You are on page 1of 5

BAB IV PENYUSUNAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1. PENENTUAN LOKASI PENELITIAN


Sebelum melakukan pengambilan data ke lapangan lebih dulu penulis menentukan lokasi
penelitian berdasarkan batasan masalah yang terdapat pada bab I. PT.NKE Macmahon JV
saat ini melakukan penambangan di 2 PIT yaitu Purnama PIT dan Barani PIT. Akan tetapi
untuk evaluasi Fragmentasi hanya dilakukan di PIT Purnama saja. PIT Purnama
dikelompokkan menjadi 3 zone yaitu Zona 1 , Zona 2 dan Zona 3. Ketiga zona tersebut
merupakan bagian daripada lokasi penelitian oleh penulis . berikut ini merupakan batasan
dari setiap zona yang dilakukan penelitian.

Selain lokasi yang menjadi batasan dalam skripsi ini, material yang diangkut juga menjadi
batasan dimana hanya material ore yang di ambil dan diolah untuk dievaluasi hasil
blastingnya.

4.2. PENGAMBILAN DATA LAPANGAN


4.2.1. DRILLING
Setelah dilakukan penentuan lokasi, penulis kemudian mengambil data Drilling pada
lokasi tersebut. Untuk mengetahui lokasi lokasi dimana saja yang akan di driling,
penulis akan melihat sequent drilling berdasarkan weekly selain itu ada beberapa
lokasi yang memang tidak sesuai dengan weekly juga masuk kedalam lokasi penelitian.
Pengambilan data drilling berupa Penetrasi Drilling, Keras atau Lunaknya batuan yang
dibor serta target kedalaman setiap lubang. Hal ini untuk melihat efek kualitas lubang
terhadap peledakan yang juga akan mempengaruhi fragmentasi dari peledakan
tersebut.

Berikut ini merupakan tabel pengambilan data drilling dari setiap lokasi penelitian yang
diambil oleh penulis :
ID Digging Elevasi Jenis Batuan Penetrasi Avrg. Drill Hole
(m/hours) (Meter)
TA01 397.5-390
TA02 397.5-390
TA03 REBLAST
TA04 395-390
TA05 390-380
TA06 382.5-375
TA07 375-367.5
TA08 375-367.5
TA09 375-365
TA10 375-365
TA11 375-365
TA12 382.5-375
TA13 375-365
TA14 375-365
TA15 382.5-375
TA16 367.5-360
4.2.2. BLASTING
Untuk blasting, penulis juga melakukan pengambilan data khususnya pada geometri
peledakan yang digunakan oleh perusahaan. Geometri sendiri memiliki efek yang
cukup besar untuk mempengaruhi fragmentasi hasil peledakan. Data blasting yang
digunakan sebagai parameter dalam penelitian ini antara lain Burden, Spacing, Sub
Drill, Bench Height, dan juga stemming.
Berikut ini merupakan data blasting yang didapat oleh penulis dari setiap lokasi yang
dilakukan penelitian :
DIG ELEVASI JENIS B S H SD T PC L
ID MATERIAL
TA01 397.5-
390
TA02 397.5-
390
TA03 REBLAST
TA04 395-390
TA05 390-380
TA06 382.5-
375
TA07 375-
367.5
TA08 375-
367.5
TA09 375-365
TA10 375-365
TA11 375-365
TA12 382.5-
375
TA13 375-365
TA14 375-365
TA15 382.5-
375
TA16 367.5-
360

4.2.3. FRAGMENTASI HASIL PELEDAKAN


Setelah dilakukan blasting penulis mengambil Data fragmentasi dari setiap lokasi
penelitian. Pengambilan data berupa foto-foto yang akan di Analysis menggunakan
software split desktop . dalam pengambilan data fragmentasi, foto fragmentasi
diambil dari setiap layer pada satu lokasi peledakan. Mulai dari Muck pile sampai ke
layer terakhir. 1 layer berukuran 2.5 meter.

