You are on page 1of 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelembagaan adalah sekumpulan jaringan dari relasi sosial yang melibatkan orang-orang
tertentu, memiliki tujuan tertentu, memiliki aturan dan norma, serta memiliki struktur.
Kelembagaan berbeda dengan organisasi, kelembagaan cenderung tradisional, sedangkan
organisasi cenderung modern. Organisasi merupakan bagian dari kelembagaan (Binswanger dan
Ruttan, 1978). Dalam konteks ini, organisasi merupakan organ dalam suatu kelembagaan.
Keberadaan organisasi menjadi elemen teknis penting yang menjamin beroperasinya
kelembagaan.

Setiap kelembagaan memiliki tujuan tertentu, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya
memiliki pola perilaku tertentu serta nilai-nilai dan norma yang sudah disepakati yang sifatnya
khas. Kelembagaan adalah kelompok-kelompok sosial yang menjalankan masyarakat. Tiap
kelembagaan dibangun untuk satu fungsi tertentu.

Kelembagaan dapat berbentuk sebuah relasi sosial yang melembaga (non formal institution),
atau dapat berupa lembaga dengan struktur dan badan hukum (formal institution). Di dalam
pedesaan terdapat kelembagaan tradisional dan kelembegaan modern, keduanya mempunyai
peranan yang sama penting untuk menunjang kegiatan pertanian. Lembaga yang biasanya
terdapat di pedesaan yaitu Kelompok Tani atau Gabungan Kelompok Tani. Kelompok tani
mempunyai peranan yang penting bagi anggotanya seperti untuk memenuhi kebutuhan petani
untuk kegiatan budidayanya yaitu kebutuhan pupuk, bibit, peralatan, penyediaan modal, hingga
pemasaran. Dengan adanya kelompok tani dapat membantu meningkatkan kesejahteraan para
petani.

1
1.2 Tujuan

Untuk menganalisis dan menjelaskan peran dan fungsi kelembagaan pertanian dalam
pengembangan usaha pertanian.

1.3 Manfaat

Dengan mempelajari lembaga pertanian desa kami dapat mengetahui pengertian kelembagaan
dan kelembagaan pertanian, fungsi dan peranan kelembagaan pertanian, kebutuhan dasar
manusia dan kelembagaan sosial ekonomi, dan lembaga-lembaga tradisional dan modern yang
ada di pedesaan.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.1 Pembangunan Pertanian

Pembangunan pertanian dapat didefinisikan sebagai suatu proses perubahan sosial.


Implementasinya tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan statusdan kesejahteraan petani
semata, tetapi sekaligus juga dimaksudkan untuk mengembangkan potensi sumberdaya manusia
baik secara ekonomi, sosial, politikbudaya, lingkungan, maupun melalui perbaikan
(improvement), pertumbuhan (growth) dan perubahan (change).

Beberapa pertimbangan tentang pentingnya mengakselerasi sektor pertanian di Indonesia


dikemukakan oleh Simatupang (1997) sebagai berikut:

1. Sektor pertanian masih tetap sebagai penyerap tenaga kerja, sehingga akselerasi
pembangunan sektor pertanian akan membantu mengatasi masalah pengangguran.

2. Sektor pertanian merupakan penopang utama perekonomian desa dimana sebagian besar
penduduk berada. Oleh karena itu, akselerasi pembangunan pertanian paling tepat untuk
mendorong perekonomian desa dalam rangka meningkatkan pendapatan sebagian besar
penduduk Indonesia dan sekaligus pengentasan kemiskinan.

3. Sektor pertanian sebagai penghasil makanan pokok penduduk, sehingga dengan akselerasi
pembangunan pertanian maka penyediaan pangan dapat terjamin. Langkah ini penting untuk
mengurangi ketergantungan pangan pada pasar dunia.

4. Harga produk pertanian memiliki bobot yang besar dalam indeks harga konsumen, sehingga
dinamikanya amat berpengaruh terhadap laju inflasi. Oleh karena itu, akselerasi pembangunan
pertanian akan membantu menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.

5. Akselerasi pembangunan pertanian sangatlah penting dalam rangka mendorong ekspor dan
mengurangi impor produk pertanian, sehingga dalam hal ini dapat membantu menjaga
keseimbangan neraca pembayaran.

