You are on page 1of 14

TUGAS DINAMIKA ESTUARI

VARIASI DENSITAS ESTUARI ( STUDI KASUS : DISTRIBUSI SUHU,


SALINITAS, DAN DENSITAS SECARA VERTIKAL DAN HORIZONTAL DI
PERAIRAN PESISIR, PROBOLINGGO, JAWA TIMUR)

NAMA KELOMPOK :

TU’TI NI’MAH (150341100051)

LARAS WULAN R. (150341100052)

NURUL SETYOWATI (150341100057)

RETNO KARTIKA N. (150341100059)

OKY NAVIA PUTRI(150341100060)

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

BANGKALAN

2018
I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Daerah estuari merupakan daerah yang sangat kompleks karena
adanya pengaruh seperti sapuan arus, hempasan ombak dan pasang surut air
laut (pasut). Wilayah ini memungkinkan untuk mengalami perubahan(dalam
skala ruang dan waktu). Imteraksi antara aliran air dari sungai dan arus pasang
surut yang masuk dari arah laut berpengaruh terhadap hidrodinamika, intruisi
salinitas dan proses transport sedimen (Jumarang et al 2011). Estuari
tergolong perairan semi tertutup yang mempunyai hubungan bebasdengan laut
terbuka dan menerima masukan air tawar dari daratan atau perairan muara
sungai tertutup yang berhubun gan bebas dengan laut, sehingga air laut
dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar (Budianto 2015).
Estuari sebagai daerah peralihan antara air tawar yang berasal dari sungai
dengan air asin dari laut.
Perbedaan densitas yang kecil secara horizontal (misalnya akibat
perbedaan pemanasan di permukaan) dapat menghasilkan arus laut yang
sangat kuat. Oleh karena itu penentuan densitas merupakan hal yang sangat
penting dalam oseanografi. Lambang yang digunakan untuk menyatakan
densitas adalah Þ (rho). Densitas merupakan salah satu parameter terpenting
dalam mempelajari dinamika laut. Densitas akan bertambah seiring dengan
bertambahnya salinitas dan berkurang sesuai dengan berkurangnya suhu.
Nilai densitas pada daerah estuari lebih rendah di bandingkan di lautan dan
lebih tinggi di banding daratan, hal ini dikarenakan terdapat dua masukan tipe
air baik air tawar maupun air asin. Densitas memegang peranan yang penting
akan keadaan hidro-oseanografi lain dan erat kaitannya dengan faktor hidro-
oseanogreafi. Sehingga makalah ini dibuat untuk mengetahui sebaran densitas
baik secara horizontal maupun vertikal dan kaitannya dengan faktor hidro-
oseanografi lainnya.

1. 2 Tujuan
Tujuan di susunnya makalah mengenai Variasi Densitas Estuari
( Studi Kasus : Distribusi Suhu, Salinitas, Dan Densitas Secara Vertikal Dan
Horizontal Di Perairan Pesisir, Probolinggo, Jawa Timur), adalah :

1. Mengetahu sebaran densitas secara horizontal dan vertikal


2. Mengetahui hubungan denstas dengan parameter faktor hidro-
oseanografi lainnya.

1.3 Manfaat

Manfaat di susunnya makalah mengenai Variasi Densitas


Estuari ( Studi Kasus : Distribusi Suhu, Salinitas, Dan Densitas Secara
Vertikal Dan Horizontal Di Perairan Pesisir, Probolinggo, Jawa Timur),
adalah :

1. Mahasiwa mengetahu sebaran densitas secara horizontal dan vertikal


2. Mengetahui hubungan denstas dengan parameter faktor hidro-oseanografi
lainnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Estuari
Estuari berasal dari bahasa Latin aestus, yang berarti pasang surut
(ODUM 1971). Estuari merupakan komponen ekosistem pesisir dimana
estuari dikenal sangat produktif dan paling mudah terganggu oleh tekanan
lingkungan yang diakibatkan oleh proses – proses ilmiah maupun kegiatan
manusia (Rositasari dan Sri 1994). Estuari merupakan zona transisi yang
terletak diantara habitat perairan tawar dan laut dengan variabilitas lingkungan
yang dinamis (Zahid et al 2014). Estuari adalah wilayah pesisir semi tertutup
yang memiliki hubungan bebas dengan laut terbuka dan menerima masukan
air tawar dari daratan sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat
bercampur dengan air tawar (Budianto 2015).
Teluk – teluk di daerah pesisir, badan air yang terpisah dari laut oleh
pantai penghalang (barrier beach), muara sungai dan rawa pasang surut,
merupakan contoh dari sistem perairan estuari. Estuari merupakan zona
transisi atau ekoton antara habitat laut dan perairan tawar, namun beberapa
sifat fisis dan biologis pentingnya tidak meperliihatkan karakteristik peralihan
terlihat sebagai karakteristik perairan yang unik. Pelanggaran dan penggunaan
zona yang berada di kawasan estuari oleh aktivitas manusia saat ini telah
mencapai suatu tingkat yang kritis, sehingga amatlah penting untuk lebih
mensosialisasikan pemahaman tentang fungsi dari perairan estuari itu sendiri
(Rositasari dan Sri 1994).

