You are on page 1of 22

BAB II

STASIUN PEMERAHAN NIRA

Stasiun pemerahan nira berfungsi sebagai pemerah nira dari batang tebu
sebanyak mungkindan menekan seminimal mungkin hilangnya sucrose dalam nira
yang terbawa dalam ampas. Pada dasarnya di stasiun pemerahan nira terdiri dari
alat kerja persiapan dan alat kerja pemerah nira (gilingan). Alat persiapan terdiri
dari cane cuter (pisau tebu) dan Unigrator, sedangkan alat pemerahan nira adalah
unit gilingan. Namun sebelum tebu masuk ke alat kerja pendahuluan ada beberapa
alat bantu untuk memperlancar kerja alat pendahuluan yaitu : Cane Crane, Meja
tebu(Cane teable) dan Leveller, dan Krepyak tebu (Cane Carrier).

A. Persiapan Tebu

Diadakanya persiapan tebu bertujuan untuk menyediakan tebu dengan teratur,


agar pemasukan kedalam stasiun pemerahan selalu ajeg sesuai dengan kapasitas
yang telah direncanakan. Situasi yang tidak ajeg akan menyebabkan bekerjanya
alat tidak normal. Hal demikian akan menyebabkan peralatan akan mudah rusak.
Di PG Krebet Baru 1 alat untuk menyiapkan tebu terdiri dari alat pengangkat tebu
(cane crane), meja tebu, cane leveller, cane carrier, cane cutter dan unigrator serta
krepyak ampas atau elevator.

1. Cane Unloading Crane

Alat ini berfungsi untuk mengangkat dan menurunkan tebu serta


dapat bergerak maju dan mundur serta ke kiri dan ke kanan untuk diletakkan
ke bagian meja tebu. PG Krebet Baru 1 memakai empat buah cane
unloading crane, tiga crane untuk memindahkan tebu menuju meja tebu dan
satu crane digunakan untuk operasi perbaikan alat. Data spesifikasi untuk
masing – masing cane unloading crane adlah sebagai berikut :

Tabel 4.1. Data Spesifikasi Cane Unloading Barat


No Uraian Data – Data
1. Buatan DEMAG – Katrolin (1984)

10
2. Jumlah alat 2 buah
3. Daya timbang 30,5 ton (untuk 2 alat berat, rol dsb)

Tabel 4.2. Data Spesifikasi Cane Crane Tenggah


No Uraian Data – Data
1. Buatan DEMAG – Konstruksi Cremona (1954)
2. Jumlah alat 2 buah
3. Daya timbang 15 ton

Tabel 4.3. Data Spesifikasi Cane Crane Timur


No Uraian Data – Data
1. Buatan Roda Mas
2. Jumlah alat 1 buah
3. Daya timbang 12,5 ton

2. Meja Tebu

Alat ini berfungsi untuk menampung dan mengatur tebu yang akan
dipindahkan ke cane carrier dengan menggunakan rantai yang dapat
berputar. PG Krebet Baru 1 menggunakan tiga macam meja tebu, yaitu dua
meja tebu untuk tebu dari truk dan satu untuk tebu yang berasal dari lori.
Data spesifikasi dari masing – meja tebu adalah sebagai berikut :

Tabel 4.3. Tabel Spesifikasi Meja Tebu Timur


No Uraian Data - data
1. Buatan PT Indomarine
2. Tahun 1987
3. Panjang 6m
4. Lebar 6m
5. Luas 36 m
6. Sudut kemiringan 100 naik ke arah Cane Carrier
7. Kecepatan 7,8 m / min
8. Tail shaft panjang 6700 mm
9 Ukuran poros dari pipa Ø 500 x 5640 mm

11
10. Ukuran poros dari baja Ø 150 x Ø 620 mm
- Kiri
- Kanan Ø 180 / 170 x 1.020 mm
Ø 160 x 620 mm

Tabel 4.3. Tabel Spesifikasi Meja Tebu Timur


No Uraian Data - data
1. Buatan PG Krebet Baru 1
2. Panjang 6m
3. Lebar 7m
5. Sudut kemiringan 100 naik ke arah Cane Carrier
6. Kecepatan 8 m / min

