You are on page 1of 21

HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

HAMA DAN PENYAKIT PASCAPANEN

Para ahli pertanian membuat beberapa pengertian hama adalah Organisme jahat
yang mempunyai kemampuan untuk merusak mengganggu, atau merugikan organisme
lainnya (inang), Organisme yang memusuhi (merugikan) kesejahteraan manusia, Setiap
spesies organisme yang dalam jumlah besar tidak kita kehendaki kehadirannya, Organisme
yang merugikan dari segi pandangan manusia, Organisme hidup yang merupakan saingan
kita dalam memenuhi kebutuhan pangan dan pakaian, atau menyerang kita secara langsung
Pengertian pasca panen: Menurut pasal 31 UU No. 12 /1992: Suatu kegiatan yg
meliputi pembersihan, pengupasan, sortasi, pengawetan, pengemasan, penyimpanan,
standarisasi mutu dan transportasi hasil budi daya pertanian, Bahan pangan, khusus dalam
bentuk buah dan biji-bijian, merupakan bahan pangan yang tidak tahan lama dan mudah
menjadi busuk, Bahan pangan tersebut selain tidak tahan lama juga peka terhadap serangan
hama maupun patogen, khususnya bakteri, virus, maupun jamur.

PENDAHULUAN
Produk pascapanen hortikultura segar buah-buahan dan sayur-sayuran adalah
produk yang masih hidup dicirikan dengan adanya aktivitas metabolisme yaitu respirasi.
Respirasi adalah proses oksidasi dengan memanfaatkan gula sederhana dimana dengan
keterlibatan enzim dirubah menjadi CO2, H2O dan energi kimia berupa adenosin
triphosphate (ATP) disamping energi dalam bentuk panas. Karena suplai karbohidrat
terputus karena aktivitas fotosintesis terhambat setelah panen untuk produk sayuran dan
suplai terputus dari tanaman induknya untuk buah-buahan, maka semua suplai untuk
aktivitas respirasi hanya berasal dari tubuh bagian tanaman yang dipanen itu sendiri.
Akibatnya, selama periode pascapanennya terjadi kemunduran-kemunduran mutu
kesegarannya. Kemunduran ini akan dibarengi dengan tumbuh dan perkembangan agen-
agen perusak lainnya seperti mikroorganisme pembusuk dan serangga perusak. Produk
pascapanen hortikultura segar juga sangat mudah mengalami kerusakankerusakan fisik
akibat berbagai penanganan yang dilakukan. Kerusakan fisik ini terjadi karena secara fisik-
morfologis, produk hortikultura segar mengandung air tinggi (85- 98%) sehingga benturan,
gesekan dan tekanan sekecil apapun dapat menyebabkan kerusakan yang dapat langsung
dilihat secara kasat mata dan dapat tidak terlihat pada saat aktifitas fisik tersebut terjadi.
Biasanya, untuk kerusakan kedua tersebut baru terlihat setelah beberapa hari. Kerusakan
fisik ini menjadi entry point yang baik sekali bagi khususnya mikroorganisme pembusuk dan
sering menyebabkan nilai susut yang tinggi bila cara pencegahan dan penanggulangannya
tidak direncanakan dan dilakukan dengan baik.
Saat panen, produk segar telah dilabui oleh beragam macam mikroorganisme di bagian
permukaan produk dan dapat pula berada di dalamnya. Mikroorganisme patogenik yang
berada di dalam produk dapat belum berkembang selama pertumbuhan bagian yang
dipanen masih berada pada tanaman induknya dan melakukan pertumbuhan dan
perkembangan setelah panen (infeksi laten). Mikroorganisme yang melabuhi permukaan
produk beragam mulai dari yang saprofit dan patogenik. Bila terjadi kerusakan mekanis
ataupun kemunduran fisiologis pada produk, maka mikroorganisme patogenik akan tumbuh
dan berkembang menyebabkan pembusukan. Demikian pula dengan serangga pengganggu
seperti lalat buah, peletakan telur lalat biasanya terjadi saat buah masih berkembang di
lapangan. Telur ini baru tumbuh dan berkembang menjadi larva atau ulat setelah buah

1
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

mengalami pemasakan selama periode pascapanennya. Beragam cara pengendalian telah


dikembangkan dan digunakan untuk tujuan komersial baik dengan menggunakan bahan
kimia, perlakuan fisik, musuh alami dan induce resistance. Keragaman ini juga dibarengi
dengan adanya regulasi-regulasi penggunaannya terkait dengan aspek kesehatan
masyarakat dan lingkungan.

PEMAHAMAN SISTEM PASCAPANEN


Produk hortikultusa yang telah dipanen dari induk tanamannya masih melakukan aktivitas
metabolisme namun aktivitas metabolismenya tidaklah sama dengan pada waktu produk
tersebut masih melekat pada induknya. Berbagai macam stress atau gangguan dialaminya
mulai dari saat panen, penanganan pascapanen, distribusi dan pemasaran, ritel dan saat
ditangan konsumen seblum siap dikonsumsi atau diolah. Stress terjadi karena kondisi
hidupnya tidak pada kondisi normal saat di lapangan. Kondisi stress diakibatkan oleh
perlakuan-perlakuan pascapanennya seperti kondisi suhu, atmosfer, sinar serta perlakuan-
perlakuan fisik diluar batas kehidupan normalnya. Stress adalah gangguan, hambatan atau
percepatan proses metabolisme normal sehingga dipandang tidak menyenangkan atau
suatu keadaan negatif. Produk tanaman yang telah dipanen, tidak hanya menjadi subjek
stress mekanis saat dilepaskan dari tanaman induknya tetapi juga subjek dari satu seri stress
selama periode pascapanennya. Sebagai konsekwensinya, periode pascapanen dapat
dipandang sebagai peiode manajemen stress. Pada konteks ini, stress di definisikan

relatif terhadap penggunaan akhir produk. Beragam teknologi pascapanen yang telah
dikembangkan pada intinya ditujukan untuk mengelola stress yang terjadi sehingga dapat
bermanfaat bagi manusia. Pengelolaan stress ditujukan untuk memperpanjang masa
kesegaran atau masa simpan produk. Untuk dapat melakukan pengelolaan yang baik maka
penting pemahaman yang baik tentang karakteristik fisiologis, morfologis dan patologis
produk serta adanya pertimbangan ekonomis-komersial yang menguntungkan terhadap
cara pengelolaan yang akan dilibatkan. Stress primer dapat diakibatkan oleh kondisi
fisiologis diluar dari keadaan normalnya serta adanya kerusakan mekanis yang biasanya
diikuti oleh stress sekunder berupa tumbuh dan berkembangnya agen-agen perusak seperti
mikroorganisme pembusuk dan larva dari serangga perusak. Salah satu pengelolaan stress
pascapanen adalah untuk menghindari dan/atau menanggulangi terjadinya pertumbuhan
dan perkembangan mikroorganisme dan serangga perusak produk segar tersebut. Berbagai
cara telah dikembangkan untuk membunuh agen perusak tersebut terlebih lagi untuk
keperluan ekspor, beberapa negara telah mensyaratkan untuk mememberikan perlakuan
sebelum produk tersebut dikapalkan ke negara tujuan ekspor.

