You are on page 1of 19

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan Perekonomian

Indonesia
Dibuat: Kamis, 12 Februari 2015 08:23

Ditulis oleh G.T. Suroso

Oleh

G.T. Suroso

Widyaiswara BPPK

Abstrak

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara yang
telah dilakukan secara bertahap mulai KTT ASEAN di Singapura pada tahun 1992. Tujuan dibentuknya
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di kawasan ASEAN,
serta diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah di bidang ekonomi antar negara ASEAN.
Konsekuensi atas kesepakatan MEA tersebut berupa aliran bebas barang bagi negara-negara ASEAN,
dampak arus bebas jasa, dampak arus bebas investasi, dampak arus tenaga kerja terampil, dan dampak
arus bebas modal. Hal-hal tersebut tentunya dapat berakibat positif atau negative bagi perekonomian
Indonesia. Oleh karena itu dari sisi pemerintah juga dilakukan strategi dan langkah-langkah agar
Indonesia siap dan dapat memanfaatkan momentum MEA.

Kata kunci : MEA, dampak positif, dampak negatif, perekonomian, strategi pemerintah

Dari AFTA menuju MEA

Indonesia termasuk salah satu negara dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN
Economic Community (AEC) yang akan bergulir mulai akhir tahun 2015 ini. MEA merupakan realisasi
pasar bebas di Asia Tenggara yang sebelumnya telah disebut dalam Framework Agreement on
Enhancing ASEAN Economic Cooperation pada tahun 1992. Pada pertemuan tingkat Kepala Negara
ASEAN (ASEAN Summit) ke-5 di Singapura pada tahun 1992 tersebut para Kepala Negara mengumumkan
pembentukan suatu kawasan perdagangan bebas di ASEAN (AFTA) dalam jangka waktu 15 tahun.
Kemudian dalam perkembangannya dipercepat menjadi tahun 2003, dan terakhir dipercepat lagi
menjadi tahun 2002. (www.tarif.depkeu.go.id)
Pembentukan MEA berawal dari kesepakatan para pemimpin ASEAN dalam Konferensi Tingkat
Tinggi (KTT) pada Desember 1997 di Kuala Lumpur, Malaysia. Kesepakatan ini bertujuan meningkatkan
daya saing ASEAN serta bisa menyaingi Tiongkok dan India untuk menarik investasi asing. Modal asing
dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan warga ASEAN. Saat itu, ASEAN
meluncurkan inisiatif pembentukan integrasi kawasan ASEAN atau komunitas masyarakat ASEAN melalui
ASEAN Vision 2020 saat berlangsungnya ASEAN Second Informal Summit. Inisiatif ini kemudian
diwujudkan dalam bentuk roadmap jangka panjang yang bernama Hanoi Plan of Action yang disepakati
pada 1998.

Pada KTT selanjutnya Indonesia merupakan salah satu inisiator pembentukan MEA yaitu dalam
Deklarasi ASEAN Concord II di Bali pada 7 Oktober 2003 dimana Para Petinggi ASEAN mendeklarasikan
bahwa pembentukan MEA pada tahun 2015 (nationalgeographic.co.id). Pembentukan Komunitas ASEAN
ini merupakan bagian dari upaya ASEAN untuk lebih mempererat integrasi ASEAN. Selain itu juga
merupakan upaya evolutif ASEAN untuk menyesuaikan cara pandang agar dapat lebih terbuka dalam
membahas permasalahan domestik yang berdampak pada kawasan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip
utama ASEAN, yaitu: saling menghormati (Mutual Respect), tidak mencampuri urusan dalam negeri
(Non-Interfence), konsensus, diaog dan konsultasi. Komunitas ASEAN terdiri dari tiga pilar yang termasuk
di dalamnya kerjasama di bidang ekonomi, yaitu: Komonitas Keamanan ASEAN (ASEAN Security
Comunity/ASC), Komunitas Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC) dan Komunitas Sosial
Budaya ASEAN (ASEAN Sosio-Cultural Community/ASCC).

Tujuan dibentuknya MEA untuk meningkatkan stabilitas perekonomian dikawasan ASEAN, serta
diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah dibidang ekonomi antar negara ASEAN. Selama hampir
dua dekade , ASEAN terdiri dari hanya lima negara - Indonesia , Malaysia , Filipina , Singapura , dan
Thailand - yang pendiriannya pada tahun 1967. Negara-negara Asia Tenggara lainnya yang tergabung
dalam waktu yang berbeda yaitu Brunei Darussalam (1984), Vietnam (1995 ) , Laos dan Myanmar (1997
) , dan Kamboja (1999 ).

Dampak MEA

Gambaran karakteristik utama MEA adalah pasar tunggal dan basis produksi; kawasan ekonomi
yang berdaya saing tinggi; kawasan dengan pembangunan ekonomi yangadil; dan kawasan yang
terintegrasi ke dalam ekonomi global. Dampak terciptanya MEA adalah terciptanya pasar bebas di
bidang permodalan, barang dan jasa, serta tenaga kerja. Konsekuensi atas kesepakatan MEA yakni
dampak aliran bebas barang bagi negara-negara ASEAN, dampak arus bebas jasa, dampak arus bebas
investasi, dampak arus tenaga kerja terampil, dan dampak arus bebas modal.

.Dari karakter dan dampak MEA tersebut di atas sebenarnya ada peluang dari momentum MEA
yang bisa diraih Indonesia. Dengan adanya MEA diharapkan perekonomian Indonesia menjadi lebih baik.
Salah satunya pemasaran barang dan jasa dari Indonesia dapat memperluas jangkauan ke negara ASEAN
lainnya. Pangsa pasar yang ada di Indonesia adalah 250 juta orang. Pada MEA, pangsa pasar ASEAN
sejumlah 625 juta orang bisa disasar oleh Indonesia. Jadi, Indonesia memiliki kesempatan lebih luas
untuk memasuki pasar yang lebih luas. Ekspor dan impor juga dapat dilakukan dengan biaya yang lebih
murah. Tenaga kerja dari negara-negara lain di ASEAN bisa bebas bekerja di Indonesia. Sebaliknya,
tenaga kerja Indonesia (TKI) juga bisa bebas bekerja di negara-negara lain di ASEAN.

Dampak Positif lainnya yaitu investor Indonesia dapat memperluas ruang investasinya tanpa ada
batasan ruang antar negara anggota ASEAN. Begitu pula kita dapat menarik investasi dari para pemodal-
pemodal ASEAN. Para pengusaha akan semakin kreatif karena persaingan yang ketat dan para
professional akan semakin meningkatakan tingkat skill, kompetansi dan profesionalitas yang dimilikinya.

