You are on page 1of 9

BAB I

HALAMAN PABRIK

Halaman pabrik merupakan suatu tempat yang cukup vital bagi Pabrik
Gula karena merupakan bagian awal dalam melakukan proses produksi, sebab di
sini lori/truk bermuatan tebu yang hendak di giling diatur dengan urutannya,
tenggang waktu antara penebangan dan penggilingan tidak lebih dari 24 jam untuk
menghindari kehilangan gula dalam batang tebu dapat ditekan seminim mungkin.
Sedang gangguan fisis oleh sinar matahari langsung, ada kemungkinan
matinya sel-sel tebu yang mengandung sukrosa maka akan terjadi :
i. Cairan dalam sel tebu akan bersifat asam, sedangkan sukrosa tidak tahan dalam
suasana asam karena akan terjadi hidrolisa menjadi glukosa dan fruktosa.
ii. Sifat permiabilitas dinding sel akan hilang, sehingga memungkinkan cairan
dapat menembus dinding sel sehingga terjadilah penguapan, maka konsentrasi
bahan dalam larutan akan mati yang berarti peristiwa keasaman dan hidrolisa
akan meningkat.
Kedua komponen ini yang menyebabkan terjadinya pengasaman,
sedangkan sifat sukrosa tidak tahan terhadap suasana asam. Dari uraian tersebut
diatas dapat disimpulkan bahwa halaman Pabrik merupakan tempat yang perlu
mendapat perhatian dalam menekan kehilangan sukrosa / gula.
A. Penimbangan Tebu
1. Pentingnya Penimbangan Tebu
Penimbangan tebu merupakan dasar yang akan digunakan sebagai
perhitungan pengawasan pabrikasi, perhitungan bagi hasil antara pabrik
gula dan petani, serta untuk mengetahui berapa banyak tebu yang digiling
tiap 24 jam dan juga untuk mengetahui sisa tebu di pagi hari.
Penimbangan tebu haruslah dilakukan secara cermat dan teliti. Hal ini
dilakukan untuk menghindari kesalahan dalam proses perhitungan yang
tentunya akan berdampak pada perhitungan yang lainnya. Tebu yang akan
diporoses dalam pabrik berasal dari tebu kebun sendiri (TS) dan tebu
rakyat (TR). Penimbangan tebu dilakukan setelah tebu dinyatakan lolos

1
dalam penilaian kualitas, dan penimbangan dilakukan secara langsung saat
tebu masih berada dalam truk.
2. Pengaturan Penimbangan Tebu
Pengaturan tebu yang akan ditimbang diawali dari tebu yang
datang dari kebun masuk ke pos seleksi kualitas tebu dan menyerahkan
SPTA (Surat Perintah Tebang Angkut). Kemudian tebu yang sudah lolos
seleksi akan diberi nomor antrian tunggu untuk selanjutnya ditimbang.
Penimbangan awal adalah penimbangan bruto, pada penimbangan ini
truk – truk yang mengakut tebu akan ditimbang berdasarkan nomor tunggu
antrian. Setelah dari penimbangan bruto, tebu kemudian langsung dibawa
menuju meja tebu dan langsung dibongkar. Truk yang kosong akan
menuju pos penimbangan tarra, dari pos inilah kemudian akan diketahui
berapa berat tebu seluruhnya.
3. Pengawasan Kualitas Tebu
Tebu yang akan masuk pabrik terlebih dahulu diseleksi pada pos
seleksi kualitas tebu. Pada pos ini akan ditentukan layak tidaknya tebu
yang diangkut untuk masuk pabrik. Pengamatan kualitas yang dilakukan
adalah dengan melihat brix dari tebu yang masuk dan jenis varietas dari
tebu itu sendiri. Kategori tebu yang masuk pabrik yaitu antara lain :
1. MA : varietas masak awal
2. BL : non masak awal
3. CO : non masak awal
4. Campur : non masak awal
Sementara untuk jenis varietas tebu sendiri antara lain sebagai
berikut :
Tabel 3.1
No Varietas Ciri – Ciri Kategori
1. PS 882 - Hijau kekuningan
- Lapisan lilin tipis MA
- Ruas berbentuk simetris
2. PSJK 922 - Hijau kekuningan
MA
- Lapisan lilin tipis

2
- Ruas berbentuk simetris
3. PS 881 - Hijau kecoklatan
MA
- Lapisan lilin tebal
4. PS 862 - Hijau kekuningan
MA
- Diameter besar
5. PS 865 - Hijau kekuningan
MA
- Lapisan lilin tebal
6. BS 132 - Merah kekuningan
- Lapisan lilin tipis MA
- Tidak ada alur mata
7. CO - Kuning kehijauan
- Lapisan lilin tipis tidak BL / CO
mempengaruhi warna batang