3
6. Akselerasi pembangunan pertanian mampu meningkatkan kinerja sektor industri. Hal ini
karena terdapat keterkaitan yang erat antara sektor pertanian dengan sektor industri yang
meliputi keterkaitan produk, konsumsi dan investasi.

untuk wilayah pedesaan yang umumnya identik dengan petani dan kemiskinan, maka
dibutuhkan pembangunan di sektor pertanian. Pembangunan pertanian yang berhasil, jika terjadi
pertumbuhan sektor pertanian yang tinggi sekaligus terjadi perubahan masyarakat tani yang
kurang baik menjadi lebih baik. Suatu pembangunan pertanian berhasil jika didukung dengan
penyediaan sarana sarana produksi yang memadai, adanya sistem transportasi yang baik dan
organisasi pemasaran yang baik. Dengan tersedianya sarana produksi pertanian dan dialokasikan
dengan baik maka produktivitas pertanian akan tinggi sehingga pendapatan petani juga
meningkat yang mana jika dalam proses jangka panjang akan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.

2.1.2 Konsep Nilai Tukar Petani

Konsep Nilai Tukar Petani merupakan pengembangan dari nilai tukar subsisten, dimana
petani merupakan produsen dan konsumen. Nilai Tukar Petani berkaitan dengan hubungan antara
hasil pertanian yang dihasilkan petani dengan barang dan jasa yang dikonsumsi dan dibeli petani.
Disamping berkaitan permasalahan kekuatan relatif daya beli komoditas (konsep barter),
fenomena nilai tukar petani terkait dengan perilaku ekonomi rumahtangga. Proses pengambilan
keputusan rumah tangga untuk memproduksi, membelanjakan dan konsumsi suatu barang
merupakan bagian dari perilaku ekonomi rumah tangga (teori ekonomi rumah tangga).

Nilai Tukar Petani (NTP) adalah sebagai rasio antara indeks harga yang diterima petani
(indeks harga jual outputnya) terhadap indeks harga yang dibayar petani (indeks harga input
yang digunakan untuk bertani), dimisalkan seperti pupuk. Dalam pengertian lain disebutkan NTP
merupakan pengukur kemampuan/daya tukar sektor pertanian terhadap sektor non pertanian.
Fluktuasi NTP menunjukkan fluktuasi kemampuan riil petani dan mengindikasikan
kesejahteraan petani. NTP diperoleh dari persentase rasio indeks harga yang diterima petani (It)
dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib).

Berdasarkan rasio tersebut, maka dapat dikatakan semakin tinggi NTP, semakin baik profit
yang diterima petani atau semakin baik posisi pendapatan petani. Jika disederhanakan NTP

4
hanya menunjukkan perbedaan antara harga output pertanian dengan harga input pertanian,
bukan harga barang-barang lain seperti makanan, pakaian, dan lain sebagainya.

Beberapa fungsi atau kegunaan Nilai Tukar Petani antara lain:

1. Berdasarkan sektor konsumsi rumah tangga dalam indeks harga yang dibayar petani (IB),
dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian
terbesar dari masyarakat.

2. Berdasarkan indeks harga yang diterima petani dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang
yang dihasilkan petani. Indeks ini dipakai sebagai data penunjang dalam penghitungan
pendapatan sektor pertanian.

3. Nilai tukar petani berguna untuk mengukur kemampuan tukar produk yang dijual petani
dengan produk yang dibutuhkan petani dalam memproduksi. Dengan demikian NTP dapat
dipakai sebagai salah satu indikator dalam menilai kesejahteraan petani.

Secara umum ada dua macam pengertian NTP yaitu :

1. NTP >100, berarti petani mengalami surplus. Harga produksinya naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya, dengan
demikian tingkat kesejahteraan petani lebih baik dibanding tingkat kesejahteraan petani
sebelumnya.

2. NTP = 100, berarti petani mengalami impas/break even. Kenaikan/penurunan harga


produksinya sama dengan persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsinya. Tingkat
kesejahteraaan petani tidak mengalami perubahan.

5
BAB III

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kelembagaan Pertanian

2.1.1. Pengertian Kelembagaan

Salah satu makna lembaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pola perilaku
manusia yaga mapan. terdiri atas interaksi sosial berstruktur di suatu kerangka nilai yang relevant
Sedangkan kelembagaan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan lembaga.