Namun, selain peluang yang terlihat di depan mata, ada pula hambatan menghadapi MEA yang
harus kita perhatikan. Hambatan tersebut di antaranya : pertama, mutu pendidikan tenaga kerja masih
rendah, di mana hingga Febuari 2014 jumlah pekerja berpendidikan SMP atau dibawahnya tercatat
sebanyak 76,4 juta orang atau sekitar 64 persen dari total 118 juta pekerja di
Indonesia. Kedua, ketersediaan dan kualitas infrastuktur masih kurang sehingga mempengaruhi
kelancaran arus barang dan jasa. Menurut Global Competitiveness Index (GCI) 2014, kualitas
infrastruktur kita masih tertinggal dibandingkan negara Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan
Thailand. .Ketiga, sektor industri yang rapuh karena ketergantungan impor bahan baku dan setengah
jadi.Keempat, keterbatasan pasokan energi. Kelima, lemahnya Indonesia menghadapi serbuan impor,
dan sekarang produk impor Tiongkok sudah membanjiri Indonesia. Apabila hambatan-hambatan tadi
tidak diatasi maka dikhawatirkan MEA justru akan menjadi ancaman bagi Indonesia.

MEA dan kebijakan pemerintah

Menjelang MEA yang sudah di depan mata, pemerintah Indonesia diharapkan dapat
mempersiapkan langkah strategis dalam sektor tenaga kerja, sektor infrastuktur, dan sektor industri.
Dalam menghadapi MEA, Pemerintah Indonesia menyiapkan respon kebijakan yang berkaitan dengan
Pengembangan Industri Nasional, Pengembangan Infrastruktur, Pengembangan Logistik, Pengembangan
Investasi, dan Pengembangan Perdagangan (www.fiskal.depkeu.go.id). Selain hal tersebut masing-
masing Kementrian dan Lembaga berusaha mengantisipasi MEA dengan langkah-langkah strategis.

Pemerintah berusaha mengubah paradigma kebijakan yang lebih mengarah ke kewirausahaan


dengan mengedepankan kepentingan nasional. Untuk bisa menghadapi persaingan MEA, tidak hanya
swasta (pelaku usaha) yang dituntut harus siap namun juga pemerintah dalam bentuk kebijakan yang
pro pengusaha.

Negara lain sudah berpikir secara entrepreneurial (wirausaha), bagaimana agar


pemerintah berjalan dan berfungsi laksana seubah organisasi entrepreneurship yang berorientasi pada
hasil. Maka dengan momentum MEA ini sudah tiba saatnya pemerintah Indonesia mengubah pola pikir
lama yang cenderung birokratis dengan pola pikirentrepreneurship yang lebih taktis, efektif dan efisien.
Sebagai contohnya adalah kebijakan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp 300 triliun (US$ 30
miliar) yang kurang produktif diarahkan kepada pembiayayaan yang lebih produktif misalnya investasi
infrastruktur.

Dalam bidang pendidikan, Pemerintah juga dapat melakukan pengembangan kurikulum


pendidikan yang sesuai dengan MEA. Pendidikan sebagai pencetak sumber daya manusia (SDM)
berkualitas menjadi jawaban terhadap kebutuhan sumber daya manusia. Oleh karena itu meningkatkan
standar mutu sekolah menjadi keharusan agar lulusannya siap menghadapi persaingan.
Kegiatan sosialisasi pada masyarakat juga harus ditingkatkan misalnya dengan Iklan Layanan Masyarakat
tentang MEA yang berusaha menambah kesiapan masyarakat menghadapinya.

Mendikbud Anies Baswedan mengatakan, meningkatkan standar mutu pendidikan salah satunya
dengan menguatkan aktor pendidikan, yaitu kepala sekolah, guru, dan orang tua. Menurutnya,
kepemimpinan kepala sekolah menjadi kunci tumbuhnya ekosistem pendidikan yang baik. Guru juga
perlu dilatih dengan metode yang tepat, yaitu mengubah pola pikir guru.

Dalam bidang Perindustrian, Menteri Perindustrian Saleh Husin juga memaparkan strategi
Kementrian Perindustrian menghadapi MEA yaitu dengan strategi ofensif dandefensif.
Strategi ofensif yang dimaksud meliputi penyiapan produk-produk unggulan. Dari pemetaan
Kemenperin, produk unggulan dimaksud adalah industri agro seperti kakao, karet, minyak sawit, tekstil
dan produk tekstil, alas kaki kulit, mebel, makanan dan minimum, pupuk dan petrokimia, otomotif,
mesin dan peralatan, serta produk logam, besi, dan baja. Adapun strategi defensive dilakukan melalui
penyusunan Standar Nasional Indonesia untuk produk-produk manufaktur.(www.kemenperin.go.id)

Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel punya langkah-langkah yang akan dilakukan untuk
menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2019. Salah satunya adalah mencanangkan Nawa Cita
Kementerian Perdagangan, dengan menetapkan target ekspor sebesar tiga kali lipat selama lima tahun
ke depan. Cara tersebut bisa dilakukan dengan membangun 5.000 pasar, pengembangan Usaha Mikro
Kecil dan Menengah (UMKM) serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Adapun target
ekspor pada 2015 dibidik sebesar US$192,5 miliar. Selanjutnya pemerintah juga menyiapkan strategi
subsititusi impor untuk meningkatkan ekspor, dan memberi nilai tambah produk dalam negeri. Pada
saat ini 65 persen ekspor produk Indonesia masih mengandalkan komoditas mentah.Pemerintah
berusaha membalik struktur ekspor ini yaitu dari komoditi primer ke manufaktur, dengan komposisi 35
persen komoditas dan 65 persen manufaktur. Oleh karena itu, industri manufaktur diharapkan tumbuh
dan fokus pada peningkatan kapasitas produksi, untuk meningkatkan ekspor sampai 2019.

Pemerintah juga mendekati industri yang berpotensi menyumbang peningkatan ekspor,


misalnya industri otomotif. Diketahui, industri otomotif berencana mengekspor 50 ribu sepeda motor ke
Filipina. Kementerian Perdagangan juga mendorong sektor mebel untuk semakin menggenjot
ekspornya. Selain itu, sektor perikanan juga memberikan optimisme terhadap peningkatan ekspor
Indonesia.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan memperkuat produk UKM dengan membina melalui
kemasan, sertifikasi halal, pendaftaran merek, dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Lalu,
mereka juga memfasilitasi pelaku UKM dalam pameran berskala internasional. Melalui fasilitas itu,
Kementerian Perdagangan berharap, produk serta merek yang dibangun oleh pelaku UKM di Indonesia
dapat dikenal secara global.

