You are on page 1of 16

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Wilayah Pesisir Kota Kendari

Penelitian ini berlokasi di daerah pesisir Kota Kendari meliputi

daerah kerja Puskesmas Poasia, Puskesmas Abeli, Puskesmas Mata,

Puskesmas Kandai, Puskesmas Benu-benua. Luas wilayah pesisir Kota

Kendari sebesar 15,685 km2 atau 5,85% dari luas daratan Kota Kendari

(BPS, 2014).

Gambar

8. Peta Kota

Kendari

a. Puskes

m as Mata

Puskesmas Mata merupakan salah satu puskesmas di Kota

Kendari yang memiliki Sembilan wilayah kerja (Puskesmas Mata,

2016).

b. Puskesmas Benu-benua

45
46

Puskesmas Benu-benua memiliki wilayah kerja meliputi 3

kelurahan yaitu Kelurahan Tipulu, Kelurahan Puunggaloba, dan

Kelurahan Benu-benua.

c. Puskesmas Kandai

Puskesmas Kandai merupakan sebuah puskesmas perawatan

yang memiliki empat wilayah kerja yaitu kelurahan Gunung Jati,

Kelurahan Jati Mekar, Kelurahan Kandai, Kelurahan Kampung

Salo (Puskesmas Kandai, 2015).

d. Puskesmas Abeli
Puskesmas ini memiliki area kerja, yaitu Kelurahan

Nambo, Kelurahan Bungkutoko, Kelurahan Sambuli, Kelurahan

Todonggeu, Kelurahan Petoaha, Kelurahan Pudai, Kelurahan Talia,

Kelurahan Lapulu dan Kelurahan Poasia (Puskesmas Abeli, 2015).


e. Puskesmas Poasia

Puskesmas Poasia terletak di Kecamatan Poasia Kota

Kendari. wilayah kerja Puskesmas Poasia yaitu Kelurahan

Anduonohu, Rahandouna, Anggoeya dan Matabubu luas 300 Ha

(Puskesmas Poasia, 2015).

2. Laboratorium Riset Biologi Molekular FK UHO


47

Laboratorium Biokimia dan Biomolekuler berlokasi di lantai tiga

gedung laboratorium terpadu FK UHO merupakan tempat dilakukannya

isolasi DNA , amplifikasi DNA, restriksi dan eletroforesis.

Gambar 9. Laboratorium Riset Biomolekuler FK UHO

3. Laboratorium Klinik Maxima

Laboratorium klinik maxima yang berlokasi Jalan Drs. Haji

Abdullah Silondae No. 17, Mandonga, Korumba, Mandonga, Kota

Kendari merupakan tempat dilakukannya pemeriksaan GDP.

Gambar 10. Laboratorium Klinik Maxima

B. Hasil dan Pembahasan


48

1. Distribusi Sampel Berdasarkan Karakteristik


Hasil penelitian yang dilakukan di daerah pesisir Kota Kendari

memperlihatkan distribusi karakteristik sampel berdasarkan umur, jenis

kelamin, dan kadar GDP yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 6. Distribusi Responden Berdasarkan Karakterstik

Kategori Responden
Total
Karakteristik Kasus Kontrol
n % n % n %

Umur
45 tahun 34 87.2 20 55.6 54 72.0
< 45 tahun 5 12.8 16 44.4 21 28.0
Jenis Kelamin
Laki-laki 9 23.1 8 22.2 17 22.7
Perempuan 30 76.9 28 77.8 58 77.3
IMT
Tidak Normal 27 69.2 8 22.2 35 46.7
Normal 12 30.8 28 77.8 40 53.3
TG
Tidak Normal 18 46.2 10 27.8 28 37.3
Normal 21 53.8 26 72.2 47 62.7
Kadar GDP
126 mg/dl 29 74.4 0 0.0 29 38.7
< 126 mg/dl 10 25.6 36 100.0 46 61.3
Jumlah 39 100 36 100 75 100
(Sumber: Data Primer, 2016)
2. Distribusi Pasien DM tipe 2 berdasarkan Umur

Penelitian ini menggunakan jumlah sampel sebanyak 75 orang,

terdapat 39 orang sebagai sampel kasus dan 36 orang sebagai sampel

kontrol. Terdapat 54 orang (72,0%) dengan usia 45 tahun, jumlah

sampel kasus sebanyak 34 orang (87,2%) dan kontrol sebanyak 20 orang

(55,6%). Usia < 45 tahun berjumlah 21 orang (28,0%) dengan sampel

kasus sebanyak 5 orang (12,8%) dan kontrol 16 orang (44,4%).

