You are on page 1of 9

TUGAS MAGANG KERJA

“Hama dan Penyakit pada Tanaman Kopi”

Disusun Oleh:

Parlindungan Triwardana P. 145040201111167

Georgius Vicky 145040201111115

Donni Siswahyu 145040200111025

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2017
PEMBAHASAN

I. Hama pada Tanaman Kopi


1. Kutu Putih
 Morfologi/Bioekologi
- Kutu dewasa berbentuk oval, datar,
berwarna kuning kecoklatan, kuning muda
atau kuning tua, panjang 3-4 mm, lebar 1,5-
2 mm. tubuh serangga ditutupi lapisan lilin.
Disepanjang tepi badan kutu terdapat duri-
duri dari bahan semacam lilin sebanyak 14-
18 pasang dan duri pada bagian pangkal
panjangnya dua kali panjang duri lainnya.
- Telur berwarna kuning dan diletakkan di
dalam kantong yang terbuat dari bahan
menyerupai benang-benang lilin halus yang berada di belakang tubuh kutu betina. Ukuran
kantong-kantong ini kandang-kandang lebih besar dari ukuran kutu betina. Seekor kutu
betina mampu bertelur 300 butir, telur diletakkan pada bagian tanaman dan berlangsung
antara 2-17 hari.
- Nimfa yang baru menetas dari telur berwarna hijau muda atau kuning pucat, atau merah
tua tergantung stadiumnya, bergerak meninggalkan induknyha dan mencari tempat di
bagian tanaman lain. Perkembangan nimfa jantan telah sempurna ditandai dengan adanya
sekresi puparium yang berlilin di akhir instar kedua. P. citri betina mengeluarkan sex-
feromon yang khas yang dapat menarik kutu jantan pada jarak dekat.
- Populasi kutu dominan meningkat selama musim kemarau, terutama bila kelembaban
nisbi pada siang hari dibawah 75%. Ledakan populasi akan terjadi bila kelembaban nisbi
turun dibawah 70% dan berlangsung terus menerus selama 3-4 bulan, dan hari hujan
dibawah 10 hari. Penyebaran kutu dibantu oleh angina, hujan dan semut gremang. Kutu
ini memproduksi embun madu yang sangat disukai oleh semut. Bila produksi embun
madu berlebihan biasanya timbul jamur jelaga pada daun, tangkai atau buah sehingga
pertumbuhan bagian-bagian tersebut tidak normal dan kualitas buah turun. Kutu unu
menyukai tempat yang agak teduh tetapi tidak terlalu lembab.
 Gejala Serangan
- Kutu menyerang tangkai buah dan meninggalkan bekas kuning kemudia kering sehingga
banyak buah yang gugur. Pada bagian tanaman yang terserang tampak dipenuhi oleh
kutu-kutu putih seperti kapas.
 Cara Pengendalian
- Pengendalian mekanis dan fisik, dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun dengan
mengadakan sanitasi gulma, cabang-cabang dan buah terserang berat dan
memusnahkannya.
- Pengendalian biologi, dengan memanfaatkan musuh alami (predator dari family
Coccinelidae, Scymnus apiciflavus Mits., S. Roepkei DeFl. Parasitoid Anagarus green
How. Dan Leptomastix trilongifasciatus Gir).
- Pengendalian kimiawi, dengan menggunakan insektisida selektif dan efektif sesuai
rekomendasi, khususnya yang sistematik, bila buah terserang 5%.
2. Ulat Kilan
 Morfologi/Bioekologi
- Telur berbentuk bulat, bewarna hijau
kebiruan. Lama stadium telur 5- 6 hari.
Telur diletakkan pada daun dan lekukan buah kakao.
- Ulat (larva) kecil berkelompok dan bila ada angin akan menyebar dan mulai menyebar
daun. Lama stadium larva (ulat) 12-18 hari. Waktu ulat sudah besar biasanya masuk ke
dalam tanah yang gembur untuk berkepompong.
- Kepompong berwarna coklat mengkilap yang diletakkan di dalam tanah sedalam 2-5 cm
sekitar pangkal batang atau di bawah tajuk. Stadium pupa 6-8 hari.
- Ngengat (serangga dewasa) berwarna coklat kelabu dan aktif pada malam hari. Imago
betina meletakkan telur sebanyak 500-700 butir. Perkembangan dari telursampai imago
memerlukan waktu sekitar 24-32 hari.
 Gejala Serangan
- Ulat jengkal (kilan) menyerang daun, pucuk daun, bunga dan pentil kakao. Daun yang
terserang Nampak berlubang-lubang dan pucuk tanamangundul, sehingga tinggal tulang
daunnya saja. Serangan ulat jengkal ini sangat merugikan terutama bila menyerangpada
stadium bibit atau tanaman muda.
 Cara Pengendalian
- Sanitasi kebun
- Secara mekanis yaitu ulat dan kepompong dimusnahkan
- Pemangkasan pohon pelindung (jika pohon pelindung lamtoro) dengan memangkas
ranting-ranting lamtoro pada waktu ulat masih kecil, kemudian dimusnahkan.
- Pestisida Nabati (ekstrak daun mimbar)
- Secara kmiawi (bila serangan luas)