Daftar Pustaka

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/585426-jurus-kementerian-perdagangan-hadapi-mea-2019

http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010/edef-konten-view.asp?id=20150121190607015674933

http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/12/pahami-masyarakat-ekonomi-asean-mea-2015#

http://www.asean.org/component/itpgooglesearch/search?gsquery=asean+economic+community

http://apindo.or.id/id/fta/asean-economic-community/latar-belakang

http://www.kemangmedicalcare.com/kmc-tips/tips-dewasa/2883-pengaruh-era-mea-masyarakat-
ekonomi-asean-2015-terhadap-tenaga-kesehatan-profesional-di-indonesia.html

http://www.tarif.depkeu.go.id/Others/?hi=AFTA

http://www.kemenperin.go.id/artikel/10920/Strategi-Kementerian-Perindustrian-Hadapi-MEA

Kesiapan Lembaga Keuangan & Non Bank Di


Indonesia Dalam Menghadapi MEA
19 AGUSTUS 2016BOLANGWEB

ABSTRAK
Paper ini membahas tentang kesiapan lembaga keuangan & non bank
di Indonesia dalam menghadapi Asean Economi Community atau
(MEA). Konsekuensi dari kesepakatan itu membuka lebar pasar
ekonomi di kawasan regional Asean karenanya, jika ingin
terlibat dan diperhitungkan, Indonesia harus berbenah. Semua
sector industry harus dilengkapi kemampuan untuk bisa bersaing
dengan negara ASEAN lainya.

Tujuan yang ingin dicapai melalui MEA, adalah adanya aliran


bebas barang, jasa, dan tenaga kerja terlatih, serta aliran
investasi yang lebih bebas. Dalam penerapannya pada 2015, MEA
akan menerapkan 12 sektor prioritas yang disebut free flow of
skilled labor (arus bebas tenaga kerja terampil).

Ke-12 sektor terampil itu adalah untuk perawatan kesehatan


(health care), turisme (toursm), jasa logistic (logistic
services) e-ASEAN, jasa angkutan udara (air travel transport),
produk berbasis agro (agrobased products), barang-barang
electronic (electronics), perikanan (fisheris), produk
berbasis karet (rubber based products), tetkil dan pakaian
(textiles and appareles), otomotif (otomotive) dan produk
berbasis kayu (wood based products).

Peluang Indonesia untuk bersaing di pasar bebas Asean nanti,


sebenarnya cukup besar. Paling tidak bagi Indonesia ada beberapa
faktor yang mendukung seperti peringkat Indonesia yang berada
pada rangking 16 dunia dalam besaran skala ekonomi dengan 108
juta penduduk. Dimana, jumlah penduduk ini merupakan kelompok
menengah yang sedang tumbuh. Sehingga berpotensi sebagai pembeli
barang-barang impor (sekitar 43 juta penduduk).

BAB

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Kesepakatan negara-negara ASEAN untuk membangun suatu komunitas


ASEAN (ASEAN community) di tahun 2020 tercetus pertama kali
dalam pertemuan pemimpin-pemimpin negara ASEAN di Bali pada
tahun 2003. Namun berkembangnya perekonomian global serta trend
penguatan ekonomi regional yang salah satunya adalah Masyarakat
Ekonomi Eropa (European Economic Community) sehingga pada tahun
2007 telah diinisiasi percepatan pembentukan Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) pada tahun 2015.

Tahun 2015 menjadi langkah awal dari perjalanan (roadmap)


perwujudan MEA dengan ekonomi yang seutuhnya terintegrasi,
sehingga di tahun 2020 integrasi kekuatan ekonomi kawasan ASEAN
ini diharapkan mampu mengimbangi kekuatan ekonomi regional
lainnya dan mengangkat kesejahteraan masyarakatnya.

Sebagai upaya mewujudkan integrasi perekonomian kawasan tadi,


maka dibutuhkan suatu rencana yang terstruktur dengan waktu yang
jelas. Selain itu negara-negara anggota ASEAN pun harus
berkomitmen dalam menjalankan kesepakatan untuk menyelenggarakan
perekonomian kawasan dengan terbuka, inklusif dan berorientasi
pasar.

RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah pada Paper ini yaitu :

1. Bagaimana kesiapan lembaga keuangan & non bank di Indonesia


dalam menghadapi MEA.

TUJUAN

Tujuan penulisan Paper ini diantaranya sebagai berikut :

1. Mengetahui kesiapan lembaga keuangan & non bank di


Indonesia dalam menghadapi MEA.
2. Menambah wawasan tentang MEA.

BAB

PEMBAHASAN

Kesiapan Lembaga Keuangan & Non Bank di Indonesia menghadapi MEA


2015
Sejak kebijakan perdagangan yang melibatkan negara serumpun
tersebut lebih dikenal dengan istilah ASEAN Economic Community
(AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dicetuskan, telah
mengundang polemik di lingkungan urusan domestik Indonesia,
terutama seputar mengantisipasi kesiapan pelaku usaha yang
didukung kebijakan pemerintah.

Sebenarnya dari sisi kesiapan bukan hanya Indonesia yang harus


berbenah serius menghadapi perdagangan bebas itu, sebab dari 10
negara yang terangkum di bawah payung ASEAN diprediksi baru
Malaysia dan Singapura yang siap penuh untuk bertarung.
Benarkah?

Salah satu titik lemah yang sering kali diperdebatkan terkait


perdagangan bebas kawasan ASEAN adalah sektor lembaga keuangan
baik menyangkut perbankan maupun nonperbankan. Sejak akhir tahun
lalu, Gubernur BI Agus Martowardojo menyerukan agar perbankan
nasional mempersiapkan diri menyambut ASEAN Banking Integration
Framework atau integrasi perbankan ASEAN.

Pasalnya, ABIF adalah kerangka dari kebijakan MEA untuk


memfasilitasi kemajuan integrasi ekonomi dan keuangan. Dari 120
bank di Indonesia, diperkirakan hanya tiga bank yang memenuhi
syarat atau qualified ASEAN bank terkait kebijakan ABIF. Dari
sektor asuransi malah lebih memprihatinkan dibandingkan sektor
perbankan. Keprihatinan tersebut dibeberkan Kepala Eksekutif
Pengawas Industri Keuangan Nonbank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) Firdaus Djaelani, yang menilai industri asuransi Indonesia
belum siap menghadapi MEA.

Dan awal September lalu diterbitkan juga inpres No.6/2014,


tentang peningkatan daya saing menghadapi Masyarakat Ekonomi
Asean, pemerintah Indonesia sudah menyiapkan pengembangan sector
industry, agar bisa bersaing di pasar bebas ASEAN itu. Sebut
saja upaya pengembangan industry perbankan yang masuk dalam 10
pengembangan industry yang harus diantar kegerbang pasar bebas
dengan semua keunggulanya . Menjelang beberapa bulan penerapan
MEA, semua sector memang harus dihadapi, siap tidak
siap.industri perbankan di Indonesia tan hanya harus menjadi
tuan rumah di negara sendiri, tapi juga memperlebar ekspansinya
kenegara ASEAN lainya. Dan, para pengambil kebijakan sudah
sewajarnya mendorong kalangan perbankan nasional menyiapkan SDM,
memperkuat modal didalam rangka penerapan Basel III dan
membangun sistem teknologi yang yang terintegratif.

