You are on page 1of 36

HEMATOKRIT PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio)

Disusun sebagai Laporan Akhir Praktikum Fisiologi Hewan Air


Tahun Akademik 2018/2019

Disusun oleh :
Kelompok 4 / Perikanan C

Fitriana Dyah Rachmaningrum 230110180152


Rahmatika Aulia 230110180166
Mohammad Dhafi Ibrahim 230110180178

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat hidayah dan
karunia-Nya penulis mampu menyelesaikan laporan akhir praktikum pertama mata
kuliah Fisiologi Hewan Air yang berjudul ”Hematokrit Pada Ikan Mas (Cyprinus
carpio)”. Penyusunan laporan praktikum ini bertujuan untuk menganalisa dan
mengetahui hasil praktikum tentang hematokrit pada ikan mas.
Penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada dosen mata kuliah
Fisiologi Hewan Air dan juga kepada asisten laboratorium Fisiologi Hewan Air
yang setia membimbing dan membantu dalam melakukan praktikum hingga
penyusunan laporan akhir praktikum. Penulis berharap laporan akhir ini dapat
memberikan manfaat kepada para pembaca.

Jatinangor, Maret 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

BAB Halaman
DAFTAR TABEL ..................................................................... ...... iii
DAFTAR GAMBAR ................................................................. ...... iv
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................. ...... v
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................ ……...... 1
1.2 Tujuan ............................................................................. ...... 2
1.3 Manfaat ........................................................................... ...... 2

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ikan Mas .......................................................................... ......3
2.1.1 Klasifikasi Ikan Mas ....................................................... ......3
2.1.2 Fisiologi Ikan Mas .......................................................... ......4
2.2 Sistem Peredarah Darah .................................................. ......4
2.2.1 Komponen Penyusun Darah ............................................ ......5
2.2.2 Jantung............................................................................. ......6
2.2.3 Saluran Darah .................................................................. ......7
2.3 Hematokrit ...................................................................... ......9
2.3.1 Metode Pengukuran Hematokrit ..................................... ......9
2.3.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Hematokrit .... ...... 10

III BAHAN DAN METODE


3.1 Tempat dan Waktu .......................................................... ......12
3.2 Alat dan Bahan ................................................................ ......12
3.2.1 Alat .................................................................................. ......12
3.2.2 Bahan .............................................................................. ......12
3.3 Prosedur Praktikum ......................................................... ......13

IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil ................................................................................ ......14
4.1.1 Data Hasil Kelompok ...................................................... ......14
4.1.2 Data Hasil Percobaan Kelas ............................................ ......14
4.2 Pembahasan ..................................................................... ......16
4.2.1 Pembahasan Data Kelompok .......................................... ......16
4.2.2 Pembahasan Data Kelas .................................................. ......17

V SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Simpulan ......................................................................... ......19
5.2 Saran ............................................................................... ...... 19

DAFTAR PUSTAKA ................................................................ ......20

ii
DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman


1. Alat yang digunakan ........................................................................................ 12
2. Bahan yang digunakan ..................................................................................... 12
1. Hasil Percobaan Kelompok 4........................................................................... 14
2. Hasil Percobaan Kelas Perikanan C ................................................................. 15

iii
DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman
1. Ikan Mas..........................................................................................3
2. Sistem Peredaran Darah Ikan..........................................................4

iv
DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman


1. Alat Praktikum ............................................................................................ 22
2. Bahan Praktikum ......................................................................................... 24
3. Prosedur Praktikum ..................................................................................... 25
4. Dokumentasi Kelompok ............................................................................... 26
5. Tabel Angkatan ........................................................................................... 29

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ikan mas (Cyprinus carpio) dipercaya datang ke Indonesia dari Eropa dan
Tiongkok. Ikan ini berkembang menjadi ikan budidaya paling penting. Pada tahun
1860-an masyarakat di Ciamis, Jawa Barat, telah mempraktekkan pemijahan ikan
mas dengan penggunakan kakaban ijuk. Praktek seperti ini masih diadopsi para
peternak ikan hingga saat ini. Ikan mas cocok dikembangkan di lingkungan tropis
seperti Indonesia. Suhu ideal bagi pertumbuhannya antara 23-30 derajat celcius.
Ikan ini bisa dibudidayakan dalam kolam tanah, kolam air deras dan jaring
terapung. Secara total proses budidaya hingga ukuran siap konsumsi memerlukan
waktu 4-5 bulan.

Ikan mas merupakan ikan air tawar yang paling banyak dibudidayakan dan
merupakan komoditas perikanan budidaya air tawar tertua di Indonesia (Ghufran
2010). Ikan budidaya sangat rentan terhadap infeksi maupun penyakit. Degradasi
kualitas lingkungan menjadi salah satu faktor penghambat untuk menjamin
keberlanjutan produksi ikan budidaya.

