You are on page 1of 22

24

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar

Untuk aliran fluida dalam pipa khususnya untuk air terdapat kondisi yang harus
diperhatikan dan menjadi prinsip utama, kondisi fluida tersebut adalah fluida merupakan
fluida inkompresibel, fluida dalam keadaan steady dan seragam.

Q = v× A

dimana: Q = laju aliran (m3/s)


A = luas penampang aliran ( m2)
v = kecepatan aliran ( m/s )
Untuk aliran steady dalam pipa dengan diameter pipa konstan pada waktu yang sama berlaku
v1 × A1 = v 2 × A2

Gambar 2.1 Aliran Steady dan Seragam

Universitas Sumatera Utara


25

2.2. Persamaan-Persamaan Untuk Aliran

Untuk aliran fluida adapun beberapa persaman-persaman yang digunakan yaitu :


1. Persamaan Kontinuitas
2. Persamaan Energi
3. Persamaan Momentum
4. Persamaan Bernoulli

2.2.1. Persamaan Kontinuitas

Persamaan kontinuitas digunakan untuk menyeimbangkan kapasitas aliran dan


volume untuk sebuah jaringan distribusi. Dengan asumsi fluida merupakan fluida
inkompresibel dengan massa jenis (ρ) konstan

dimana : ρ = massa jenis ( kg/m3)


m= massa ( kg)
v = vomume ( m3 )

∆V
Qin = Qout ± [lit.9 hal 57]
∆t
dimana : ΔV= perubahan volume (m3)
Δt = interval waktu
2.2.2. Persamaan Energi

Persamaan energi menunjukkan keseimbangan energi yaitu energy masuk sama


dengan energi keluar dan dinyatakan dalam persamaan
E1 = E2
2.2.3. Persamaan momentum
Persamaan momentum mengganbarkan tahan pipa terhadap beban dinamik yang
disebabakan oleh aliran bertekanan. untuk fluida inkompresibel momentum M (N)
dirumuskan
[lit.9 hal 58]
Dimana: ρ = massa jenis (kg/m3)
Q= kapasitas aliran (m3/s)
v = kecepatan fluida (m/s)

Universitas Sumatera Utara


26

2.2.4. Persamaan Bernoulli

Penurunan persamaan Bernoulli untuk aliran sepanjang garis arus didasarkan pada
hokum Newton II. Persamaan ini diturunkan dengan anggapan bahwa:
1. Zat cair adalah ideal, jadi tidak mempunyai kekentalan (kehilangan energi akibat
gesekan adalah nol).

2. Zat cair adalah homogen dan tidak termampatkan (rapat massa zat cair adalah
konstan).

3. Aliran adalah kontiniu dan sepanjang garis arus.

4. Kecepatan aliran adalah merata dalam suatu penampang.

5. Gaya yang bekerja hanya gaya berat dan tekanan.

Energi yang ditunjukkan dari persamaan energi total di atas, atau dikenal sebagai head
pada suatu titik dalam aliran steady adalah sama dengan total energi pada titik lain sepanjang
aliran fluida tersebut. Hal ini berlaku selama tidak ada energi yang ditambahkan ke fluida
atau yang diambil dari fluida.
Konsep ini dinyatakan ke dalam bentuk persamaan yang disebut dengan persamaan
Bernoulli, yaitu:
2 2
p1v p v
+ 1 + z1 = 2 + 2 + z 2 [lit.1hal 115]
γ 2g γ 2g
dimana: p1 dan p2 = tekanan pada titik 1 dan 2
v1 dan v2 = kecepatan aliran pada titik 1 dan 2
z1 dan z2 = perbedaan ketinggian antara titik 1 dan 2
γ = berat jenis fluida
g = percepatan gravitasi = 9,806 m/s2
dimana: p1 dan p2 = tekanan pada titik 1 dan 2
v1 dan v2 = kecepatan aliran pada titik 1 dan 2
z1 dan z2 = perbedaan ketinggian antara titik 1 dan 2
γ = berat jenis fluida
g = percepatan gravitasi = 9,806 m/s2

