You are on page 1of 7

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


4.1.1 Laju Alir Udara Level 4 dan Suhu Level 2 pada Tray 3 dan Tray 4
Data pengamatan pada laju alir udara level 4 dan suhu level 2 pada tray 3 dan
tray 4 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.1 Data Pengeringan pada Laju Alir Udara Level 4 dan Suhu Level 2
Waktu Massa Sampel (Kg) Kadar Air (%) Laju Pengeringan
(Jam) (kg/m2.jam)
Tray 3 Tray 4 Tray 3 Tray 4 Tray 3 Tray 4
0 0,6 0,6 19,34 19,34 0 0
0,1667 0,5882 0,5972 17,71 18,95 0,9277 0,2176
0,3333 0,5859 0,5942 17,39 18,55 0,1844 0,2312
0,5 0,58357 0,5912 17,06 18,13 0,1883 0,2383
0,6667 0,58128 0,5882 16,73 17,71 0,1865 0,2423
0,8333 0,57923 0,5854 16,44 17,31 0,1682 0,2247
1 0,5773 0,5831 16,16 16,99 0,1595 0,1838
1,1667 0,57515 0,5809 15,84 16,68 0,1789 0,1811
1,3333 0,57461 0,579 15,76 16,4 0,0451 0,1553

4.1.2 Laju Alir Udara Level 4 dan Suhu Level 3 pada Tray 3 dan Tray 4
Tabel 4.2 Data Pengeringan Laju Alir Udara Level 4 dan Suhu Level 3
Data pengamatan pada laju alir udara level 4 dan suhu level 3 pada tray 3 dan
tray 4 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Waktu Massa Sampel (Kg) Kadar Air (%) Laju Pengeringan
(Jam) (kg/m2.jam)
Tray 3 Tray 4 Tray 3 Tray 4 Tray 3 Tray 4
0 0,6002 0,6001 19,34 19,34 0 0
0,1667 0,5952 0,5972 18,66 18,95 0,3861 0,2221
0,3333 0,5914 0,5942 18,14 18,54 0,2968 0,2313
0,5 0,588 0,5912 17,67 18,12 0,2703 0,2384
0,6667 0,5849 0,5882 17,22 17,7 0,2524 0,2424
0,8333 0,5819 0,5854 16,8 17,31 0,2412 0,2248
1 0,5796 0,5831 16,46 16,98 0,1943 0,1838
4.1.3 Laju Alir Udara Level 5 dan Suhu Level 2 Pada Tray 3 dan Tray 4
Data pengamatan pada laju alir udara level 5 dan suhu level 2 pada tray 3 dan
tray 4 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.3 Data Pengeringan Laju Alir Udara Level 5 dan Suhu Level 2
Waktu Massa Sampel (Kg) Kadar Air (%) Laju Pengeringan
(Jam) (kg/m2.jam)
Tray 3 Tray 4 Tray 3 Tray 4 Tray 3 Tray 4
0 0,6001 0,6 19,34 19,34 0 0
0,1667 0,5869 0,5972 17,52 18,95 1,0349 0,219
0,3333 0,5837 0,5942 17,07 18,55 0,2589 0,2312
0,5 0,5802 0,5912 16,57 18,13 0,2823 0,2383
0,6667 0,5761 0,5882 15,98 17,71 0,3414 0,2424
0,8333 0,5729 0,5854 15,52 17,31 0,2629 0,2247
1 0,5697 0,5831 15,04 16,99 0,2743 0,1838

4.1.4 Laju Alir Udara Level 5 dan Suhu Level 3 pada Tray 3 dan Tray 4
Data pengamatan pada laju alir udara level 5 dan suhu level 3 pada tray 3 dan
tray 4 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.4 Data Pengeringan Laju Alir Udara Level 5 dan Suhu Level 3
Waktu Massa Sampel (Kg) Kadar Air (%) Laju Pengeringan
(Jam) (kg/m2.jam)
Tray 3 Tray 4 Tray 3 Tray 4 Tray 3 Tray 4
0 0,6003 0,6001 19,34 19,34 0 0
0,1667 0,5865 0,5965 17,44 18,85 1,0807 0,2795
0,3333 0,5822 0,5922 16,83 18,27 0,3523 0,3318
0,5 0,5778 0,5889 16,19 17,81 0,3642 0,2607
0,6667 0,5746 0,5854 15,73 17,32 0,2624 0,2806
0,8333 0,5699 0,5826 15,04 16,91 0,3935 0,231
1 0,5697 0,5809 15 16,68 0,023 0,1348

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengaruh Level Suhu terhadap Laju Pengeringan dengan Level Laju Alir
Udara dan Tray yang Tetap
Percobaan ini dilakukan dengan pengeringan terhadap kacang tanah sebanyak
600 gram yang telah dicampurkan dengan air. Sebanyak 50 gram kacang tanah
ditimbang untuk dihitung kadar airnya dengan melakukan pemanasan di dalam oven
hingga beratnya konstan sehingga didapatkan kadar air kacang tanah sebesar 19,34%.
Pengeringan dilakukan hingga massa kacang tanah selama 60 menit pada tray 3
dan laju alir udara level 5 dengan variasi level suhu yaitu level 2 dan level 3. Hasil
percobaan ini dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

1.2

1
Laju Pengeringan (kg/m^2.jam)

0.8

0.6

0.4

0.2

0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
Waktu (Jam)