3. Cane Leveller

Alat ini berfungsi untuk meratakan atau mengatur tebu yang ada di
meja tebu supaya ketebalan bongkah – bongkahan tebu yang dibawa oleh
cane carrier sama. Data dari cane leveller yang digunakan adalah sebagai
berikut :

Tabel 4.4. Data Spesifikasi Cane Leveller


No Uraian Data - Data
1. Merk ASEA
2. No Seri MR 142006-A6
3. Power 5,5 KW ; 7,5 HP
4. Frekuensi 50 Hz
5. Voltage 380 / 660
6. Rpm 1430

12
4. Cane Carrier

Krepyak tebu tersusun dari plat-plat yang dirangkai pada rantai yang
berfungsi untuk mengangkut tebu dari meja tebu ke alat kerja pendahuluan
dan selanjutnya ke alat pemerahan/gilingan.

Tabel 4.5. Data Krepyak Tebu


Uraian Cane Carrier I Cane Carrier II
Buatan PT ENCOXIM PT ENCOXIM
Tahun 1987 1987
Panjang 29,48 m 10,6 m
Lebar 1,83 m 1,83 m
Tinggi 1,5 m 1,5 m
Sudut Kemiringan I 160 18” 200
Sudut Kemiringan II 70 70
Kecepatan 25,9 m / min 25,9 m / min
Jumlah Steel Slate 401 buah 156 buah
Ukuran slate Ø 1820 x 185 x 6 mm Ø 1820 x 185 x 6 mm

5. Cane Cutter

Alat ini berfungsi untuk memotong tebu menjadi bagian-bagian yang


lebih pendek dan dipasang searah dengan gerakan batang tebu.
Table 4.6. Data Cane Cutter
Uraian Data-data
Dipasang 1994
Ukuran Ø 850 x 1981
Panjang poros rotor 3940 mm
Ø poros Ø 229 Ø 170
Speed 600 rpm
RPM 1.490
Bearing SKF 23144 CCK
Knife Holder 9 buah

13
Jumlah pisau 36 buah

6. Unigrator

Alat ini berfungsi sebagai perusak struktur tebu, membuka sel-sel


batang tebu sehingga nira yang terdapat dalam batang tebu dapat diambil
dengan sempurna. Bekerja dengan cara memotong, memukul dan
menghaluskan batang tebu.

Tabel 4.7. Data Unigrator


Uraian Data-data
Jumlah hammer 40 buah
Bearing dua set SKF SD 3144 – 23144 CK FAG
Ukuran Ø 66” x 72”
Buatan PT Boma Stork tahun 1987
Dipasang PT ENCOXIM

B. Pemerahan Nira
Pemerahan terjadi karena adanya bukaan kerja muka (antara rol atas dan
rol depan) dan bukaan kerja belakang (antara rol atas dengan rol belakang). Sabut
tebu masuk melalui cane feeding, maka tebu dipaksa melalui bukaan kerja muka
terjadi pemerahan awal lalu karena adanya trash plate tebu akan meleewati bukaan
kerja belakang. Dengan demikian nira dalam tebu dapat -terperah sebanyak-
banyaknya nira yang tertingggal di ampas kecil (pol ampas < 2%). Agar tidak
terjadi slip pada gilingan, maka gilingan dilengkapi dengan scrapper.

Untuk mendapatkan hasil pemerahan yang sempurna, digunakan tekanan


hidrolik (antara 150-200 kg/ cm2) yang dipasang pada rol atas. penyetelan rol
berfungsi untuk menghindari patahnya rol-rol gilingan yang diebabkan oleh tebal
tipisnya ampas serta untuk menunjang proses pengumpanan pada gilingan agar
berjalan dengan baik.

