You are on page 1of 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hematemesis melena adalah suatu kondisi di mana pasien
mengalami muntah darah yang disertai dengan buang air besar (BAB)
berdarah dan berwarna hitam. Hematemesis melena merupakan suatu
perdarahan yang terjadi pada saluran cerna bagian atas (SCBA) dan
merupakan keadaan gawat darurat yang sering dijumpai di tiap rumah
sakit di seluruh dunia termasuk Indonesia. Pendarahan dapat terjadi karena
pecahnya varises esofagus, gastritis erosif atau ulkus peptikum.
86 % dari angka kematian akibat pendarahan SCBA di Bagian
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) berasal dari pecahnya varises
esophagus akibat penyakit sirosis.
Di Indonesia sebagian besar (70-85%) hemetemesis disebabkan
oleh pecahnya varises esofagus yang terjadi pada pasien sirosis hati
sehingga prognosisnya tergantung dari penyakit yang mendasarinya.
Perdarahan akibat sirosis hati disebabkan oleh gangguan fungsi hati
penderita, alkohol, obat-obatan, virus hepatitis dan penyakit bilier.
Pendarahan SCBA dapat bermanifestasi sebagai hematemesis, malena,
atau keduanya.
Walaupun perdarahan akan berhenti dengan sendirinya, tetapi
sebaiknya setiap pendarahan saluran cerna dianggap sebagi suatu keaadaan
serius yangs setiap saat dapat membahayakan pasien. Setiap pasien dengan
pendarahan harus dirawat di rumah sakit tanpa kecuali, walaupun
pendarahan dapat berhenti secara spontan. Hal ini harus ditanggulangi
secara saksama dan dengan optimal untuk mencegah pendarahan lebih
banyak, syok hemoragik, dan akibat lain.

1
1.2 Tujuan
Tujuan Khusus
Agar mahasiswa mampu memahami materi tentang konsep hamatemesis
melena.
Tujuan Umum
A Konsep materi
1) Apa definisi dari hematemesis melena?
2) Apa etiologi dari hematemesis melena?
3) Bagaimana gambaran klinis dari hematemesis melena?
4) Bagaimana patofisiologis dari hematemesis melena?
5) Apa saja pemeriksaan penunjang untuk kasus hematemesis melena?
6) Apa saja penatalaksanaan dari kasus hematemesis melena?

B. Konsep Askep
1) Bagaimana pengkajian dari kasus hematemesis melena?
2) Apa diagnose yang dapat diambil dari kasus hematemesis melena?
3) Bagaimana perencanaan berdasarkan diagnose hematemesis melena?

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep teori
2.2.1 Definisi Hematesis melena
Hematemesis adalah muntah darah dan melena adalah pengeluaran
faeses atau tinja yang berwarna hitam seperti ter yang disebabkan oleh
adanya perdarahan saluran makan bagian atas. Warna hematemesis
tergantung pada lamanya hubungan atau kontak antara drah dengan asam
lambung dan besar kecilnya perdarahan, sehingga dapat berwarna seperti
kopi atau kemerah merahan dan bergumpal gumpal.
Biasanya terjadi hematemesis bila ada perdarahan di daerah
proksimal jejunun dan melena dapat terjadi tersendiri atau bersama-sama
dengan hematemesis. Paling sedikit terjadi perdarahan sebanyak 50-100
ml, baru dijumpai keadaan melena. Banyaknya darah yang keluar selama
hematemesis atau melena sulit dipakai sebagai patokan untuk menduga
besar kecilnya perdarahan saluran makan bagian atas. Hematemesis dan
melena merupakan suatu keadaan yang gawat dan memerlukan perawatan
segera di rumah sakit. Hematemesis adalah muntah darah dan biasanya
disebabkan oleh penyakit saluran cerna bagian atas. Melena adalah
keluarnya feses berwarna hitam per rektal yang mengandung campuran
darah, biasanya disebabkan oleh perdarahan usus proksimal (Grace &
Borley, 2007).
Hematemesis adalah muntah darah. Darah bisa dalam bentuk segar
(bekuan/gumpalan atau cairan berwarna merah cerah) atau berubah karena
enzim dan asam lambung, menjadi kecoklatan dan berbentuk seperti
butiran kopi. Memuntahkan sedikit darah dengan warna yang telah
berubah adalah gambaran nonspesifik dari muntah berulang dan tidak
selalu menandakan perdarahan saluran pencernaan atas yang signifikan.
Melena adalah keluarnya tinja yang lengket dan hitam seperti aspal,
dengan bau yang khas, yang lengket dan menunjukkan perdarahan saluran
pencernaan atas serta dicernanya darah pada usus halus (Davey, 2005).

