You are on page 1of 6

Hamzah bin Abdul Muthalib – Pemimpin

para Syuhada
27APR

4 Votes

Pernah mendengar sahabat yang dibunuh dan dimakan hatinya oleh seorang perempuan? Beliaulah
Hamzah bin Abdul muthalib paman nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Sangat panjang perjalanan Hamzah hingga gugur di medan uhud. Tentunya menarik kisah hidup
beliau,.

KELAHIRAN DAN KEHIDUPAN KELUARGA


Nama lengkapnya, Hamzah Abu ‘Amaarah bin ‘Abdul Muthalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaaf al-
Quraisy al-Haasyimi, Ibunya bernama Halah binti Wuhaib bin ‘Abdi Manaf bin Zuhrah. Beliau
merupakan paman Rasulullah SAW, sekaligus saudara sepersusuan, serta kerabat dekatnya dari
jalur ibu. Dilahirkan dua tahun sebelum Rasulullah SAW. Memeluk Islam pada tahun ke-delapan
setelah kenabian.

Umur Hamzah diperkirakan tak terpaut jauh dengan keponakannya itu. Mereka berdua merupakan
teman sepermainan sejak kanak-kanak. Tak heran jika Hamzah menjadi orang yang paling dekat dan
mengenal secara mendalam kepribadian Muhammad. Keduanya memiliki hubungan yang sangat
kuat.

Hamzah lahir diperkirakan hampir bersamaan dengan Muhammad. Ia merupakan anak dari Abdul-
Muththalib dan Haulah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah. Menurut riwayat, pernikahan Abdul-Muththalib
dan Abdullah bin Abdul-Muththalib terjadi bersamaan waktunya, dan ibu dari Nabi, Aminah binti
Wahab, adalah saudara sepupu dari Haulah binti Wuhaib.

Tak heran jika Hamzah menjadi orang yang paling dekat dan mengenal secara mendalam
kepribadian Muhammad. Keduanya memiliki hubungan yang sangat kuat. Meski demikian,
sebagaimana Bani Muttalib lainnya, Hamzah memang tidak langsung menerima dan memeluk agama
yang diwahyukan kepada Muhammad.

Walaupun dalam lubuk hatinya, ia tak bisa mengingkari keluhuran budi pembawa risalah tersebut.
Meski demikian, ia tak memperlihatkan rasa tidak suka terhadap dakwah Muhammad, seperti yang
dilakukan orang-orang Quraiys.

Bahkan ia selalu memberikan perlindungan terhadap diri Nabi Muhammad. Pada saat kaum kafir
memperlihatkan kebencian yang kian meningkat, ia pun meningkatkan perlindungan kepada
Muhammad. Beruntung, Hamzah ditakdirkan menjadi pria perkasa.

KEPRIBADIAN DAN KEBERANIAN HAMZAH


Hamzah memiliki fisik yang kuat. Ia pun terkenal sebagai penunggang kuda yang cekatan, ahli
pedang, dan bela diri di seantero Makkah. Hamzah merupakan manusia padang pasir yang lebih
suka menyendiri. Ia juga dikenal sebagai seorang pemburu rusa yang mumpuni.

Pada salah satu kisah perburuan rusa, Hamzah dikejutkan dengan suatu keributan. Ternyata, seekor
singa telah memasuki kemahnya. Setelah menurunkan rusa yang baru saja di burunya, ia kemudian
menghadapi singa itu seorang diri. Berbekal keahliannya, akhirnya, ia berhasil mengakhiri keganasan
binatang buas tersebut.

Lalu ia pun menguliti singa tersebut, dan melemparkan kulitnya ke atas pelana kudanya. Orang-orang
Makkah melihat kulit singa di pelana kuda Hamzah mafhum dengan keberanian dan kepiawaian
Hamzah. Kegagahannya itu, membuat lawan-lawannya merasa gentar meski hanya mendengar
namanya.

PERISTIWA MASUK ISLAMNYA HAMZAH

Pada suatu hari, Abu Jahal berjalan melewati Rasulullah Muhammad ketika ia berada di Safa. Pada
saat bertemu muka, ia pun mulai mencaci, memaki dan melampiaskan amarahnya kepada rasul.
Meski demikian, Muhammad tidak menanggapi semua perilaku Abu Jahal.

Usai menumpahkan segala amarahnya, Abu Jahal bergegas bergabung dalam pertemuan petinggi
Quraiys. Tanpa sepengetahuannya, tindakan Abu Jahal diketahui oleh seorang wanita, budak Jud’an
bin Amir. Tak lama berselang terlihat Hamzah memasuki Makkah dengan busur di bahunya, usai
berburu menuju ke arah Ka’bah. Rekan Abu Jahal melihat itu langsung bergegas untuk mengingatkan
Abu Jahal bahwa Hamzah telah datang dari berburu dan khawatir akan mendengar perlakuan Abu
Jahal terhadap keponakannya.

