You are on page 1of 18

HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

OBSERVASI KELURAHAN SONDAKAN

Disusun Oleh :

1. Hafidh Herwinadi Putra (C100160236)


2. Muhammad Yusuf Agung Permana (C100160250)
3. Pratama Fajar Subechi (C100160267)
4. Satria Trilaksana Akbar (C100160277)

Kelas :E

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2017

i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI................................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah .............................................................................................. 1
1.2 Tujuan Penulisan............................................................................................................. 3
1.3 Rumusan Masalah ........................................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................... 4
1. Pandangan tentang pelayanan publik berdasarkan UU No. 25 tahun 2009 .................. 4
2. Objek dan jenis pelayanan di kantor Kelurahan Sondakan .......................................... 5
3. Standarisasi pelayanan di Kelurahan Sondakan ............................................................ 5
4. Struktur Organisasi ....................................................................................................... 6
5. Frekuensi palayanan per bulan...................................................................................... 6
6. Kendala dalam melayani masyarakat ............................................................................ 6
7. Pengetahuan tentang UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa ........................................... 7
8. Data Demografi ............................................................................................................. 9
9. Pengertian Sekitar UU No.30 tahun 2015 tentang Administrasi Negara .................... 10
10. Tanggapan Dengan diUndangkannya UU No.30 tahun 2014 ................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 12
LAMPIRAN............................................................................................................................ 13

ii
iii
................................................................................................................................................ 14

iv
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Pelayanan merupakan tugas utama yang hakiki dari sosok aparatur,
sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Tugas ini telah jelas digariskan dalam
pembukaan UUD 1945 alinea keempat, yang meliputi 4 (empat) aspek pelayanan
pokok aparatur terhadap masyarakat, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dan diperjelas
lagi dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 63 tahun
2003 yang menguraikan pedoman umum penyelenggaraan pelayanan public.

Pelayanan sebagai proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang


lain secara lansung, merupakan konsep yang senantiasa aktual dalam berbagai
aspek kelembagaan. Bukan hanya pada organisasi bisnis, tetapi telah berkembang
lebih luas pada tatanan organisasi pemerintah (Sinambela, 2006:42-43)

Dewasa ini kehidupan masyarakat mengalami banyak perubahan sebagai


akibat dari kemajuan yang telah dicapai dalam proses pembangunan sebelumnya
dan kemajuan yang pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan
yang dapat dirasakan sekarang ini adalah terjadinya perubahan pola pikir
masyarakat ke arah yang semakin kritis. Hal itu dimungkinkan, karena semakin
hari warga masyarakat semakin cerdas dan semakin memahami hak dan
kewajibannya sebagai warga. Kondisi masyarakat yang demikian menuntut
hadirnya pemerintah yang mampu memenuhi berbagai tuntutan kebutuhan dalam
segala aspek kehidupan mereka, terutama dalam mendapatkan pelayanan yang
sebaik-baiknya dari pemerintah. Dalam kaitannya itu (Rasyid 1997:11)
mengemukakan bahwa : Pemerintah modern, dengan kata lain, pada hakekatnya
adalah pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah tidaklah diadakan untuk
melayani dirinya sendiri, tetapi untuk melayani masyarakat. Memungkinkan

1
setiap anggota masyarakat mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya demi
mencapai kemajuan bersama.