Kelembagaan adalah sekumpulan jaringan dari relasi sosial yang melibatkan orang-orang
tertentu, memiliki tujuan tertentu, memiliki aturan dan norma, serta memiliki struktur. Dalam
bidang pembangunan pedesaan dan pertanian, kelembagaan umumnya dipersempit terutama
hanya menjadi kelembagaan kelompok tani, koperasi, subak, kelompok petani peserta program.

Di dalam suatu kelembagaan diperlukan komponen sebagai berikut :

 Komponen person. Orang-orang yang terlibat di dalam satu kelembagaan dapat diidentifikasi
dengan jelas
 Komponen kepentingan. Orang-orang tersebut pasti sedang diikat oleh satu kepentingan atau
tujuan, sehingga di antara mereka terpaksa harus saling berinteraksi
 Komponen aturan dan aturan. Setiap kelembagaan mengembangkan seperangkat kesepakatan
yang dipegang secara bersama, sehingga seseorang dapat menduga apa perilaku orang lain dalam
lembaga tersebut
 Komponen struktur. Setiap orang memiliki posisi dan peran, yang harus dijalankannya secara
benar. Orang tidak bisa merubah-rubah posisinya dengan kemauan sendiri.

6
2.1.2. Pengertian Kelembagaan Pertanian

Kelembagaan Pertanian adalah sekumpulan jaringan yang menunjang berbagai macam


kegiatan yang berhubungan dengan pertanian. Kelembagaan mempunyai peranan yang sangat
penting dalam pembangunan pertanian khususnya pertanian agribisnis. Yang dimaksud dengan
kelembagaan adalah berupa tradisi baru maupun pranata baru yang cocok dengan industrialisasi
atau organisasi yang mampu menghasilkan ragam produk yang dapat memanfaatkan dan
mengembangkan keunggulan komparatif atau keunggulan kompetitif.

Kelembagaan dapat berbentuk sebuah relasi sosial yang melembaga (non formal institution),
atau dapat berupa lembaga dengan struktur dan badan hukum (formal institution). Setidaknya
terdapat 8 kelembagaan yaitu: (1) kelembagaan penyediaan input usahatani, (2) kelembagaan
penyediaan permodalan, (3) kelembagaan pemenuhan tenaga kerja, (4) kelembagaan penyediaan
lahan dan air irigasi, (5) kelembagaan usahatani, (6) kelembagaan pengolahan hasil pertanian, (7)
kelembagaan pemasaran hasil pertanian, dan (8) kelembagaan penyediaan informasi (teknologi,
pasar, dll). Tiap kelembagaan dapat dijalankan dengan dua cara, yaitu secara individual
(berstruktur lunak) atau secara kolektif (berstruktur keras).

2.1.3. Fungsi dan Peranan Kelembagaan Pertanian

1. Untuk memasarkan hasil pertanian, sehingga kesejahteraan petani mengalami peningkatan hal ini
diakibatkan naiknya pendapatan petani yang tergabung dalam kelompok tani atau koperasi yang
juga merupakan kelembagaan pertanian
2. Untuk meningkatkan produksi pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani
3. Untuk memberdayakan masyarakat yang sebagian besar bermatapencarian sebagai petani/buruh
tani
4. Membantu penyediaan modal
5. Untuk meningkatan posisi tawar petani sehingga mereka mempunyai kekuatan untuk
’menentukan’ harga produk pertanian
6. Untuk memfasilitasi kebutuhan petani dalam budidaya misalnya pendistribusian pupuk
7. Untuk memudahkan pemerintah dalam pembagian bantuan
8. Sebagai wadah petani untuk berbagi ilmu

7
 Kebutuhan Dasar Manusia dan Kelembagaan Sosial Ekonomi
 Kebutuhan Dasar Manusia

1. Kebutuhan jasmani

Pada dasarnya semua makhluk hidup berupaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti
kebutuhan jasmani. Seperti : sandang, pangan, papan. Makan merupakan kebutuhan pokok
manusia agar mendapat energi untuk melakukan berbagai aktivitas. Begitu pula sandang dan
papan.

