You are on page 1of 11

TUGAS

HUKUM HAK ASASI MANUSIA BAB I & II

Dibuat Oleh :
Girindra Aditya Wardana (201510215023)

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA
BEKASI
2017
Hukum HAM Bab I & II

Hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata-mata


karena ia manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan
kepadanya oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-
mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia.Dalam arti ini, maka meskipun
setiap orang terlahir dengan warna kulit, jenis kelamin, bahasa, budaya dan
kewarganegaraan yang berbeda-beda, ia tetap mempunyai hak-hak tersebut.
Inilah sifat universal dari hak-hak tersebut. Selain bersifat universal, hak-hak
itu juga tidak dapat dicabut (inalienable).
Asal-usul gagasan mengenai hak asasi manusia seperti dipaparkan di atas
bersumber dari teori hak kodrati (natural rights theory). Teori kodrati
mengenai hak itu bermula dari teori hukum kodrati (natural law theory), pada
perkembangan selanjutnya john locke dalam bukunya yang telah menjadi
klasik, The Second Treatise of Civil Government and a Letter Concerning
Toleration Locke mengajukan sebuah postulasi pemikiran bahwa semua
individu dikaruniai oleh alam hak yang melekat atas hidup, kebebasan dan
kepemilikan, yang merupakan milik mereka sendiri dan tidak dapat dicabut
atau dipreteli oleh negara. Melalui suatu kontrak sosial (social contract),
perlindungan atas hak yang tidak dapat dicabut ini diserahkan kepada negara.
Gagasan hak asasi manusia yang berbasis pada pandangan hukum kodrati
mendapat pertentangan oleh edman burke dan ditertawakan dengan sinisnya
oleh bentham. Sejarah mengenai perkembangan pemikiran hak asasi manusia
telah berlangsung lama dan mengalami evolusi dari yang sangat sederhanya
yang mewakili zaman awal dan yang sangat kompleks yang mewakili zaman
modern. Karel Vasak seorang sarjana berkebangsaan Perancis mengemukakan
suatu model perkembangan hak asasi manusia dikutip oleh Jimly Asshidiqie
yaitu:
Generasi Pertama, mewakili hak-hak sipil dan politik yakni hak asasi
manusia yang klasik. Hak-hak ini muncul dari tuntutan untuk melepaskan
diri dari kungkungan kekuasaan absolutisme negara dan kekuatan sosial
lainnya. Pemikiran mengenai konsepsi hak asasi manusia yang sejak lama
berkembang dalam wacana para ilmuwan sejak era enlightenment di Eropa,
meningkat menjadi dokumen-dokumen hukum internasional yang resmi.
Puncak perkembangan generasi pertama hak asasi manusia ini adalah pada
persitiwa penandatanganan naskah Universal Declaration of Human Rights
Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1948 setelah sebelumnya ide-ide
perlindungan hak asasi manusia itu tercantum dalam naskah-naskah bersejarah
di beberapa negara, seperti di Inggris dengan Magna Charta dan Bill of Rights,
di Amerika Serikat dengan Declaration of Independence, dan di Perancis
dengan Declaration of Rights of Man and of the Citizens. Dalam konsepsi
generasi pertama ini elemen dasar konsepsi hak asasi manusia itu mencakup
soal prinsip integritas manusia, kebutuhan dasar manusia, dan prinsip
kebebasan sipil dan politik.
Pada perkembangan selanjutnya yang dapat disebut sebagai hak asasi
manusia Generasi Kedua, di samping adanya International Couvenant on
Civil and Political Right konsepsi hak asasi manusia mencakup pula upaya
menjamin pemenuhan kebutuhan untuk mengejar kemajuan ekonomi, sosial
dan kebudayaan, termasuk hak atas pendidikan, hak untuk menentukan status
politik, hak untuk menikmati ragam penemuan penemuan-penemuan ilmiah,
dan lain-lain sebagainya. Puncak perkembangan kedua ini tercapai dengan
ditandatanganinya International Couvenant on Economic, Social and Cultural
Right pada tahun 1966. Hak-hak generasi kedua pada dasarnya tuntutan akan
persamaan sosial yang sering dikatakan sebagai hak-hak positif karena
pemenuhan hak-hak tersebut sangat membutuhkan peran aktif negara.
Kemudian pada tahun 1986, muncul pula konsepsi baru hak asasi manusia
