You are on page 1of 10

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Banjir merupakan suatu fenomena yang sering terjadi di wilayah ITS pada
musim penghujan. Banjir tersebut sering terjadi di wilayah ITS walau waktu hujan
turun hanyalah beberapa jam saja. Banyak faktor yang mengakibatkan fenomena
tersebut, salah satunya adalah merebaknya eceng gondok di perairan wilayah
sekitar ITS, seperti yang di ungkapkan oleh S. Bachter (2000) bahwa salah satu
penyebab kebanjiaran dikarenakan adanya eceng gondok di suatu perairan. Hal
tersebut dikarenakan eceng gondok menghambat kecepatan aliran air serta dapat
mengakibatkan pendangkalan dalam peraiaran. Ditambah lagi eceng gondok
merupakan tanaman air yang memiliki kemampuan berkembangbiak yang luar
biasa, menurut zaman (2006) Eceng gondok memilik pertumbuhan yang sangat
cepat. Setiap 10 tanaman dapat berkembang biak menjadi 600.000 tanaman dalam
kurun waktu 8 bulan. Pertumbuhan tersebut jika tidak ditangani dengan tepat akan
menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar.
Terdapat Banyak metode yang dapat dilakukan untuk mengatasi
permasalahan eceng gondok, model dan sistem yang baik perlu dibangun sejak
dini sebagai tindakan preventif sekaligus menjadi pemecah permasalahan yang
baik sehingga dapat mengubah suatu masalah menjadi sebuah keuntungan di
berbagai bidang, untuk itu karya tulis ini berusaha untuk menginisiasi hal tersebut.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka didapat suatu rumusan masalah


yaitu Bagaimanakah solusi alternative dalam permasalahan eceng gondok di
wilayah perairan sekitar ITS ?

Tujuan Penulisan

Karya tulis ini bertujuan untuk memberikan solusi dalam permasalahan


eceng gondok di wilayah perairan sekitar ITS, mengingat populasi eceng gondok
merebak hampir di setiap wilayah perairan sekitar ITS.
2

Manfaat Penulisan

Manfaat karya tulis ini adalah memberikan sebuah solusi kepada


masyarakat wilayah ITS dan sekitarnya dalam melakukan penanganan terhadap
pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali. Selain itu, diharapkan solusi
yang diberikan dapat menjadi sebuah pemecah masalah tak hanya di bidang
lingkungan, akan tetapi juga di bidang perekonomian.

GAGASAN

Eceng gondok
E. crassipes atau biasa yang disebut dengan eceng gondok adalah macrophyte
air yang mengambang bebas, dan berkembang umumnya setinggi 0,5 m tapi
hampir 1 m tingginya di beberapa lokasi di Asia tenggara (Gopal 1987). E.
crassipes berbentuk padat, mengambang. Sebagai tanaman yang mengambang
bebas, semua nutrisi yang dibutuhkannya berasal dari air (Sculthorpe 1985).
Daun tebal, lunak, bulat, dan mengkilap dan batang bangkit di atas
permukaan air. Daun luas bulat seperti telur sampai lingkaran, 10-20 cm, dengan
lembut, sisinya sering berombak-ombak. Urat daun yang padat, banyak, halus dan
longitudinal. Tangkai daun yang bulat dan kenyal. Tangkai tegak, untuk panjang
50 cm, dan membawa di atas lonjakan tunggal 8-15 bunga mencolok. Bunga-
bunga memiliki enam kelopak, biru keunguan atau lavender untuk merah muda,
kelopak paling atas dengan kuning, noda pusat biru-berbatasan. Eceng gondok
mereproduksi vegetatif dengan pelari pendek batang (stolons) yang memancar
dari dasar tanaman untuk membentuk tanaman putri, dan juga mereproduksi
dengan biji. Akarnya berwarna hitam keunguan dan berbulu (Gopal 1987).
Eceng gondok memilik pertumbuhan yang sangat cepat. Setiap 10 tanaman
dapat berkembang biak menjadi 600.000 tanaman dalam kurun waktu 8 bulan.
Pertumbuhan tersebut jika tidak ditangani dengan tepat akan menimbulkan
dampak negative bagi lingkungan sekitar. (Zaman.2006)
E. crassipes tumbuh di kolam dangkal, lahan basah dan rawa-rawa, perairan
yang mengalir lamban, danau besar, waduk, dan sungai. Tanaman dapat
beradaptasi ketika terjadi kenaikan permukaan air dan variasi musiman dalam
3

kecepatan aliran, dan bertahan pada kondisi ketersediaan hara yang ekstrim, pH,
suhu dan zat beracun (Gopal 1987).
Eceng gondok mengambang perairan yang bergerak lambat. Angin atau arus
dapat membubarkan sekumpulan eceng gondok menjadi terbuka. Kejadian ini
dapat ditemukan dalam hubungan dengan berbagai tanaman air air yang dalam
atau mengambang bebas lainnya. Eceng gondok diduga berasal dari lembah
Amazon dan danau yang luas dan rawa-rawa di wilayah Pantai Brasil barat.
Tingkat air danau di daerah ini berfluktuasi secara dramatis karena perubahan
musiman dalam curah hujan. Sungai Amazon dapat naik dan turun 10 meter per
tahun. Wilayah ini mengandung banyak kolam yang kaya nutrisi dan menjadi
saling berhubungan selama musim hujan, sehingga memungkinkan untuk ledakan
pertumbuhan E. crassipes selama periode air yang tinggi (Barrett 1989).

