You are on page 1of 62

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masyarakat indonesia adalah masyarakat majemuk yang ditandai oleh

adanya kesatuan sosial yang memiliki perbedaan latar belakang yang beragam

seperti suku bangsa, agama atau kepercayaan, adat istiadat dan budaya serta letak

geografis yang berbeda-beda. Keanekaragaman itu tersebar dan menempati

wilayah Kepulauan Nusantara.

Memahami nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam keragaman

kehidupan masyarakat, senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan pada

berbagai aspek kehidupan baik dalam aspek ekonomi, sosial, maupun budaya,

sejak dari manusia pertama sampai sekarang bahkan yang akan datang. Perubahan

dan perkembangan tersebut tetap berlangsung, hal ini terjadi baik secara evolusi

maupun secara revolusi tergantung dari besarnya pengaruh budaya dari dalam

maupun dari luar.Suatu kemustahilan bilamana terdapat sekelompok manusia atau

masyarakat yang tidak mempunyai budaya atau karya. Sebaliknya tidak akan ada

budaya tanpa kehadiran manusia.

Menurut Suparlan (1990 : 4) bahwa budaya adalah keseluruhan

pengetahuan yang dimiliki oleh manusia sebagai mahluk sosial yang isinya adalah

perangkat-perangkat pengetahuan yang secara efektif dapat memahami dan

menginterpretasikan lingkungan yang dihadapi serta untuk menciptakan tindakan-

tindakan yang diperlukan. Dalam pengertian ini budaya adalah suatu pedoman

atau pegangan untuk mengadaptasikan diri dalam menghadapi lingkungan alam,

1
sosial, dan budaya agar tetap melangsungkan kehidupannya. Untuk mengangkat

dan memelihara tradisi peninggalan sejarah sebagai generasi penerus perlu

melakukan pengkajian secara mendalam tentang suatu peristiwa dan peninggalan

sejarah yang terjadi pada masa silam. Hal ini dapat di katakan bahwa walaupun

telah banyak penelitian yang telah di lakukan di daerah ini, namun demikian

seolah-olah segalanya masih gelap, karena masi begitu banyak yang belum di

ungkapkan. Menyadari makna edukatif dari sejarah, serta upaya pelestarian dan

perkembangannya, maka perlu diadakan penggalian, pengungkapan dan

pengkajian nilai-nilai sejarah penuh muatan warisan bermakna edukatif.

Disinilah tanggung jawab bagi kalangan akademik khususnya yang

bergelut dalam disiplin ilmu sejarah untuk berperan lebih aktif untuk melakukan

pengkajian dan pengembangan warisan para leluhur sebagai aset yang dimiliki

sebuah daerah, yang kemudian menjadi pangkal bagi tumbuhnya kesadaran

nasional serta mampu menopang pembangunan daerah yang sedang dilaksanakan

sekarang. Leirissa (2006 : 2) bahwa “ada tiga hal yang menjadi modal dasar

untuk penelitian dari penulisan sejarah lokal yaitu: subjek, tempat dan waktu”.

Artinya kita harus memutuskan sesuatu tema dalam sejarah manusia, di suatu

tempat, dalam suatu kurun waktu tertentu. Hal inilah yang menjadi fokus

penelitian di Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi

Tenggara.

Pulau Buton terkenal dengan sebutan seribu benteng. Betapa tidak, selain

di Kota Bau-Bau dan Kabupaten Buton,Sulawesi Tenggara, juga terdapat

beberapa benteng lainnya. Salah satunya seperti benteng Lipu Ogena yang berada

2
di Kelurahan Takimpo, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton. Benteng Lipu

Ogena ini berada diatas perkampungan warga. Benteng Lipu Ogena ini masih

banyak menyimpan peninggalan-peninggalan sejarah yang belum banyak

terungkap seperti benteng-benteng serta beberapa bukti-bukti fisik lainnya yang

terkandung didalamnya yang menurut masyarakat setempat memiliki makna

penting dalam perjalanan sejarah daerah tersebut.

Benteng ini terletak di Kelurahan Takimpo, Kecamatan Pasarwajo

Kabupaten Buton pada koordinat 05º 32 47,3” Lintang Selatan dan 122º 51 02,5 “

Bujur Timur dengan ketinggian 179 meter dari permukaan laut. Bentuk bangunan

melingkar dengan kondisi dinding mengikuti konstur tanah, telah dipugar oleh

pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2006 dengan dinding terbuat dari

batu karang. Benteng dilengkapi dengan lima pintu, pintu utama terletak pada sisi

timur. Ketiga pintu lainnya masing-masing terletak di sisi selatan, utara, barat,

dan satu pintu pibuni (tersembunyi) yang tidak dapat dilihat oleh manusia.

Masing-masing pintu terdapat bangunan kayu beratap sebagai pos penjagaan yang

dilengkapi dengan meriam. Bagian bawah bangunan pos penjagaan digunakan

sebagai pintu penjaga dan pengintaian. Dinding benteng berukuran tinggi 5 meter,

lebar atas 1,5 meter.

Dari dalam benteng Lipu Ogena dapat dilihat topografi di sekitarnya, yaitu

bagian utara kelihatan garis pantai dan bagian lainnya adalah gugusan

pegunungan dan lembah-lembah yang tidak terlalu dalam kecuali pada bagian

barat yang kondisi alamnya agak curam. Selain itu, kondisi alam sekitarnya

terlihat topografi lahan dengan kontur berbukit yang saat ini digunakan sebagai

3
lahan perkebunan. Selain itu didalam benteng terdapat sejumlah komponen

bangunan seperti mesjid, batu pelantikan, makam-makam kuno yang seluruhnya

telah dipugar oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2006. Bangunan

mesjid yang terdapat didalam benteng, memiliki bentuk denah bujur sangkar.

Bagian barat terdapat bangunan menjorok keluar (mihrab) yang digunakan oleh

imam dalam memimpin shalat.

Bagian atas benteng Lipu Ogena pada dataran dekat mesjid, terdapat

lapangan yang dahulunya digunakan sebagai tempat upacara. Ketika itu di lokasi

tersebut senantiasa didirikan bendera kerajaan. Disisi lainnya (sebelah timur dari

lokasi itu) terdapat bangunan tempat pelantikan terbuat dari batu-batu karang

berbentuk kursi yang tersusun lengkap dengan sandarannya. Menurut informasi

masyarakat bahwa tempat pelantikan ini masih digunakan hingga sekarang untuk

melantik Parabela, Moji, dan Waci.

Tidak terlalu banyak informasi yang diperoleh mengenai fungsi benteng

ini dimasa lampau. Keterangan beberapa anggota masyarakat sekitar menyebutkan

bahwa benteng ini digunakan untuk melakukan perlawanan terhadap orang

Tobelo yang paling ditakuti masyarakat. Selain sebagai bajak laut, orang Tobelo

juga sering menyerang perkampungan terutama untuk merampas harta benda

penduduk dan membawa lari anak gadis yang bermukim di kampung tersebut.

Benteng Lipu Ogena sebagaimana benteng pada umumnya yang ada di

Indonesia, selain sebagai lambang kekuatan dan persatuan peninggalan masa

lampau serta merupakan sumber sejarah yang setara dengan nilai sejarah juga

4
sebagai salah satu paket sejarah lokal Sulawesi Tenggara yang penting untuk

diungkapkan dan dilestarikan bersama paket-paket sejarah lokal lainnya.

Keberadaanya sudah tentu memiliki nilai sejarah dan latar belakang

tersendiri yang perlu dikaji, digali, diteliti serta dipelajari dengan seksama agar

nilai-nilai yang terkandung didalamnya tetap terjaga dan terpelihara dengan baik.

Disisi lain segala tindakan atau kegiatan manusiajelas mempunyai alasan tertentu

sebagai motivasi dilakukannya tindakan tersebut. Demikian pula dengan pendirian

benteng Lipuogena di Kesultanan Buton ini juga memilikimakna dan fungsi

tertentu bagi kehidupan manusia didaerah itu pada masa Kesultanan Buton.

Keberadaan benteng Lipu Ogena di Pulau Buton ini juga adalah

merupakan bagian sistem barata yang dibangun di masa Kesultanan Buton yang

memiliki hubungan dengan benteng-benteng yang ada diberbagai daerah yang

merupakan bekas wilayah Kesultanan Buton di masa lampau.

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, merupakan daya tarik

tersendiri dan alasan penulis untuk menelitinya dengan judul “Sejarah Benteng

Lipu Ogena di Kelurahan Takimpo Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton.

(Abad XVI -XX)”.

B. Rumusandan Batasan Masalah

1. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

a. Apa yang melatar belakangi pembangunan Benteng Lipu Ogena?

b. Bagaimana struktur fisik bangunan Benteng Lipu Ogena?

5
c. Bagaimana fungsi Benteng Lipu Ogena bagi masyarakat Buton pada masa

lampau dan masa kini?

d. Apa saja peninggalan sejarah yang terdapat didalam Benteng Lipu Ogena?

2. Batasan Masalah

Melihat luasnya lingkup permasalahan dalam penelitian ini, maka penulis

membatasi permasalahan sebagai berikut:

a. Batasan temporal (waktu), di mana penelitian ini penulis menetapkan

temporal dari abad XVI sampai dengan abad XX. Adapun alasan penulis

membatasi temporal berdasarkan abad karena tidak memiliki angka tahun

yang diketahui secara pasti kapan benteng Lipu Ogena dibangun.

b. Batasan spasial (tempat), yang menjadi lokasi penelitian ini adalah di

Kelurahan Takimpo Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton, dimana

wilayah ini merupakan lokasi atau tempat Benteng Lipu Ogena.

c. Batasan tematis, yang menjadi fokus permasalahan dalam penelitian ini

adalah:

1) Latar belakang pembangunan benteng Lipu Ogena.