Sektor perbankan Indonesia harus siap untuk itu. Karenanya,


Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu merancang peta jalan atau
roadmap perbankan Indonesia. Adapun pembuatan roadmap tersebut
secara terperinci dapat berupa arah yang lebih jelas dalam hal
konsolidasi perbankan dalam negeri, guna memperbesar Size suatu
bank, baik secara alami maupun secara market driven. Perbankan
nasional, khususnya bank BUMN juga harus berperan aktif
mengantisipasi pemberlakuan MEA 2015.

Era bebas pasar ini, dipastikan akan membuka alur lalu lintas
barang dan jasa serta pasar semakin lebar. Karenanya,
pertumbuhan ekonomi regional harus terintegrasi dengan ekonomi
global. Dengan demikian, perbankan nasional memerlukan kesamaan
pandang dalam melihat pertumbuhan ekonomi regional. Dengan
kesamaan pandang regional itu, diharapkan perbankan Indonesia
akan dapat menyelesaikan planning (rencana), strategi, sasaran
yang tepat bagi kemajuan ekonomi Indonesia.

Menurut Anggota BPK dan Lektor Kepala di IPDN jika ingin


terlibat aktif dan tidak terlindas dalam era bebas pasar ASEAN,
peran institusi seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga
penting guna meningkatkan Good corporate government (GCG) pada
industri perbankan di Indonesia. Selain itu perbankan nasional
juga perlu mengajak stake holder, seperti perhimpunan bank-bank
nasional (PERBANAS)dan institute bangkir Indonesia (IBI) untuk
menstimulasi semakin baiknya GCG bank menghadapi pasar bebas
ekonomi ASEAN.

Bagaimanapun beratnya tantangan industry perbankan regional,


upaya mendorong efisiensi sector perbankan yang berdaya saing
tinggi harus terus dilakukan. Hingga kini perbankan di Indonesia
masih dinilai boros di di biaya operasional. Audit terhadap
tingkat efisiensi bank terutama bank BUMN yang memimpin pasar di
Industri keuangan nasional ini, juga menjadi indicator
keberhasilan perbankan dalam mengelola rasio beban operasional
terhadap pendapatan operasional (BOPO)nya. Semakin rendah maka
kekuatan daya saingnya akan semakin tinggi.

Sebaliknya, semakin tinggi efektivitas perbankan, semakin kuat


juga perbankan nasional untuk menciptakan lingkungan bisnis yang
sehat, sehingga akan menambah kuat kemampuan diri dalam
menyongsong era pasar bebas ASEAN . kompetisi bisnis perbankan
sangat ketat. Tidak hanya di industry domestic, industry
perbankan rfegional dan global jauh lebih menantang. Perbankan
di regional ASEAN memilki tingkat kesehatan yang sangat tinggi.

Dari sisi efisiensi, tingkat prudentialnya, Indonesia masih jauh


lebih rendah dibanding negara ASEAN lainya. Untuk bisa
mensejajarkan diri dengan kemampuan perbankan dilingkup regional
ASEAN, perbankan nasional harus bisa mengejar ketinggalanya
mulai dari sisi efisiensi dan efektifitas tadi hingga kemampuan
berekspansi. Meskipun saat ini sudah ada perbankan nasional yang
beroperasi di negara ASEAN lainya, tidak sepadan dengan jumlah
bank asing (dari sama negara ASEAN lain).

Untuk itu pemerintah yang baru nanti harus bisa menyeimbangkan


kedudukan industry perbankan nasional dengan perbankan regional
dikawasan ini. dasar prinsip perbankan yang mengacu aturan
terkini dalam basel III sudah menjadi konsekuensi untuk diikuti
semua industry perbankan global. Dan, aturan itu harus sudah di
adaptasi untuk bisa ikut berkecimpung di kancah pasar global.

Bank syariah terbesar di Indonesia saat ini baru mampu


membukukan aset sekitar US$5,4 miliar sehingga belum ada yang
masuk ke dalam jajaran 25 bank syariah dengan aset terbesar di
dunia. Sementara tiga bank syariah Malaysia mampu masuk ke dalam
daftar tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa skala ekonomi bank
syariah Indonesia masih kalah dengan bank syariah Malaysia yang
akan menjadi kompetitor utama. Belum tercapainya skala ekonomi
tersebut membuat operasional bank syariah di Indonesia kalah
efisien, terlebih sebagian besar bank syariah di Indonesia masih
dalam tahap ekspansi yang membutuhkan biaya investasi
infrastruktur yang cukup signifikan. Ditambah lagi sampai saat
ini pemerintah belum memiliki Bank Syariah milik pemerintah
(BUMN).

Masih rendahnya peringkat daya saing nasional dan terbatasnya


skala ekonomi Bank Syariah tersebut, tentu tidak menghalangi
potensi perekonomian nasional yang kita miliki. Diantaranya :

1. Jumlah penduduk muslim yang besar menjadi potensi nasabah


industri keuangan syariah.
2. prospek ekonomi yang cerah, tercermin dari pertumbuhan
ekonomi yang relatif tinggi (kisaran 6,0%-6,5%) yang
ditopang oleh fundamental ekonomi yang solid.
3. peningkatan sovereign credit rating Indonesia menjadi
investment grade yang akan meningkatkan minat investor
untuk berinvestasi di sektor keuangan domestik, termasuk
industri keuangan syariah.
4. memiliki sumber daya alam yang melimpah yang dapat
dijadikan sebagai underlying transaksi industri keuangan
syariah.

Pengembangan keuangan syariah di Indonesia yang lebih bersifat


market driven dan dorongan bottom up dalam memenuhi kebutuhan
masyarakat sehingga lebih bertumpu pada sektor riil juga menjadi
keunggulan tersendiri. Berbeda dengan perkembangan keuangan
syariah di Iran, Malaysia, dan Arab Saudi, dimana perkembangan
keuangan syariahnya lebih bertumpu pada sektor keuangan, bukan
sektor riil, dan peranan pemerintah sangat dominan. Selain dalam
bentuk dukungan regulasi, penempatan dana pemerintah dan
perusahaan milik negara pada lembaga keuangan syariah membuat
total asetnya meningkat signifikan, terlebih ketika negara-
negara tersebut menikmati windfall profit dari kenaikan harga
minyak dan komoditas.

Keunggulan struktur pengembangan keuangan syariah di Indonesia


lainnya adalah regulatory regime yang dinilai lebih baik
dibanding dengan negara lain. Di Indonesia kewenangan
mengeluarkan fatwa keuangan syariah bersifat terpusat oleh Dewan
Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang
merupakan institusi yang independen. Sementara di negara lain,
fatwa dapat dikeluarkan oleh perorangan ulama sehingga peluang
terjadinya perbedaan sangat besar. Di Malaysia, struktur
organisasi lembaga fatwa ini berada di bawah Bank Negara
Malaysia (BNM), tidak berdiri sendiri secara independen.