3
Hematemesis adalah dimuntahkannya darah dari mulut; darah
dapat berasal dari saluran cerna bagian atas atau darah dari luar yang
tertelan (epistaksis, hemoptisis, ekstraksi gigi, tonsilektomi). Tergantung
pada lamanya kontak dengan asam lambung, darah dapat berwarna merah,
coklat atau hitam. Biasanya tercampur sisa makanan dan bereaksi asam.
Melena adalah feses berwarna hitamseperti ter karena bercampur darah;
umumnya terjadi akibat perdarahan saluran cerna bagian atas yang lebih
dari 50-100 ml dan biasanya disertai hematemesis ( Purwadianto &
Sampurna, 2000).
Hematemesis melena adalah suatu kondisi di mana pasien
mengalami muntah darah yang disertai dengan buang air besar (BAB)
berdarah dan berwarna hitam. Hematemesis melena merupakan suatu
perdarahan yang terjadi pada saluran cerna bagian atas (SCBA) dan
merupakan keadaan gawat darurat yang sering dijumpai di tiap rumah
sakit di seluruh dunia termasuk Indonesia. Pendarahan dapat terjadi karena
pecahnya varises esofagus, gastritis erosif atau ulkus peptikum.
Hematemesis adalah muntah darah dan biasannya disebabkan oleh
penyakit saluran cerna bagian atas. Melena adalah keluarnya feses
berwarna hitam per rectal yang mengandung campuran darah, biasannya
disebabkan oleh perdarahan usus proksimal.

2.2.2 Etiologi Hematemesis melena


Penyebab perdarahan saluran cerna bagian atas seperti
hematemesis biasanya terjadi bila ada perdarahan di daerah proksimal
jejunum dan melena dapat terjadi tersendiri atau bersama-sama dengan
hematemesis. Paling sedikit terjadi perdarahan sebanyak 50-100 ml, baru
dijumpai keadaan melena. Banyaknya darah yang keluar selama
hematemesis atau melena sulit dipakai sebagai patokan untuk menduga
besar kecilnya perdarahan saluran cerna bagian atas. Perdarahan pada
saluran cerna bagian atas paling sering disebabkan oleh :