MIKROORGANISME PENGGANGGU PASCAPANEN


Kealamiahan Mikroorganisme Pengganggu
Produk segar pascapanen dilabuhi oleh berbagai jenis mikroorganisme yang dapat
digolongkan menjadi tiga, yaitu 1) mikroorganisme penyebab penyakit pada jaringan produk
tanaman (plant pathogenic microorganisms), 2) mikroorganisme penyebab penyakit pada
manusia atau binatang (human or animal-pathogenic microorganisms), dan 3)
mikroorganisme non-patogenik. Tabel 1 menunjukkan populasi mikroorganisme pada
beberapa produk pascapanen sayuran. Secara umum mikroorganisme patogenik pada
sayuran dan buah-buahan pada awal infeksinya berbeda jenisnya. Perbedaan jenis
mikroorganisme yang tumbuh ini disebabkan oleh kondisi keasaman produk berbeda. Pada

2
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

produk sayur-sayuran dimana keasaman umumnya rendah (pH>4.5) maka mikroorganisme


yang tumbuh umumnya bakteri. Sedangkan pada produk buah-buahan dengan keasaman
tinggi (pH<4.5) maka mikroorganisme yang tumbuh kebanyakan jamur (El-Ghaouth and
Wilson, 1995).

Faktor-faktor utama bagi perkembangan penyakit pasca penen komoditi hortikultura adalah
inang (tanaman), penyebab penyakit (microorganisme) dan lingkungan. Faktor lingkungan
terdiri atas suhu, kelembaban relatif dan komposisi atmosfir (ruang) simpan. Jadi terdapat
tiga faktor utama yang sering juga dikenal sebagai segi tiga penyakit
(pathogen/microorganisme inang - lingkungan). Penyakit-penyakit yang muncul pada
komoditi pada fase penanganan setelah panen dikenal sebagai Penyakit Pasca Panen atau
Postharvest Disease. Kegiatan pasca panen meliputi panen, pengangkutan, pemilihan
(sortasi), pemasakan, penyimpanan, pengepakan, pengolahan dan pemasaran.

Penanganan pacapanen buah buahan dilakukan untuk tujuan penyimpanan, transportasi


dan pemasaran. Rangkaian kegiatan pascapanen terdiri dari pemilihan (sorting), pemisahan
berdasarkan ukuran (sizing), pemilihan berdasarkan mutu (grading) dan pengemasan.
Semakin panjang proses penanganan ataupun penundaan penanganan akan mengakibatkan
kehilangan dan kerusakan seperti susut bobot, pembusukan serta penurunan nilai
kandungan gizi dari buah.

a. Pencucian
Membersihkan buah dari kotoran (tanah) dan residu pestisida. Proses pencucian dilakukan
air mengalir untuk menghindari terjadinya penularan penyakit. Penggunaan detergen pada
dosis tertentu dapat membersihkan lebih sempurna, sehingga penampakan buah akan lebih
bersih. Setelah pencucian, buah dikeringkan dan dikering anginkan dalam hamparan atau
dengan cara mengalirkan uap panas.

b. Curing
Proses penyembuhan luka gores atau lecet pada permukaan produk buah dalam bentuk
umbi seperti misal buah bengkuang. Teknis perlakuan dengan membiarkan produk umbi
beberapa hari pada suhu ruang, hingga luka goresan dan lecet tertutup kembali. Selain
penyembuhan luka pada permukaan umbi buah, setelah proses curing juga terjadi
penurunan kadar air umbi. Dengan proses curing masa simpan umbi dapat diperpanjang
dan pertumbuhan cendawan patogen penyebab penyakit pascapanen pada buah umbi
dapat dicegah.

c. Degreening
Proses untuk dekomposisi pigmen hijau pada buah buahan, dilakukan dalam ruangan
khusus yang suhu dan kelembaban udaranya terkontrol. Kemudian ke dalam ruang tersebut
dialirkan gas etilen pada konsentrasi rendah, sehingga dapat mengaktifkan metabolisme
untuk mengubah warna hijau dari buah menjadi berwarna seperti yang dikehendaki
konsumen. Proses ini biasa dilakukan untuk buah jeruk, pisang, mangga dan tomat.
Umumnya buah yang berwarna hijau terang dan berumur cukup tua memerlukan waktu
degreening yang lebih pendek.

3
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

d. Waxing
Proses pelilinan yang dilakukan untuk memperpanjang daya simpan buah buahan. Dalam
pelilinan harus diupayakan agar pori pori kulit buah tidak tertutup rapat, sehingga terjadi
metabolisme anaerobik dalam buah dapat dicegah. Jenis lilin yang digunakan adalah emulsi
lilin air, yang dalam penggunaan biasanya dicampur dengan fungisida untuk mencegah
pembusukan pada buah. Penggunaan lilin juga akan menambah kilap permukaan buah,
sehingga penampakan buah akan lebih baik. Aplikasi pelilinan pada buah buahan dapat
dilakukan dengan cara pencelupan, penyemprotan dan pembusaan.

e. Pre-cooling
Proses penurunan suhu buah segera setelah panen, terutama bila panen pada siang hari
dengan suhu udara yang tinggi. Suhu tinggi berpotensi merusak mutu simpan buah
buahan. Pre-cooling dapat menurunkan proses respirasi buah, kepekaan terhadap serangan
patogen penyebab penyakit serta mengurangi jumlah air yang
hilang. Pre-cooling dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu air-cooling (pendinginan
dengan udara); hydro-cooling (pendinginan dengan air); dan vacuum cooling (pendinginan
dengan vakum).

f. Penyimpanan
Suatu cara untuk mempertahankan mutu hasil pertanian setelah dipanen dalam jangka
waktu tertentu sebelum dijual atau dikonsumsi. Penyimpanan yang umum dilakukan pada
suhu dingin, dimana penyimpanan diatur di atas suhu titik beku dan di bawah suhu ruang.
Penyimpanan dingin dapat mengurangi aktivitas respirasi dan metabolisme, proses penuaan
karena adanya proses pematangan, pelunakan dan perubahan warna serta tekstur;
kehilangan air dan pelayuan; kerusakan karena aktivitas mikroba patogen (fungi dan
bakteri); serta proses pertumbuhan yang tidak dikehendaki (misal pertunasan).