Menurut Soewolo (2000), Sistem peredaran darah ikan bersifat tunggal, artinya
hanya terdapat satu jalur sirkulasi peredaran darah Sistem peredaran darah adalah
suatu sistem yang berfungsi untuk mengangkut dan mengedarkan oksigen dari
perairan ke sel-sel tubuh yang membutuhkan, serta mengangkut beberapa enzim,
zat nutrisi, garam-garam, hormon, dan antibodi serta mengangkut beberapa enzim
dan karbondioksida dari dalam usus, kelenjar-kelenjar, dan insang untuk keluar dari
tubuh. Secara umum, semua peredaran darah pada vertebrata adalah sama,
meskipun ada beberapa perbedaan di setiap kelompok hewan. Penentuan kadar
hematokrit dalam cairan darah berguna untuk melihat kesehatan ikan

1
2

Hematokrit dapat digunakan untuk memprediksi kondisi kesehatan ikan.


Karena jumlah hematokrit yang normal pada ikan adalah 22-70%. Jadi
kesimpulannya jika jumlah hematokrit ikan di bawah 22% maka ikan tersebut
menderita anemia. Sedangkan jika hematokrit diatas 70% maka menandakan ikan
tersebut sedang dalam keadaan stress.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui nilai hematrokit
pada ikan mas, serta mengetahui konsentrasi eritrosit dalam darah sehingga pada
akhir praktikum dapat menghitung dan menjadikannya suatu laporan nyata dari
hasil praktikum.

1.2 Manfaat
Manfaat dari praktikum “Hematokrit Pada Ikan Mas” adalah untuk
mengetahui hematokrit yang ada pada ikan mas dan mengetahui cara menghitung
hematokrit. Sehingga kita sebagai praktikan bisa mengetahui dan memahami nilai
hematokrit pada ikan mas dan mengetahui seberapa banyak konsentrasi eritrosit
dalam darah.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Ikan mas


Ikan mas merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang saat ini
menjadi primadona di sub sektor perikanan. Di pasaran ikan mas memiliki nilai
ekonomis tinggi dan jumlah permintaan yang besar terutama untuk beberapa pasar
lokal di Indonesia. Ikan mas atau yang juga dikenal dengan sebutan common carp
adalah ikan yang sudah mendunia.

2.1.1 Klasifikasi Ikan mas


Ikan mas merupakan jenis ikan air tawar dengan bentuk tubuh memanjang
dan sedikit pipih kesamping (Compressed), mulut terletak diujung tengah
(terminal) dan dapat disembulkan. Ikan mas bernilai ekonomis penting dan sudah
tersebar luas di Indonesia. Ikan mas Memiliki bentuk tubuh compressed dan
memiliki sirip ekor yang berbentuk homocercal. Ikan mas sama dengan ikan mas
jadi dapat di klasifikasikan secara taksonomi (Saaniin, 1984) sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Species : Cyprinus carpio
Nama Lokal : Ikan mas

Gambar 1. Ikan mas


(Sumber. Dokumen Pribadi)

3
4

2.1.2 Fisiologi Ikan Mas


Proses fisiologis dalam ikan yaitu tingkat respirasi, makan, metabolisme,
pertumbuhan, perilaku, reproduksi dan tingkat detoksifikasi dan bioakumulasi
dipengaruhi oleh suhu (Fadhil et al 2011). Setiap ikan memiliki rentang suhu yang
optimal bagi pertumbuhannya. Ikan yang hidup di lingkungan lebih hangat
memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih cepat tetapi cenderung memiliki jangka
hidup yang lebih pendek daripada ikan pada lingkungan air dingin. Suhu air yang
tinggi dapat meningkatkan sistem metabolisme tubuh ikan sehingga konsumsi
pakan meningkat (Kausar dan Salim 2006). Perbedaan suhu air media dengan tubuh
ikan akan menimbulkan gangguan metabolisme. Kondisi ini dapat mengakibatkan
sebagian besar energi yang tersimpan dalam tubuh ikan digunakan untuk
penyesuian diri terhadap lingkungan yang kurang mendukung tersebut, sehingga
dapat merusak sistem metabolisme atau pertukaran zat.
Ikan mas biasa hidup di perairan tawar yang airnya tidak terlalu dalam dan
deras seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan mas dapat hidup baik di daerah
dengan ketinggian 150-600 meter di atas permukaan air laut, pada suhu 25-30° C,
DO >3, salinitas 0 dan pH air antara 7-8 (Khairuman dkk 2008). Menurut Vonti
(2008) Semakin tinggi suhu air, maka kandungan oksigen terlarut akan semakin
sedikit. Sebaliknya jika suhu air semakin rendah maka kandungan oksigen terlarut
akan semakin besar. Kandungan DO kurang dari 1 mg/L dapat menyebabkan lethal
atau menyebabkan kematian dalam beberapa jam.

