You are on page 1of 12

57

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian


Penelitian ini menggunakan populasi akseptor KB di Puskesmas Taman
Bacaan Palembang selama periode 2 november - 2 desember 2017 dengan jumlah
sampel 122 responden, dengan dilakukan uji statistik dengan desain penelitian
deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pada penelitian dilakukan
analisis univariat dan bivariat.

4.1.1 Analisis Univariat


Analisis univariat dilakukan untuk mendeskripsikan masing-masing
variabel penelitian yaitu umur, pendidikan, jumlah anak dan pemilihan
kontrasepsi. Semua variabel dinyatakan dengan skala nominal sehingga deskripsi
dilakukan dalam bentuk distribusi frekuensi.

Gambaran umum responden


Tabel 4.1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur
Karakteristik f %
Umur :
≤ 35 tahun 72 59,0
≥ 36 tahun 50 41,0
Jumlah 122 100

Berdasarkan Tabel 4.1, dapat dilihat bahwa 72 responden yang memiliki


umur ≤ 35 tahun (59,0%), 50 responden yang memiliki umur ≥ 36 tahun
(41,0%).

Universitas Muhammadiyah Palembang


58

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pendidikan


karakteristik f %
Tingkat pendidikan :
Kurang 35 28,7
Cukup/Tinggi 87 71,3
jumlah 122 100

Berdasarkan Tabel 4.2, dapat dilihat 35 responden memiliki tingkat


pendidikan SD-SMP yang dikategorikan kurang (28,7%), 87 responden memiliki
tingkat pendidikan SMA-perguruan tinggi yang dikategorikan cukup / tinggi
(71,3%).

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi responden berdasarkan jumlah anak


karakteristik f %
Jumlah Anak :
≤ 2 anak 88 72,1
≥ 3 anak 34 27,9
jumlah 122 100

Berdasarkan Tabel 4.3, dapat dilihat bahwa 88 responden memiliki ≤ 2


anak (72,1%), sedangkan sisanya 34 responden memiliki ≥3 anak (27,9%).

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pemilihan kontrasepsi


karakteristik f %
Pemilihan kontrasepsi :
Hormonal 109 89,3
Non Hormonal 13 10,7
jumlah 122 100

Berdasarkan Tabel 4.4, dapat dilihat 109 responden memilih kontrasepsi


hormonal (89,3%) sedangkan 13 responden memilih kontrasepsi non hormonal
(10,7%).

Universitas Muhammadiyah Palembang


59

Tabel 4.5 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pemilihan kontrasepsi


Pemilihan kontrasepsi
Hormonal f % Non f %
Hormonal
Pil 18 14,75 kondom 7 5,73
Suntik 87 71,31 IUD/AKDR 5 4,09
Implant 3 2,45 Tubektomi 2 1,63
Jumlah 109 88,51 Jumlah 13 11,49

Berdasarkan Tabel 4.5, dapat dilihat bahwa 18 responden memilih


kontrasepsi pil (14,75%), 87 responden memilih kontrasepsi suntik (71,31%) dan
3 responden memilih kontrasepsi implant (2,45%) dari 109 responden yang
memilih kontrasepsi hormonal dan 7 responden memilih kontrasepsi kondom
(5,73%), 5 responden memilih kontrasepsi IUD/AKDR (4,09%) dan 2 responden
memilih kontrasepsi tubektomi (1,63%) dari 13 responden yang memilih
kontrasepsi non hormonal.

4.1.2 Analisis Bivariat


Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan atau
pengaruh antara masing-masing karakteristik (umur, pendidikan dan jumlah anak)
dengan pemilihan kontrasepsi.

Tabel 4.6 Pengaruh umur dan pemilihan kontrasepsi di Puskesmas Taman bacaan
Pemilihan Kontrasepsi
Umur Hormonal Non Hormonal P
f % f %

≤ 35 tahun 62 50,81 10 8,19 0,275


≥ 36 tahun 47 38,52 3 2,48
Jumlah 109 89,33 13 10,67

Berdasarkan Tabel 4.6, dapat dilihat bahwa 62 responden yang memiliki


umur ≤ 35 tahun (50,81%), 47 responden yang berumur ≥ 36 tahun (38,52%)

Universitas Muhammadiyah Palembang


60

memilih kontresepsi hormonal dari 109 responden sedangkan 10 responden yang


memiliki umur ≤ 35 tahun (8,19%) dan 3 responden yang berumur ≥ 36 tahun
memilih kontrasepsi non hormonal dari 13 responden.
Hasil uji statistik didapatkan p = 0,275 (p>0,05). Berdasarkan hasil
tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan atau pengaruh yang
bermakna antara umur dengan pemilihan kontrasepsi.