Universitas Sumatera Utara


27

hL

Arah Aliran

Gambar 2.3 Ilustrasi persamaan Bernoulli

Persamaan di atas digunakan jika diasumsikan tidak ada kehilangan energi antara dua
titik yang terdapat dalam aliran fluida, namun biasanya beberapa head losses terjadi diantara
dua titik. Jika head losses ini tidak diperhitungkan maka akan menjadi masalah dalam
penerapannya di lapangan. Jika head losses dinotasikan dengan “hl” maka persamaan
Bernoulli di atas dapat ditulis menjadi persamaan baru, dimana dirumuskan sebagai:
2 2
p1v p v
+ 1 + z1 = 2 + 2 + z 2 + hl [lit.1hal 116]
γ 2g γ 2g

Persamaan diatas dapat digunakan untuk menyelesaikan banyak permasalahan type


aliran, biasanya untuk fluida inkompresibel tanpa adanya penambahan panas atau energi yang
diambil dari fluida. Namun, persamaan ini tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan aliran
fluida yang mengalami penambahan energi untuk menggerakkan fluida oleh peralatan
mekanik, misalnya pompa, turbin, dan peralatan lainnya.

Universitas Sumatera Utara


28

2.3 Jenis Aliran Fluida

Aliran fluida dapat dibedakan atas 3 jenis yaitu aliran laminar , aliran transisi dan
aliran turbulen. Jenis aliran ini didapatkan dari hasil eksperiman yang dilakukan oleh
Osborne Reynold tahun 1883 yang mengklasifikasikan aliran 3 jenis. Jika air mengalir
melalui sebuah pipa berdiameter d dengan kecepatan rata-rata V maka dapat diketahui jenis
aliran yang terjadi. Berdasarka eksperimen tersebut maka didapatkan bilangan reynold
dimana bilangan ini tergantung pada kecepatan fluida, kerapatan, viskositas, dan diameter.
Aliran dikatakan laminar jika partikel-partikel fluida yang bergerak teratur mengikuti lintasan
yang sejajar pipa dan bergerak dengan kecepatan sama. Aliran ini terjadi apabila kecepatan
kecil atau kekentalan besar. Aliran disebut turbulen jika tiap partikel fluida bergerak
mengikuti lintasan sembarang di sepanjang pipa dan hanya gerakan rata-rata saja yang
mengikuti sumbu pipa. Aliran ini terjadi apabila kecepatan besar dan kekentalan zat cair
kecil.
Bilangan Reynold (Re) dapat dihitung dengan persamaan:
ρ .d.v
Re = [lit.2 hal 80]
µ

dimana: ρ = massa jenis fluida (kg/m3)


d = diameter dalam pipa (m)
v = kecepatan aliran fluida (m/s)
µ = viskositas dinamik fluida (Pa.s)
Karena viskositas dinamik dibagi dengan massa jenis fluida merupakan viskositas kinematik
(v) maka bilangan Reynold dapat juga dinyatakan:
µ d.v
v= sehingga Re = [lit 2 hal 81]
ρ µ
Menurut Orianto (1989), berdasarkan percobaan aliran didalam pipa, Reynolds menetapkan
bahwa untuk angka Reynolds dibawah 2000, gangguan aliran dapat diredam oleh kekentalan
zat cair maka disebut aliran laminar. Aliran akan menjadi turbulen apabila angka Reynolds
lebih besar dari 4000. Apabila angka Reynolds berada di antara kedua nilai tersebut (2000 <
Re < 4000) disebut aliran transisi.

Universitas Sumatera Utara


29

2.4. Metode Pendistibusian Air

2.4.1 Sistem Gravitasi


Metode pendistribusian dengan sistem gravitasi bergantung pada topografi sumber air
yang ada dan daerah pendistribusiannya. Biasanya sumber air ditempatkan pada daerah yang
tinggi dari daerah distribusinya. Air yang didistribusikan dapat mengalir dengan sendirinya
tanpa pompa. Adapun keuntungan dengan sistem ini yaitu energi yang dipakai tidak
membutuhkan biaya, sistem pemeliharaan yang murah.