2.2 Sistem Peredaran Darah

Gambar 2. Sistem Peredaran Darah Ikan


(Sumber : google)
Sistem peredaran darah adalah sistem yang berfungsi untuk mengangkut
danmengedarkan O2 dari perairan ke sel-sel tubuh yang membutuhkan, juga
5

mengangkut enzim, zat-zat nutrisi, garam-garam, hormon, dan anti bodi serta
mengangkut CO2 dari dalam usus,kelenjar-kelenjar, insang, dan sebagainya, keluar
tubuh. Secara umum, sistem peredaran darah pada semua vertebrata adalah sama,
meskipun tetap ada perbedaan-perbedaan diantara setiapkelompok hewan.
Ikan mempunyai sistem peredaran darah tertutup, artinya darah tidak pernah
keluar dari pembuluhnya, jadi tidak ada hubungan langsung dengan sel tubuh
sekitarnya. Darah memberi bahan materi dengan perantaraan difusi melalui dinding
yang tipis dari kapiler darah, dankembali ke jantung melalui pembuluh yang ke dua.
Atau secara garis besarnya peredaran darahtunggal adalah peredaran darah yang
darah nya dari insang langsung beredar ke seluruh tubuhkemudian masuk ke
jantung. Jadi darah hanya beredar sekali melalui jantung dengan rute dari jantung
ke insang lalu ke seluruh tubuh kemudian kembali ke jantung.Seri pertama
dinamakan sistem arteri dan seri ke dua disebut sistem vena. Dimana
organutamanya adalah jantung yang bertindak sebagai pompa tekan merangkap
pompa hisap. Darah ditekan mengalir keluar dari jantung melalui pembuluh arteri
ke seluruh tubuh sampai kekapiler darah, kemudian dihisap melalui pembuluh vena
dan kembali ke jantung.

2.2.1 Komponen Penyusun Darah


Darah terdiri dari sel darah dan plasma darah. Sel darah merah
merupakan bagian darah yang mempunyai bentuk. Ada 3 macam sel darah :

a. Sel darah merah (eritrosit)


Ikan sebagaimana vertebrata lain, memiliki sel darah merah (eritrosit)
berinti dan berwarna merah kekuningan dengan bentuk dan ukuran
bervariasi antara satu species dengan lainnya. Sel darah merah berfungsi
sebagai pengangkut oksigen. Pengangkutan oksigen dipengaruhi oleh
jumlah hemoglobin.
6

b. Sel darah putih (leukosit)


Sel darah putih (leukosit) memiliki jumlah antara 20000 s.d. 150000 tiap
mm3 darah. Leukosit dapat dibedakan menjadi dua yaitu granulosit
(leukosit yang bergranula) dan agranulosit (leukosit yang tidak bergranula).
c. Keping darah (trombosit)
Trombosit berperan penting dalam pembekuan darah. Berfungsi mencegah
kehilangan cairan tubuh pada kerusakan-kerusakan di permukaan tubuh

2.2.2 Jantung
Jantung adalah suatu organ yang berupa benda berongga dan terletak dalam
ronga ruang mediastinal atau bagian posterior lengkung insang. Organ ini
merupakan suatu pompa yang terdiri atas otot licin yang secara ritmis berkontraksi
untuk memompa darah dari vena ke arteri. Untuk melaksanakan fungsi ini jantung
mempunyai suatu sistem klep yang menyebabkan darah mengalir ke satu arah.
Jantung pada ikan terdiri dari dua ruangan yang terletak di bagian posterior
lengkung insang, di bagian depan rongga badan dan di atas Ithmus. Kedua ruang
tersebut ialah atrium (auricle) yang berdinding tipis dan ventricle yang berdinding
tebal. Ruangan ini berurutan dari belakang ke depan, yaitu:
Sinus venosus adalah ruang tambahan atau kantung yang berdinding
tipis,hampir tidak mengandung jaringan otot. Dinding kaudalnya bersatu
dengan bagian depan dari septum transversum, yang memisahkan rongga
pericardial dari rongga pleuroperitoneal.darah dari seluruh tubuh
masuk di sinus venosus melalui sepasang ductus. Cuvieri yang masuk di bagian
lateral, dan sepasang sinushepaticus yang masuk pada dinding posterior dari sinus
venosus. Vena coronariayang datang dari dinding otot jantung, juga masuk dari
sinus venosus . Dari sinidarah melalui lubang sinus atrial masuk ke dalam atrium.
Atau dengan kata lain bahwa kantung berdinding tipis ini berfungsi untuk
menampung darah dari vena hepatica yang membawa darah dari vena kardial
anterior dan posterior.
Atrium adalah ruang tunggal yang dindingnya relatif tipis, terletak anterior
dari sinus venosus. Darah dari atrium melalui lubang atrioventikular diteruskan
7

kedalam rongga ventrikel. Lubang ini dijaga oleh klep atau katup
atrioventrikular,supaya aliran darah tidak kembali ke rongga atrium.

Ventrikel adalah ruang berdinding tebal berotot, menerima darah hanya


dariatrium saja dan memompakan darah melalui aorta ventral ke insang. Ruang ini
dibentuk oleh dua lapisan otot yaitu lapisan otot luar disebut kortikal dan lapisan
otot dalam disebut spongi. Bagian ini menerima darah dari atrium melalui
atrioventricular. Ujung anterior dari ventrikel tumbuh memanjang dan berdinding
tebal, di dalamnya terdapat suatu seri klep semilunar.