Tabel 7. Distribusi Pasien DM tipe-2 berdasarkan Umur


49

Umur Jumlah Persentase


30-40 3 7,0%
41-50 10 26%

51-60 14 36%

61-69 12 31%

39 100%
Total Jumlah

Distribusi umur
40%
0.36
35%
0.31
30%
0.26
25% Distribusi umur
20%
15%
10% 0.07
5%
0%
30-40 41-50 51-60 61-69

Distribusi umur pasien DM tipe-2 yang dikelompokkan berdasarkan

rentang umur 10 tahun yang dapat dilihat dari table berikut :


50

Gambar 11. Diagram pasien Diabetes Melitus tipe 2


berdasarkan umur

Berdasarkan data pada tabel 7, didapatkan hasil bahwa pasien

dalam rentangan umur 30-40 tahun berjumlah 3 orang (7%), 41-50 tahun

berjumlah 10 orang (26%), 51-60 tahun berjumlah 14 orang (36%), dan

rentangan pada umur 61-69 tahun berjumlah 12 orang (31%). Hal ini

menunjukkan bahwa pasien DM tipe-2 ini paling banyak diderita pada

umur dengan rentang 41-69 tahun. Kelompok umur ini merupakan

kelompok umur yang berisiko tinggi menderita DM tipe 2 dimana

menurut konsensus pengelolaan DM tipe 2 di Indonesia kelompok umur

berisiko tinggi menderita DM tipe 2 adalah kelompok umur 45 tahun ke

atas.

Diabetes melitus pada pasien 45 tahun ke atas umumnya adalah

DM tipe 2. Prevalensi DM tipe 2 makin meningkat seiring dengan

pertambahan usia. Beberapa ahli berpendapat bahwa dengan

meningkatnya umur, intoleransi terhadap glukosa meningakat. Oleh

karena itu, pada kelompok usia lanjut diperlukan batas glukosa darah

yang lebih tinggi daripada batas yang diapakai untuk menegakkan

diagnosis DM pada orang dewasa non usia intoleransi glukosa pada usia

berkaitan dengan obesitas, aktivitas yang berkurang, kurangnya massa

otot, penyakit penyerta, penggunaan obat-obatan disamping karena


51

kelompok usia lanjut terjadi penurunan sekresi insulin dan terjadinya

resistensi insulin.

3. Distribusi Pasien DM tipe 2 berdasarkan Jenis Kelamin

Distribusi sampel berdasarkan karakteristik jenis kelamin, terdapat

17 orang (22,7%) dengan jenis kelamin laki-laki, jumlah sampel kasus

sebanyak 9 orang (23,1%) dan kontrol sebanyak 8 orang (22,2%). Jenis

kelamin perempuan berjumlah 58 orang (77,3%) dengan sampel kasus

sebanyak 30 orang (76,9%) dan kontrol sebanyak 28 orang (77,8%).

Tabel 8. Distribusi Pasien DM tipe 2 berdasarkan


Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Presentase
Laki-laki 9 23%
Perempuan 30 77%
Total 39 100%
(Sumber: Data Primer 2016)

Distribusi Jenis Kelamin


90%
80% 77%
70%
60%
50% Distribusi Jenis Kelamin
40% 33%
30%
20%
10%
0%
Laki-Laki Perempuan

Gambar 12. Diagram pasien Diabetes melitus tipe-2


berdasarkan jenis kelamin
52

Dari hasil distribusi berdasarkan jenis kelamin didapatkan hasil

bahwa pasien yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 9 orang (33%)

dan pasien berjenis kelamin perempuan berjumlah 30 orang (77%).

