You are on page 1of 2

Hipotalamus terdiri dari sejumlah nukleus dengan berbagai fungsi yang sangat peka terhadap

steroid, glukokortikoid, glukosa dan suhu. Hipotalamus juga merupakan pusat kontrol otonom.
Salah satu di antara fungsi hipotalamus yang paling penting karena terhubung dengan sistem
syaraf dan kelenjar hipofisis adalah fungsi neuroendokrin yang berpengaruh terhadap sistem
saraf otonom sehingga dapat memelihara homeostasis tekanan darah, denyut jantung, suhu
tubuh dan perilaku konsumsi dan emosi.

Pituitary (kelenjar hipofisis)

Kelenjar Hipofisis (pituitary) disebut juga master of gland atau kelenjar pengendali
karena menghasilkan bermacam-macam hormon yang mengatur kegiatan kelenjar lainnya.
Kelenjar ini berbentuk bulat dan berukuran kecil, dengan diameter 1,3 cm. Hipofisis dibagi
menjadi hipofisis bagian anterior, bagian tengah (pars intermedia), dan bagian posterior. Pada
hipofisis lobus anterior akan menghasilkan hormone ACTH yang merangsang kelenjar adrenal
untuk mensekresikan glukokortikoid

Adrenal (Supra-renal)

Kelenjar adrenal yang juga dikenal sebagai kelenjar suprarenal adalah kelenjar
berbentuk segitiga yang terletak di atas ginjal. Kelenjar adrenal termasuk dalam kategori
kelenjar endokrin, kelenjar ini mengeluarkan kortikosteroid yang dilepaskan dari daerah
korteks kelenjar adrenal. Hormon kortikosteroid yang disekresikan oleh kelenjar adrenal
termasuk hormon hidrokortison dan kortisol. Hormon ini memainkan peran penting dalam
mengatur respon inflamasi tubuh. Kortisol juga mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan
karenanya dapat digunakan sebagai agen penekan kekebalan tubuh. Sekresi kedua hormon ini
dikendalikan oleh hormon adrenokortikotropik (ACTH) yang disekresikan oleh kelenjar
hipofisis.

Mekanisme HPA Axis

Pada keadaan perdarahan intraserebral yang terjadi di thalamus maka hipotalamus akan
mengeluarkan hormone CRH (Cortisol releasing Hormone) yang memicu Hipofisis anterior
untuk mensekresikan hormone ACTH yang menyebabkan kelenjar Adrenal (suprarenal) untuk
mensekresikan Kortisol yang bertujuan untuk mengurangi proses inflamasi yang terdapat pada
tubuh, hal ini terutama pada proses perdarahan intraserebral (PIS), tetapi kortisol ini
menyebabkan penurunan prostaglandin yang merupakan mukus pelindung pada lambung.

1
Penurunan prostaglandin inilah yang menyebabkan reaksi pelindung lapisan lambung menurun
dan menyebabkan terjadinya ulkus pada lambung yang ditandai adanya hematemesis.

Diagnosis

Perdarahan saluran cerna bagian atas dapat diketahui rnelalui ditemukannya darah segar
atau darah lama yang berwarna coklat hitam (coffee ground) pada aspirat yang diambil melalui
sonde nasogastrik. Kadang-kadang perdarahan awal ke dalam lambung berlangsung sangat
cepat dan timbul hematemesis dengan tanda-tanda syok hemoragik (gelisah, pucat, keringat
dingin, takhikardi dan hipotensi (Rochsismandoko, 1992).6,8

Adanya hematemesis menandakan adanya perdarahan dalam jumlah besar, biasanya


>1000 cc. Gejala hipotensi dan syok timbul bila kehilangan darah sekitar 1.5 liter atau 25%
dari volume darah total, dan ini terutama bila terjadinya secara akut akan timbul manifestasi
tinja berdarah (melena), diagnosis ditegakkan kadar hemoglobin dan hematokrit yang menurun
secara bertahap dan tes Guaiac yang positif terhadap bahan yang diperoleh melalui sonde
nasogastrik.

Pada kepustakaan diketahui bahwa Insiden dari hematemesis pada pasien-pasien stroke
menurut beberapa peneliti adalah sebagai berikut :

1. Doi dkk, Pada 47 kasus Stroke didapatkan 7 kasus (15%) kasus dengan cairan kopi pada
NGT (Hematemesis)
2. Segawa, pada tahun 1980 menemukan kasus perdarahan akut mukosa traktus
gastrointestinal pada 59 (92%) kasus dari 64 kasus stroke yang diperiksa
3. Yoshihara melaporkan terdapat 15-20% kasus hematemesis pada perdarahan
intraserebral.
4. Pada perdarahan intraserebral, perdarahan gastrointestinal sering terjadi pada hematom
di thalamus dan batang otak yang secara anatomis terletak disebelah proksimal dari
hipotalamus12.

Pada kasus ini ditemukan perdarahan intraserebral dengan volume 14,2cc pada
thalamus dan perdarahan intraventrikular dan pada perawatan hari ketiga, penderita
ditemukan Hematemesis berupa cairan berwarna hitam seperti kopi mengalir keluar dari
selang NGT, yang menandakan terdapat kelainan perdarahan gastrointestinal.