Tabel 4.7 Pengaruh pendidikan dan pemilihan kontrasepsi di Puskesmas Taman


bacaan
Pemilihan Kontrasepsi
pendidikan Hormonal Non Hormonal P
f % f %

Kurang 27 22,13 8 6,57 0,014


Cukup / Tinggi 82 67,21 5 4,09
Jumlah 109 89,34 13 10,64

Berdasarkan Tabel 4.7, dapat dilihat bahwa 27 responden yang memiliki


tingkat pendidikan SD-SMP yang dikategorikan kurang (22,17%) dan 82
responden yang memiliki tingkat pendidikan SMA-Perguruan Tinggi yang
dikategorikan cukup (67,21%) memilih kontrasepsi hormonal dari 109 responden
sedangkan 8 responden yang memiliki tingkat pendidikan SD-SMP yang
dikategorikan kurang (6,57%) dan 5 responden yang memiliki tingkat
pendidikan SMA-Perguruan Tinggi yang dikategorikan cukup (4,09%) memilih
kontrasepsi non hormonal dari 13 responden.
Hasil uji statistik didapatkan p = 0,014 (p<0,05). Berdasarkan hasil
tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan atau pengaruh yang bermakna
antara tingkat pendidikan dengan pemilihan kontrasepsi.

Universitas Muhammadiyah Palembang


61

Tabel 4.8 Pengaruh jumlah anak dan pemilihan kontrasepsi di Puskesmas Taman
bacaan
Pemilihan Kontrasepsi
Jumlah Hormonal Non Hormonal P
Anak f % f %

≤2 anak 83 68,03 5 4,09 0,011


≥ 3 anak 26 21,31 8 6,57
Jumlah 109 89,34 13 10,66

Berdasarkan Tabel 4.8, dapat dilihat bahwa, 83 responden yang


mempunyai ≤ 2 anak (68,03%) dan 26 responden yang mempunyai anak ≥ 3
(21,31%) memilih kontrasepsi hormonal dari 109 responden sedangkan 5
responden yang mempunyai ≤ 2 anak (4,09%) dan 8 responden yang mempunyai
≥ 3 anak (6,57%) memilih kontrasepsi non hormonal dari 13 responden.
Hasil uji statistik mendapatkan nilai p = 0,011 (p<0,05). Berdasarkan hasil
tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan atau pengaruh yang bermakna
antara jumlah anak dan pemilihan kontrasepsi.

5.1 Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data kemudian identifikasi data responden
penelitian menunjukan bahwa penggunaan kontrasepsi hormonal dengan 109
responden (89,3%) lebih banyak dibandingkan dengan kontrasepsi non hormonal
dengan 13 responden (10,7%) selama periode 2 november - 2 desember 2017 di
Puskesmas Taman Bacaan.
Jenis kontrasepsi suntik adalah yang paling banyak digunakan oleh akseptor
KB di Puskesmas Taman Bacaan periode 2 november - 2 desember 2017 dengn
87 responden (71,31%). Sediaan kontrasepsi suntik yang ada di Puskesmas
Taman Bacaan adalah depo provera dan Cycloferm. Hal ini mungkin dikarenakan
oleh berbagai alasan dari pengguna kontraspsi suntikan yang jika dengan