2) struktur fisik bangunan benteng Lipu Ogena.

3) Fungsi benteng Lipu Ogena bagi masyarakat Buton pada masa lampau dan

masa kini.

4) Peninggalan sejarah yang terdapat didalam benteng Lipu Ogena.

C. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan latar belakang pembangunan Benteng Lipu Ogena.

6
2. Untuk mendeskripsikan struktur fisik bangunan Benteng Lipu Ogena.

3. Untuk menjelaskan fungsi benteng Lipu Ogena bagi masyarakat Buton pada

masa lampau dan masa kini

4. Untuk menjelaskan peninggalan sejarah yang terdapat di dalam benteng Lipu

Ogena.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi kalangan akademis yaitu sebagai bahan masukan dan perbandingan

dalam upaya melakukan penelitian yang relevan dengan judul penelitian ini.

2. Bagi pihak pemerintah yaitu sebagai masukan dalam upaya pelestarian nilai-

nilai sejarah lokal masyarakat Takimpo yang merupakan bagian dari Sulawesi

Tenggara.

3. Bagi kalangan masyarakat yaitu sebagai bahan informasi kepada masyarakat

Sulawesi Tenggara umumnya dan masyrakat Takimpo khususnya, sehingga

generasi sekarang dan generasi yang akan datang dapat memahami dan

mengatahui peristiwa masa lampau yang terjadi di Takimpo Lipu Ogena.

7
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep Kebudayaan

Secara etimologis kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu

“buddayah” yang merupakan bentuk jamak dari budi atau akal. Dengan

demikian kebudayaan itu dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan

dengan akal budi (Koentjaraningrat, 1989 : 9). Sementara itu di bagian lain

Koentjaraningrat (1983 : 21) menjelaskan bahwa kebudayaan tidak akan

berkembang tanpa manusia dan masyarakat. Sebab kebudayaan meliputi seluruh

gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan manusia dan

kehidupan masyarakat yang dijadikan dari milik manusia dengan belajar.

Pendapat ini melihat kebudayaan sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang

kemudian bisa berfungsi sebagai kepentingan manusia itu sendiri. Manusia

sebagai pencipta kebudayaan, dalam bentuk gagasan, ide dan pikiran kreatif

kemudian dijadikan sebagai pola yang mengatur tingkah laku mereka sehingga

tercipta keteraturan sosial yang diharapkan banyak orang.

Kebudayaan mengandung unsur pencipta lahir dan batin dari masa

lampau. Kebudayaan segala manifestasi dari kehidupan manusia yang berbudi

luhur dan bersifat rohani seperti agama, kesenian, filsafat, ilmu pengetahuan dan

manifestasi manusia setiap orang dan setiap kelompok orang berlainan dengan

hewan yang tidak bisa hidup begitu saja ditengah-tengah alam melainkan selalu

mengubah alam itu (Peursen, 1985: 10).

8
Dua kekayaan manusia yang paling utama ialah akal dan budi atau yang

lazim disebut pikiran dan perasaan. Disisi lain akal dan budi memungkinkan

munculnya karya-karya manusia yang sampai kapanpun tidak akan pernah didapat

atau dihasilkan mahluk lain. Cipta, karsa dan rasa pada manusia sebagai akal

budinya terus melaju tanpa hentinya berusaha menciptakan benda-benda untuk

memenuhi hajat hidupnya, baik yang besifat jasmani maupun rohani (Widagdo,

2003 : 22).

Menurut Kluckhon (1951 : 72) bahwa kebudayaan memiliki 7 unsur yang

dikenal dengan kultur universal yang terdiri dari: (1) Peralatan dan perlengkapan

hidup, menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta

memelihara segala peralatan dan perlengkapan, (2) Sistem masyarakat

(kekerabatan), sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam

struktur sosial, yang dimana sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat

dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang

bersangkutan, (3) Bahasa, merupakan alat atau perwujudan budaya yang

digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat

tulisan, lisan ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan

maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain, (4) Kesenian,

mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia

atau keindahan yang dinikmati dengan mata maupun telinga, (5) Sistem

pengetahuan, segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat,

keadaan, dan harapan-harapan, (6) Religi, dengan pengetahuan, pemahaman, serta

daya tahan fisik manusia. Dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia

9
alam sangat terbatas. Secara bersamaan muncul keyajkinan akan adanya penguasa

tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengandalkan salah satu bagian

dari jagad raya ini, (7) Mata pencaharian, merupakan kebiasaan yang dilakukan

oleh masyarakat baik itu dibidang perdagangan, pertanian dan lain-lainnya.

Manusia sering disebut insan yang unik, yaitu insan yang dimana dirinya

tak pernah berhenti untuk berkarya dan menciptakan sesuatu hal yang baru. Tapi

tidaklah serta merta kalau manusia itu dapat membangun budayanya dengan

cepat, cermat dan kreatif kalau tidak adanya proses yang mengiringnya. Segala

sesuatu yang ada didunia ini harus melewati suatu proses, termaksuk budaya itu

sendiri.

Dengan demikian jelas bahwa kebudayaan memilki pengertian yang luas

dan kompleks yang di dalamnya mencangkup segala sesuatu yang terjadi bahkan

dialami manusia secara individu maupun kelompok sebagai manivestasi dari

perkembangan manusia yang dapat disaksikan dalam kehidupan, baik pencapaian

yang ditemukan oleh manusia dan diuraikan secara turun temurun maupun dalam

proses perubahan serta perkembangan yang dilalui dari masa kemasa.

B. Konsep Benteng

Untuk memahami lebih jelas tentang benteng, maka penulis

mengemukakan menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia bahwa pengertian

benteng adalah bangunan yang dibuat untuk pertahanan dan perlindungan dari

serangan musuh (Kamisa, 1997: 506). Sehubungan dengan penjelasan tersebut

diatas dapat dikatakan bahwa sebuah benteng dibangun atas dasar motivasi untuk

10
melakukan upaya-upaya pertahanan untuk perlindungan sebuah wilayah agar tetap

bertahan (survive) demi stabilitas keamana bersama.

Pengertian di atas juga dapat memberikan gambaran dengan baik

mengenai pengertian dasar tentang benteng maupun fungsi dan peranannya.

Menurut pendapat ini secara konsepsional mengandung pengertian bahwa benteng

dalam dimensi sejarah disamping merupakan pusat aktivitas masyarakat dan

pemerintahan dalam menjalankan setiap agenda atau tujuan yang akan dijelaskan

secara bersama-sama juga yang paling terpenting adalah sebagai pusat pertahanan

dan keamanan. Jika dilihat dari motif pembangunan sebuah benteng maka dapat

dikemukakan dua prinsip, yaitu:

1. Pendirian benteng adalah untuk mempertahankan diri atas serangan dari pihak

luar yang dalam hal ini adalah musuh, dan

2. Benteng didirikan untuk mempertahankan nafsu kekuatan ditempat yang

dikuasai atau dijajah (Hanafiah, 1989: 23).

Berdasarkan pengertian serta peranan benteng seperti terurai di atas maka

jelaslah bahwa yang dimaksud dengan benteng adalah lokalisasi kehidupan

manusia untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang lebih baik

dan aman.

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, bahwa benteng adalah dinding

atau tembok (batu, tanah dan sebagainya) untuk melindungi kota (tempat pasukan,

pemukiman dan sebagainya) dari serangan musuh, tempat yang di perkuat dengan

dinding tembok dan sebagainya prajurit (Poerwadarminta, 1984: 121).

11
Penjelasan diatas memberikan gambaran bahwa benteng merupakan simbol

kekuasaan dan pertahanan untuk perlindungan sebuah wilayah agar tetap bertahan

demi stabilitas keamanan bersama.

C. Fungsi Benteng

Dalam setiap pembangunan benteng tentunya tidak bisa terlepas dari

maksud dan tujuan yang diinginkan oleh masyarakat atau parabela yang berkuasa

saat itu dalam hal ini bermuara pada satu tujuan bersama yakni sebuah kesimpulan

bahwa apa sebenarnya fungsi dari pembangunan benteng itu sendiri.

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa benteng mempunyai fungsi ganda

yaitu selain sebagai pusat budaya dan keamanan, tempat pengintaian musuh juga

merupakan pusat pertahanan karena letaknya yang starategis diantara posisi jalur

transportasi dan komunikasi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Kartodirdjo

(1999 : 20) bahwa kebanyakan kota terletak pada persilangan jalan darat dan

sungai atau persilangan jalan antara laut dan darat. Penjelasan tersebut

memberikan gambaran bahwa dalam pembangunan benteng, yang selalu

diutamakan adalah posisi strategis agar dapat berfungsi maksimal mengingat

pembangunan sebuah benteng juga tidak terlepas dari potensi kesadaran manusia

dan kesadaran semangat kebersamaan yang melahirkan kaarya-karya kreatif pada

masa itu. Seperti yang dijelaskan oleh Robinson (2005 : 119) bahwa proyek

pembangunan benteng pertahanan mereka bukanlah kerja yang terisolasi

malainkan terbangun dari tradisi historis, dan keahlian mereka bertambah sedikit

demi sedikit sasaran pada kebutuhan saat itu. Keahlian mereka akan bertambah

jikalau ada petunjuk sesuai kebutuhan mereka. Pendapat ini dikuatkan dengan

12
pernyataan yang dikemukakan oleh Ricklefs (1999 : 31) bahwa kedatangan

orang-orang Eropa di Indonesia khususnya Portugis sekitar abad XVI. Hal ini

dapat dikatakan bahwa dimasa lalu akan muncul sebuah ide atau gagasan untuk

melakukan tindakan respon atas kebutuhan yang mengharuskan masyarakat saat

itu untuk mendirikan benteng pertahanan sebagai jawaban atas kebutuhan

pengamanan sebuah wilayah kerajaan atau pemerintahan.

