You are on page 1of 4

a.

Organisme
Pengertian organisme mencakup tiga hal:
1) Makhluk Hidup
Organisme adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologisnya dan
merupakan tempat semua pengalaman, potensi yang terdapat dalam kesadaran setiap
saat, yakni persepsi seseorang mengenai kejadian yang terjadi dalam diri dan dunia
eksternal.
2) Realitas Subjektif
Organisme menganggap dunia seperti yang dialami dan diamati. Realita adalah
persepsi yang sifatnya subjektif dan dapat membentuk tingkah laku
3) Holisme
Holisme adalah satu kesatuan system sehingga perubahan dalam satu bagian akan
berpengaruh pada bagian lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi dan bertujuan,
yaitu tujuan mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri.
b. Medan Fenomena
Medan fenomena adalah keseluruhan pengalaman, baik yang internal maupun eksternal,
baik disadari maupun tidak disadari. Medan fenomena ini merupakan selurh pengalamn
pribadi seseorang sepanjang hidupnya di dunia, sebagaimana persepsi subjektifnya.
c. Diri
Konsep diri mulai terbentuk mulai masa balita ketika potongan-potongan pengalaman
membentuk kepribadiannya dan menjadi semakin mawas diri akan identitas dirinya begitu
bayi mulai belajar apa yang terasa baik atau buruk, apa ia merasa nyaman atau tidak. Jika
struktur diri itu sudah terbentuk, actual diri mulai terbentuk. Aktualisasi diri adalah
kecenderungan untuk mengaktualisasikan sang diri sebagai mana yang dirasakan dalam
kesadaran. Dengan demikian, kecenderungan aktualisasi tersebut mengacu kepada
pengalaman organic individual, sebagai suatu kesatuan yang menyeluruh, akan kesadaran
dan ketidak-sadaran, psikis dan kognitif.

Menurut Carl Rogers, ada beberapa ha; yang memengaruhi diri, yaitu:
1. Kesadaran
Tanpa adanya kesadaaran, konsep diri dan diri ideal tidak aka nada. Ada tiga tingkat
kesadaran, yaitu:
a. Pengalaman yang dirasakan di bawah ambang sadar akan ditolak atau disangkal
b. Pengalaman yang dapat diaktualisasikan secara simbolis akan secara langsung diakui
oleh struktur diri
c. Pengalaman yang dirasakan dalam bentuk distorsi. Jika pengalaman yang dirasakan
tidak sesuai dengan diri (self), dibentuk kembali dan didistorsikan sehingga dapat
diasimilasikan oleh konsep diri.
2. Kebutuhan
a. Pemeliharaan tubuh organismic dan pemuasannya akan makanan, air, udara, dan
keamanan sehingga tubuh cenderung ingin untuk statis dan menolak untuk
berkembang
b. Peningkatan diri
c. Meskipun tubuh menolak untuk berkembang, diri juga mempunyai kemampuan
untuk belajar dan berubah
3. Penghargaan Positif (Positive Regard)
Begitu kesadaran muncul, kebutuhan untuk dicintai, disukai, atau diterima oleh orang
lain
4. Penghargaan Diri yang Positif (Positive Self-regard)
Berkembangannya kebutuhan akan penghargaan diri (self-regard) sebagai hasil
pengalaman dengan kepuasan atau frustasi. Diri akan menghindari frustasi dengan
mencari kepuasan akan positive self-regard.
5. Stagnasi Psikis
Stagnasi psikis terjadi bila
a. Ada ketidakseimbangan antara konsep diri dan pengalaman yang dirasakan oleh
diri organis
b. Ketimpangan yang semakin besar antara konsep diri dan pengalaman organis
membuat seseorang menjadi mudah terkena serangan. Kurang akan kesadaran diri
akan membuat seseorang berperilaku tidak logis, bukan hanya untuk orang lain,
namun juga untuk dirinya
c. Jika kesadaran diri tersebut hilang, muncul kegelisahan tanpa sebab dan akan
memuncak menjadi ancaman

Untuk mencegah tidak konsistennya pengalaman organic dengan konsep diri, perlu
diadakan pertahanan diri dari kegelisahan dan ancaman adalah penyangkalan dan
distorsi terhadap pengalaman yang tidak konsisten. Distorsi adalah salah interpetasi
pengalaman dengan konsep diri, sedangkan penyangkalan adalah penolakan
terhadap pengalaman. Keduanya menhaga konsistensi antara pengalaman dan
konsep diri supaya berimbang

Cara pertahanan adalah karakteristik untuk orang normal dan neurotic. Jika
seseorang gagal dalam menerapkan pertahanan tersebut, individu akan menjjadi
tidak terkendali atau psikotik. Individu dipaksakan untuk menerima keadaan yyang
tidak sesuai dengan konsep dirinya terus-menerus dan akhirnya konsep dirinya
menjadi hancur. Perilaku tidak terkendali ini dapat muncul mendadak atau dapat
pula muncul bertahap.