4
1) Kelainan Esofagus
a. Varises esofagus
Penderita dengan hematemesis melena yang disebabkan pecahnya
varises esofagus, tidak pernah mengeluh rasa nyeri atau pedih di
epigastrum. Pada umumnya sifat perdarahan timbul spontan dan masif.
Darah yang dimuntahkan berwarna kehitam-hitaman dan tidak membeku
karena sudah bercampur dengan asam lambung.
b. Karsinoma esophagus
Karsinoma esofagus sering memberikan keluhan melena daripada
hematemesis. Disamping mengeluh disfagia, badan mengurus dan anemis,
hanya sesekali penderita muntah darah dan itupun tidak masif. Pada
pemeriksaan endoskopi jelas terlihat gmabaran karsinoma yang hampir
menutup esofagus dan mudah berdaharah yang terletak di sepertiga bawah
esofagus.
c. Sindroma Mallory-Weiss
Sebelum timbul hematemesis didahului muntahmuntah hebat
yang pada akhirnya baru timbul perdarahan, misalnya pada peminum
alkohol atau pada hamil muda. Biasanya disebabkan oleh karena terlalu
sering muntah-muntah hebat dan terus menerus. Bila penderita mengalami
disfagia kemungkinan disebabkan oleh karsinoma esofagus.
d. Esofagitis korosiva
Pada sebuah penelitian ditemukan seorang penderita wanita dan
seorang pria muntah darah setelah minum air keras untuk patri. Dari hasil
analisis air keras tersebut ternyata mengandung asam sitrat dan asam HCI,
yang bersifat korosif untuk mukosa mulut, esofagus dan lambung.
Disamping muntah darah penderita juga mengeluh rasa nyeri dan panas
seperti terbakar di mulut. Dada dan epigastrum.
e. Esofagitis dan tukak esofagus
Esofagitis bila sampai menimbulkan perdarahan lebih sering
bersifat intermittem atau kronis dan biasanya ringan, sehingga lebih sering
timbul melena daripada hematemesis. Tukak di esofagus jarang sekali

5
mengakibatkan perdarahan jika dibandingkan dengan tukak lambung dan
duodenum.
2) Kelainan Lambung
a. Gastritis erisova hemoragika
Hematemesis bersifat tidak masif dan timbul setelah penderita
minum obat-obatan yang menyebabkan iritasi lambung. Sebelum muntah
penderita mengeluh nyeri ulu hati. Perlu ditanyakan juga apakah penderita
sedang atau sering menggunakan obat rematik (NSAID + steroid) ataukah
sering minum alkohol atau jamu-jamuan.
b. Tukak lambung
Penderita mengalami dispepsi berupa mual, muntah, nyeri ulu hati
dan sebelum hematemesis didahului rasa nyeri atau pedih di epigastrum
yang berhubungan dengan makanan. Sesaat sebelum timbul hematemesis
karena rasa nyeri dan pedih dirasakan semakin hebat. Setelah muntah
darah rasa nyeri dan pedih berkurang. Sifat hematemesis tidak begitu
masif dan melena lebih dominan dari hematemesis.
c. Karsinoma lambung
Insidensi karsinoma lambung di negara kita tergolong sangat
jarang dan pada umumnya datang berobat sudah dalam fase lanjut, dan
sering mengeluh rasa pedih, nyeri di daerah ulu hati sering mengeluh
merasa lekas kenyang dan badan menjadi lemah. Lebih sering mengeluh
karena melena.
d. Leiomioma gaster
Perdarahan sedang, onset spontan.
e. Penyakit dieulafoy
Pada pasien muda, perdarahan spontan hebat, sulit didiagnosis.
Faktor Pencetus
a. Makanan yang merangsang, pedas, kasar,
b. Obat-obatan,
c. Kelelahan fisik,
d. Peningkatan asam lambung,
e. Over hidrasi.