Robinson (2005 : 121) juga menjelaskan sesuai asumsinya bahwa

pembangunan benteng selalu berada disekitar wilayah dekat pantai dan hanya

meninggalkan celah di muara sungai. Penjelasan ini menguatkan keterangan

diatas bahwa pembangunan benteng selalu tidak terlepas dengan fungsi

pertahanan. Kenyataan saat itu bahwa aktifitas masyarakat khususnya

perdagangan menggunakan jalur laut dan sungai. Konsekwensi pemahamannya

adalah bahwa pembangunan sebuah benteng merupakan sebuah bukti fisik dari

upaya untuk membangun serta mengembangkan pertahanan dalam mencapai

kondisi yang dinamis dalam mewujudkan stabilitas keamanan sebuah wilayah.

Lembaga Ketahanan Nasional yang memberikan asumsi bahwa rumusan

ketahanan nasional adalah kondisi dinamik bangsa Indonesia yang meliputi

segenap aspek kehidupan sosial yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan

yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam

menghadapi dan mengatasi segala tantangan, hambatan, ancaman dan gangguan

baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun yang tidak

langsung, yang membahayakan kehidupan nasional untuk menjamin identitas,

13
integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta mencapai tujuan

nasionalnya (Lemhanas, 1999:16).

Penjelasan di atas memberikan gambaran mengenai pentingnya

mempertahankan integritas suatu wilayah, yang dimasa lalu diwujudkan dengan

pembuatan benteng yang dijadikan sebagai pertahanan, pemukiman, dan sebagai

pusat pemerintahan.

D. Konsep Peninggalan Sejarah

Peninggalan sejarah merupakan bukti-bukti dari kehidupan manusia pada

masa lampau yang dapat dipegang. Peninggalan sangat banyak ragamnya,

mengingat keberadaannya sebagai produk (artefak) dari kebutuhan manusia

sehari-hari. Tentu saja dalam pembuatan artefak pada masa lampau, para pelaku

sejarah tidak secara sengaja memaksudkannya untuk keperluan penelitian dan

penulisan sejarah pada saat ini. Dengan kata lain, pada saat peninggalan (artefak)

tersebut dibuat, sama sekali tidak dimaksudkan untuk memberikan informasi

tentang adanya kegiatan manusia pada generasi yang hidup dimasa lampau.

Temuan-temuan sejarawan terkait dengan sisa-sisa peninggalan dari kehidupan

manusia masa lampau pada dasarnya merupakan sebuah kebetulan saja.

Sisa-sisa peninggalan dapat berupa alat-alat rumah tangga, perkakas dapur,

pecahan kramik, senjata-senjata, pakaian, porselin, bangunan-bangunan benteng,

istana, makam, tempat peribadatan, dan sebagainya, yang memang diperlukan

mendukung aktivitas sehari-hari. Tentu saja sisa-sisa peninggalan tersebut sangat

berarti bagi sejarawan, mengingat keberadaanya yang dapat membantu sejarawan

14
dalam usaha mengungkapkan kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya manusia

pada masa yang lampau (Arif, 2011: 34).

Pada umumnya realita eksistensi peninggalan sejarah di Indonesia

memiliki ciri khas daya tarik sendiri-sendiri serta keberadaanya dapat dipandang

secara visual. Wujud karya-karya budaya warisan tersebut setiap daerah berbeda-

beda sesuai dengan falsafah dan pandangan dalam tata cara hidup masyarakat

sesuai dengan kualitas dan kreatifitas kelompok manusia setempat pada waktu itu.

Akan tetapi walaupun jenis dan bentuknya berbeda seperti berupa candi, pura,

mesjid kuno, mesjid, benteng-benteng pertahanan, kuburan tua, senjata-senjata

kuno, monumen-monumen, dan lain-lain semua itu masing-masing memiliki nilai

sejarah yang amat tinggi.

Disadari sepenuhnya bahwa pelaksanaan pembangunan senantiasa

membawa perubahan-perubahan kearah peningkatan kualitas hidup manusia dan

lingkungannya. Perubahan-perubahan tersebut terjadi ditengah-tengah kehidupan

masyarakat dan tentu sekali akan mewarnai pola kehidupannya sehari-hari. Dalam

konteks perubahan tersebut masyarakat dituntut beradaptasi dengan mengikuti

perkembangan yang ada sehingga memacu inisiatif masyarakat ikut serta dalam

kegiatan pembangunan. Keterlibatan ini sesuai dengan tanggung jawab selaku

motivator maupun dinamisator pembangunan.

Sehubungan dengan tanggung jawab tersebut diatas maka pada saat

peninggalan sejarah mendapat tempat menjadi objek wisata, masyarakat

memahami sepenuhnya karena karya-karya budaya warisan sejarah bangsa itu kini

15
dalam perhatian pemerintah untuk diarahkan menjadi aset budayah nasional yang

potensinya terus digali untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Apabila diadakan suatu penelitian terhadap kehadiran sarana komunikasi

khususnya dalam kaitan eratnya dengan penyebarluasan hasil-hasil pembangunan

peninggalan sejarah. Pemahaman masyarakat terhadap pentingnya warisan sejarah

terus dapat ditingkatkan yang pada gilirannya masyarakat dapat mengetahui

secara jelas bahwa pembangunan objek wisata bukan hanya sekedar

mendatangkan para wisatawan ketempat dimana karya-karya budaya peninggalan

sejarah dan menyaksikannya melainkan dapat diinformasikan secara tepat

sebagaimana diharapkan bahwa dijadikannya karya-karya budaya peninggalan

sejarah menjadi objek wisata untuk meningkatkan atau mengangkat potensi

peninggalan sejarah sebagai aset budaya yang dapat diperkenalkan kepada dunia

luar (Sarfiah, 1993: 41).

Beberapa bukti peninggalan sejarah yamg penting untuk dilestarikan

adalah benteng, yang digunakan sebagai tempat pertahanan. Sebagaimana yang

telah diungkapkan bahwa benteng merupakan salah satu karya dari masyarakat

pada masa lampau.Karena keberadaanya (eksistensinya) sekarang dapat dijadikan

saksi sejarah dan cerminan kehidupan masa lampau bagi generasi sekarang dan

masa yang akan datang.

Ada beberapa cerminan nilai kehidupan di masa lampauyang dapat

dipelajari dengan keberadaan benteng ini yaitu:

1. Strategi dalam mempertahankan diri dari serangan musuh.

16
2. Tingkat pengetahuan dan keterampilan serta pengetahuan masyarakat pada

saat yang teraktualisasi dalam bentuk dan konstruksi benteng yang tersusun

rapi, rapat dan kokoh tanpa menggunakan semen atau bahan pelekat seperti

sekarang ini (Nurlian 1998 : 63).

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka jelas bahwa peninggalan sejarah

adalah benda-benda atau barang-barang bekas reruntuhan dari zaman lampau,

hasil ciptaan manusia yang merupakan warisan budaya bangsa yang mempunyai

nilai penting bagi sejarah ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang potensinya

harus digali untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

E. Penelitian Relevan

Penelitian tentang benteng yang ada di Sulawesi Tenggara telah dilakukan

oleh Lilianawati (2012), dari hasil penelitiannya memberikan penjelasan bahwa

latar belakang pembangunan benteng Suo-Suo yaitu munculnya gangguan

keamanan dari para bajak laut (Sanggila)sehingga Sultan Buton

menginstruksikan kepada ketiga Kadie di Tomia untuk mendirikan benteng

pertahanan yang dikenal dengan benteng Suo-Suo. Benteng Suo-Suo sangat

strategis yang terletak di puncak bukit tertinggi di Pulau Tomia.

Tarabeka (2007), dari hasil penelitiannya memberikan penjelasan latar

belakang dan fungsi pembangunan benteng Patua adalah sebuah bukti fisik dari

upaya untuk membangun serta mengembangkan sistem pemerintahan pertahanan

dalam mencapai kondisi yang dinamis dalam mewujudkan stabilitas keamanan

sebuah wilayah dari para bajak laut Tobelo (Sanggila) yang menggunakan perahu

layar untuk mewujudkan keinginan mereka. Benteng yang dibangun dengan latar

17
belakang seperti ini biasanya terletak pada tempat-tempat yang strategis, misalnya

di pinggir pantai atau di bukit-bukit yang ditunjukan agar lebih mudah mengintai

atau menghalau musuh dari jauh. Berdasarkan hasil penelitian yang telah

dilakukan oleh peneliti tentang benteng Patua di Tomia menjelaskan bahwa

benteng yang dibangun di Tomia tersebut memiliki peranan yang sangat

signifikan yaitu karena disamping sebagai tempat pemukiman penduduk juga

ternyata difungsikan sebagi pertahanan dan perlindungan masyarakat pribumi dari

serangan yang datang dari luar.