2.4.2. Sistem Pemompaan


Metode ini menggunakan pompa dalam mendistribusikan air menuju daerah
didtribusi. Pompa langsung dihubungkan dengan pipa yang menangani pendistribusian.
Dalam pengoperasiannya pompa terjadwal utnuk beroperasi sehingga dapat menghemat
pemakaian energi. Keuntungan dari metode ini yaitu tekanan pada daerah distribusi dapat
terjaga.

2.4.3. Sistem Gabungan Keduanya


Metode ini merupakan gabungan antara metode gravitasi dan pemopaan yang
biasanya digunakan untuk daerah distribusi yang berbukit-bukit.

2.5. Kerugian Head

2.5.1 Kerugian Head Mayor

Aliran fluida yang melalui pipa akan selalu mengalami kerugian head. Hal ini
disebabkan oleh gesekan yang terjadi antara fluida dengan dinding pipa atau perubahan
kecepatan yang dialami oleh aliran fluida (kerugian kecil).
Kerugian head akibat gesekan dapat dihitung dengan menggunakan salah satu dari
dua rumus berikut, yaitu:
1. Persamaan Darcy – Weisbach, yaitu:
L v2
hf = f [lit.5 hal 356]
d 2g

Universitas Sumatera Utara


30

dimana: hf = kerugian head karena gesekan (m)


f = faktor gesekan (diperoleh dari diagram Moody)
d = diameter pipa (m)
L = panjang pipa (m)
v = kecepatan aliran fluida dalam pipa (m/s)
g = percepatan gravitasi
Diagram Moody telah digunakan untuk menyelesaikan permasalahan aliran fluida
di dalam pipa dengan menggunakan faktor gesekan pipa (f) dari rumus Darcy –
Weisbach. Untuk aliran laminar dimana bilangan Reynold kurang dari 2000, faktor
gesekan dihubungkan dengan bilangan Reynold, dinyatakan dengan rumus:
64
f =
Re

Gambar 2.3 Diagram Moody

Universitas Sumatera Utara


31

Tabel 2.1 Nilai kekasaran dinding untuk berbagai pipa komersil

Kekasaran
Bahan
ft m
Riveted Steel 0,003 – 0,03 0,0009 – 0,009
Concrete 0,001 – 0,01 0,0003 – 0,003
Wood Stave 0,0006 – 0,003 0,0002 – 0,009
Cast Iron 0,00085 0,00026
Galvanized Iron 0,0005 0,00015
Asphalted Cast Iron 0,0004 0,0001
Commercial Steel or Wrought Iron 0,00015 0,000046
Drawn Brass or Copper Tubing 0,000005 0,0000015
Glass and Plastic “smooth” “smooth”
Sumber: Jack B. Evett, Cheng Liu. Fundamentals of Fluids Mechanics. McGraw Hill.
New York. 1987, hal. 134.

Untuk aliran turbulen dimana bilangan Reynold lebih besar dari 4000, maka
hubungan antara bilangan Reynold, faktor gesekan dan kekasaran relative menjadi lebih
kompleks. Faktor gesekan untuk aliran turbulen dalam pipa didapatkan dari hasil
eksperimen, antara lain:
a. Untuk daerah complete roughness, rough pipes menurut, yaitu:
1  3,7 
= 2,0 log  [lit.2 hal 80]
f ε /d 

b. Untuk pipa halus, hubungan antara bilangan Reynold dan faktor gesekan
dirumuskan sebagai:
0,316
Blasius : f = [lit.2 hal 80]
Re 0, 25
1. untuk Re = 3000 < Re < 100000

1  Re f 
2. Von Karman : = 2 log  
f  2,51 

( )
= 2 log Re f − 0,8 [lit.2 hal 80]

untuk Re sampai dengan 3.106.