3. Kutu Hijau
 Gejala Serangan
- Kutu hijau menyerang seluruh bagian
tanaman yang masih berwarna hijau dan
muda. Serangan bisa terjadi pada buah,
pucuk tanaman, batang bunga. Serangan pada
daun umumnya terjadi sepanjang tulang
daun.
- Bila serangan hama ini terjadi pada bagian
batang yang masih muda (hijau), dapat
menyebabkan pertumbuhan tunas terhambat,
bagian tanaman menuning, kerdil dan ruas memendek.
- Dalam siklus hidupnya, terjadi simbiosis mutualisme antara kutu hijau ini dengan semut,
terutama semut merah. Kutu hijau dan jenis kutu tanaman lainnya mengeluarkan senyawa
berupa madu sebagai ekskresinya. Madu ini sangat disukai oleh semut karena berasa
manis. Biasanya penyebaran kutu hijau dibantu oleh semut ini.
- Bila populasi kutu hijau telah terlalu besar, senyawa ekskresi tadi biasanya sering
menutupi bagian permukaan tanaman. Senyawa gula yang terkandung didalamnya
menjadi media tumbuh yang sangat baik bagi cendawan embun jelaga. Sehingga pada
intensitas serangan berat, beberapa bagian tanaman kopi seperti daun dan batang muda
akan ditutupi oleh embun jelaga. Ini menyebabkan gangguan fotosintesis dan
terhambatnya pertumbuhan tanaman.

 Pengendalian
- Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan predator serangga
seperti orcus janthinus (sejenis kumbang kecil pemakan serangga) dan laba-laba. Namun
upaya pengendalian terpenting adalah dengan pemeliharaan tanaman dari gulma, terutama
sekitar tajuk tanaman. Jangan sekali-kali menggunakan pestisida kimia karena dapat
mengganggu keseimbangan biologis di areal kebun. Sangat ditekankan pula untuk tidak
memusnahkan populasi semut yang telah ada pada areal tanaman karena semut berperan
menekan populasi hama penggerek tanaman kopi, apakah itu penggerek buah ataupun
penggerek batang.