14
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses pemerahan nira :

1. Kualitas tebu
2. Jumlah tebu digiling / kapasitas giling
3. PI (Preparation Index)
4. Setelan gilingan
5. Tekanan Hidrolik (PGKrebet Baru I >150 kg/cm2)
6. Pemberian imbibisi (jumlah,suhu, cara memberikan)
7. Umpan tebu/keajegan
8. Sanitasi
9. Tenaga penggerak (uap,motor listrik)
10. Putaran rol gilingan

1. Intermediet Carrier

Alat ini berfungsi untuk mengantarkan ampas dari gilingan no.1


sampai ke gilingan no.5, selanjutnya ampas dari gilingan no.5 dibawah
oleh bagasse carrier untuk dikirim ke stasiun ketel. Data untuk masing –
masing intermediet carrier yang dipakai di PG Krebet Baru 1 adlah sebagai
berikut :

Tabel 4.8. Data Intermediet Carrier Gilingan I


No Uraian Data – data
1. Jumlah 1 unit
2. Tipe RAKE
3. Panjang 1,9 m
4. Lebar 1,9 m
5. Kecepatan 21 m / min

Tabel 4.8. Data Intermediet Carrier Gilingan II, III, IV


No Uraian Data – data
1. Jumlah 1 unit
2. Tipe RAKE

15
3. Panjang 7m
4. Lebar 1,98 m
5. Kecepatan 21 m / min

Tabel 4.8. Data Intermediet Carrier Gilingan V


No Uraian Data - data
1. Jumlah 1 unit
2. Tipe RAKE
3. Panjang 7,5 m
4. Lebar 1,98 m
5. Kecepatan 21 m / min

2. Gilingan

Di PG Krebet Baru 1 menggunakan lima unit gilingan yang tiap


unit terdiri dari rol atas, rol depan, rol belakang dan rol
pengumpan/feeding rol.

Tabel 4.9. Data Roll Gilingan


Data Spesifikasi I II III IV V
Diameter atas 1070 1070 1058 1070 1070
luar (mm) depan 1070 1044 1050 1062 1058
belakang 1070 1052 1070 1070 1070
Diameter atas 970 970 958 970 1015
dalam (mm) depan 970 944 950 960 1020
belakang 970 950 970 970 1015
Diameter atas 1020 1020 1008 1020 1043
koreksi depan 1020 1994 1000 1012 1031
(mm) belakang 1020 1002 1020 1020 143

16
2.1.Perhitungan Mill Setting

Gilingan I

Kapasitas Giling = 6800 TCD

Sabut % tebu = 12,5%

Diameter Roll Atas = 1070 mm

Panjang Roll = 2134 mm

Diameter koreksi = 1020 mm

Lr (standard) = 101 gr/dm2


1020
Lr = 𝑥 101
762

= 135,197 gr/dm2

6800 12,5
Berat Sabut (v) = 𝑥
24 100

= 35,4167 ton/jam

= 35.416.700 gr/jam

Luas permukaan roll = π D L

= 3,14 . 10,2 . 21,34

= 683,478 dm2

35.416.700
Lr’= 135,197 gr/dm2 =
683,487 𝑥 𝑛

35.416.700
n =
683,487 𝑥 135,197

35.416.700
n =
92404

n = 383,280 rph

383,280
n =
60

17
n = 6,388 rpm

Bukaan kerja belakang

C untuk gilingan 1 = 0,37 kg /dm3

𝑘𝑔
0,37 𝑘𝑔 35.416𝑗𝑎𝑚
C= =
𝑑𝑚3 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑃𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 𝑟𝑜𝑙𝑙 𝑥 𝑛 𝑥 𝑎

35.416 𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚
a =
683,478 𝑥 383,220 𝑥0,37

