You are on page 1of 12

Nama: Hana Rosanna

NPM : 1306405465
Kelas : UUEF B

TUGAS INDIVIDU UUEF


HAK KONSUMEN DAN KEWAJIBAN PELAKU PRAKTIK
TERKAIT KEFARMASIAN

HAK KONSUMEN SESUAI PER-UU-AN HAK KONSUMEN TERKAIT KEWAJIBAN PELAKU PRAKTIK
(UMUM) KEFARMASIAN DAN CONTOH TERKAIT KEFARMASIAN DAN
CONTOH
UU 8 Tahun 2009 Pasal 4: UU 36 Tahun 2009: UU 8 Tahun 1999:
Mendapatkan kenyamanan, keamanan, dan Setiap orang mempunyai hak dalam Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang
keselamatan dalam mengonsumsi barang memperoleh pelayanan kesehatan yang diproduksi dan/atau diperdagangkan
dan/atau jasa aman, bermutu, dan terjangkau berdasarkan ketentuan standar mutu barang
dan/atau jasa yang berlaku
UU 44 Tahun 2009:
Memperoleh layanan kesehatan yang UU 36 Tahun 2014:
bermutu sesuai dengan standar profesi dan Memberikan pelayanan kesehatan sesuai
standar prosedur operasional dengan Standar Profesi, Standar Pelayanan
Profesi, Standar Prosedur Operasional, dan
CONTOH: etika profesi serta kebutuhan kesehatan
Konsumen berhak menerima sediaan farmasi Penerima Pelayanan Kesehatan;
yang terjamin mutu dan keamanannya sesuai
dengan persyaratan yang berlaku, tidak PP 32 Tahun 1996:
menimbulkan dampak buruk pada konsumen Setiap tenaga kesehatan dalam melakukan
dan/atau pelayanan kesehatan yang sesuai tugasnya berkewajiban untuk mematuhi
standar yang telah ditetapkan standar profesi tenaga kesehatan.

PP 51 Tahun 2009:
Tenaga Kefarmasian dalam melakukan
Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas
Pelayanan Kefarmasian wajib mengikuti
paradigma pelayanan kefarmasian dan
perkembangan ilmu pengetahuan serta
teknologi

Contoh: tenaga kefarmasian harus selalu


memperbaharui pengetahuanya mengenai
perkembangan sediaan farmasi dan/atau
pelayanan kefarmasian agar dapat melakukan
pengembangan yang menuju kepada
peningkatan efektivitas dan mutu barang
dan/atau jasa yang dihasilkan

PMK No. 922 Tahun 1993:


Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan
tanggung jawab dan keahlian profesinya yang
dilandasi pada kepentingan masyarakat.

CONTOH: Apoteker dalam melayani resep


harus melakukan skrining terhadap faktor
administratif, farmasetis, dan klinis untuk
memastikan resep yang diberikan dapat
dilayani, dan sesuai serta rasional untuk kondisi
pasien yang menerima resep.

UU 8 Tahun 2009: UU 44 Tahun 2009: UU 36 Tahun 2014:


Memilih barang dan/atau jasa serta Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai Memperoleh persetujuan dari Penerima
mendapatkannya sesuai dengan nilai tukar dengan keinginannya dan peraturan yang Pelayanan Kesehatan atau keluarganya atas
dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan berlaku di Rumah Sakit tindakan yang akan diberikan

Memberikan persetujuan atau menolak Tiap tindakan tenaga kesehatan yang


atas tindakan yang akan dilakukan oleh mengandung resiko tinggi harus diberikan
tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani
dideritanya oleh pihak yang berhak mendapatkan
persetujuan

CONTOH: Apabila konsumen dan/atau PP 32 Tahun 1996:


pasien tidak mampu membeli obat dengan Meminta persetujuan terhadap tindakan
merek dagang yang diresepkan oleh dokter di yang akan dilakukan
apotek, pasien memiliki hak untuk bertanya
dan meminta penggantian obat dengan harga PMK No. 9 Tahun 2014:
yang lebih murah tetapi tetap terjamin Setiap klinik berkewajiban memperoleh
kualitasnya kepada apoteker yang bertugas persetujuan atas tindakan yang akan
dilakukan (informed consent)