Pemberian palayanan yang memenuhi standar yang telah ditetapkan


memang menjadi bagian yang perlu dicermati. Saat ini masih sering dirasakan
bahwa kualitas pelayanan minimum sekalipun masih jauh dari harapan
masyarakat. Yang lebih memprihatinkan lagi, masyarakat hampir sama sekali
tidak memahami secara pasti tentang pelayanan yang seharusnya diterima dan
sesuai dengan prosedur pelayanan yang baku oleh pemerintah. Masyarakatpun
enggan mengadukan apabila menerima pelayanan yang buruk, bahkan hampir
pasti mereka pasrah menerima layanan seadanya. Kenyataan semacam ini
terdorong oleh sifatpublic goods menjadi monopoli pemerintah khususnya
dinas/instansi pemerintah daerah dan hampir tidak ada pembanding dari pihak
lain. Praktek semacam ini menciptakan kondisi yang merendahkan posisi tawar
dari masyarakat sebagai penggunan jasa pelayanan dari pemerintah, sehingga
memaksa masyarakat mau tidak mau menerima dan menikmati pelayanan yang
kurang memadai tanpa protes.

Satu hal yang belakangan ini sering dipermasalahkan adalah dalam


bidang publik service (Pelayanan Umum), terutama dalam hal kualitas atau mutu
pelayanan aparatur pemerintah kepada masyarakat. Pemerintah sebagai service
provider (Penyedia Jasa) bagi masyarakat dituntut untuk memberikan pelayanan
yang berkualitas. Apalagi pada era otonomi daerah, kulitas dari pelayanan
aparatur pemerintah akan semakin ditantang untuk optimal dan mampu
menjawab tuntutan yang semakin tinggi dari masyarakat, baik dari segi kulitas
maupun dari segi kuantitas pelayanan. Di negara-negara berkembang dapat kita
lihat mutu pelayanan publik merupakan masalah yang sering muncul, karena
pada negara berkembang umumnya permintaan akan pelayanan jauh melebihi
kemampuan pemerintah untuk memenuhinya sehingga pelayanan yang diberikan
pemerintah kepada masyarakat kurang terpenuhi baik dilihat dari segi kulitas
maupun kuantitas.

2
1.2 Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Mengetahui tentang peranan dan kebijakan pelayanan publik di Kelurahan
Sondakan kepada masyarakat.
2. Mengaetahui tentang Administrasi Pemerintahan di Kelurahan Sondakan.

1.3 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pandangan Perangkat Desa Kelurahan Sondakan tentang pelayanan
publik berdasarkan UU No. 25 tahun 2009 ?
2. Bagaimana objek dan jenis pelayanan di kantor Kelurahan Sondakan ?
3. Bagaimana standarisasi pelayanan di Kelurahan Sondakan ?
4. Bagaimana Struktur organisasinya ?
5. Bagaimana frekuensi palayanan per bulan di Kelurahan Sondakan ?
6. Bagaimana kendala yang dihadapi saat melakukan pelayanan publik ?
7. Bagaimana pandangan Perangkat Desa Kelurahan Sondakan tentang UU Desa
No. 6 2014 ?
8. Bagaimana data demografi kelurahan Sondakan ?
9. Bagaiman pandangan perangkat desa Kelurahan Sondakan tenteng UU No. 30
tahun 2014 ?
10. Bagaimana tanggapan tentang diundangkannya UU No. 30 2014 ?

3
BAB II PEMBAHASAN

1. Pandangan tentang pelayanan publik berdasarkan UU No. 25 tahun 2009


Dari hasil wawancara kami kepada Lurah Sondakan bapak Marsono, SH.
Menurut beliau kebijakan dalam bentuk UU Nomor 25 tahun 2009 Tentang
Pelayanan Publik, kebijakan ini bertujuan memaksimalkan pelayanan pemerintah
sehingga menciptakan iklim pelayanan prima pada setiap instansi pemerintah.
Negara berkewajiban melayani setiap warga negara dan penduduk untuk
memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan publik yang
merupakan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, membangun kepercayaan masyarakat atas pelayanan publik yang dilakukan
penyelenggara pelayanan publik merupakan kegiatan yang harus dilakukan seiring
dengan harapan dan tuntutan seluruh warga negara dan penduduk tentang
peningkatan pelayanan publik, sebagai upaya untuk mempertegas hak dan
kewajiban setiap warga negara dan penduduk serta terwujudnya tanggung jawab
negara dan korporasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik, diperlukan norma
hukum yang memberi pengaturan secara jelas, sebagai upaya untuk meningkatkan
kualitas dan menjamin penyediaan pelayanan publik sesuai dengan asas-asas
umum pemerintahan dan korporasi yang baik serta untuk memberi perlindungan
bagi setiap warga negara dan penduduk dari penyalahgunaan wewenang di dalam
penyelenggaraan pelayanan publik.
Kami memahami bahwa pentingnya UU ini untuk meningkatkan
kemampuan setiap pelayanan publik di seluruh Indonesia khususnya dalam hal ini
di Kelurahan Sondakan Surakarta. Ditambah juga untuk meningkatkan
kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan publik dimanapun berada.