Setelah tebu dinyatakan lolos seleksi dari pos selektor (pos


gawang) truk yang mengangkut tebu akan diberikan nomor antrian
tunggu oleh petugas jaga. Contoh format dari nomor antrian adalah
sebagai berikut :

Antrian Tunggu Truk

No. SPTA : 014772


No. Pol : L 8065 EU
Tanggal : 19 – 06 – 2013
Jam : 12:45:54

No. Antrian

011365

4. Mekanisme Penimbangan
Penimbangan tebu pada PG Krebet Baru 1 menggunakan 2 jenis
timbangan, yaitu timbangan truk dan timbangan lori. Timbangan truk

3
sendiri terbagi menjadi dua yaitu jembatan timbang bruto dan jembatan
timbang tarra.
4.1. Jembatan Timbang Truk (Bruto dan Tarra)
a. Jembatan Timbang Bruto (Utara)
Tabel 3.2 Spesifikasi Jembatan Timabang Bruto
Merk / Tipe AND / AD 4321
Jumlah Alat 1 buah
Jenis Alat / seri Load Cell / B 8919494
Kapasitas 30.000 kg
Daya baca 10 m
Buatan Japan
Ketelitian (kg) 10
(dua digit)
Aksesoris Wheging Indicator AD-4321 dan
seperangkat komputer, lengkap dengan
printer, terhubung dalam jaringan
(LAN = Local Area Network)

b. Jembatan Timbang Tarra (Selatan)


Tabel 3.2 Spesifikasi Jembatan Timbang Tarra
Merk / Tipe AND / AD 4321
Jumlah Alat 1 buah
Jenis Alat / seri Load Cell / B 8919494
Kapasitas 30.000 kg
Daya baca 10 m
Buatan Japan
Ketelitian (kg) 10
(dua digit)
Aksesoris Wheging Indicator AD-4321 dan
seperangkat komputer, lengkap dengan
printer, terhubung dalam jaringan
(LAN = Local Area Network)

4
c. Contoh data Penimbangan Bruto dan Tarra Truk
Tabel 3.3 Contoh data Penimbangan
No. Jam Timbang Bruto Tarra Netto
1. 12:09:34 115,32 43,9 71,42
2. 12:12:23 129,56 58,82 70,74
3. 12:14:46 134,23 62,15 72,06
4. 12:17:45 107,89 37,65 70,89
5. 12:24:26 129,67 58,46 71,21
Contoh perhitungan dalam penimbangan brutto dan tarra adalah
sebagai berikut :
Berat brutto : .........a......... ku
Berat tarra : .........b......... ku
Berat tebu .....a - b....... ku
Penimbangan truk bruto dan tarra pada dasarnya mempunyai cara
dan mekanisme kerja yang sama. Truk yang mengangkut tebu terlebih
dahulu ditimbang pada jembatan timbang bruto, pada masing – masing pos
jembatan timbang terdapat chif sebagai sensor untuk membaca berat dari
truk yang ditimbang. Data yang terbaca pada monitor komputer kemudian
dicetak sebagai arsip laporan.
4.2. Jembatan Timbang Lori
Selain pengangkutan tebu mengunakan truk di PG Krebet Baru 1
juga menggunakan lori untuk mengangkut tebu. Pengangkutan
menggunakan lori ini kemudian akan ditimbang menggunakan jembatan
timbang lori. Pada pos jembatan timbang lori, operator yang bertugas akan
mencatat berat keseluruhan dari tebu dan lori. Berat lori kosong sudah
diketahui sebelumnya yaitu sekitar ± 9 ku. Kemudian berat tebu secara
keseluruhan bisa diketahui dan dicatatat oleh petugas.
a. Spesifikasi Jembatan Timbang Lori
Tabel 3.4 Spesifikasi Jembatan Timbang Timbang Lori
Merk AND - 4321 A
Jumlah Alat 1 buah
Tipe Load Cell tipe LC 1205 K 500,

5
dilengkapi dengan 4 bh proximity
switch : E 2 EX 2EI
Kapasitas 20.000 kg
Daya baca 10 m
Buatan Japan
Ketelitian (kg) 10
(dua digit)
Aksesoris Wheging Indicator AD-4321 dan
seperangkat komputer, lengkap
dengan printer, terhubung dalam
jaringan (LAN = Local Area
Network)
Contoh perhitungan dalam penimbangan bruto dan tarra lori adalah
sebagai berikut :
Berat brutto lori : .........a......... ku
Berat tarra lori : .........b......... ku
Berat tebu .....a - b....... ku
b. Contoh Data Hasil Penimbangan Lori
Tabel 3.3 Contoh data Penimbangan
No. Jam Timbang Bruto Tarra Netto
1. 12:09:34 115,32 43,9 71,42
2. 12:12:23 129,56 58,82 70,74
3. 12:14:46 134,23 62,15 72,06
4. 12:17:45 107,89 37,65 70,89
5. 12:24:26 129,67 58,46 71,21

