You are on page 1of 11

2.

NEGARA HUKUM DEMOKRATIS


Dalam system demokrasi, penyelenggraan Negara itu harus bertumpu pada partisipasi dan
kepentingan rakyat. Implementasi Negara hukum itu harus ditopang dengan sistem demokrasi.
Hubungan antara Negara hukum dan demiokrasi tidak dapat dipisahkan. Denokrasi tanpa
pengaturan hukum akan kehilangan bentuk dan arah, sedangkan hukum tanpa demokrasi akan
kehilangan makna. Dengan demikian Negara hukum yang bertopang pada system demokrasi
dapat disebut sebagai Negara hukum demokratis( democratische rechtsstaat),
A. PRINSIP-PRINSIP NEGARA HUKUM
1) Asas legalitas
2) Perlindungan hak-hak asasi,
3) Pemerintah terikat pada hokum,
4) Monopoli paksaan pemerintah untuk menjamin penegakan hokum,
5) Pengawasan oleh hakimyang merdeka.
B. PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI
1) Perwkilan politik
2) Pertanggungjawaban politik
3) Pemencaran kewenagan,
4) Pengawasan dan control,
5) kejujuran dan keterbukaan pemerintahan untuk umum,
6) Rakyat diberi kemungkinan untuk mengajukan keberatan
Dengan rumusan yang hampir sama, H.D. van Wijk/ Willem Konijnenbelt menyebutkan
prinsip-prinsip demokrasi sebagai berikut:
A. PRINSIP-PRINSIP RECHTSSTAAT
1) pemerintahan berdasarkan undang-undang
2) hak-hak asasi
3) pembagian kekuasaan
4) pengawasan lembaga kehakiman
B. PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI
1) keputusan-keputusan penting, yaitu undang-undang,
2) hasil dari pemilihan umum diarahkan untuk mengisi dewan perwakilan rakyat dan
untuk pengisian pejabat-pejabat pemerintah.
3) keterbukaan pemerintah,
4) siapapun yang memiliki kepentingan yang (dilanggar) oleh tindakan penguasa, (harus)
diberi kesempatan untuk membela kepentingannya.
5) setiap keputusan harus melindungi berbagai kepentingan minoritas, dan harus
seminimal mungkin menghindri ketidakbenaran dan kekeliruan.
3. TUGAS-TUGAS PEMERINTAH DALAM NEGARA HUKUM MODERN
(WELVAARTSTAAT)
.
Menurut Presthus tugas Negara itu meliputi dua hal, yaitu:
a. police making , ialah penentuan haluan Negara,
b. task executing , yaitu pelaksanaan tugas menurut haluan yang telah ditetapkann oleh Negara.
Pembagian ini sam dengan yang dilakukan oleh E.Utrevht, yang mengikutiAM.Donner, yaitu
pertama berupa lapangan yang menentukan tujuan atau tugas, dan yang kedua , lapangan
merealisasi tujuan atau tugas yang telah di tentukan itu.
Pembagian tugas Negara menjadi dua bagian ini dikemukakan pula oleh Hans Kelsen, yaitu:
a. politik sebagai etik, yakni memilih tujuan-tujuan kemasyarakatan, dan
b. politik sebagai tehnik, yakni bagaiman merealisasikan tujuan-tujuan tersebut.
Hal senada di kemukakan oleh logemann, yang membagi tugas Negara menjadi dua yaitu: a).
menentukan tujuan yang tepat, b), melaksanakan tujuan tersebut secara tepat pula.
Berbeda dengan pembagian Negara menjadi dua tersebut, van vollenhoven membagi empat,
yaitu:
a. membuat peraturan dalam bentuk undang-undan baik dalam arti formal maupun
materiil yang di sebut regeling,
b. pemerintahan dalam arti secara nyata memelihar kepentingan umum yang
disebut bestuur,
c. penyelesaian sengketa dalam peradilan perdata yang disebut yustitiusi,
d. memmpertahankan ketertiban umum baik secara preventif maupun represif, di
dalamnya termasuk peradilan pidana yang di sebut politie.
Sementara itu Lemaire membagi tugas Negara dala lima jenis yaitu: a) perundang-undanagan, b)
pelaksanaan yaitu pembuatan aturan-aturan hokum oleh penguasa sendiri, c) pemeintahan, d)
kepolisian, dan e) pengadilan.
Seiring dengan perkembangan kenegaraan dan pemerintahan, ajaran Negara hukum yang
kini di anut oleh Negara-negara di dunia khususnya setelah perang dunia kedua adalah Negara
kesejahteraan (welfare state). Konsep Negara ini muncul sebagai reaksi atas kegagalan
konsep legal state atau Negara penjaga malam. Dalam konsepsi legal state tedapat
prinsipstaatsonthouding atau pembatasan peranan Negara dan pemerintah dalam bidang politik
yang bertumpu pada dalil “ the least government is the best government”, dan terdapat prinsip
“laisez faire, laissez aller” dalam bidang ekonomiyang melarang Negara dan pemerintah
mencampuri kehidupan ekonomi masyarakat (staatsbemoeienis). Akibat pembatasan ini
pemerintah atau administrasi Negara menjadi pasif, sehingga sering, disebut Negara penjaga
malam ( nachtwakerstaat atau nachtwachtesstaat).
Kegagalan implementasi nachtwakerstaat kemudian muncul ggasan yang menempatkan
pemerintah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya, yaitu welfare
state. Ciri utama Negara ini adalah munculnya kewajiban pemerintah untuk mewujudkan
kesejahteraan umum bagi warganya. Dengan kata lain, ajaran welfare state merupakan bentuk
konkrit dari peralihan prinsip staatsonthouding, yang membatasi peran Negara dan pemerintah
untuk mencampuri kehidupan ekonomi dan social masyarakat, menjadi staatsbemoeienis, yang
menghendaki Negara dan pemerintah terlibat aktif dalam kehidupan ekonomi dan social
masyarakat, sebagai langkah untuk mewujudkan kesejahteraan umum, disamping menjaga
ketertiban dan keamanan (rust en orde).
Pemberian kewenangan kepada administrasi Negara untuk bertindak atas inisiatif sendiri
itu lazim di kenal dengan istilah freies Ermessen atau discretionary power, yaitu suatu istilah
yang di dalamnya mengandung kewajiban dan kekuasaan yang luas. Kewajiban adalah tindakan
yang harus dilakukan, sedangkan kekuasaan yang luas itu menyiratkan adanya kebebasan
memilih, melakukan atau tidak melakukan tindakan. Dalam praktik, kewajiban dn kekuasaan
berkaitan erat.
Menurut E.Utecht, kekuasaan administrasi Negara dalam bidang legislasi ini
meliputi:
a. kewenangan untuk membuat peraturan atas inisiatif sendiri, terutama dalam
menghadapi soal-soal genting yang belum ada peraturannya, tanpa bergantung pada
pembuat undang-undang pusat.
b. Kekuasaan administrasi Negara untuk membuat peraturan atas dasar delegasi.
c. Droit function, yaitu kekuasaan administrasi Negara untuk menafsirkan sendiri
berbagai peraturan,