Penelitian sejenisnya juga telah dilakukan Masuddin (2000), dari hasil

penelitiannya memberikan penjelasan bahwa sekalipun benteng mempunyai

karakteristik yang sama. Sebagian benteng dibangun karena alasan yang hanya

sebagai tempat pemukiman, pemerintah dan pusat aktivitas perekonomian. Dia

juga menambahkan bahwa sebagian benteng dibangun karena desakan waktu

yang dialaminya, seperti adanya ancaman keamanan orang-orang luar sehingga

masyarakat atau penguasa wilayah yang bersangkutan berusaha untuk melindungi,

mengamankan rakyatnya dari ancaman atau perang sekaligus sebagai kubu

pertahanan dalam menangkis serangan-serangan dari musuh yang hendak

merebut, atau menjajah wilayah tersebut. Berdasarkan beberapa hasil penelitian

yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa benteng merupakan pusat

pemukiman, pengembangan agama dan kepercayaan, perdagangan, pemerintahan,

kebudayaan, dan yang lebih penting adalah sebagai pusat pertahanan guna

melindungi dan memelihara keamanan rakyatnya dari segala bentuk kejahatan.

18
Ngiruslianti (2015), juga telah melakukan penelitian dan memberikan

penjelasan berdasarkan latar belakang pembangunan benteng Pale’a adalah sangat

erat kaitannya dengan strategi pertahanan dan keamanan guna melindungi

masyarakat yang bermukiman di tempat itu dari segala ancaman musuh. Guna

menghadapi situasi yang demikian sulit, maka penguasa di Pale’a mendirikan

benteng. Benteng Pale’a merupakan benteng pertahanan yang strategis dengan

posisinya yang berada di puncak bukit. Benteng dengan berbentuk persegi empat

ini memiliki luas ±100x120 meter persegi, struktur fisik dengan berdindingkan

batu gunung, dengan susunan batu yang tidak rata. Susunan batu tertinggi 3 meter

sedangkan susunan batu terendah 1,5 meter. Bahan bangunan yang digunakan

berupa batu, dan kapur. Batu yang digunakan berwarna hitam yang disusun tanpa

perekat.Benteng Pale’a memilki fungsi dan peran ganda yakni sebagai pusat

pertahanan untuk menghalau musuh juga dijadikan sebagai tempat pemukiman

masyarakat, pusat pemerintahan dan budaya. Benteng Pale’a memiliki hubungan

yang erat dengan benteng lain yang ada di Kaledupa yang masih bersifat

tradisional berdasarkan kesepakatan bersama. Benteng Pale’a dibangun memiliki

tujuan yang sama dengan benteng Ollo yaitu sebagai benteng pertahanan yang

terlebih dahulu di Kaledupa. Yang mana pada saat itu muncul para perampok dari

Tobelo yang tidak pernah diharapkan kehadirannya oleh masyarakat Kaledupa

yang lebih dikenal dengan bajak laut Tobelo (Sanggila).

19
BAB III

METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Takimpo Kecamatan Pasarwajo

Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara, yang merupakan tempat atau

lokasi benteng Lipu Ogena. Adapun waktu penelitiannya dimulai bulan Mei

sampai Juni 2018.

B. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian sejarah yang bersifat deskriptif

kualitatif maka data-data yang diperoleh berdasarkan bahan informasi atau dari

objek yang diteliti dengan menggunakan pendekatan strukturis yang mempelajari

dua domain yakni domain peristiwa dan struktur.

C. Sumber Data Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan tiga kategori sumber data penelitian

yaitu sebagai berikut:

1. Sumber tertulis, yakni data yang diperoleh dari dokumen atau arsip-arsip dan

berbagai literatur dalam bentuk buku, skripsi, laporan hasil penelitian serta

sumber tertulis lainnya yang sesuai dengan kajian penelitian ini. Sumber

tersebut diperoleh dari perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara,

Perpustakaan Universitas Halu Oleo, Perpustakaan FKIP UHO, dan Kantor

Kelurahan Takimpo.

2. Sumber lisan, yakni data yang diperoleh melalui keterangan lisan (wawancara)

dengan tujuh orang informan yaitu: La Aisi, La Ramlia S.Ag, La Majidu, La

20
Haruku,Wa aeta, Wa Abu, La Dila, S.IP yang banyak mengetahui masalah

yang diteliti.

3. Sumber visual (benda-benda), yakni data yang diperoleh melalui hasil

pengamatan terhadap bekas-bekas bangunan benteng Lipu Ogena secara fisik,

perlengkapan persenjataan seperti batu, fasilitas peribadatan, fasilitas

pertemuan secara perkakas pendukung lainnya yang ada dalam benteng Lipu

Ogena.

D. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini merujuk pada metode sejarah menurut Sjamsuddin

(2007:17) terdiri atas tiga langkah, yaitu: (1) Heuristik (Pengumpulan Sumber),

(2) Kritik Sumber, (3) Historiografi.

Berdasarkan pendapat tersebut maka dalam penelitian ini telah menempuh

tiga tahap yakni.

1. Heuristik

a. Studi dokumen, yaitu mengumpulakan sumber dengan cara mengkaji dokumen

atau arsip-arsip tertulis yang berhubungan dengan penelitian ini, yang

diperoleh di Kantor Kelurahan Takimpo, maupun di tokoh-tokoh masyarakat.

b. Studi lisan, yaitu pengumpulan sumber melalui wawancara dengan tujuh orang

informan yang di anggap mempunyai pemahaman dan pengetahuan tentang

benteng Lipu Ogena.

c. Observasi, yaitu pengumpulan sumber melalui hasil pengamatan langsung di

lapangan berupa bangunan benteng Lipu Ogena secara fisik serta perlengkapan

persenjataan, sehingga dapat mengetahui hal-hal penunjang yang bisa

21
dijadikan sebagai patokan sejarah benteng Lipu Ogena di Kelurahan Takimpo

Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton.

3. Kritik Sumber

Sesuai pendapat Sjamsuddin (2016:83), sejarawan berhasil mengumpulkan

sumber-sumber dalam penelitiannya, tidak akan menerima begitu saja apa yang

tercantum dan tertulis pada sumber-sumber itu. Langkah selanjutnya ia harus

menyaring secara kritis, terutama terhadap sumber-sumber pertama, agar terjaring

fakta yang menjadi pilihannya. Langkah-langkah inilah disebut kritik sumber,

baik terhadap bahan materi (ekstern) sumber maupun terhadap subtansi (isi)

sumber.

a. Kritik eksternal merupakan cara melakukan verifikasi atau pengujian terhadap

aspek-aspek luar dari sumber sejarah. Kritik eksternal yaitu peneliti

melakukan pengujian otensitas (keaslian) dan integrasi dari sutau sumber yang

sungguh-sungguh asli dan bukan tiruan atau palsu. Sumber yang asli biasanya

waktu dan tempatnya diketahui. Lucey dalam Sjamsuddin (2016:85) sebelum

sumber-sumber sejarah dapat digunakan dengan aman, paling tidak ada

sejumlah lima pertanyaan harus dijawab dengan memuaskan: (1) Siapa yang

mengatakan itu?, (2) Apakah dengan satu cara atau cara lain kesaksian telah

diubah?, (3) Apa sebenarnya yang dimaksud orang itu dengan kesaksiannya

itu?, (4) Apakah orang yang memberikan kesaksiannya itu benar dengan

kesaksiannya itu?, (5) Apakah saksi itu mengatakan yang sebenarnya dan

memberikan kepada kita fakta yang diketahui itu?. Sumber yang ada adalah

sumber primer yang merupakan pelaku, pelaksana, dan peserta dari sejarah

22
benteng Lipu Ogena. Sehingga kesaksian (hasil wawancara) dari pelaku dapat

digunakan sebagai sumber sejarah.

b. Kritik internal menekankan aspek dalam yaitu isi dari sumber (kesaksian

testimoni). Setelah fakta kesaksian (faat of testimony) ditegakkan melalui kritik

eksternal, tiba giliran peneliti untuk mengadakan evaluasi terhadap kesaksian itu.

Ia harus memutuskan apakah kesaksian itu dapat diandalkan (reliable) atau tidak.

Menurut Louis Gottschalk, (1969: 102-103) meskipun terkadang di dalam suatu

dokumen yang diperoleh dengan kekerasan atau dengan jalan penipuan, atau yang

dalam hal-hal lain dapat diragu-ragukan, atau berdasarkan pendengaran daari

orang lain, atau berasal dari seorang saksi yang berkepentingan, asal dapat lulus

menghadapi empat ujian: (1) Apakah sumber terahkir dari pada detail itu (saksi

primer) mampu untuk menyatakan kebenaran? (2) Apakah saksi primer mau

menyatakan kebenaran? (3) Apakah saksi primer dilaporkan secara akurat

mengenai detail yang sedang di uji? (4) Apakah ada terdapat pendukung secara

merdeka terhadap detail yang sedang diperiksa? Setiap detail (terlepas dari pada

apa sumbernya atau siapa pengarangnya) yang lulus menempuh keempat ujian

tersebut diatas, merupakan bukti sejarah yang kredibel. Yang dapat diterima

sebagai fakta sejarah hanyalah unsur-unsur yang didasarkan atas kesaksian yang

merdeka dari pada dua atau lebih saksi yang dapat dipercaya (koroborasi).

3. Historiografi

Historiografi merupakan tahap akhir dari seluruh rangkaian kegiatan

penelitian yang dilakukan untuk menyusun dan mendeskripsikan sebuah kisah

sejarah dalam bentuk karya tulis ilmiah secara kronologis dan sistematis

23
berdasarkan data dan fakta yang diperoleh, serta telah lolos dari kritik dan

interpretasi sehingga menjadi sebuah karya tulis yang dapat dipertanggung

jawabkan secara ilmiah.