4
2. Objek dan jenis pelayanan di kantor Kelurahan Sondakan
Objek dan jenis pelayananan yang terdapat di Kantor Kelurahan Sondakan
yang dapat di manfaatkan oleh masyarakat Kelurahan Sondakan ada berupa :
a. Pembuatan Surat Keterangan / Pengantar
b. Permohonan KTP, baru/perpanjangan/penggantian
c. Permohonan KK, baru/perubahan
d. NTCR Nikah, KUA/non KUA

3. Standarisasi pelayanan di Kelurahan Sondakan


Terdapat 21 standarisasi yang di sediakan oleh Kelurahan Sondakan,
standarisasi tersebut adalah :
 Pengantar pembuatan KK baru
 Pengantar pembuatan KK perubahan/pemisahan KK
 Pengantar cetak KK karena hilang/rusak
 Pengantar pembuatan KTP baru
 Pengantar pembuatan KTP perpanjangan/hilang/rusak
 Pengantar pembuatan keterangan kelahiran
 Legalisasi pengantar pembuatan akta kelahiran baru
 Pengantar surat keterangan kematian
 Pengantar surat keterangan pindah
 Persayaratan pendaftaran pencatatan perkawinan
 Pengantar pembuatan SIM,SKCK, dan Surat Keterangan Bepergian
 Surat Keterangan Waris
 Surat Keterangan Tidak Mampu
 Legalisasi permohonan wajib pajak PBB
 Legalisasi pengantar pengajuan kredit
 Legalisasi keterangan pengajuan tunjangan keluarga
 Legalisasi pengantar pengajuan perceraian
 Legalisasi kartu kuning

5
 Pengantar permohonan ijin gangguan
 Pengantar permohonon ijin mendirikan bangunan
 Pengantar permohonan ijin usaha perdagangan
Untuk lebih detail bagaimana standarisasi tersebut bias melihat gambar
yang kami lampirkan.

4. Struktur Organisasi
Kelurahan Sondakan, Kota Surakarta dipimpin oleh seorang Lurah atas nama
bapak Marsono, SH. Lurah membawahi seorang Sekretaris Kelurahan, Dibawah
komando Lurah dan Sekretaris Kelurahan terdapat 3 Seksi yaitu, Seksi Pemerintah
dan Ketentraman Ketertiban, Seksi Pembangunan dan Lingkungan Hidup, Seksi
Pemberdayaan Masyrakat. Menurut kedudukannya semua yang terdapat di struktur
organisasi Kelurahan Sondakan berada di Eselon IV.

5. Frekuensi palayanan per bulan


Menurut data yang kami peroleh dari Bank Pelayanan Masyarakat Kelurahan
Sondakan, Frekuensi pelayanan yang paling tinggi tiap bulannya adalah bagian
Pembuatan surat keterangan/pengantar. Dimana setiap bulannya sekitar 14 surat
keterangan/pengantar yang dibuat. Selanjutnya terdapat sekitar 2 surat permohona
KTP di setiap bulannya. 3 surat permohonan KK.