4. NEGARA HUKUM DAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA


Negara hukum menurut F.R.Bothlingk adalah Negara dimana kebebasan kehendak
pemegang kekuasaan di batasi oleh ketentuan hukum
A. Hamid S. Attamimi, dengan mengutip Burkens, mengatakan bahwa Negara hukum secara
sederhana adalah Negara yang menempatkan hukum sebagai dasar kekuasaan Negara dan
penyelenggaraan kekuasan tersebut dalam segala bentuknya dilakukan dibawah kekuasaan
hukum. Dalam Negara hukum, segala sesuatu harus dilakukan menurut hokum. Negra hukum
menentukan bahwa pemerinth harus tunduk pada hukum, bukannya hukum yang harus tunduk
pada pemerintah.
Dalam Negara Hukum, hukum di tempatkan sebagain aturan main dalam
penyelenggaraan kenegaraan, pemerintahan, dan kemsyarakatan, sementara tujuan Hukum itu
sendiri antara lain diletakkan untuk menata masyarakat yang damai, adil, dan bermakna. Artinya
sasaran dari Negara Hukum adalah terciptanya kegiatan kenegaraan, pemerintahan, dan
kemasyarakatan yang bertumpu pada keadilan, kedamaian, dan kemanfaatan atau kebermaknaan.
Dalam Negara Hukum, eksistensi hukum di jadikan sebagai instrument dalam menata kehidupan
kenegaraan, pemerintahan, dan kemasyarakatan.
Lebih lanjut J.B.J.M. ten Berge mengatakan bahwa Hukum administrasi Negara berkaitan
erat dengan kekuasaan dan kegiatan penguasa. Karena kekuasaan dan kegiatan penguasa itu
dilaksanakan, lahirlah hukum administrasi Negara.
Dengan demikian, keberadaan hukum administrasi Negara itu muncul karena adanya
penyelenggaran kekuasaan Negara dan pemerintahan dalam suatu Negara hukum, yang menuntut
dan menghendaki penyelenggaraan tugas-tugas kenegaraan. Pemerintahan, dan kemasyarakatan
yang berdasarkan atas Hukum.