Menurut Sjamsuddin (2002:155) tahap-tahap penulisan sejarah

mencangkupsebagai berikut:

a. Interpretasi,adalah kegiatan yang dilakukan oleh penulis sehingga

kecenderungan untuk memasukkan ide-ide, gagasan dan pemikiran penulis.

Semua data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan masyarakat yang

mengetahui tentang sejarah benteng Lipu Ogena selanjutnya dihubungkan atau

dikaitkan satu sama lain sehingga antara fakta yang satu dengan fakta yang

lainnya akan kelihatan sebagai satu rangkaian yang masuk akal (logis), dalam

arti menunjukkan kecocokan (relevansi) atau satu sama lain.

b. Penjelasan, setelah dilakukan penafsiran maka tahapan berikutnya adalah

penjelasan dimana peneliti harus dapat menjelaskan sumber-sumber yang

berhubungan dengan pokok-pokok masalah penelitian.

c. Penyajian, setelah peneliti melakukan penafsiran dan penjelasan maka tahap

selanjutnya adalah penyajian dimana peneliti menulis karya sejarah

berdasarkan interpretasidan eksplanasi sesuai permasalahan.

24
BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Keadaan Geografis

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Takimpo Kecamatan Pasarwajo

Kabupaten Buton dengan pertimbangan bahwa terdapatnya sumber penelitian di

daerah ini. Dalam status geografis Kecamatan Pasarwajo, Kelurahan Takimpo

merupakan salah satu daerah yang mempunyai banyak peninggalan sejarah seperti

Benteng Lipu Ogena.

Wilayah pemerintahan Kecamatan Pasarwajo saat ini meliputi 22 wilayah

administratif yang terdiri dari 13 Desa dan 9 Kelurahan, dengan nama-nama

sebagai berikut:

1. Kelurahan Awainulu

2. Desa Banabungi

3. Desa Dongkala

4. Desa Halimombo Jaya

5. Desa Kabawakole

6. Kelurahan Kahulugaya

7. Kelurahan Kambula Mbulana

8. Desa Kancinaa

9. Desa Kaongke Ongkea

10. Kelurahan Kombeli

11. Desa Kondowa

12. Desa Laburunci

25
13. Desa Lapodi

14. Desa Mautowu

15. Kelurahan Pasarwajo

16. Kelurahan Saragi

17. Desa Wagola

18. Desa Wangu Angu

19. Desa Warinta

20. Kelurahan Wasaga

21. Kelurahan Takimpo

22. Desa Winning

Dari 22 wilayah pemerintahan Kecamatan Pasarwajo, maka Kelurahan

Takimpo sekarang mempunyai batas-batas wilayah:

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Teluk Pasarwajo

2. Sebelah Selatan Berbatasan dengan Kelurahan Kombeli

3. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Wagola

4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Awainulu

B. Keadaan Demografi

Keadaan demografi yang dimaksud adalah menyangkut keadaan penduduk

yang mendiami wilayah Kelurahan Takimpo Kecamatan Pasarwajo itu sendiri.

Adapun penduduk asli yang mendiami wilayah ini adalah Suku Cia-Cia dan

bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Cia-Cia.

Dilihat dari jumlah penduduk khususnya masyarakat Kelurahan Takimpo

bila dibandingkan dengan luas wilayahnya bisa dikatakan tidak seimbang.

26
Dimana luas wilayah yang dimiliki adalah sekitar 3.52 km² dengan jumlah

penduduk sebanyak 1.711 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 416, jumlah

penduduk yang berjenis kelamin laki-laki 933 jiwa dan penduduk yang berjenis

kelamin perempuan berjumlah 778 jiwa.

Salah satu faktor yang diperhitungkan dalam pembangunan nasional

maupun pembangunan daerah adalah faktor demografi suatu daerah yang menjadi

perhatian utama yaitu keadaan penduduk.

1. Jumlah Penduduk Kelurahan Takimpo Menurut Umur dan Jenis


Kelamin

Jumlah penduduk daerah ini secara administratif adalah 1.711 jiwa dengan

rincian sebagai berikut: a. Laki-laki berjumlah 933 jiwa dan b. Perempuan

berjumlah 778 jiwa. Untuk lebih jelasnya, jumlah penduduk kelurahan Takimpo

menurut kelompok umur dn jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut:

27
Tabel 1. Jumlah Penduduk Kelurahan Takimpo Berdasarkan
Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
No Kelompok Umur Jenis Kelamin Jumlah Persentase
(Tahun) Laki-Laki Perempuan (Jiwa) (%)
(Jiwa) (Jiwa)
1 0-4 125 89 213 12,52
2 5-9 131 113 244 14,28
3 10-14 124 84 207 12,17
4 15-19 85 94 179 10,48
5 20-24 65 67 133 7,72
6 24-29 67 67 135 7,84
7 30-34 55 49 104 6,08
8 35-39 78 68 147 8,54
9 40-44 55 26 82 4,74
10 45-49 34 33 67 3,92
11 50-54 43 23 67 3,86
12 55-59 26 15 41 2,40
13 60-64 13 22 35 2,04
14 65+ 30 27 58 3,33
Jumlah 933 778 1711 100
Sumbeer : Kantor Kelurahan Takimpo, Tahun 2017

Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa jumlah penduduk kelurahan

Takimpo yang menempati urutan kelompok umur 5-9 tahun menempati urutan

terbanyak dari seluruh jumlah penduduk menurut kelompok umur dan jenis

kelamin di Kelurahan Takimpo sebanyak 244 jiwa (14,28%) terdiri dari 131 laki-

laki dan 113 perempuan. Sebaliknya kelompok umur 60-64 menjadi angka relatif

paling seikit, yakni 35 jiwa (2,04%) terdiri dari 13 laki-laki dan 22 perempuan.

2. Keadaan Penduduk Kelurahan Takimpo Menurut Tingkat Pendidikan

Dalam melaksanakan pembangunan, sektor pendidikan memegang

peranan penting. hal ini diakui karena berhasil tidaknya pelaksanaan

pembangunan adalah tergantung dari tingkat pendidikan masyarakatnya. Dengan

adanya pendidikan yang memadai, maka akan meningkatkan keterampilan

28
penduduk khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhannya sehingga dapat tercipta

masyarakat ss sejahtera dalam pergaulan sehari-hari dapat terjalin suatu hubungan

sosial yang baik didalam masyarakat.

Pendidikan juga merupakan tolak ukur keberhasilan seseorang untuk

meningkatkan taraf hidupnya, karena semakin tinggi jejang pendidikan yang telah

ditempuh maka kualitas sumber daya manusia meningkat pula.

Tingkat pendidikan masyarakat Kelurahan Takimpo Kecamatan Pasarwajo

Kabupaten Buton dapat di lihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Keadaan Penduduk Kelurahan Takimpo Berdasarkan


Tingkat Pendidikan

No Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)


1 Tamat SD 320 18,70
2 Tamat SLTP/Sederajat 130 7,59
3 Tamat SLTA/Sederajat 410 29,96
4 Tamat Perguruan Tinggi 50 2,92
5 Sekolah TK 90 5,26
6 Sekolah SD/sederajat 330 19,28
7 Sekolah SLTP/Sederajat 209 12,21
8 Sekolah SLTA/Sederajat 100 5,89
9 Sekolah Perguruan Tinggi 72 4,20
Jumlah 1.711 100
Sumber : Kantor Kelurahan Takimpo, tahun 2017

Berdasarkan tabel diatas, menunjukan bahwa masyarak kelurahan

takimpo yang tingkat pendidikanya SLTA/Sederajat paling dominan diantara

tingkat pendidikan yang lain, yaitu sebanyak 410 jiwa atau 29,96% menyusul

Tamat SD sebanyak 330 jiwa atau 19,28%. Dari data tersebut diatas, yang paling

sedikit adalah penduduk yang menamatkan diri pada jenjang akademik atau

sarjana hanya 50 jiwa atau 2,92%.

29
3. Keadaan Penduduk Kelurahan Takimpo Berdasarkan Mata Pencaharian

Mata pencaharian dari penduduk Kelurahan Takimpo yang terdata dengan

baik sebagian besar mata pencaharian mereka adalah sebagai petani. Hal ini di

sebabkan karena ketersediaan area perkebunan yang cukup luas. Mata

pencaharian lain yang terdapat di Kelurahan Takimpo Kecamatan Pasarwajo

Kabupaten Buton ialah Nelayan, Swasta, Wirasuasta, PNS/TNI/POLRI dan lain-

lain.

Tabel 3. Keadaan Penduduk Kelurahan Takimpo Berdasarkan Mata


Pencaharian
No. Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1 Petani 180 37,34
2 Nelayan 96 19,91
3 Swasta 50 10,37
4 Wiraswasta 100 20,74
5 PNS/TNI/POLRI 56 11,61
Jumlah 482 100
Sumber : Kantor Kelurahan Takimpo, Tahun 2017

Berdasarkan tabel diatas, menunjukan bahwa mata pencaharian di

Keslurahan Takimpo didominasi oleh petani 180 jiwa 37,34% dari jumlah

penduduk Kelurahan Takimpo, sedangkan mata pencaharian yang paling kecil

jumlahnya swasta yang berjumlah 50 jiwa atau 10,37% dari jumlah penduduk

kelurahan Takimpo.