Universitas Muhammadiyah Palembang


62

pemakaian kontrasepsi suntikan efektivitasnya tinggi, pemakaiannya sederhana,


injeksi hanya 4 x setahun, reversibel dan cocok untuk ibu yang menyusui anak.
Selain itu wanita juga memperhatikan kemudahan metode yang lebih efektif
menunda atau menjarangkan kehamilan (Prawirohardjo, 2014).
Kontrasepsi kedua terbanyak penggunaannya adalah pil dengan 18
responden (14,75%). Kemungkinan kontrasepsi pil banyak digunakan karena
efektivitasnya dapat dipercya (daya guna teoritis 100%, daya guna pemakaian 95-
98%) frekuensi koitus tidak perlu diatur, siklus haid jadi teratur, keluhan keluhan
disminorea yang primer menjadi berkurang atau hilang sma sekali, dapat
digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin menggunakannya untuk
mencegah kehamilan, dapat digunakan sejak usia remaja hingga monopause,
mudah dihentikan setiap saat, kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil
dihentikan, dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat, membantu mencegah
kanker ovarium, kanker endometrium, kista ovarium, penyakit radang panggul,
kelainan jinak pada payudara, kelainan jinak pada payudara, dismenore, jerawat
(Prawiraharjo, 2011; Saifudin, 2006).
Penggunaan kontrasepsi kondom urutan ketiga dari penggunaan kontrasepsi
suntik dan pil yaitu 7 responden (5,73%). Prinsip kerja kondom ialah sebagai
perisai dari penis sewaktu melakukan koitus, dan mencegah pengumpulan sperma
dalam vagina namun kekurangan kontrasepsi kondom yaitu cara pemakaian yang
kurang efektif atau kegagalan memakai kondom yang menyebabkan bocor atau
robeknya kondom atau tumpahnya sperma disebabkan oleh tidak dikeluarkannya
penis segera setelah terjadinya ejakulasi.
Pengguna kontrasepsi IUD/AKDR berjumlah 5 responden (4,09%) selama
periode 2 november - 2 desember 2017 di Puskesmas Taman Bacaan.
Kemungkinan sedikit nya penggunaan kontrasepsi IUD/AKDR itu sendiri
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu takutnya akseptor karena terjadi
perdarahan pervaginam setelah dilakukan pemasangan IUD, rasa nyeri dan kejang
diperut, gangguan pada suami saat melakukan senggama karena benang IUD yang
keluar dari prosio uteri terlalu pendek atau terlalu panjang dan biaya pemasangan
yang cukup mahal.

Universitas Muhammadiyah Palembang


63

Pengguna kontrasepsi implant yaitu 3 responden (2,45%). Kemungkinan


pemilihan kontrasepsi implant yaitu daya guna tinggi, perlindungan jangka
panjang, pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan, tidak
memerlukan pemeriksaan dalam, tidak mengganggu dari kegiatan senggama,
tidak mengganggu ASI, dapat dilepas sesuai dengan kebutuhan namun sedikitnya
penggunaan kontrasepsi implant disebabkan membutuhkannnya tindakan
pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan, tidak dapat menghentikan
sendiri pemakaian kontrasepsi (Prawirohardjo, 2014).
Pengguna kontrasepsi tubektomi hanya berjumlah 2 responden (1,63%).
Kemungkinan sedikitnya pemilihan kontrasepsi ini dikarenakan alasan faktor
religious dan budaya yang menganggap sterilisasi dilarang ataupun faktor biaya
dari akseptor yang cukup mahal.

Hubungan umur dan pemilihan kontrasepsi


Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan umur,
Responden yang berumur ≤35 tahun yang memilih alat kontrasepsi hormonal
lebih besar persentasenya (50,81%) dibandingkan responden yang berumur >35
tahun yang memilih alat kontrasepsi hormonal (38,52%). Hal ini juga sesuai
dengan responden yang memilih non hormonal. Responden yang berumur ≤35
tahun yang memilih alat kontrasepsi non hormonal lebih besar persentasenya
(8,19%) dibandingkan responden yang berumur >35 tahun yang memilih alat
kontrasepsi non hormonal (2,48%). Hasil uji chi square menunjukkan nilai
p=0,275. Hal ini menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara
umur dengan pemilihan kontrasepsi.
Menurut teori umur dalam hubungannya dengan pemakaian KB berperan
sebagai faktor intrinsik. Umur berhubungan dengan struktur organ, fungsi faal,
komposisi biokimiawi termasuk sistem hormonal seorang wanita. Perbedaan
fungsi faal, komposisi biokimiawi, dan sistem hormonal menyebabkan perbedaan
pada kontrasepsi yang dibutuhakan. Masa reproduksi (kesuburan) dibagi menjadi
3, yaitu : Masa menunda kehamilan (kesuburan), Masa mengatur kesuburan
(menjarangkan), Masa mengakhiri kesuburan (tidak hamil lagi). Masa reproduksi
ini merupakan dasar dalam pola penggunaan kontrasepsi. Kematangan individu