6. Kendala dalam melayani masyarakat


Kendala yang sering dihadapi oleh para pelayan masyarakat di Kantor
Kelurahan Sondakana adalah dari masyarakatnya sendiri, menurut mereka, tak
jarang ada masyarakat yang memiliki sifat tidak sabar, missal dalam pengurusan
KK, mereka menginginkan segera KK tersebut jadi, padahal banyak sekali surat-
surat pengantar yang harus diurus terlebih dahulu.
Diakui oleh banyak pihak memang saat ini pejabat birokrasi kecamatan belum
sepenuhnya dapat bersikap profesional dalam menjalankan tugasnya, utamanya

6
dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Kemampuan dan kerampilan
aparat dalam menjalankan pekerjaan menurut bidang dan tingkatan masing-masing
belum dapat dijalankan secara maksimal. Hal tersebut disebabkan oleh tidak
adanya kesesuaian antara tingkat pengetahuan dan dasar latar belakang pendidikan
dengan beban kerja yang menjadi tanggung jawabnya.
Sementara itu, faktor penghambat dari lingkungan ekternal berupa situasi dan
kondisi disekeliling organisasi yang berpengaruh terhadap kelancaran pelaksanaan
kinerja aparat di Kecamatan Kalitengah. Faktor-faktor tersebut adalah :
1. Masalah data, seringnya masyarakat dalam mengajukan permohonan
kurang melengkapi data dan berkas-berkas sebagai persyaratan proses
layanan yang diinginkan. Dalam hal ini masyarakat masih kurang sadar arti
pentingnya kelengkapan berkas untuk sebuah kelancaran pengurusan.
2. Kurangnya partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik
yang diberikan oleh kantor kecamatan.
3. Sosial budaya masyarakat, selama ini masyarakat yang tempat tinggalnya
jauh dari kantor kecamatan lebih banyak yang membuat KTP secara
kolektif, sehingga hal tersebut memacu keinginan dari aparat khususnya
aparat desa untuk membebani pemohon dengan biaya yang lebih tinggi.

7. Pengetahuan tentang UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa


Tujuan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang
Desa adalah dengan harapan menggabungkan konstruksi yaitu fungsi self
goverment community dengan local self goverment, diharapkan kesatuan
masyarakat hukum adat yang selama ini merupakan bagian dari wilayah Desa,
ditata sedemikian rupa menjadi Desa dan Desa Adat. Desa dan Desa Adat pada
dasarnya melakukan tugas yang hampir sama. Sedangkan perbedaannya hanyalah
dalam pelaksanaan hak asal-usul, terutama menyangkut pelestarian sosial Desa
Adat, pengaturan dan pengurusan wilayah adat, sidang perdamaian adat,
pemeliharaan ketenteraman dan ketertiban bagi masyarakat hukum adat, serta
pengaturan pelaksanaan pemerintahan berdasarkan susunan asli.