Semua stakeholder industri keuangan dan perbankan syariah


nasional harus bersama-sama bersinergi dan berbagi peran untuk
menghadapi MEA 2015. Kita tidak bisa menutup mata atas semua
permasalahan dana kelemahan yang kita miliki, tetapi kita juga
tidak bisa berpangku tangan karna potensi besar yang kita miliki
sabagai syarat untuk menjadikan industri keuangan dan perbankan
syariah nasional terdepan dan terbaik, mamapu menjadi tuan rumah
dinegerinya sendiri. Hal itu bisa kita raih jika tantangan yang
ada bisa menjadi peluang untuk kita realisasikan.
KESIMPULAN

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) / AEC (Asean Economic Community)


2015 adalah proyek yang telah lama disiapkan seluruh anggota
ASEAN yang bertujuan untuk meningkatkan stabilitas perekonomian
di kawasan ASEAN dan membentuk kawasan ekonomi antar negara
ASEAN yang kuat. Dengan diberlakukannya MEA pada akhir 2015,
negara anggota ASEAN akan mengalami aliran bebas barang, jasa,
investasi, dan tenaga kerja terdidik dari dan ke masing-masing
negara. Dalam hal ini, yang perlu dilakukan oleh Indonesia
adalah bagaimana Indonesia sebagai bagian dari komunitas ASEAN
berusaha untuk mempersiapkan kualitas diri dan memanfaatkan
peluang MEA 2015, serta harus meningkatkan kapabilitas untuk
dapat bersaing dengan Negara anggota ASEAN lainnya sehingga
ketakutan akan kalah saing di negeri sendiri akibat
terimplementasinya MEA 2015 tidak terjadi.

Menurut Anggota BPK dan Lektor Kepala di IPDN Jika ingin


terlibat aktif dan tidak terlindas dalam era bebas pasar ASEAN,
peran institusi seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga
penting guna meningkatkan Good corporate government (GCG) pada
industri perbankan di Indonesia. Selain itu perbankan nasional
juga perlu mengajak stake holder, seperti perhimpunan bank-bank
nasional (PERBANAS)dan institute bangkir Indonesia (IBI) untuk
menstimulasi semakin baiknya GCG bank menghadapi pasar bebas
ekonomi ASEAN.

Pengembangan keuangan syariah di Indonesia yang lebih bersifat


market driven dan dorongan bottom up dalam memenuhi kebutuhan
masyarakat sehingga lebih bertumpu pada sektor riil juga menjadi
keunggulan tersendiri. Berbeda dengan perkembangan keuangan
syariah di Iran, Malaysia, dan Arab Saudi, dimana perkembangan
keuangan syariahnya lebih bertumpu pada sektor keuangan, bukan
sektor riil, dan peranan pemerintah sangat dominan. Selain dalam
bentuk dukungan regulasi, penempatan dana pemerintah dan
perusahaan milik negara pada lembaga keuangan syariah membuat
total asetnya meningkat signifikan, terlebih ketika negara-
negara tersebut menikmati windfall profit dari kenaikan harga
minyak dan komoditas.
Keunggulan struktur pengembangan keuangan syariah di Indonesia
lainnya adalah regulatory regime yang dinilai lebih baik
dibanding dengan negara lain. Di Indonesia kewenangan
mengeluarkan fatwa keuangan syariah bersifat terpusat oleh Dewan
Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang
merupakan institusi yang independen. Sementara di negara lain,
fatwa dapat dikeluarkan oleh perorangan ulama sehingga peluang
terjadinya perbedaan sangat besar. Di Malaysia, struktur
organisasi lembaga fatwa ini berada di bawah Bank Negara
Malaysia (BNM), tidak berdiri sendiri secara independen.

DAFTAR PUSTAKA

http://bahrullah.com/kesiapan-perbankan-nasional-menghadapi-mea-
2015/

http://www.iaei-pusat.org/article/ekonomi-syariah/masyarakat-
ekonomi-asean-mea-2015-1?language=id

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015


Updated: Kamis 5 Juni 2014 - 14:30 Kategori: Ekonomi Syariah Posted by: Administrator

Jika tidak ada aral melintang, tepat pada tanggal 1 januari 2015 bangsa-bangsa dikawasan Asia
Tenggara atau lebih dikenal dengan ASEAN akan memasuki era baru dalam hubungan
perekonomian khususnya perdagangan dalam bentuk Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Siap atau
tidak siap semua negara dikawasan ASEAN sudah harus meleburkan batas territorial negaranya
dalam satu pasar bebas yang diperkirakan akan menjadi tulang punggung perekonomian dikawasan
Asia setelah China. Semua industri tidak terkecuali industri keuangan dan perbankan syariah akan
berkompetisi dalam pasar besar MEA. Bagi industri keuangan dan perbankan syariah nasional,
mulai dari regulator, praktisi, kalangan industri dan para akademisi harus bersinergi untuk
menjadikan tantangan besar ini menjadi peluang bagi kemajuan perekonomian nasional.
Sebagian pihak menkhawatirkan hadirnya kesepakatan MEA 2015 sebagai sebuah ancaman
karena pasar potensial domestik akan diambil oleh pesaing dari negara lain. Kekhawatiran ini tentu
beralasan mengingat rendahnya kesiapan infrastruktur industri nasional masih sangat lemah,
bahkan peringkat daya saing (competitiveness) global Indonesia masih rendah di posisi 38.
Sementara itu, Singapura (2), Malaysia (24) Brunei (26) dan Thailand (37) (World Economic Forum
2013). Sedangkan negara Asean lainnya masih di bawah Indonesia.
Bank syariah terbesar di Indonesia saat ini baru mampu membukukan aset sekitar US$5,4 miliar
sehingga belum ada yang masuk ke dalam jajaran 25 bank syariah dengan aset terbesar di dunia.
Sementara tiga bank syariah Malaysia mampu masuk ke dalam daftar tersebut. Hal ini menunjukkan
bahwa skala ekonomi bank syariah Indonesia masih kalah dengan bank syariah Malaysia yang akan
menjadi kompetitor utama. Belum tercapainya skala ekonomi tersebut membuat operasional bank
syariah di Indonesia kalah efisien, terlebih sebagian besar bank syariah di Indonesia masih dalam
tahap ekspansi yang membutuhkan biaya investasi infrastruktur yang cukup signifikan. Ditambah
lagi sampai saat ini pemerintah belum memiliki Bank Syariah milik pemerintah (BUMN).
Masih rendahnya peringkat daya saing nasional dan terbatasnya skala ekonomi Bank Syariah
tersebut, tentu tidak menghalangi potensi perekonomian nasional yang kita miliki. Diantaranya: (i)
jumlah penduduk muslim yang besar menjadi potensi nasabah industri keuangan syariah; (ii)
prospek ekonomi yang cerah, tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi (kisaran 6,0%-
6,5%) yang ditopang oleh fundamental ekonomi yang solid; (iii) peningkatan sovereign credit rating
Indonesia menjadi investment grade yang akan meningkatkan minat investor untuk berinvestasi di
sektor keuangan domestik, termasuk industri keuangan syariah; dan (iv) memiliki sumber daya alam
yang melimpah yang dapat dijadikan sebagai underlying transaksi industri keuangan syariah.
Pengembangan keuangan syariah di Indonesia yang lebih bersifat market driven dan dorongan
bottom up dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga lebih bertumpu pada sektor riil juga
menjadi keunggulan tersendiri. Berbeda dengan perkembangan keuangan syariah di Iran, Malaysia,
dan Arab Saudi, dimana perkembangan keuangan syariahnya lebih bertumpu pada sektor
keuangan, bukan sektor riil, dan peranan pemerintah sangat dominan. Selain dalam bentuk
dukungan regulasi, penempatan dana pemerintah dan perusahaan milik negara pada lembaga
keuangan syariah membuat total asetnya meningkat signifikan, terlebih ketika negara-negara
tersebut menikmati windfall profit dari kenaikan harga minyak dan komoditas.
Keunggulan struktur pengembangan keuangan syariah di Indonesia lainnya adalah regulatory
regime yang dinilai lebih baik dibanding dengan negara lain. Di Indonesia kewenangan
mengeluarkan fatwa keuangan syariah bersifat terpusat oleh Dewan Syariah Nasional (DSN)
Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang merupakan institusi yang independen. Sementara di negara
lain, fatwa dapat dikeluarkan oleh perorangan ulama sehingga peluang terjadinya perbedaan sangat
besar. Di Malaysia, struktur organisasi lembaga fatwa ini berada di bawah Bank Negara Malaysia
(BNM), tidak berdiri sendiri secara independen.
Semua stakeholder industri keuangan dan perbankan syariah nasional harus bersama-sama
bersinergi dan berbagi peran untuk menghadapi MEA 2015. Kita tidak bisa menutup mata atas
semua permasalahan dana kelemahan yang kita miliki, tetapi kita juga tidak bisa berpangku tangan
karna potensi besar yang kita miliki sabagai syarat untuk menjadikan industri keuangan dan
perbankan syariah nasional terdepan dan terbaik, mamapu menjadi tuan rumah dinegerinya sendiri.
Hal itu bisa kita raih jika tantangan yang ada bisa menjadi peluang untuk kita realisasikan.