Conus Arteriosus pada sebagian ikan Teleostei sudah tereduksi menjadi


suatu struktur yang sangat kecil, sedangkan bulbus arteriosus (perluasan
sebagiandari aorta ventralis) berkembang dengan baik. Antara sinus venosus dan
atrium terdapat katup sinuatrial, yang berasal dari jaringan endikardial dan
miokardial/otot jantung, berfungsi menahan darah agar tidak kembali ke sinus
venosus, antara atrium dan ventrikel terdapat katup atriventrikular, yang menahan
darah agar tidak kembali ke atrium. Perjalanan dari bulbus keluar arteri ventralius
menuju ke depan, bercabang halus menjadi arteri branchialis afferent yang menuju
ke tiap insang. Didalam insang arteri ini bercabang menjadi kapiler-kapiler halus
yang berfungsidalam pertukaran gas (mengambil O2 dan melepaskan CO2) keluar
dari insang,kapiler-kapiler tersebut kembali menyatu menjadi arteri branchialis
afferent. Arteri-arteri ini kemudian bersatu menjadi aorta dorsalis yang berjalan
mengikuti tulang punggung dan bercabang-cabang ke seluruh tubuh untuk
selanjutnya kembali lagi jantung melalui pembuluh vena. Vena yang masuk ke
jantung terdiri dari sepasang ductus cuvier.

2.2.3 Saluran Darah


Saluran darah merupakan salah satu penunjang keberlangsungan sistem
peredaran darah, Saluran darah terdiri dari 3 yaitu :
1. Arteri
Adalah pembuluh darah yang aliran darahnya menjauhi jantung atau saluran
yang dilaluidarah yang keluar dari insang dan menuju ke bagian-bagian tubuh.
Biasanya membawa darah yang kaya dengan oksigen ke seluruh bagian tubuh.
8

Saluran darah ini terdiri dari tiga lapisanyaitu bagian dalam (intima), memiliki
lapisan endothelium dan sub endothelium.
2. Vena
Adalah pembuluh darah balik yang aliran darahnya menuju ke jantung.
Struktur vena samahalnya dengan arteri, namun mempunyai dinding yang lebih
tipis dan rongga yang lebih besar dibanding arteri pada ukuran diameter yang sama.
Bagian dalam dari vena yang mengalamitekanan hidrostatik tinggi, umumnya kaya
akan jaringan elastis dan sel otot licin.
3. Kapiler
Adalah bagian percabangan saluran darah yang merupakan tempat terjadinya
pertukaran zat (gas nutrien) antara darah dengan jaringan/sel. Ada tiga macam
kapiler darah yaitu, kapiler kontinyu, kapiler berpori dan kapiler diskontinyu
(sinusoid).Darah berupa cairan yang dibangunkan oleh plasma darah, sel darah dan
substansi lainyang terlarut di dalamnya.Plasma darah berupa cairan zat putih telur
yang mengandung bagian – bagian dari sel darah, mineral terlarut. Di luar
pembuluh darah, darah akan membeku disebabkanoleh kerja ensim trhombokinase
yang bereaksi dengan garam kalsium menjadi trombin yangaktif.
Ikan memiliki kadar protein plasma berupa albumin (pengontrol tekanan
osmotik),lipoprotein (pembawa lemak), globulin (pengikat heme), ceruloplasmin
(pengikat Cu), fibrinogen (bahan pembeku darah), dan iodurophorine (sebagai
yudium anorganik).Ikan pada umumnya, vena utama yang membawa darah
kembali ke jantung ialah sepasang vena kardinalis anterior dan posterior.Vena yang
pertama, membawa darah dari bagiankepala berjalan berdampingan dengan
sepasang vena jugularis yang letaknya lebih ke tengah. Dari ekor berjalan vena
caudalis yang tunggal, kemudian bercabang dua menjadi vena portaerenalis menuju
ke ginjal. Di dalam ginjal vena potae renalis mempercabangkan banyak vena renalis
advehentes, dan masing-masing cabang ini pecah menjadi kapiler darah. Jaring
kapiler darah ini kemudian bersatu kembali menjadi beberapa vena renalis
revehentis yang mengalir ke permukaan tengahdari ginjal dan bermuara pada vena
kardinalis posterior. Sistem peredaran vena pada ikan teleostei Volume darah yang
beredar dalam tubuh ikan Teleostei berkisar antara 1,5 ± 3 % dari bobot tubuhnya.
9

2.3 Hematokrit
Hematokrit menunjukkan persen sel darah merah dari sejumlah darah. Bila
dikatakan hematokrit 40 (40%) berarti darah terdiri dari 40% sel darah merah dan
60% plasma dan sel darah putih.
Haemoglobin merupakan protein yang terdiri dari protoporfirin, globin
dan besi yang bervalensi 2 (ferro). Satu gram hemoglobin dapat mengikat sekitar
1,34 ml oksigen. Kadar hemoglobin yang rendah dapat dijadikan sebagai petunjuk
mengenai rendahnya kandungan protein pakan, defisiensi vitamin atau
ikanmendapat infeksi. Sedangkan kadar tinggi menunjukkan bahwa ikan sedang
beradadalam kondisi stress (Kuswardani 2006).