Rogers juga merumuskan dinamika kepribadian sebagai berikut,


a. Penerimaan Positif (Positive Regard)
Orang merasa puas menerima regard positif, kemudian juga merasa puas dapar
memberi regard positif kepada orang lain
b. Konsistensi dan Kesesuaian Diri (Self Consistensy and Congruence)
Organisme berfungsi untuk memelihara konsistensi (keadaan tanpa konflik)
dari persepsi diri dan kongruen (kesesuaian) antara persepsi diri dan
pengalaman.
c. Aktualisasi Diri (Self Actualitation)
Freud memandang organisme sebagai system energy dan mengembangkan teori
bagaimana energy psikik ditiimbulkan, ditransfer, dan disimpan.
Rogers memandang organisme terus-menerus bergerak maju. Tujuan tingkah
laku bukan untuk mereduksi tegangan energy, melainkan mencapai aktualisasi
diri, yaitu kecenderungan dasar organiisme untuk aktualisasi, yakni kebutuhan
pemeliharaan (maintenance) dan peningkatan diri (embancement)
(http://eriec4sains.blogspot.com/2011/04/toeri-belajar-humanisme-dan.html).

8. David Mills dan Stanley Scher


Ilmu pengetahuan alam selama bertahun-tahun hanya dibahas dan dipelajari
secara kognitif semata, yakni sebagai akumulasi fakta-fakta dan teori-teori.
Padahal, bagaimanapun praktik dari ilmu pengetahuan selalu melibatkan
elemen-elemen afektif yang meliputi adalanya kebutuhan akan pengetahuan,
penggunaan intuisi serta imajinasi dalam usaha-usaha kreatif, pengalaman yang
menantang, frustasi, dan lain-ain. Berdasarkan fenomena tersebut, David Mills
dan Stanley Scher mengajuan konsep pendidikan terpadu, yakni proses
pendidikan yang mengikutsertakan afektid atau perasaan murid dalam belajar.
Metode afektif yangmelibatkan perasaan ttelah bisa diterapkan pada murid-
murid untuk pelajaran IPS, Bahasa dan Seni. Sebenarnyam ahli ini kemudian
mencoba melakukan riset yang bertujuan menemukan aplikasi yang lebih real
dalam usaha tersebut. Penggunaa pendekatann terpadu ini dilakukan dala
pembelajaran IPA, pendidikan bisnis, dan bahkan otomotif.
Pendekatan terpadu atau confluent approach merupakan sintesis dari
Psikologi Humanistik, khususnya terapi Gestalt, dan pendidikan, yang
melibatkan integrase elemen-elemen afektif dan kognitif dalam proses belajar.
Elemen kognitig menunjuk pada berpikir, kemampuan verbal, logika, analisis,
rasio, dan cara-cara intelektual, sedangkan elemen afektif menunjuk pada
perasan, cara-cara memahamii yang melibatkan gambaran visual-
spasial,fantasi, persepsi keseluruhan, metafora, intuisi, dan lain-lain.
Tujuan u,u, pendekatan ini adalah mengembangan kesadaran murid-murid
terhadap dirinya dan dunia sekitarnya, serta meningkatkan kemampuan untuk
mengginakan kesadaran ini dalam menghadaou lingkungan dengan berbagai
cara, menerima petunjuk-petunjuk internal, dan menerima tanggung jawab bagi
setiap pilihan mereka, fungsi furu dalam pendekatan terpadu kepada guru,
dengan tujuan akhir mengembangkan tanggung jawab murid uuntuk belajar
sendiri. Guru hana membantu mereka dengan memberikan pilihan-pilihan yang
masuk akal bagi pikiran mereka, dan jika perlu, guru bisa menolak memberikan
bantuan untuk hal-hal yang bisa ditangani oleh murid sendiri

9. Aldous Huxley
Manusia memiliki banyak potensi yang selama ini banyak terpendam dan
disia-diakan. Pendidikan diharapkan mampu membantu manusia dalam
mengembangkan potensi-potensi tersebut. Oleh karena itum kurikulum dalam
proses pendidikan harus berorientasi pada pengebangan potensi, dan ini
melibatkan semua pihak, seperti guru, murid, para pemerhati, ataupun peneliti
dan perencana pendidikan.
Hucley menekankan adanya pendidikan non-verbal yang juga harus
diajarkan kepada siswa, pendidikan non-verbal bukan berwujud pekajaran
senam, sepak bola, bernyanyi, ataupun menari, melainkan hal-hal yang bersifat
di luar materi pembelajaran, dengan tujuan menumbuhkan kesadaran
seseorang.
Proses pendidikan non-verbal seyogianya dimulai sejak usia dini sampai
tingkat tinggi. Betapapun, gar seseorang bisa mengetahui makna hidup dalam
kehidupan yang nyata, mereka harus membekali dirinya dengan suatu kebijakan
hidup, kreativitas, dan mewujudkannya dengan langkah-langkah yang
bijaksana. Dengan cara ini, seseorang akan mendapatkan kehidupan yang
nikmat dan penuh arti.
Berbekal pendidikan non-verbal, seseorang akan memiliki banyak strategi
agar leboh tenang dalam menapaki hidup karena memiliki kemampuan
menghargai setiap pengalaman hidupnya dengan lebih menarik. Akhirnya,
apabila setiap manusia memiliki kemampuan ini, akan menjadi sumbangan
yang berarti bagi kebudayaan dan moral kemanusiaan.