Dampak Eceng gondok bagi lingkungan


Dampak eceng gondok terhadap lingkungan sebagai berikut (Bachter 2000):
1. Dalam dalam saluran drainase, eceng gondok sangat mengurangi
kecepatan arus, sehingga dapat menimbulkan banjir.
2. Dapat merusak pinggiran sungai (canal bank) dan struktur kanal.
3. Di saluran irigasi eceng gondok menghambat aliran dan menyumbat
asupan pompa yang digunakan untuk menyampaikan ke air irigasi.
4. Eceng gondok dapat mengurangi keindahan real estate dan juga sektor
pariwisata.
5. Mengganggu dalam transportasi laut dan juga air-ski.
6. Mengganggu saat berenang.
7. Menggantikan komunitas vegetasi asli, dan dapat berakibat buruk pada
populasi sport-fish.
8. Meningkatkan sedimentasi dan tingkat oksigen terlarut berkurang.

Ada beberapa penggunaan E. crassipes untuk menghilangkan beberapa nutrisi


dan logam berat dari limbah dan lumpur kolam (Vietmeyer 1975). Penelitian
telah membuktikan bahwa tumbuhan eceng gondok dapat menurunkan
konsentrasi ammonia dalam air limbah secara signifikan (Zaman.2006).
4

Kondisi Kekinian
Banyak temuan yang menunjukkan merebaknya eceng gondok di wilayah
sekitar ITS. Misalnya di wilayah perairan dekat Blok U hampir keseluruhan
perairan ditutupi oleh eceng gondok, dimana luas perairan yang ditutupi eceng
gondok hampir mencapai 2.500 meter persegi.

Gambar.1 Eceng gondok di perairan dekat perumdos blok U ITS


Tak hanya itu di wilayah perumdos blok T dekat jalan hidrodinamika juga terdapat
banyak eceng gondok.

Gambar. 2 Eceng gondok di dekat perumdos blok T ITS


Eceng gondok tersebut pada awal mulanya hanyalah beberapa saja, akan tetapi
karena tidak ada tindakan dari masyarakat sekitar untuk menanggulangi hal
tersebut, maka eceng gondok berkembangbiak sampai menutupi hampir
keseluruhan perairan.
5

Gambar 3. Foto eceng gondok yang mati di perairan


Bahkan jika eceng gondok tersebut sudah mati dan tetap dibiarkan begitu saja,
maka akan dapat memperdangkal perairan akibat endapan tumbuhan eceng
gondok yang telah mati. Hal itu akan mengakibatkan penurunan kapasitas daya
tamping air dalam suatu perairan, sehingga daerah tersebut akan semakin mudah
untuk meluap dan akan menimbulkan banjir. Dari berbagai kasus lapangan
tersebut, dapat disimpulkan bahwa eceng gondok telah menyebar dengan pesat di
wilayah ITS.

Solusi yang Pernah Ditawarkan


Dalam menangani permasalahan eceng gondok yang mengalami kecepatan
pertumbuhan yang sangat cepat. Banyak solusi yang pernah ditawarkan dalam
menangani permasalahan tersebut. Salah satunya dengan melakukan penangan
dengan mengambil eceng gondok dari peraiaran secara langsung. Hal tersebut
memang memecahkan masalah, akan tetapi biasanya setelah di keluarkan dari
perairan eceng gondok tersebut hanya dibiarkan saja, padahal eceng gondok
mempunyai manfaat yang bisa dijadikan komoditi ekonomi.
Solusi lain dalam penangan eceng gondok adalah menggunakan beberapa
herbisida tertentu. Salah satu faktor kunci yang mempengaruhi keberhasilan
herbisida adalah translokasi dari stolons ke bagian lain dari tanaman, khususnya
akar. Tanaman muda mentranslokasi zat ini lebih cepat. Namun, tanaman yang
lebih tua dan tanaman berbunga mungkin lebih rentan terhadap stres dari
pengobatan. Suhu hangat menyebabkan translokasi lebih cepat dari beberapa
herbisida. tanaman yang lebih tua membutuhkan waktu lebih lama untuk
tenggelam setelah aplikasi herbisida daripada tanaman muda (Sculthorpe, CD
1985).
Perumusan Rodeo glifosat, non-selektif herbisida, diterapkan pada 2kg /
ha dimana telah menyebabkan tanaman eceng gondok mati secara keseluruhan
6