35.416
a = 96926,48

a = 0,3654 dm

a = 36,54 mm

BKB : BKM = 2,5

BKM = 36,54 x 2,5 = 91,35 mm

Gilingan II

Kapasitas Giling = 6800 TCD

Sabut % tebu = 12,5%

Diameter Roll Atas = 1070 mm

Panjang Roll = 2134 mm

Diameter koreksi = 1020 mm

Lr (standard) = 143 gr/dm2


1020
Lr = 𝑥 143
762

= 191,42 gr/dm2

6800 12,5
Berat Sabut (v) = 𝑥
24 100

= 35,4167 ton/jam

= 35.416.700 gr/jam

18
Luas permukaan roll = π D L

= 3,14 . 10,2 . 21,34

= 683,478 dm2

35.416.700
Lr’= 191,42 gr/dm2 =
683,487 𝑥 𝑛

35.416.700
n =
683,487 𝑥 191,42

35.416.700
n =
130.831,359

n = 270,705 rph

270,705
n =
60

n = 3,462 rpm

Bukaan kerja belakang

C untuk gilingan II = 0,64 kg /dm3

𝑘𝑔
0,64 𝑘𝑔 35.416𝑗𝑎𝑚
C= =
𝑑𝑚3 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑃𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 𝑟𝑜𝑙𝑙 𝑥 𝑛 𝑥 𝑎
35.416 𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚
a = 683,478 𝑥 0,64𝑥0270,705

35.416
a = 118.413,384

a = 0,3 dm

a = 30 mm

BKB : BKM = 2,5

BKM = 30 x 2,5 = 75 mm

Gilingan III

Kapasitas Giling = 6800 TCD

Sabut % tebu = 12,5%

19
Diameter Roll Atas = 1058 mm

Panjang Roll = 2134 mm

Diameter koreksi = 1008 mm

Lr (standard) = 157 gr/dm2


1088
Lr = 𝑥 157
762

= 207,68 gr/dm2

6800 12,5
Berat Sabut (v) = 𝑥
24 100

= 354.167 ton/jam

= 35.416.700 gr/jam

Luas permukaan roll = π D L

= 3,14 . 10,08 . 21,34

= 675,437 dm2

35.416.700
Lr’= 236 gr/dm2 =
675,437 𝑥 𝑛

35.416.700
n =
675,437 𝑥 207,68

35.416.700
n =
140.274,76

n = 252,481 rph

252,481
n =
60

n = 4,208 rpm

Bukaan kerja belakang

C untuk gilingan III = 0,8 kg /dm3

𝑘𝑔
0,8 𝑘𝑔 35.416𝑗𝑎𝑚
C= =
𝑑𝑚3 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑃𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 𝑟𝑜𝑙𝑙 𝑥 𝑛 𝑥 𝑎

20
35.416 𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚
a = 675,437 𝑥 252,481 𝑥0,8

35.416
a = 136.428,08

a = 0,2596 dm

a = 25,96 mm

BKB : BKM = 2,5

BKM = 25,96 x 2,5 = 64,9 mm

Gilingan IV

Kapasitas Giling = 6800 TCD

Sabut % tebu = 12,5%

Diameter Roll Atas = 1070 mm

Panjang Roll = 2134 mm

Diameter koreksi = 1020 mm

Lr (standard) = 168 gr/dm2


1020
Lr = 𝑥 168
762

= 236 gr/dm2

6800 12,5
Berat Sabut (v) = 𝑥
24 100

= 35,4167 ton/jam

= 35.416.700 gr/jam

Luas permukaan roll = π D L

= 3,14 . 10,2 . 21,34

= 683,478 dm2

35.416.700
Lr’= 236 gr/dm2 =
683,487 𝑥 𝑛

21
35.416.700
n =
683,487 𝑥 236

35.416.700
n =
150.680,808

n = 235,045 rph

235,045
n =
60

n = 3,92 rpm

Bukaan kerja belakang

C untuk gilingan IV = 0,91 kg /dm3

𝑘𝑔
0,91 𝑘𝑔 35.416𝑗𝑎𝑚
C= =
𝑑𝑚3 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑃𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 𝑟𝑜𝑙𝑙 𝑥 𝑛 𝑥 𝑎
35.416 𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚
a = 683,478 𝑥 235,045 𝑥0,91

