You are on page 1of 4

ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO KEPUTIHAN ABNORMAL

Non-infective

Physiological:
Bayi yang baru lahir mungkin memiliki sejumlah kecil cairan vagina, kadang
dicampur dengan sedikit darah, karena tingginya tingkat estrogen ibu yang
bersirkulasi. Ini harus hilang pada usia 2 minggu.
Selama masa reproduksi, tingkat estrogen dan progesteron yang berfluktuasi selama
siklus menstruasi mempengaruhi kualitas dan kuantitas lendir serviks yang dirasakan
oleh wanita sebagai perubahan dalam keputihan mereka. Awalnya, saat estrogen
rendah, lendirnya kental dan lengket. Saat tingkat estrogen meningkat, lendir semakin
jelas, lebih basah dan lebih melar. Setelah ovulasi, terjadi peningkatan ketebalan dan
lengket lendir sekali lagi.
Saat menopause jumlah normal keputihan menurun saat kadar estrogen turun..
Polip servikal dan ektopik presentasi dapat bervariasi, dalam beberapa kasus, keputihan
yang persistent dan tidak berespons terhadap pengobatan conventional bisa menjadi
petunjuk pertama
Reaksi alergi diagnos is banding ditetapkan melalui anamnesis dimana pasien akan
mengatakan pernah kontak dengan irritant misalnya iritan kimiawi ketika mandi busa,
kontak dengan latex dan semen
Benda asing mis : Tampon tetap.
Vulval dermatitis - dibutuhkan biopsy dalam penegakkan diagnosisnya.
Erosive lichen planus dibutuhkan biopsy dalam penegakkan diagnosisnya.
Genital tract malignancy - eg, cancer of the cervix, uterus or ovary.
Fistulae Riwayat trauma atau operasi, mungkin terdapat keputihan yang busuk disertai
materi2 kotor yang keluar bersama yang biasanya berhubungan dengan infeksi saluran
kemih yang rekuren pada pasien (Scott, 2015)

Non-sexually Transmitted infection.

Jamur Keputihan seperti susu, bergumpal, berbau asam, tidak gatal, daerah kemaluan
merah dan bengkak
Parasit Keputihan berbusa dengan kuning kehijauan, bau tidak sedap, gatal
Bakteri Keputihan berwarna keabu-abuan, berbau amis, gatal dan terasa panas
Virus Keputihan encer dan jernih

1. Jamur

Jamur menjadi penyebab tersering terjadinya keputihan yang abnormal yang disebabkan
oleh jamur Candida albicans sebanyak 85% kasus, penyakit ini bermanifestasi tidak berbau ,
bergumpal, berwarna putih seperti susu atau lelehan keju disertai gambaran pruritus dan gatal
pada vulva, iritasi hingga disuria/disparenuria yang disebabkan oleh rasa nyeri yang dialami oleh
pasien (Nwokedi and Anyiam, 2003; Osoba and Lufade, 1973 dikutip dari (Nwadioha, Egah,
Alao, & Iheanacho, 2010)).

2. Bacterial

Keputihan ini disebabkan oleh pertumbuhan berlebih dari organism anaerob yng dominan
di vagina. Organism yang dimaksud adalah Gardnerella vaginalis, Prevotella spp., Mycoplasma
hominis, dan Mobiluncus spp. Namun banyak lain yang telah diidentifikasi. Infeksi ini
menyebabkan terganggunya keseimbangan flora normal didalam vagina (Truter & Graz, 2013).

Organisme pathogen tersebut akan menggantikan Lactobacilli yang merupakan bakteri


dominan yang ditemukan pada vagina normal sehingga pH vagina akan meningkat dari 4,5
hingga 6. Bacterial Vaginosis (BV) tidak dianggap dapat menyebar secara seksual sehingga BV
dapat ditemukan pada wanita perawan, namun tetap saja aktivitas seksual mengambil peran
dalam pengembangan infeksi (Tidy, Harding, & Gronow, 2014). Menurut Salah dkk (2013) BV
sangat terlibat dalam infertilitas wanita dan mungkin merupakan penyebab ketidaksuburan yang
tidak dapat dijelaskan.

Faktor resiko yang dapat dikaitkan dengan BV termasuk memiliki banyak pasangan seks,
berganti pasangan seks pria baru, seks dengan wanita (lesbian), usia dini saat hubungan seksual
pertama, sering melakukan douching vagina, penggunaan benda asing ke vagina atau sabun
wangi, rokok dan kurangnya lactobacilli dalam vagina Lactobacilli (Cherpes et al., 2008 kutipan
dari (Truter & Graz, 2013)). Penurunan kadar estrogen pada wanita perimenopause dan
postmenopause telah dikaitkan dengan flora vagina yang abnormal sebesar 35 70%, bila
dibandingkan dengan flora normal.