dalam 8 minggu (Gopal 1987). Formulasi Rodeo tidak beracun untuk ikan dan
sedikit beracun untuk invertebrata air.
2,4-D (asam 2,4-Dichlorophenoxyacetic) diterapkan pada kisaran 1-12 kg /
ha, umumnya dengan semprotan udara, telah terbukti kontrol kimia yang paling
efektif, terutama jika diterapkan saat cuaca panas. Suhu hangat menyebabkan
translokasi lebih cepat dari 2,4-D. Herbisida adalah senyawa fenoksi, dan varian
juga telah terbukti efektif. 2,4-D adalah selektif untuk spesies tanaman berdaun
lebar dan beberapa monokotil seperti E. Crassipes atau yang biasa kita sebut
dengan eceng gondok.
Bila diterapkan pada tingkat 3,5 mg / l, sulfat tembaga dan kelat tembaga
non-selektif herbisida (dan yang pertama adalah fungisida pertanian banyak
digunakan) yang menghambat pertumbuhan Eceng gondok. Dosis 103 mg / kg
berat kering tembaga sulfat dapat mematikan eceng gondok (Gopal 1987).
Namun, tembaga sulfat dan kelat tembaga dapat menjadi racun bagi ikan,
terutama ikan trout dan salmon lain, dan beberapa mamalia, invertebrata air dan
organisme tanah. Kedua sulfat tembaga dan kelat tembaga lebih beracun untuk
hewan dan / atau perairan lembut asam. Nama-nama merek termasuk Agritox,
Basicap, Cutrine, Komeen, dan lain-lain.

Gagasan Baru yang Ditawarkan

Pemberdayaan eceng gondok menajadi pupuk cair dapat dijadikan salah


satu alternatif terkait dengan permasalahan eceng gondok. Salusi ini kami pilih
berdasarkan beberapa pertimbangan, sehingga kami menganggap sesuai dengan
kondisi sosial masyarakat sekitar yang ada. Alasan atau pertimbangan utama dari
pemilihan tersebut yaitu keberadaan eceng gondok yang cukup melimpah serta
kemampuan bertumbuhnya secara kunatitas yang tinggi, keberadaan para penjual
tanaman hias disekitar kampus ITS, serta tanah disekitar lingkungan kampus ITS
yang tampak tandus.
Tumbuhan eceng gondok merupakan tumbuhan air yang berasal dari
sungai amazon. Di Indonesia, eceng gondok pertama kali diperkenalkan di Kebun
Raya Bogor dan dengan kemampuan berkembang biaknya yang sangat cepat
7

kemudian berkembang dengan pesatnya disungai ciliwung hingga dengan mudah


di beberapa lokasi atau titik memenuhi sungai ciliwung
Setiap tumbuhan pasti memerlukan mineral dan juga unsur hara dalam
setiap proses perkembangannya. Mineral didapat dari tanah atau yang biasa yang
terkandung dalam air. Sementara itu unsur hara pada zaman sekarang ini secara
umum di dapat melalui asupan pupuk. Dari berbagai jenis unsur hara yang
diperlukan tanaman, secara umumterdapat beberapa unsur hara yang sangat
penting, diantaranya yaitu Kalium, Nitrogen, dan Phospor. Ketiga unsur ini
banyak terkandung dalam pupuk cair yang didapat dengan memperdayakan eceng
gondok. Dari sinilah muncul peluang-peluang pemberdayaan ekonomi bagi para
pedagang ataupun masyarakat sekitar.
Dengan pupuk cair yang didapat dengan memperdayakan eceng gondok,
dapat juga digunakan oleh kalangan civitas atau pihak kampus itu sendiri, baik
sebagai pupuk di wilyah kampus ataupun dijadikan bahan penelitian bagi setiap
akademisi yang ada.
Sementara itu metode pembuatan pupuk ini secara umum adalah dengan
proses ekstraksi. Pada awal proses, daun enceng gondok dipotong kecil-kecil
sebelum dikeringkan, kemudian dimasukkan ke dalam beaker glass lalu
ditambahkan pelarut NH4H2PO4 sesuai variabel (1:1, 1:2, 1:3, 1:4, 1:5). Lalu
diaduk dengan kecepatan pengadukan tertentu serta dengan durasi waktu tertentu
pula sesuai dengan besar kecepatan pengadukan(variabel pengadukan). Setelah
dilakukan pengadukan dengan variabel waktu yang ada, kemudian dilakukan
proses filtrasi terhadap campuran. Filtrat diambil dan residu berupa padatan
dibuang. Sehingga dihasilkan pupuk cair yang mengandung ion N, P, dan K
sebagai keluaran utama.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa eceng gondok dapat


dimanfaatkan sebagai pupuk cair yang dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
8