Suhu Level 2 Suhu Level 3

Gambar 4.1 Grafik laju pengeringan pada tray 3 saat laju alir udara level 5
dengan variasi level suhu.
Berdasarkan Gambar 4.1, laju pengeringan lebih maksimal terjadi ketika suhu
berada pada level 3 dibandingkan dengan suhu level 2 dan hal tersebut sesuai dengan
literatur di mana semakin tinggi suhu yang digunakan selama proses pengeringan maka
laju pengeringan akan semakin cepat. Jika laju pengeringan semakin cepat maka kadar
air di dalam sampel akan semakin cepat pula berkurang.
Dari grafik dapat dilihat mula-mula laju pengeringan tinggi karna banyaknya
kadar air yang dapat teruapkan dengan rentang waktu tertentu. Kemudian laju
pengeringan perlahan turun di mana pada saat itu kadar air di dalam sampel semakin
sedikit sehingga waktu pengeringan yang ditentukan kurang untuk melakukan
pengeringan pada sampel, dan pada akhirnya laju pengeringan semakin turun
dikarenakan laju pengeringan mendekati konstan.

4.2.2 Pengaruh Laju Alir Udara terhadap Laju Pengeringan pada Tray 3 dan
Tray 4 dengan Level Suhu yang Tetap
Pada percobaan ini dilakukan perlakuan yang sama dengan percobaan
sebelumnya, hal yang membedakan dalam percobaan ini adalah level suhu tetap yaitu
pada level 3 dan sampel diletakkan pada tray 3 dan tray 4, dengan variasi yang
digunakan adalah laju alir udara level 2 dan lajur alir udara level 3. Pengaruh laju alir
udara terhadap laju pengeringan yang terjadi selama percobaan dapat dilihat pada
grafik di bawah ini.

0.35
Laju Pengeringan (kg/m^2.jam)

0.3

0.25

0.2

0.15

0.1

0.05

0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
Waktu (Jam)

Airflow level 4, Tray 4 Airflow level 5, Tray 4

Gambar 4.2 Grafik laju pengeringan pada tray 4 saat suhu level 3 dengan variasi
level laju alir udara.
Berdasarkan gambar 4.2, dapat dilihat laju pengeringan lebih maksimal pada laju
alir udara level 5 dibandingkan level 4, laju pengeringan naik secara maksimal pada
awal percobaan kemudian turun secara perlahan pada waktu pengeringan 30 menit.
Hasil ini dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi laju udara yang diberikan selama
percobaan maka kadar air dalam sampel tersebut juga semakin cepat berkurang, maka
laju udara berbandingan terbalik dengan kadar air sampel yang dihasilkan.

4.2.3 Pengaruh Peletakan Posisi Tray terhadap Laju Pengeringan pada saat
Level Laju Udara dan Level Suhu Tetap
Pada percobaan ini dilakukan pengeringan terhadap sampel kacang tanah
dengan cara yang sama dan laju alir udara serta level suhu yang tetap yaitu laju alir
udara level 4 dan suhu pada level 3. Hal ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui
pengaruh peletakan posisi tray pada alat tray drier terhadap laju pengeringan. Hasil
yang diperoleh dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

0.45

0.4
Laju Pengeringan (kg/m^2.jam)

0.35

0.3

0.25

0.2

0.15

0.1

0.05

0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
Waktu (Jam)

Tray 3 Tray 4

Gambar 4.3 Grafik pengaruh peletakan posisi tray terhadap laju pengeringan
dengan level laju alir udara dan suhu yang tetap.
Berdasarkan gambar 4.3, dapat dilihat bahwa tray 3 menghasilkan laju
pengeringan lebih cepat dari pada tray 4. Mula-mula laju pengeringan mengalami
kenaikan dan pada menit ke-20 perlahan laju pengeringan mengalami penurunan.
Dibandingkan dengan tray 4 dimana pada awal pengeringan kurang baik dalam laju
pengeringannya karena tidak banyak air yang dapat teruapkan. Hal ini sama dengan
teori dimana perbandingan antara tray-tray pada alat tray drier terhadap laju
pengeringan tergantung terhadap laju udara yang diberikan oleh blower menghadap
kearah mana.
Pada alat percobaan yang digunakan, blower untuk memberikan laju udara
menghadap kearah tray 1 yang artinya laju pengeringan akan efisien diletakkan pada
tray 1 atau yang mendekati tray 1 dibandingkan dengan tray-tray lainnya. Maka dapat
disimpulkan semakin tinggi posisi tray maka memikili daya pengeringan lebih baik
dibandingan tray di bawahnya, oleh karena itu tray yang paling di atas posisinya akan
lebih cepat menghilangkan kadar air yang terdapat dalam sampel kacang tanah
daripada tray dibawahnya.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Laju udara, suhu, serta posisi peletakan tray sangat mempengaruhi laju
pengeringan.
2. Seiring dengan bertambahnya waktu pengeringan maka selama itu pula kadar air
mengalami penurunan.
3. Semakin tinggi laju pengeringan maka kadar air yang dihasilkan semakin rendah.

5.2 Saran
1. Dalam pengoperasian alat, praktikan harus berhati-hati dalam memasukkan
ataupun mengeluarkan tray di dalam alat tray drier karena dapat mengakibatkan
tersengat listrik dari alat.
2. Gunakan sarung tangan karet selama praktikum agar praktikan tidak tersengat
listrik karna karet berperan sebagai isolator.