35.416
a = 136564,66

a = 0,25 dm

a = 25 mm

BKB : BKM = 2,5

BKM = 25 x 2,5 = 62,5 mm

Gilingan V

Kapasitas Giling = 6800 TCD

Sabut % tebu = 12,5%

Diameter Roll Atas = 1070 mm

Panjang Roll = 2134 mm

Diameter koreksi = 1043 mm

Lr (standard) = 183 gr/dm2

22
1020
Lr = 𝑥 183
762

= 256,969 gr/dm2

6800 12,5
Berat Sabut (v) = 𝑥
24 100

= 35,4167 ton/jam

= 35.416.700 gr/jam

Luas permukaan roll = π D L

= 3,14 . 10,43 . 21,34

= 698,889 dm2

35.416.700
Lr’= 257 gr/dm2 =
698,889 𝑥 𝑛

35.416.700
n =
698,889 𝑥 257

35.416.700
n =
177301,473

n = 199,754 rph

199,754
n =
60

n = 3,329 rpm

Bukaan kerja belakang

C untuk gilingan V = 0,96 kg /dm3

𝑘𝑔
0,96 𝑘𝑔 35.416𝑗𝑎𝑚
C= =
𝑑𝑚3 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑃𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 𝑟𝑜𝑙𝑙 𝑥 𝑛 𝑥 𝑎
35.416 𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚
a = 698,889 𝑥 199,754 𝑥0,96

35.416
a=
134021,64

a = 0,2643 dm

23
a = 26,43 mm

BKB : BKM = 2,5

BKM = 26,43 x 2,5 = 66,075 mm

C. Imbibisi
Pemberian air imbibisi dan juga nira imbibisi pada proses pemerahan
bertujuan untuk mengambil nira semaksimal mungkin dengan cara
pengenceran, sehingga nira yang tertinggal pada ampas dapat ditekan sedikit
mungkin dan kehilangan gula pada stasiun gilingan dapat ditekan sekecil-
kecilnya.
Air imbibisi yang ditambahkan sebanyak 25-30% dari berat tebu yang
digiling. Air imbibisi yang digunakan adalah air kondensat dengan suhu antara
70oC-80oC pada gilingan IV sebanyak 30% dan pada gilingan V sebanyak
70%. PG Krebet Baru dalam pemberian air imbibisi memakai sistem imbibisi
tunggal dan majemuk.
Volume air imbibisi per jam dapat dilihat dan dipantau melalui flowmeter
yang terpasang di pipa air imbibisi dekat gilingan IV.

1. Skema Proses Imbibisi

24
Gambar 4.1. Skema Proses Gilingan

Tabel 4.10. Data Spesifikasi Flowmeter


Merk Flow-Con (Intelligent Electromagnetic
Flowmeter)
Model ATLDE-80-105
Operasional Pressure 4,0 Mpa
Flow range 130 m3/h
Accuracy 0,5
Power consumption < 20 W
Operasional Temperature -25-60oC

Cara pemberian Air Imbibisi :

25
1. Air murni digunakan sebagai imbibisi
2. Nira hasil pemerahan gilingan V dan air digunakan sebagai imbibisi
ampas gilingan IV.
3. Nira hasil pemerahan gilingan IV dan air digunakan sebagai imbibisi
ampas gilingan III
4. Nira hasil pemerahan gilingan III digunakan sebagai imbibisi ampas
gilingan II
5. Sedangkan campuran nira hasil pemerahan gilingan II dan nira hasil
pemerahan gilingan I disebut NPP ( Nira Perahan Pertama)
2. Jumlah Air Imbibisi

Perhitungan air imbibisi menggunakan flowmeter

Kapasitas giling rata – rata /jam = 2300 ku/jam

Flowmeter air imbibisi = 69 m3/jam

69
Jumlah air imbibisi yang diperlukan = x 1000
2300

= 30 %

Kelebihan imbibisi dengan air yang bersuhu ± 70oC:


1. Sukrosa tertinggal mudah diambil
2. Membunuh mikroba
Kerugian imbibisi dengan air yang bersuhu ± 70oC :
1. Apabila suhu terlalu tinggi zat lilin pada batang tebu meleleh sehingga
mengganggu
pemurnian.
2. Menyebabkan data gilingan kurang akurat karena adanya penguapan.
D. Aliran Nira dan Penyaringan Nira
Aliran nira dialirkan melalui talang-talang nira yang terbuat dari stainlees steel
dengan alur :