Faktor faktor yang memengaruhi perkembangan penyakit pasca panen pada komoditas
buah buahan :

a. Kerentanan Inang
Buah buahan mempunyai sifat sifat kimiawi dan fisiologi yang dapat mengubah
kerentanan terhadap infeksi dan perkembangan penyakit pasca panen. Faktor inang yang
akan dapat mempengaruhi berat tidaknya serangan penyakit, dapat pula dipengaruhi oleh
lingkungan pasca panen.

b. Kemasakan Buah
Buah umumnya makin rentan terhadap infeksi patogen pasca panen bila buah menjadi
semakin matang karena faktor nutrisi, enzim enzim, zat zat racun dan metabolisme
energi. Pembusukan pada fase pasca panen dapat ditekan dengan perlakuan seperti
penyimpanan dalam suhu rendah, udara terkendali, dan pemberian zat kimia yang
menghambat pematangan.

c. Penyembuhan Luka
Salah satu contoh kasus pada buah jeruk manis yang disimpan pada suhu 86oF dan RH 90%
untuk beberapa hari, pembusukan yang disebabkan oleh Penicillium digitatum jauh lebih
sedikit dibandingkan buah buahan yang disimpan pada suhu ruang dalam waktu yang

4
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

sama. Hal ini disebabkan oleh pembentukan lignin pada jaringan jaringan flavedo yang
terluka dibawah kondisi lingkungan.

d. Infeksi oleh lebih dari satu patogen


Penyakit penyakit pasca panen yang teramati sering merupakan hasil infeksi beberapa
patogen yang menyerang jaringan inang pada buah yang sama. Laju pembusukan oleh
infeksi gabungan lebih besar daripada yang hanya disebabkan satu patogen saja. Suatu
penyakit ringan yang dimulai oleh patogen yang lemah, seringkali menjadi pembuka jalan
untuk patogen sekunder yang lebih ganas seperti Rhizopus, Fusarium, dan Geotrichum.

e. Lingkungan
Suhu rendah cenderung mengurangi keparahan penyakit pasca panen dengan
memperlambat pematangan inang dan juga dengan menghambat pertumbuhan
mikroorganisme parasit. Perlakuan singkat dengan suhu tinggi dapat mematikan sel sel
patogen tanpa merusak sel sel inangnya.

f. Pendinginan
Kebanyakan buah tropika mengalami kerusakan pada suhu 50oF dan pada suhu yang lebih
rendah dari itu. Pendinginan pada suhu 50-55oF sebelum perlakuan pengawetan, pada 84oF
akan meningkatkan keganasan serangan Fusarium oxysporum. Meskipun biasanya
kerusakan akibat pendinginan dianggap disebabkan oleh metabolisme abnormal inangnya.

g. Pemanasan
Perlakuan buah buahan dengan suhu 110oF dan yang lebih tinggi, dapat mempertinggi
kerentanan terhadap pembusukan pasca panen tanpa menunjukan tanda tanda kerusakan
akibat panas. Perlakuan buah buahan tropika dengan air panas untuk mengendalikan
infeksi permulaan dan infeksi laten harus dilakukan dengan hati hati karena ada
kemungkinan peningkatan kerentanan buah terhadap pembusukan.

h. Kelembaban
RH yang melebihi 90% cenderung mendorong perkembangan penyakit pasca panen karena
mempertahankan luka luka pada permukaan dalam kondisi basah yang memudahkan
terjadinya infeksi oleh mikrorganisme parasit.

i. Pengemasan
Film film plastik yang mempunyai permeabilitas rendah terhadap uap air banyak
digunakan untuk mengemas unit buah buahan segar bagi para konsumen. Ventilasi pada
film pembungkus plastik sangat penting untuk pembuangan uap guna mencegah
pembusukan yang berlebihan. Wadah wadah pengiriman dari papan serat untuk buah
buahan segar biasanya mempunyai lubang ventilasi pada dinding nya untuk memudahkan
hilangnya panas dari komoditas.

Pengendalian penyakit penyakit pasca panen pada komoditas buah buahan


Empat pendekatan dasar untuk pengendalian penyakit pasca panen adalah pencegahan,
penyembuhan, penundaan timbulnya gejala gejala dan penghambatan meluasnya
penyakit. Biasanya untuk pengendalian diperlukan lebih dari satu pendekatan.

5
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

a. Pencegahan Infeksi

Infeksi laten dan infeksi statik sukar dikendalikan dengan penggunaan fungisida setelah
pemanenan, karena biasanya fungisida tidak menembus sampai ke tingkat infeksi pada
konsentrasi efektifnya. Maka strategi pengendalian terbaik adalah mengurangi infeksi laten
sejauh mungkin dan memberantas sisa yang masih tertinggal dengan perlakuan pasca panen
dengan perlakuan panas atau fungisida sintetik. Pendekatan lain yang efektif untuk
mencegah infeksi laten dengan penyemprotan tanaman secara berkala dengan fungisida
pelindung selama musim pertumbuhan.

b. Mengganggu proses penularan penyakit

Aplikasi fungisida pada komoditi buah buahan yang telah dipanen, dapat mencegah
penularan penyakit melalui luka pada buah. Waktu antara penularan dan perlakuan yang
berhasil baik bergantung pada suhu dan kelembaban sekitarnya, kemasakan buah, laju
pertumbuhan patogen, dan sifat perlakuan dengan fungisida. Pertumbuhan patogen seperti
Gloeosporium, Thielaviopsis, Botrydiplodia, Rhizopus dan Geotricum dalam lingkungan tropis
terjadi dengan cepat, dan perlakuan dengan fungisida secara konvensional yang ditujukan
untuk mencegah infeksi harus dilakukan dalam waktu 12 sampai 24 jam setelah
pemanenan. Perlakuan di kebun dapat pula dianjurkan, bila tidak ada kemungkinan
mengangkut komoditi ke tempat tujuan dalam beberapa jam setelah pemanenan.
Pemberian fungisida sebelum pemanenan mungkin merupakan cara pengendalian
pembusukan komoditi yang tidak sempat diberi perlakuan setelah pemanenan. Perlakuan
pra-pemanenan mungkin memerlukan jumlah fungisida lebih banyak daripada perlakuan
pasca panen.

c. Pengendalian infeksi yang sudah terjadi

Aplikasi fungisida untuk mengendalikan penyakit pasca panen tidak mempunyai daya serap
yang diperlukan untuk menghilangkan infeksi yang letaknya di dalam. Perlakuan dengan
pemanasan singkat berhasil dalam menggilangkan infeksi laten atau infeksi baru oleh jamur
pada beberapa jenis buah. Sel sel inang lebih tahan panas daripada sel sel patogen,
karena hanya jaringan permukaan inang yang dipanaskan, tidak diperlukan tambahan yang
berarti dalam persyaratan perlakuan pendinginan komoditi. Air panas merupakan medium
penghantar panas yang paling baik karena mudah diperoleh, kapasitas panasnya, dan
tiadanya residu pada buah. Uap air panas merupakan medium penghantar panas yang
efisien, karena panas yang laten diteruskan kepada komoditi bila air mengembun pada
permukaan.
Penanganan OPT pascapanen dapat dilakukan pada saat buah masih berada di tanaman
maupun setelah buah dipanen. Untuk mengurangi risiko serangan OPT pascapanen dapat
dilakukan beberapa hal antara lain sebagai berikut :
a. Pengelolaan kebun buah secara baik, yaitu dengan menerapkan budidaya tanaman
sehat di lapangan, dengan cara pemupukan, pengaturan irigasi, drainase,
pemangkasan, penyiangan dan pengendalian OPT.
b. Menghindari pelukaan pada buah, baik selama buah masih mentah di pohon, maupun
saat panen, pengangkutan dan penyimpanan.
c. Memisahkan buah terserang dengan buah sehat.