Universitas Sumatera Utara


32

c. Untuk pipa kasar, menurut Orianto (1989), yaitu:


1 d
Von Karman : = 2 log + 1,74 [lit.2 hal 80]
f ε
dimana harga f tidak tergantung pada bilangan Reynold.
d. Untuk Pipa antara kasar dan halus atau dikenal dengan daerah transisi, menurut
Orianto (1989) hal 80, yaitu:

1 ε / d 2,51 
Corelbrook – White : = −2 log  +  [lit.2 hal 80]
f  3,7 Re f 

2. Persamaan Hazen – Williams


Rumus ini pada umumnya dipakai untuk menghitung kerugian head dalam pipa
yang relatif sangat panjang seperti jalur pipa penyalur air minum. Bentuk umum
persamaan Hazen – Williams, yaitu:
10,666Q 1,85
hf = L [lit.1hal 133]
C 1,85 d 4,85

dimana: hf = kerugian gesekan dalam pipa (m)


Q = laju aliran dalam pipa (m3/s)
L = panjang pipa (m)
C = koefisien kekasaran pipa Hazen – Williams
d = diameter pipa (m)
2.5.2. Kerugian Head Minor

Kerugian yang kecil akibat gesekan pada jalur pipa yang terjadi pada komponen-
komponen tambahan seperti katup, sambungan, belokan, reduser, dan lain-lain disebut
dengan kerugian head minor (minor losses)
Besarnya kerugian minor akibat adanya kelengkapan pipa menurut dirumuskan
sebagai:
v2
hm = ∑ .k . [lit.5 hal 80]
2g

dimana: g = percepatan gravitasi


v = kecepatan aliran fluida dalam pipa
k = koefisien kerugian (dari lampiran koefisien minor losses peralatan pipa)

Universitas Sumatera Utara


33

untuk pipa yang panjang (L/d >>> 1000), minor losses dapat diabaikan tanpa kesalahan yang
cukup berarti tetapi menjadi penting pada pipa yang pendek.

2.5.3. Persamaan Empiris Untuk Aliran Dalam Pipa


Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa permasalahan aliran fluida dalam
pipa dapat diselesaikan dengan menggunakan persamaan Bernoulli, persamaan Darcy dan
diagram Moody. Penggunaan rumus empiris juga dapat digunakan untuk menyelesaikan
permasalahan aliran. Dalam hal ini digunakan dua model rumus yaitu persamaan Hazen –
Williams dan persamaan Manning.

1. Persamaan Hazen – Williams dengan menggunakan satuan internasional , yaitu:

v = 0,8492.C.R 0, 63 .s 0,54 [lit.1hal 160]

dimana: v = kecepatan aliran (m/s)


C = koefisien kekasaran pipa Hazen – Williams
R = jari-jari hidrolik
A
=
pw

πD 2 / 4
= πD

d
= untuk pipa bundar
4

Universitas Sumatera Utara


34

Tabel 2.1 Koefisien kekasaran pipa Hazen – Williams

Extremely smooth and straight pipes 140


New Steel or Cast Iron 130
Wood; Concrete 120
New Riveted Steel; vitrified 110
Old Cast Iron 100
Very Old and Corroded Cast Iron 80
(Sumber : Jack. B. Evett, Cheng Liu. Fundamentals of Fluids Mechanics. McGraw Hill, New York.
1987, hal. 161.)

2. Persamaan Manning dengan satuan internasional, yaitu:


1,0 2 / 3 1 / 2
v= R s [lit.1hal 161]
n

dimana: n = koefisien kekasaran pipa Manning

Persamaan Hazen – Williams umumnya digunakan untuk menghitung headloss yang


terjadi akibat gesekan. Persamaan ini tidak dapat digunakan untuk liquid lain selain air dan
digunakan khusus untuk aliran yang bersifat turbulen. Persamaan Darcy – Weisbach secara
teoritis tepat digunakan untuk semua rezim aliran semua jenis liquid. Persamaan Manning
biasanya digunakan untuk aliran saluran terbuka (open channel flow).

Universitas Sumatera Utara


35

2.6. Jenis Jaringan Pemipaan

2.6.1 Sistem Jaringan Pemipaan Seri

Sistem pemipaan dengan susunan seri merupakan jaringan pipa tanpa cabang ataupun
loop. Jaringan ini memiliki satu sumber , satu ujung dan node yang menyambung 2 pipa yang
berada dalam satu jalur. Jaringan pemipaan jenis ini sangat kecil dan dipakai untuk
pendistribusian air kawasan yang kecil.