Universitas Muhammadiyah Palembang


64

dapat dilihat langsung secara objektif dengan periode umur, sehingga berbagai
proses pengetahuan, keterampilan, terkait sejalan dengan bertambahnya umur
individu. Sedangkan dari hasil penelitian tidak ada hubungan yang bermakna
antara umur terhadap pemilihan kontrasepsi. Hal ini juga disebabkan karena
pemilihan alat kontrasepsi pada responden bukan karena faktor umur, namun
dikarenakan responden dalam penelitian ini memilih alat kontrsepsi berdasarkan
kenyamanan dan rasa aman terhadap alat kontrasepsi tersebut.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Marbun
(2010) dengan judul analisis perubahan metode alat kontrasepsi pada akseptor KB
di desa Cempa Kecamatan Hinai tahun 2010 dan penelitian Andrianasti Preputri
dkk (2014) dengan judul faktor yang berhubungan dengan pemilihan alat
kontrasepsi pada wanita diwilayah pesisir kecamatan bantaeng kabupaten
bantaeng, dalam penelitiannya juga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang
bermakna antara umur terhadap pemilihan kontrasepsi. Hasil penelitian ini tidak
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sugiarti di Kelurahan Cipari Kota
Tasikmalaya dengan judul faktor pasangan yang mempengaruhi pemilihan jenis
kontrasepsi pada wanita usia subur yang menyatakan ada hubungan antara umur
dengan pemilihan jenis kontrasepsi pada WUS.

Hubungan tingkat pendidikan dan pemilihan kontrasepsi


Responden yang berpendidikan kurang dan memilih kontrasepsi hormonal
persentasenya sebesar 22,13% dan responden yang berpendidikan cukup / tinggi
dan memilih kontrasepsi hormonal persentasenya sebesar 67,21%. Sedangkan
responden yang berpendidikan kurang dan memilih non hormonal persentasenya
sebesar 6,57% dan responden yang berpengetahuan cukup/ tinggi dan memilih
non hormonal sebesar 4,09%.hasil uji statistik dengan uji chi-square menunjukkan
nilai p = 0,014. Hal ini menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara
tingkat pendidikan dengan pemilihan kontrasepsi.
Penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang dimiliki
mempunyai pengaruh yang kuat pada perilaku reproduksi dan penggunaan alat
kontrasepsi. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi, misalnya hal-
hal yang menunjang kesehatan sehingga meningkatkan kualitas hidup. Oleh sebab

Universitas Muhammadiyah Palembang


65

itu, makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima
informasi sehingga makin banyak pengetahuan yang dimiliki dan semakin mudah
orang tersebut menerima informasi, sehingga seseorang lebih mudah menerima
terhadap nilai-nilai yang baru dikembangkan. Tingkat pendidikan sangat
mempengaruhi seseorang untuk bertindak dan mencari penyebab serta solusi
dalam hidupnya (Notoatmodjo, 2005).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arief di
Kabupaten Lampung Tengah dengan judul faktor yang berhubungan dengan
pemilihan jenis kontrasepsi di 
bidan praktek swasta bidan norma Desa gunung
sugih dan Henny (2009) yang berjudul hubungan pengetahuan dan sikap ibu
akseptor kontrasepsi non hormonal tentang kontrasepsi hormonal di desa telaga
sari kecamatan tanjung morowa yang menyatakan bahwa terdapat hubungan
bermakna antara pendidikan dengan pemilihan jenis kontrasepsi. Hasil penelitian
ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Andrianasti Preputri dkk
(2014) dengan judul faktor yang berhubungan dengan pemilihan alat kontrasepsi
pada wanita diwilayah pesisir kecamatan bantaeng kabupaten bantaeng, dalam
penelitiannya juga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna
antara pendidikan dengan pemilihan kontrasepsi.