CONTOH: Dalam melayani resep di apotek,


apabila seorang pasien tidak mampu untuk
menebus obat merek dagang yang diresepkan
oleh dokter, apoteker diberi wewenang untuk
menawarkan dan mengganti obat merek
dagang dengan obat generik dengan indikasi
yang sama dan mutu serta keamanan yang
terjamin atas dasar keinginan dan
persetujuan pasien

UU 8 Tahun 2009: UU 36 Tahun 2009: UU 8 Tahun 1999:


Mendapatkan informasi yang benar, jelas, Setiap orang berhak untuk mendapatkan Memberikan informasi yang benar, jelas
dan jujur mengenai kondisi dan jaminan informasi dan edukasi tentang kesehatan dan jujur mengenai barang dan/atau jasa serta
barang dan/atau jasa yang seimbang dan bertanggungjawab memberi penjelasan penggunaan, perbaikan
serta mengenai tindakan dan pengobatan yang dan pemeliharaan
telah maupun yang akan diterimanya dari
tenaga kesehatan

UU 44 Tahun 2009: UU 44 Tahun 2009:


Mendapat informasi yang meliputi diagnosis Memberikan infromasi yang benar, jelas
dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan dan jujur mengenai hak dan kewajiban pasien
medis, alternatif tindakan, risiko dan
komplikasi yang mungkin terjadi, dan
prognosis terhadap tindakan yang dilakuakan
UU 36 Tahun 2014:
PMK No. 9 Tahun 2017: Setiap Tenaga Kesehatan yang melaksanakan
Pasien berhak meminta salinan Resep. pelayanan kesehatan perseorangan wajib
membuat rekam medis Penerima Pelayanan
CONTOH: Seorang pasienberhak Kesehatan.
mendapatkan informasi dan edukasi mengenai
obat yang diberikan, meliputi indikasi, cara
pemakaian, lama pemakaian, penyimpanan, PP 32 Tahun 1996:
efek samping, interaksi obat dan makanan, Memberi Informasi yang berkaitan dengan
dan informasi lainnya yang terkait dengan kondisi dan tindakan yang akan dilakukan
terapi yang didapatkan
PMK No 922 Tahun 1993:
Apoteker wajib memberikan informasi:
a. Yang berkaitan dengan penggunaan obat
yang diserahkan kepada pasien.
b. Penggunaan obat secara tepat, aman,
rasional atas permintaan masyarakat.

CONTOH: seorang Apoteker wajib


melakukan PIO sebagai salah satu bentuk
pelayanan kefarmasian, dimana dilakukan
pemberian informasi obat meliputi: indikasi,
cara pemakaian, lama pemakaian,
penyimpanan, efek samping, interaksi obat dan
makanan, dan informasi lainnya yang terkait
dengan terapi yang didapatkan

UU 8 Tahun 2009: UU 44 Tahun 2009: UU 44 Tahun 2009:


Untuk didengar pendapatnya dan Mengajukan usul, saran, perbaikan atas menghormati dan melindungi hak-hak
keluhannya atas barang dan/atau jasa yang perlakuan rumah sakit terhadap dirinya pasien
digunakan
Mengajukan pengaduan atas kualitas CONTOH: Apoteker wajib mendengar ,
pelayanan yang didapatkan mengevaluasi serta merespon keluhan pasien
terkait terapi obat yang diberikan seperti
CONTOH: Seorang pasien berhak kurang atau tidak berefeknya obat atau
menyampaikan keluhannya jika terapi obat munculnya efek yang tidak diinginkan. Respon
yang diberikan kurang atau tidak dapat berupa penyesuaian dosis terapi yang
menimbulkan efek sesuai dengan yang diberikan atau menggunakan alternatif terapi
diinginkan atau jika terjadi efek yang tidak lain yang lebih aman. efektif dan sesuai untuk
diinginkan karena pemakaian obat agar kondisi pasien
dilakukan evaluasi ulang terhadap terapi yang
diberikan dapat mengarah ke penyesuaian
dosis atau penggantian obat

UU 8 Tahun 2009: UU 44 Tahun 2009: UU 36 Tahun 2014:


Mendapatkan advokasi, perlindungan, dan Meminta konsultasi tentang penyakit yang Merujuk Penerima Pelayanan Kesehatan ke
upaya penyelesaian sengketa perlindungan dideritanya kepada dokter lain yang tenaga kesehatan lain yang mempunyai
konsumen secara patut mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di kompetensi dan kewenangan yang sesuai
dalam maupun luar rumah sakit
PP 59 Tahun 2001:
Dalam membantu konsumen untuk
memperjuangkan haknya, LPKSM dapat
melakukan advokasi atau pemberdayaan
konsumen agar mampu memperjuangkan
haknya secara mandiri, baik secara perorangan
maupun kelompok.

