You are on page 1of 7

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGELOLAAN LAHAN RAWA


Klasifikasi Lahan Gambut

-
05101181621003

PROGRAM STUDI ILMU TANAH


JURUSAN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2019
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Adapun hasil yang diperoleh praktikum ini adalah :


Tabel 4.1 tingkat kedalaman yang ada di lahan gambut
No Tingkatan Kedalaman Keterangan

1. Bergambut 0-50 cm Bergambut

2. Dangkal 50-100 cm Musiman

3. Sedang/ Menengah 100-200 cm Musiman

4. Dalam 200-300 -

4.2. Pembahasan
Pengertian Tanah Gambut
Lahan gambut adalah bentang lahan yang tersusun oleh tanah hasil
dekomposisi tidak sempurna dari vegetasi pepohonan yang tergenang air sehingga
kondisinya anaerobik. Material organik tersebut terus menumpuk dalam waktu
lama sehingga membentuk lapisan-lapisan dengan ketebalan lebih dari 50 cm.
Tanah jenis banyak dijumpai di daerah-daerah jenuh air seperti rawa, cekungan,
atau daerah pantai.
Sebagian besar lahan gambut masih berupa hutan yang menjadi habitat
tumbuhan dan satwa langka. Hutan gambut mempunyai kemampuan menyimpan
karbon dalam jumlah yang besar. Karbon tersimpan mulai dari permukaan hingga
di dalam dalam tanah, mengingat kedalamannya bisa mencapai lebih dari 10
meter.
Tanah gambut memiliki kemampuan menyimpan air hingga 13 kali dari
bobotnya. Oleh karena itu perannya sangat penting dalam hidrologi, seperti
mengendalikan banjir saat musim penghujan dan mengeluarkan cadangan air saat
kemarau panjang. Kerusakan yang terjadi pada lahan gambut bisa menyebabkan
bencana bagi daerah sekitarnya
Proses Terbentuknya Tanah Gambut
Pembentukan gambut
Tanah gambut terbentuk dari timbunan sisa-sisa tanaman yang telah mati,
baik yang sudah lapuk maupun belum. Timbunan terus bertambah karena proses
dekomposisi terhambat oleh kondisi anaerob dan/atau kondisi lingkungan lainnya
yang menyebabkan rendahnya tingkat perkembangan biota pengurai.
Pembentukan tanah gambut merupakan proses geogenik, yaitu pembentukan
tanah yang disebabkan oleh proses deposisi dan tranportasi, berbeda dengan
proses pembentukan tanah mineral yang umumnya merupakan proses pedogenik
(Hardjowigeno, 1986).
Tanah gambut terbentuk secara bertahap sehingga menunjukkan lapisan-
lapisan yang jelas. Hal ini berkaitan dengan faktor alam yang ada di sekelilingnya.
Lapisan-lapisan tersebut berupa perbedaan tingkat dekomposisi, jenis tanaman
yang diendapkan atau lapisan tanah mineral secara berselang-seling. Lapisan-
lapisan mineral tersebut menunjukkan gejala alam banjir dan
sedimentasi.Kebakaran hutan yang kemudian diikuti oleh suksesi hutan
menyebabkan bahan yang diendapkan menjadi berbeda-beda yang akhirnya
menyebabkan terjadinya lapisan-lapisan bahan gambut dalam profil tanah.
Proses pembentukan tanah gambut secara umum memerlukan waktu yang
sangat panjang, Menurut Andriesse (1988) tanah gambut di Indonesia terbentuk
antara 6.800-4.200 tahun yang lalu. Sementara itu Siefermann et al. (1988, dalam
Agus dan Subiksa, 2008) melaporkan bahwa berdasarkan carbondating
(penelusuran umur tanah gambut menggunakan teknik radio isotop), umur tanah
gambut di Kalimantan Tengah lebih tua lagi, yaitu 6.230 tahun pada kedalaman
100 cm sampai 8.260 tahun pada kedalaman 5 m.
Proses pembentukan tanah gambut secara rinci dikemukakan oleh Agus dan
Subiksa (2008), dimulai dari adanya danau dangkal yang secara perlahan
ditumbuhi oleh tanaman air dan vegetasi lahan basah. Tanaman yang mati dan
melapuk secara bertahap membentuk lapisan yang kemudian menjadi lapisan
transisi antara lapisan tanah gambut dengan substratum (lapisan di bawahnya)
berupa tanah mineral. Tanaman berikutnya tumbuh pada bagian yang lebih tengah
dari danau dangkal ini dan membentuk lapisan tanah gambut sehingga danau
menjadi penuh.
Klasifikasi gambut
Secara umum dalam klasifikasi tanah, tanah gambut dikenal sebagai
Organosol atau Histosols yaitu tanah yang memiliki lapisan bahan organik dengan
berat jenis (BD) dalam keadaan lembab < 0,1 g cm-3 dengan tebal > 60 cm atau
lapisan organik dengan BD > 0,1 g cm-3 dengan tebal > 40 cm (Soil Survey Staff,
2003).
Gambut diklasifikasikan lagi berdasarkan berbagai sudut pandang yang
berbeda; dari tingkat kematangan, kedalaman, kesuburan dan posisi
pembentukannya. Berdasarkan tingkat kematangannya, gambut dibedakan
menjadi:
• Gambut saprik (matang) adalah gambut yang sudah melapuk lanjut dan bahan
asalnya tidak dikenali, berwarna coklat tua sampai hitam, dan bila diremas
kandungan seratnya < 15%.
• Gambut hemik (setengah matang) (Gambar 2, bawah) adalah gambut setengah
lapuk, sebagian bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarma coklat, dan bila
diremas bahan seratnya 15 – 75%.
• Gambut fibrik (mentah) (Gambar 2, atas) adalah gambut yang belum melapuk,
bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarna coklat, dan bila diremas >75%
seratnya masih tersisa.
Gambut di Indonesia sebagian besar tergolong gambut mesotrofik dan
oligotrofik (Radjagukguk, 1997). Gambut eutrofik di Indonesia hanya sedikit dan
umumnya tersebar di daerah pantai dan di sepanjang jalur aliran sungai.
Tingkat kesuburan gambut ditentukan oleh kandungan bahan mineral dan
basa-basa, bahan substratum/dasar gambut dan ketebalan lapisan gambut. Gambut
di Sumatra relatif lebih subur dibandingkan dengan gambut di Kalimantan.
berdasarkan lingkungan pembentukannya, gambut dibedakan atas:
• gambut ombrogen yaitu gambut yang terbentuk pada lingkungan yang hanya
dipengaruhi oleh air hujan
• gambut topogen yaitu gambut yang terbentuk di lingkungan yang mendapat
pengayaan air pasang. Dengan demikian gambut topogen akan lebih kaya
mineral dan lebih subur dibandingkan dengan gambut ombrogen.
Berdasarkan kedalamannya gambut dibedakan menjadi:
• gambut dangkal (50 – 100 cm),
• gambut sedang (100 – 200 cm),
• gambut dalam (200 – 300 cm), dan
• gambut sangat dalam (> 300 cm)
Berdasarkan proses dan lokasi pembentukannya, gambut dibagi menjadi:
• gambut pantai adalah gambut yang terbentuk dekat pantai laut dan mendapat
pengayaan mineral dari air laut
• gambut pedalaman adalah gambut yang terbentuk di daerah yang tidak
dipengaruhi oleh pasang surut air laut tetapi hanya oleh air hujan
• gambut transisi adalah gambut yang terbentuk di antara kedua wilayah
tersebut, yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh air pasang laut.Batasan
tanah gambut sebagai Histosols, dengan demikian adalah:
 terdiri atas bahan tanah organik
 jenuh air, selama 1 bulan atau lebih setiap tahun
 ketebalannya minimal 60 cm, apabila tersusun dari bahan fibrik, atau jika
bobot-isinya kurang dari 0,1 g/cm3; atau
 ketebalannya minimal 40 cm, apabila tersusun dari bahan saprik, atau
bahan hemik, atau jika terdiri atas bahan fibrik kandungan serat jaringan
kurang dari ¾ bagian volume, dan bobot-isinya harus 0,1 g/cm3 atau lebih.
DAFTAR PUSTAKA