6
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

d. Buah yang baru dipanen dibersihkan dari sisa sisa tanaman, dan jangan ditutupi
dengan daun daun kering.
e. Untuk mencegah terjadinya infeksi melalui luka potongan, tangkai buah diolesi dengan
asam benzoate 10 % dalam etanol, dilakukan paling lambat 5 jam setelah panen, atau
dengan pemberian serbuk kalsium hipoklorida.
f. Pencucian buah sebaiknya dengan air yang mengalir dari sumber air yang bersih.
g. Pencelupan ke dalam air panas (< 55oC) selama 5 menit atau air panas suhu 46 49oC
selama 20 menit atau ke dalam air panas (52 53oC) dicampur dengan fungisida selama
5 menit, untuk mencegah berkembangnya cendawan pada buah.
h. Sesudah dicuci atau direndam dengan air hangat atau dengan fungisida, perlu sekali
dilakukan pengeringan terhadap buah.
i. Setelah buahnkering, sortasi dapat dilakukan dengan tangan atau alat bantu sortasi yang
didasarkan pada kriteria ukuran, berat buah dan tingkat kematangan buah.
j. Buah yang menunjukan adanya kerusakan pada kulit akibat gesekan atau kerusakan lain
perlu untuk dilakukan pemisahan.

k. Setelah buah disortasi, pada buah jenis tertentu perlu diberi perlakuan pelapisan dengan
menggunakan lilin parafin dan lilin anti jamur untuk memperlambat masaknya buah dan
mencegah buah mengerut. Pembungkusan dengan menggunakan jaring spons juga
perlu dilakukan guna mencegah gesekan buah satu dengan yang lain pada saat
pengepakan dan transportasi buah.
l. Buah segera diangkut ke ruang pemeraman atau ke gudang.
m. Ruang pemeraman atau gudang agar dijaga kebersihannya, cukup cahaya dan tidak
bocor.
n. Memerhatikan penyimpanan buah, dapat dipertahankan dalam keadaan baik selama
beberapa hari setelah panen, bergantung pada jenis buah, varietas, daerah penghasil
dan musim. Perlakuan suhu rendah antara 10 12oC mampu untuk menunda proses
pemasakan buah.

Beberapa metode penyimpanan buah di gudang penyimpanan :


a. Metode Refrigeration (Pendinginan)

Penyimpanan dengan suhu dingin 15 20 oC, merupakan cara paling baik untuk
mengendalikan OPT pasca panen. Efektif pula untuk menjaga kesegaran buah serta
menekan kerusakan buah karena mikroorganisme. Masalah utama dalam pendinginan buah
adalah kerusakan buah karena kedinginan dan pembekuan.

7
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

Tabel Rekomendasi untuk penyimpanan buah

b. Metode Controlled Atmosphere Storage


Dilakukan dengan cara mengatur suhu, kandungan oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2)
dalam udara.

Tabel Kondisi Controlled Atmoshpere selama transportasi atau penyimpan yang


direkomendasikan

c. Hypobaric Storage

Menempatkan buah pada ruangan bersuhu dingin dan bertekanan udara rendah.
Perubahan tekanan udara dalam ruangan dilakukan dengan cara memompa hampa udara
ke dalamnya sehingga tekanan udara menurun. Batas tekanan udara dalam hypobaric
storage adalah 10 mmHg 80 mmHg (normal tekanan udara = 760 mmHg). Agar tekanan
udara tetap konstan, maka perlakuan pompa hampa udara dilakukan setiap 1 4 kali / jam.

d. Packaging (Pembungkusan)

Mengurangi kerusakan / memar karena banturan, menurunnya kelembaban dan kerusakan


karena OPT. Bahan pembungkus dapat mengandung bahan kimia (yang aman bagi manusia)
untuk mengurangi kerusakan dalam penyimpanan.
8
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

Hambatan, perkembangan penyakit, pemencaran dan gejala gejala penyakit


a. Pendinginan

Penyimpanan pada suhu dingin merupakan cara yang paling efektif dan bermanfaat untuk
memperlambat perkembangan pembusukan pasca panen pada buah buahan yang
disebabkan oleh infeksi patogen di bagian dalam. Tiap buah mempunyai suhu optimum
untuk menghambat pematangan dan penuaan proses proses fisiologis yang membuat
komoditi menjadi rentan terhadap kegiatan kegiatan parasitik jamur dan bakteri patogen.
Penyimpanan pada suhu rendah dapat mengendalikan pembusukan pasca panen dengan
mempertahankan daya tahan inang terhadap parasit dan dengan menghambat
pertumbuhan mikroorganisme patogen. Suhu rendah hanya menghambat perkembangan
mikroorganisme patogen pada komoditi yang sudah terinfeksi, dan gejala gejala
pembusukan dapat diharapkan akan muncul dalam beberapa hari setelah komoditi
dipindahkan ke lingkungan yang lebih panas.

b. Zat zat pertumbuhan dan Udara Terkendali (UT)


Zat zat kimia yang menghambat permulaan penuaan telah digunakan terhadap buah
untuk mengendalikan pembusukan yang timbul dari infeksi dalam yang tidak dapat
dikendalikan secara memuaskan dengan fungisida atau suhu rendah yang dapat ditahan
oleh komoditinya. Atmosfer penyimpanan yang dinmodifikasikan dengan mengurangi
tingkat kandungan O2 dan menaikkan kandungan CO2, dapat memengaruhi perkembangan
penyakit pasca panen, baik dengan penghambatan patogen secara langsung, maupun
dengan mengubah ketahanan inangnya.
c. Rintangan terhadap Pemencaran Penyakit dan Penghambatan Sporulasi

Kontaminasi suatu komoditi oleh spora jamur patogen, pertumbuhan miselium pada
permukaan, dan sisa sisa buah yang membusuk di dekatnya, tidak saja mengakibatkan
suatu komoditi tercemar dan tidak laku dijual, tetapi juga memberi peluang untuk terjadinya
infeksi lebih lanjut,. Jamur patogen seperti Rhizopus, Botrytis dan Trichoderma sering
memencar dengan meluasnya miselium antara dua komoditi buah yang saling bersentuhan.
Langkah selanjutnya dapat dilakukan dengan membungkus tiap buah dalam kertas tipis,
terutama bila kertas telah diresapi dengan zat fungistatik. Pembungkus buah yang telah
diresapi fungisida, tidak dapat menghindarkan pembusukan buah yang sudah terinfeksi,
tetapi dapat mencegah pemencaran penyakit ke buah di dekatnya yang masih sehat.