Gambar 2.1 Salah Satu Contoh Daerah Eustaria


II.2 Densitas
Densitas merupakan salah satu parameter terpenting dalam
mempelajari dinamika laut. Perbedaan densitas yang kecil secara horizontal
(misalnya akibat perbedaan pemanasan di permukaan) dapat menghasilkan
arus laut yang sangat kuat. Oleh karena itu penentuan densitas merupakan hal
yang sangat penting dalam oseanografi. Lambang yang digunakan untuk
menyatakan densitas adalah Þ (rho).
Densitas merupakan jumlah massa air laut per satuan volume. Densitas
bergantung pada salinitas (S), temperatur (T), dan tekanan (p). Secara umum,
rata –rata nilai densitas air laut adalah 1027 kg/m3. Persamaan keadaan air
laut : Þ = Þ (T, S, p).
Perlu diperhatikan bahwa densitas maksimum terjadi diatas titik beku untuk
salinitas dibawah 24,7 dan dibawah titik beku untuk salinitas diatas 24,7. Hal
tersebut mengakibatkan adanya konveksi panas.
- S < 24,7
Air menjadi dingin hingga mencapai densitas maksimum, kemudian
jika air permukaan menjadi lebih ringan (ketika densitas maksimum telah
terlewati) pendinginan hanya terjadi pada lapisan campuran akibat angin
(wind mixed layer) saja, dimana akhirnya terjadi pembekuan. Dibagian
kolam atau basin yang lebih dalam akan dipenuhi oleh air dengan densitas
maksimum.
- S > 24,7
Konveksi selalu terjadi dikeseluruhan badan air. Pendinginan
diperlambat akibat adanya sejumlah besar energi panas (heat) yang
tersimpan di dalam badan air. Hal tersebut terjadi karena air mencapai titik
bekunya sebelum densitas maksimum terrcapai.

II.3 Densitas Estuari


Estuari merupakan daerah bertemunya antara perairan air tawar dari
sungai dan perairan air asin dari laut. Pembentukan daerah estuari diawali dari
suatu aliran sungai yang menuju laut, daerah tersebut dipengaruhi oleh
campuran massa air tawar dan air laut sehingga menghasilkan suatu kondisi
lingkungan dan komunitas biota yang khas, komplek, dan dinamis yang tidak
sama dengan air tawar dan air laut. Dinamika tersebut sangat terkait dengan
pola distribusi densitas, salinitas, kekuatan arus, kekuatan ombak, suhu,
oksigen, pengendapan sedimen, amplitudo pasang surut, dan penyediaan
undur hara (Suyasa et al 2008).
Air tawar memiliki densitas lebih kecil dari air laut sehingga air tawar
cenderung mengembang diatas air laut. Pada daerah esuari juga terdapat
fluktuasi perubahan densitas dan salinitas yang berlangsung secara tetap yang
berhubungan dengan gerakan air pasang. Massa air yang masuk ke dalam
daerah estuaria pada waktu terjadi air surut hanya bersubmber dari air tawar,
akibatnya densitas dan salinitas air di daerah estuari pada saat itu umunya
rendah. Pada saat air pasang air masuk ke dalam estuari berasal dari air laut
yang mengakibatkan densitas dan salinitas menjadi tinggi (Bengen 2002).
Densitas Estuari lebih rendah dibanding air laut, hal tersebut disebabkan
karena pada kawasan estuari terjadi percampuran antara air tawar dan air laut
sehingga nilai densitas lebih rendah.