26
a. Nira gilingan I dialirkan melalui talang nira ke dalam tangki nira perahan
pertama.
b. Nira gilingan II juga dialirkan melalui talang nira ke dalam tangki nira
perahan pertama.
c. Nira gilingan III juga dialirkan melalui tlang nira menuju intermediate
carrier I sebagai air imbibisi di gilingan II
d. Nira gilingan IV dialirkan melalui talang nira menuju intermediate carrier
II sebagai air imbibisi di gilingan IV.
e. Nira gilingan V dialirkan melalui talang nira menuju intermediate carrier
IV sebagai air imbibisi di gilingan IV. Selanjutnya nira dari tangki nira
perahan pertama akan dipompa masuk untuk disaring dengan DSM Screen
dan nira hasil saringan akan dialirkan melewati flowmeter untuk dilihat
volume nira yang masuk. Sedangkan ampas yang tertinggal di atas
saringan DSM akan dialihkan ke intermediate carrier II untuk digiling lagi
di gilingan III.
Nira yang dihasilkan di dalam tangki nira perahan pertama masih
tercampur dengan kotoran seperti ampas, pasir dan kotoran lain. Maka dari
itu, perlu dilakukan penyaringan. Penyaringan di PG Krebet Baru 1
menggunakan saringan DSM.
Table 4.11. Data Spesifikasi Saringan DSM Scren
Model DSM Screen
Ukuran (L x P) 1600 mm x 1830 mm
Ø lubang ferforasi (mm) 0,7 mm
Nira mentah % tebu 95
Kapasitas dasar DSM 100 ton nira/jam/m lebar
saringan (Hugot’86,p.356)
DSM sesuai kapasitas 1,6 x 100 =160 ton nira /jam,
ekivalent dengan tebu = 160 x
100/95 x 22 = 3705TCD

27
Penyaringan harus dilakukan secepat mungkin. Penyaringan diusahakan
secepat dan sesingkat mungkin karena untuk menghindari berkembangnya
mikroba dan keasaman nira yang semakin bertambah. Ampas yang
tertahan oleh permukaan saringan yang bergeser menuju jalan pengeluaran
ampas dan jatuh pada gilingan III untuk diperah kembali, sedangkan nira
mentah tersaring masuk ke dalam pipa berflowmeter untuk selanjutnya
menuju pemanas pendahuluan I.
E. Sanitasi Gilingan
Sanitasi dilakukan untuk menghambat sekaligus membunuh
perkembangbiakan mikroorganisme yang terdapat dalam nira. Selama
pemerahan nira pada stasiun gilingan kemungkinan terjadi kehilangan gula
yang disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari tanaman tebu itu
sendiri, terutama jenis Leuconostoc mesenteroides. Pada umumnya
mikroorganisme tersebut menyebabkan timbulnya dextran yang dapat merusak
sukrosa dan mengkibatkan kenaikan viskositas. Perkembangan
mikroorganisme ini dipengaruhi oleh kebersihan gilingan dan saluran talang
nira, penggunaan desinfektan, serta bahan talang yang akan dilalui nira. Di PG
Krebet Baru 1, sanitasi dilakukan pada 3 tempat.
Sanitasi di stasiun gilingan terdiri dari 2 macam pemberian desinfektan
cair yaitu berupa biocide dan enzim.
Tabel 4.12. Data Penambahan Bahan Proses Sanitasi Gilingan
Jenis Merk Fungsi Tempat Dosis
desinfektan pemberian
Biocide CE-CIDE Membunuh Cane Carrier I 5 ppm ≈
B40 bakteri 30 kg per
Leuconostoc hari
mesenteroides
Nira Gilingan 10 ppm ≈
yang sering
III 60 kg per
memakan
hari
kandungan
sukrosa dalam
nira

28
Enzim ENBIO SR- Mendegradasi Tangki nira 20 ppm ≈
605 dextran belum 130 kg
(kotoran dari tertimbang per hari
bakteri
(Leuconostoc
mesenteroides)
yang dapat
memecah
sukrosa menjadi
monosakarida
dan amilum
yang dapat
menaikkan
viskositas
masakan.