C. Keadaan Sosial Budaya

1. Kerjasama atau Gotong Royong

Budaya kerja sama atau gotong royong (pohamba-hamba) yang diwariskan

ole nenek moyang sejak dahulu daerah ini masih sangat dipegang teguh oleh

masyarakat Buton di Kelurahan Takimpo khususnya.

30
Falsafah yang menyatakan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan

orang lain diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam

melaksanakan pekerjaan-pekerjaan sosial untuk kepentingan umum seperti

pembuatan dan perbaikan benteng, pembangunan masjid dan kepentingan umum

lainnya.

kegiatan-kegiatan sosial ini bukan hanya untuk kepentingan umum, tetapi

juga meliputi kegiatan yang bersifat pribadi misalnya jika ada seseorang warga

atau masyarakat yang membuat atau memperbaiki rumahnya, maka masyarakat

lain yang ada dilingkungannya atau tetangganya akan datang dengan sendiri untuk

membantu tanpa diundang sebelumnya (La Dila, Wawancara 24 Juni 2018).

2. Agama dan Kepercayaan

Setiap manusia dalam kehidupannya sejak zaman dahulu sampai sekarang

selalu memerlukan sesuatu bentuk agama dan kepercayaan. Hal ini tidak dpat

dipisahkan dari hidup dan kehidupannya manusia di alam semesta ini dan mutlak

di perlakukan untuk mengatur kehidupan budayanya.

Agama sangat diperlukan dalam hidup dan kehidupan umat manusia.

dengan adanya agama itu akan melahirkan tata nilai guna tumbuhnya kebudayaan.

Dalam kenyataan hidup sehari-hari kita menemukan bentuk agama yang beraneka

ragaman dikalangan masyarakat. oleh karena itu sistem religi mengalami suatu

proses, pembangunan di bidang agama kepercayaan kepada Tuhan yang Maha

Esa, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam

sekitarnya.

31
Kondisi masyarakat Takimpo ditinjau dari aspek keagamaan tidak ada yang

beragama lain selain Islam. Sedangkan fasilitas ibadah yang dapat dijumpai

khususnya masyarakat Takimpo berupa Mesjid, sebagai sarana untuk

mempertebal rasa keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa.

3. Peringatan Hari-Hari Besar

Kegiatan sosial lainnya yang sudah menjadi tardisi dan erat hubungnnya

dengan upacara keagamaan dalam hal ini agama islam, dimana setiap peringatan

hari-hari besar agama seperti maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Miraj, Lailatul

Qadar dan lain-lain. semua warga mengadakan doa bersama di Mesjid. Hingga

saat ini setiap rumah membawa makanan atau kue-kue, setelah semua warga

berkumpul seorang pemuka agama memberikan sambutan dan pesan-pesan agama

yang dilanjutkan dengan baca doa bersama yang dipimpin oleh imam mesjid.

setelah selesai acara pembacaan doa, semua warga yang hadir mencicipi hidangan

yang telah disediakan yang dibawa warga secara bersama-sama (La Aisi,

Wawancara 20 Juni 2018).

4. Kesehatan

Pembangunan kesehatan masyarakat Takimpo dititik beratkan pada

meningkatkan mutu pelayanan kesehatan masyarakat. Hal ini sejalan dengan

tujuan pemerintah daerah dan untuk menunjang program pembangunan terdapat

satu buah puskesmas di Kelurahan Takimpo.

5. Bahasa

Setelah dikemukakan, bahwa penduduk di Kelurahan Takimpo dari suku

Buton bahasa yang dominan digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah

32
bahasa daerah atau bahasa Cia-Cia. Bahasa Indonesia tetap merupakan bahasa

persatuan atau bahasa resmi sebagai alat komunikasi hal ini tampak dalam

kehidupan sehari-hari.

6. Adat Istiadat

Perkawinan merupakan ikatan suci yang menyatukan antara laki-laki dan

perempuan dengan melibatkan peran dari berbagai pihak untuk pelaksanaannya.

Perkawinan juga memiliki beberapa proses yang harus ditempuh sehingga

didalamnya terdapat tata cara dan ritual yang harus dilakukan secara turun

temurun yang merupakan warisan dari orang tua. Dalam setiap daerah memiliki

proses tersendiri termasuk masyarakat Cia-Cia yang ada di Kelurahan Takimpo

yang tidak terlepas dari adat istiadat yang berlangsung secara turun temurun dan

telah ditetapkan.

Perkawinan akan terjadi apabila seseorang telah memenuhi syarat atau

melalui penilaian orang tua bahwa seseorang telah siap berumah tangga. seperti

halnya masyarakat lain, pada masyarakat Takimpo pun memiliki kriteria yang

akan dijadikan menantu. Ada beberapa tahapan yang dilakukan sebelum dan

sesudah perkawinan sebagai berikut:

a. Pemilihan Jodoh

pemilihan jodoh merupakan tahapan penting bagi seseorang untuk

mengetahui latar belakang pribadi calon mempelai wanita dan keluarganya

sebelum berlanjut pada hubungan perkawinan dalam membentuk rumah tangga

yang bahagia.

33
Pemilihan jodoh disebut juga sebagai tahapan penjajakan yang dilakukan

oleh pihak keluarga laki-laki untuk mencari calon istri dengan jalan pihak

keluarga laki-laki mengutus seorang wali (Tolowea) kepada keluarga perempuan.

Olehnya itu, orangtua dulu senang tiasa ikut campur dalam hal perjodohan anak

mereka. Di Kelurahan Takimpo sudah menjadi tugas tolowea untuk mencarikan

jodoh untuk seseorang yang belum menikah. Pencarian jodoh dilakukan dengan

mencari anak gadis yang ada dikeluraga terdekat terlebih dahulu seperti sepupu

dua kali atau keluarga yang dianggap telah jauh. Jika keluarga itu tidak memiliki

anak gadis maka, tolowea akan mencari anak gadis yang ada di Kelurahan dengan

melakukan pengintaian, penilaian, atau pendekatan dengan gadis yang akan

dilamar. Calon istri maupun calon suami yang dipilih tentu harus memenuhi

syarat yang harus memenuhi syarat yang harus dipenuhi seseorang untuk menjadi

pasangan hidupnya. Kriteria bagi calon istri sebagaiman telah diuraikan di atas,

yaitu:

1. Agamano (agamanya)

2. Koadati (bagus wataknya)

3. Mangada hulano (cantik wajahnya)

4. Omela pamingkuno (bagus tingkah lakunya)

5. Kubukua pikaraja (rajin bekerja dalam hal apapun) (Wa Abu, wawancara 25

Juni 2018).

Sebaliknya, dari keluarga perempuan juga memiliki kriteria untuk calon

suami bagi anak gadisnya yaitu:

1. Agamano (agamanya)

34
2. Koadati (bagus wataknya)

3. Mangada hulano (ganteng wajahnya)

4. Omela pamingkuno (bagus tingkah lakunya)

5. Kubukua pikaraja (rajin bekerja dalam hal apapun termasuk bertani)

(Wa Abu, wawancara 29 Juni 2018).

Berdasarkan keterangan di atas, dalam pemilihan jodoh orangtua

memiliki peran untuk memili siapa yang berhak menjadi pendamping untuk

anaknya. Artinya keputusan terkuat ada pada orangtua itu tersebut.

b. Putabu Rua Weta (Musyawarah Keluarga Pihak Laki-Laki dan Perempuan)

Setelah melakukan pemilihan jodoh maka selanjutnya, keluarga laki-laki

mengutus lagi seorang yang disebut sebagai tolowea datang kerumah perempuan

untuk membahas tentang hubungan yang dijalani anak mereka sehingga perlu

adanya kelanjutan dari hubungan keduanya. Di dalam musyawarah ini kedua

keluarga mencari dan menentukan hari baik menurut pengetahuan masyarakat

melalui perbintangan. Setelah di temukan hari baik untuk pelaksanaan lamaran

maka kedua bela pihak setuju untuk bmelanjutkan jenjang berikutnya.

c. Bawa’ano Kamparanga (Lamaran dan Peminangan)

Proses bawa’ano kamparanga adalah dimana keluarga laki-laki telah

membawa keluarga besar atau beberapa untuk menuju ke rumah perempuan serta

membawa tempat sirih (kamparanga/tangaba)yang telah di buat satu (1) buah, isi

dari kamparanga itu adalah sirih, pinang gambir tembakau merah dan kapur, 2 ikat

kayu, air dan barang-barang kebutuhan perempuan (kahokolono kamparanga).

setelah kedua bela pihak keluarga ini bertemu maka, tempat sirih yang dibawah

35
oleh pihak laki-laki diserahkan oleh pihak perempuan untuk menerimanya, dan

yang berhak menerima adalah walamasingku dari keluarga perempuan. setelah

diterima maka tempat sirih itu disyarati atau diniatkan. Pihak laki-laki dan

perempuan bermusyawarah dan menanyakan apakah perempuan yang ingin

dilamar telah menika atau dilamar orang lain , dan yang bertanya ini adalah orang

yang dipercaya artinya ditunjuk untuk mewakili pihak perempuan (tolowea). jika

belum menikah atau dilamar orang lain maka pihak dari keluarga laki-laki

bermusyawarah lagi untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu injak rumah

untuk melanjutkan proses tunangan atau pinangan.

d. Pohora’a (Pingitan/Posuo)

Buton, adalah negeri yang indah dan penuh dengan adat istiadatnya yang

selalu diwarisi turun temurun. Salah satunya adalah Pingitan/bakurung/posuo.