6
2.2.3 Gambaran Klinis atau keluhan
Manifestasi Klinis yang dapat di temukan pada pasien hematemesis
melena adalah syok (frekuensi denyut jantung,suhu tubuh), penyakit hati
kronis (sirosis hepatis), dan koagulopati purpura serta memar, demam
ringan antara 38-39oC, nyeri pada lambung, hiperperistaltik, penurunan
Hb dan Ht yang tampak setelah beberapa jam, leukositosis dan
trombositosis pada 2-5 jam setelah perdarahan, dan peningkatan kadar
ureum darah setelah 24-48 jam akibat pemecahan protein darah oleh
bakteri usus (Purwadianto & Sampurna, 2000).
Gejala yang ada yaitu :
1) Muntah darah (hematemesis ),
2) Mengeluarkan tinja yang kehitaman (melena),
3) Mengeluarkan darah dari rectum (hematozkezia),
4) Denyut nadi cepat, Tekanan darah rendah,
5) Akral teraba dingin dan basah,
6) Nyeri perut,
7) Nafsu makan menurun,
8) Jika terjadi perdarahan yang berkepanjangan dapat
menyebabkan terjadinnya anemia, seperti mudah lelah, pucat
nyeri dada dan pusing.
2.2.4 Patofisiologis
Adanya riwayat dyspepsia memperberat dugaan ulkus peptikum.
Begitu juga riwayat muntah-muntah berulang yang awalnya tidak
berdarah, konsumsi alkohol yang berlebihan mengarahkan ke dugaan
gastritis serta penyakit ulkus peptikum. Adanya riwayat muntah-muntah
berulang yang awalnya tidak berdarah lebih kearah Mallory-Weiss.
Konsumsi alkohol berlebihan mengarahkan dugaan ke gastritis (30-40%),
penyakit ulkus peptikum (30-40%), atau kadang-kadang varises.
Penurunan berat badan mengarahkan dugaan ke keganasan. Perdarahan
yang berat disertai adanya bekuan dan pengobatan syok refrakter
meningkatkan kemungkinan varises. Adanya riwayat pembedahan aorta
abdominalis sebelumnya meningkatkan kemungkinan fistula aortoenterik.

7
Pada pasien usia muda dengan riwayat perdarahan saluran cerna bagian
atas singkat berulang (sering disertai kolaps hemodinamik) dan endoskopi
yang normal, harus dipertimbangkan lesi Dieulafoy (adanya arteri
submukosa, biasanya dekat jantung, yang dapat menyebabkan perdarahan
saluran pencernaan intermitten yang banyak) (Davey, 2005).

2.2.5 Komplikasi
1) Syok hipovolemik
Disebut juga dengan syok preload yang ditandai dengan volume
itravaskuler oleh karena perdarahan. Dapat terjadi karena kehilangan
cairan tubuh yang lain. Menurunnya volume intravaskuler
menyebabkan penurunan volume intraventrikel. Pada klien dengan
syok berat, volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari 30% dan
berlangsung selama 24 sampai 28 jam.
2) Gagal ginjal akut
Terjadi sebagai akibat syok yang tidak teratasi dengan baik. Untuk
mencegah gagal ginjal maka setelah syok, diobati dengan
menggantikan volume intravaskuler.
3) Penurunan kesadaran
Terjadi penurunan transportasi O2 ke otak sehingga terjadi penurunan
kesadaran.

8
4) Ensealopati
Terjadi akibat kerusakan fungsi hati di dalam menyaring toksin di
dalam darah. Racun tidak dibuang karena fungsi hati terganggu. Dan
suatu terjadi kelainan dimana fungsi otak mengalami kemunduran
akibat zat racun didalam darah, yang dalam keadaan normal dibuang
oleh hati.

2.2.6 Pemeriksaan penunjang


1) Pemeriksaan radiologi
Dilakukan dengan pemeriksaan double contrast pada lambung dan
duodenum. Pemeriksaan tersebut dilakukan pada berbagai posisi
terutama pada daerah 1/3 distal esophagus, kardia dan fundus lambung
untuk mencari ada atau tidaknya varises.
2) Pemeriksaan endoskopi
Dengan adanya macam tipe fiberendokop, maka pemeriksaan secara
endoskopi menjadi sangat penting untuk menentukan dengan tepat.
3) Pemeriksaan ultrasonografi dan scanning hati
Pemeriksaan dengan ultrasonografi atau scanning hati dapat
mendeteksi penyakit hati kronik seperti sirosis hati yang mungkin
sebagai penyebab perdarahan saluran makan bagian atas.
2.2.7 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medis
Pengobatan penderita perdarahan saluran makan bagaian atas harus
sedini mungkin dan sebaiknya dirawat dirumah sakit untuk mendapatkan
pengawasan yang teliti dan pertolongan yang lebih baik. Pengobatan penderita
perdarahan saluran makanan bagian atas meliputi :
1) Pengawasan dan pengobatan umum.
a. Tirah baring,
b. Diit makanan lunak,
c. Pemeriksaan Hb, setiap 6 jam pemberian tranfusi darah,
d. Pemberian tranfusi darah bila terjadi perdarahan yang luas
(hematemesis melena)