Haemoglobin yang mengikat oksigen disebut oksihaemoglobin


(Guyton,1976). Haemoglobin bertanggungjawab terhadap transport oksigen dan
karbondioksida dalam darah. Peningkatan kadar haemoglobin akan diikuti
oleh peningkatan kadar hematokrit (Soetrisno 1987). Menurut Sadikin (2001)
bahwa hematokrit adalah persentase volume seluruh SDM yang ada di dalam darah
yang diambil dalam volume tertentu. Untuk tujuan ini, darah diambil dengan
semperit dalam suatu volume yang telah ditetapkan dan dipindahkan ke dalam suatu
tabung khusus berskala hematokrit.
Untuk pengukuran hematokrit ini, darah tidak boleh dibiarkan
menggumpals ehingga harus diberi antikoagulan. Setelah tabung tersebut dipusingi
dengan kecepatan dan waktu tertentu, maka SDM akan mengendap.

2.3.1 Metode Pengukuran Hematokrit


Nilai normal hematokrit tergantung pada jenis kelamin. Ada 2 metode
untuk menentukan nilai hematokrit, yaitu :
a. darah dimasukkan ke dalam tabung Winsrobe yang mempunyai skala,
kemudian diputar dengan kecepatan 3000 putaran per menit selama
setengah jam (sebelum dimasukkan ke dalam tabung darah diberi
antikoalugan terlebih dahulu).
10

b. Mikrohematokrit, pada metode ini digunakan tabung kapiler khusus,


alat pemutar dan papan skala untuk menentukan % volume sel darah
merah. Kecepatan pemutaran adalam 11000rpm selama 4 menit.

Hematokrit dapat dilakukan secara elektronik. Pada metode ini


menggunakan alat darah yang mampu meneruskan aliran, sedangkan sel darah
merah bersifat menghambat aliran listrik darah yang telah dicampur dengan
antikoagulan dihisap pada tabung khusus dan diselipkan pada alat baca. Dengan
hanya menekan tombol, nilai hematokrit dapat dibaca pada galvanometer.

2.3.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Hematokrit


Kadar hematokrit ini bervariasi tergantung pada faktor nutrisi, umur ikan,
jenis kelamin, ukuran tubuh dan masa pemijahan. Pada hematokrit, kadar eritrosit
yang rendah menunjukan terjadinya anemia. Sedangkan kadar tinggi menandakan
bahwa ikan dalam keadaan stress. Peningkatan hematokrit dapat disebabkan sel
membengkak pada keadaan ikan yang mengalami hipoksa. Faktor yang
mempengaruhi hematokrit antara lain :
a. Jumlah eritrosit
Apabila jumlah eritrosit dalam keadaan banyak (polisitemea) maka nilai
hematokrit akan meningkat dan jika eritrosit sedikit (dalam keadaan
anemia) maka nilai hematokrit juga tinggi.
b. Ukuran eritrosit
Faktor terpenting dalam pengukuran hematokrit adalah ukuran sel darah
merah dimana dapat mempengaruhi viskositas darah. Viskositas yang
tinggi maka nilai hematokrit juga tinggi.
c. Bentuk eritrosit
Apabila terjadi kelainan bentuk (poikilositosis) maka akan terjadi
trapped plasma (plasma yang terperangkap) sehingga nilai hematokrit
meningkat.
11

d. Perbandingan antikoagulan dengan darah


Jika antikoagulan berlebihan akan mengakibatkan eritrosit mengerut,
sehingga nilai hematokrit menurun (Ganda Soebrata 1989).
e. Tempat penyimpanan
Tempat penyimpanan sebaiknya dilakukan pada suhu 4oC selama tidak
lebih dari 6 jam.
f. Kurang homogen
BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Tempat dan Waktu


Praktikum Nilai Hematokrit pada Ikan Mas (Cyprinus carpio) dilaksanakan
di Laboratorium Akuakultur, Gedung 2 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjadjaran, pada Rabu, tanggal 27 April 2019 dari pukul 13.00 WIB
s.d. 15.00 WIB.
3.2 Alat dan Bahan
Praktikum ini membutuhkan alat dan bahan untuk menunjang keberhasilan
proses praktikum dan mendapatkan hasilnya untuk itu alat dan bahan harus yang
disiapkan dan disediakan harus sesuai dengan prosedur.
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum yaitu sebagai berikut :
Tabel 1. Alat yang digunakan
No Nama Alat Fungsi
1. Timbangan Sebagai penimbang bobot ikan
2. Dissecting Kit Sebagai alat pembedah ikan
3. Penjepit arteri Sebagai penjepit bagian saluran darah aorta
ventralis
4. Pipa kapiler heparinized Sebagai penampung sampel darah segar
5. Sentrifuge hematocrit Sebagi alat pemisah antara darah dan
plasma darah
6. Wax/lilin malam Sebagai penyumbat salah satu ujung pipa
kapiler yang telah berisi darah segar
7. Haematocrit reading chart Sebagai papan pembaca nilai hematokrit
(%)

3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum yaitu sebagai berikut :
Tabel 2. Bahan yang digunakan
No Nama Alat Fungsi
1. Ikan Mas Sebagai bahan percobaan atau yang diamati