KEDUDUKAN, KEWENANGAN, DAN


TINDAKAN PEMERINTAH

A. Kedudukan Hukum (Rechtspositie) Pemerintah


. Ulpianus : hokum public adalahhukum yang berkenaan dengan kesejahteraan Negara Romawi ,
sedangkan hokum privat adalah : hukumyang mengatur hubungan kekeluargaan.
Dalam bentuk kenyataan social nya, Negara adalah : organisasai yang berkenaan dengan
berbagai fungsi . Pengertian Fungsi adalah : lingkungan kerja yang terperinci dalam
hubungannya secara keseluruhan. Fungsi-fungsi ini disebut jabatan. Negara adalah organisasi
jabatan.
Menurut Bagir manan, jabatan adalah lingkungan pekerjaan tetap yang berisi fungsi-fungsi
tertentu yang secara keseluruhan mencerminkan tujuan dan tata kerja suatu organisasi.
1. Kedudukan Pemerintah Dalam Hukum Publik
Bahwa dalam perspektif hukum publik, Negara adalah organisasi jabatan. Diantara jabatan-
jabatan kenegaraan ini ada jabatan pemerintahan. Di dalam hukum mengenai badan hukum kita
mengenal perbedaan antara badan hukum dan organ-organnya. Badan hukum adalah pendukung
hak-hak kebendaan (harta kekayaan).

a. organ pemerintah menjalankan wewenang atas namadan tanggung jawab sendiri,


b. pelaksanaan wewenang dalam rangka menjaga dan mempertahankan norma hokum
administrasi,
c. disamping pihak tergugat , organ pemerintah juga dapat tampil menjadi pihak yang tidak puas,
artinya sebagai penggugat.
d. Pada prinsipnya pemerintah tidak memiliki harta kekayaan sendiri.

Wali kota adalah organ-organ dari badan umum “kabupaten” berdasarkan aturan hokum,
badan umum inilah yang dapat memiliki harta kekayaan , bukan organ pemerintahannya.
2. Kedudukan Pemerintah dalam Hukum Privat
Dalam perspektif hukum perdata disebut sebagai badan hukum public. Badan hukum
(rechtspersoon) adalah personen, kumpulan orang, yaitu semua yang di dalam kehidupan
masyarakat dengan beberapa perkecualian sesuai dengan ketentuan undang-undang dapat
bertindak sebagaimana manusia, yang memiliki hak-hak dan kewenangan-kewenangan, seperti
kumpulan orang (dalam suatu badan hukum), perseroan terbatas, perusahaan perkapalan,
perhimpunan (sukarela), dan sebagainya.
Bila berdasarkan hukum publik Negara, provinsi, dan kabupaten adalah organisasi jabatan
atau kumpulan dari organ-organ kenegaraan dan pemerintahan, maka berdasarkan hukum
perdata Negara, provinsi, dan kabupaten adalah kumpulan dari badan-badan hukum yang
tindakan hukumnya dijalankan oleh pemerintah.
Keberadaan pemerintah yang secara teoritis memiliki dua fungsi, yaitu sebagai wakil dari
jabatan dan badan hukum, yang masing-masing diatur dan tunduk pada hukum yang berbeda,
hukum publik dan hukum privat, sering membingungkan bagi kebanyakan orang apalagi bagi
orang awam.