ingin tahu lebih lengkap dan mendetail tentang materi ini, silahkan hadir dalam seminarnya yang
akan dilaksanakan pada tanggal 18 juni 2014. Informasi lebih lengkap silahkan klik disini .

Tulisan: Administrator
Berita
November 1, 2014

Kesiapan Perbankan Nasional Menghadapi MEA 2015


Oleh : Bahrullah akbar*)

Asean Economi Community atau (MEA) bakal dihadapi Indonesia 2015. Konsekuensi dari kesepakatan itu
membuka lebar pasar ekonomi di kawasan regional Asean karenanya, jika ingin terlibat dan diperhitungkan,
Indonesia harus berbenah. Semua sector industry harus dilengkapi kemampuan untuk bisa bersaing dengan
negara ASEAN lainya.

Tujuan yang ingin dicapai melalui MEA, adalah adanya aliran bebas barang, jasa, dan tenaga kerja terlatih,
serta aliran investasi yang lebih bebas. Dalam penerapanya pada 2015, MEA akan menerapkan 12 sektor
prioritas yang disebut free flow of skilled labor (arus bebas tenaga kerja terampil).

Ke-12 sektor terampil itu adalah untuk perawatan kesehatan (health care)turisme (toursm) jasa logistic (logistic
services) e-ASEAN, jasa angkutan udara (air travel transport) produk berbasis agro (agrobased products)
barang-barang electronic (electronics) perikanan (fisheris) produk berbasis karet (rubber based products) tetkil
dan pakaian (textiles and appareles) otomotif (otomotive) dan produk berbasis kayu (wood based products).

Peluang Indonesia untuk bersaing di pasar bebas Asean 2015 nanti, sebenarnya cukup besar. Paling tidak bagi
Indonesia ada beberapa faktor yang mendukung seperti peringkat Indonesia yang berada pada rangking 16
dunia dalam besaran skala ekonomi dengan 108 juta penduduk. Dimana, jumlah penduduk ini merupakan
kelompok menengah yang sedang tumbuh. Sehingga berpotensi sebagai pembeli barang-barang impor (sekitar
43 juta penduduk).

Kemudian perbaikan peringkat investasi Indonesia oleh lembaga pemeringkat dunia, dan masuknya Indonesia
sebagai peringkat ke 4 prospective destination berdasarkan UNCTAD world investement report. Dan,
pemerintah sendiri telah menerbitkan aturan (keputusan Presiden) No.37/2014 yang memuat banyak indicator
yang harus dicapai dalam upaya untuk meningkatkan daya saing nasional dan kesiapan menghadapi MEA
yang akan dimulai 2015 itu.

Dan awal September lalu diterbitkan juga inpres No.6/2014, tentang peningkatan daya saing menghadapi
Masyarakat Ekonomi Asean, pemerintah Indonesia sudah menyiapkan pengembangan sector industry, agar
bisa bersaing di pasar bebas ASEAN itu. Sebut saja upaya pengembangan industry perbankan yang masuk
dalam 10 pengembangan industry yang harus diantar kegerbang pasar bebas dengan semua keunggulanya .

Menjelang beberapa bulan penerapan MEA, semua sector memang harus dihadapi, siap tidak siap.industri
perbankan di Indonesia tan hanya harus menjadi tuan rumah di negara sendiri, tapi juga memperlebar
ekspansinya kenegara ASEAN lainya. Dan, para pengambil kebijakan sudah sewajarnya mendorong kalangan
perbankan nasional menyiapkan SDM, memperkuat modal didalam rangka penerapan Basel III dan
membangun sistem teknologi yang yang terintegratif.

Saya kira, sektor perbankan Indonesia harus siap untuk itu. Karenanya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu
merancang peta jalan atau roadmapperbankan Indonesia. Adapun pembuatan roadmap tersebut secara
terperinci dapat berupa arah yang lebih jelas dalam hal konsolidasi perbankan dalam negeri, guna
memperbesar Size suatu bank, baik secara alami maupun secara market driven. Perbankan nasional, khususnya
bank BUMN juga harus berperan aktif mengantisipasi pemberlakuan MEA 2015.

Era bebas pasar ini, dipastikan akan membuka alur lalu lintas barang dan jasa serta pasar semakin lebar.
Karenanya, pertumbuhan ekonomi regional harus terintegrasi dengan ekonomi global. Dengan demikian,
perbankan nasional memerlukan kesamaan pandang dalam melihat pertumbuhan ekonomi regional. Dengan
kesamaan pandang regional itu, diharapkan perbankan Indonesia akan dapat menyelesaikan planning
(rencana), strategi, sasaran yang tepat bagi kemajuan ekonomi Indonesia.

