You are on page 1of 7

KISI-KISI HUKES

(mhs focus belajar materi ini saja, semoga soal tidak diubah akademi)

Pengertian Hukum kesehatan (Health Law) menurut :

1. Van Der Mijn

Hukum Kesehatan diartikan sebagai hukum yang berhubungan langsung


dengan pemeliharaan kesehatan, meliputi: penerapan perangkat hukum perdata,
pidana dan tata usaha negara.

2. Leenen

Hukum kesehatan sebagai keseluruhan aktivitas yuridis dan peraturan hukum di


bidang kesehatan serta studi ilmiahnya.

Yang termasuk sumber hukum formal, adalah :


1. Undang-undang (UU);
2. Kebiasaan;
3. Yurisprudensi;
4. Traktat (Perjanjian antar negara);
5. Perjanjian;
6. Doktrin.

Yurisprudensi.
Adalah keputusan hakim/ pengadilan terhadap persoalan tertentu, yang menjadi
dasar bagi hakim-hakim yang lain dalam memutuskan perkara, sehingga keputusan
hakim itu menjadi keputusan hakim yang tetap.

Perjanjian.
Perjanjian merupakan salah satu sumber hukum karena perjanjian yang telah
dibuat oleh kedua belah pihak (para pihak) mengikat para pihak itu sebagai
undang-undang. Hal ini diatur dalam pasal 1338 ayat 1 KUH Perdata.

Doktrin.
Adalah pendapat para sarjana hukum terkemuka yang besar pengaruhnya bagi
pengadilan (hakim) dalam mengambil keputusannya. Doktrin untuk dapat menjadi
salah satu sumber hukum (formal) harus telah menjelma menjadi keputusan hakim.

Unsur-unsur, Ciri-ciri dan Sifat dari Hukum


1. Unsur-unsur Hukum.
a. peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam masyarakan
b. diadakan oleh badan resmi yang berwajib
c. bersifat memaksa
d. ada sanksi terhadap pelanggaran aturan
2. Ciri-ciri Hukum
a. berisi perintah dan larangan;
b. bersifat memaksa (harus ditaati).
3. Sifat Hukum
mengatur dan memaksa

Peran hukum
1. sebagai “as a tool of social control” dalam arti berperan sebagai alat untuk
mempertahankan stabilitas masyarakat, atau berperan untuk mempertahankan apa
yang tetap dan diterima di dalam masyarakat.
2. berperan sebagai “as a tool of social engineering” (sebagai alat untuk merubah
masyarakat), disini hukum berperan untuk mengadakan perubahan di dalam
masyarakat.
Prof. Mochtar Kusuma Atmadja, SH, menyatakan “sebagai sarana pembaharuan
masyarakat, hukum bertugas sebagai penyalur kegiatan manusia ke arah yang
dikehendaki oleh pembangunan”.

Tujuan hukum
a. Kepastian Hukum
b. Keadilan.

ASAS BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG (4 ASAS)


1. UU tidak berlaku surut;
Artinya UU itu mulai mempunyai kekuatan mengikat sejak tanggal diundangkan,
sehingga segala peristiwa dan perbuatan hukum yang dilakukan sebelum
berlakunya suatu peraturan perundang-undangan, tidak bisa dikenai aturan yang
baru diberlakukan.
2. Lex Posteriori Derogat Legi Priori.
Artinya UU yang berlaku kemudian membatalkan UU yang terdahulu, dalam hal
mengatur obyek yang sama.
Contoh :
UU No. 2 2002 mencabut UU Kepolisian Negara RI No. 28 tahun 1997.
3. Lex Superior derogat Legi Inferiori.
Artinya suatu peraturan yang derajatnya lebih rendah (tidak sederajat),
dikesampingkan oleh peraturan yang derajatnya lebih tinggi dalam hal mengatur
obyek yang sama dan saling bertentangan. Atau uu yang dibuat oleh penguasa
yang lebih tinggi, mempunyai derajat yang lebih tinggi.
4. Lex Specialis Derogat Legi Generali.
Artinya suatu peraturan perundang-undangan yang khusus, menyampingkan aturan
yang bersifat umum. Pasal 45 KUHP batasan umur anak adalah 16 tahun sedangkan
masalah anak juga diatur dalam UU No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan anak Pasal
1 ayat (1) batasannya adalah 18 tahun dan belum pernah kawin. (KUH Perdata Pasal
330 adalah 21 tahun)

Berakhirnya suatu uu
1. Jangka waktu berlakunya sudah lampau
2. Keadaan atau hal berlakunya uu itu sudah tidak ada lagi
3. UU itu dengan tegas dicabut oleh instansi yang membuat
4. Telah ada uu yang baru yang sisinya bertentangan dengan yang dulu berlaku

MACAM-MACAM NORMA (KAIDAH)