B. Kewengan Pemerintah
a. Wewenang Pemerintahan
Setiap penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan harus memiliki legitimitas, yaitu
kewennagan yang diberikan oleh undang-undang. Dengan demikian, substansi asas legalitas
adalah wewenang, yakni het vermogen tot het verrichtenn van bepaalde rechtshandeligen, yaitu
kemampuan untuk melakukan tindakan-tindakan hukum tertentu.
Mengenai wewenang itu H.D Stout mengatakan bahwa (wewenang merupakan pengertian
yang berasal dari hukum organisasi pemerintahan, yang dapat dijelaskan sebagai keseluruhan
aturan-aturan yang berkenaan dengan perolehan penggunaan wewenang pemerintahan oleh
subjek hukum public di dalam hubungan hukum public).
Kewenangan memiliki kedudukan penting dalam kajian hukum tata Negara dan hukum
administrasi. Dalam Negara hukum, wewenang pemerintahan itu berasal dari peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

1. Sumber dan Cara Memperoleh Wewenang Pemerintahan


Pilar utama Negara hukum, yaitu asas legalitas (legaliteitsbeginsel atau het beginsel van
wetmatigheid van bestuur), secara teoritis, kewenangan yang bersumber dari peraturan
perundang-undangan tersebut diperoleh melalui tiga cara yaitu atribusi, delegasi, dan mandat.
Legislator yang kompeten untuk memberikan atribusi wewenang pemerintahan itu dibedakan
antara :
a) Yang berkedudukan sebagai original legislator
b) Yang bertindak sebagai delegated legislator
Pada delegasi terjadilah perlimpahan suatu wewenang yang telah ada oleh badan atau jabatan
tata usaha Negara yang telah memperoleh wewenang pemerintahan secara atributif kepada badan
atau jabatan tata usha Negara lainnya. Jadi suatu delegasi selalu didahului oleh adanya suatu
atribusi wewenang.

C. Tindakan Pemerintahan
1. Pengertian Tindakan Pemerintahan
Tindakan hukum menurut R.J.H.M. Huisman, tindakan-tindakan yang berdasarkan sifatnya
dapat menimbulkan akibat hukum yang berdasarkan sifatnya dapat menimbulkan akibat hukum
tertentu, atau. ( tindakan hukum adalah tindakan yang dimaksudkan untuk menciptakan hak dan
kewajiban). Istilah tindakan hukum ini semula berasal dari jaaran hukum perdata .Menurut H.J.
Romeijin, ( tindakan hukum administasi merupakan suatu pernyataan kehendak yang muncul
dari organ administrasi dalam keadaan khusus, dimaksudkan untuk menimbulkan akibat hukum
dalam bidang hukum administrasi).
2. Unsur, Macam-macam, dan Karakteristik Tindakan Hukum Pemerintahan
a. Unsur –unsur Tindakan Hukum Pemerintahan
Tindakan hukum pemerintahan adalah tindakan –tindakan yang dilakukan oleh organ
pemerintahan atau administrasi Negara yang dimaksudkan untuk menimbulkan akibat-akibat
hukum dalam bidang pemerintahan atau administrasi Negara.
b. Macam-macam Tindakan Hukum Pemerintahan
Ada dua macam tindakan hukum, yaitu tindakan-tindakna hukum public
(publiekrechtshanddeligen) dan tindakan hukum privat (privaatrechtshandeligen).

INSTRUMEN PEMERINTAHAN
A. Pengertian Instrumen Pemerintahan
Instrument pemerintahan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah alat—alat atau sarana-
sarana yang digunakan oleh pemerintah atau administrasi Negara dalam melaksanakan tugas-
tugasnya.
Disamping itu, pemerintah juga menggunakan berbagai instrument yuridis dalam
menjalankan kegiatan mengatur dan menjalankan urusan pemerintahan dan kemasyarakatan,
seperti peraturan perundang-undangan, keputusan-keputusan, peraturan kebijaksanaan, perizinan,
instrument hukum keperdataan, dan sebagainya.