II.4 Faktor yang Mempengaruhi Densitas di Estuari


Budianto (2015), menyatakan faktor yang mempengaruhi densitas adalah :
a. Temperatur
Temperatur memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap
densitas, dimana semakin tinggi suhu maka semakin rendah densitas dan
sebaliknya.
b. Salinitas
Salinitas memberikan pengaruh yang signifikan terhadap densitas dimana
semakin tinggi salinitas maka semakin tinggi densitas dan sebaliknya.
c. Kedalaman
Kedalaman mempengaruhi nilai densitas, semakin dalam suatu perairan
maka densitas juga akan meningkat dan sebaliknya.
d. Tekanan
Tekanan mempengaruhi nilai densitas, semakin tinggi tekanan maka
densitas akan semakin tinggi begitupun sebaliknya.
III. METODELOGI

Jurnal ini menggunakan metode penelitian lapang dengan mengumpulkan


data suhu, salinitas dan densitas dilaksanakan pada tanggal 26 Maret 2013. Data
bathimetri dikumpulkan tanggal 24 Juli – 2 Agustus 2013. Sampel air laut
diambil dari 21 titik stasiun dengan satu kali pengulangan di Perairan Teluk
Gending (Gambar 1). Penentuan posisi titik koordinat menggunakan Garmin
276 GPS. Penentun letak stasiun dilakukan dengan memperhatikan konfigurasi
garis pantai sehingga letak titik pengambilan sampel merata di seluruh bagian
lokasi penelitian. Pengambilan data oseanografi ini menggunakan CTD
(Conductivity, Temperature and depht) tipe SBE 19 plus. Pengambilan data
batimetri dengan echosounder. Data salinitas, suhu densitas dan kedalaman
diolah dengan menggunakan perangkat lunak ODV untuk menampilkan sebaran
secara vertikal. Sebaran horizontal dari parameter serta profil batimetri
ditmapilkan dengan menggunakan software Arc-GIS 10. Profil dasar perairan
daerah penelitian diperoleh dari olahan data batimetri dengan menggunakan
software surfer. Analisis data dilakukan secara visual dari tampilan data
distribusi nilai berbagai paraameter ybaik distribusi horizontal maupun vertikal.

Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian (Sumber : Peta Google Earth Tahun 2013)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Pola Distribusi Densitas Secara Horizontal

Pada plot distribusi secara horisontal, dapat terlihat bahwa massa air
dengan densitas lebih rendah terdapat di sepanjang pantai daratan Pulau Jawa
dan densitas lebih tinggi berada jauh dari pantai. Di bagian timur perairan
terdapat massa air dengan densitas rendah. Kondisi tersebut sesuai dengan
pola distribusi salinitas. Hal ini memperkuat dukungan terhadap dugaan
tentang terdapat masukan air tawar dari sungai di luar daerah penelitian yang
kemungkinan masuk ke wilayah penelitian sehingga terdapat massa air
dengan densitas rendah di lokasi penelitian yang jauh dari pantai yang
mendorong dari laut menuju ke daratan pesisir.
Gambar 4.1.1. Distribusi densitas horizontal bulan Maret 2013 di Teluk
Gading, Probolinggo

4.1.2 Pola Distribusi Densitas Secara Vertikal

Dari Transek A, B, C, dan D (Gambar 4.1.2) densitas air laut semakin


meningkat seiring bertambahnya kedalaman dan nilai densitas yang rendah
terdapat di daerah dekat pantai. Densitas pada lapisan dasar menurun, karena
adanya masukan massa air dengan salinitas rendah sehingga densitas menurun
dari daratan Pulau Jawa melalui lapisan dasar perairan. Densitas rendah
mendorong keluar ke arah laut dan pada wilayah yang dalam densitas
menurun. Pada transek B densitas semakin meningkat seiring bertambahnya
kedalaman. Densitas bernilai kecil pada daerah pantai dan densitas rendah
mendorong masuk ke arah lapisan yang lebih dalam sehingga pada pola
distribusi densitas ini terdapat kontur yang membelok ke kedalaman yang
lebih dalam. Pada transek C densitas meningkat terhadap kedalaman. Pada
lapisan dasar perairan densitas rendah dari permukaan mendorong ke bawah
ke lapisan massa air di bawahnya.

