You are on page 1of 3

Pemeriksaan Luar dan Pemeriksaan Dalam pada Infinticide

Pemeriksaan Luar
Pemeriksaan luar, seperti biasa sangat penting. Sangat penting untuk menilai tingkat
pembusukan, dan bagaimana terjadinya pembusukan, hampir tidak mungkin untuk menentukan
apakah bayi lahir hidup atau tidak. Pembusukan harus dibedakan dari maserasi intrauterin,
karena maserasi merupakan bukti pasti bayi lahir dalam keadaan mati.
 Pada bayi yang lahir hidup, pada pemeriksaan luar tampak dada bulat seperti tong,
biasanya tali pusat masih lengket ke perut, berkilat dan licin. Kadang-kadang plasenta
juga masih bersatu dengan tali pusat. Warna kulit bayi kemerahan.
 Adanya tanda-tanda mati lemas: sianosis pada bibir dan ujung-ujung jari, bintik-bintik
perdarahan pada selaput biji mata dan selaput kelopak mata serta jaringan longgar
lainnya, lebam mayat yang lebih gelap dan luas (wajah, leher, belakang tubuh dan
tungkai), busa halus berwarna putih atau putih kemerahan yang keluar dari lubang hidung
dan atau mulut serta tanda-tanda bendungan pada alat-alat dalam.
 Keadaan mulut dan sekitarnya: adanya luka lecet tekan dibibir atau sekitarnya yang tidak
jarang berbentuk bulan sabit, memar pada bibir bagian dalam yang berhadapan dengan
gusi, serta adanya benda-benda asing seperti gumpalan kertas koran atau kain yang
mengisi rongga mulut. Memar pada lidah kiri memberikan petunjuk akibat
pembengkapan.
 Keadaan di daerah leher dan sekitarnya: adanya luka lecet tekan yang melingkari
sebagian atau seluruh bagian leher yang merupakan jejas jerat sebagai akibat tekanan
yang ditimbulkan oleh alat penjerat yang dipergunakan, adanya luka-luka lecet kecil-
kecil yang seringkali berbentuk bulan sabit yang diakibatkan oleh tekanan dari ujung
kuku si pencekik, adanya luka-luka lecet dan memar yang tidak beraturan yang dapat
terjadi akibat tekanan yang ditimbulkan oleh ujung-ujung jari si-pencekik.
 Adanya luka-luka tusuk atau luka sayat pada daerah leher, mulut atau bagian tubuh
lainnya, dimana menurut literatur ada satu metode yang dapat dikatakan khas yaitu
tusukan benda tajam pada langit-langit sampai menembus ke rongga tengkorak yang
dikenal dengan nama “tusukan bidadari”.
 Adanya tanda-tanda terendam seperti: tubuh yang basah dan berlumpur, telapak tangan
dan telapak kaki yang pucat dan keriput (washer woman`s hand), kulit yang berbintil-
bintil (cutis anserina) seperti kulit angsa, serta adanya benda-benda asing terutama di
dalam saluran pernafasan (trakea), yang dapat berbentuk pasir, lumpur, tumbuhan air atau
binatang air.

Pemeriksaan Dalam

Pada pemeriksaan mayat bayi yang baru dilahirkan, perlu pertama-tama ditentukan
apakah bayi lahir hidup atau lahir mati. Seorang bayi dinyatakan lahir hidup bila pada
pemeriksaan mayatnya dapat dibuktikan bahwa bayi telah dan pernah bernafas. Bayi yang telah
bernafas memberikan ciri:
 Rongga dada yang telah mengembang. Pada pemeriksaan didapati diafragma yang
letaknya rendah, setinggi iga ke 5 atau 6.
 Paru telah mengembang. Pada bayi yang belum bernafas, kedua paru masih
menguncup dan terletak tinggi dalam rongga dada.
 Uji apung paru. Uji apung paru dilakukan untuk membuktikan telah terdapatnya
udara dalam alveoli paru. Setelah alat leher diangkat, lakukanlah pengikatan setinggi
trakea. Hindari sebanyak mungkin manipulasi terhadap jaringan paru. Alat rongga
dada kemudian dikeluarkan seluruhnya untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam air.
Perhatikan apakah kedua paru terapung. Pemeriksaan kemudian dilanjutkan dengan
mengapungkan paru kanan dan paru kiri secara tersendiri. Lakukanlah pemisahan
lobus paru, apungkan kembali ke dalam air. Selanjutnya buatlah 5 potongan kecil (k.l
5mm x 10mm x 10mm) dari masing-masing lobus dan apungkan kembali.
 Pemeriksaan mikroskopik memberikan gambaran paru yang telah bernafas.

Cara melakukan tes apung paru adalah sebagai berikut:7


 Keluarkan paru-paru dengan mengangkatnya mulai dari trakea sekalian dengan
jantung dan timus. Kesemuanya ditaruh dalam baskom berisi air. Bila terapung
artinya paru-paru telah terisi udara pernafasan.
 Untuk memeriksa lebih jauh, pisahkan paru-paru dari jantung dan timus, dan kedua
belah paru juga dipisahkan. Bila masih terapung, potong masing-masing paru-paru
menjadi 12 – 20 potongan-potongan kecil. Bagian-bagian ini diapungkan lagi. Bagian
kecil paru ini ditekan dipencet dengan jari di bawah air. Bila telah bernafas,
gelembung udara akan terlihat dalam air. Bila masih mengapung, bagian kecil paru-
paru ditaruh di antara 2 lapis kertas dan dipijak dengan berat badan. Bila masih
mengapung, itu menunjukkan bayi telah bernafas. Sedangkan udara pembusukan
akan keluar dengan penekanan seperti ini, jadi ia akan tenggelam.

Ada beberapa keadaan dimana tes ini diragukan hasilnya yaitu;6


1. Paru-paru sudah berkembang, namun dalam pemeriksaan ternyata tenggelam
 Penyakit: pada edema paru atau pemadatan karena bronkopneumonia atau lues
(sifilis). Tetapi biasanya jarang melibatkan kedua bagian paru atau seluruh jaringan
paru. Sebagian tetap akan mengapung. Lagi pula pemeriksaan ini secara patologi
anatomi akan menegaskan adanya penyakit tersebut.
 Atelektasis paru. Biasanya jarang terjadi.
2. Paru-paru yang belum berfungsi (bayi belum bernafas), tetapi pada pemeriksaan
mengapung
 Telah terjadi proses pembusukan. Ini mudah dikenal karena proses pembusukan pada
daerah lain juga didapati.
 Dimasukkan udara secara artifisial. Susah melakukannya, apalagi oleh orang awam.