Jenis Penyakit Pascapanen Produk Hortikultura


1. Penyakit Non-Parasiter

a. Kerusakan Mekanis

Kerusakan mekanis bentuknya bermacam-macam dan dapat terjadi pada berbagai kegiatan
paska panen. Benturan-benturan antara individu komoditi panenan merupakan jenis
kerusakan mekanis yang sering muncul dan merugikan.
b. Kerusakan Fisiologis

9
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

Biasanya kerusakan fisiologis berhubungan dengan proses-proses metabolisme komoditi


panenan bersangkutan. Hal dikarenakan organ panenan, walaupun telah dipisahkan dari
pohonnya, masih melakukan kegiatan fisiologis (mempertahankan kehidupan). Aspek
fisiologis yang berkaitan dengan kerusakan fisiologis adalah penguapan (transpirasi),
pernapasan (respirasi) dan berubahan biologis lainnya.

Penguapan

Penguapan atau transpirasi pada komoditi panenan secara langsung berpengaruh pada
berkurangnya berat dan menurunkannya kualitas terutama bagi sayuran daun. Banyak
peneliti mengatakan bahwa terdapat batas kritis kehilangan air bahan yang menentukan
terjadinya kelayuan. Kisaran batas kritis kehilangan air bahan adalah 7 10 persen.
Bilamana batasan kritis ini telah tercapai, keadaan tersebut menyebabkan ruang antar sel
melebar hingga sel satu dengan sel lainnya mulai terpisah. Akibat selanjutnya, komoditi
panenan akan mengalami kelayuan yang menyebabkan pengurangan kualitas bahkan
mungkin saja sudah tidak layak jual. Secara tidak langsung, penguapan menyebabkan
komoditi panenan lebih mudah mengalami kerusakan mekanis dan juga peka terhadap
serangan patogen.

Respirasi

Kerugian atau kehilangan hasil panenan akibat proses fisiologis ini tidak dapat dihindari.
Seperti telah dijelaskan, bahwa komoditi panenan, walaupun telah terpisah dengan
tanamannya, masih melakukan aktivitas kehidupan. Upaya yang dapat dilakukan hanya
menekan laju respirasi sekecil mungkin (seperti menyimpan komoditi panenan pada
ruangan yang berkomposisi atmosfir karbondioksida tinggi dan oksigen rendah. Kerugian
akibat respirasi ini dapat diukur dengan menimbang berat bahan atau volume
karbondioksida yang dihasilkan dalam aktivitas respirasi. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kehilangan hasil akibat respirasi dapat mencapai 5 persen pada sayuran umbi.
Perubahan biologis lainnya Perubahan-perubahan yang dimaksud meliputi perubahan
tepung menjadi gula (pada umbi kentang). Kentang dengan kandungan gula tinggi (biasanya
terjadi pada kentang yang telah lama disimpan) tidak baik kualitasnya. Selain daripada
menyebabkan pengurangan kualitas, kondisi gula yang tinggi merupakan kondisi yang baik
bagi penetrasinya mikroorganisme penyebab penyakit seperti jamur dan bakteri. Pada apel
yang baru dipanen kandungan asam benzoat tinggi, namun setelah mengalami
penyimpanan beberapa lama, kandungan bahan tersebut berkurang. Pada kondisi ini,
merupakan kondisi yang baik bagi perkembangan jamur Nectaria galligena, penyebab kudis
pada buah apel panenan.
Demikian pula halnya pada pisang dan apokat yang mengandung tanin, dan mangga serta
jeruk yang mengandung bahan-bahan asam menentukan perkembangan penyakit.
Kandungan yang rendah dari bahan-bahan tersebut membuat komoditi panenan tersebut
peka terhadap infeksi jamur maupun bakteri. Perubahan-perubahan tersebut di atas
merupakan perubahan biologis yang terjadi pada isi sel. Perubahan juga terjadi pada dinding
sel, seperti halnya perubahan protopektin yang sukar larut dalam air menjadi asam pektanat
dan selanjutnya menjadi asam pektat yang lebih mudah larut dalam air. Dengan adanya
perubahan ini, dinding sel akan lebih rentan terhadap infeksi mikroorganisme penyebab
penyakit.

10
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

c. Kerusakan Fisik

Kerusakan fisik akibat adanya pengaruh negatif daripada suhu, kelembaban relatif maupun
cahaya merupakan jenis penyakit komodidi panenan yang tergolong non-parasit.

Pengaruh Suhu

Suhu dapat merupakan penyebab penyakit. Suhu yang dimaksud adalah suhu yang berada
dalam kondisi ekstrim tinggi ataupun ekstrem rendah. Hal ini dikarenakan, komodi panenan
maupun tanaman memiliki batasan toleransi terhadap suhu (suhu maksimal, optimal dan
minimal). Buah apel dan umbi kentang yang sesaat setelah dipanen kemudian terkena sinar
matahari cukup lama dengan intensitas tinggi akan mengalami Sun Scald (rusak karena sinar
matahari). Ciri-ciri penyakit ini berupa bercak kecil berwarna coklat dan berbentuk tidak
teratur. Dalam beberapa hari ukuran membesar/meluas dan bercak berwarna hitam,
kemudian setelah 10 15 hari, seluruh umbi maupun buah akan rusak.
Penyaimpanan umbi kentang pada suhu tinggi akan menyebabkan penyakit busuk hati
hitam (Black Heart Rot). Penyimpanan buah dan sayuran tropika pada suhu rendah akan
mengalami kerusakan. Kerusakan ini dikenal sebagai Freezing Injury apabila suhu yang
berpengaruh jauh di bawah titik bekunya, dan dikenal sebagai Chilling Injury apabila suhu
yang berpengaruh sedikit di atas titik bekunya dalam waktu yang lama. Gejala keruskan ini
akan nampak bilamana komoditi panenan ini dikembalikan pada kondisi atmosfir normal
setelah mengalami penyimpanan beberapa lama. Mekanisme terjadinya Chlling Injury
meliputi tahapan-tahapan :
Peracunan - Suhu yang rendah mengakibatkan air sel tanaman mengalir ke luar sel,
akibatnya kadar bahan-bahan terlarut relatif menjadi lebih tinggi. Kadar yang
semakin tinggi (bagi bahan-bahan tertentu) merupakan racun bagi sel tersebut.
Kerusakan mekanis - Air sel yang keluar akan mengisi ruang-ruang antar sel, sehingga
ruang tersebut akan penuh terisi air sel. Bila hal ini terus berlangsung akan
menyebabkan pecahnya dinding sel sehingga cairan sel akan menyatu dan membeku
membentuk atau menyebabkan volume air sel membesar.
Perusakan struktur plasma sel Dengan adanya air yang keluar, volume sel akan
berkurang yang diikuti pula dengan mengecilnya volume dinding sel, yang memaksa
terjadinya plasmolisis sehingga pada akhirnya sel akan rusak.