Gambar 2.4 Pipa Jaringan Seri

2.6.2. Sistem Jaringan Pemipaan Bercabang (Branch)

Sistem pemipaan dengan susunan bercabang merupakan kombinasi dari jaringan pemipaan
susunan seri. Dimana, jaringannya terdiri dari satu sumber dan memiliki banyak cabang.
Sistem ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sebuah komunitas dan investasi yang
dikeluarkan tidaklah besar.

Gambar 2.5 Pipa Jaringan Bercabang

Universitas Sumatera Utara


36

2.6.3. Sistem Jaringan Pemipaan Tertutup (Loop)

Sistem pemipaan ini merupakan sistem yang mana jaringannya saling terhubung yang
terdiri dari node-node yang menerima aliran air lebih dari satu bagian. Dengan sistem ini
masalah – masalah yang dihadapi pada sistem seri ataupun bercabang dapat ditangani seperti
masalah tekanan. Namun, sistem pemipaan dengan jaringan ini lebih rumit jika dibandingkan
dengan sistem seri atau bercabang. Untuk biaya operasi dan investasi yang cukup besar.
Sistem ini biasanya dipakai pada daerah yang cukup luas dengan jumlah pemakai yang cukup
besar.

Gambar 2.6 Jaringan Tertutup

2.6.4. Sistem Jaringan Pemipaan Kombinasi

Sistem perpipan jenis ini merupakan sistem jaringan pemipaan yang umum digunakan
untuk daerah yang luas. Sistem ini merupakan gabungan antara sistem dengan jaringan
bercabang dan loop

Gambar 2.7 Jaringan Kombinasi

Universitas Sumatera Utara


37

2.7. Metode Penyelesaian Sistem Jaringan Pemipaan

Untuk pipa yang dihubungkan secara seri dengan diameter yang berbeda dan pipa
yang berbeda berlaku
hl (head losses)= hl1 + hl2 + hl3 +……
Q (kapasitas aliran) = Q1 = Q2 = Q3 =…..

Gambar 2.8 Pipa dengan susunan seri

Untuk pipa yang disusun secara paralel berlaku


hl = hl1 = hl2 = hl3 =……
Q = Q1 + Q2 + Q3 +…..

Gambar 2.9 Pipa dengan susunan paralel


Untuk menyelesaikan jaringan pipa dengan sistem loop terdapat tiga cara yaitu
1. Metode Hardy Cross
2. Metode Newton Raphson
3. Metode Teori Linear

Analisa jaringan pemipaan yang umum digunakan adalah menggunakan metode Hardy Cross.
Hardy Cross merupakan seorang Profesor Teknik Sipil di Universitas Illinois. Pertama kali
metode ini diperkenalkan pada tahun 1936. Metode ini tegantung pada persamaan dasar
kontinuitas aliran dan head losses yang terjadi pada pipa.

Universitas Sumatera Utara


38

Gambar 2.8. Sistem Jaringan Pipa

Jaringan pipa pengangkut air yang kompleks dapat dianalisis dengan cepat
menggunakan persamaan Hazen-Williams atau rumus gesekan lain yang sesuai. Perhitungan
distribusi aliran pada suatu jaringan biasanya rumit karena harus memecahkan serangkaian
persamaan hambatan yang tidak linear melalui prosedur yang iteratif. Kesulitan lainnya
adalah kenyataan bahwa kebanyakan jaringan, arah aliran pipa tidak diketahui sehingga
losses antara dua titik menjadi sukar untuk ditentukan. Dalam perancangan sebuah jaringan,
aliran akan tekanan di berbagai titik menjadi persyaratan utama untuk menentukan ukuran
pipa, sehingga harus diselesaikan dengan cara berurutan dan iterasi.
Sebuah jaringan yang terdiri dari sejumlah pipa mungkin membentuk sebuah loop,
dimana pipa yang sama dipakai oleh dua loop yang berbeda. Ada dua syarat yang harus
diperhatikan agar aliran dalam jaringan tersebut seimbang, yaitu:
a. Aliran netto ke sebuah titik harus sama dengan nol. Ini berarti bahwa laju aliran
ke sebuah titik pertemuan harus sama dengan laju aliran dari titik pertemuan
yang sama.
b. Head losses netto di seputar sebuah loop harus sama dengan nol. Jika sebuah
loop ditelusuri ke arah manapun, sambil mengamati perubahan head akibat
gesekan atau losses yang lain, kita harus mendapatkan aliran yang seimbang
ketika kembali ke kondisi semula (head dan tekanan) pada kondisi awal.