9
e. Infuse cair langsung dipasang untuk mencegah terjadinya
dehidrasi,
f. Pengawasan terhadap tekanan darah, nadi kesadaran penderita
dan bila perlu CVP monitor,
g. Pemeriksaan kadar hb dan Ht dilakukan untuk mengobati
keadaan perdarahan,
h. Tranfusi darah diperlukan untuk mengganti darah yang hilang
dan mempertahankan kadar hb 50 sampai dengan 70% normal.
i. Pemberian obat hemostatik seperti vitamin k, 4x10mg/hari
karbosokrom (adona AC), antasida dan golongan h2 reseptor
antagonis berguna untuk menanggulangi perdarahan.
j. Dilakukan klisma dengan air bias disertai pemberian
antibiotika yang tidak diserap oleh usus, sebagai tindakan
sterilisasi usus. tindakan ini dilakukan untuk mencegah
terjadinnya peningkatan produksi ammonia oleh bakteri usus.
Dan ini dapat menimbulkan ensealopati hepatic.
2) Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan radiologi dilakukan dengan pemeriksaan
esofagogram untuk daerah esophagus dan diteruskan dengan
pemeriksaan double contrast pada lambung dan duodenum.
Pemeriksaan tersebut dilakukan pada berbagai posisi terutama
pada daerah 1/3 distal, distal esophagus, kardia,dan fundus
lambung untuk mencari ada atau tidaknya varises.
2) Pemeriksaan endoskopi
Dengan adannya berbagai macam tipe fiberendoskopi, maka
pemeriksaan secara endoskopi menjadi sangat penting untuk
menentukan dengan tepat tempat asal dan sumber perdarahan.
Keuntungan lain dari pemeriksaan endoskopi adalah dapat
dilakukan pengambilan foto untuk dokumnetasi, aspirasi cairan
dan infuse untuk pemeriksaan sitopatologik. Pada perdarahan
saluran makan bagian atas yang sedang berlangsung.

10
Pemeriksaan endoskopi dapat dilakukan secara darurat atau
sendiri mungkin setelah hematemesis berhenti.
3) Pemeriksaan ultrasonografi
Dapat mendeteksi penyakit hati kronik seperti sirosis hati yang
mungkin sebagagai penyebab perdarahan saluran makan bagian
atas. Pemeriksaan ini memerlukan peralatan dan tenaga khusus
yang sampai sekarang hanya terdapat dikota besar saja.
2.2 Konsep Askep
2.2.1 Pengkajian
Asuhan keperawatan adalah suatu metode yang sistematik dan terorganisir
yang difokuskan pada reaksi atau respon manusia yang unikpada suatu
kelompok atau perorangan terhadap gangguan system kesehatan yang
dialami baik actual maupun potensial. Adapun pengkajian pada pasien
hematemesis melena antara lain :
1) Anamnesis
Indentitas klien meliputi nama, umur, (lebih sering ada
kelompok dewasa muda, antara 18-40 tahun), jenis kelamin(lebih
sering menyerang wanita dibandingkan dengan pria), pendidikan,
alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah
sakit, nomor register, dan diagnosis medis.
Keluhan utama yang diderita pasien adalah muntah darah atau berak
darah yang dating secara tiba tiba.

a. Riwayat penyakit sekarang


Pasien muntah darah atau berak darah secara tiba tiba.
b. Riwayat penyakit dahulu
Biasannya pasien mempunyai riwayat penyakit hepatitis kronis,
sirosis hepatitis,hepatoma, ulkus peptikum, kanker saluran cerna
bagian atas, riwayat penyakit darah ( missal : DM), riwayat
gangguan obatulserorgenik, gaya hidup (alkoholisme, dan gaya
hidup).
c. Riwayat kesehatan keluarga

