunjukkan bahwa A. marina memiliki perananan dan
pengaruh yang besar terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.
Tingkat pancang dan semai masih banyak dipengaruhi oleh
tergolong tinggi sedangkan untuk tingkat pancang dan semai
tergolong sedang (EAFM, 2013). Indeks nilai penting (INP)
berkisar antara 0-3 dimana INP memberikan gambaran
mengenai pengaruh atau peranan suatu jenis tumbuhan suatu
daerah. Semakin tinggi nilai INP suatu spesies relatif terhadap
terhadap jenis lainnya, maka semakin tinggi peranan spesies
tersebut pada komunitas lainya (Nainggolan, 2011).
4.2.2 Lamun
A. Identifikasi Jenis Lamun
Dari lima jenis lamun yang dapat tumbuh di Teluk Banten
(Satriya dkk, 2017) namun dari hasil pengamatan saat praktik di Pulau
Lima hanya ditemukan 3 jenis. Adapun jenis dan ciri-cirinya :
a. Enhalus acoroides
Memiliki akar yang panjang, serta mempunyai rambut-rambut
kaku berwarna hitam yang merupakan sisa-sisa daun. Daunnya
pipih dengan jumlah helaian 2-5. Umumnya ujung daunnya tidak
utuh lagi/ putus yang diakbatkan oleh kekuatan gelombang.
18

b. Halophila ovalis
Daunnya pipih,berbentuk bulat seperti telur, mempunyai tangkai
daun berwarna merah (bagian tengah).mempunyai panjang
helaian yang dapat mencapai 1,3cm. pertulangan daun berjumlah
10-25 pasang.
c. Thalassia hemprichii
Bentuknya menyerupai E. acoroides, tetapi dengan ukuran yang
lebih kecil dan tidak memiliki Rimpang berdiameter 2-4 mm
tanpa rambut-rambut kaku. Panjang daun 1-3 cm dan lebar daun
4-10 m.

Enhalus acoroides Halophila ovalis Thalassia hemprichii

Gambar 5. Jenis jenis lamun yang terdapat di Pulau lima


Berdasarkan pengukuran kualitas air di Pulau lima dimana
pH 5, salinitas 29-30 ppt, suhu 290C dan bersubtrat pasir merupakan
kondisi yang cocok untuk ketiga jenis lamun ini untuk tumbuh di
daerah Pulau Lima.
B. Analisis jenis lamun
Dari hasil pengolahan data jenis lamun diperoleh hasil seperti:
Tabel 4. Hasil analisis data lamun
NO SPESIES RDi Di RCi Ci RFi Fi INP
(%) (ind/m2) (%) (ind/m2) (%) (ind/m2)
1 E. acoroides 23,90 11,15 12,31 0,32 73,45 0,63 109,66
2 H. ovalis 66,26 30,90 73,08 1,90 17,60 0,15 156,94
3 T. hemprichii 9,84 4,59 14,60 0,38 8,95 0,08 33,39
Jumlah 100 46,64 100 2,60 100 0,86 300

a. Kerapatan lamun
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan apabila
dibandingkan dengan penelitian yang telah dilakukan di Pulau
Lima pada tahun 2012 menunjukkan bahwa kerapatan E.
acoroides mengalami penurunan (Lampiran 1). Tahun 2012
kerapatan lamun jenis E. acoroides dan T. hemprichii mencapai
25 ind/m2 dan 85 ind/m2 (Sudiarsa, 2012). Berbeda dengan
sekarang yang hanya 11 ind/m2 dan 5 ind/m2. Namun untuk jenis
H. ovalis baru ditemukan di Pulau Lima dengan kerapatan paling
tinggi mencapai 30,9 ind/m2. Ini membuktikan bahwa di daerah
sekitar Pulau Lima telah mengalami kerusakan pencemaran
sehingga membuat jumlah individu spesies lamun berkurang.
Tetapi tidak dengan H. ovalis karena spesies ini pertumbuhannya
sangat cepat sehingga banyak ditemuka di Pulau Lima
19

b. Frekuensi lamun
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di Pulau
Lima maka didapatkan hasil nilai frekuensi jenis yang tertinggi
adalah lamun jenis E. acoroides sebesar 0,63 ind/ha. Dalam hal
ini maka jenis E. acoroides memiliki peluang kehadiran jenis
yang banyak tetapi jumlah individunya sedikit sehingga
mempengaruhi nilai kerapatannya.
c. Tutupan Lamun
Apabila dilihat dari ukuran morfologinya E. acoroides memiliki
ukuran yang paling besar dibandingkan dengan T. hemprichii dan
H. ovalis. Tetapi, berdasarkan analisis data dapat dilihat bahwa
H. ovalis mempunyai nilai tutupan relatif yang paling tinggi yaitu
sebesar 73 ind/m2, E. acoroides sebesar 17 ind/m2 dan T.
hemprichii sebesar 9 ind/m2. Hal ini disebabkan karena jarak
antar spesies khususnya Enhalus acoroides saling berjauhan,
berbeda dengan Halophila emprichii yang jaraknya berdekatan
dan jumla individunya banyak.
d. Indeks Nilai Penting
Berdasarkan hasil analisis dan pengamatan maka dapat diperoleh
apabila Indeks Nilai Penting yang paling tinggi adalah jenis
Halophila ovalis sebesar 156,94. Ini menunjukkan bahwa
Halophila ovalis memiliki peranan yang yang lebih tinggi
terhadap lingkungan daripada jenis Enhalus acoroides dan
Thallasia emprinchii.
4.2.3 Terumbu Karang
A. Identifikasi jenis karang
Adapun komponen penyusun terumbu karang yang ada di Pulau
Lima yaitu terdiri dari Hard coral, Dead Coral, Algae, Other Biota dan
Abiotic. Unsur abiotik merupakan penyusun terbanyak yang terdapat di
Pulau Lima. Pengukuran kualitas air menunjukkan bahwa nilai salinitas
sebesar 31 ppt, pH 5 dan suhu perairan 290C. Untuk terumbu karang yang
terdapat di Pulau Lima hanya terdapat 5 jenis yaitu Acropora Branching,
Branching Coral, Coral Entrusting, Massive Coral, Submassive Coral.
Lereng terumbu karang di Pulau lima sangat landai, sehingga
kedalamannya tidak sampai 1 m. Berikut gambaran Hard Coral yang ada
di Pulau Lima:

Gambar 6. Beberapa contoh Hard Coral dan keadaan terumbu karang


yang ada di Pulau Lima
20

B. Tutupan karang hidup tiap transek


Persen penutupan karang berdasarkan pada kategori dan
presentasi karang hidup (life form), semakin tinggi persen tutupan karang
hidup maka kondisi ekosistem terumbu karang semakin baik dan semakin
penting pula untuk dilindungi. Data persen penutupan karang hidup yang
diperoleh berdasarkan metode line intersep transek seperti grafik
dibawah:
Hard Coral
21%