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa jembatan merupakan


keseimbangan dari suatu sistem transportasi untuk tiga hal, yaitu merupakan
pengontrol kapasitas dari sistem, mempunyai biaya teringgi per-mil dari sistem,
jika jembatan runtuh, maka sistem akan lumpuh.Supaya sistem transportasi
jembatan dapat terwujud, harus melalui proses perencanaan yang matang. Dengan
adanya gelagar jembatan akan mendukung semua beban yang bekerja pada
jembatan. Bila menggunakan bahan baja, tentunya akan memberikan kekuatan
struktur yang lebih baik dibandingkan dengan bahan lain. Akan tetapi, bila kondisi
tidak memungkinkan dapat digunakan bahan kayu, yang berupa balok tunggal dan
atau balok susun, tergantung perencanaannya. Dengan demikian, aplikasi
trigonometri dapat digunakan dalam meminimalisir kesalahan dalam pemotongan
baja.

Saran

Saran yang diberikan kepada semua pihak bahwasanya eceng gondok dapat

dimanfaatkan menjadi pupuk cair. Di harapkan nantinya eceng gondok dapat

diproses dalam skala besar sehingga dapat menjadi

Saran yang diberikan kepada semua pihak bahwasanya jembatan


mempunyai fungsi keseimbangan dari sistem transportasi, sehingga dalam
pembuatannya harus diperhatikan bahan yang digunakan dan perencanaan yang
matang untuk mendapatkan hasil yang maksimal dengan biaya yang memadai.
Diharapkan nantinya dapat diketahui hasil dari pengukuran pada gelagar rangka
trapesium, sehingga didapat perhitungan jumlah dan jarak yang seefisien mungkin
dan bahan yang ekonomis serta aman penggunaannya.
9

DAFTAR PUSTAKA

Gopal, B. 1987. Water hyacinth. Elesevier, New York, NY.


Sculthorpe, C.D. 1985. The biology of aquatic vascular plants. Koeltz Scientific
Books, Konigstein, West Germany.
Vietmeyer, N.D. 1975. The beautiful blue devil. Natural History 84: 64-73.
Zaman, B.S., 2006, Kemampuan penyerapan eceng gondok terhadap Amoniak
dalam Limbah Rumah Sakit Berdasarkan Umur dan Lama Kontak, Jurnal
PRESIPITASI, vol. 1, No.1, Sept 2006, ISSN 1907-187X, UNDIP :
Semarang
10

Lampiran
BIODATA PENULIS

1. Nama Lengkap : Ning Masitah


NIM : 09320039
Tempat / Tgl. Lahir : Pasuruan, 05 Oktober 1991
Alamat : Jln. Notojoyo 67B, Tegalgondo, Karangploso
Malang
Telp / HP : 08980375166
Pendidikan :
1. SD : MI Ma’arif NU Nampes Pandaan/1997-2003
2. SMP : SMP Ma’arif NU Pandaan/ 2003-2006
3. SMA : SMK N 1 Purwosari Pasuruan/ 2006-2009
4. S1 jurusan Pendidikan Matematika dan Komputasi FKIP UMM
sampai sekarang.
Pengalaman Menulis :
Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja berjudul Pariwisata di
Kabupaten Pasuruan.

2. Nama Lengkap : Naviul Hasanah


NIM : 09320040
Tempat / Tgl. Lahir : Pasuruan, 26 Maret 1990
Alamat : Jln. Notojoyo 67B, Tegalgondo, Karangploso
Malang
Telp / HP : 085736011092
Pendidikan :
1. SD : SDN Kalipucang 02 Tutur Pasuruan /1997 - 2003
2. SMP : SMP N 1 Tutur Pasuruan /2003 - 2006
3. SMA : SMK N 1 Purwosari Pasuruan /2006 - 2009
4. S1 jurusan Pendidikan Matematika dan Komputasi FKIP UMM
sampai sekarang.
Pengalaman Menulis :
Pembuatan Laporan Tugas Akhir Pembuatan CD Company Profile
Instansi.

3. Nama Lengkap : Durrotus Sa’adah


NIM : 07320012
Tempat / Tgl. Lahir : Lamongan, 04 Juni 1988
Alamat : Jln. Notojoyo 67B, Tegalgondo, Karangploso
Malang
Telp / HP : 085755513351
Pendidikan :
1. SD : MI Muhammadiyah 02 Solokuro
2. SMP : SMP Muhammadiyah 12 Sendang Agung Paciran
3. SMA : MA Al-Ishlah Sendang Agung Paciran
4. S1 Jurusan Pendidikan Matematika dan Komputasi FKIP UMM
sampai sekarang.