11
Apabila salah satu anggota mempunyai kebiasaan makan yang
buruk maka dapat memicu terjadinya hematemesis melena, maka
dapat mempengaruhi anggota keluarga yang lain.
2) Pola Aktifitas
Gangguan aktivitas atau kebutuhan istirahat, kekurangan protein
(hydroprotein) yang dapat menyebabkan keluhan subjektif pada pasien
berupa kelemahan otot dan kelelahan, sehingga aktivitas sehari-hari
termasuk pekerjaan harus dibatasi atau harus berhenti bekerja .
Gejala : kelemahan, kelelahan, kebutuhan untuk tidur dan istirahat
lebih banyak
3) Pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat biasannya klien
mempunyai kebiasaan alkoholisme, penggunaan obat ulserogenik.
b. Pola nutrisi dan metabolisme terjadi perubahan karena adannya
keluhan pasien berupa mual, muntah, kembung dan nafsu makan
menurun, intake nutrisi dalam bentuk makanan yang lunak untuk
dapat dicerna.
4) Pola eliminasi
Pola eliminasi mengalami gangguan,baik BAK maupun BAB. Pda
BAB terjadi konstipasi atau diare. Perubahan warna feses menjadi
hitam seperti petis, konsistensi pekat. Sedangkan pada BAK, warna
gelap dan konsistensi pekat.
5) Pola tidur dan istirahat
Terjadi perubahan tentang gambaran dirinya seperti badan menjadi
kurus, perut membesar karena ascites dan kulit mengering, bersisik
agak kehitaman.
6) Pola hubungan dan peran
Dengan adanya perawatan yang lama maka akan terjadi hambatan
dalam menjalankan perannya seperti semula.
7) Pola reproduksi seksual
Akan terjadi perbahan karena ketidakseimbangan hormon, androgen
dan estrogen, bila terjadi pada lelaki (suami) dapat menyebabkan

12
penurunan libido dan impoten, bila terjadi pada wanita (istri)
menyebabkan gangguan pada siklus haid atau dapat terjadi aminore
dan hal ini tentu saja mempengaruhi pasien sebagai pasangan suami
dan istri.
8) Pola penanggulangan stress
Biasanya kx dengan koping stres yang baik, maka dapat mengatasi
masalahnya namun sebaliknya bagi kx yang tidak bagus kopingnya
maka kx dapat destruktif lingkungan sekitarnya.
9) Pola tata nilai dan kepercayaan
Pada pola ini tidak terjadi gangguan pada klien.

2.2.2 Diagnosa keperawatan


Diagnosa keperawatan adalah mengombinasikan dari tanda dan
gejala yang memperlihatkan masalah kesehatan actual maupun potensial
dan perawat berdasrkan pendidikan dan pengalamannya mampu diakui,
diizinkan dan bertanggung gugat untuk mengatasinya, menurut Marilynn
E. doenges terdapat 6 diagnosa keperawatan pada pasien hamatemesis
melena antara lain :Devisit cairan berhubungan dengan kehilangan darah
akut,
1. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang tidak adekuat,
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iritasi
mukosa gaster,
3. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan,
4. Resiko tinggi terhadap kerusakan perfusi jaringan berhubungan
dengan hipovolemia,
5. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya
informasi.