Pengaruh Kelembaban Relatif

Langsung maupun tidak langsung kelembaban relatif udara berpengaruh terhadap


terjadinya kerusakan fisik pada komoditi panenan. Kelembaban relatif yang rendah akan
mempercepat laju penguapan. Sedangkan kelembaban udara tinggi secara langsung
memberikan kondisi yang baik bagi berkembangnya patogen. Umumnya kelembaban relatif
udara akan sangat efektif berpengaruh terhadap berkembangnya kerusakan fisik bilamana
diikuti dengan tingkat kadar air bahan yang jauh berbeda pada saat dimasukkan dalam
ruang simpan. Perbedaan kandungan air dan kelembaban relatif yang tinggi akan
menyebabkan mudahnya kerusakan maupun serangan patogen terjadi.

11
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

Pengaruh Udara (komposisi)

Udara yang dimaksud adalah perbandingan antara oksigen dan karbondioksida. Selain
daripada itu, gas etilen yang dihasilkan oleh bahan simpanan itu sendiri ataupun yang
berasal dari luar. Perbandingan oksigen dan karbondioksida yang tinggi (berarti cukup
banyak tersedia oksigen), memberikan kegiatan respirasi berjalan lancar, begitu pula proses
metabolisme lainnya. (Respirasi merupakan indikator bagi proses metabolisme lainnya).
Sebaliknya bilamana oksigen tidak tersedia dalam keadaan cukup, menyebabkan akan
terjadi respirasi an-aerob. Kondisi ini menyebabkan terjadi oksidasi senyawa fenol oleh
enzim fenolase (pada brokoli dan selada akan nampak pucat), hilanganya kloropil pada
sayuran daun, melunaknya buah akibat pemasakan dan sebagainya. Gas etilen akan
terbentuk pada buah maupun sayuran yang sedang mengalami proses pemasakan dan
senesen. Jumlah etilen yang dihasilkan berhubungan langsung dengan suhu lingkungan
simpan. Selain suhu, etilen yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh oksigen dan etilen yang
telah ada dalam udara. Gas yang tergolong Ester Aromatis, dihasilkan oleh jaringan komoditi
panenan. Gas ini dalam jumlah yang tinggi akan bersifat meracun. Buah apel merupakan
contoh umum yang mengalami kerusakan akibat gas ini. Penyakitnya dikenal sebagai Scald,
dengan gejala diawali perubahan warna pada permukaan kulit yang dapat meluas ke seluruh
permukaan dan diikuti rusaknya jaringan di bagian dalamnya.

Pengaruh Bahan Kimia

Kerusakan ini umumnya disebabkan karena adanya residu dari bahan kimia yang digunakan
(pengendalian hama-penyakit, bahan kimia perlakuan pemasakan ataupun bahan kimia
polutan udara). Gas-gas tersebut meliputi gas Amoniak, gas dari bahan fumugasi, SO2, NCL3
dan Ozon (O3). Gas Amoniak berpengaruh negastif pada bawang. Bawang merah akan
menjadi hitam kehijauan dan bawang putih menjadi hijau kekuningan. Hal ini disebabkan
karena gas Amoniak berpengaruh terhadap perubahan zat warna, terutama anthosianin.
Perubahan ini juga terjadi pada apel, pear dan pisang; bahkan dapat menyebabkan
kerusakan jaringan di bawah kulit. Ozon merupakan gas lain yang berpengaruh terhadap
kualitas warna komoditi panenan. Akibat lebih jauh dari gas ozon ini adalah perusakan
permeabilitas membran sel dan perangsangan pembentukan auksin.

2. Penyakit Parasiter

Jenis penyakit pasca panen ini merupakan penyakit-penyakit komoditi panenan yang
disebabkan oleh patogen seperti jamur, bakteri dan virus. Penyakit parasit pasca panen
dapat merupakan penyakit yang memang terjadi atau proses infeksi patogen terjadi pada
saat komoditi telah dipanen. Namun dapat juga telah terjadi infeksi pada saat di lapang
(sebelum dipanen), hanya saja patogen pada saat itu dalam keadaan dorman, dan setelah
panenan serta kondisi mendukung bagi berkembangnya atau aktifnya patogen tersebut,
barulah terjadi perkembangan penyakit yang ditandai terlebih dahulu dengan adanya tanda-
tanda penyakit (sympton).

12
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

a. Penyakit yang disebabkan Jamur

Jamur merupakan mikroorganisme penting bagi suatu penyakit pasca panen buah dan
sayuran serta tanaman hias bunga potong. Jamur yang sering merupakan patogen pasca
panen tergolong Klas Ascomycetes dan berhubungan dengan Fungi Imperfecti (jamur Tidak
Sempurna). Sedangkan Klas Phycometeces yang sering merupakan patogen meliputi genus
Rhizopus, Phytopthora, dan Pythium. Sedangkan Klas Basidomycetes merupakan jamur yang
paling jarang sebagai patogen pasca panen komoditi hortikultura.

Beberapa Penyakit Pada Beberapa Komoditi Hortikultura Panenan Yang Disebabkan oleh
Jamur

13
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

b. Penyakit yang disebabkan Bakteri


Penyakit pasca panen yang disebabkan oleh bakteri dapat terjadi
akibat infeksi bakteri sejak di lapang (pertanaman) maupun saat periode pasca panen
(setelah dilakukan pemanenan) selama periode pengumpulan hasil panenan, sortasi,
pencucian , packing maupun pengangkutan dan penyimpanan. Berikut adalah beberapa
contoh penyakit pasca panen yang disebabkan oleh bakteri,

14
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

Beberapa Penyakit Pada Beberapa Komoditi Hortikultura Panenan Yang Disebabkan oleh
Bakteri

B. Fisiologi Perkembangan Penyakit Pasca Panen


Terinfeksinya komoditi hortikultura panenan oleh patogen terjadi dari saat di lapang hingga
saat pemasaran. Infeksi pada tahapan panen hingga penanganan atau pada periode pasca
panen, biasanya dibantu oleh karena adanya luka-luka pada komoditi panenan
bersangkutan. Luka-luka tersebut dapat terjadi akibat benturan, lecet oleh kuku saat panen
atau pemilihan dan pembersihan, luka-luka akibat tusukan hama (serangga) ataupun luka
potongan. Selain daripada itu, perkembangan fisiologi dan kondisi lingkungan serta
perkembangan morfologi dan anatomi juga berperan penting pada kemudahan terjadinya