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa distribusi jumlah pasien DM

tipe 2 dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak diandingkan pasien

DM tipe 2 berjenis kelamin laki-laki.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan yang

menunjukkan hasil bahwa pada DM tipe 2 lebih banyak diderita oleh

perempuan (57,04%) dibandingkan laki-laki yaitu sekitar 42,96%.

(Kohar, 2009).

Perempuan lebih berpotensi menderita DM dikarenakan pengaruh

dari hormon-hormon yang disekresi dari ovarium, yaitu progesteron dan

estrogen. Hormon-hormon ini secara langsung dapat meningkatkan

insulin atau yang dapat memperkuat rangsangan glukosa terhadap sekresi

insulin. Efek perangsangan dari hormon ini dalam jumlah besar dapat

menyebabkan sel-sel beta pulau Langerhans menjadi kelelahan dan

akibatnya timbul diabetes (Guyton & Hall, 1997).

Prevalensi kejadian DM tipe 2 global untuk jenis kelamin laki-laki

dan perempuan hampir sama. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki

potensi yang sama besar menderita DM tipe 2.


53

4. Distribusi Pasien DM tipe 2 berdasarkan IMT

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan bahwa jumlah sampel kasus

yang memiliki IMT tidak normal sebanyak 27 orang (69,2%) dan normal

sebanyak 12 orang (30,8%). Jumlah sampel kontrol yang memiliki IMT

tidak normal sebanyak 8 orang (22,2%) dan normal sebanyak 28 orang

(77,8%).

Peningkatan indeks massa tubuh merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi timbulnya penyakit DM Tipe 2. Timbunan lemak yang

berlebihan di dalam tubuh dapat mengakibatkan resistensi insulin yang

berpengaruh terhadap kadar gula darah penderita diabetes mellitus

(Waspadji, 2004). Peningkatan IMT menyebabkan timbunan lemak bebas

yang tinggi dan dapat menyebabkan meningkatnya up take sel terhadap

asam lemak bebas dan memacu oksidasi lemak yang pada akhirnya akan

menghambat penggunaan glukosa dalam otot (Mc.Wright, 2008).

Menurut Dadamo (2008) orang yang mengalami kelebihan berat

badan, kadar leptin dalam tubuh akan meningkat. Leptin adalah hormon

yang berhubungan dengan gen obesitas. Leptin berperan dalam

hipotalamus untuk mengatur tingkat lemak tubuh, kemampuan untuk

membakar lemak menjadi energi, dan rasa kenyang. Kadar leptin dalam

plasma meningkat dengan meningkatnya berat badan. Leptin bekerja

pada sistem saraf perifer dan pusat. Peran leptin terhadap terjadinya

resistensi yaitu dengan cara menghambat fosforilasi insulin receptor


54

substrate-1 (IRS) yang akibatnya dapat menghambat ambilan glukosa.

Sehingga mengalami peningkatan kadar gula dalam darah.

5. Distribusi Pasien DM tipe 2 berdasarkan Kadar Trigliserida

Berdasarkan tabel diatas, meunujukkan bahwa jumlah sampel kasus

yang memiliki kadar trigliserida tidak normal berjumlah 18 orang

(46,2%) dan yang memiliki kadar normal berjumlah 21 orang (53,8%).

Adapun jumlah sampel kontrol yang memiliki kadar trigliserida yang

tidak normal berjumlah 10 orang (27,8%) sedangkan yang memilii kadar

TG yang normal berjumlah 26 orang (72,2%).

Data yang mendukung adanya hubungan antara resistensi insulin,

diabetik dislipidemia, insulin dengan kadar TG plasma menunjukkan

peningkatan kadar TG berkorlasi terhadap kejadian resistensi insulin

sejumlah besar subjek yang diteliti selama beberapa tahun di Universitas

Stanford.

Mekanisme yang menjelaskan hubungan antara kadar glukosa dalam

darah dengan kadar TG yaiu pada DM tipe 2 dimana telah terjadi

resistensi insulin akan meningkatkan pemakaian metabolisme dari lemak.