Jika ingin terlibat aktif dan tidak terlindas dalam era bebas pasar ASEAN, peran institusi seperti Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) juga penting guna meningkatkan Good corporate government (GCG) pada
industri perbankan di Indonesia. Selain itu perbankan nasional juga perlu mengajak stake holder, seperti
perhimpunan bank-bank nasional (PERBANAS)dan institute bangkir Indonesia (IBI) untuk menstimulasi
semakin baiknya GCG bank menghadapi pasar bebas ekonomi ASEAN.

Bagaimanapun beratnya tanatangan industry perbankan regional, upaya mendorong efisiensi sector perbankan
yang berdaya saing tinggi harus terus dilakukan. Hingga kini perbankan di Indonesia masih dinilai boros di di
biaya operasional. Audit terhadap tingkat efisiensi bank terutama bank BUMN yang memimpin pasar di
Industri keuangan nasional ini, juga menjadi indicator keberhasilan perbankan dalam mengelola rasio beban
operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO)nya. Semakin rendah maka kekuatan daya saingnya akan
semakin tinggi.

Sebaliknya, semakin tinggi efektivitas perbankan, semakin kuat juga perbankan nasional untuk menciptakan
lingkungan bisnis yang sehat, sehingga akan menambah kuat kemampuan diri dalam menyongsong era pasar
bebas ASEAN . kompetisi bisnis perbankan sangat ketat. Tidak hanya di industry domestic, industry
perbankan rfegional dan global jauh lebih menantang. Perbankan di regional ASEAN memilki tingkat
kesehatan yang sangat tinggi.

Dari sisi efisiensi, tingkat prudentialnya, Indonesia masih jauh lebih rendah disbanding negara ASEAN lainya.
Untuk bisa mensejajarkan diri dengan kemampuan perbankan dilingkup regional ASEAN, perbankan nasional
harus bisa mengejar ketinggalanya mulai dari sisi efisiensi dan efektifitas tadi hingga kemampuan berekspansi.
Meskipun saat ini sudah ada perbankan nasional yang beroprasi di negara ASEAN lainya, tidak sepadan
dengan jumlah bank asing (dari sama negara ASEAN lain) .

Untuk itu pemerintah yang baru nanti harus bisa menyeimbankan kedudukan industry perbankan nasional
dengan perbankan regional dikawasan ini. dasr prinsip perbankan yang mengacu aturan terkini dalam basel III
sudah menjadi konsekuensi untuk diikuti semua industry perbankan global. Dan, aturan itu harus sudah di
adaptasi untuk bisa ikut berkecimpung di kancah pasar global.***

*) Penulis adalah Anggots BPK dan Lektor Kepala di IPDN.