B. Peraturan Perundang-Undangan
Peraturan merupakan hukum yang in abstracto atau genralnorm yang sifatnya mengikat
umum (berlaku umum) dan tugasnya adalah mengatur hal-hal yang bersifat umum (general).
Secara teoritis, istilah perundang-undangan (legislation wetgeving atau gesetzgebung)
mempunyai dua pengertian, yaitu sebagai berikut :
1. Perundang-undangan merupakan proses pembentukan/ proses membentuk peraturan-peraturan
Negara.
2. Perundang-undangan adalah segala peraturan Negara, yang merupakan hasil pembentukan
peraturan-peraturan.
Berdasarkan penjelasan pasal 1 angka 2 UU No. 5 Tahun 1986 tentang peradilan tata
Usaha Negara, peraturan perundang-undangan adalah semua peraturan yang bersifat mengikat
secara umum yang dikeluarkan oleh badan perwakilan rakyat bersama pemerintah, baik
ditingkat pusat maupun di tingkat daerah, serta semua keputusan badan atau pejabat tata usaha
Negara, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah, yang juga mengikat umum. Menurut
pasal 1 angka 2 UU No. 10 tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundang-udangan,
yang dimaksud dengan peraturan perundang-undnagan adalah peraturan tertulis yang dibentuk
oleh lembaga Negara dan pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum.

C. KePUTUSAN Tata Usaha Negara


1. Pengertian Keputusan
Keputusan tata saha Negara pertama kali diperkenalkan oleh seorang sarjana Jerman, Otto
Meyer, dengan istilah Verwaltungsakt. Istilah ini diperkenalkan di negeri Belanda dengan nama
Beshkking.
Di Indonesia istilah beschkking diperkenalkan pertamakali oleh WF. Prins. Istilah
“ beschkking” sudah sangat tua dan dari segi kebahasaan digunakan dalam berbagai arti.
Keputusan merupakan keputusan pemerintahan untuk hal yang bersifat konkret dan individual (
tidak ditujukan untuk umum) dan sejak dulu telah dijadikan instrument yuridis pemerintahan
yang utama.
2. unsure-unsur keputusan
Ada beberapa unsur yang terdapat dlm beschikking (keputusan) , yaitu: pernyataan kehendak
sepihak secara tertulis, dikeluarkan oleh organ pemerintahan, didasarkan pd kewenangan hukum
yg bersifat public, ditujukan untuk hal khusus atau peristiwa konkret atau individual, dgn mksd
untuk mnimbulkan akibat hukum dlm bidang administrasi, seseorg atau badan hukum perdata
3. Macam-mcam Keputusan
a. Ketetapan Deklaratoir dan Ketetapan Konstruktif
b. Ketetapan yang menguntungkan dan yang memberi beban
c. Ketetapan eenmalig dan ketetapan yang permanen
d. Ketetapan yang bebas dan yang terikat
e. Ketetapan positif dan negative
f. Ketetapan perorangan dan kebendaan
4. syarat” pembuatan keputusan
Pembuatan keputusan tata usaha negara harus memerhatikan bbrapa persyaratan agar keputusan trsbt
menjadi sah menurut hukum dan memiliki kekuatan hukum untuk dilaksanakan. Syarat-syarat yg hrs
diperhatikan dlm pembuatan ketetapan ini mencakup syarat material dan syarat formal.
D. Peraturan Kebijaksanaan
Peraturan kebijaksanaan tidak dapat dilepaskan dengan kewenangan bebas
(vijebevoegdheid) dari pemerintah yang sering disebut dengan istilah freis Ermenssen. Secara
bahasa freies Ermenssen berasal dari kata frei yang artinya bebas, lepas, tidak terikat, dan
merdeka. Freis artinya orang yang bebas, tidak terikat, dan merdeka. Sementara itu, Ermenssen
berarti mempertimbangkan, menilai, menduga, dan memperkirakan. Freis Ermessen berarti
orang yang memiliki kebebasan untuk menilai, menduga, dan mempertimbangkan.
Freis Ermessen ini muncul sebagai alternative untuk mengisi kekurangan dan kelemahan
di dalam penerapan asas legalitas (wetmatigheid vain bestuur). Freies Ermessen muncul
bersamaan dengan pemberian tugas kepada pemeintah untuk merealisasikan tujuan Negara
seperti yang tercantum dalam alenia keempat pembukaan UUD 1945.