Pemecahan lemak yang digunakan untuk menyediakan energy meningkat

secara signifikan. Akibat dari peningkatan metabolisme lemak dan

berkurangnya insulin proses lipolisis dari cadangan lemak dalam tubuh

meningkat sehingga terjadi peningkatan asam lemak bebas dalam tubuh

yang cukup tinggi. Berkurangnya insulin menyebabkan semua efek

insulin yang berperan dalam proses penyimpanan lemak menjadi


55

berbalik. Efek yang paling adalah enzim LPL yang terdapat di dalam sel-

sel lemak akan menjadi sangat aktif. Keadaan ini menyebabkan hidrolisis

trigliserida sehingga melepaskan asam lemak bebas dan gliserol dalam

jumlah yang tinggi yang akan berakibat pada tingginya konsentrasi asam

lemak bebas dalam darah.

6. Distribusi Pasien DM tipe 2 berdasarkan Kadar GDP

Distribusi sampel berdasarkan karateristik kadar GDP, terdapat 29

orang (38,7%) dengan kadar GDP 126 mg/dl, jumlah sampel kasus

sebanyak 29 orang (74,4%) dan kontrol tidak ada. Untuk kadar GDP <

126 mg/dl sebanyak 46 orang (61,3%), jumlah sampel kasus sebanyak 10

orang (25,6%) dan kontrol sebanyak 36 orang (100%).

7. Polimorfisme gen LPL pada pasien DM tipe-2 di daerah pesisir Kota

Kendari
Pada penelitian ini tidak dapat diinterpretasikan untuk menetukan

frekuensi genotip serta ada tidaknya polimorfisme gen LPL.

Gambar

13.

Hasil Elektroforesis Produk Isolasi DNA

Berdasarkan gambar 13 hasil elektroforesis menunjukkan bahwa

produk hasil isolasi sampel K11, M2, K9, BB22, BB14, P2, P4, M10
56

mengandung DNA yang dibuktikan dengan adanya band yang muncul

dan DNA Ladder yang digunakan tefragmen dengan baik.

Gambar 14. Hasil Elektroforesis Produk PCR


Optimasi Suhu dengan Sybr green

Gambar di atas, menujukkan tampilan hasil produk PCR optimasi

suhu S1 (60C), S3 (60C), S5 (60C), S7 (60C), S9 (60C), S11 (60C)

S12 (60C). Terlihat sampel S3 berpendar, tidak tegas, dan bukan

merupakan hasil yang diharapkan. DNA Ladder yang digunakan tidak

terlihat jelas dan tidak terfragmen dengan baik.

Gambar 15. Hasil Elektroforesis Produk PCR


Optimasi Suhu dengan Ethidium Bromide
57

Berdasakan gambar 15, menujukkan tampilan hasil produk PCR

optimasi suhu S1 (61C), S2 (62,3C), S3 (64,3C), S4 (66,6C), S5

(68,8C), S6 (70,8C), dan S7 (71C). Terlihat sampel S6 hasil produk

optimasi PCR tidak menunjukkan hasil amplifikasi yang berada pada

kisaran 622 bp. DNA Ladder yang digunakan terfragmen dengan baik

meskipun belum berbatas tegas keseluruhannya.

Gambar 16. Hasil Eletroforesis Produk PCR


dengan Ethidium Bromide

Berdasarkan gambar diatas, menujukkan bahwa hasil produk PCR

tidak mengalami fragmentasi yang baik dikarenakan tidak munculnya

band yang diharapkan dan penampakan dari band yang mucul tidak

terlihat jelas.

Gambar 17. Hasil Elektroforesis PCR dengan NPC dan NTC


58

Berdasarkan gambar 17, peneliti menyimpulkan bahwa

kemungkinan telah terjadi kontaminasi pada stok primer yang

menyebabkan gambaran elektroforesis tidak akan menghasilkan produk

yang sesuai dengan harapan peneliti yang ditandai dengan terlihat

gambaran band pada sumur yang diisi oleh No Template Control (NTC)

namun tidak dengan No Primer Control (NPC) yang seharusnya tidak

tampak band pada salah satu maupun keduanya. Terbentuknya band pada

NTC menandakan ada kontaminasi pada reagent, DNA, maupun primer.