7
Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa,
memberikan sinyal yang positif dalam pemerataan pembangunan. Di dalam Pasal
71 sampai dengan 75 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
mengatur sumber-sumber pembiayaan di Desa, sumber-sumber pendapatatan di
Desa seperti Pendapatan Asli Desa, Alokasi dari APBN, Bagi Hasil dari Pajak dan
Retribusi Kabupaten/Kota, Bantuan Keuangan dari Provinsi dan Kabupaten/Kota,
Hibah atau sumbangan Pihak Ketiga yang tidak mengikat serta Lain-lain
Pendapatan Desa yang sah. Pendapatan Desa yang tersebut diatas ada beberapa
rincian yang menjadi kewajiban dari Pemerintah di transfer dari Rekening Kas
Umum Daerah (RKUD) ke Rekening Kas Desa.
Dengan kepastian pembiayaan tentu ini menjadikan rangsangan bagi Desa
untuk membangun dan menjadikan Desa lebih mandiri. Tentu semuanya
tergantung dari sumber daya manusia di Desa apakah sanggup melaksanakannya
ataupun tidak. Diperlukan kerjasama yang harus bersinergi dari seluruh komponen
baik itu Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten,
Pemerintah Desa dan seluruh masyarakat agar dana ke Desa yang besar tidak
diselewengkan sehingga dapat digunakan sepenuhnya untuk pembangunan di
Desa. Hal penting yang harus diperhatikan adalah kemampuan para aparatur di
Desa dan seluruh stekholder menginterpretasikan regulasi dan
mengimplementasikan maksud dari regulasi yang dibentuk. Kekhawatiran terjadi
penyelewengan Dana Desa juga disoroti oleh Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) dalam beberapa kesempatan dan juga hal ini menjadi konsentrasi bagi
aparat hukum seperti Kejaksaan dan Kepolisian. Sebenarnya kita harus berbangga
dengan perhatian yang begitu besar terhadap berlakunya Undang-Undang Desa,
seharusnya ini menjadi motivasi bagi Pemerintah Desa, masyarakat dan
Pemerintah Daerah itu sendiri lebih intensif dalam mengawal penggunaan dana
tersebut sesuai dengan peruntukkannya. Pemerintah Daerah sendiri harus
memberikan pembinaan yang kontinue sehingga Aparatur di Desa benar-benar
dapat menggunakan dana tersebut secara akuntabel. Pemerintah Daerah harus
berani memberikan terobosan diantaranya pelatihan-pelatihan dan membuat suatu

8
sistem secara komputerisasi dan dibuat secara terpusat baik dari proses
perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pertanggungjawaban dan pelaporan
tanpa mengesampingkan fleksibelitas dan kemampuan dari Aparatus Desa itu
sendiri. Jika ini bisa berjalan dengan baik, maka tidak ada suatu hal yang
dikhawatirkan tentang berlakunya Undang-Undang Desa sehingga cita-cita Bangsa
Indonesia yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 yaitu terciptanya
kesejahteraan umum dan berkeadilan sosial.

8. Data Demografi
a. Jumlah Penduduk : 11.906
Laki-laki : 5.829
Perempuan : 6.077
Kepala Keluarga : 3.830
b. Agama
Islam : 10.620
Kristen : 808
Katholik : 32
Budha :11
c. Mata Pencaharian
Belum/Tidak Bekerja : 263
Buruh : 271
Guru/Dosen : 164
Karyawan : 4.077
Mengurus Rmh Tangga : 1.050
Pelajar/Mahasiswa : 1.656
PNS : 167
TNI :9
POLRI :8
Pensiunan/Purnawirawan : 185
Wiraswasta : 885
Lain-lain : 325

9
9. Pengertian Sekitar UU No.30 tahun 2015 tentang Administrasi Negara
Setelah disahkan dan telah diberlakukan Undang-Undang Nomor 30 Tahun
Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan ternyata terrdapat permasalahan
yang urgen yang akan dikritis yaitu mengenai hak diskresi pejabat pemerintahan
dalam mengambil suatu tindakan atau keputusan.
Pengertian diskresi berdasarkan Pasal 1 Angka 9 menyebutkan bahwa
diskresi adalah Keputusan dan/atau Tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan
oleh Pejabat Pemerintahan untuk mengatasi persoalan konkret yang dihadapi
dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam hal peraturan perundangundangan
yang memberikan pilihan, tidak mengatur, tidak lengkap atau tidak jelas, dan/atau
adanya stagnasi pemerintahan. Kemudian alas hak untuk menggunakan diskresi
tertuang jelas dalam Pasal 6 ayat (2) huruf e yang menyebutkan bahwa
menggunakan diskresi sesuai dengan tujuannya. Pada Pasal 7 ayat (2) huruf d
disebutkan pula kewajiban pejabat pemerintahan adalah untuk mematuhi Undang-
Undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan dalam
menggunakan diskresinya.
Diskresi atau yang dapat disebut dengan istilah freis ermessen menurut
Nana Saputra yakni suatu kebebasan yang diberikan kepada alat administrasi,
yaitu suatu kebebasan yang pada asasnya memperkenankan alat administrasi
negara mengutamaan keefektifan tercapainya suatu tujuan daripada berpegang
teguh kepada ketentuan hukum, atau kewenangan yang sah untuk turut campur
dalam kegiatan sosial guna melaksanakan tugas-tugas menyelenggarakan
kepentingan umum.