II. Penyakit pada Tanaman Kopi


1. Karat daun
 Penyebab
- Penyakit ini disesbabkan oleh cendawan
Hemileia vastatrix. Sporanya yang
berbentuk seperti kutil disebarkan oleh
angina, terutama oleh hujan. Daun kopi
muda lebih mudah terserang daripada daun
kopi yang tua. kelembaban yang tinggi
mempercepat penularan. Itulah sebabnya
mengapa penyakit itu kurang memainkan
peranan pada tempat-tempat yang kering
dan lebih tinggi.
 Gejala-gejala
- Pada sisi bawah daun terjadi bercak-bercak yang mula-mula berwarna kuning muda;
kemudian berubah menjadi kuning tua.
- Bercak-bercak ini mula-mula berbentuk bulatan kecil, bergaris tengah ± ½ cm,
selanjutnya bercak-bercak yang berdekatan bisa menjadi satu, sehingga menjadi besar dan
bentuknya tidak teratur, diameternya mencapai 5 cm.
- Pusat bercak-bercak itu akhirnya kering berubah warna menjadi coklat.
- Bercak-bercak dapat dilihat pada daun bagian atas, tetapi tepung-tepung yang berwarna
oranye haya dapat dilihat dari bagian bawah.
- Penyakit ini mengakibatkan gugurnya daun sebelum waktunya. Jika serangan ini hebat,
maka pohon menjadi gundul dan akhirnya mati.
 Penanganan
- Perawatan dilalukan sedemikian rupa, sehingga pertumbuhan tanaman kopi dapat sehat
dan kuat.
- Pemangkasan yang baik sangat diperlukan.
- Diberantas dengan fungisida, yang banyak dipakai adalah BB 1% sebanyak 2.000 liter/ha,
diulang 2-3 minggu sekali.

II. Analisis IP
1. Tabel IP
Sampel Penyakit
Bercak Daun
1 1
2 1
3 1
4 0
5 0
6 1
7 1
8 0
9 0
10 1
11 1
12 2
13 0
14 1
15 0
16 1
17 0
18 0
19 2
20 1
21 0
22 0
23 1
24 1
25 0
- Perhitungan

2. Itensitas Serangan
A. SAB 1
Sampel Hama Penyakit
Belalang Ulat Bercak Daun
1 4 6 5
2 6 5 4
3 7 5 1
4 6 4 3
5 3 4 2
6 5 5 2
7 4 6 1
8 5 3 3
9 6 7 3
10 9 6 5
11 4 3 6
12 7 3 6
13 4 5 4
14 5 3 6
15 4 4 4
16 3 6 7
17 7 8 5
18 4 7 1
19 5 7 4
20 5 6 8
21 6 7 4
22 3 6 5
23 5 7 5
24 6 7 5
25 9 9 1
Total 132 139 100
- Perhitungan
a. Belalang

b. Ulat

c. Bercak Daun
B. SAB 2
Hama Penyakit
Sampel
Belalang Ulat Bercak Daun
1 5 7 5
2 4 4 6
3 2 3 3
4 4 3 4
5 2 6 2
6 6 5 2
7 5 5 4
8 4 7 2
9 8 5 1
10 3 6 5
11 5 6 4
12 5 7 1
13 4 3 2
14 8 7 1
15 5 8 4
16 3 8 4
17 5 8 2
18 5 5 3
19 4 5 3
20 3 5 3
21 5 10 1
22 7 4 3
23 5 7 1
24 4 4 3
25 5 6 3
Total 116 144 74
- Perhitungan
a. Belalang

b. Ulat

c. Bercak Daun
 Analisis
DAFTAR PUSTAKA

Aak, 1988. Budidaya Tanaman Kopi. Kanius. Yogyakarta.


Ditlin.hortikultura.pertanian.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&bid=137&ltemid=128. Diakses pada 4 Agustus
2017, pukul 21.00 WIB.
Kakaosikka.wordpress.com/tag/hama-kakao. Diakses pada 4 Agustus 2017, pukul 20.30
WIB.
Nurhidayati, Istirochah Pujiwati, Anis Solichah, dkk. 2008. E-Book Pertanian Organik
Suatu Kajian Sistem Terpadu dan Berkelanjutan. Fakultas Pertanian Universitas
Islam, Malang.
Salam, Wahidin. 2013. Pengolahan Tanah. Gorontalo: SMK Gotong Royong Telaga
Sutrijat, Sumadi. 1997. Geografi I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Syifa. 2012. Pengolahan Lahan Pertanian. Gresik: Bina Syifa