yaitu mencakup pengertian mengenai hak untuk pembangunan atau rights to
development. Hak atas atau untuk pembangunan ini mencakup persamaan hak
atau kesempatan untuk maju yang berlaku bagi segala bangsa, dan termasuk
hak setiap orang yang hidup sebagai bagian dari kehidupan bangsa tersebut.
Hak untuk atau atas pembangunan ini antara lain meliputi hak untuk
berpartisipasi dalam proses pembangunan, dan hak untuk menikmati hasil-hasil
pembangunan tersebut, menikmati hasil-hasil dari perkembangan ekonomi,
sosial dan kebudayaan, pendidikan, kesehatan, distribusi pendapatan,
kesempatan kerja, dan lain-lain sebagainya. Konsepsi baru inilah yang oleh
para ahli disebut sebagai konsepsi hak asasi manusia Generasi Ketiga.
Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, misalnya,
menjabarkan secara lebih spesifik hak-hak mana yang bersifat non-
derogable dan hak-hak mana yang bersifat permissible. Begitu pula dengan
Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, yang
memuat secara lengkap hak-hak ekonomi dan sosial, merumuskan tanggung
jawab negara yang berbeda dibandingkan dengan Kovenan Internasional
tentang Hak Sipil dan Politik.
Kesetaraan mensyaratkan adanya perlakuan yang setara, di mana pada
situasi sama harus diperlakukan dengan sama, dan dengan perdebatan, dimana
pada situasi yang berbeda diperlakukan dengan berbeda pula. Pelarangan
terhadap diskriminasi adalah salah satu bagian penting prinsip kesetaraan. Jika
semua orang setara, maka seharusnya tidak ada perlakuan yang diskriminatif
(selain tindakan afirmatif yang dilakukan untuk mencapai kesetaraan).
Diskriminasi langsung adalah ketika seseorang baik langsung maupun
tidak langsung diperlakukan dengan berbeda (less favourable) daripada
lainnya. Diskriminasi tidak langsung muncul ketika dampak dari hukum atau
dalam praktek hukum merupakan bentuk diskriminasi, walaupun hal itu tidak
ditujukan untuk tujuan diskriminasi. Hukum hak asasi manusia internasional
telah memperluas alasan diskriminasi.
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menyebutkan beberapa asalan
dskriminasi antara lain ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat
politik atau opini lainnya, nasional atau kebangsaan, kepemilikan akan suatu
benda (property), kelahiran atau status lainnya. Semua hal itu merupakan
alasan yang tidak terbatas dan semakin banyak pula instrumen yang
memperluas alasan diskriminasi termasuk di dalamnya orientasi seksual, umur
dan cacat tubuh.
Untuk hak untuk hidup, negara tidak boleh menerima pendekatan yang
pasif.Negara tidak boleh mengikuti kesalahan negara lain yang melanggar
ketentuan hak untuk hidup atau melanggar larangan penyiksaan. Negara tidak
boleh membantu negara lain untuk menghilangkan nyawa seseorang atau
melanggar larangan penyiksaan. Terdapat banyak cara bagi negara untuk
menghindari pertanggun gjawabanhukum hak asasi manusia, walaupun negara
tersebut telah meratifikasi perjanjian internasional yang relevan.
Jika suatu negara memasukkan derogasi dalam hukumnya, hal ini akan
membuat negara menghindari tanggung jawabnya secara hukum atas
pelanggaran hak asasi manusia tertentu. Derogasi adalah pengecualian, yaitu
suatu mekanisme di mana suatu negara menyimpangi tanggung jawabnya
secara hukum karena adanya situasi yang darurat. Alasan yang boleh
digunakan untuk membuat derogasi adalah suatu keadaan darurat yang esensial
dan mengancam kelanjutan hidup suatu negara, ancaman esensial terhadap
keamanan nasional dan disintegrasi bangsa.
Derogasi memungkinkan suatu negara untuk dapat meloloskan diri dari
pelanggaran terhadap bagian tertentu suatu perjanjian internasional. Derogasi
yang sah atas penahanan berarti tidak ada satu pun individu yang dapat
mengajukan pengaduan terhadap negara atas penahanan yang tidak sesuai
dengan hukum, dan tidak ada badan pemantau international yang dapat
menyelidiki kesahihan penahanan yang dilakukan oleh negara tersebut.