Berikut ini merupakan foto fragmentasi dari setiap lokasi penelitian :

DIGGING ID ELEVASI JENIS MATERIAL FOTO FRAGMENTASI


TA01 397.5-
390
TA02 397.5-
390
TA03 REBLAST
TA04 395-390
TA05 390-380
TA06 382.5-
375
TA07 375-
367.5
TA08 375-
367.5
TA09 375-365
TA10 375-365
TA11 375-365
TA12 382.5-
375
TA13 375-365
TA14 375-365
TA15 382.5-
375
TA16 367.5-
360

4.2.4. CYCLE TIME EXCAVATOR


Cycle time excavator diambil per layer dari setiap lokasi yang peneltian. Mulai dari
muck pile sampai layer terakhir.
4.3. PENGOLAHAN DATA
4.3.1. SIEVE ANALYSIS FRAGMENTASI BY SPLIT DESKTOP 3.1
4.3.2. DIGGING RATE EXCAVATOR
4.3.3. DATA BLASTING VS DATA DRILLING
4.3.4. DATA BLASTING VS FRAGMENTASI
4.3.5. DATA BLASTING VS DIGGING RATE

BAB V PEMBAHASAN

5.1. ANALISIS FRAGMENTASI


Berdasarkan hasil sieve analysis menggunakan split dekstop 3.1menunjukkan analysis per
zone sebagai berikut
Zone 1 : pada zona ini boulder yang diketahui berkisar di angka 37,47% dan
fines berada di angka 62.53 %. Dari hasil sieve pada zona 1 ini menunjukkan
tingginya tingkat boulder yang ditemukan setelah peledakan dilakukan. Hal ini
tidak sesuai dengan target yang telah di rencanakan dimana hasil boulder setelah
peledakan berada diangka 15 %. Dari 3 lokasi peneletian di zona 1 terdapat 2 lokasi
yang begitu banyak ditemukan boulder. Bahkan di lokasi 397.5 , mulai dari
muckpile sampai ke layer 3 boulder selalu ditemukan. Untuk lebih jelas dapat
melihat di tabel Sieve Analysis.
Zone 2 : pada zona 2 hasil sieve analysis menunjukkan angka yang lebih baik
dibandingkan dengan zona 1. angka boulder yang ditemukan pada lokasi di zona
yaitu sebesar 11.22% sedangkan fines berada diangka 88.78 %.. dari hasil ini
menunnjukan tercapai target maximal boulder yang ditemukan yaitu kurang dari
15%. Pada lokasi ini kedalaman yang dipakai adalah 10.5 meter dan 8 meter.
Zone 3 : pada zona 3 hasil sieve analysis menunjukkan persentase boulder
dilokasi ini berada di angka 11.29 % sedangkan persentase fines berada di angka
88.71%. hasil yang hampir sama dengan zona 2. Karna memang beberapa lokasi di
zona 2 dan 3 merupakan soft material sehingga lubang yang dihasilkan juaga cukup
bagus untuk dilakukan peledakan.
5.2. DIGGING RATE EXCAVATOR
Digging rate excavator digunakan sebagai parameter apakah blasting yang telah dilakukan
sudah maximal berdasarkan hasil digging time excavator. Excavator yang digunakan dalam
penelitian ini adalah CAT 390F dengan target produksi 343 bcm/ hours. Dari target ini
peneliti membuat waktu maximal digging yaitu sebesar 12 detik untuk mencapai waktu
tersebut. Selain itu parameter lain untuk melihat keberhasila adalah jumlah bucket untuk
satu truck. Penulis membuat target sebesar 4.4. dimana asumsi kita excavator memiliki
persentase digging time 60% dan 40% merupakan waktu clean up/ waiting truck untuk
excavator.

Dari hasil digging rate yang telah diolah menunjukan analisis sebagai berikut ini

Zone 1 : di Zona 1 digging time dari excavator 390F sebesar 18.54 detik. Berbeda
kurang lebih 6.5 detik dari target yaitu 12 detik. 1 load per bucket memakan waktu sebesar
28.54 detik. Jumlah bucket untuk satu tru yaitu 5.57 sehingga waktu yang diperlukan untuk
1 kali loading /truck adalah 158.63 detik. Dengan angka yang sebesar itu sulit untuk
mencapai target produksi 343 BCM/ hours. Berdasarkan forecast Loading Time Excavator
yang dibuat oleh penulis, lokasi ini hanya akan mencapai produksi maksimal 210 bcm/jam.
Zone 2 : digging time pada zona
5.3. Data Blasting vs Data Drilling
Tabel Perbandingan Bench Height Terhadapa Penetrasi drilling pada lokasi
5.4. Data Blasting (Bench Parameter) vs Data Fragmentasi

5.5. Data Blasting (Bench Parameter) vs Digging Rate