10. Tanggapan Dengan diUndangkannya UU No.30 tahun 2014


Adanya perluasan terhadap diskresi yang dapat meresahkan masyarakat,
ini berarti tujuan diskresi melampaui batas kepentingan umum yang pada
dasarnya hal tersebut tidak diperbolehkan karena berrtentangan dengan tujuan
diskresi yang termaktub dalam Pasal 22 Ayat (2) tetapi kebali lagi, jika hal

10
tersebut mendapatkan persetujuan dan dilaporkan kepada atasan pejabat makan
diperbolehkan. Ini berarti penggunaan diskresi tanpa adanya batasan.
Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa tanggung jawab pribadi tidak
disebutkan, karena pada dasarnya tanggung jawab yg diberikan adalah tanggung
jawab jabatan. Tanggung jawab jabatan hanya tanggung jawab ketika terjadi
penyalahgunaan wewenang dan fungsi yang melekat pada jabatannya dan
menimbulkan akibat hukum yang hanya menyatakan suatu diskresi tidak sah
sesuai dengan ketentuan Pasal 30, atau dibatalkan menurut Pasal 31.
Setiap tindakan yang melanggar Pasal 25 hanya diberikan sanksi sedang,
sedangkan Pasal 26, Pasal 27 dan Pasal 28 hanya sanksi ringan. ketentuan yang
hanya berupa sanksi administratif bertabrakan dengan ketentuan hukum positif
yang mengatur mengenai kesalahan penggunaan diskresi. Karena sesuai dengan
ketentuan Pasal 7 bahwa untuk semua penyalahgunaan wewenang yang sifatnya
berasal dari diskresi hanya dapat diberikan sanksi administratif dan tunduk pada
undang-undang ini. Ketika diskresi ini berkaitan dengan masalah kerugian negara
tentu saja terdapat dualisme norma hukum karena pengaturan diskresi yang lebih
eksplisit dalam undang-undang ini tidak memberikan keleluasaan kepada
undang-undang positif lainnya untuk menjerat permasalahan diskresi.
Tentu saja hal negatif yang dimunculkan adalah ketentuan diskresi yang
dapat menimbulkan tindak korupsi dan membatasi kewenangan Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) juga Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Tindak Pidana Korupsi untuk
mendeterminasi diskresi tersebut ketika diskresi tersebut melampaui batasannya.
Seharusnya permasalahan mengenai penyalahgunaan diskresi yang
melampaui batasanya harus juga diberikan rumusan mengenai sanksi pidana
sebagai pengikatnya agar tidak terjadi kesewenang-wenangan penggunaan
diskresi oleh pejabat pemerintahan yang berwenang yang telah berkoalisi dengan
atasan pejabatnya untuk melaksanakan atau menggunakan diskresi.

11
DAFTAR PUSTAKA

http://munasyaroh.blogspot.co.id/2011/06/b-hambatan-hambatan-dalam-
melaksanakan.html

https://www.researchgate.net/publication/311614334_Implementasi_Undang-
undang_No_6_Tahun_2014_tentang_Desa

http://yantoabel.com/2015/07/01/desa-dan-implementasi-undang-undang-nomor-6-
tahun-2014/

Dr. Ridwan HR, Op cit, Hlm. 170.

Ibid.

https://soundoflaw.wordpress.com/2015/06/29/catatan-kritis-terhadap-undang-
undang-nomor-30-tahun-2014-tentang-administrasi-pemerintahan/

12
LAMPIRAN

13
14