reservasi adalah pernyataan unilateral, dalam rumus dan nama apapun,
yang dibuat oleh sebuah negara ketika menandatangani, meratifikasi,
menerima, menyetujui atau mengaksepsi suatu perjanjian internasional, dimana
negara tersebut bermaksud mengecualikan atau memodifikasi efek hukum dari
ketentuan tertentu dalam perjanjian internasional yang akan diaplikasikan di
negara tersebut. Negara harus melakukan reservasi ketika meratifikasi satu
perjanjian internasional.
Efek reservasi adalah membatasi tanggung jawab suatu negarareservasi
yang sah berarti bahwa suatu negara tidak terikat dengan pasal ataupun ayat
tertentu dari suatu perjanjian internasional. Tidak seorang pun dapat menggugat
negara terhadap ketentuan ini, walaupun badan-badan pemantau perjanjian
internasional biasanya meminta negara untuk mempertimbangkan penarikan
kembali reservasi perjanjian internasional.
Deklarasi dapat dibuat oleh negara-negara. Walaupun biasanya
mengindikasikan pemahaman nasional dari sebuah hak (misalnya, bahwa hak
untuk hidup mulai setelah lahir), beberapa negara menggunakan istilah
deklarasi ketika efek dari satu tindakan adalah reservasi. Sebagaimana tidak
semua hak dapat diderogasi, tidak semua hak juga bersifat absolut. Beberapa
hak mengandung fleksibilitas. Namun hal ini tidak membuat hak tersebut
menjadi tidak penting dibandingkan dengan hak lainnya. Ini hanya merupakan
sebuah kebutuhan praktis dan hukum.
Pembatasan ini memungkinkan kekuasaan negara untuk menetapkan
jangkauan pelaksanaan hak atau kebebasan yang dibolehkan. Hal yang paling
serius adalah menyangkut penyeimbangan kepentingan atau hak yang saling
bersaingan. Sementara menurut Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan
Politik tidak ada derogasi yang diizinkan untuk beberapa ketentuan tertentu
yaitu hak untuk hidup, pelarangan penyiksaan, larangan perbudakan dan
peraturan perundang-undangan pidana yang menyangkut persoalan masa lalu
dan kebebasan pikiran, hati nurani dan agama
Hak-hak tersebut tidak dapat diderogasi dan seringkali dianggap lebih
penting daripada hak yang dapat diderogasi. Hal ini tidak dapat dianggap
demikian, melainkan negara memerlukan beberapa fleksibilitas ketika
menerapkan hak-hak yang dapat diderogasi jika keadaan darurat nasional
terjadi. Hak yang tidak dapat diderogasi berada di tingkatan paling atas dan
hak-hak terbatas pada tingkatan paling bawah.
Hak asasi manusia tidak dapat dibagi-bagi, saling bergantung, dan
universal. Karena itulah, tidak mungkin ada hirarki hak-hak. Hak mana yang
paling penting adalah suatu keputusan yang subjektif dan secara radikal
berbeda di satu negara dengan negara lainnya, serta bagi satu invidu dan
individu lainnya, dan satu waktu dan waktu lainnya. Peraturan yang sama juga
berlaku bagi hukum hak asasi manusia internasional, karena dasar dari hukum
hak asasi manusia internasional adalah hukum internasional.
Prinsip-Prinsip Hak Asasi Manusia
Setidaknya ada 8 prinsip Hak Asasi Manusia, diantaranya :
1. Bersifat Universal (universality)
Beberapa moral dan nilai-nilai etik tersebar di seluruh dunia.Negara dan
masyarakat di seluruh dunia seharusnya memahami dan menjunjung tinggi
hal ini. Universalitas hak berarti bahwa hak tidak dapat berubah atau hak
tidak dialami dengan cara yang sama oleh semua orang
2. Martabat Manusia (human dignity)
Hak asasi merupakan hak yang melekat, dan dimiliki setiap manusia di
dunia.Prinsip HAM ditemukan pada pikiran setiap individu, tanpa
memperhatikan umur, budaya, keyakinan, etnis, ras, jender, orienasi
seksual, bahasa, kemampuan atau kelas sosial.setiap manusia, oleh
karenanya, harus dihormati dan dihargai hak asasinya. Konsekuensinya,
semua orang memiliki status hak yang sama dan sederajat dan tidak bisa
digolong-golongkan berdasarkan tingkatan hirarkis
3. Kesetaraan (equality)
Konsep kesetaraan mengekspresikan gagasan menghormati martabat yang
melekat pada setiap manusia. Secara spesifik pasal 1 DUHAM menyatakan