12
13

3.3 Prosedur Praktikum


Berikut ini adalah prosedur yang harus dilakukan, antara lain :
1. Ikan uji diambil dari akuarium stok, lalu ikan ditimbang dan dicatat
bobotnya.
2. Ikan uji dipegang dengan tangan kiri (kepala ikan menghadap praktikan),
bagian anterior kepala ikan dengan sonde, sonde diputar perlahan sehingga
otak ikan rusak dan ikan pingsan.
3. Ikan dibedah pada bagian dekat insang dan sebagian perut dibagian anterior,
hingga terlihat organ jantung.
4. Aorta ventralis dijepit dengan penjepit arteri hingga sinus venosus terisi
penuh oleh darah.
5. Pipa kapiler darah ditusukkan ke sinus venosus, darah ditampung sampai
±¾ volume pipa kapiler.
6. Lubang pipa kapiler ditutup dan ditancapkan secara tegak lurus pada lapisan
lilin/wax yang telah disediakan.
7. Sentrifuge hematocrit disiapkan, pipa kapiler diletakkan secara seimbang
antara masing-masing pipa.
8. Sampel darah disentrifugasi selama 4 menit dengan kecepatan 12.000 rpm.
9. Selesai disentrifugasi, pipa kapiler diletakkan diatas ”Hematocrit Reading
Chart” nilai hematokrit dibaca dengan menyesuaikan ketinggian plasma
sebagai batas atas dan sel darah sebagai batas bawah.
10. Nilai hematokrit yang telah didapat kemudian dicatat pada logbook.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Data Hasil Kelompok
Praktikum Fisiologi Hewan Air kali ini membahas tentang hematokrit darah
pada ikan mas. Berikut ini adalah data hasil praktikum kelompok 4 :

Tabel 3. Data hasil percobaan kelompok 4


Kelompok Bobot Ikan (g) Hematokrit(%)
4 115 47

Nilai Hematokrit Kelompok 4


0.5
0.45
0.4
0.35
0.3
0.25
0.2
Nilai Hematokrit Kelompok 4
0.15
0.1
0.05
0
Nilai
Hematokrit
(%)

Gambar 4. Grafik Data Hasil Pengamatan Kelompok

4.1.2 Data Hasil Percobaan Kelas


Data kelas mengenai hasil percobaan praktikum Fisiologi Hewan Air yang
membahas tentang hematokrit darah pada ikan mas. Berikut ini adalah data hasil
praktikum kelas C yang terdiri dari 19 kelompok, data tersebut merupakan rata-rata
dari hasil percobaan :

14
15

Tabel 4. Data hasil percobaan kelas Perikanan C


Kel Bobot Ikan (gram) Nilai Hematokrit (%)
1 104 50
2 119 15
3 117 45
4 115 47
5 118 38
6 120 40
7 87 38
8 115 30
9 143 59
10 95 35
11 118 50
12 93,25 49
13 112 45
14 115 50
15 115 30
16 86,5 35
17 116 18
18 112 30
19 119,49 20
16

70

60

50

40

Hematokrit(%)
30

20

10

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Gambar 5. Grafik Hasil Data Kelas Tentang Penelitian Hematokrit

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pembahasan Data Kelompok
Peredaran darah merupakan sistem yang sangat penting untuk metabolisme
yang terjadi pada ikan. Darah yang mengalir pada ikan membawa zat-zat serta
nutrisi yang baik untuk kehidupan ikan. Maka adalah ajar jika praktikum penelitian
hematokrit darah ikan diteliti agar praktikan mengetahui perlakuan yang terbaik
dalam pemeliharaan agar sel darah yang berada pada darah ikan stabil, yaitu dengan
normal 30-35% sel darah per ikan. Percobaan yang telah dilakukan kelompok
empat melakukan pengujian terhadap sampel darah yang di ambil dari ikan dengan
bobot badan ikan 115g kemudian di sentrifugasi selama 2 menit dengan hasil
pengamatan yaitu untuk sampel pertama sel darah sebesar 47% disebut melebihi
hematokrit nomal yang berkisar 30-35%.
Hematokrit adalah volume sel darah yang terdapat pada darah dan dalam
pengamatan ini darah di sentrifugasi sehingga sel darah dan plasma darah menjadi
terpisah karena perbedaan massa. Sel darah terdiri dari sel darah putih , sel darah
merah dan hemoglobin sedangkan plasma darah terdiri dari protein , air dll. Hal ini
sesuai dengan dasar teori yang praktikan peroleh yaitu Darah ikan tersusun atas
17