Death Coral
Abiotic
12%
56%
Algae
0%
Other Biota
11%

Hard Coral Death Coral Algae Other Biota Abiotic

Gambar 7. Diagram persentase tutupan karang di Pulau Lima


Dari grafik diketahui bahwa tutupan Hard Coral di Pulau Lima
adalah 20,9%, jadi dapat disimpulkan bahwa tutupan Hard Coral di Pulau
Lima termasuk dalam kategori rusak (0-24,9 %). Kondisi terumbu karang
di Pulau Lima rusak disebabkan oleh ulah nelayan yang masih menangkap
ikan menggunakan alat tangkap seperti arad dan dogol, pencemaran air
laut yang diakibatkan oleh pabrik-pabrik industry yang ada di Teluk
Banten.
4.3 Oseanografi dan Limnologi
Dalam tematik oseanografi ini akan membahas tentang kondisi pasang
surut di daerah Teluk Banten khusunya di perairan kampus BAPPL Serang.
Pasang surut adalah perubahan permukaan air laut yang disebabkan oleh
aktifitas dan gaya gravitasi dari benda-benda angkasa dengan bumi (Azis,
2006). Untuk menentukan kondisi pasang surut di perairan harus dilakukan
selama satu bulan karena berhubungan dengan rotasi bulan untuk mengitari
bumi. Pengamatan dilakukan setiap satu jam sekali untuk setiap stasiunnya lalu
diambil rata-ratanya untuk 6 jam sekali. Berdasarkan pengamatan tersebut di
dapatkan sebuah nilai rata-rata ketinggian air di Teluk Banten (Lampiran 2).
Dari tabel rata-rata pengamatan maka dapat diketahui bahwa rata-rata
mean sea level (MSL) tertinggi pada satu bulan terakhir terjadi pada tanggal 11
Februari 2017 dan 3 Maret 2017 mencapai 29,9 cm. Sedangkan untuk rata-rata
MSL terendah terjadi pada tanggal 25 Februari 2017 yang hanya 10,5 cm
(Lampiran 2). Dilihat dari perubahan MSL yang terjadi untuk satu bulan pada
setiap stasiun dapat diketahui bahwa rata-rata perubahan dari pasang ke surut
setiap harinya berkisar 1-7 cm. Selain aktifitas ruang angkasa perbedaan tinggi
rendahnya permukaan air menurut pengamatan yang telah dilakukan selama
sebulan penuh, perbedaan tinggi rendah permukaan air juga disebabkan oleh
21

curah hujan yang tidak tentu, debit aliran air sungai yang masuk serta kontur
tanah berpengaruh terhadap tinggi rendahnya permukaan yang terjadi.
Berdasarkan data pengamatan yang telah dilakukan selama 30 hari
diperoleh rata-rata perbedaan tinggi rendah permukaan air. Waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai pasang tertinggi yaitu sekitar 6 jam sedangkan
waktu yang dibutuhkan untuk turun ke surut terendah adalah sekitar 18 jam.
Kondisi seperti ini tidak sebanding atau bisa dibilang tidak simetris, dimana
waktu yang dibutuhkan dari pasang menuju surut lebih lama dibandingkan
waktu yang dibutuhkan dari surut menuju pasang. Kondisi ketidaksimetrisan ini
merupakan suatu kondisi pasang surut yang umum diketahui didaerah sungai
dan muara sungai (Surbakti, 2010). Agar lebih jelasknya maka akan
ditampilkan data pasang-surut setiap 6 jam sekali.
40
Tinggi air (cm)

30

20

10

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29
Waktu pengamatan

06.00-11.00 12.00-17.00 18.00-23.00 24.00-05.00

Gambar 8. Kondisi rata-rata pasang surut di Kampus BAPPL Serang


Berdasarkan data grafik rata-rata pasang surut di Kampus BAPPL
Serang dapat diketahui bahwa untuk jam 06.00 11.00 rata-rata MSL tertinggi
untuk kondisi pasang dengan rentang waktu 6 jam terdapat pada hari pertama
dilakukan pengamatan dan hari ke 21 dengan tinggi permukaan air 29,9 cm.
Sedangkan rata-rata MSL terendah untuk kondisi surut terdapat pada hari ke 7
dengan nilai 12,5 cm. Untuk pengamatan jam 12.00 17.00 dapat diketahui
rata-rata MSL tertinggi untuk kondisi pasang dengan rentang waktu 6 jam
terdapat pada hari ke 1, 19 dan 21 dengan nilai 29,9 cm. Rata-rata MSL terendah
untuk kondisi surut terdapat pada hari ke 15 dengan nilai 10,5 cm. Untuk jam
18.00 23.00 dapat dilihat bahwa nilai kenaikannya relatif signifikan, rata-rata
MSL tertinggi untuk kondisi pasang dengan rentang waktu 6 jam terdapat pada
hari ke 8-23. Rata-rata MSL terendah untuk kondisi surut terdapat pada hari ke
pertama dilaukan pengamatan dengan nilai 13,1 cm. Begitu juga dengan
pengamatan pada jam 24.00-06.00 pertamabahan tinggi air relatif signifikan,
rata-rata MSL tertinggi untuk kondisi pasang dengan rentang waktu 6 jam
terdapat pada hari ke 19-29 dengan nilai 15 cm. Sedangkan rata-rata MSL
terendah dominan untuk kondisi surut terdapat pada hari ke 1 dengan nilai 11,1
cm.
Dari data grafik di atas apabila disimpulkan untuk 24 jam dapat dilihat
bahwa perubahan permukaan air tidak terlalu jauh dan relatif dalam keadaan
sama. Sedangkan untuk siang hari kondisi perubahan permukaan air sangat
berbeda. Disini pengaruh kondisi bulan sangat berpengaruh terhadap kondisi
22