Hal-hal khusus dan cara mengatasi :


1. Pada musim hujan, perkembangan bakteri di dalam batang tebu yang
banyak terdapat sayatan saat ditebang akan semakin cepat karena batang
tebu bersifat lembab dan sangat memungkinkan untuk perkembangan
bakteri Leuconostoc mesenteroides. Tentu hal ini akan menyebabkan
semakin banyak dosis desinfektan yang perlu diberikan nantinya. Misalnya
standar keberadaan dextran adalah 2000 ppm on brix tetapi pada musim
hujan keberadaan dextran dapat mencapai > 5000 ppm on brix
2. Pada talang-talang nira seringkali tampak sudut mati yang dapat menjadi
tempat yang nyaman untuk perkembangan mikroba. Oleh karena itu, perlu
penanganan untuk kasus seperti ini, misalnya glontor dan pemberian
kaporit pada titik mati (6 kg/shift),steaming sehari minimal 2x,dan lain
sebagainya.

29
3. Beberapa talang nira juga sering tidak digunakan untuk saluran nira, lebih
baik talang tersebut ditutup agar nira tidak menggenang tanpa aliran yang
nantinya akan mendukung perkembangan mikroba.
F. Analisis
a. Analisis Brix dan Pol (untuk membagi hasil dengan petani)
Analisis brix dan pol untuk membagi hasil dengan petani dilakukan pada
nira perahan I. Analisis dilakukan berdasarkan meja tebu.

Tabel 4.13. Data Pengamatan Brix dan Pol


D E F
CC CC No CC I CC No CC I CC No
1 II Sampel II Sampel II Sampel
180 70 3415 127 70 3501 87 70 3967
180 70 3416 127 70 3502 87 70 3968
180 70 3417 127 70 3503 87 70 3969
180 70 3418 127 70 3504 87 70 3970
180 70 3419 127 70 3505 87 70 3971
180 70 3420 127 70 3506 87 70 3972
180 70 3421 127 70 3507 87 70 3973
180 70 3422 127 70 3508 87 70 3974

Keterangan :
D : meja tebu selatan
E : meja tebu tengah
F : meja tebu utara
CC I : cane carrier I (dari meja tebu sampai cane cutter)
CC II : cane carrier II (cane cutter sampai gilingan)
No. Sampel : no. urut pengambilan nira berdasarkan SPTA
Cara Analisis :
1. Pengambilan sampel nira (sampling) dilakukan pada saat CC II
menunjukkan angka 75 dan muncul perintah “sampling nira”.

30
2. Nira hasil perahan yang keluar dari pipa diambil sampel sebanyak 200
ml. Sampel 100 ml diamati brix dengan menggunakan refraktometer
dan sampel yang 100 ml ditambahkan form A sebagai pemutih dan
Form B sebagai penjernih, pol menggunakan Sucromat.
Table 4.14. Contoh Data Hasi Pengamatan Pol dan Brix
No Sampel Pol Brix Suhu
3415 40,63 14,11 28
3416 40,26 13,98 28
3417 38,59 13,40 28
3418 40,65 14,11 28
3419 40,03 13,90 28
3420 40,32 14,00 28
3421 40,43 14,04 28
3422 40,29 13,99 28
3423 39,30 13,64 28
3424 40,37 14,01 28
G. Hal – Hal Problematik dan Cara Mengatasi pada Stasiun Pemerahan
1. Kurangnya bahan baku sehingga menambah jam berhenti giling, hal
ini hanya dapat diatasi dengan menunggu tersedianya bahan baku
sehingga dapat memenuhi kapasitas giling.
2. Tersumbatnya gilingan karena ampas, hal ini apat diatasi dengan
melakukan pembongkaran pada peralatan giingan.
3. Keefektifan jumlah air imbibisi, hal ini diatasi dengan memberikan air
imbibisi sesuai dengan kapasitas giling.

31