Menjadi kebiasaan Hamzah, setelah berburu ia pergi ke Baitullah untuk berthawaf, sebelum ia
kembali ke keluarganya. Hari-hari sebelumnya pabila telah selesai melakukan thawaf dan melewati
balai pertemuan orang Qurays maka ia mengucapkan salam dan ngobrol bersama mereka. Memang
Hamzah adalah anak muda yang disegani di kalangan orang Qurays.

Setelah melihat Hamzah, budak wanita Jud’an bin Amir menghampirinya dan mengisahkan apa yang
dilakukan Abu Jahal kepada Rasulullah SAW. Maka budak itu berkata mengadu:

“Wahai Abu Umarah (sebutan bagi Hamzah), seandainya saja engkau tadi melihat apa yang
diperbuat oleh Abul Hakam (sebutan Abu Jahal) terhadap keponakanmu Muhammad! Abu Jahl
bertemu beliau di Shafa kemudian ia mengganggu, mencaci makinya dan melakukan hal-hal yang
tidak beliau sukai. Setelah itu ia pergi dan Muhammad tidak menyahuti omongannya sedikit pun”.

Amarah menjalar ke seluruh tubuhnya setelah mendengarkan kisah wanita itu. Bergegas ia mencari
Abu Jahal. Ia telah menetapkan niat untuk menghajar dan memberi pelajaran kepada Abu Jahal.
Ketika Hamzah masuk masjid, ia melihat Abu Jahl sedang duduk bersama orang-orang Qurays.
Hamzah pun berjalan ke arahnya.

Sesampainya di hadapan Abu Jahal, langsung saja Hamzah memukulkan busurnya ke kepala Abu
Jahal. Darah segar pun mengucur. Tak hanya itu, ia pun memukul tubuh lawannya hingga babak
belur dan tersungkur. Hamzah tetap berdiri gagah di hadapan petinggi Quraiys itu.

Ia berkata: “Apakah Engkau mencaci maki keponakanku padahal aku seagama dengannya, dan aku
berkata seperti yang ia katakan? Silakan balas jika engkau sanggup!

Melihat kondisi ini beberapa orang dari bani Makhzum mendekat kepada Hamzah untuk menolong
Abu jahal. Namun Abu Jahal berkata: ” biarkanlah Abu Umarah.” Demi Allah, aku telah menghina
keponakannya dengan penghinaan yang buruk.” Perbuatan yang dilakukan Hamzah ini sekaligus
sebagai pernyataan tentang masuk Islamnya beliau dan mengikuti Rasulullah.

Para petinggi Quraiys saling pandang. Semula mereka akan menentang Hamzah atas perlakuannya
terhadap Abu Jahal. Namun mereka pun rupanya takut dan akhirnya kembali duduk di masjid.
Beberapa saat kemudian ia menendang debu ke arah muka para petinggi Quraiys itu, dan
meninggalkan tempat itu.

Pembelaan dan pernyataan Hamzah, telah menyadarkan kafir Quraiys bahwa Hamzah yang gagah
berani akan selalu membela Muhammad. Tak heran jika kemudian mereka mulai menimbang akibat
ketika akan mengganggu nabi yang mulia itu. Abu Sufyan menyatakan bahwa Muhammad telah
mendapatkan teman yang kuat dan sangat disegani.

Allah memperkuat agamanya dengan masuknya Hamzah ke dalam Islam. Ia berdiri tegar dan siap
membela rasul. Sejak memeluk Islam ia mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk
kemajuan Islam. Sehingga Rasulullah SAW memberinya gelar Asad Allah wa Asad Rasulih (Singa
Allah dan Rasulnya).

HAMZAH DALAM PERANG BADAR


Pada saat pasukan Muslim bertemu dengan pasukan Kafir Quraiys di Perang Badr, Hamzah betul-
betul memperlihatkan keberanian dan kecakapan perang yang luar biasa. Banyak orang kafir Quraiys
tumbang di tangannya. Bahkan ayah Hindun, seorang petinggi Quraiys mati di ujung pedangnya.

Pada Perang Badr, umat Islam mendapatkan kemenangan gemilang. Orang-orang kafir mundur
dengan teratur. Tak heran jika kekalahan ini menumbuhkan dendan kesumat di dada mereka.
Hamzah pun dianggap memiliki peran besar dalam kekalahan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq didalam kitab,” Sirah Ibnu Ishaq” dari Abdurahman bin Auf bahwa
Ummayyah bin Khalaf berkata kepadanya “ Siapakah salah seorang pasukan kalian yang dadanya
dihias dengan bulu bulu itu?”, aku menjawab “Dia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib”. Lalu Umayyah
dberkata Dialah yang membuat kekalahan kepada kami”.

Abdurahman bin Auf menyebutkan bahwa ketika perang Badar, Hamzah berperang disamping
Rasulullah dengan memegang 2 bilah pedang.