MSL dimana kondisi tertinggi terlihat pada hari pertama pengamatan dimana
itu bertepatan dengan bulan penuh (purnama). Walaupun sebenarnya metode
ini salah dikarenakan pengamatan dan penancapan patok seharusnya dilakukan
pada posisi surut terendah, dikarenakan beberapa pertimbangan maka kondisi
seperti ini tetap dilakukan.
4.4 Pengelolaan Lingkungan Perairan
4.4.1 Parameter Biologi
Berdasarkan indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener,
keanekaragaman plankton pada stasiun 1 termasuk dalam kategori
sedang. Untuk stasiun lainnya berada pada tingkat keanekaragaman
rendah, karena 0<H<2,3. Indeks keseragaman terendah yaitu pada
stasiun 5, yaitu 0,28. Hal tersebut menjelaskan dominansi satu spesies
pada stasiun ini tinggi (0<E<0,4), mengindikasikan bahwa tidak dalam
kondisi seimbang (Lampiran 3).
Keanekaragaman plankton pada 3 stasiun menunjukkan dalam
keadaan rendah (0<H<2,3). Stasiun 2 menunjukkan Indeks Dominansi
yang tinggi, dengan nilai indeks 0,65 (E>0,6) daripada 2 stasiun yang
termasuk dalam kategori rendah (0<E<0,4) (Lampiran 3). Hal ini terjadi
dikarenakan pada perairan Sungai Cibanten sudah mulai tercemar,
adanya aktifitas bongkar muat kapal nelayan dan pabrik pengolah
rajungan di sepanjang sungai mengakibatkan kondisi perairan mulai
tercemar. Maka hanya plankton yang memiliki toleransi tinggi terhadap
aktifitas antropogenik yang dapat berkembang.
Kondisi plankton di Sungai Cengkok dapat dilihat yang
menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman pada seluruh stasiun
berada pada kategori rendah (0<H<2,3). Tetapi keseragaman seluruh
stasiun dalam keadaan homogen dan tinggi yaitu E>0,6. Dominansi
pada stasiun 3 masuk dalam kategori tinggi, dengan nilai 0,69,
sedangkan stasiun lainnya berada pada kategori rendah (0<E<0,4)
(Lampiran 3).
Kelimpahan planton yang berada di Teluk Banten, Sungai
Cibanten dan Sungai Cengkok menunjukkan adanya 3 jenis plankton
yang mendominansi perairan yaitu Oscilatoria sp, Anabaena sp,
Vaucheria sp dengan persentase 19%, 9% dan 5%. Dari ketiga jenis
plankton tersebut apabila dilihat dari tingkat toleransinya terhadap
lingkungan maka termasuk dalam toleransi yang sedang terhadap
pencemaran.
4.4.2 Parameter Kimia
A. Salinitas
Salinitas yang ada di perairan Teluk Banten dan Sungai-sungai dapat
diketahui bahwa salinitas di perairan laut Teluk Banten relatif sama
berkisar antara 30/31 ppt. Salinitas di perairan Sungai Cibanten, dari
muara sungai (St.1) sampai jempatan (St.3) salinitas semakin
menurun. Tetapi untuk sungai Cengkok untuk seluruh stasiun
salinitas perairan 0 ppt, dikarenakan ukuran sungai yang besar
sehingga air laut tidak terlalu berpengaruh terhadap air sungai
tersebut (Lampiran 4).
23

B. pH
pH di Perairan laut Teluk Banten, Sungai Cibanten dan Sungai
Cengkok rata-rata sama yaitu antara 4-5 (Lampiran 4). Sehingga
perairan di Teluk Banten ini cenderung bersifat asam. Rendahnya
nilai pH tersebut mengakibatkan menurunnya kualitas perairan yang
pada akhirnya berdampak terhadap lingkungan dan kehidupan biota
di dalamnya.
C. Karbondioksida
Di perairan Teluk Banten memiliki kadar CO2 adalah 0 ini
mengindikasikan bahwa telah terjadi reaksi kesetimbangan
didalamnya. Tetapi untuk kadar CO2 di Sungai Cengkok dan Sungai
Cibanten tergolong cukup tinggi (Lampiran 4). Ini disebabkan oleh
banyaknya kandungan bahan organik yang berasal dari pembuangan
sisa-sisa sampah yang mengendap dan membusuk.
D. Alkalinitas
Rata-rata alkalinitas yang terkandung di perairan adalah rendah,
karena kandungan alkalinitas yang baik di perairan adalah berkisar
antara 30 500 mg/L CaCO3 (Lampiran 4). Rendahnya suatu nilai
Alkalinitas menandakan bahwa perairan tersebut memiliki sistem
buffer yang rendah (Pratiwi dkk., 2007).
4.4.3 Parameter Fisika
A. Kecepatan Arus
Kecepatan arus Teluk Banten dan Sungai Cibanten apabila dirata-
ratakan terbilang rendah. Sedangkan kecepatan arus di Sungai
Cengkok tergolong tinggi berkisar 0,16 m/s sampai 0,22 m/s
(Lampiran 4). Kecepatan arus di laut dipengaruhi oleh kondisi
fluktuasi pasang surut air laut. Kecepatan arus juga dipengaruhi
oleh kemiringan, kekasaaran, kedalaman, dan kelebaran dasar
perairan tersebut.
B. Kecerahan
Hasil pengukuran pada 3 perairan pengamatan menunujukkan
bahwa kecerahan pada Teluk Banten beragam antara 0,25m - 4,31
m. Sedangkan di Sungai Cengkok dan Sungai Cibanten berkisar
0,08m 0,45m (Lampiran 4). Rendahnya kecerahan di sungai
disebabkan karena tingginya sedimentasi lumpur, sehingga
berdampak terhadap rendahnya penetrasi cahaya yang masuk ke
perairan. Secara umum kecerahan di sungai berada dalam kondisi
buruk karena perairan dengan kecerahan dibawa 1 m tidak baik
untuk kelangsungan hidup biota perairan tersebut.
C. Suhu
Suhu di perairan baik pada Sungai Cibanten, Sungai Cengkok dan
Teluk Banten masih dalam keadaan optimal yaitu berkisar 280C
320C. Tetapi untuk St.2 Sungai Cibanten dan St.3 Sungai Cengkok
suhu perairan kurang dari 280C tetapi masih dapat ditolerir karena
perbedaan suhu tidak terlalu besar (Lampiran 4). Perbedaan suhu air
menyebabkan kadar oksigen terlarut menurun sehingga
menyebabkan terjadinya degradasi anaerobic yang akan menggangu
kehidupan biota di dalamnya (Hastomo, 2015).
24

4.5 Sosial, Ekonomi dan Edukasi


Untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi masyrakat Desa Karangantu,
digunakan acuan dasar untuk penyusunan quisioner adalah dari Modul EAFM. Di
dalam EAFM khususnya domain ekonomi terdapat 3 indikator kunci penting yang
digunakan untuk menganalisis suatu keadaan perkenomian, yakni: pendapatan
rumah tangga perikanan (RTP), rasio tabungan dan kepemilikan atas asset. Berikut
merupakan gambaran rata-rata pendapatan dan pengeluaran masyarakat di Desa
Karangantu.