3. Parasit

Pada wanita penularan penyakit ini dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung .
penularan secara langsung terutama melalui hubungan seksual dan penularan secara tidak
langsung dapat terjadi pada penggunaan fasilitas umum yang kurang terjaga kebersihannya
seperti toilet , kolam renang, pakaian dan air sungai yang telah terkontaminasi. (Lovarita, 2012)

Cairan kental ( discharge ) , bau , menimbulkan iritasi atau gatal , dispareunia , disuria
maupun perasaan tidak enak pada bagian bawah perut . Sedangkan gejala pada penderita
trikomoniasis kadang kadang tidak ada, eritemia vulva yang difus, cairan kental ( discharge )
yang berlebihan warna kekuning kuningan dan berbusa , inflamasi dinding vagina maupun
strawberry cervix yang terlihat pada pengamatan langsung dengan kolposkopi. (Omer
E.F.E,1993 dikutip dari (Lovarita, 2012)).

Patofisologi timbulnya bau amis pada keputihan awalnya didahului oleh pertumbuhan
mikroorganisme anaerobik yang berlebihan disertai produksi enzim proteolitik yang berperan
dalam pelepasan produk biologik seperti poliamina. Produksi zat inimenyebabkan transudasi
cairan vagina dan eksfoliasi sel epitel yg menyebabkan sekretvagina. Bau amis pada keputihan
berasal dari poliamina.

Sexually-transmitted Infection

1. Chlamydia trachomatis

Dapat menyebabkan keputihan yang bersifat purulent yang volumenya berlebihan, namun
hal ini hanya terjadi pada 20% pasien, sisanya asimptomatik (Scott, 2015).

2. Trichomonas vaginalis

Dapat menyebabkan keputihan yang berwarna kekuningan, yang sering berlimpah dan
berbusa, disertai dengan gatal pada vulva dan rasa sakit, disuria, nyeri perut dan nyeri saat
melakukan hubungan seksual (Scott, 2015).

3. Neisseria gonorrhoeae

Dapat menyebabkan keputihan yang purulen namun sering bersifat asimptomatik pada
sebagian kasus (Scott, 2015).

FAKTOR RESIKO
Faktor resiko yang dapat memperberat terjadinya keputihan yang abnormal termasuk
memiliki banyak pasangan seks, berganti pasangan seks pria baru, seks dengan wanita (lesbian),
usia dini saat hubungan seksual pertama, sering melakukan douching vagina, penggunaan benda
asing ke vagina atau sabun wangi, rokok dan kurangnya lactobacilli dalam vagina Lactobacilli
tidak menggunakan kondom, menggunakan WC public yang kurang terjaga kebershiannya,
mandi di sungai yang kebersihannya tidak terjaga (Cherpes et al., 2008 kutipan dari (Truter &
Graz, 2013)).

Faktor resiko yang dapat menyebabkan seseorang terkena keputihan akibat


ditransmisikan secara seksual meliputi : tidak digunakannya kondom, berganti pasangan seks
kurang lebih 3 bulan, sering berganti pasangan seks, gejala pada partner seks (disuria),
sebelumnya sempat terinfeksi penyakit seksual, kebiasaan seksual pasangannya yang beresiko
(Mitchell, 2004)
SUMBER

Lovarita, D. (2012). Prevalensi Trikomoniasis pada Wanita Maupun Pria yang Mandi di Daerah
Aliran Sungai Kota Malang. Trikomoniasis Vaginalis , 1-11. RSUD IBNU SINA: Gresik

Mitchell, H. (2004). Vaginal Discharge-Causes, Diagnosis and Treatment. ABC of Sexually


Transmitted Infections , 1-3. London

Nwadioha, S., Egah, D., Alao, O. O., & Iheanacho, E. (2010). Risk Factors for Vaginal
Candidiasis Among Women Attending Primary Health Care Centers of Jos, Nigeria. Journal of
Clinical Medicine and Research , 1-4. Benue State University: Nigeria

Scott, D. O. (2015, August 07). Vaginal Discharge. Patient , 1-6. Diakses melalui
patient.info/doctor/vaginal-discharge

Tidy, D. C., Harding, D. M., & Gronow, D. H. (2014, September 30). Bacterial Vaginosis.
Retrieved May 8, 2017, from Patient: https://patient.info/doctor/bacterial-vaginosis-pro

Truter, I., & Graz, M. (2013, December 3). Bacterial Vaginosis: Literature Review of Treatment
Options With Specific Emphasis on Non-Antibiotic treatment. African Journal of Pharmacy and
Pharmacology , 1-8. Academic Journals: South Africa