Makalah Kesiapan Perbankan Nasional Menghadapi MEA 2015


Asean Economi Community atau (MEA) bakal dihadapi Indonesia 2015. Konsekuensi dari
kesepakatan itu membuka lebar pasar ekonomi di kawasan regional Asean karenanya, jika ingin
terlibat dan diperhitungkan, Indonesia harus berbenah. Semua sector industry harus dilengkapi
kemampuan untuk bisa bersaing dengan negara ASEAN lainya.
Tujuan yang ingin dicapai melalui MEA, adalah adanya aliran bebas barang, jasa, dan
tenaga kerja terlatih, serta aliran investasi yang lebih bebas. Dalam penerapanya pada 2015,
MEA akan menerapkan 12 sektor prioritas yang disebut free flow of skilled labor (arus bebas
tenaga kerja terampil).
Ke-12 sektor terampil itu adalah untuk perawatan kesehatan (health care)turisme
(toursm) jasa logistic (logistic services) e-ASEAN, jasa angkutan udara (air travel transport)
produk berbasis agro (agrobased products) barang-barang electronic (electronics) perikanan
(fisheris) produk berbasis karet (rubber based products) tetkil dan pakaian (textiles and
appareles) otomotif (otomotive) dan produk berbasis kayu (wood based products).
Peluang Indonesia untuk bersaing di pasar bebas Asean 2015 nanti, sebenarnya cukup
besar. Paling tidak bagi Indonesia ada beberapa faktor yang mendukung seperti peringkat
Indonesia yang berada pada rangking 16 dunia dalam besaran skala ekonomi dengan 108 juta
penduduk. Dimana, jumlah penduduk ini merupakan kelompok menengah yang sedang tumbuh.
Sehingga berpotensi sebagai pembeli barang-barang impor (sekitar 43 juta penduduk).
Kemudian perbaikan peringkat investasi Indonesia oleh lembaga pemeringkat dunia, dan
masuknya Indonesia sebagai peringkat ke 4 prospective destination berdasarkan UNCTAD
world investement report. Dan, pemerintah sendiri telah menerbitkan aturan (keputusan
Presiden) No.37/2014 yang memuat banyak indicator yang harus dicapai dalam upaya untuk
meningkatkan daya saing nasional dan kesiapan menghadapi MEA yang akan dimulai 2015 itu.
Dan awal September lalu diterbitkan juga inpres No.6/2014, tentang peningkatan daya
saing menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean, pemerintah Indonesia sudah menyiapkan
pengembangan sector industry, agar bisa bersaing di pasar bebas ASEAN itu. Sebut saja upaya
pengembangan industry perbankan yang masuk dalam 10 pengembangan industry yang harus
diantar kegerbang pasar bebas dengan semua keunggulanya .
Menjelang beberapa bulan penerapan MEA, semua sector memang harus dihadapi, siap
tidak siap.industri perbankan di Indonesia tan hanya harus menjadi tuan rumah di negara
sendiri, tapi juga memperlebar ekspansinya kenegara ASEAN lainya. Dan, para pengambil
kebijakan sudah sewajarnya mendorong kalangan perbankan nasional menyiapkan SDM,
memperkuat modal didalam rangka penerapan Basel III dan membangun sistem teknologi yang
yang terintegratif.
Saya kira, sektor perbankan Indonesia harus siap untuk itu. Karenanya, Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) perlu merancang peta jalan atau roadmapperbankan Indonesia. Adapun
pembuatan roadmap tersebut secara terperinci dapat berupa arah yang lebih jelas dalam hal
konsolidasi perbankan dalam negeri, guna memperbesar Size suatu bank, baik secara alami
maupun secara market driven. Perbankan nasional, khususnya bank BUMN juga harus berperan
aktif mengantisipasi pemberlakuan MEA 2015.
Era bebas pasar ini, dipastikan akan membuka alur lalu lintas barang dan jasa serta pasar
semakin lebar. Karenanya, pertumbuhan ekonomi regional harus terintegrasi dengan ekonomi
global. Dengan demikian, perbankan nasional memerlukan kesamaan pandang dalam melihat
pertumbuhan ekonomi regional. Dengan kesamaan pandang regional itu, diharapkan perbankan
Indonesia akan dapat menyelesaikan planning (rencana), strategi, sasaran yang tepat bagi
kemajuan ekonomi Indonesia.
Jika ingin terlibat aktif dan tidak terlindas dalam era bebas pasar ASEAN, peran
institusi seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga penting guna meningkatkan Good
corporate government (GCG) pada industri perbankan di Indonesia. Selain itu perbankan
nasional juga perlu mengajak stake holder, seperti perhimpunan bank-bank nasional
(PERBANAS)dan institute bangkir Indonesia (IBI) untuk menstimulasi semakin baiknya GCG
bank menghadapi pasar bebas ekonomi ASEAN.
Bagaimanapun beratnya tanatangan industry perbankan regional, upaya mendorong
efisiensi sector perbankan yang berdaya saing tinggi harus terus dilakukan. Hingga kini
perbankan di Indonesia masih dinilai boros di di biaya operasional. Audit terhadap tingkat
efisiensi bank terutama bank BUMN yang memimpin pasar di Industri keuangan nasional ini, juga
menjadi indicator keberhasilan perbankan dalam mengelola rasio beban operasional terhadap
pendapatan operasional (BOPO)nya. Semakin rendah maka kekuatan daya saingnya akan semakin
tinggi.
Sebaliknya, semakin tinggi efektivitas perbankan, semakin kuat juga perbankan nasional
untuk menciptakan lingkungan bisnis yang sehat, sehingga akan menambah kuat kemampuan diri
dalam menyongsong era pasar bebas ASEAN . kompetisi bisnis perbankan sangat ketat. Tidak
hanya di industry domestic, industry perbankan rfegional dan global jauh lebih menantang.
Perbankan di regional ASEAN memilki tingkat kesehatan yang sangat tinggi.
Dari sisi efisiensi, tingkat prudentialnya, Indonesia masih jauh lebih rendah dibanding
negara ASEAN lainya. Untuk bisa mensejajarkan diri dengan kemampuan perbankan dilingkup
regional ASEAN, perbankan nasional harus bisa mengejar ketinggalanya mulai dari sisi efisiensi
dan efektifitas tadi hingga kemampuan berekspansi. Meskipun saat ini sudah ada perbankan
nasional yang beroprasi di negara ASEAN lainya, tidak sepadan dengan jumlah bank asing (dari
sama negara ASEAN lain) .
Untuk itu pemerintah yang baru nanti harus bisa menyeimbankan kedudukan industry
perbankan nasional dengan perbankan regional dikawasan ini. dasr prinsip perbankan yang
mengacu aturan terkini dalam basel III sudah menjadi konsekuensi untuk diikuti semua industry
perbankan global. Dan, aturan itu harus sudah di adaptasi untuk bisa ikut berkecimpung di
kancah pasar global.
Bank syariah terbesar di Indonesia saat ini baru mampu membukukan aset sekitar
US$5,4 miliar sehingga belum ada yang masuk ke dalam jajaran 25 bank syariah dengan
aset terbesar di dunia. Sementara tiga bank syariah Malaysia mampu masuk ke dalam
daftar tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa skala ekonomi bank syariah Indonesia masih
kalah dengan bank syariah Malaysia yang akan menjadi kompetitor utama. Belum
tercapainya skala ekonomi tersebut membuat operasional bank syariah di Indonesia kalah
efisien, terlebih sebagian besar bank syariah di Indonesia masih dalam tahap ekspansi yang
membutuhkan biaya investasi infrastruktur yang cukup signifikan. Ditambah lagi sampai
saat ini pemerintah belum memiliki Bank Syariah milik pemerintah (BUMN).
Masih rendahnya peringkat daya saing nasional dan terbatasnya skala ekonomi Bank
Syariah tersebut, tentu tidak menghalangi potensi perekonomian nasional yang kita miliki.
Diantaranya: (i) jumlah penduduk muslim yang besar menjadi potensi nasabah industri
keuangan syariah; (ii) prospek ekonomi yang cerah, tercermin dari pertumbuhan ekonomi
yang relatif tinggi (kisaran 6,0%-6,5%) yang ditopang oleh fundamental ekonomi yang solid;
(iii) peningkatan sovereign credit rating Indonesia menjadi investment grade yang akan
meningkatkan minat investor untuk berinvestasi di sektor keuangan domestik, termasuk
industri keuangan syariah; dan (iv) memiliki sumber daya alam yang melimpah yang dapat
dijadikan sebagai underlying transaksi industri keuangan syariah.
Pengembangan keuangan syariah di Indonesia yang lebih bersifat market driven dan
dorongan bottom up dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga lebih bertumpu pada
sektor riil juga menjadi keunggulan tersendiri. Berbeda dengan perkembangan keuangan
syariah di Iran, Malaysia, dan Arab Saudi, dimana perkembangan keuangan syariahnya lebih
bertumpu pada sektor keuangan, bukan sektor riil, dan peranan pemerintah sangat dominan.
Selain dalam bentuk dukungan regulasi, penempatan dana pemerintah dan perusahaan milik
negara pada lembaga keuangan syariah membuat total asetnya meningkat signifikan,
terlebih ketika negara-negara tersebut menikmati windfall profit dari kenaikan harga
minyak dan komoditas.
Keunggulan struktur pengembangan keuangan syariah di Indonesia lainnya adalah
regulatory regime yang dinilai lebih baik dibanding dengan negara lain. Di Indonesia
kewenangan mengeluarkan fatwa keuangan syariah bersifat terpusat oleh Dewan Syariah
Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang merupakan institusi yang
independen. Sementara di negara lain, fatwa dapat dikeluarkan oleh perorangan ulama
sehingga peluang terjadinya perbedaan sangat besar. Di Malaysia, struktur organisasi
lembaga fatwa ini berada di bawah Bank Negara Malaysia (BNM), tidak berdiri sendiri
secara independen.
Semua stakeholder industri keuangan dan perbankan syariah nasional harus
bersama-sama bersinergi dan berbagi peran untuk menghadapi MEA 2015. Kita tidak bisa
menutup mata atas semua permasalahan dana kelemahan yang kita miliki, tetapi kita juga
tidak bisa berpangku tangan karna potensi besar yang kita miliki sabagai syarat untuk
menjadikan industri keuangan dan perbankan syariah nasional terdepan dan terbaik,
mamapu menjadi tuan rumah dinegerinya sendiri. Hal itu bisa kita raih jika tantangan yang
ada bisa menjadi peluang untuk kita realisasikan.

Daftar Pustaka
http://bahrullah.com/kesiapan-perbankan-nasional-menghadapi-mea-2015/
http://www.iaei-pusat.org/article/ekonomi-syariah/masyarakat-ekonomi-asean-mea-2015-
1?language=id