2. Kebutuhan rohani

Kebutuhan rohani manusia antara lain meliputi pendidikan, lapangan pekerjaan, kebebasan
dalam memeluk agama, bersosialisasi (interaksi antar sesama).

 Fungsi Kelembagaan Sosial Ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia

Kelembagaan sosial ekonomi di pedesaan berfungsi untuk memberdayakan masyarakat desa


sehingga kehidupan masyarakat desa menjadi lebih sejahtera. Misalnya KUD, KUD yang
memberdayakan masyarakat desa di sekitar KUD tersebut menyebabkan angka pengangguran
pada daerah tersebut berkurang. Karena masyarakat sekitar sudah memiliki pekerjaan maka
mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. Sebagai contoh dari penghasilan mereka
sebagai pegawai KUD dapat digunakan untuk membeli bahan makanan, membeli pakaian baru,
membeli buku-buku pelajaran untuk anak-anaknya, dan untuk tambahan modal apabila mereka
memiliki usaha sampingan.

 Lembaga Tradisional dan Modern di Pedesaan

Lembaga atau dapat juga disebut organisasi, adalah bentuk kelembagaan yang formal,
dengan ciri memiliki struktur yang tegas dan diformalkan. Lembaga menjalankan fungsi
kelembagaan, namun dapat satu atau lebih fungsi sekaligus. Contohnya adalah kelompok tani,
klinik agribisinis, koperasi, dan lain lain. Kelompok tani misalnya, dapat menjalankan fungsi
penyediaan saprotan sampai dengan pemasaran hasil pertanian.

8
 Macam Lembaga Tradisional di Pedesaan

Pada umumnya masyarakat di pedesaan telah memiliki lembaga-lembaga tradisional seperti


lembaga keuangan “lokal” atau “tradisional” yang melayani kebutuan masyarakat berazaskan
swadaya dan pendekatan pasar. Lembaga-lembaga tersebut disebut “lembaga keuangan
pedesaan” (LKP) atau lebih dikenal dengan sebutan ”lembaga keuangan mikro” (LKM).
Lembaga-lembaga tradisional lain yaitu seperti Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), Badan
Kredit Desa (BKD), dan Badan Kredit Kecamatan (BKK).

 Macam Lembaga Modern di Pedesaan

Lembaga modern di pedesaan seperti lembaga perkreditan dalam skala yang cukup besar
lingkupnya misalnya bank perkreditan rakyat (BPR), koperasi simpan pinjam, atau lembaga-
lembaga lain yang berperan penting dalam proses kelembagaan desa tersebut. Selain koperasi
atau bank juga ada kelembagaan yang sifatnya asuransi seperti pegadaian.

 Resume Jurnal Kelembagaan

KOPERASI DAN KORPORASI PETANI: KUNCI PEMBUKA PENGEMBANGAN


AGRIBISNIS BERDAYA SAING, BERKERAKYATAN, DAN BERKEADILAN

Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Rudi Wibowo dengan judul Koperasi dan Korporasi
Petani : Perkembangan Agribisnis Berdaya Saing, Berkerakyatan dan Berkelanjutan yang telah
diresum tersebut, diketahui bahwa pengusaha agribisnis merupakan motor penggerak dalam
usaha pertanian. Sistem agribisnis berperan penting dalam membantu perekonomian masyarakat
desa yang mayoritas bekerja sebagai petani. Namun hal tersebut memerlukan suatu kelembagaan
atau institusi yang membantu dalam kegiatan pertanian di pedesaan. Kelembagaan tersebut
antara lain yaitu koperasi agribisnis dan korporasi agribisnis.

Hal tersebut sesuai dengan fungsi atau peranan suatu kelembagaan bagi masyarakat dalam
buku Refleksi Pertanian oleh Nasrun Hasibuan bahwa keberhasilan pembangunan sector
agribisnis tidak terlepas dari faktor manusia sebagai pelaku dan sekaligus sebagai tujuan
pemangunan serta kelembagaan sebagai wahana di dalam kegiatan pengembangan agribisnis.
Kelembagaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan agribisnis. Yang
9
dimaksud dengan kelembagaan adalah berupa tradisi baru maupun pranata baru yang cocok
dengan tuntutan industrialisasi atau organisasi yang mampu menghasilkan ragam produk yang
dapat memanfaatkan dan mengembangkan keunggulan komparatif atau keunggulan kompetitif.