Universitas Sumatera Utara


39

Prosedur untuk menentukan distribusi aliran dalam suatu jaringan meliputi penentuan
aliran pada setiap pipa sehingga kontinuitas pada setiap pertemuan terpenuhi (syarat 1).
Selanjutnya head losses dari setiap loop dihitung dan jika tidak sama dengan nol maka aliran
yang telah ditetapkan harus dikoreksi kembali dengan perkiraan dan metode iterasi yang
disebut metode Hardy Cross.
Untuk sebuah loop tertentu dalam sebuah jaringan misalkan Q adalah laju aliran
sesungguhnya atau laju aliran seimbang dan Q0 adalah laju aliran yang diandaikan sehingga
Q = Q0 + ∆Q. dari persamaan Hazen-Williams hl = nQx, maka fungsi Q dapat dikembangkan
dalam deret Taylor sebagai :
df (Q )
f (Q + ∆Q ) = f (Q ) + + ....
dQ

Jika hanya orde pertama yang digunakan, kemudian ∆Q dihitung dengan


f(Q) = ∑hl, maka:

Σhl ΣnQo x Σhl


∆Q = − =− x −1
=−
Σdhl / dQ ΣnQo 1,85Σhl / Qo
Harga x adalah eksponen dalam persamaan Hazen-Williams apabila digunakan untuk
1
menghitung hl dan besarnya adalah = 1,85 dan n menyatakan suku-suku yang terdapat
0,54
4,73L
dalam persamaan yang menggunakan satuan British, yaitu: n = .
C 1,85 d 4,87
Cara lain yang dapat digunakan ialah dengan persamaan Darcy-Weisbach dengan x =
8 fl
2 dan n = . Hal ini yang perlu diperhatikan adalah bahwa faktor gesekan selalu
gπ 2 d 5
berubah untuk setiap iterasi.
Prosedur pengerjaannya adalah, sebagai berikut:
1. Andaikan distribusi aliran yang paling wajar, baik besar maupun arahnya dalam setiap
pipa sehingga total aliran ke setiap titik pertemuan mempunyai jumlah aljabar nol. Ini
harus ditunjukkan dari diagram jaringan pipa yang bersangkutan.
2. Buat sebuah tabel untuk menganalisa setiap loop tertutup dalam jaringan yang semi-
independent.
3. Hitung head looses pada setiap pipa.

Universitas Sumatera Utara


40

4. Untuk tiap loop, anggap bahwa laju aliran Qo dan head losses (hl) positif untuk aliran
yang searah dengan jarum jam dan negatif untuk aliran yang berlawanan arah jarum
jam.
5. Hitung jumlah aljabar heal losses (∑hl) dalam setiap loop.
hl
6. Hitung total head losses persatuan laju aliran untuk tiap pipa. Tentukan jumlah
Qo

 hl 
besaran ∑  Qo  = ΣnxQo 0.85
. Dari defenisi tentang head losses dan arah aliran,
 
setiap suku dalam penjumlahan ini harus bernilai positif.
7. Tentukan koreksi aliran dari tiap loop, dirumuskan sebagai berikut :
− Σhl
∆Q = [lit.3 hal 48]
nΣhl / Qo