Hubungan antara jumlah anak dan pemilihan kontrasepsi


Responden yang memiliki ≤ 2 anak dan memilih kontrasepsi hormonal
persentasenya sebesar 68,02%% dan responden yang memiliki ≥ 3 anak dan
memilih kontrasepsi hormonal persentasenya sebesar 21,31%. Sedangkan
responden yang memiliki ≤ 2 anak memilih non hormonal persentasenya sebesar
4,09% dan responden yang memiliki ≥ 3 anak dan memilih non hormonal sebesar
6,57%. hasil uji statistik dengan uji chi-square menunjukkan nilai p = 0,011. Hal
ini menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara jumlah anak dengan
pemilihan kontrasepsi.
Salah satu faktor yang menentukan keikutsertaan pasangan suami istri
dalam gerakan Keluarga Berencana adalah banyaknya anak yang dimilikinya.
Dimana diharapkan pada pasangan yang memiliki jumlah anak lebih banyak,
kemungkinan untuk memulai kontrasepsi lebih besar dibandingkan pada pasangan

Universitas Muhammadiyah Palembang


66

usia subur yang mempunyai anak lebih sedikit. BKKBN (2012) menerangkan
bahwa yang dimaksud dengan keluarga kecil adalah keluarga yang jumlah
anaknya paling banyak 2 (dua ) orang, sedangkan keluarga besar adalah suatu
keluarga dengan jumlah anak lebih dari dua ( > 2 ) orang anak.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh angoi
(2012) dengan judul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Kontrasepsi
dan aminatul maula, dkk yang berjudul faktor faktor yang berhubungan dengan
pemilihan alat kontrasepsi pada akseptor KB wanita di Tuwel yang menyatakan
bahwa terdapat hubungan bermakna antara jumlah anak dengan pemilihan jenis
kontrasepsi. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Anita lantan (2014) yang berjudul Faktor – Faktor Yang Berhubungan
Dengan Pemilihan Kontrasepsi Pasangan Usia Subur Di Puskesmas Damau
Kabupaten Talaud.

5.1 Keterbatasan Penelitian


Dalam melakukan penelitian ini terdapat kendala yang dialami oleh
peneliti yaitu tidak bersedianya responden ketika diwawancara dan beberapa
responden yang tidak masuk dalam kriteria inklusi.

Universitas Muhammadiyah Palembang


67

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Penelitian ini dilakukan desain penelitian deskriptif analitik dengan
pendekatan cross-sectional. Dari hasil penelitian dan pembahasan terdapat 122
sampel penelitian yang didapatkan di Puskesmas Taman Bacaan Palembang
selama periode 2 november - 2 desember 2017 diperoleh kesimpulan sebagai
berikut :
1. Akseptor KB dengan responden berjumlah 122 orang selama periode 2
november - 2 desember 2017 di Puskesmas Taman Bacaan dengan jumlah
kontrasepsi hormonal 118 responden (96,7%) yang terdiri dari kontrasepsi pil
18 responden (14,8%), suntik 97 responden (79,5%), implant 3 responden
(2,4%) dan kontrasepsi non hormonal 4 responden (3,3%) yang terdiri dari
kondom 1 responden (0,8%), IUD/AKDR (1,6%), dan tubektomi 1 responden
(0,8%).
2. Jumlah atau frekuensi pengguna kontrasepsi terbanyak berdasarkan umur
adalah 20-35 tahun dengan 68 responden (55,7%), pendidikan yaitu SMA
dengan 59 responden (48,4%), dan jumlah anak yaitu >3 anak dengan 62
responden (50,8%)
3. Berdasarkan hasil analisis dan identifikasi data dengan meggunakan SPSS
versi 1.6 dengan desain penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan
cross-sectional. tidak ada hubungan atau pengaruh antara umur dengan
pemilihan kontrasepsi; ada hubungan atau pengaruh antara pendidikan dan
pemilihan kontrasepsi; tidak ada hubungan atau pengaruh antara jumlah anak
dengan pemilihan kontrasepsi.

5.2 Saran
1. Bagi peneliti
Diharapkan Penelitian ini merupakan sarana bagi penulis sebagai bahan
latihan dalam rangka melaksanakan kegiatan penelitian secara langsung di
lapangan.

Universitas Muhammadiyah Palembang


68

2. Bagi institusi pendidikan


Diharapkan dapat memberikan tambahan bahan bacaan tentang metode
kontrasepsi bagi pengajar dan mahasiswa untuk proses belajar mengajar yang
lebih baik dilingkungan pendidikan.
3. Bagi keilmuan kebidanan
Diharapkan Penelitian ini dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk
menerapkan ilmu pengetahuan tentang ilmu kedokteran yang didapat selama
perkuliahan.
4. Bagi masyarakat
Diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu sumber
informasi dan wawasan tentang kontrasepsi bagi masyarakat.

Universitas Muhammadiyah Palembang