Pelaku ekonomi pertanian sekaligus investor utamanya adalah berjuta petani sebagai
“pengusaha” agribisnis berskala mikro dan kecil yang merupakan basis ekonomi kerakyatan,
penopang ekonomi pedesaan dan sumber penghasilan bagi sebagian besar masyarakat perdesaan.
Sosok pertanian tersebut, walaupun sangat potensial, akan tetapi dihadapkan pada berbagai

“tekanan” baik secara internaldomestik maupun eksternalglobalisasi. Kedua realitas “tekanan”


tersebut secara konsisten telah, sedang, dan akan terus meningkatkan “kegelisahan dan
keprihatinan” petani dan pertanian kita. Manakala tanpa upaya-upaya mendasar, pertanian dan
agribisnis hanyalah akan menjadi “mimpi buruk” bagi bangsa ini.

Salah satu upaya mendasar untuk menghindari “mimpi buruk” pembangunan pertanian dan
agribisnis yang dikemukakan adalah mengembangkan upaya kelembagaan (institutional
building). Institusi atau kelembagaan adalah suatu rules yang merupakan produk dari nilai, yang
diharapkan terus berevolusi dan menjadi bagian dari budaya (culture). Hal itu merupakan
prasyarat keharusan (necessary condition) untuk menjadi “kunci pembuka” pengembangan
agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan dan berkeadilan. Secara operasional, sosok
koperasi agribisnis dan korporasi (masyarakat) agribisnis dipandang sebagai bangun
kelembagaan yang mampu berperan dalam mewujudkan pembangunan pertanian sebagaimana
yang divisikan.

Mewujudkan upaya di atas tidaklah mudah dan sederhana. Karakteristik, keunikan dan
keragaman yang tinggi pada berbagai kegiatan agribisnis di satu pihak, serta dinamika
permintaan dan konsumsi yang sangat tinggi memerlukan manajemen pengelolaan yang
terintegrasi sebagai suatu syarat kecukupan (sufficient condition).

Diyakini, kunci utama untuk dapat memanfaatkan segenap social capital yang ada pada
masyarakat adalah terletak pada kualitas sumberdaya manusia. Dalam hal ini yang terpenting
adalah bagaimana membangun SDM yang ada (dengan latar belakang dan kualitas yang berbeda-
beda) menjadi suatu team work yang harmonis. Banyak persoalan inefisiensi kelembagaan yang
disebabkan oleh ketidak-harmonisan SDM yang terlibat di dalamnya.

10
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

 Kelembagaan adalah sekumpulan jaringan dari relasi sosial yang melibatkan orang-orang
tertentu, memiliki tujuan tertentu, memiliki aturan dan norma, serta memiliki struktur.
 Kelembagaan Pertanian adalah sekumpulan jaringan yang menunjang berbagai macam kegiatan
yang berhubungan dengan pertanian.
 Kebutuhan dasar manusia meliputi:
 Kebutuhan jasmani
 Kebutuhan rohani
 Kelembagaan sosial ekonomi di pedesaan berfungsi untuk memberdayakan masyarakat desa
sehingga kehidupan masyarakat desa menjadi lebih sejahtera.

4.2. Kritik dan Saran

4.2.1 Kritik

Dalam pemberian tugas terlalu banyak, sehingga membuat mahasiswa mengalami kesulitan
dalam mengerjakan.

4.2.2. Saran

Sebaiknya pembelajaran dimulai dengan pemberian materi dari dosen setelah itu baru pemberian
tugas.

11
DAFTAR PUSTAKA

Wibowo, Rudi. 2009. http://www.koperasi dan korporasi petani: kunci pembuka


pengembangan agribisnis berdaya saing, berkerakyatan, dan berkeadilan.pdf.

Anonymous.2009.http://websyahyuti.blogspot.com/2007/08/kelembagaan-dan-
lembaga-dalam.html – 72k –.diakses pada 4Mei 2009.

Anonymous.2009.http:// www.ekonomirakyat.org/edisi_5/artikel_5.htm – 30k –


.diakses pada 4 Mei 2009.

Soekanto, Sarjono.1982.Sosiologi Suatu Pengantar.PT Raja Grafindo.Jakarta.

12