Pada transek D nilai kontur yang menunjukkan nilai densitas


meningkat terhadap kedalaman. Densitas pada wilayah yang dekat dasar
memiliki nilai densitas yang lebih rendah karena massa air disini terdorong
oleh massa air dari daerah dekat pantai ke arah lapisan yang lebih dalam.
Transek E wilayahnya dekat dengan muara sungai sehingga pada transek
inilah yang memiliki nilai densitas paling rendah. Pada beberapa transek,
dasar perairan memiliki densitas yang rendah, hal ini disebabkan densitas
mengalami percampuran antara air tawar dengan air laut, menyebabkan massa
air terdorong kearah dasar, sehingga salinitas pun menjadi rendah. Pengaruh
tersebut terjadi dikarenakan adanya masukan air tawar dari daratan melalui
sungai di wilayah Probolinggo.

Gambar 4.1.2. Distribusi densitas secara vertikal Bulan Maret 2013


di Teluk Gading, Probolinggo

4.2 Pembahasan
Menurut model yang ditunjukkan oleh Duxbury et al (2002), menunjukkan
bahwa perairan pesisir di Teluk Gading memiliki karakter seperti perairan estuari
tipe tercampur sebagian (partially-mixed estuary). Tipe percampuran seperti ini
menunjukkan adanya aliran air laut yang kuat dan percampuran horizontaldi
dasar perairan, sementara itu terjadi kombinasi percampuran vertikal dan aliran
ke arah laut yang membentuk aliran ke arah laut. Stratifikasi densitas yang kuat
terjadi bila ada aliran air tawar tinggi volumenya. Pola percampuran ini
menjamin terjadinya pertukaran yang baik antara air tawar dan air laut. Hasil dari
penelitian ini menunjukkan stratifikasi densitas yang tidak kuat. Hal itu
menunjukkan telah terjadi percampuran antara air tawar dan air laut di lapisan
permukaan, dan aliran air tawar yang lemah. Stratifikasi massa air di estuari
berbeda karakternya daripada stratifikasi di laut terbuka. Di laut terbuka
stratifikasi yang menyebabkan perbedaan densitas terjadi terutama karena
perbedaan temperatur, sedang di estuari dominan karena perbedaan salinitas
(Beer, 1997). Pada penelitian ini ditemukan adanya stratifikasi yang konsisten
antara suhu, salinitas dan densitas. Sangat mungkin hal ini terjadi karena perairan
Teluk Gending adalah perairan pesisir yang dangkal dan dekat pantai dengan
masukan air laut yang terbatas sehingga pengaruh suhu rendah dari aliran air
tawar masih dirasakan pengaruhnya.
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Densitas merupakan jumlah massa air laut per satuan volume. Densitas
bergantung pada salinitas (S), temperature (T) dan tekanan (P). Densitas
berbanding lurus dengan salinitas, tekanan dan kedalaman, tetapi berbanding
terbalik dengan temperature. Persamaan densitasnya adalah ƿ = ƿ (T, S, p).
Distribusi densitas secara horizontal, densitas lebih rendah terdapat di sepanjang
pantai daratan Pulau Jawa dan densitas lebih tinggi berada jauh dari pantai.
Sedangkan distribusi densitas secara vertical, densitas air laut semakin meningkat
seiring bertambahnya kedalaman dan nilai densitas yang rendah terdapat di
daerah dekat pantai. Perairan pesisir di Teluk Gading memiliki karakter seperti
perairan estuari tipe tercampur sebagian (partially-mixed estuary).
DAFTAR PUSTAKA

Bengen, D. G. 2002. Ekosistem dan Sumber Daya Pesisir dan Laut Serta
Pengelolaan Terpadu dan Berkelanjutan. Makalah Prosiding Pelatihan
Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. PKSSPL-IPB. Bogor.
Budianto. 2015. Pola Sebaran Salinitas dan Suhu di Perairan Estuaria Sungai
Kawal Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau. FIKP UMRAH. 1
– 15.
Jumarang, Muh. Ishak., Muliadi., Nining S. N., Safwan H., dan Dian M. Pola
Sirkulasi Arus dan Salinitas perairan Estuaria Sungai Kapuas
Kalimantan Barat. POSITRON. I (1) : 36 – 42.
Rositasari, Ricky dan Sri Kusdi Rahayu. 1994. Sifat – Sifat Estuaria dan
Pengelolaannya. Oseana. XIX (3) : 21 – 31.
Suyasa, N. I, M. Nurhudah dan S. Rahardjo. 2010. Ekologi Perairan. Sekolah
Tinggi Perairan Jakarta. Jakarta : STP Press.
Zahid, Ahmad et al. 2014. Variasi Spasio-Temporal Sebaran Kumpulan Ikan
di Eustaria Segara Menyan. Jurnal Ikhtiologi Indonesia. 14 (1) : 67 –
81.