Norma / kaidah: ketentuan2 tentang baik buruk perilaku manusia dalam pergaulan
hidupnya. Atau pedoman/patokan atau ukuran untuk berperilaku atau bersikap tindak
dalam hidup.
Ada 4 norma / kaedah dalam masyarakat yaitu : norma kesopanan, norma kesusilaan,
norma agama dan norma hukum.
1. Norma / Kaidah Agama
Peraturan yang berisi perintah, larang dan anjuran yang datangnya dari Tuhan. Para
pemeluk memandang bahwa peraturan tsb sebagai tuntunan dan petunjuk ke arah
jalan yang benar. Isi norma agama tsb pada umumnya terdiri dari 3 hubungan yang
saling berkaitan:
a. Peraturan yang memuat hubungan antara manusia dengan Tuhan (secara
vertikal)
b. Peraturan yang memuat hubungan antara manusia dengan sesama manusia
(secara horisontal)
c. peraturan yang memuat hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya.
2. Kaidah kesopanan
Peraturan hidup yang timbul dari pergaulan sekelompok manusia. Peraturan itu
diikuti dan ditaati sebagai pedoman yang mengatur tingkah laku manusia terhadap
manusia yang ada disekitarnya. Norma kesopanan dapat dibentuk oleh masyarakat,
artinya masyarakat berdasarkan kesadaran dan kemauannya dapat menentukan
apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan seseorang dalam masyarakat.
Misalnya:
a. Orang muda harus menghormati orang yang lebih tua.
b. Murid harus menghargai dan mengormati gurunya.
c. Berilah tempat kepada terlebih dahulu kepada wanita di bis, dll. (terutama wanita
hamil, tua, membawa bayi).
Norma kesopanan tidak mempunyai lingkungan pengaruh yang luas dibanding
dengan norma kesusilaan dan agama. Artinya hanya berlaku bagi bagi masyarakat
tertentu saja dan bersifat khusus.
3. Kaidah kesusilaan
a. Peraturan hidup yang dianggap sebagai suara hati sanubari manusia. Oleh
karena itu agar manusia menjadi makhluk sempurna, maka salah satu upaya
yang dapat dilakukan adalah mematuhi dan mentaati peraturan yang bersumber
dari hati sanubari.
b. Hendaklah berlaku jujur
c. Hendaklah engkau berbuat baik sesamamu manusia
d. Jangan berbuat jahat.
4. Norma / Kaidah hukum:
Peraturan yang dibuat secara resmi oleh negara yang mengikat setiap orang dan
berlakunya dapat dipaksakan oleh aparat negara. misalnya: Pasal 362 KUHP,
barangsiapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagaian
kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum,
diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama 5 tahun.
Hukum Perdata, Pasal 1471 KUH Perdata “jual beli barang orang lain adalah batal”.
Maksudnya apabila terjadi perselisihan mengenai jual beli tersebut sebagaimana
dimaksud uu, maka negara dapat memaksakan pembatalan tsb agar pihak yang
berselisih bersedia mematuhi (mentaati).
Ketiga norma tersebut tidak mempunyai sanksi yang tegas.
a. Pelanggaran norma agama diancam dengan hukuman dari Tuhan, tapi
berlakunya diakhirat.
b. Pelanggaran norma kesopanan mengakibatkan celaan atau pengasingan dari
lingkungan masyarakat.
c. Pelanggaran norma kesusilaan mengakibatkan perasaan cemas dan kesal
kepada si pelanggar.
AZAS HUKUM KESEHATAN
1. Asas perikemanusiaan yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Bahwa penyelenggaraan kesehatan harus dilandasi atas perikemanusiaan yang
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan tidak membeda-bedakan
golongan, agama, dan bangsa;
2. Asas manfaat.
Memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemanusiaan dan perikehidupan
yang sehat bagi setiap warga negara;
3. Asas usaha bersama dan kekeluargaan.
Berarti bahwa penyelenggaraan kesehatan dilaksanakan melalui kegiatan yang
dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat dan dijiwai oleh semangat kekeluargaan;
4. Asas adil dan merata.
Berarti bahwa penyelenggaraan kesehatan harus dapat memberikan pelayanan
yang adil dan merata kepada segenap lapisan masyarakat dengan biaya yang
terjangkau oleh masyarakat;
5. Asas perikehidupan dalam keseimbangan.
Berarti bahwa penyelenggaraan kesehatan harus dilaksanakan seimbang antara
kepentingan individu dan masyarakat, antara fisik dan mental, antara materiel dan
spiritual;
6. Asas kepercayaan pada kemampuan dan kekuatan sendiri.
Berarti bahwa penyelenggaraan kesehatan harus berlandaskan pada kepercayaan
akan kemampuan dan kekuatan sendiri dengan memanfaatkan potensi nasional
seluas-luasnya.
Upaya kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi
masyarakat meliputi :
1. Upaya peningkatan kesehatan (promotif)
2. Upaya pencegahan penyakit ( preventif)
3. Upaya penyembuhan penyakit (kuratif)
4. Upaya pemulihan kesehatan (rehabilitatif)

Hal penting adanya UU No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan adalah :


1. Adanya payung hukum bagi tindakan aborsi atas indikasi medic
2. Penyembuhan dan pemulihan kesehatan dengan transplantasi
3. Dimungkinkannya melakukan upaya kehamilan di luar cara alami
4. Diakuinya hak pasien untuk menentukan nasibnya sendiri.
5. Dibolehkannya melakukan pengobatan tradisional.
6. Dibentuknya majelis disiplin tenaga kesehatan.

