You are on page 1of 4

HAMA DAN PENYAKIT UTAMA TANAMAN NILAM • Menyebar di daerah sentra produksi di Sumatera Barat, Sumatera Utara

dan Aceh
PENYAKIT UTAMA TANAMAN NILAM
Gejala : tanaman layu pada cabang-cabang tanpa suatu urutan yang teratur dan
1. Penyakit BUDOK
gejala lanjut seluruh bagian tanaman layu atau mati dalam waktu singkat
• Penyebab : Jamur Synchrytrium pogostemonis f.sp. patchouli
a) Kelayuan terjadi pada tanaman muda dan tua (dari cabang ke cabang
• Ditemukan dipertanaman nilam di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa
secara tidak teratur);
• Gejala penyakit terlihat pada batang yang membengkak, menebal dan
b) Tanaman akan mengalami kelayuan dalam waktu 2 – 5 hari setelah
daun yang berkerut dan tebal, dengan daun berwarna merah keunguan
terinfeksi.
c) Pada saat bersamaam ada cabang yang layu dan sehat, pada perkem-
Gejala Penyakit BUDOK
bangan lebih lanjut seluruh bagian tanaman layu dan mati.
a) Gejala serangan awal dapat dilihat sedini mungkin baik pada persemaian
d) Pada tanaman berumur 1 -3 bulan kematian terjadi 6 hari setelah
maupun di lapang, dengan ditandai adanya benjolan-benjolan kecil pada
terlihat gejala serangan.
permukaan atas dan bawah daun, serta batang.
e) Pada tanaman berumur 4 -5 bulan kematian terjadi 1 -2 minggu setelah
b) Pada serangan lanjut, akan menghambatan pertumbuhan vegetatif
gejala terlihat.
sehingga rumpun tanaman tidak bertambah besar, permukaan batang
f) Jaringan batang dan akar tanaman yang terserang membusuk sedang
menebal, ruas batang memendek, pada ketiak cabang tumbuh tunas-
kulit akar sekundernya mengelupas.
tunas berdaun keriput dan kerdil.
g) Irisan melintang batang terserang memperlihatkan warna hitam
c) Rumpun tanaman yang terserang pertumbuhannya terhenti, bahkan
sepanjang jaringan yang layu sampai kambium.
kanopinya cenderung mengecil.
h) Bila cabang yang layu dipotong akan tampak lendir seperti susu, begitu
pula bila direndam di dalam air bersih.
Pengendalian
a) Pengolahan tanah yang baik serta budidaya nilam secara menetap
Pengendalian
b) Menggunakan bibit yang sehat
1. Sanitasi dan eradikasi untuk mengurangi inokulum;
c) Menggunakan mulsa (jerami padi, ampas nilam atau alang-alang)
2. Membersihkankan lahan yang sudah terinfeksi bakteri selama 2-3 tahun
d) Pemberian pupuk kandang dan abu sekam (10 ton/ha)
dan mencabut tanaman terserang, serta membakarnya;
e) Pengendalian secara kimia menunjukkan bahwa Synchytrium dapat
3. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang layu bakteri seperti
dikendalikan dengan fungisida seperti benomyl (Kusnata, 2005).
tanaman padi atau jagung;
f) Di India, fungsida dengan bahan aktif PCNB atau bubur Bordeaux yang
4. Memperbaiki saluran drainase pada waktu curah hujan tinggi. Tanaman
dicampur dengan tembaga sulfat dianjurkan untuk mencegah serangan
yang ditanam di lahan yang tergenang air atau air tanah dangkal dapat
Synchytrium (Anonymous, 2007).
mendorong berkembangnya organisme pengganggu tumbuhan seperti
cendawan dan bakteri, oleh karena itu diperlukan adanya parit drainase;
2. Penyakit Layu Bakteri
5. Menggunakan bibit unggul atau bibit dari tanaman sehat pada kebun
• Penyebab : Ralstonia solanacearum
yang belum terserang penyakit layu bakteri;
• Dapat menurunkan produksi nilam dan kerugian hasil mencapai 60-80%
6. Menggunakan agensia hayati yaitu bakteri Pseudomonas flourescen, b) Gejala serangan memperlihatkan bercak-bercak putih. Semakin
Pseudomonas sepasia, Bacillus sp., dan Micrococcus sp. lama bercak semakin melebar. Selain itu juga memperlihatkan
7. Penggunaan pestisida nabati dari bahan tanaman cengkeh dan kayu gejala daun berlekuk-lekuk tidak teratur.
manis; c) Pada tingkat serangan berat daun akan rontok. Kerugian hasil
8. Pestisida kimia digunakan sebagai alternatif terakhir, yaitu dengan dapat mencapai 15-25%.
penggunaan pestisida yang berbahan aktif streptomycin sulfat dan
carbofuran. Pengendalian
a) Pemangkasan (pemetikan daun), untuk mencegah meluasnya serangan.
HAMA TANAMAN NILAM b) Pemetikan dilakukan pada saat populasi tungau masih rendah.
1. Ulat Penggulung Daun Pemetikan yang dilakukan sedemikian rupa dapat menyebabkan
• Ulat Penggulung Daun (Pachyzaneba stutalis), terbuangnya telur-telur dan tungau dewasa;
• Ulat ini hidup dalam gulungan daun muda, sambil memakan daun c) Melakukan penanaman tanaman perangkap, dengan menanam ubi kayu
yang tumbuh, pada serangan berat, yang tersisa hanya tulang- dan jarak (Ricinus communis) sebagai barrier;
tulang daun nilam. d) Penggunaan musuh alami seperti Phytosentulus persimlis, P. Macro pelis
(menyerang telur dan nimfa) dan Coccinelids;
Pengendalian e) Penyemprotan dengan insektisida nabati (ekstrak biji mimba) dosis 100
a) Mengumpulkan dan memusnahkan bagian tanaman yang terserang. gr/liter.
b) Melakukan pengamatan yang ketat pada areal terserang untuk
menghindari terjadinya ledakan populasi. 3. Kumbang Pemakan Daun
c) Pengamatan dilakukan dengan cara mengamati saat munculnya gejala Criket pemakan daun (Gryllidae), hama ini memakan daun muda, sehingga
awal kerusakan daun yang terserang larva stadia muda. daun berlubang-lubang dan menyebabkan produksi turun.
d) Mengingat siklus hidup hama berkisar antara 38-42 hari, maka Pengendalian
pengamatan sebaiknya dilakukan setiap bulan sejak tanaman berumur a) Sanittasi lingkunggan.
satu bulan sampai saat panen; b) Menggunakan pestisida nabati seperti ekstrak biji nimba (100 gr/liter),
e) Gunakan skstrak mimba dan bioisektisida (Beauveria bassiana). Cara ini minyak serai wangi, minyak cengkeh (konsentrasi 305 v/v)
Walau tidak mematikan secara langsung tapi cukup efektif dan tidak c) Agensia hayati seperti Beauveria bassiana dan Metarrhizium anisopliae
mencemari lingkungan.

2. Tungau Merah
a) Tungau merah (Tetranychus sp.), tungau merah umumnya
menyerang daun tua dan muda, tungau hidup berkelompok di
permukaan daun bagian bawah, merusak tanaman dengan cara
mengisap cairan daun.