Rp2,900,000.00

Rp2,800,000.00 Rp2,860,000.00

Rp2,700,000.00
RUPIAH (RP)

Rp2,600,000.00

Rp2,500,000.00
Rp2,510,500.00
Rp2,400,000.00

Rp2,300,000.00
Pendapatan 1 Pengeluaran

RATA-RATA PENDAPATAN DAN PENGELUARAN

Gambar 9. Pendapatan dan pengeluaran


Apabila dilihat dari pendapatan dan pengeluaran rumah tangga masyrakat
di Desa Karangantu terjadi perbedaan yang sangat signifikan. Pendapatan
masyrakat ada yang masih di bawah UMR tetapi ada juga masyrakat yang sudah
di atas UMR. Namun apabila dirata-ratakan pendapatan masyrakat adalah di bawah
UMR yaitu sekitar Rp 2.510.500,00 per bulan dimana diketahui bahwa UMR kota
Serang adalah sebesar Rp 2.866.595,00 (Lampiran 5). Pendapatan masyrakat
tersebut dapat digolongkan sangat sedikit dilihat dari beban rumah tangga yang
ditanggungnya, mulai dari jumlah aggota keluarga dan keperluan sehari-hari yang
dikeluarkan. Sehingga tidak heran bahwa masyarakat desa Karangantu menurut
hasil wawancara dan quisioner yang telah dilakukan bahwa kebanyakan masyrakat
tidak mempunyai tabungan. Pendapatan masyrakat perbulan selalu lebih kecil
dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkannya. Ini dikarenakan pendapat harian
mereka yang tidak menentu, terkadang pendapatannya bisa lebih dari cukup
ataupun terkadang bisa kosong atau rugi. Jadi para masyrakat tidak bisa menyimpan
uangnya untuk di tabung dikarenakan pendapatan dan pengeluarannya berbanding
lurus. Dilihat dari nilai SR nya adalah minus ini dikarenakan kuranganya
pendapatan masyrakat terhadap pengeluarannya sehingga tidak adanya hasil yang
akan disimpan.
Untuk aset yang dimiliki masyrakat desa masyrakat Desa Karangantu rata-
rata sudah memiliki rumah permanet walaupun dengan ukuran yang sederhana.
Karena pekerjaan masyrakat adalah nelayan sehingga sebagian besar masyrakat
memiliki kapal beserta alat tangkapnya, walaupun kapal yang dimilikinya hanya
dibawah 5 GT. Tetapi untuk beberapa masyrakat yang memiliki pekerjaan
25

sampingan seperti berdagang, rata-rata mereka sudah memiliki kios dagangnya


sendiri (Lampiran 6).
Untuk domain sosial dengan acuan model EAFM hal-hal yang akan dibahas
di dalamnya adalah konflik yang terjadi, bagaimana peranan pemerintah di dalam
mayrakat. Konflik yang terjadi di sekitar Desa Karangantu untuk saat ini, baik itu
konflik antar sesama masyrakat dan konflik dengan pemerintah bisa dikatakan
sudah tidak ada lagi. Tetapi menurut hasil wawancara yang dilakukan pernah terjadi
sebuah konflik di mayrakat dimana adanya pelarangan penggunaan alat tangkap
berupa dogol dana arad. Masyrakat yang bekerja sebagai nelayan khususnya
awalnya kontra terhadap peraturan tersebut dikarenakan kepemilikan alat tangkap
yang dimilikinya serta tidak adanya bianya untuk membeli alat tangkap yang baru
dan hasil yang dihasilkan tidak sebesar menggunakan alat tangkap tersebut. Seiring
berjalannya waktu, setelah pemerintah melakukan sosialisasi dan pemberian
bantuan lama-kelamaan alat tangkap tersebut mulai ditinggalkan dan masrakat
mulai sadar dari dampak yang diakibatkan dari alat tangkap tersebut. Tetapi tidak
semua nelayan mau mengganti alat tangkap mereka untuk beberapa nelayan masih
menggunakan alat tangkap ini walaupun alat tangkap ini sudah dilarang
penggunaannya. Mereka berani menggunakannya dikarenakan pengawasan dari
lembaga terkait masih sangat kurang.
Kearifan local yang masih berkembang di Karangantu sampai saat ini
adalah keyakinan untuk tidak melaut di hari jumat dan tradisi pesta laut Nadran.
Keyakinan tidak melaut di hari Jumat, untuk beberapa nelayan tetap melakukan
aktifitas melautnya walupun dengan berbagai alasan, seperti faktor ekonomi dan
keyakinan mereka bahwa hari Jumat tersebut tidak ada bedanya dengan hari-hari
lainnya. Tradisi pesta laut Nadran merupakan tradisi yang dilakukan 1 tahun sekali
setiap bulan Muharram. Tujuan dari perayaan ini adalah untuk mengucapkan
syukur kepada alam yang telah memberikan rejeki kepada masyarakat serta
menjaga kebudayaan leluhur yang telah turun-temurun dilaksanakan.

SMA Tidak Sekolah


12% 6%
SMP
12%

SD
70%

Tidak Sekolah SD SMP SMA


.
Gambar 10. Diagram persentasi pendidikan akhir nelayan yang tinggal di Desa
Karangantu
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara di lapangan maka diketahui
bahwa sebagian besar masyarakat nelayan Desa Karangantu hanya lulusan SD
26

(60%), lulusan SMP (12%), lulusan SMA (12%) dan tidak pernah bersekolah (6%).
Pola pikir masyrakat dengan pendidikan akhir yang hanya sampai SD dengan pola
pikir masyrakat yang sudah kuliah tentu saja berbeda. Mereka hanya memikirkan
bagaimana cara mendapatkan penghasilan untuk hari itu saja, mereka tidak bisa
memanage pengdapatan yang di hasilkan dengan pengeluaran yang harus
dikeluarkan. Masyrakat dengan pendidikan yang kurang juga akan berakibat
kepada cara berpikir mereka yang susah menyesuaikan dengan teknologi yang
sedang berkembang. Sehingga nelayan tradisional sebagian besar hidup di bawah
garis kemiskinan.
4.6 Etika, Kebijakan dan Kelembagaan

Kelembagaan merupakan hubungan antara mayrakat yang di wadahi dalam


sebuah jaringan, ditentukan oleh faktor-faktor pembatas dan pengikat berupa,
norma, kode etik atau aturan fomal dan normal baik tertulis maupun tidak terlulis
untuk ikatan kerjasama demi mencapai tujuan yang telah diinginkan (Damar, 2014).
Kelembagaan formal di bidang perikanan adalah kelembagaan yang dibentuk
pemerintah secara resmi untuk mendukung program tertentu dengan adanya surat
keputusan yang dikeluarkan oleh institusi terkait. Fungsinya adalah sebagai
fasilitator masyrakat untuk lebih sejahtera terkhusus dibidang perikanan,
memberikan informasi pengetahuan dan teknologi bagi masyrakat perikanan dan
sebagai investor atau penyedia modal untuk masyarakat perikanan. Macam-macam
kelembagaan formal yang membantu kegiatan perikanan sehingga dapat berjalan
dengan baik seperti :
a. Dinas perikanan bertugas sebagai perumusan sebuah kebijakan di
bidang perikanan dan kelautan. Penyelengaraan urusan pemerintahan
dan pelayanan umum bidang kelautan dan perikanan, membina dan
memfasilitasi bidang perikanan dan kelautan baik dalam lingkup
provinsi, dan kabupaten/kota. Melaksanakan tugas di bidang kelautan
dan periknan mulai dari penangkapan, budidaya, pengolahan hasil
perikanan dan bidang konservasi. Memantau dan mengevaluasi
jalannya kegiatan perikanan.
b. Syahbandar mempunyai tugas dan fungsi mengeluarkan administrasi
persuratan bagi kapal perikapan baik itu kapal penangkapan atau kapal
pengangkut ikan. Syahbandar juga mempunyai tugas dalam
keselamatan dan keamanan pelayaran yang dilakukan oleh nelayan.
c. Pol Air mempunyai tugas dan fungsi sebagai pengawas perairan
dengan melakukan patrol air yang dilakukan, penegakan hukum di
perairan, membina masyarakat di sekitaran pantai, serta melakukan
penyelamatan apabila terjadi sebuah kecelakaan di perairan.
d. TNI AL mempunyai tugas untuk menegakkan hukum dan menjaga
keamaan wilayah laut nasional, melakukan dan melaksanakan tugas
diplomasi angkatan laut dan memperdaya wilayah pertahanan laut.
Kelembagaan informal merupakan sebuah kelembagaan yang ada di
masyrakat dimana keberadaan tidak tertulis secara hukum tetapi keberadaannya di
lapangan adalah ada. Fungsi dari kelembagaan informal ini adalah sebagai
pedoman masyrakat tentang sikap dalam menghadapi masalah yang terjadi di
masyrakat, menjaga kesejahteraan antar masyrakat, memberikan sebuah pedoman
27