Sebenamya pola dasar hubungan dokter dan pasien, terutama berdasarkan keadaan
sosial budaya dan penyakit pasien dapat dibedakan dalam tiga pola hubungan, yaitu:
a. Activity – passivity.
Pola hubungan orangtua-anak seperti ini merupakan pola klasik sejak profesi
kedokteran mulai mengenal kode etik, abad ke 5 Sebelum Masehi (SM). Di sini
dokter seolah-olah dapat sepenuhnya melaksanakan ilmunya tanpa campur
tangan pasien. Biasanya hubungan ini berlaku pada pasien yang keselamatan
jiwanya terancam, atau sedang tidak sadar, atau menderita gangguan mental
berat.
b. Guidance – Cooperation.
Hubungan membimbing-kerjasama, seperti halnya orang tua dengan remaja.
Pola ini ditemukan bila keadaan pasien tidak terlalu berat misalnya penyakit
infeksi baru atau penyakit akut lainnya. Meskipun sakit, pasien tetap sadar dan
memiliki perasaan serta kemauan sendiri. la berusaha mencari pertolongan
pengobatan dan bersedia bekerjasama. Walaupun dokter rnengetahui lebih
banyak, ia tidak semata-mata menjalankan kekuasaan, namun mengharapkan
kerjasama pasien yang diwujudkan dengan menuruti nasihat atau anjuran dokter.
c. Mutual participation.
Filosofi pola ini berdasarkan pemikiran bahwa setiap manusia memiliki martabat
dan hak yang sama. Pola ini terjadi pada mereka yang ingin memelihara
kesehatannya seperti medical check up atau pada pasien penyakit kronis.
Pasien secara sadar dan aktif berperan dalam pengobatan terhadap dirinya. Hal
ini tidak dapat diterapkan pada pasien dengan latar belakang pendidikan dan
sosial yang rendah, juga pada anak atau pasien dengan gangguan mental
tertentu.

Dalam ilmu hukum dikenal dua jenis perjanjian, yaitu :


1) Resultaats verbintenis, yang berdasarkan hasil kerja, artinya suatu perjanjian yang
akan memberikan resultaat atau hasil yang nyata sesuai dengan apa yang
diperjanjikan.
2) Inspannings verbintenis, yang berdasarkan usaha yang maksimal (perjanjian upaya
atau usaha maksimal), artinya kedua belah pihak berjanji atau sepakat untuk
berdaya upaya secara maksimal untuk mewujudkan apa yang diperjanjikan

Untuk sahnya perjanjian terapeutik, sebagaimana lazimnya ketentuan mengenai


perjanjian, maka harus dipenuhi syarat-syarat (unsur-unsur) yang ditentukan dalam
Pasal 1320 K U H Perdata, sebagai berikut:
1) Kesepakatan dari pihak-pihak yang bersangkutan,
2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan,
3) Mengenai Suatu hal tertentu, dan
4) Suatu sebab yang halal/diperbolehkan.

Dalam kesepakatan harus memenujhi kriteria Pasal 1321 KUH Perdata, “tiada
sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan, atau diperolehnya
dengan paksaan atau penipuan”.
Jadi secara yuridis bahwa yang dimaksud dengan kesepakatan adalah tidak adanya
kekhilafan, paksaan, atau penipuan dari para pihak yang mengikatkan dirinya.
Sepakat ini merupakan persetujuan yang dilakukan oleh kedua belah pihak, dimana
kedua belah pihak mempunyai persesuaian kehendak yang dalam transaksi
terapetik pihak pasien setuju untuk diobati oleh dokter, dan dokter pun setuju untuk
mengobati pasiennya.
KESALAHAN dan KELALAIAN DALAM PERJANJIAN TERAPETIK
Pengertian kesalahan diartikan secara umum, yaitu perbuatan yang secara objektif
tidak patut dilakukan.
kesalahan dapat terjadi akibat :
1. kurangnya pengetahuan,
2. kurangnya pengalaman,
3. kurangnya pengertian, serta
4. mengabaikan suatu perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan.

Ajaran mengenai wanprestasi atau cedera janji dalam hukum perdata dikatakan, bahwa
seseorang dianggap melakukan wanprestasi apabila (Subekti, 1985 : 45):
1) tidak melakukan apa yang disepakati untuk dilakukan;
2) melakukan apa yang dijanjikan, tetapi terlambat;
3) melakukan apa yang dijanjikan, tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan;
4) melakukan sesuatu yang menurut hakikat perjanjian tidak boleh dilakukan.