Agus, F. dan I G.M. Subiksa. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek
Lingkungan. Balai Penelitian Tanah. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, Bogor. 36 hal.

Andriesse, J.P. 1988. Nature and Management of Tropical Peat Soils. FAO Soils Bulletin
59. Food and Agriculture Organization of The United Nations. Rome. 165p.

Hardjowigeno, S. 1986. Sumber daya fisik wilayah dan tata guna lahan: Histosol.
Fakultas Pertanian IPB. Hal 86-94.

Noor, M. 2001. Pertanian Lahan Gambut: Potensi dan Kendala. Penerbit Kanisius.
Jakarta.

Page, S.E., F. Siegert, J.O. Rieley, H- D.V. Boehm, A. Jaya, S.H. Limin. 2002.
The amount of carbon released from peat and forest fires in Indonesia
during 1997, Nature, 420, 61-65.

Radjagukguk, B. 1997. Peat soil of Indonesia: Location, classification, and


problems for sustainability. In: Rieley and Page (Eds.). pp. 45-54.
Biodiversity and sustainability of tropical peat and peatland. Samara
Publishing Ltd. Cardigan. UK.

Soil Survey Staff. 2003. Key to Soil taxonomy. 9th Edition. United States
Department of Agriculture. Natural Resources Conservation Service.

Tie, Y.L. and J.S. Esterle. 1991. Formation of lowland peat domes in Serawak,
Malaysia. Proc. International Symposium on Tropical Peatland. 6-10 May
1991, Kuching, Serawak, Malaysia.
LAMPIRAN

Gambar 1. Foto tanah gambut saprik (berwarna gelap) dan tanah gambut hemik
(berwarna coklat)

Gambar 2. Contoh tanah gambut yang diambil menggunakan bor gambut (peat
sampler). Gambar atas memperlihatkan contoh gambut fibrik (mentah)
dan gambar bawah contoh gambut hemik (setengah matang).