cairan plasma dan sel-sel darah yang terdiri dari sel-sel darah merah (eritrosit), sel-
sel darah putih (leukosit) dan keping darah (trombosit). Volume darah dari ikan
teleostey, heleostey dan chondrostei adalah sekitar 3% dari bobot tubuh, sedangkan
ikan chondrocthyes memiliki darah sebanyak 6,6% dari berat tubuhnya (Randall,
1970 dalam Affandi, 1999).
Darah terdiri atas dua kelompok besar yaitu sel dan plasma. Sel terdiri atas
sel-sel diskret yang mempunyai bentuk khusus dan fungsi berbeda, sedangkan
komponen dari plasma selain fibrinogen, juga terdapat ion-ion inorganik dan aneka
komponen organik untuk fungsi metabolik. Fungsi dari kedua komponen tersebut
kadang-kadang terpisah, kadang-kadang juga bergabung (Fujaya, 2004). Seperti
pada hewan bertulang belakang (vertebrata) berdarah dingin lainnya, salah satu ciri
pembeda dari darah ikan adalah adanya inti sel pada sel darah merah (eritrosit)
yang sudah matang. (Yasutake and Wales, 1983 dalam Affandi, 1999). Fungsi
utama sel darah merah adalah untuk mengangkut hemoglobin yang berperan
membawa oksigen dan insang atau paru-paru ke jaringan (Fujaya (2004).

4.2.2 Pembahasan Data Kelas


Data hasil pengamatan dari kelas Perikanan C, data tersebut merupakan data
perbandingan pengamatan persentasi hemtokrit darah pada ikan mas. Pengamatan
dilakukan sengan mengambil sampel darah dari jantung ikan. Namun sebelum
sampel darah perlu dilakukan penimbangan bobot ikan terlebih dahulu untuk
mengetahui massa dari ikan yang akan diambil sampel darahnya. Pastikan untuk
melumpuhkan ikan sebelum pembedahan dengan menusuk otak ikan dengan jarum,
ikan dilumpuhkan agar saat pembedahan ikan tidak banyak bergerak atau meronta.
Pembedahan dilakukan untuk mengambil jantung dan sinus venosus yang kaya
akan darah. Setelah dibedah dan ditemukan, jepit bagian arteri dengan gunting
penjepit agar darah tertahan di sinus venosus. Pipa kapiler ditusukkan dan diputar
kanan kiri bergantian agar sampel darah mengalir mengisi pipa dan darah dapat
tercampur dengan hepaprin serta tidak mengalami penggumpalan. Setelah darah
masuk dan tercampur tutup salah satu sisi pipa menggunakan malam/ lilin mainan
agar darah tidak kembali keluar saat proses sentrifugasi berlangsung.Siapkan alat
18

setrifugasi dan tata rapih pipa yg berisi darah pastikan untuk menandai pipa sampel
agar tidak tertukar. Sampel disentrufugasi selama kurang lebih 5 menit dengan
kecepatan 12.000 rpm. Setelah proses sentrifugasi selesai darah akan terpisah
berdasarkan berat jenisnya antara sel darah merah dan plasma darahdan letakkan
pada hematocrit reading chart dan sesuaikan tinggi plasma darah sebagai batas atas
dan sel darah merah sebagai batas bawah.
Hasil percobaan kelompok kami mendapatkan hasil sebagai berikut, bobot
ikan yang kami timbang adalah sebesar 115 gram, dengan jumlah hematokrit
sebesar 47%, hematokrit merupakan jumlah presentasi sel darah merah dalam darah
ikan. Kasil pemeriksaan hematokrit dapat dijadikan patokan kesehatan pada ikan.
Normalnya ikan harus memiliki setidaknya 35% sel darah merah, jika kurang dari
itu maka ikan tersebut diindikasikan mengalami anemia atau kekurangan darah
merah, dari situ dapat diketahui bahwa ikan yang dijadikan sampel kelompok 4
merupakan ikan yang sehat secara hematokritnya.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Berdasarkan praktikum ikan dalam keadaan sehat dan normal dengan nilai
hematokrit 22-70% berjumlah 51 ekor. Ikan dalam keadaan tidak sehat dan tidak
normal dengan nilai hematokrit dibawah 22% atau diatas 70% berjumlah 7 ekor.
Nilai hematokrit dipengaruhi oleh umur ikan, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan
masa pemijahan. Salah satu metode untuk menghitung nilai hematokrit adalah
dengan menggunakan metode sentrifugasi. Nilai hematokrit berbanding lurus
dengan nilai eritrosit. Dalam praktikum didapatkan nilai hematokrit ikan mas
kelompok kami sebesar 47%, maka dapat diartikan bahwa didalam darah
terkandung 47% sel eritrosit. Perhitungan nilai hematokrit dilakukan dengan
mencocokkan kandungan darah yang ada dalam pipa kapiler dengan hematocrit
reading chart. Nilai hematokrit hasil pengamatan angkatan menunjukkan bahwa
sampel ikan yang dipakai praktikum kebanyakan dalam keadaan normal dan sehat
dan terdapat sampel ikan dalam keadaan tidak normal dan tidak sehat.

5.2 Saran
Praktikum yang membahas tentang nilai hematokrit ikan mas, sebaiknya
praktikum dilaksanakan lebih lanjut dengan perhitungan yang akurat, agar data
yang didapat lebih akurat lagi. Selain itu diperlukannya alat yang lebih mendukung
praktikum agar praktikum berlangsung lancar dan efektif.

19
DAFTAR PUSTAKA

Fadhil R, Endan J, Taip FS, Salih M. (2011). Kualitas air dalam sistem resirkulasi
untuk budidaya ikan lele/keli (Clarias Batrachus). J. Aceh Depelovment
International Conference 1:1-10.