agar masyrakat ikut serta dalam kegiatan pengawasan secara langsung.


Kelembagaan informal seperti koperasi, pasar, kelembagaan ekonomi perikanan
dan kelembagaan sosial perikanan, organisasi kemasyrakatan nelayan dan lembaga-
lembaga pemerintah dalam hal ini adalah departemen kelautan dan perikanan.
Lembaga-lembaga inilah yang selama ini mengatur dan mengawasi aktifitas
pengelolaan perikanan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyrakat
nelayan.
Beberapa unsur kelembagaan baik formal maupun informal yang ada di
Desa Karangantu berupa TNI AL, Polair, Dinas Perhubungan, Pelabuhan Perikanan
Nusantara, KUB dan Syahbandar. Semua lembaga ini telah memiliki fungsi dan
tugasnya masing-masin tetapi kenyataan dilapangan tugas tersebut belum
sepenuhnya dilakukan dengan baik. Seperti Pol Air yang ada di desa Karangantu
dalam melakukan pengawasan sangat kurang, terbukti msih adanya nelayan yang
menggunakan alat tangkap dogol atau arad. Nelayan masih dengan bebas
menggunakan alat tangkap tersebut di perairan Teluk Banten. Syahbandar yang
ada di PPN Karangantu juga hanya mempunyai data-data nelayan yang memiliki
kapal di atas 5 GT saja. Sedangkan nelayan-nelayan di Karangtu kebanyakan
memiliki kapal di bawah 5 GT. Sehingga data yang dimiliki kurang lengkap. Serta
banyak nelayan yang apabila melakukan pelayaran, tidak memiliki surat ijin
berlayar. Untuk KUB di Karangantu juga kebanyakan anggotanya berasal dari
anggota keluarganya sendiri sehingga data dari KUB tersebut tidak seratus persen
benar.
Permasalah lain yang ada di Karangantu adalah semakin tergerusnya
daratan yang ada di Desa Karangantu sehingga perubahan garis pantai dari tahun
ke tahun semakin menjorok ke daratan. Permasalahan-permasalahan seperti inilah
yang ada di desa Karangantu dalam bidang perikanan. Secara garis besar belum ada
pengelolaannya yang dilakukan secara maksimal. Ernaningsih (2012) mengatakan
bahwa paling tidak ada tiga hal yang menjadi penyebab ketidakseimbangan dalam
pembangunan khususnya perikanan Indonesia, yaitu:masih rendahnya muatan
teknologi di sektor kelautan dan perikanan, yang dicerminkan dengan 87%
perikanan tradisional; lemahnya pengelolaan; dan masih kurangnya dukungan
ekonomi-politik.
28

5. KESIMPULAN

1. Spesies ikan air tawar yang terdapat di Indonesia ada 1240 spesies. Dalam
1240 spesies tersebut termasuk di dalam 301 genus, 85 famili dan 21 ordo.
2. Kondisi mangrove di sekitar kawasan PPN Karangantu untuk tingkat pohon
menurun dan rusak sedangkan kondisi mangrove untuk tingkat pancang dan
semai masih dalam kondisi baik. Untuk kondisi lamun dan terumbu karang
yang ada di Pulau Lima saat ini dalam keadaan rusak dan perlu dilakukan
kegiatan konservasi.
3. Rata-rata selisih tinggi pasang surut perharinya adalah 1-7 cm. Kondisi
pasang tertinggi pasang tertinggi terjadi pada tanggal 11 Februari 2017 dan
3 Maret 2017. Sedangkan untuk kondisi surut terendah terjadi pada tanggal
25 Februari 2017.
4. Kondisi kualitas air yang ada di Teluk Banten dapat diambil kesimpulan
bahwa perairan tersebut masih dalam keadaan batas normal. Tetapi untuk
kondisi perairan di sungai Cibanten dan Sungai Cengkok adalah buruk dan
dapat dikatakan tersemar.
5. Perekonomian di Desa Karangantu masih tergolong rendah, kondisi
pendapatan masyrakatnya lebih kecil dibandingkan dengan UMR kota
Serang. Kondisi sosial di Desa Karangantu sangat baik dan untuk tingkat
pendidikan di Desa Karangantu masih tergolong rendah.
6. Tugas dan fungsi lembaga yang ada di Desa Karangantu belum sepenuhnya
berjalan dengan baik. Pengawasan dari lembaga-lembaga yang ada di Desa
Karangantu sangat kurang.
29

DAFTAR PUSTAKA

1. Adrianto, L., Sobari, M., & Azis, N. (2006). Analisis Ekonomi Alternatif
Pengelolaan Ekosistem Mangrove Kecamatan Barru, Kabupaten
Barru.Link

2. Agususilo, Satyo. "Kelimpahan Larva Anadara Spp.(Bivalvia: Arcidae) Di


Perairan Bojonegara, Teluk Banten, Banten." (2010).Link

3. Alustco, S. (2009). Kajian Kualitas Tutupan Karang Hidup Dan Kaitannya


Dengan Acanthaster Planci Di Kabupaten Bintan. Link

4. Astuti, L. P., Warsa, A., & Satria, H. (2009). Kualitas Air Dan Kelimpahan
Plankton Di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura. Journal Of Fisheries
Sciences, 11(1), 66-77.Link

5. Bappenas (2005). Kajian Model Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Das)


Terpadu. Direktorat Kehutanan Dan Konservasi Sumberdaya Air.
Kebijakan Penyusunan Master Plan Rehabilitasi Hutan Dan Lahan (Mp-
Rhl) Daerah. Link