dimana: ∆Q = koreksi laju aliran untuk loop


∑hl = jumlah aljabar kerugian head untuk semua pipa dalam loop
n = harga yang bergantung pada persamaan yang digunakan untuk
menghitung laju aliran.
n = 1,85 bila digunakan persamaan Hazen-Williams.
n = 2 bila digunakan persamaan Darcy dan Manning.
Koreksi diberikan untuk setiap pipa dalam loop. Sesuai dengan kesepakatan, jika ∆Q
bernilai positif ditambahkan ke aliran yang searah jarum jam dan dikurangkan jika
berlawanan arah jarum jam. Untuk pipa yang digunakan secara bersama dengan loop
lain, maka koreksi aliran untuk pipa tersebut adalah harga netto dari koreksi untuk
kedua loop.
8. Tuliskan aliran yang telah dikoreksi pada diagram jaringan pipa seperti pada langkah
1. untuk memeriksa koreksi pada langkah 7 perhatikan kontinuitas pada setiap
pertemuan pipa.
9. Ulangi langkah 1 sampai 8 sampai koreksi aliran = 0.

Universitas Sumatera Utara


41

Prosedur di atas dapat digambarkan pada sebuah tabel berikut:

1 2 3 4 5 6 7

Panjang Diameter Laju Unit head Head hl


No. pipa
pipa (L) pipa (d) aliran losses (hf) losses (hl) Q0

m M m3/s m s/m2

Diagram
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir hf1
pipa

hl
∑hl ∑Q
0

2.8. Dasar Perencanaan Pompa

Dalam perencanaan pompa untuk memindahkan fluida dari suatu tempat ke tempat
lain dengan head tertentu diperlukan beberapa syarat utama, antara lain:
a. Kapasitas
Kapasitas pompa adalah jumlah fluida yang dialirkan oleh pompa per satuan waktu.
Kapasitas pompa ini tergantung pada kebutuhan yang harus dipenuhi sesuai dengan
fungsi pompa yang direncanakan.
b. Head Pompa
Head pompa adalah ketinggian dimana kolom fluida harus naik untuk memperoleh
jumlah yang sama dengan yang dikandung oleh satuan bobot fluida pada kondisi yang
sama. Head ini ada dalam tiga bentuk, yaitu:
- Head Potensial
Didasarkan pada ketinggian fluida di atas bidang banding (datum plane). Jadi suatu
kolom air setinggi Z mengandung sejumlah energi yang disebabkan oleh posisinya
atau disebut fluida mempunyai head sebesar Z kolom air.

Universitas Sumatera Utara


42

- Head Kecepatan
Head kecepatan atau head kinetik, yaitu suatu ukuran energi kinetik yang dikandung
fluida yang disebabkan oleh kecepatannya dan dinyatakan dengan persamaan V2/2g .
- Head Tekanan
Head tekanan adalah energi yang dikandung fluida akibat tekanannya dan
dinyatakan dengan P/γ .
Head total pompa diperoleh dengan menjumlahkan head yang disebut di atas dengan
kerugian-kerugian yang timbul dalam instalasi pompa (Head mayor dan Head
minor).

c. Sifat Zat Cair


Sifat-sifat fluida kerja sangat penting untuk diketahui sebelum perencanaan pompa.
Pada perencanaan ini, temperatur air dianggap sama dengan temperatur kamar.

d. Unit Penggerak Pompa


Pada perancangan ini direncanakan pompa yang mempunyai konstruksi kokoh dan dapat
menjamin tidak terjadinya kebocoran sama sekali. Hal ini direncanakan dengan
merancang sistem penggerak pompa dan bagian utama poros sebagai satu unit kesatuan.
Umumnya unit penggerak pompa yang biasanya dipakai adalah motor bakar, motor
listrik dan turbin uap.
Bila pipa dipasangkan dengan pompa maka akan ada penambahan energi sebesar Hp.
Head pompa itu sendiri merupakan energi yang harus ditambahkan pompa ke dalam fluida
untuk memindahkan fluida tersebut dari tempat yang memiliki head rendah ke tempat dengan
head yang tinggi. Untuk menyelesaikan persoalan di atas digunakan persamaan Bernoulli,
yaitu:

2 2
P1V P V
+ 1 + Z1 + H P = 2 + 2 + Z 2 + H L
γ 2g γ 2g

atau
P2 − P1 V − V1
2 2

HP = + 2 + (Z 2 − Z 1 ) + H L
γ 2g

Universitas Sumatera Utara


43

P2 − P1
dimana: adalah perbedaan head tekanan
γ
V2 − V1
2 2

adalah perbedaan head kecepatan


2g
Z2 – Z1 adalah perbedaan head statis

HL adalah head losses total


Untuk menghitung besarnya daya yang dibutuhkan pompa, menurut Sularso (2000) adalah
sebagai berikut:
γ ×Q× H p
Np = [lit.1hal 133]
ηp

dimana: NP = Daya pompa (kW)


γ = Berat jenis fluida (N/m3)
Q = Laju aliran fluida (m3/s)
Hp = Head pompa (m)
ηp = Efisiensi pompa

Universitas Sumatera Utara


44

2.9 EPANET
EPANET merupakan sebuah perangkat lunak yang dapat memberikan informasi
kepada pengguna mengenai simulasi hidrolik dan perilaku kualitas air didalam sistem
jaringan pemipaan bertekanan dalam rentang waktu tertentu. Perangkat lunak ini
dikembangkan oleh Water Supply and Water Resources Division USEPA’s National Risk
Management Research Laboratory. Sistem jaringan pemipaan itu sendiri merupakan sebuah
sistem yang terdiri dari kombinasi antara pipa, node, pompa, valve dan tanki atau reservoir,
yang saling terhubungan satu sama lain dalam satu kesatuan. EPANET mampu menelusuri
aliran air didalam pipa, tekanan ditiap node, tinggi muka air didalam tanki/reservoir dan
konsentrasi bahan kimia (mis. Desinfektan klor) selama rentang simulasi tersebut.

EPANET yang dijalan dibawah operation system Windows ini, menyediakan suatu
lingkungan yang terintegrasi untuk melakukan pengeditan terhadap input data, running
hydraulic dan simulasi kualitas air serta kemudian menampilkannya dalam berbagai format
seperti jaringan pemipaan dan node dengan kode warna, tabel, grafik terhadap waktu dan plot
kontur sesuai dengan kebutuhan analisis pengguna. Hasil analisis tersebut sangat bermanfaat
bagi pengambil keputusan, baik ditingkat manajemen maupun dilingkup tim perencana,
sebagai input dalam pengelolaan sistem distribusi air maupun sebagai input data dalam
perencanaan desain sistem distribusi air.

Hasil yang didapatkan dari simulasi hidrolik dan performansi jaringan menggunakan
epanet yaitu keseimbangan jaringan, arah aliran, head yang terjadi dan. Selain itu, analisa
sebuah jaringan pemipaan dengan menggunakan EPANET dapat membantu kita untuk
memecahkan beberapa masalah diantaranya
• Analisa terhadap jaringan baru
• Analisa terhadap energi dan biaya
• Optimalisasi dari penggunaan air, kualitas air dan dan tekanan
• Diagnosa kualitas air
• Reabilitas sebuah jaringan pemipaan

Universitas Sumatera Utara


45

Gambar 3. Tampilan EPANET

Untuk menjalankan program ini diperlukan input yang mendukung,


sehinggadihasilkan poutpu yang menunjukkan performasi jaringan tersebut. Input yang
diperlukan pada program ini yaitu :
1. Input komponen yang mendukung sebuah jaringan pemipaan yang meliputi pipa,
pompa dan reservoir
2. Input berupa node yang menghubungkan masing- masing pipa sehingga membentuk
sebuah jaringan pemipaan
3. Input berupa nomor masing-masing masing komponen baik pipa, node, pompa dan
reservoir
4. Input yang menunjukkan karakteristik masing-masing komponen yang meliputi :
- Diameter, panjang, roughness untuk pipa
- Karakteristik pompa
Dengan menggunakan data yang berupa input seperti di atas maka analisa hidrolik
dapat dilakukan.

Universitas Sumatera Utara