SYAHIDNYA HAMZAH

Untuk membalas kekalahan, mereka kemudian terlibat dalam Perang Uhud. Selain nyawa Nabi yang
menjadi incaran, Hamzah pun telah ditetapkan menjadi target sebagai tumbal kekalahan pasukan
kafir pada Perang Badr.

Akhirnya tibalah saatnya perang Uhud di mana kaum kafir Quraisy disertai beberapa kafilah Arab
lainnya bersekutu untuk menghancurkan kaum muslimin. Sasaran utama perang tersebut adalah
Rasulullah dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Dan mereka memiliki rencana yang keji terhadap
Hamzah yaitu dengan menyuruh seorang budak yang mahir dalam menggunakan tombak dan organ
hatinya akan di ambil dan akan di makan oleh Hindun yang memiliki dendam sangat membara karena
suaminya terbunuh dalam perang Badar.

Washyi bin Harb diberikan tugas yang maha berat yaitu membunuh Hamzah dan dijanjikan
kepadanya imbalan yang besar pula yaitu akan dimerdekakan dari perbudakan.
Akhirnya kedua pasukan tersebut bertemu dan terjadilah pertempuran yang dahsyat, sementara
Sayyidina Hamzah berada di tengah-tengah medan pertempuran untuk memimpin sebagian kaum
muslimin.. Ia mulai menyerang ke kiri dan ke kanan. Setiap ada musuh yang berupaya
menghadangnya, pastilah kepalanya akan terpisah dari lehernya.

Seluruh pasukan kaum muslimin maju dan bergerak serentak ke depan, hingga akhirnya dapat
diperkirakan kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Dan seandainya pasukan pemanah yang
berada di atas bukit Uhud tetap patuh pada perintah Rosulullah untuk tetap berada di sana dan tidak
meninggalkannya untuk memungut harta rampasan perang yang berada di lembah Uhud, niscaya
kaum muslimin akan dapat memenangkan pertempuran tersebut.

Di saat mereka sedang asyik memungut harta benda musuh islam yang tertinggal, kaum kafir Quraisy
melihatnya sebagai peluang dan berbalik menduduki bukit Uhud dan mulai melancarkan serangannya
dengan gencar kepada kaum muslimin dari atas bukit tersebut.

Tentunya penyerangan yang mendadak ini pasukan muslim terkejut dan kocar-kacir dibuatnya.
Melihat itu semangat Hamzah semakin bertambah berlipat ganda. Ia kembali menerjang dan
menghalau serangan kaum Quraisy. Sementara itu Wahsyi terus mengintai gerak-gerik Hamzah,
setelah menebas leher Siba’ bin Abdul Uzza dengan lihai-nya. Maka pada saat itu pula, Wahsyi
mengambil ancang-ancang dan melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai
pinggang bagian bawah Hamzah hingga tembus ke bagian muka di antara dua pahanya. Lalu Ia
bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi, tetapi tidak berdaya dan akhirnya roboh sebagai
syahid.

Ibnu Atsir berkata dalam kitab ‘Usud al Ghabah”, Dalam perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh
31 orang kafir Quraisy, sampai pada suatu saat beliau tergelincir sehingga ia terjatuh kebelakang dan
tersingkaplah baju besinya, dan pada saat itu ia langsung ditombak dan dirobek perutnya . lalu
hatinya dikeluarkan oleh Hindun kemudian dikunyahnya hati Hamzah tetapi tidak tertelan dan segera
dimuntahkannya.

Usai sudah peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh
para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata
menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya bahwa moral bangsa arab
telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad
Hamzah. Dengan keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Sayyidina Hamzah dan
mengambil hatinya.

Kemudian Rasulullah mendekati jasad Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah, Seraya berkata, “Tak
pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apapun yang
lebih menyakitkan diriku daripada suasana sekarang ini.”

Allah menurunkan firmannya ,” Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan
yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar,
sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (Qs; an Nahl 126)
Setelah itu Rasulullah dan kaum muslimin men-shalat-kan jenazah pamannya dan para syuhada
lainnya satu per satu. Pertama Hamzah di-shalat-kan lalu di bawa lagi jasad seorang syahid untuk di-
shalat-kan, sementara jasad Hamzah tetap dibiarkannya di situ. Lalu jenazah itu di angkat,
sedangkan jenazah Hamzah tetap di tempat. Kemudian di bawa jenazah yang ketiga dan
dibaringkannya di samping jenazah Hamzah. Lalu Rasulullah dan para sahabat lainnya men-shalat-
kan mayat itu. Demikianlah Rasulullah men-shalat-kan para syuhada Uhud satu persatu, hingga jika
di hitung maka Rasulullah dan para sahabat telah men-shalat-kan Hamzah sebanyak tujuh puluh kali.

Ia wafat pada tahun 3 H, dan Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam dengan gelar “Sayyidus Syuhada”
(Pemimpin para Syuhada)