15
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

infeksi patogen. Oleh karena itu, mengetahui pola-pola proses infeksi patogen pada komditi
panenan sangat penting. Hal ini terkait erat dengan pemilihan teknik pengendalian penyakit
pasca panen tersebut.
1. Infeksi Saat di Lapang (Preharvest Diseases)

Infeksi patogen di lapang bagi pada buah, sayuran maupun tanaman hias (bunga potong)
dapat terjadi melalui penetrasi langsung patogen ke kulit permukaan komoditi, infeksi
melalui lubang-lubang alami (seperti hidatoda, lenti sel dan mulut daun) dan infeksi melalui
luka-luka yang ada. Infeksi yang terjadi di lapang oleh patogen seperti jamur, karena kondisi
yang tidak memungkinkan untuk perkembangan penyakit lebih lanjut, patogen membentuk
badan istirahat dan dalam keadaan dorman. Setelah pemanenan dan komoditi panenan
bersangkutan mengalami prose pemasakan dan senesen, pada saat itu pula jamur yang
semulanya dalam keadaan dorman mulai dapat aktif tumbuh dan berkembang sehingga
gejala-gejala penyakit pada komoditi panenan bersangkutan tersebut mulai nampak.

2. Infeksi Setelah Panenan (Postharvest Diseases)

Komoditi panenan tidak akan terlepas dari luka-luka mekanik ataupun pengaruh buruk
keadaan fisik (suhu, kelembaban relatif). Keberadaan luka memar, luka potongan, lecet
akibat gesekan maupun lubang alami pada permukaan komoditi merupakan jalan masuknya
(infeksi) patogen baik jamur maupun bakteri. Ini akan semakin tinggi tingkat
kemungkinannya, bilamana komoditi panenan sempat diletakkan di permukaan tanah tanpa
alas sewaktu dilakukan pengumpulan sementara saat panen. Namun demikian bagi jamur
Sclerotium dan Colletotricum, penetrasi langsung ke permukaan kulit komoditi merupakan
cara yang efektif bagi terjadinya penyakit paska panen beberapa jenis buah dan sayuran
tropika.

3. Penetrasi Patogen

Proses penetrasi patogen khususnya jamur pada komoditi panenan dapat melalui luka-luka
atau lobang-lubang alami maupun penetrasi langsung (direct penetration) ke permukaan
kulit melalui pembentukan suatu badan khusus yang disebut Appressoria. Tentunya,
peristiwa ini diawali oleh proses perkecambahan spora jamur dan pembentukan suatu
badan berupa buluh kecambah. Bilamana keberadaan atau posisi spora jamur tepat pada
bagian luka pada komoditi panenan, maka proses perkecambahan spora berjalan lancar dan
langsung berkembang membentuk koloni jamur. Akibat dari itu, maka perkembangan
penyakit juga cepat.
Persyaratan bagi berlangsung suksesnya perkecambahan spora jamur adalah cukup
tingginya kelembaban udara di permukaan komoditi. Biasanya kondisi alami adalah bahwa
di permukaan kulit ataupun jaringan komoditi panenan cukup kering bagi terjadinya
perkecambahan spora jamur

maupun aktinya sel bakteri. Namun bilamana terdapat luka, yang pada dasarnya luka
mengeluarkan cairan, maka kelembaban dan subtrat nutrisi bagi jamur ataupun bakteri
terjamin yang pada akhirnya mendukung terjadinya perkecambahan spora. Penetrasi
langsung kulit atau permukaan komoditi panenan oleh jamur diawali dengan jatuhnya atau

16
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

terposisikannya spora jamur di permukaan komoditi. Bilamana keadaan suhu dan


kelembaban mendukung terjadinya perkecambahan spora bersangkutan, hal itu akan terjadi
dalam beberapa jam saja. Perkecambahan diawali dengan pembentukan buluh kecambah.
Setelah pembentukan buluh kecambah sempurna, maka dibentuklah suatu badan yang
dikenal sebagai Appressorium. Tubuh jamur ini melekat erat di permukaan komoditi karena
adanya cairan yang diproduksi oleh jamur tersebut. Pada bagian tengah appresorium
terbentuk suatu badan yang menyerupai jarum dan tumbuh menembuh ke bawah
permukaan kulit komoditi. Melalui dihasilkannya beberapa enzim yang berpengaruh
terhadap pelunakan jaringan kulit komoditi, maka jaminan lingkungan tumbuh jamur
mendukung bagi perkembangan normal jamur. Perkembangan normal jamur ditandai
dengan nampaknya mycelia jamur di permukaan jaringan kulit komoditi yang nampak dari
ukuran becak semakin hari semakin membesar atau melebar.

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Infeksi

Infeksi yang terjadi saat paska panen akan semakin tinggi bilamana, selain adanya jalan
infeksi, keadaan lingkungan mendukung bagi perkembangan patogen, sedangkan kondisi
tersebut merupakan kondisi yang memungkinkan bagi perubahan metabolisme komoditi
panenan seperti pemasakan dan senesen. Perubahan komponen nutrisi (pati, gula, vitamin
dan pigmen) dapat memacu proses infeksi patogen dan kemudian perkembangan penyakit
pada komoditi panenan.

Suhu lingkungan yang tinggi dan demikian juga kelembaban relatif merupakan kondisi
lingkungan yang mendukung bagi terjadikan pembusukan pada komoditi hortikultura
panenan. Sebaliknya bilamana suhu rendah, kandungan oksigen juga rendah dan tinggi
karbondioksida serta kondisi kelembaban relatif pada keadaan yang baik (cocok), maka
kondisi ini dapat melawan bahkan meniadakan pembusukan akibat infeksi patogen. Hal ini
dikarenakan, kondisi dimaksud merupakan kondisi yang baik bagi penundaan proses
pemasakan dan senesen. Sebaliknya bagi patogen baik jamur maupun bakteri, kondisi
tersebut merupakan kondisi yang dapat menekan perkembangan patogen bagi terjadinya
infeksi dan perkembangan penyakit. Kondisi keasaman jaringan (sel) komoditi juga
mempengaruhi perkembangan patogen. Biasanya jaringan buah memiliki tingkat pH di
bawah 4,5. Kondisi ini baik bagi terjadinya infeksi dan perkembangan penyakit busuk oleh
jamur. Sedangkan jaringan kebanyakan sayuran umumnya memiliki pH di atas 4,5. Kondisi
ini baik bagi terjadinya infeksi dan perkembangan penyakit busuk bakteri. Pengaturan
komposisi udara ruang simpan seperti suhu, kelembaban relatif, kandungan oksigen dan
karbondioksida baik upaya menekan laju metabolisme komoditi panenan, juga merupakan
pengaturan kondisi yang menekan perkembangan penyakit. Keadaan kondisi atau komposisi
udara ruang simpan untuk masing-masing jenis komoditi berbeda satu dengan lainnya.