bahwa : setiap umat manusia dilahirkan merdeka dan sederajat dalam
harkat dan martabatnya.
4. Non diskriminasi (non-discrimination)
Non diskriminasi terintegrasi dalam kesetaraan. Prinsip ini memastikan
bahwa tidak seorangpun dapat meniadakan hak asasi orang lain karena
faktor-faktor luar, seperti misalnya ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa,
agama, politik atau pandangan lainnya, kebangsaan, kepemilikan, status
kelahiran atau lainnya
5. Tidak dapat dicabut (inalienability)
Hak-hak individu tidak dapat direnggut, dilepaskan dan dipindahkan
6. Tak bisa dibagi (indivisibility)
HAM-baik hak sipil, politik, sosial, budaya, ekonomi-semuanya bersifat
inheren, yaitu menyatu dalam harkat martabat manusia. Pengabaian pada
satu hak akan menyebabkan pengabaian terhadap hak-hak lainnya. Hak
setiap orang untuk bisa memperoleh penghidupan yang layak adalah hak
yang tidak bisa ditawar-tawar lagi: hak tersebut merupakan modal dasar
bagi setiap orang agar mereka bisa menikmati hak-hak lainnya seperti hak
atas kesehatan atau hak atas pendidikan
7. Saling berkaitan dan bergantung (interrelated and interdependence)
Pemenuhan dari satu hak seringkali bergantung kepada pemenuhan hak
lainnya, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Contohnya, dalam
situasi tertentu, hak atas pendidikan atau hak atas informasi adalah saling
bergantung satu sama lain. Oleh karena itu pelanggaran HAM saling
bertalian; hilangnya satu hak mengurangi hak lainnya.
8. Tanggung jawab negara (state responsibility)
Negara dan para pemangku kewajiban lainnya bertanggung jawab untuk
menaati hak asasi.Dalam hal ini, mereka harus tunduk pada norma-norma
hukum dan standar yang tercantum di dalam instrumen-instrumen HAM.
Seandainya mereka gagal dalam melaksanakan tanggung jawabnya, pihak-
pihak yang dirugikan berhak untuk mengajukan tuntutan secara layak,
sebelum tuntutan itu diserahkan pada sebuah pengadilan yang kompeten
atau adjudikator (penuntu) lain yang sesuai dengan aturan dan prosedur
hukum yang berlaku
HUKUM : Beberapa prinsip telah menjiwai hak asasi manusia
internasional. Prinsip-prinsip tersebut terdapat di hampir semua perjanjian
internasional dan diaplikasikan ke dalam hak-hak yang lebih luas.Prinsip
kesetaraan, pelarangan diskriminasi dan kewajiban positif yang dibebankan
kepada setiap negara digunakan untuk melindungi hak-hak tertentu. Berikut
akan diuraikan terhadap prinsip-prinsip hak asasi manusia dimaksud.
1. Prinsip Kesetaraan
Hal yang sangat fundamental dari hak asasi manusia kontemporer adalah
ide yang meletakkan semua orang terlahir bebas dan memiliki kesetaraan
dalam hak asasi manusia.
a. Definisi dan Pengujian Kesetaraan
Kesetaraan mensyaratkan adanya perlakuan yang setara, dimana pada
situasi sama harus diberlakukan dengan sama, dan dengan perdebatan,
dimana pada situasi yang berbeda diperlakukan dengan berbeda pula.
b. Tindakan Afirmatif
Masalah muncul ketika seseorang berasal dari posisi yang berbeda tetapi
diperlakukan secara sama. Jika perlakuan yang sama ini terus diberikan,
maka tentu saja perbedaan ini akan terjadi terus-menerus walaupun standar
hak asasi manusia telah ditingkatkan. Karena itulah penting untuk
mengambil langkah selanjutnya guna mencapat kesetaraan.Tindakan
afirmatif mengizinkan negara untuk memperlakukan secara lebih kepada
kelompok tertentu yang tidak terwakili.
2. Prinsip Non-Diskriminasi
Pelarangan terhadap diskriminasi adalah salah satu bagian penting prinsip
kesetaraan.Jika semua orang setara, maka seharusnya tidak ada perlakuan
yang diskriminatif (selain tindakan afirmatif yang dilakukan untuk
mencapai kesetaraan).
a. Definisi dan Pengujian Diskriminasi
Diskriminasi adalah kesenjangan perbedaan perlakuan dari perlakuan
yang seharusnya sama/ setara.
b. Diskriminasi Langsung dan Tidak Langsung
Diskriminasi langsung adalah ketika seseorang baik langsung maupun
tidak langsung diperlakukan dengan berbeda (less favourable) daripada
lainnya.Diskriminasi tidak langsung muncul ketika dampak