Ritual posuo diadakan sebagai sarana untuk peralihan status remaja bagi seorang

gadis menjadi dewasa. Anak remaja disebut kabuabua, sementara gadis dewasa

disebut kalambe.

Ritual Posuo biasanya dilakukan secara berkelompok oleh masyarakat

Buton terkhusus Masyarakat Takimpo yang sering dilakukan tiap tahun namun

ada juga yang melakukan ritual tersebut secara individu terkhusus bagi yang

hendak ingin segera menikah. Ritual ini adalah salah satu syarat agar wanita bisa

melangsungkan pernikahan. Proses pengurungan dalam ritula posuo dimaksudkan

agar gadis-gadis itu lebih fokus menghadapi bimbingan spritual, petuah dan

pesan moral lainnya. Termasuk pengetahuan tentang pernikahan dan cara

membina bahterah rumah tangga yang baik. Prosesi posuo terdiri atas beberapa

36
ritual. Masing-masing desa atau kelurahan memiliki ritual yang berbeda-beda

dalam pelaksanaan tradisi posuo, namun maksud dan tujuannya sama.

e. Rondono Pacirangga (Malam Pacar)

Proses malam pacar untuk menghiasi kuku pada jari tangan dan kaki

perempuan dilakukan 2 malam berturut-turut yaitu malam diahkir batas

pengurungan misalnya: 8 hari 8 malam maka malam pacarnya yaitu malam ke-7

dan malam ke-8 dalam kurungan. Bahan yang digunakan yaitu, daun pacirangga,

kapur, gambir, tali, dan daun lebar sebagai pembungkus jari yang akan dihiasi.

f. Polimba’a (Keluar dari kurungan)

Polimba’a merupakan inti dari perjalanan seorang anak perempuan,

dimana setelah menjalani pingitan dan dikurung dengan waktu yang telah

ditentukan dan tiba saatnya perempuan keluar dari kurungan.

g. Pelaksanaan Perkawinan

Tahap ini merupakan tahap yang ditunggu setiap manusia ketika ingin

memutukan dan hidup bersama orang lain, pernikahan adalah jalan yang harus

ditempuh untuk mendapatkan hubungan yang sah. Salah satunya adalah

masyarakat di Kelurahan Takimpo setelah upacara perkawinan telah dilaksanakan

dalam beberapa tahap berdasarkan adat istiadat yang berlaku maka, selanjutnya

adalah akad nikah. Setelah selesai akad nikah maka dilanjutkan dengan acara

resepsi bagi keluarga yang mampu dan bagi yang tidak mampu untuk

melaksanakan acara resepsi maka acaranya tetap ada yaitu dalam bentuk duduk

adat biasa. setelah acara resepsi atau duduk adat tersebut selesai maka malam

37
harinya diadakan acara tari linda atau joget tergantung kemampuan keluarga

mempelai atau tergantung kesepakan bersama.

h. Banculea (Kedua Mempelai Kerumah Laki-Laki)

Berdasarkan tradisi dalam masyarakat Takimpo setelah 4 (empat) hari) setelah

acara perkawinan selesai maka, kedua mempelai wanita dan pria kemudian

kembali kerumah laki-laki dengan didampingi oleh pemuka jalan (pindaino wuta)

sebagaimana pertama keluarga laki-laki yang datang kerumah mempelai

perempuan. Setelah selesai proses ini kedua mempelai menjalani hidup bersama.

38
BAB V

HASIL PENILITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Pembangunan Benteng Lipu Ogena

Manusia merupakan mahkluk yang berkarya dan berbudaya. Suatu

karya atau budaya biasanya tercipta atau muncul dengan sendirinya yang pada

dasarnya sangat tergantung dari situasi dan kondisi lingkungan pada zaman yang

dialami oleh manusia itu sendiri.

Benteng merupakan bagian dari perangkat-perangkat sistem pertahanan

Negara sebagai perwujudan dari ancaman-ancaman musuh sekalipun benteng

mempunyai karakteristik yang sama, namun bila ditinjau dari latar belakang

pembangunannya tidak selamanya sama. Sebagian dibangun karena alasan hanya

sebagai tempat pemukiman, pemerintahan atau pusat aktivitas perekonomian.

Sebagian benteng lain dibangun karena desakan waktu yang dialaminya, seperti

adanya ancaman keamanan dari orang-orang luar sehingga masyarakat atau

penguasa diwilayah yang bersangkutan berusaha untuk melindungi dan

mengamankan rakyatnya dari ancaman atau perang, sekaligus sebagai kubu

pertahanan dan menangkis serangan-serangan musuh yang hendak merebut,

menguasai, dan menjajah wilayah tersebut. Benteng yang dibangun dengan latar

belakang seperti ini biasanya terletak pada tempat yang strategis misalnya dibukit-

bukit yang ditujukan agar lebih mudah mengintai dan menghalau musuh dari luar.

Pembangunan benteng Lipu Ogena sangat erat kaitannya dengan

strategi pertahanan dan keamanan guna melindungi masyarakat yang bermukim di

tempat itu dari ancaman musuh seperti ancaman bajak laut dari Tobelo. Guna

39
menghadapi situasi yang demikian sulit, maka penguasa di Lipu Ogena pada

waktu itu membangun sistem pertahanan benteng (La Ramlia, wawancara 17 Juni

2018). Berdasarkan latar belakang pembangunannya, benteng Lipu Ogena sangat

erat kaitannya strategi pertahanan dan keamanan guna melindungi masyarakat

yang bermukim didalam benteng Lipu Ogena dari segala macam ancaman musuh.

Secara fisik, benteng Lipu Ogena lebih kerap dikaitkan dengan upaya

sekelompok manusia dalam mempertahankan diri dari serangan pihak lain. Atau

justru bagian dari strategi penyerangan yang bersifat okupasi/pendudukan.

Benteng Lipu Ogena cenderung berkonotasi peperangan. Perang sendiri

merupakan salah satu perwujudan adanya konflik antara kelompok manusia.

Konflik ditimbulkan oleh berbagai sebab. Serbuan dari kelompok manusia yang

lain, yang dirasa akan mengancam keselamatan harta-benda, jiwa, dan

kehormatan, harus dicegah dengan berbagai cara. Salah satunya dengan

menghindari gangguan terhadap kediaman/kubu kelompok yang diserang. Mereka

harus mempertahankannya, dan upaya membangun pertahanan yang mampu

mengamankan adalah membuat benteng. Benteng merupakan batas wilayah yang

akan diamankan, berbentuk bangunan pertahanan menggunakan beragam bahan,

yang pada intinya untuk penghalang untuk menahan laju para penyerang yang

berniat memasuki wilayah yang dipertahankan. Manusia kerap menghubungkan

keberadaan benteng dengan sikap yang cenderung untuk menguasai, dan

sebaliknya tidak ingin dikuasai.

Manusia dalam kehidupannya selalu membutuhkan rasa aman dan tenang

baik secara individu maupun secara kelompok. Adanya ketenangan dan rasa aman

40
merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi, karena itu

dapat mempengaruhi usaha kebutuhan lainnya. Sejalan dengan usaha manusia

untuk melindungi dirinya maka didalam sejarah kelangsungan hidup suatu bangsa,

negara atau kerajaan sejak dahulu selalu berusaha membentengi diri dengan sistim

pertahanan keamanan.

Dalam upaya membentengi diri tersebut, setiap bangsa, negara, atau

kerajaan di dunia tentu saja akan mempunyai pola sistem pertahanan dan

keamanan yang berdeda-beda karena disesuaikan dengan kondisi geografis dan

karakter pimpinan yang sedang memegang kekuasaan pemerintahan. Demikian

pula halnya dengan bangsa Indonesia, sistem pertahanan dan keamanan yang

dikembangkan mempunyai perbedaan antara bangsa lain di dunia ini.

Hal ini dapat dilihat sejak zaman-zaman kerajaan di Nusantara, dimana

beberapa kerajaan telah mengembangkan sistem pertahanan sesuai dengan kondisi

geografisnya dan termaksud didalamnya adalah Kerajaan Buton. Berdirinya

benteng merupakan jawaban atas segala tantangan, tuntutan, dan dorongan dari

diri manusia, menuju kearah terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan manusia

baik individu maupun masyarakat. Adanya pembangunan benteng yang kokoh,

sangat berkaitan dengan pertahanan terhadap keberadaan bajak laut. Bajak laut

yang beroperasi di perairan Nusantara yang dikenal bajak laut Tobelo berasal dari

Ternate terutama dikawasan laut yang terjalin dalam jaringan pelayaran dan

perdagangan Nusantara. Di satu sisi ancaman dari Ternate dan bajak laut yang

menguasai perairan timur yang menjadi kekhawatiran yang harus diatasi

(Hamzah, 2011 : 55).

41
Kerajaan Buton merupakan salah satu kerajaan yang berdaulat di

Nusantara, dan merupakan kerajaan Terbesar di Sulawesi Tenggara pada masa

lampau. Dalam jalur pelayaran posisi kerajaaan Buton dipandang sebagai posisi

silang (Cross Position) yang menghubungkan kawasan barat dan timur Nusantara

sebagai posisi wilayah kerajaan Gowa Makassar. Secara geografis kekuasaan

kesultanan Buton berbentuk kerajaan. Buton termasuk salah satu yang sering

dilintasi oleh kapal-kapal para pedagang khususnya bagi jalur pelayaran oleh

kapal-kapal para pedagangakhususnya bagi jalur pelayaran kawasan timur dan

barat Nusantara. Posisi yang demikian, tidak mengherankan jika Buton kerap

mendapat ancaman perampok dan bangsa asing lainnya pembangunan benteng

dilatar belakangi oleh keamanan masyarakat yang bermukim di sekitar benteng

terancam oleh bajak laut (bajak laut yang menelusuri pantai-pantai, dan menculik

untuk diperjual belikan), keadaan ini diperpara adanya ancaman dari Belanda

yang sering datang ke Buton mengancam wilayah Buton untuk dijajah (La Ode

Zaenu, 1985:43).