E. Rencana-Rencana
1. Pengertian Rencana
Istilah pemerintahan memiliki dua arti yaitu fungsi pemerintahan atau kegiatan memerintah
dan organisasi pemerintahan atau kumpulan jabatan pemerintahan (Complex van
Bestuursorgaan).
Rencana merupakan alat bagi implementasi, dan implementasi didefinisikan sebagai
keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang daripada hal-hal yang akan
dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan.
Perencanaan merupakan fungsi organic yang pertama dari administrasi dan manajemen.
Alasannya ialah bawah tanpa adanya rencana, maka tidak ada dasar untuk melaksanakan
kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka usaha pencapaian tujuan.
Berdasarkan hukum administrasi Negara, rencana meruapkan bagian dari tindakan hukum
pemerintahan (bestuurrechthanding), suatu tindakan yang dimaksudkan untuk menimbulkan
akibat-akibat hukum.
Perencanaan terbagi dalam tiga kategori, yaitu sebagai berikut :
a. Perencanaan informative (inormative planning)
b. Perencanaan indikatif (indicatieve planning)
c. Perencanaan operasional atau normative (operationele of normative planning)
Disamping pembagian tersebut, perencanaan juga dibagi berdasarkan waktu , tempat,
bidang hukum, sifat, metode, dan sarana.

2. Unsur-Unsur Rencana
J.B.M.Ten Berge mengemukakan unsur-unsur rencana sebagai berikut
a. Schriftekijke Presentatie (Gambaran Tertulis)
b. Besluit handeling (Keputusan atau Tindakan)
c. Bestuurorgan (Organ Pemerintahan)
d. Op de Teokomst Gerich (ditujukan pada masa yang akan dating)
e. Planelemanten (elemen-elemen Rencana)
f. Orgelijksoorting Karakter (Memiliki Sifat yang tidak sejenis, beragam)
g. Semenhang (Keterkaitan)
h. Al dan Niet Voor een Bepaalde Duur (untuk waktu tertentu)

F. Perizinan
1. Pengertian Perizinan
Beberapa istilah lain yang tidak sedikit banyak memiliki kesejajaran dengan izin, yaitu
dispensasi, konsesi, dan lisensi. Dispensasi ialah keputusan administrasi Negara yang
membebaskan suatu perbuatan tersebut. Menurut Ateng Syafrucin, dispensasi bertujuan untuk
menebus rintangan yang sebetulnya secara normal tidak diizinkan, jadi sipensasi berarti
menyisihkan pelarangan dalam hal yang khusus (relaxatie legis). Lisensi adalah suatu izin yang
memberikan hak untuk menyelenggarakan suatu perusahaan.
Menurut Sjchran Basah, izin adalah perbuatan hukum administrasi Negara bersegi satu yang
mengaplikasikan peraturan dalam hal konkret berdasarkan persyaratan dan prosedur
sebagaimana ditetapkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagir Manan menyebutkan bahwa izin dalam arti luas berarti suatu persetujuan dari penguasa
berdasarkan peraturan perundang-udangan untuk memperbolehkan melakukan tindakan.

2. Unsur – Unsur Perizinan


Ada beberapa unsur dalam perizinan yaitu sebagai berikut :
a. Istrumen Yuridis
b. Peraturan Perundang-undangan
c. Organ pemerintah
d. Peristiwa konkret
e. Prosedur dan persyaratan

3. Bentuk dan Isi Izin


Sebagai ketetapan tertulis, secara umum izin memuat hal-hal sebagai berikut :
a. Organ yang berwenang
b. Yang dialamatkan
c. Dictum
d. Ketentuan-ketentuan, pembatasan – pembatasan, dan syarat-syarat
e. Pemberian alasan
f. Pemberitahuan – pemberitahuan Tambahan

G. Instrumen Hukum Keperdataan


1. Penggunaan Instrumen Hukum Keperdataan
Pemerintah dalam melakukan kegiatan sehari-hari tampil dengan dua kedudukan, yaitu sebagai
wakil dari badan hukum dan wakil dari jabatan pemerintahan. Tindakan hukum keperdataan
adalah tindakan hukum yang diatur oleh hukum perdata. Pemerintah juga sering melakukan
perbuatan semacam itu, kabupaten menjual tanah bangunan, menyewakan rumah, menggadaikan
tanah, dan sebagainya.
Penggunaan instrument hukum public merupakan fungsi dasar dari organ pemerintahan
dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan, sedangkan penggunaan istrumen hukum privat
merupakan konsekuensi paham Negara kesejahteraan,