6. Bratakusuma, N., Sahami, F. M., & Nursinar, S. (2014). Komposisi Jenis,


Kerapatan Dan Tingkat Kemerataan Lamun Di Desa Otiola Kecamatan
Ponelo Kepulauan Kabupaten Gorontalo Utara. Kim Fakultas Perikanan
Dan Ilmu Kelautan, 2(1).Link

7. Budiarto, A., Adrianto, L., & Kamal, M. (2015). Status Pengelolaan Perikanan
Rajungan (Portunus Pelagicus) Dengan Pendekatan Ekosistem Di Laut
Jawa (Wppnri 712). Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, 7(1), 9-24.Link

8. Budiman, A., Arief, A. J., & Tjakrawidjaya, A. H. (2002). Peran Museum


Zoologi Dalam Penelitian Dan Konservasi Keanekaragaman Hayati (Ikan).
Jurnal Iktiologi Indonesia, 2(2), 51-55.Link

9. Burhanuddin, A. I. (2015). Ikhtiologi, Ikan Dan Segala Aspek Kehidupannya.


Deepublish.Link

10. Damar, A., Bengen, D. G., & Mukhlis Kamal, M. (2014). Optimasi
Kelembagaan Dalam Pengelolaan Ekosistem Mangrove Berbasis Perikanan
(Kasus Di Kabupaten Tangerang Provinsi Banten). Link

11. Dewi, K. T., Natsir, S. M., & Siswantoro, Y. (2010). Mikrofauna (Foraminifera)
Terumbu Karang Sebagai Indikator Perairan Sekitar Pulau-Pulau Kecil.
Ilmu Kelautan, 1, 1-9.Link

12. Dwindaru, B. (2012). Variasi Spasial Komunitas Lamun Dan Keberhasilan


Transplantasi Lamun Di Pulau Pramuka Dan Kelapa Dua, Kepulauan
Seribu, Provinsi Dki Jakarta.Link
30

13. Ernaningsih, D. (2012). Model Pengelolaan Kawasan Perikanan Tangkap Di


Teluk Banten.Link

14. Hadiati, R. (2000). Struktur Komunitas Makrozoobenthos Sebagai Lndikator


Biologi Kualitas Lingkungan Perairan Sungai Cihideung, Kabupaten
Bogor, Jawa Barat.Link

15. Hadijah, O. (2002). Kajian Morfometri Dan Karakteristik Kualitas Air Situ
Cilala, Kemang, Bogor, Jawa Barat (Doctoral Dissertation, Ipb (Bogor
Agricultural University)).Link

16. Humaidy, D. (2010). Studi Kerusakan Ekosistem Mangrove Untuk Upaya


Rehabilitasi Di Kawasan Pesisir Kecamatan Kasemen, Kota Serang,
Provinsi Banten.Link

17. Hutabarat, S. (2001). Pengaruh Kondisi Oseanografi Terhadap Perubahan


Iklim, Produktivitas Dan Distribusi Biota Laut.Link

18. Indrayanti, M. D., Fahrudin, A., & Setiobudiandi, I. (2015). Penilaian Jasa
Ekosistem Mangrove Di Teluk Blanakan Kabupaten Subang. Jurnal Ilmu
Pertanian Indonesia, 20(2), 91-96. Link

19. Izuan, M., Viruly, L., & Razai, T. S. (2014). Kajian Kerapatan Lamun
Terhadap Kepadatan Siput Gonggong (Strombus Epidromis) Di Pulau
Dompak. Jurnal. Link

20. Johan, O. (2003). Metode Survei Terumbu Karang Indonesia. Yayasan Terangi.
Jakarta, 9.Link

21. Kangkan, A. L. (2006). Studi Penentuan Lokasi Untuk Pengembangan


Budidaya Laut Berdasarkan Parameter Fisika, Kimia Dan Biologi Di Teluk
Kupang, Nusa Tenggara Timur (Doctoral Dissertation, Program Pasca
Sarjana Universitas Diponegoro).Link

22. KEPMEN-LH Nomor 200 Tahun 2004 Tentang Kriteria Baku Kerusakan Dan
Pedoman Penentuan Status Padang Lamun. Link

23. KEPMEN-LH Nomor 201 Tahun 2004 Tentang Kriteria Baku Dan Pedoman
Penentuan Kerusakan Mangrove. Link

24. KEPMEN-LH Nomor 4 Tahun 2001 Tentang Kriteria Baku Kerusakan


Terumbu Karang. Link

25. Kusmana, C. (2009). Pengelolaan Sistem Mangrove Secara Terpadu. In


Prosiding Workshop Pengelolaan Ekosistem Mangrove Di Jawa Barat.
Jatinangor (Vol. 18).Link

26. Hastomo, Y. A. (2015). Makrozoobenthos Sebagai Bioindikator Kualitas Air


Sungai Citarum Hulu (Cisangkuy, Cikapundung, Dan Ciwidey). Link
31

27. Levque, C., Oberdorff, T., Paugy, D., Stiassny, M. L. J., & Tedesco, P. A.
(2008). Global Diversity Of Fish (Pisces) In Freshwater. Hydrobiologia,
595(1), 545-567.Link

28. Lolong, M., & Masinambouw, J. (2011). Penentuan Karakteristik Dan Kinerja
Hidro Oceanografi Pantai (Study Kasus Pantai Inobonto). Jurnal Ilmiah
Media Engineering, 1(2).Link

29. Lubis, M. R. K. (2009). Analisis Pengelolaan Terumbu Karang Untuk


Pengembangan Ekowisata Bahari Di Pulau Poncan Kota Sibolga Provinsi
Sumatera Utara.Link

30. Modul Penilaian Pengelolaan Perikanan Berpendekatan Ekosistem (Eafm).


Link

31. Muliawan, I., Fahrudin, A., Fauzi, A., & Boer, M. (2014). Analisis Stakeholders
Pada Perikanan Tangkap Kerapu, Preliminary Study Menuju Implementasi
Ecosystem Approach For Fisheries Management Di Kepulauan Spermonde
Kota Makassar. Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan Dan Perikanan, 9(2), 233-
246. Link

32. Mulyaningsih, A., Sahami, F. M., & Hamzah, S. N. (2015). Komposisi Dan
Kerapatan Jenis Serta Pola Penyebaran Lamun Di Perairan Teluk Tomini
Desa Wonggarasi Timur Kecamatan Wonggarasi Kabupaten Pohuwato.
Kim Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, 3(3).Link

33. Nainggolan, P. (2011). Distribusi Spasial Dan Pengelolaan Lamun (Seagrass)


Di Teluk Bakau, Kepulauan Riau. Link

34. Nurudin, F. A., Martuti, N. K. T., & Irsadi, A. (2013). Keanekaragaman Jenis
Ikan Di Sungai Sekonyer Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan
Tengah. Life Science, 2(2). Link