Perubahan sequence DNA gen LPL dimana terjadi perubahan basa

dari GG menjadi GC atau CC akan menimbulkan perubahan struktur

pada enzim LPL dan dimerisasi yang menyebabkan aktivitas katalitik

LPL akan terganggu. Lipoprotein lipase berperan dalam menghidrolisis

lipoprotein yang kaya TG seperti VLDL dan kilomiron. Peningkatan

VLDL dan kilomikron yang kaya TG dalam waktu yang lama akan

menimbulkan defek ada produksi insulin sehingga dapat berpotensi

menimbulkan DM tipe 2 (Marshall, 1999).

Walaupun pada penelitian ini tidak didapatkan hasil yang dapat

menggambarkan ada tidaknya polimorfisme gen LPL dan bagaimana

frekuensi genotip pada pasien DM tipe 2, namun penelitian lain telah

banyak dilakukan pada beberapa Negara di berbagai belahan dunia.

Penelitian tentang polimorfisme gen LPL telah banyak diteliti di

berbagai Negara. Penelitian di Tiongkok menunjukkan polimorfisme H+

alel LPL T495G HindIII berkaitan dengan penyakit jantung koroner pada
59

785 subjek dimana sekitar 60% telah didiagnosis dengan diabetes tipe 2

onset dini (< 40 tahun), selain itu polimorfisme ini dikaitkan dengan

trigliserida plasma yang tinggi dan kadar HDL-kolesterol yang rendah.

Belakangan ini single nucleotide polymorphisms (SNPs) pada ujung 3

dari gen LPL ditemukan terkait dengan resistensi insulin pada etnis

Mexiko-Amerika yang diwariskan dalam kromosom yang sama

(haplotip). Satu haplotip dikaitkan dengan sensitivitas insulin dan yang

lain dengan resistensi insulin. Resistensi insulin merupakan penentu

patofisiologi diabetes tipe 2. Dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa

LPL mungkin suatu genetic link terhadap kejadian DM tipe 2 dan

aterosklerosis. Penelitian di Malaysia menyatakan bahwa polimorfisme

alel S447X tidak terkait dengan patogenesis terjadinya DM tipe 2

(Vasudevan et al, 2009). Sedangkan pada populsi di India terdapat varian

gen LPL yang diidentifikasi pada Single Nucleotide Polymorphism (SNP)

G53C menunjukkan polimorfisme yang terjadi sebagai faktor protektif

(Radha et al, 2007).

C. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini tidak terlepas dari berbagai kelemahan mengingat adanya

keterbatasan dan hambatan selama proses penelitian ini berlangsung, yaitu:

1. Adanya kontaminasi pada alat penelitian


Instrumen pH meter adalah peralatan laboratorium yang digunakan

untuk menentukan pH atau tingkat keasaman dari suatu larutan yang jika

terdapat kontaminan di dalamnya akan mempengaruhi hasil penelitian


60

(Beran, 1996). Potensial Hydrogen meter dijaga akurasinya serta untuk

meminimalkan dari kontaminasi perlu dilakukan kalibrasi dan

pembersihan.
Salah satu kemungkinan yang menyebabkan penilitian ini tidak

dapat diinterpretasikan karena adanya kontaminasi pada alat pH meter.

Dalam penelitian mengenai Gen/DNA sterilisasi alat sangat penting

dilakukan. Sayangnya apabila pH meter disterilisasi akan mengakibatkan

detektor pH meter rusak sehingga tidak dapat digunakan.


Untuk itu solusi yang dapat dilakukan apabila peneliti lain ingin

melanjutkan penelitian ini, yaitu dengan menggunakan pH meter yang

khusus dalam proses PCR jadi tidak tercampur dengan penilitian seperti

mengenai bakteri, virusa, dll. Selain itu, dapat juga digunakan primer yang

di dalamnya telah terisi larutan buffer agar kita tidak perlu lagi membuat

larutan buffer sehingga kemungkinan kontaminasi dapat diperkecil.


2. Sulitnya dalam mendapatkan sampel.
3. Keterbatasan dalam bahan dan alat yang digunakan sehingga kebanyakan

diperoleh dari luar Kota Kendari dan menghambat dalam proses

pengerjaan.
4. Jumlah variabel yang diteliti masih kurang karena adanya keterbatasan

biaya, waktu, dan tenaga.