You are on page 1of 9

Kliping Ppkn Tentang HAM

Nama : Adjie Krishna W.


Kelas : XI RPL
No.absen :02

[Type text] Page 1


Konsep Hak dan Kewajiban Asasi Manusia

Dalam konteks kata, hak dan kewajiban mengandung 2 kata, yaitu hak dan
kewajiban. Dari masing-masing kata tersebut tentunya mempunyai arti tersendiri.
Menurut Prof. Dr. Notonegoro, hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan
suatu yang semestinya diterima atau dilakukan melulu oleh pihak tertentu dan tidak
dapat dilakukan oleh pihak lain manapun juga yang pada prinsipnya dapat dituntut
secara paksa olehnya. Menurut pengertian tersebut individu maupun kelompok
ataupun elemen lainnya jika menerima hak hendaknya dilakukan sesuai dengan
aturan yang berlaku dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain jadi harus pihak
yang menerimannya yang melakukan itu. Dari pengertian yang lain hak bisa berarti
sesuatu yang mutlak menjadi milik kita dan penggunanya tergantung kepada kita
sendiri contohnya hak mendapatkan pengajaran. Dalam hak mendapatkan
pengajaran ini adalah tergantung dari diri kita sendiri, kalau memang menganggap
bahwa pengajaran itu penting bagi kita pasti kita akan senagtiasa akan belajar atau

[Type text] Page 2


sekolah atau mungkin kuliah. Tapi kalau ada yang menganggap itu tidak penting
pasti tidak akan melakukan hal itu.

Kata yang kedua adalah kewajiban , kewajiban berasal dari kata wajib. Menurut
Prof. Dr. Notonegoro wajib adalah beban untuk memberikan sesuatu yang
semestinya dibiarkan atau diberikan melulu oleh pihak tertentu tidak dapat oleh
pihak lain manapun yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa oleh yang
berkepentingan. Kewajiban pada intinya adalah sesuatu yang harus dilakukan.
Disini kewajiban berarti suatu keharusan maka apapun itu jika merupakan
kewajiban kita harus melaksaakannya tanpa ada alasan apapun itu. Dari pengertian
yang lain kewajiban berarti sesuatu yang harus dilakukan dengan penuh rasa
tanggung jawab. Wujud hubungan antara warga negara dengan negara adalah pada
umumnya adalah berupa peranan(role). Peranan pada dasarnya adalah tugas apa
yang dilakukan sesuai dengan status yang dimiliki, dalam hal ini sebagai warga
Negara.

[Type text] Page 3


Hak Asasi Warga Negara dalam Nilai Dasar Pancasila

Nilai dasar berkaitan dengan hakikat kelima sila Pancasila, yaitu: nilai ketuhanan,
nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Nilai-nilai
dasar tersebut bersifat universal, sehingga di dalamnya terkandung cita-cita, tujuan,
serta nilai-nilai yang baik dan benar. Selain itu, nilai ini bersifat tetap dan melekat
pada kelangsungan hidup negara. Hubungan antara hak dan kewajiban warga
negara dengan Pancasila dapat dijabarkan secara singkat sebagai berikut :
 Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjamin hak warga negara untuk bebas
memeluk agama sesuai dengan kepercayaannya serta melaksanakan ibadah
sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing. Sila pertama ini juga
menggariskan beberapa kewajiban warga negara untuk:
1. membina kerja sama dan tolong-menolong dengan pemeluk agama lain sesuai
dengan situasi dan kondisi di lingkungan masing-masing;
2. mengembangkan toleransi antarumat beragama menuju terwujudnya
kehidupan yang serasi, selaras, dan seimbang; serta
3. tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
 Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menempatkan hak setiap warga
negara pada kedudukan yang sama dalam hukum serta memiliki hak-hak yang
sama untuk mendapat jaminan dan perlindungan hukum. Adapun kewajiban
warga negara yang tersirat dalam sila kedua ini di antaranya kewajiban untuk :
1. memperlakukan orang lain sesuai harkat dan martabatnya sebagai makhluk
ciptaan Tuhan Yang Maha Esa;
2. mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban setiap manusia tanpa
membeda-bedakan suku, keturunan, agama, jenis kelamin, dan sebagainya;
3. mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia, tenggang rasa, dan
tidak semena-mena kepada orang lain; serta
4. melakukan berbagai kegiatan kemanusiaan.

[Type text] Page 4


 Sila Persatuan Indonesia menjamin hak-hak setiap warga negara dalam
keberagaman yang terjadi kepada masyarakat Indonesia seperti hak
mengembangkan budaya daerah untuk memperkaya budaya nasional. Sila ketiga
mengamanatkan kewajiban setiap warga negara untuk:
1. menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi
atau golongan;
2. sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara;
3. mencintai tanah air dan bangsa Indonesia;
4. mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika; serta
5. memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
 Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
dalamPermusyawaratan /Perwakilan dicerminkan dalam kehidupan
pemerintahan, bernegara, dan bermasyarakat yang demokratis. Sila keempat
menjamin partisipasi politik warga negara yang diwujudkan dalam bentuk
kebebasan berpendapat dan berorganisasi serta hak berpartisipasi dalam
pemilihan umum. Sila keempat mengamanatkan setiap warga negara untuk:
1. mengutamakan musyawarah mufakat dalam setiap pengambilan keputusan;
2. tidak memaksakan kehendak kepada orang lain; dan
3. memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil rakyat yang telah terpilih untuk
melaksanakan musyawarah dan menjalankan tugas sebaik-baiknya.
 Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia mengakui hak milik
perorangan dan dilindungi pemanfaatannya oleh negara serta memberi
kesempatan sebesar-besarnya kepada masyarakat. Sila kelima mengamanatkan
setiap warga negara untuk:
1. mengembangkan sikap gotong royong dan kekeluargaan dengan masyarakat
di lingkungan sekitar;
2. tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum; dan
3. suka bekerja keras.