35. Parawansa, I. (2007). Pengembangan Kebijakan Pembangunan Daerah Dalam


Pengelolaan Hutan Mangrove Di Teluk Jakarta Secara Berkelanjutan.Link

36. Pramunindyo, H. (2012). Strategi Pengoptimalan Unit Penangkapan Bagan


Perahu Di Ppn Karangantu, Banten.Link

37. Pratiwi, N. T., Adiwilaga, E. M., Basmi, J., Krisanti, M., & Hadijah, O. (2007).
Status Limnologis Situ Cilala Mengacu Pada Kondisi Parameter Fisika,
Kimia, Dan Biologi Perairan. Journal Of Fisheries Sciences, 9(1), 82-94.
Link

38. Prihatini, T. R. (2003). Pemodelan Dinamika Spasial Bagi Pemanfaatan


Sumberdaya Alam Pesisir Yang Berkelanjutan Studi Kasus: Konversi
Lahan Mangrove Menjadi Pertambakan Udang Di Delta Mahakam,
Kalimantan Timur.Link
32

39. Puspasari, R., Wudianto, W., & Faizah, R. (2014). Penerapan Eafm Dalam
Pengelolaan Perikanan Malalugis (Decapterus Macarellus) Di Perairan Laut
Sulawesi. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, 6(1), 29-36.Link

40. Putri, L. F., & Manoy, J. T. (2013). Identifikasi Kemampuan Matematika Siswa
Dalam Memecahkan Masalah Aljabar Di Kelas Viii Berdasarkan
Taksonomi Solo. Jurnal Mathedunesa, 2(1), 1-8.Link

41. Saputra, H. M., Marusin, N., & Santoso, P. (2013). Struktur Histologis Insang
Dan Kadar Hemoglobin Ikan Asang (Osteochilus Hasseltii Cv) Di Danau
Singkarak Dan Maninjau, Sumatera Barat. Jurnal Biologi Universitas
Andalas, 2(2).Link

42. Saputra, S. W., Sukimin, S., Boer, M., Affandi, R., & Monintja, D. R. (2016).
Dinamika Populasi Udang Jari (Metapenaeus Elegans De Man 1907) Di
Laguna Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan
Dan Perikanan Indonesia, 12(1), 51-58.Link

43. Saribun, D. S. (2007). Pengaruh Jenis Penggunaan Lahan Dan Kelas


Kemiringan Lereng Terhadap Bobot Isi, Porositas Total, Dan Kadar Air
Tanah Pada Sub-Das Cikapundung Hulu. Abstrak. Link

44. Satrya, C., Yusuf, M., Shidqi, M., Subhan, B., & Arafat, D. (2017). Keragaman
Lamun Di Teluk Banten, Provinsi Banten. Jurnal Teknologi Perikanan Dan
Kelautan, 3(2), 29-34.Link

45. Selvia, M., Holilulloh, H., & Adha, M. M. (2014). Persepsi Masyarakat
Pendatang Terhadap Kearifan Lokal Di Lampung Barat Tahun 2013. Jurnal
Kultur Demokrasi, 2(5). Link

46. Sudarman, A. (2011). Teori Ekonomi Mikro.Link

47. Sudiarsa, I. N. (2012). Analisis Struktur Komunitas Dan Produktivitas Lamun


Di Perairan Pulau Lima Kelapa, Teluk Banten (Doctoral Dissertation,
Universitas Terbuka).Link

48. Sudiono, G. (2008). Analisis Pengelolaan Terumbu Karang Pada Kawasan


Konservasi Laut Daerah (Kkld) Pulau Randayan Dan Sekitarnya
Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat (Doctoral Dissertation,
Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro). Link

49. Susana, T. (2010). Tingkat Keasaman (Ph) Dan Oksigen Terlarut Sebagai
Indikator Kualitas Perairan Sekitar Muara Sungai Cisadane. Jurnal
Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti, 5(2), Pp-33. Link

50. Susilowati, I. (2013). Indonesian Fisheries Phenomena: Development,


Enhancement And Management. Journal Of Coastal Development, 3(2),
581-591.Link
33

51. Sutarno, S., & Setyawan, A. D. (2015). Genetic Diversity Of Local And
Exotic Cattle And Their Crossbreeding Impact On The Quality Of
Indonesian Cattle. Biodiversitas, 16(2). Link

52. Suwelo, I. S. (2016). Spesies Ikan Langka Dan Terancam Punah Perlu
Dilindungi Undang-Undang. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan Dan Perikanan
Indonesia, 12(2), 161-168. Link

53. Syamsiyatun, S. (2013). Filsafat, Etika, Dan Kearifan Lokal: Untuk


Konstruksi Moral Kebangsaan. Globethics. Net.Link

54. Tanto, T. A. (2009). Kinerja Ott Ps 1 Sebagai Alat Pengukur Pasang Surut Air
Laut Di Muara Binuangeun, Provinsi Banten. Link

55. Wijaya, H. K. (2009). Komunitas Perifiton Dan Fitoplankton Serta Parameter


Fisiska-Kimia Perairan Sebagai Penentu Kualitas Air Di Bagian Hulu
Sungai Cisadane, Jawa Barat.Link

56. Wiyanto, D. B., & Faiqoh, E. (2015). Analisis Vegetasi Dan Struktur Komunitas
Mangrove Di Teluk Benoa, Bali. Journal Of Marine And Aquatic Sciences,
1(1), 1-7.Link

57. Yayuk, R. (2006). Status Taksonomi Fauna Di Indonesia Dengan Tinjauan


Khusus Pada Collembola. Zoo Indonesia, 15(2).Link

58. Zulham, A. (2017). Perilaku Sosial Berinvestasi Dan Prospek Pengembangan


Perikanan Rakyat Di Wpp 714. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia,
8(2), 111-122.Link
34

Lampiran 1. Nilai kerapatan mangrove dan lamun

Kerapatan
No Ekosistem Spesies Hasil Pengamatan Ket
pengamatan lainnya
1 Mangrove A.marina 5 9* pohon
(ind/100m2)
A.marina 14 0* pancang
(ind/25m2)
A.marina 2 0* semai
(ind/m2)
2 Lamun Enhalus 11 25** -
acoroides
(ind/m2)
Thalassia 5 85** -
hemprichii
(ind/m2)
Halophila 30 0** -
ovalis
(ind/m2)
Ket : *) = (Humaidy, 2010)
**) = (Sudiarsa, 2012)
35

