You are on page 1of 1

BAB IV

PEMBAHASAN
Telah dirawat seorang pasien, Nn. LK, perempuan, umur 22 tahun di bagian saraf RSUD
Bangkinang pada tanggal 1 Maret 2017 dengan diagnosis klinik pada saat pasien masuk adalah
meningitis tuberkulosis stadium II. Diagnosis topik adalah leptomeningen. Diagnosis etiologi adalah
infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Berdasarkan anamnesis diketahui bahwa pasien datang dengan Nyeri kepala yang semakin
berat sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit. Nyeri kepala telah dirasakan sejak 5 bulan sebelum
masuk rumah sakit. Nyeri dirasakan dibelakang kepala, terasa seperti ditusuk-tusuk. Nyeri
bertambah saat pasien beraktivitas dan berkurang jika pasien beristirahat dan meminum obat
penghilang rasa nyeri. Demam 3 bulan yang lalu, hilang timbul, tidak tinggi, tidak menggigil,
berkeringat banyak, dan demam turun dengan mengkonsumsi obat penurun panas. Pasien
mengeluhkan mata juling sejak 3 bulan yang lalu. Penglihatan kabur dan ganda sejak 15 hari yang
lalu. Muntah ada dalam 15 hari terakhir, frekuensi 2-3 kali per hari, berisi apa yang dimakan,
banyaknya sekitar gelas. Kejang ada dalam 15 hari terakhir, 4 kali, seluruh tubuh, tidak sadar
saat kejang, dan pasien sadar setelah kejang. Saat kejang, mata mendelik ke atas, mulut tidak
berbuih. Pasien dirawat di Puskesmas selama lebih kurang 1 minggu sebelum dirujuk ke RSUD
Bangkinang, pasien dirujuk karena tidak ada perbaikan. Riwayat menderita TB milier sejak 3
bulan yang lalu dan telah mendapat obat paket TB, namun tidak selesai. Pasien memiliki riwayat
batuk-batuk lama sejak 3 tahun yang lalu, riwayat penurunan berat badan lebih dari 20 kg dalam 3
tahun ini. Ayah pasien memiliki riwayat batuk-batuk lama, namun tidak ada mengkonsumsi obat
paket. Pasien seorang karyawan swasta dengan aktivitas fisik ringan-sedang dan tidak merokok.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran pasien composmentis kooperatif dengan GCS
15 (E4M6V5). Terdapat ronki pada kedua apeks paru. Pada status neurologis, nervus kranialis baik,
namun didapatkan kaku kuduk positif, brudzinsky II positif, dan tanda kernig positif. Tanda-tanda
peningkatan TIK ada. Pupil isokor 4mm/4mm, reflek cahaya +/+, gerak bola mata terbatas ke
lateral, plika nasolabialis simetris, reflek muntah (+), motorik dan sensorik normal, serta reflek
fisiologis dan reflek patologi tidak ada kelainan.
Pada pasien ini dianjurkan untuk melakukan rontgen foto thorak dan lumbal pungsi. Rontgen
foto thorak dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya tanda-tanda infeksi TB pada paru dan

29