2. Instrumen Hukum Keperdataan yang dapat Digunakan Pemerintah


Dalam rangka menjalankan kegiatan pemerintahannya, pemerintahan dapat menggunakan
perjanjian, yang bentuknya antara lain sebagai berikut :
a. Perjanjian perdata Biasa
b. Perjanjian Perdata dengan Syarat-Syarat Standar
c. Perjanjian mengenai kewenangan publik
d. Perjanjian mengenai kebijaksanaan pemerintahan
ASAS-ASAS UMUM
PEMERINTAHAN YANG LAYAK

A. Peristilahan, Pengertian dan Kedudukan AAUPL


1. Pengertian
a. AAUPL merupakan nilai-nilai etik yang hidup dan berkembang dalam lingkungna hukum
administrasi Negara
b. AAUPL berfungsi sebagai pegangan bagi pejabat administrasi Negara dalam menjalankan
fungsinya.
c. Sebagian besar dari AAUPL masih merupakan asas-asas yang tidak tertulis
d. Sebagai asas yang lain sudah menjadi kaidah hukum tertulis dan terpencar dalam berbagai
peraturan hukum positif
2. Kedudukan AAUPL dalam Sistem Hukum
Pendapat Van Wijk/Willem Konijnenbelt dan ten Berge tersebut tampak bahwa kedudukan
AAUPL dalam system hukum adalah sebagai hukum tidak tertulis. Menurut Philipus M. Hadjon,
AAUPL harus dipandang sebagai norma-norma hukum tidak tertulis, yang senantiasa harus
ditati oleh pemerintah, meskipun arti yang tepat dari AAUPL bagi tiap keadaan tersendiri tidak
selalu dapat dijabarkan dengan teliti.
Berkenaan dengan hal ini, SF. Marbun mengatakan bahwa norma yang berlaku dalam
kehidupan masyarakat umumnya diartikan sebagai peraturan, baik yang tertulis maupun yang
tidak tertulis. Oleh karena itu, pengertian norma (kaedah hukum) dalam arti sempit mencakup
asas-asas hukum dan peraturan hukum konkret, sedangkan dalam arti luas pengertian norma
ialah suatu system hukum yang berhubungan satu sama lainnya.
3. Fungsi dan Arti Penting AAUPL
Dalam perkembangannya, AAUPL memiliki arti penting dan fungsi berikut :
a. Bagi administrasi Negara, bermanfaat sebagai pedoman dalam melakukan penafsiran dan
penerapan terhadap ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang bersifat sumir, samara atau
tidak jelas.
b. Bagi warga masyarakat, sebagai pencari keadilan, AAUPL dapat digunakan sebagai dasar
gugatan sebagaimana disebutkan dalam pasal 53 UU No. 5 / 1996.
c. Bagi hakim TUN, dapat dipergunakan sebagai alat menguji dan mebambatkan keputusan yang
dikeluarkan badan atau pejabat TUN.
d. Selain itu, AAUPL tersebut juga berguna bagi badan legislative dalam merancang suatu
undang-undang.
4. Pembagian dan Macam-Macam AAUPL
a. Pembagian AAUPL
AAUPL terbagi dalam dua bagian, yaitu asas yang bersifat formal atau procedural dan asas yang
bersifat materal atau substansial.
b. Macam-macam AAUPL
Macam-macam AAUPL tersebut adalah sebagai berikut
a) Asas kepastian hukum
b) Asas keseimbangan
c) Asas kesamaan dalam mengambil keputusan
d) Asas bertindak cermat dan asas kecermatan
e) Asas motivasi untuk setiap keputusan
f) Asas tidak mencapuradukkan kewenangan
g) Asas permainan yang layak (fair play)
h) Asas keadilan dan kewajaran
i) Asas kepercayaan dan menanggapi pengharapan yang wajar
j) Asas meniadakan akibat suatu keputusan yang batal
k) Asas kebijaksanaan
l) Penyelenggaraan kepentingan umum