5. Pengaturan Tebu di Halaman Pabrik


Tebu yang masuk di pabrik sebelum dilakukan penimbangan
maupun yang sudah ditimbang terlebih dahulu harus mengantri
berdasarkan nomor antrian kedatangan. Untuk tebu yang diangkut oleh lori
dari lahan, maka akan ditempatkan pada jalur – jalur lori berdasarkan
kedatangannya. Pengaturan tebu – tebu sebelum digiling ini ditujukan

6
supaya tebu yang terlebih dahulu datang didahulukan untuk digiling, hal
ini ditujukan untuk mengurangi kehilangan sukrosa. Istilah yang umum
digunakan adalah sistem FIFO (First In First Out)
6. Masalah Yang Terjadi di Penimbangan Tebu
Masalah – masalah yang biasanya timbul di penimbangan dan
penangannya adalah sebagai berikut :
1. Untuk penimbangan lori, masalah yang biasanya muncul adalah
tidak adanya SP, sehingga penimbangan harus ditunda dan
menunggu pengawal dari lori tersebut.
2. Lori yang datang dari kebun sering terjadi keterlambatan
dikarenakan lori anjlok dari relbannya. Untuk mengatasinya
biasanya lori didongkrak supaya bisa kembali pada jalur relbannya.
B. Halaman Pabrik
1. Luas Halaman Pabrik
PG Krebet baru 1 mempunyai 2 halaman pabrik, yaitu halaman
pabrik dalam dan halaman pabrik luar. Halaman pabrik luar sendiri
mempunyai luas 20.040 m2, dan terdapat 17 jalur antrian truk. Sementara
untuk halaman pabrik dalam terdapat jalur antrian truk sebanyak 22 jalur.
Dengan luas ini cukup untuk memenuhi kapasitas pabrik yaitu sebesar
6800 TCD. Kedua halaman pabrik ini digunakan sebagai tempat antrian
truk sebelum digiling untuk PG Krebet Baru 1 maupun Krebet baru 2
2. Jumlah Tebu yang Harus Tersedia
Halaman Pabrik harus mampu menampung tebu 125 % dari
kapasitas giling (J Sartono)
125
=  6800 TT / hari = 8500 TT/hari
100
Kebutuhan Rail ban :
6800
= 5m = 7555,55m
4,5 TT
Kebutuhan Lori :

7
8500
= = 1888,88 buah
4,5ton
Kebutuhan lori menurut jam operasi
6800
= = 69 lori/jam
4,5 ton  22 jam
Jam operasi crane tebu = 06.00 – 22.00 = 16 jam
Jam istirahat = 24 – 16 = 8 jam
Sisa tebu di emplasement
30 2040
30% =  6800 ton  2040 ton = = 453,33 buah
100 4,5
3. Waktu Cara Menghitung Tebu yang Akan Digiling
3.1. Perhitungan tebu digiling dapat dihitung setiap jam, setiap 8 jam
dan 24 jam.
a. Untuk setiap jam dengan cara menghitung tebu yang digiling per
jam.
b. Untuk setiap 8 jam dengan cara menjumlah tebu yang digiling
perjam
c. Untuk setiap 24 jam dengan menjumlah tabu yang digiling setiap 8
jam.
3.2. Cara menghitung tebu yang digiling tiap 24 jam
Perhitungan tebu yang digiling setiap hari dimaksudkan sebagai
perbandingan dengan hasil yang diperoleh. Tebu yang digiling setiap hari,
tutup buku dilakukan pada jam 06.00, jadi perhitungan dari jam 06.00
sampai jam 06.00 hari berikutnya.
Contoh perhitungan data tanggal 17 Juni 2013 untuk
penimbangan lori :
Sisa tebu kemarin = 4509 ku
Tebu masuk hari ini = 109.227 ku +
Jumlah = 113.736 ku
Sisa tebu hari ini = 3105 ku -
Tebu digiling hari ini = 110.631 ku

8
4. Masalah Yang Terjadi di Halaman Pabrik
1. Kehilangan sukrosa pada saat tebu menunggu digiling, lamanya
waktu tunggu untuk tebu digiling akan mengakibatnya sukrosa
yang terdapat pada tebu semakin berkurang. Hal ini biasanya
diatasi dengan penanaman pohon di halaman pabrik supaya pada
waktu menunggu, tebu tidak terkena sinar matahari secara
langsung dan berlebihan.
2. Truk pengangkut tebu ditinggal oleh sopirnya, hal ini biasanya
disebabkan karena terlalu lama truk – truk menunggu, sehingga
beberapa sopir yang meninggalkan truknya dan itu menyebabkan
truk yang mengantri dibelakangnya mendahului antrian.