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Pascapanen

Produk yang digunakan untuk pengendalian mikroorganisme pembusuk pascapanen


harus digunakan setelah mempertimbangkan beberapa factor kritis sebagai berikut:
o Jenis pathogen yang terlibat dalam pembusukan
o Lokasi pathogen di dalam produk
o Waktu terbaik untuk pengendalian pembusukan tersebut.

17
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

o Kematangan dari produk


o Lingkungan selama penyimpanan, transportasi dan pemasarannya.
Produk yang dipilih untuk pengendalian pembusukan akibat mikroorganisme harus
mempertimbangkan factor di atas apakah dengan bahan kimia atau pengendalian secara
biologis.

C. Pengendalian Penyakit Pasca Panen


Pengendalian penyakit pasca panen sangat tergantung pada keadaan awal komoditi
bersangkutan, artinya bahwa kesehatan tanaman, kebersihan areal pertanaman dan
beberapa perlakuan lainnya selama di lapang atau pertanaman sangat menentukan ada
tidaknya perkembangan penyakit pasca panen. Selain daripada itu, setelah memasuki
periode pasca penen, perkembangan penyakitpun sangat tergantung pada jenis-jenis teknik
pengelolaan atau pelaksanaan selama sejak panen hingga pengangkutan ataupun
penyimpanan pada tingkat konsumsi. Atas dasar tahapan perkembangan penanganan, maka
pengendalian penyakit pasca panen juga mengikuti pertimbangan-pertimbangan tersebut.
Adapun pengendalian penyakit pasca panen adalah :

1. Prapanen (di lapang)

Pengendalian penyakit saat di lapang sangat beragam tekniknya. Teknik-teknik pada


dasarnya bertujuan mengendalikan penyakit baik itu pada bagian tanaman yang nantinya
merupakan organ panenan, maupun seluruh total tanaman. Fungsisida ataupun bakterisida
yang digunakan bersifat kontak ataupun sistemik. Aplikasi ditujukan secara langsung pada
organ panenan ataupun ke tubuh tanaman secara keseluruhan. Banyak jenis-jenis jamur
ataupun bakteri yang berpotensi menginfeksi organ panenan saat di lapang tidak nampak,
namun setelah organ panenan tersebut di panen, selama penanganan periode pasca panen
patogen tersebut mulai aktif dan nampaklah gejala penyakit pada organ panenan tersebut.
Penanganan pemeliharaan di lapang sangat perlu hati-hati. Penanganan yang asal sudah
memberikan peluang luka-luka mekanik ataupun fisik terjadi pada organ panenan sehingga
peluang jalan penetrasi patogen semangkin tinggi. Saat dan cara panenan juga berpengaruh
positif terhadap kecepatan munculnya penyakit paska panen.

2. Pasca-Panen

Teknik-teknik pengendalian penyakit pasca panen (saat periode penanganan komoditi


panenan hingga penyimpanan) dapat secara kimia
maupun fisik. Efektifitas teknik-teknik bersangkutan sangat ditentukan oleh tiga faktor
utama, yaitu :
a. Kemampuan daripada perlakuan (teknik agen kendali) mencapai patogen
b. Tingkat dan kepekaan infeksi
c. Kepekaan inang (organ/komoditi panenan)

Pengendalian Secara Fisik Kerusakan komoditi panenan baik kerusakan fisik ataupun
fisiologis dan patogenis dapat melalui pengaturan ruang simpan ataupun menyediaan
jaminan kebersihan lingkungan kerja dan lingkungan simpanan. Beberapa aspek yang dapat
merupakan pengendalian fisik penyakit pasca panen adalah
a. Pengaturan suhu rendah

18
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

b. Pengaturan kelembaban relatif yang cocok baik masing-masing komoditi


c. Modifikasi atmosfir ruang simpan
d. Perlakuan panas (udara panas ataupun pencelupan)
e. Radiasi

Pengendalian Secara Kimiawi Merupakan dan dianggap teknik yang maling efektif.
Penerapannya sangat tergantung pada jenis pemasaran dan tipe infeksi yang terjadi. Contoh
pada jeruk yang memiliki masa pasca panen panjang, sebaiknya perlakuan kimia diarahkan
pada pencegahan percekambahan spora jamur, sehingga jeruk tidak terkontaminasi bahan
kimia pengendali penyakit. Sebaliknya bagi strwoberri yang memiliki umur pasca panen
sangat pendek, nampaknya perlakuan pengendalian penyakit pasca panen diutamakan pada
pengendalian saat menjelang panenan di lapang. Keberhasilan bahan kimia pengendali
patogen tergantung pada faktor-faktor berikut :

a. Jumlah keberadaan spora


b. Kedalaman luka infeksi pada jaringan inang
c. Laju tumbuh infeksi (penyakit)
d. Suhu dan kelembaban relatif udara
e. Kedalaman bahan kimia dapat penetrasi ke jaringan inang
Sebagai perhatian serius dalam pengendalian penyakit paska panen secara kimiawi adalah
bahwa bahan kimia pengendali tidaklah bersifat Pitotoksis, artinya tidak merusak jaringan
komoditi panenan tetapi hanya mematikan (mengendalikan) patogen.

Beberapa Bahan Kimia dan Fungisida Pengendali Penyakit Pasca Penan

Penutup
Teknik-teknik penanganan paska panen yang berpengaruh positif terhadap aspek fisiologi
komoditi panenan akan dapat menekan perkembangan penyakit terutama busuk. Beberapa

19
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

aspek penting dalam penanganan pasca panen yang dapat memperpanjang umur pasca
panen di satu sisi dan di sisi lain dapat menekan perkembangan penyakit fatogenis adalah :
a. Pemanenan dilakukan pada tingkat kematangan optimum
a. Menghindari pemotongan atau pelukaan pada kulit (permukaan) komodoti panenan. Luka
merupakan alternatif mudah penetrasi patogen, dan luka mempercepat tingkat respirasi
dan pembentukan etilen
b. Pendinginan komoditi dapat merupakan alternatif penekanan perkembangan patogen
c. Upaya nomor c akan efektif bila dikombinasikan dengan pengaturan kelembaban udara
yang cocok bagi masing-masing komoditi (pada kebanyakan komoditi berkisar 90 95
persen)
d. Penggunaan pengendalian atau memodifikasi atmosfir ruang simpan akan
memperpanjang umur paska panen komoditi

20
HAMA DAN PASCA PANEN PATRICK RONDONUWU

21