13
2.2.3 Perecanaan Keperawatan
Adapun perencanaaan yang dibuat pada klien dengan hematemesis
melena adalah sebagai berikut :
1. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh
berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Tujuan : Setelah
dilakukan
tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan, kebutuhan
nutrisi dapat
diatasi. Kriteria hasil : mual hilang, muntah tidak ada, nafsu makan
meningkat, peningkatan BB meningkat.
Rencana Tindakan :
a) Timbang BB setiap hari.
Rasional : memberikan informasi tentang kebutuhan diet /
keefektifan therapy.
b) Berikan makanan dalm porsi kecil tapi sering.
Rasional : buruknya toleransi terhadap makanan banyak
mungkin berhubungna dengan peningkatan tekanan intra
abdomen.
c) Bantu pasien dan dorong pasien untuk makan.
Rasional : diet yang tepat untuk penyembuhan,mungkin lebih
baik keluarga terlibat ketika pasien makan.
d) Awasi pemasukan diet.
Rasional : memberikan informasi tentang kebutuhan
pemasukan defisiensi.
e) Kolaborasikan dengan ahli gizi dan dokter mengenai obat
antiemetic.
Rasional : membantu mengkaji kebutuhan nutrisi pasien dalam
perubahan pencernaaan dan fungi usus, anti emetic mengatasi
mual.
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iritan mukosa
gaster.

14
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,
diharapkan nyeri dapat berkurang / hilang. Kriteria hasil : klien
menunjukkan postur tubuh rileks, dan mampu tidur atau istirahat
dengan tepat.
Rencana Tindakan :
a) Catat keluhan nyeri, termasuk lokasi, lamanya, intensitas
(skala 0-10).
Rasional : nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus
dibandingkan dengan gejala nyeri pasien sebelumnya
dimana dapat membantu mendiagnosa etiologi perdarahan
dan terjadinya komplikasi.
b) Kaji ulang faktor yang meningkatkan atau menurunkan
nyeri.
Rasional : membantu dalam membuat diagnosa dan
kebutuhan therapy.
c) Bantu latihan rentang gerak akti / pasif.
Rasional : menurunkan kekakuan sendi, meminimalkan
nyeri atau ketidaknyamanan. d) Kolaborasikan dengan tim
dalam pemberian obat sesuai indikasi, mis : antasida.
Rasional : menurunkan keasaman gaster dengan absorpsi
atau dengan menetralisir kimia.
3. Kecemasan berhubungan dengan perubahan proses kesehatan.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,
diharapkan
kecemasan dapat tertasi ( pasien tenang). Kriteria Hasil : klien
dapat
menyatakan rentang perasaan yang tepat, menunjukkan rileks dan
laporan
ansietas menurun.
Rencana tindakan :

15
a) Awasi respons fisiologis, misal : takipneu, palpitasi, pusing,
sakit kepala, sensasi kesemutan.
Rasional : dapat menjadi indikatif derajat takut yang dialami
pasien tetapi dapat juga
berhubungan dengan kondisi fissik/status syok.
b) Catat petunjuk prilaku atau gelisah, mudah terangsang, kurang
kontak mata, perilaku melawan.
Rasional : indicator derajat takut yang dialami pasien, mis :
pasien akan merasa tak
terkontrol terhadap situasi atau mencapai status panic.
c) Dorong pernyataan takut dan ansietas, berikan umpan balik.
Rasional : membuat hubungan terapeutik. Membantu pasien
menerima perasaan dan memberikan kesempatan untuk
memperjelas kesalahan konsep.
d) Tunjukkan teknik relaksasi, contoh latihan nafas dalam,
bimbingan imajinasi. Rasional : belajar cara yang rileks dapat
membantu menurunkan takut dan ansietas.
4. Resiko tinggi terhadap kerusakan perfusi jaringan berhubungan
dengan hipovolemia.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,
diharapkan, klien menunjukkan perfusi jaringan yang adekuat.
Kriteria Hasil : Ekstremitas hangat, tanda-tanda vital stabil,
pengisian kapiler baik, membrane mukosa merah muda, lemas ( - ).
Rencana Tindakan :
a) Awasi tanda-tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit /
membrane mukosa.
Rasional : memberikan informasi tentang derajat / keadekuatan
perfusi jaringan dan membantu menentukan kebutuhan
intervensi.
b) Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi.
Rasional : meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan
oksigenasi untuk kebutuhan seluler.