PERLINDUNGAN HUKUM PENEGAKAN HUKUM,


DAN PERTANGGUNGJAWABAN HUKUM DALAM
HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

A. Perlindungan Hukum
Hukum diciptakan sebagai suatu sarana atau instrument untu mengatur hak-hak dan
kewajiban-kewajiban subjek hukum agar masing-masing subjek hukum dapat menjalankan
kewajibannya dengan baik dan mendapatkan haknya secara wajar.
Adapula yang mengatakan bahwa; tujuan hukum adalah mengatur masyarakat secara
damai. Hukum menghendaki perdamaian…. Perdamaian diantara manusia dipertahankan oleh
hukum dengan melindungi kepentingan-kepentingan manusia tertentu (baik materiil maupun
ideal), kehormatan, kemerdekaan, jiwa, harta benda, dan sebagainya terhadap yang
merugikannya.
Telah disebutkan bahwa pemerintah memiliki dua kedudukan hukum, yaitu sebagai
wakil dari badan hukum publik(publiek rechtspsonn, publiklegal, entity). Dan sebagai pejebat
(ambstdrager) dari jabatan pemerintahan.
Perlindungan hukum bagi rakyat merupakan konsep universal, dalam arti dianut dan
diterapkan oleh setiap Negara yang mengedepankan diri sebagai Negara hukum. Secara umum
ada tiga macam perbuatan pemerintahan. Yaitu perbuatan pemerintahan dalam bidang perbuatan
peraturan perundang-undangan (regeling), perbuatan pemerintahan dalam penerbitan ketetapan
(beschikking), dan perbuatan pemerintah dalam bidang keperdataan (materiele daad).
Perlindungan hukum akibat dari perbuatan pemerintah juga ada yang terdapat dalam
bidang perdata maupun public.
1. Perlindungan Hukum dalam Bidang Perdata
Kedudukan pemerintah atau asministrasi Negara dalam hal ini tidak berbeda dengan
seseorang atau badan hukum perdata yaitu sejajar sehingga pemerintah dapat menjadi tergugat
maupun penggugat. Yang menjadi salah satu unsur Negara hukum terimplementasi. Dengan kata
lain, hukum perdata memberikan perlindungan yang sama baik kepada pemerintah maupun
seseorang atau badan hukum perdata.
2. Perlindungan Hukum dalam Bidang Publik
Ada dua macam perlindungan hukum bagi rakyat, yaitu perlindungan hukum preventif dan
represif. Pada perlindungan hukum preventuf, rakyat diberikan kesempatan untuk mengajukan
keberatan (inspraak) atau pendapatnya sebelum suatu keputusan pemerintah mendapat bentuk
yang denitif.
C. Pertanggung Jawaban Pemerintah
1. Pengertian Pertanggung Jawaban
Pertanggung jawaban berasal dari kata tanggung jawab, yang berarti keadaan wajib
menanggung segala sesuatunya (kalau ada sesuatu hal, boleh dituntut, dipersalahkan,
diperkarakan,, dan sebagainya). Dalam kamus hukum ada dua istilah yang menunjuk pada
pertanggung jawaban, yakni liability (the satate of being liabel) dan responsibility) the state or
fact being responsible). Liability merupakan istilah hukum yang luas ( a boar legal term), yang
di dalamnya antara lain mengandung makna bahwa , " it has been referred to as of the most
comprehensive significance, including almost every character of hazard or responsibility,
absolute, cantigent, or likely. It has been defined to mean : all character of debts and
obligations.
2. Pertanggung Jawaban Pemerintah dalam Hukum Aministrasi
Tanggung jawab pemerintah terhadap warga Negara atau Negara pihak ketiga dianut oleh
hampir semua warga Negara yang berdasarkan atas hukum. Dalam perspektif hukum public,
tindakan hukum pemerintahan itu selanjutnya dituangkan dalam dan dipergunakan beberapa
instrument hukum dan kebijakan seperti peraturan (regeling), keputusan (besluit), peraturan
kebijaksanaan (beleidsregel), dan ketetapan (beschingkking).
Hubungan hukum ini adalah yang bersifat intern (interne rechtsbetrekking), yaitu hubungan
hukum antara pemerintah dengan warga Negara.