PerKaBPOM No 39 Tahun 2013


Kepala Badan POM dan pejabat yang
berwenang berkewajiban melindungi
Pemohon dalam:
a. Pemberian informasi adanya indikasi
terjadinya penyimpangan atau
penyalahgunaan wewenang yang dilakukan
oleh Pelaksana, sehingga mengakibatkan
kerugian Pemohon/negara; dan
b. Permintaan klarifikasi, konfirmasi atau
pengaduan terkait penyimpangan Pelayanan
Publik di lingkungan Badan Pengawas Obat
dan Makanan.

CONTOH: Tenaga kesehatan memiliki


kewajiban melindungi konsumen dari
terjadinya penyimpangan atau penyalahgunaan
wewenang yamg dapat terjadi, seperti kasus
vaksin palsu, obat palsu,dan tablet pcc.

UU 8 Tahun 2009: UU 36 Tahun 2009: UU 36 Tahun 2009:


Mendapat pembinaan dan pendidikan Setiap orang berhak untuk mendapatkan Tenaga kesehatan dalam melaksanakan
konsumen informasi dan edukasi tentang kesehatan tugasnya berkewajiban mengembangkan dan
yang seimbang dan bertanggung jawab. meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki.
CONTOH: Konsmen memiliki hak untuk
mendapatkan informasi kesehatan dan PP 59 Tahun 2001:
pembinaan mengenai isu-isu kesehatan yang Memberikan nasihat kepada konsumen
ada contohnya vaksin dan obat palsu dari yang memerlukan secara lisan atau tertulis
pemerintah agar konsumen dapat melaksanakan hak dan
kewajibannya.

CONTOH: Teaga kesehatan harus


memperkaya diri dengan pengetahuan
mengenai isu-isu kesehatan yang sedang
beredar contohnya vaksin palsu dan dapat
memberikan pembinaan dan pemahaman
terhadap konsumen untuk menghindarkan
konsumen dari isu tersebut

UU 8 Tahun 2009: UU 36 Tahun 2009: UU 8 Tahun 1999:


Diperlakukan atau dilayani secara benar Setiap orang mempunyai hak yang sama Memperlakukan atau melayani konsumen
dan jujur serta tidak diskriminatif dalam memperoleh akses atas sumber daya secara benar dan jujur serta tidak
di bidang kesehatan diskriminatif

UU 44 Tahun 2009:
Memperoleh layanan yang manusiawi, UU 44 Tahun 2009:
adil, jujur, dan tanpa diskriminasi Memberi pelayanan kesehatan yang aman,
bermutu, antidiskriminasi, dan efektif
CONTOH: Konsumen berhak mendapatkan dengan mengutamakan kepentingan pasien
pelayanan kesehatan yang sama kualitasnya sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit;
tanpa melihat apakah dia pemilik BPJS
kesehatan ataupun bukan . UU 36 Tahun 2014:
Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik
pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib
memberikan pertolongan pertama kepada
Penerima Pelayanan Kesehatan dalam
keadaan gawat darurat dan/atau pada
bencana untuk penyelamatan nyawa dan
pencegahan kecacatan.

PMK No 9 Tahun 2014:


Setiap klinik wajib memberikan pelayanan
gawat darurat kepada pasien sesuai dengan
kemampuan pelayanannya tanpa meminta
uang muka terlebih dahulu atau
mendahulukan kepentingan finansial

CONTOH: Apoteker berkewajiban


memberikan obat dengan kualitas yang sama
tanpa mengurangi khasiat/manfaat obat tanpa
melihat status apakah pasien tersebut pemilik
BPJS kesehatan atau bukan

UU 8 Tahun 2009: UU 36 Tahun 2009: UU 8 Tahun 1999:


Mendapatkan kompensasi, ganti rugi Setiap orang berhak menuntut ganti rugi Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau
dan/atau penggantian jika barang dan/atau terhadap seseorang, tenaga kesehatan, penggantian atas kerugian akibat
jasa yang diterima tidak sebagaimana dan/atau penyelenggara kesehatan yang penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan
mestinya menimbulkan kerugian akibat kesalahan barang dan/atau jasa yang diterima atau
atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian
yang diterimanya
CONTOH: Instalasi farmasi rumah sakit
UU 44 Tahun 2009: memberikan ganti rugi terhadap obat yang
Menggugat dan/atau menuntut Rumah salah diberikan atau obat yang tidak dalam
Sakit apabila rumah sakit diduga kondisi baik atau semestinya
memberikan pelayanan yang tidak sesuai
dengan standar baik secara perdata maupun
pidana

PP 32 Tahun 1996:
Pasien berhak atas ganti rugi apabila dalam
pelayanan kesehatan yang diberikan oleh
tenaga kesehatan mengakibatkan
terganggunya kesehatan, cacat, atau
kematian yang terjadi karena kesalahan atau
kelalaian.

PP 72 Tahun 1998:
Hak untuk mendapatkan ganti rugi apabila
sediaan farmasi dan alat kesehatanyang
digunakan mengakibatkan terganggunya
kesehatan, cacat atau kematian yang terjadi
karena sediaan farmasi dan alat kesehatan
yang tidak memenuhi persyaratan mutu,
keamanan dan kemanfaatan.

CONTOH: Konsumen berhak meminta ganti


rugi apabila obat yang diberikan oleh tenaga
kesehatan berada dalam kondisi yang tidak
baik atau salah agar diganti dengan obat yang
baru. Apabila terjadi efek yang tidak
diinginkan karena obat tersebut, konsumen
berhak menuntut tenaga kesehatan atau
instansi kesehatan berdasarkan peraturan yang
berlaku
UU 8 Tahun 1999: UU 44 Tahun 2009: UU 44 Tahun 2009:
Hak-hak yang diatur dalam ketentuan undang- mendapatkan privasi dan kerahasiaan Setiap Rumah Sakit harus menyimpan
undang lainnya contoh: Privasi/ penyakit yang diderita termasuk data-data rahasia kedokteran yang hanya dapat dibuka
Kerahasiaan konsumen/pasien medisnya untuk kepentingan kesehatan pasien, untuk
pemenuhan permintaan aparat penegak hukum
UU 36 Tahun 2009: dalam rangka penegakan hukum, atas
Setiap orang berhak atas rahasia kondisi persetujuan pasien sendiri, atau berdasarkan
kesehatan pribadinya yang telah ketentuan peraturan perundang-undangan
dikemukakan kepada penyelenggara
pelayanan kesehatan. Rumah Sakit dapat menolak
mengungkapkan segala informasi kepada
CONTOH: Pasien berhak atas penjagaan publik yang berkaitan dengan rahasia
terhadap privasi dan kerahasiaadari informasi kedokteran.
yang telah diberikan kepada tenaga kesehatan.
Terkait kefarmasian, jika tidak ada kondisi UU 36 Tahun 2014:
khusus, hanya pasien/keluarga pasien dan Tiap tenaga kesehatan wajib menjaga
apotek yang menyimpan data kopi resep yang kerahasiaan kesehatan Penerima Pelayanan
dimiliki pasien untuk menebus obat Kesehatan
berikutnya.
PP 51 Tahun 2009:
Setiap Tenaga Kefarmasian dalam menjalankan
Pekerjaan Kefarmasian wajib menyimpan
Rahasia Kedokteran dan Rahasia
Kefarmasian yang hanya dapat dibuka untuk
kepentingan pasien, memenuhi permintaan
hakim dalam rangka penegakan hukum,
permintaan pasien sendiri dan/atau berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

PMK No 9 Tahun 2017:


Resep atau salinan Resep hanya dapat
diperlihatkan kepada dokter penulis resep,
pasien yang bersangkutan atau yang
merawat pasien, petugas kesehatan atau
petugas lain yang berwenang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

CONTOH: Tenaga kefarmasian yang


mendapatkan resep dari pasien dalam melayani
resep harus menjaga kerahasiaan resep tersebut
dari pihak lain. Setelah dilakukan dispensing,
resep tersebut harus disimpan dengan baik
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Jika perlu dibuat kopi resep, kopi resep tersebut
kecuali dalam kondisi khusus (seperti
diperlukan penegak hukum atau dokter yang
meresepkan) hanya boleh diberikan pada
pasien atau keluarga pasien