16
c) Kaji untuk respons verbal melambat, mudah terangsang,
agitasi, gangguan memori.
Rasional : dapat mengindikasikan gangguan fungsi serebral
karena hipoksia atau defisiensi vitamin B12.
d) Catat keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan dan
tubuh hangat hangat sesuai indikasi.
Rasional : vasokontriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi
perifer. Kenyamanan pasien / kebutuhan rasa hangat harus
seimbang dengan kebutuhan untuk menghindari panas
berlebihan pencetus vasodilatasi (penurunan perfusi organ) .
e) Kolaborasikan dalam pemeriksaan laboratorium.
Rasional : mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan
pengobatan / respons terhadap alergi.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 30 menit,
diharapkan, pengetahuan klien bertambah. Kriteria Hasil : klien
mengerti dan memahami penyakitnya.
Rencana Tindakan :
a) Kaji tingkat pengetahuan klien.
Rasional: untuk mengetahui sejauh mana klien mengerti
tentang penyakitnya.
b) Berikan informasi dalam bentuk tertulis maupun verbal.
Rasional : mempermudah klien menerima informasi tentang
penyakitnya.
c) Tinjau ulang penjelasan yang telah diberikan.
Rasional : mengetahui sejauh mana klien dapat menerima dan
mengerti penjelasan tentang penyakitnya.
d) Diskusikan pentingnya menghentikan merokok.
Rasional : penyembuhan ulkus dapat melambat pada orang
yang merokok, khususnya yang diterapi dengan Tagamet.

17
Merokok juga berhubungan dengan peningkatan resiko
terjadinya / berulangnya ulkus peptikum.

18
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hematemesis adalah muntah darah benvarna hitam ter yang berasal
dari saluran cerna bagian atas. Melena adalah buang air besar (BAB)
berwama hitam ter yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Yang
dimaksud dengan saluran cerna bagian atas adalah saluran cerna di atas
(proksimal) ligamentum Treitz, mulai dari jejunum proksimal, duodenum,
gaster dan esofagus.
Penyebab perdarahan saluran cerna bagian atas seperti hematemesis
biasanya terjadi bila ada perdarahan di daerah proksimal jejunum dan
melena dapat terjadi tersendiri atau bersama-sama dengan hematemesis.
Paling sedikit terjadi perdarahan sebanyak 50-100 ml, baru dijumpai
keadaan melena. Banyaknya darah yang keluar selama hematemesis atau
melena sulit dipakai sebagai patokan untuk menduga besar kecilnya
perdarahan saluran cerna bagian atas

3.2 Saran
Berdasarkan isi makalah ini penulis menyarankan untuk mempelajari
materi dengan sebaiknya dan mencari referensi yang kebih banya agar
mengetahui ilmu-ilmu baru dari materi ini.
Semoga makakah ini menjadikan bahan pembelajaran bagi mahasiswa
untuk dapat memahami secara luas tentang Hematemesis melena dan dapat
mempermudah mahasiswa untuk memahami pembelajaran pecernaan 1.

19
Daftar Pustaka
Doenges, Marylin E, et. al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan
Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien(3rd ed.).
Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arif (2000). Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1(3rd ed.). Jakarta: Media.
Aesculapius
Davey, Patrick (2005). At a Glance Medicine (36-37). Jakarta: Erlangga.
H. M. Syaifoellah Noer. Prof. dr, dkk., (1996).Ilmu Penyakit Dalam.Jakarta:
FKUI
(Jhoxer, 2010. Asuhan keperawatan hematemesis melena diambil pada 22
september 2016 pada jam 13.08 WIB)
(http://kumpulanasuhankeperawatan.blogspot.com/2010/01/asuhan-keperawatan-
hematomesis-melena.html. di akses pada tanggal 24 september 2016 pada jam
13.09 WIB)
(http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/files/disk1/5/01-gdl-muhferdaus-207-1-
muhammad-2.pdf di akses pada tanggal 23 september 2016 pada jam 09.40 WIB)

20