Lampiran 2. Pasang surut


Hari Tgl/Jam 06.00-11.00 12.00-17.00 18.00-23.00 24.00-05.00
ke (cm) (cm) (cm) (cm)
1 11 29,9 29,7 13,1 11,1
2 12 28,5 17,8 15 12,9
3 13 21,7 16,8 15,1 14,2
4 14 18,5 15,2 14,8 13,8
5 15 22,2 17,3 14,5 15,2
6 16 14,6 16,1 14,8 13,8
7 17 12,5 11,1 14,4 15,7
8 18 13,3 11,6 15,5 14,7
9 19 13,4 11,6 15,5 15
10 20 13,3 11,5 15,5 14,8
11 21 15,6 11,4 15,5 14,8
12 22 15,6 15,5 15,5 14,8
13 23 18,5 15,2 15,5 14,8
14 24 20,7 19,1 15,5 14,8
15 25 18,5 10,5 15,5 14,8
16 26 18,5 15,2 15,5 15,1
17 27 18,5 15,2 15,3 14,8
18 28 15,6 15,5 15,5 14,8
19 1 26 29,7 15,5 15
20 2 23,7 17,4 15,5 15
21 3 29,9 29,7 15,5 15
22 4 21,7 16,3 15,5 15
23 5 23,7 17,4 15,5 15
24 6 22,4 28,5 15,5 15
25 7 28,5 17,8 15,5 15
26 8 21,7 16,3 15,5 15
27 9 23,7 17,4 15,5 15
28 10 24,7 17,4 15,5 15
29 11 23,7 17,4 15,5 15
36

Lampiran 3. Parameter biologi


Wil.
Stasiun H' C E
Pengamatan
1 2,68 0,08 0,91
2 1,79 0,22 0,86
3 2,08 0,14 0,95
Teluk Banten 4 1,60 0,27 0,82
5 0,20 0,90 0,29
6 1,31 0,28 0,95
7 1,96 0,16 0,94
1 1,87 0,16 0,96
2 2,21 0,22 0,96
Sungai Cengkok
3 1,23 0,70 0,89
4 1,73 0,40 0,89
1 1,93 0,16 0,92
Sungai Cibanten 2 0,78 0,65 0,48
3 1,09 0,34 0,99
37

Alkalinitas CO2 Salinitas Kuat Kecerah


Lokasi Stasiun pH arus Suhu
(mg/L) (ppm) (ppt) an (m)
(m/s)
1 35,48 0 4 31 0,17 29 0,65

2 28,22 0 5 30 0,05 27 0,25

3 23,18 0 5 30 0,04 29 0,95

Teluk Banten 4 23,18 0 5 31 0,15 29 1,85

5 15,01 0 5 30 0,08 28,5 2,2

6 30,24 0 5 30 0,02 29 4,31

7 20,16 0 5 30 0,07 28 3,39

1 35,28 19,98 5 30 0,03 31 0,17

Sungai Cibanten 2 32,3 11,9 5 18 0,02 31 0,45

3 31,25 19,9 5 4 0,14 29 0,105

1 17,19 15,98 5 0 0,22 28 0,21

2 27,22 15,98 4,5 0 0,18 29 0,15


Sungai Cengkok
3 19,15 11,98 5 0 0,21 27 0,08

4 21,17 11,98 5 0 0,17 29 0,08


38

Lampiran 5. Ekonomi masyarakat


No Nama Pendapatan Pengeluaran UMR Kota Tabun Rasio SR
Lengkap /Bulan (Rp) /Bulan (Rp) Serang (Rp) gan perbandi
ngan
1 Rasta 2.530.000 2.500.000 2.866.595 Tidak 101,20 1,18
ada
2 Kaswad 2.300.000 3.000.000 2.866.595 Tidak 76,67 -30,43
ada
3 Siswanto 2.760.000 3.480.000 2.866.595 Tidak 79,31 -26,09
ada
4 Zunaidi 2.530.000 3.000.000 2.866.595 Tidak 84,33 -18,58
ada
5 Kuniran 2.530.000 2.400.000 2.866.595 Tidak 105,41 5,14
ada
6 Katman 2.760.000 2.250.000 2.866.595 Tidak 122,66 18,48
ada
7 Agus 2.800.000 3.770.000 2.866.595 Tidak 74,27 -34,64
Prianto ada
8 Usup 2.700.000 3.200.000 2.866.595 Tidak 84,37 -18,52
ada
9 Nurdin 4.000.000 5.000.000 2.866.595 Tidak 80 -25
ada
10 Ahmad 1.000.000 1.000.000 2.866.595 Tidak 100 0
Salim ada
11 Jayadi 4.500.000 3.500.000 2.866.595 Tidak 128,57 22,22
ada
12 Suhanda 2.400.000 1.800.000 2.866.595 Tidak 133,33 25
ada
13 Warca 1.000.000 1.000.000 2.866.595 Tidak 100 0
ada
14 Sofian 2.500.000 2.400.000 2.866.595 Tidak 104,16 4
ada
15 Warim 4.500.000 6.000.000 2.866.595 Tidak 75 -33,33
ada
16 Kadma 2.000.000 2.000.000 2.866.595 Ada 100 0
17 Warsono 2.100.000 2.900.000 2.866.595 Tidak 72,41 -38,09
ada
18 Asusar 1.500.000 2.000.000 2.866.595 Tidak 75 -33,33
ada
19 Widri 800.000 3.000.000 2.866.595 Tidak 26,66 -275
ada
20 H. 3.000.000 3.000.000 2.866.595 Ada 100 0
Chotang
Jumlah 2.510.500 2.860.000 91,17 -22,85


Ket : Rasio perbandingan : 100%

SR : Saving ratio

SR : 100%

39

Lampiran 6. Aset masyrakat

No Nama Anggota Aset Bantuan Jaminan Kejadian


Lengkap Keluarga Kepemilikan* Pemerintah Sosial Konflik
(orang)
1 Rasta 4 Kapal Ada Tidak ada Tidak ada
2 Kaswad 5 Kapal Ada Tidak ada Ada
3 Siswato 3 Kapal Ada Tidak ada Tidak ada
4 Zunaidi 4 Kapal Tidak ada Tidak ada Tidak ada
5 Kuniran 2 Kapal Tidak ada Tidak ada Tidak ada
6 Katman 4 Kapal Ada Ada Tidak ada
7 Agus Prianto 7 Kios Tidak ada Tidak ada Ada
8 Usup 2 Kapal Tidak ada Tidak ada Tidak ada
9 Nurdin 4 Kapal Ada Ada Ada
10 Ahmad 5 Kios dan Tidak ada Ada Ada
Salim Warung
11 Jayadi 5 Kios Tidak ada Ada Ada
12 Suhanda 6 Kapal Tidak ada Tidak ada Tidak ada
13 Warca 7 Kapal Tidak ada Tidak ada Ada
14 Sofian 6 Kapal Tidak ada Tidak ada Ada
15 Warim 5 Kapal Tidak ada Tidak ada Ada
16 Kadma 6 Kapal Tidak ada Tidak ada Ada
17 Warsono 5 Kapal Ada Tidak ada Ada
18 Asusar 4 Kapal Ada Tidak ada Tidak ada
19 Widri 4 Kapal Ada Ada Tidak ada
20 H. Chotang 3 Kapal Tidak ada Ada Tidak ada

Ket : *) Aset kepemilikan : Rumah, kapal, kios dan warung