Ghufran, M.H., Kordi, K. 2010. Budidaya Ikan Lele di Kolam Ikan Terpal.
Yogyakarta: Lily Publisher.
Kausar R, Salim M. 2006. Effect of water temperature on the growth performance
and feed conversion ratio of Labeo rohita. J. Pakistan Veteterina 26(3), 105-
108.

Khairuman, K. A. 2008. Buku Pintar Budidaya 15 Ikan Konsumsi. Jakarta: Argo


Media.
Kuswardani, Y. 2006. Pengaruh pemberian Resin Lebah Terhadap Gambara Darah
Maskoki Carassius auratus Yang Terinfeksi Bakteri Aeromonashydrophil.
Skripsi. Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan . Jakarta: Binacipta.

Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: DIKTI Departemen


Pendidikan Nasional.

20
LAMPIRAN
22

Lampiran 1. Alat Praktikum

Deseccting Kit Gunting bedah

Penjepit arteri Nampan

Objek glass Pisau bedah


23

Cawan petri Hematokrik reading chart

Lilin malam/Wax Sentrifuge hematokrit

Pipa kapiler Timbangan


24

Lampiran 2. Bahan Praktikum

Ikan mas
25

Lampiran 3. Prosedur Praktikum

Ikan uji diambil dari akuarium stok, lalu ikan ditimbang dan dicatat
bobotnya.

Ikan uji dipegang dengan tangan kiri (kepala ikan menghadap


praktikan), bagian anterior kepala ikan ditusuk dengan sonde,
diputar perlahan sehingga otak ikan rusak dan ikan pingsan.

Ikan dibedah pada bagian dekat insang dan sebagian perut dibagian
anterior, hingga terlihat organ jantung.

Aorta ventralis dijepit menggunakan penjepit arteri hingga sinus


venosus terisi penuh oleh darah.

Pipa kapiler darah ditusukkan ke sinus venosus, darah ditampung


sampai ±¾ volume pipa kapiler.

Lubang pipa kapiler ditutup dengan menancapkan secara tegak


lurus pada lapisan lilin/wax yang telah disediakan.
sampai ±¾ volume pipa kapiler.

Sentrifuge hematokrit disiapkan, pipa kapiler diletakkan secara


seimbang antara masing-masing pipa. Sampel darah disentrifuge selama
4 menit dengan kecepatan 12.000

Pipa kapiler dibaca dengan menyesuaikan ketinggian plasma


sebagai batas atas dan sel darah sebagai batas bawah.
26

Lampiran 4. Dokumentasi Kelompok

Ikan uji diambil dari


Bagian anterior kepala
akuarium stok, lalu ikan
ikan ditusuk dengan
ditimbang dan dicatat
sonde, diputar perlahan
sehingga otak ikan rusak
dan ikan pingsan

Ikan dibedah pada bagian


Aorta ventralis dijepit
dekat insang dan sebagian
menggunakan penjepit
perut dibagian anterior,
arteri hingga sinus
27

venosus terisi penuh oleh hingga terlihat organ


darah. jantung.

Darah ditampung sampai Lubang pipa kapiler

±¾ volume pipa kapiler. ditutup dengan


menancapkan secara
tegak lurus pada lapisan
lilin/wax yang telah
disediakan

Sentrifuge hematokrit
disiapkan, pipa kapiler
28

Sampel darah disentrifuge diletakkan secara


selama 4 menit dengan seimbang antara masing-
kecepatan 12.000 masing pipa.

Nilai hematokrit yang telah


didapat kemudian dicatat
pada logbook.
29

Lampiran 5. Tabel Angkatan


Tabel 1. Hasil pengamatan nilai hematokrit ikan mas kelas Perikanan A
Bobot Ikan Hematokrit
Kelompok (Gram) (%)
1 206 40
2 211 40
3 112 40
4 221 40
5 89 32
6 146 32
7 211 32
8 85 32
9 146 25
10 221 25
11 101,59 25
12 107,37 25
13 241 40
14 241 40
15 101,59 40
16 104 33
17 206 33
18 114 33
19 104 33

Tabel 2.Hasil pengamatan nilai hematokrit ikan mas kelas Perikanan B


Bobot Ikan Hematokrit
Kelompok (gram) (%)
1 120 30
2 120 30
3 120 30
4 92 38
5 92 38
6 92 38
7 110 40
8 110 40
9 110 40
10 91 30
11 91 30
12 91 30
13 120 30
14 92 38
15 110 40
16 92 20
17 92 20
18 91 30
30

19 92 20
20 92 20

Tabel 3. Hasil pengamatan nilai hematokrit ikan mas kelas Perikanan C


Bobot Ikan Hematokrit
Kelompok (Gram) (%)
1 104 50
2 119 15
3 117 45
4 115 47
5 118 38
6 120 40
7 87 38
8 115 30
9 143 59
10 95 35
11 118 50
12 93,25 49
13 112 45
14 115 50
15 115 30
16 86,5 35
17 116 18
18 112 30
19 119,49 20