[Type text] Page 5


Contoh Kasus HAM

Peristiwa Tanjung Priok (1984)

salamadian.com

Tragedi tanjung priok


merupakan peristiwa yang
melibatkan massa Islam
dan pemerintahan Orba
(Orde baru). Tragedi di
tanggal 12 September 1984
ini menewaskan ratusan
orang dari masyarakat
Muslim. (informasi korban
simpang siur).

Peluru- peluru timah


diberondongkan tentara
bersenjata lengkap yang
sudah siap menghadang ribuan massa yang menuntut pembebasan 4 tahanan di
Mapolres Jakarta Utara dan Kodim yang jaraknya berdekatan.

Masa pun berhamburan dan korban berjatuhan. Bahkan, menurut saksi dalam
kejadian tersebut (AQ Djaelani). Beberapa orang yang bertiarap menghindari
desingan peluru dilindas oleh 2 truk yang saat itu mengangkut pasukan tambahan
dari arah pelabuhan. (tirtoid).

Kerusuhan Mei 1998

Peristiwa ini adalah kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa yang terjadi 13-15
Mei 1998 di Jakarta dan beberapa kota lainnya. Kejadian ini dipicu oleh
penembakan mahasiswa Trisakti sehari sebelumnya dan juga anggapan bahwa

[Type text] Page 6


pengusaha- pengusaha Tionghoa-lah yang menyebabkan ekonomi Indonesia carut-
marut.

Toko toko, rumah, kantor


swasta, bengkel dan pusat
perbelanjaan milik warga
keturunan TIonghoa di
hancurkan, dibakar dan
dijarah. Sementara itu
banyak wanita keturunan
tionghoa yang mengalami
pelecehan seksual bahkan
dianiaya sampai dibunuh.

Banyak pihak menilai


peristiwa tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi secara spontanitas. Namun ada
pihak- pihak yang menggerakan kejadian tersebut secara sistematis.

Pembantaian Banyuwangi (1998)

Pada tahun 1998,


Banyuwangi geger
dengan pembunuhan
terhadap orang yang
diduga terlibat praktek
perdukunan (santet) yang
kemudian merembet ke
pembunuhan guru ngaji,
ustad dan tokoh- tokoh
agama.

Pembunuh misterius tersebut kemudian disebut “Ninja”. Karena setiap kali


beraksi. Orang-orang tersebut selalu menggunakan pakaian hitam dan juga penutup
kepala menyerupai ninja.

[Type text] Page 7


Suasana saat itu sangat mencekam, Semua orang saling mencurigai satu sama lain.
Masyarakat bertanya-tanya. Siapa sebetulnya dalang dan apa motif dibalik
peristiwa tersebut. Sampai sekarang, pertanyaan- pertanyaan itu pun masih belum
terungkap jawabannya secara pasti.

Peristiwa Kudatuli

Peristiwa ini adalah


penyerbuan dan
pengambilalihan paksa
kantor DPP PDI di
Jakarta Pusat pada
tanggal 27 Juli 1996,
oleh massa pendukung
Soerjadi yang dibekingi
oleh aparat kepolisian
dan juga ABRI.

Rekayasa pemerintah ORBA Soeharto untuk menggulingkan Megawati


Soekarnoputri dari pucuk pimpinan parta dilawan oleh pendukung Megawati yang
didukung oleh rakyat yang semakin kritis atas perilaku politik Orde Baru.

Peristiwa tersebut meluas jadi kerusuhan di beberapa wilayah di Ibukota, beberapa


kendaraan dan gedung pun terbakar. Hasil penyelidikan Komnas HAM 5 orang
meninggal dunia, 149 orang luka luka dan 136 orang ditahan.

Upaya Penegakan HAM di Indonesia

Upaya upaya pemerintah dalam menegakkan HAM di indonesia pada hakekatnya


memang telah dilaksanakan semaksimal mungkin dengan menitikberatkan pada
beberapa aspek hak individu maupun kelompok sesuai dengan UU no 39 tahun
1999 yang mengatur tentang ham (hak asasi manusia) sebagai berikut:

1. Hak untuk hidup.


2. Hak untuk berkeluarga.

[Type text] Page 8


3. Hak kebebasan pribadi.
4. Hak mendapatkan keadilan.
5. Hak atas rasa aman.
6. Hak kesejahteraan
7. Hak anak.
8. Hak wanita.
9. Hak untuk turut serta dalam proses pemerintahan.
Hal ini membuktikan bahwa pemerintah tidak main main dalam upaya penegakkan
ham di Indonesia.

[Type text] Page 9