dari hukum atau dalam praktik hukum merupakan bentuk diskriminasi,
walaupun hal itu tidak ditujukan untuk tujuan diskriminasi. Misalnya,
pembatasan pada hak kehamilan jelas akan berpengaruh lebih besar kepada
perempuan daripada kepada laki-laki.
c. Alasan Diskriminasi
Hukum hak asasi manusia internasional telah memperluas alasan
diskriminasi. DUHAM menyebutkan beberapa alasan diskriminasi antara
lain ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau
opini lainnya, nasional atau kebangsaan, kepemilikan akan suatu benda
(property), kelahiran atau status lainnya. Semua hal itu merupakan suatu
alasan yang tidak terbatas dan semakin banyak pula instrument yang
memperluas alasan diskriminasi termasukdi dalamnya orientasi
seksual, umur dan cacat tubuh.
Prinsip-Prinsip Hak Asasi Manusia
Beberapa Prinsip telah menjiwai hak-hak asasi manusia
Internasional.Prinsip-priinsip terdapat di hampir semua perjanjian internasional
dan diaplikasikan ke dalam hak-hak yang lebih luas.Prinsip kesetaraan,
pelanggaran diskriminasi dan kewajiban positif yang dibebankan kepada setiap
negara digunakan untuk melindungi hak-hak tertentu. Tiga contoh di antaranya
akan didiskusikan di bawah ini.
PRINSIP KESETARAAN
Hal yang sangan fundamental dari hak asasi manusia konteporer adalah
ide yang meletakkan semua orang terlahir bebas dan memiliki kesetaraan
dalam hak asasi manusia.
Definisi dan Pengujian Kesetaraan
Kesetaraan mensyaratkan adanya perlakuan yang setara, dimana pada
situasi sama harus diperlakukan dengan sama, dan dengan perdebatan, dimana
pada situasi yang berbeda diperlakukan berbeda pula.
PRINSIP DISKRIMINASI
Pelanggaran terhadap diskriminasi adalah salah satu bagian terpenting prinsip
kesetaraan.Jika semua orang setara, maka seharusnya tidak ada perlakuan yang
diskriminatif.
Definisi dan Pengujian Diskriminasi
Diskriminasi adalah kesenjangan perbedaan perlakuan dari perlakuan
yang seharusnya sama/setara.
Diskriminasi Langsung dan Tidak Langsung
Diskriminasi langsung adalah ketika seseorang baik langsung maupun
tidak langsung diperlakukan dengan berbeda (less favourable) daripada
lainnya.Diskriminasi tidak langsung muncul ketika dampak dari hukum atau
dalam praktek hukum merupakan bentuk diskriminasi, walaupun hal itu tidak
ditunjukkan untuk tujuan diskriminasi. Misalnya, pembatasan pada hak
kehamilan jelas akan berpengaruh lebih besar kepada perempuan dari pada
laki-laki.
Alasan Diskriminasi
Hukum hak asasi manusia internasional telah memperluas alasan
diskriminasi. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menyebutkan beberapa
alasan diskriminasi antara lain ras, warna kulit, jensi kelamin, bahasa, agama,
pendapat politik atau opini lainnya, nasional atau kebangsaan, kepemilikkan
suatu benda (property),kelahiran atau status lainnya. Semua hal itu merupakan
alasan yang tidak terbatas dan semakin banyak pula instrumen yang
memperluas alasan diskriminasi termasuk di dalamnya orientasi seksual, umur
dan cacat tubuh.
KESIMPULAN

Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan pergumulan penyelenggaraan


kehidupan berbangsa dan bernegara atau pergumulan politik dan etika yang erat
hubungannya dengan harkat dan martabat manusia, tidak saja sebagai fenomena
filosofis sosial tetapi juga fenomena yuridis konstitusional. Tuntutan untuk
menegakan hak asasi manusia sudah sedemikian kuat, baik di dalam negeri
maupun melalui tekanan dunia internasional, namun masih banyak tantangan
yang dihadapi untuk itu perlu adanya dukungan dari semua pihak. Agar
penegakan hak asasi manusia bergerak ke arah positif.

Diperlukan niat dan kemauan yang serius dari pemerintah, aparat penegak
hukum, dan elit politik agar penegakan hak asasi manusia berjalan sesuai dengan
apa yang dicita-citakan. Sudah menjadi kewajiban bersama segenap komponen
bangsa untuk mencegah agar pelanggaran hak asasi manusia dimasa lalu tidak
terulang kembali di masa sekarang dan masa yang akan datang.