Guna menghadapi situasi yang demikian sulit, maka dikalangan

masyarakat dikembangkan sistem pertahanan benteng. Sebagai upaya melindungi

masyarakat diperlukan suatu kekuatan untuk melindungi dan mempertahankan

citra mereka sebagai suatu kelompok masyarakat yang berbedah ditengah-tengah

kerajaan yang besar. Sebagai bukti perlindungan tersebut, maka dibangunlah

benteng untuk menjadi pusat pertahanan dan keamanan masyarakat yang

bermukim disekitar tempat tersebut dan bangunan benteng itu hingga sekarang

masih tetap dengan keutuhan yang memiliki nilai historis sampai saat ini.

42
Benteng merupakan bagian dari perangkat-perangkat sistem pertahanan

negara sebagai perwujudan pertahanan diri dari ancaman-ancaman musuh.

Sekalipun mempunyai karakteristik yang sama, namun bila ditinjau dari latar

belakang pembangunannya tidak selalu sama. Sebagian benteng dibangun karena

alasan sebagai tempat pemukiman, pemerintahan dan pusat aktivitas

perekonomian. Karena biasanya lokasi penempatannya lebih luas dan dinamis.

Seperti di puncak bukit, tepi pantai, sungai, di tepi jurang dan di ujung lembah.

Seperti halnya dengan benteng Lipu Ogena selain memiliki lokasi yang luas juga

tanahnya subur sehingga memungkinkan masyarakat yang bermukim di

sekitarnya bisa menggunakannya sebagai lahan perkebunan atau membuka

peluang untuk aspek kehidupan sehari-harinya (La Ramlia, Wawancara 18 Juni

2018).

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas maka jelas bawah

latar belakang pembangunan benteng Lipu Ogena yaitu munculnya gangguan

keamanan dari bajak laut Tobelo yang tidak pernah diharapkan kedatangannya

oleh masyarakat Takimpo. Benteng Lipu Ogena memiliki letak yang strategis

berada di atas bukit yang ada di Kecamatan Pasarwajo untuk mengintai musuh

yang berada di laut.

B. Struktur Fisik Bangunan Benteng Lipu Ogena

Benteng Lipu Ogena merupakan hasil karya masyarakat Takimpo pada

masa lampau, karena keberadaannya sekarang sebagai saksi sejarah dan cerminan

kehidupan masa lampau bagi generasi sekarang dan yang akan datang (Haruku,

Wawancara 30 Juni 2018).

43
Berbicara tentang struktur bangunan di benteng tersebut, beberapa bagian

dari temboknya terlihat kotor dan tak terurus. Tak jauh dari situ, terdapat rumah

panggung kosong yang berbentuk persegi empat dengan ukuran ±4x5 meter yang

sebelumnya berdindingkan paghawata (bambu), beratapkan daun panasa

(rumbia), maka dengan kondisi yang tidak memungkinkan masyarakat setempat

memperbaikinya dengan mengganti dindingnya yang terbuat dari sau (kayu) dan

atapnya diganti dengan seng dan rumah ini mempunyai anak tangga sebanyak

lima yang menurut kepercayaan masyarakat adalah rumah ini digunakan sebagai

ruang keramat dari arwah-arwah pendahulu mereka.

Benteng dengan berbentuk persegi empat ini memiliki luas ±100x130

meter persegi. Benteng ini memiliki ketinggian tembok yang tidak merata. Jika

diukur dari luar benteng, tinggi dinding mencapai 5-7 meter. Sedangkan dari

dalam benteng, tinggi dinding mencapai 2-4 meter, lebar dasar benteng sekitar 1,5

Di bagian dalam dinding benteng, terdapat setapak jalan selebar satu meter yang

telah disemen. Adanya jalan ini memudahkan pengunjung untuk mengitari

benteng.

Bahan bangunannya berupa batu gunung, pasir dan batu kapur. Benteng

berbentuk persegi ini memiliki 2 lapis dinding tembok. Dinding tembok terluar

berukuran panjang 5 meter. Batu yang digunakan berwarn hitam yang disusun

tanpa perekat.

Benteng Lipu Ogena ini memiliki struktur fisik dengan berdindingkan

batu gunung. Namun dataran benteng tidak rata sehingga ketinggian batunya

berbeda-beda.

44
Pembangunan Benteng Lipu Ogena terletak diatas bukit ini tentunya

akan berbeda halnya bila dibangun di tempat yang rata. Hal ini dapat dilihat pada

pembangunan dinding benteng adalah mengikuti jalur pinggir bukit yang

mengarah ke laut agar dapat mengawasi dan melakukan pengawasan terhadap

musuhnya yaitu para bajak laut yang tidak di inginkan kedatangannya.

C. Fungsi Benteng Lipu Ogena Bagi Masyarakat Buton Pada Masa Lalu
Dan Masa Kini
1. Fungsi Benteng Lipu Ogena Bagi Masyarakat Buton Pada Masa
Lampau
Pada umunya segala hasil karya manusia yang berwujud benda selalu

mempunyai fungsi dan tujuan. Semuanya itu tergantung dari waktu dan kondisi

penggunaannya. Seperti halnya dengan fungsi benteng Lipu Ogena yang berada

dibawah pemerintahan Kesultanan Buton dimana pada waktu itu banyak ancaman

yang datang. Hal ini didasarkan atas kondisi pada saat itu masih menggunakan

sistem pertahanan dan keamanan benteng.

Daerah Takimpo ini membangun strategi pertahanan berpusat dilingkungan

benteng Lipu Ogena. Benteng Lipu Ogena yang merupakan tempat atau kota bagi

masyarakat Takimpo, sebagai suatu pemerintahan, keamanan, dan tempat

pengintaian musuh karena letaknya sangat strategis, selain itu dijadikan sebagai

tempat pemukiman yang dianggap aman dibandingkan bila berada dalam

lingkungan pemukiman biasa.

Benteng Lipu Ogena sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan didasarkan

atas pertimbangan keadaan ekologis dan letaknya yang strategis. Situs tersebut

terletak diatas puncak bukit yang memudahkan untuk memantau pergerakan

45
serangan musuh dari luar, sementara sisi perbukitan yang terjal sangat

menguntungkan sebagai pertahanan alam terhadap serangan musuh.

Secara keseluruhan situs benteng Lipu Ogena dapat dikategorikan sebagai

situs pemukiman, dalam hal ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan

pertahanan, baik terhadap eksistensinya sendiri maupun untuk karajaan Buton.

(La Majidu, wawancara 2 Juni 2018).

Benteng Lipu Ogena merupakan pertahanan masyarakat pada masa lalu,

apabila salah satu wilayah mengalami serangan musuh maka semua, kesatuan

semua pertahanan baik dari dalam maupun dari luar benteng sebagai pusat

pertahanan saling memberi informasi untuk menghalau musuh.

Di bangunnya benteng baik untuk sebagai tempat pemukiman masa lampau dari

ancaman yang dapat mengancam keselamatan masyarakat, maupun sebagai basis

pertahanan dan perlindungan masyarakat yang dimana pada masa itu sering terjadi

gangguan keamanan yang muncul di daerah berbagai kekuasaan Kesultanan

Buton, terutama ancaman bajak laut Tobelo yang amat merisaukan ketentraman

masyarakat (La Majidu, wawancara 2 Juni 2018).

Dari uraian di atas maka jelas bahwa benteng Lipu Ogena memiliki peran

dan fungsi ganda yaitu sebagai tempat pemukiman dan tempat perlindungan bagi

masyarakat yang tinggal didalamnya dari gangguan musuh yang ingin merebut

dan menguasai daerah ini. Sehingga keamanan dan ketentraman dapat terjamin.

Kadie Lipu Ogena yang mengintegrasikan diri dalam wilayah kekuasaan

Kesultanan Buton yang mempunyai fungsi peralihan pusat keamanan kesultanan

46
Buton yang mempunyai peran dalam upaya menciptakan lingkungan masyarakat

aman dan stabil.

2. Benteng Lipu Ogena Bagi Masyarakat Buton Pada Masa Kini

a. Sebagai Situs Sejarah

Pada saat ini fungsi benteng Lipu Ogena sebagai situs sejarah sekaligus

sebagai Obyek Wisata dengan nama Lipu Ogena. Pada saat hari-hari tertentu

benteng Lipu Ogena juga menjadi tempat berlangsungnya tradisi tahunan yaitu

tradisi pesta kampung atau mata’a yang dilakukan didalam benteng Lipu

Ogena oleh masyarakat Takimpo walaupun tradisi tersebut tidak dilaksanakan

didalam benteng Lipu Ogena namun menurut tokoh adat masyarakat setempat La

Aisi, mengatakan bahwa masyarakat harus meminta ijin terlebih dahulu terhadap

para arwah didalam benteng Lipu Ogena. Tepatnya di rumah adat benteng Lipu

Ogena yang diberinama nama baruga atau galampa. Menurut kepercayaan

masyarakat Takimpo permohonan ijin terhadap para arwah bertujuan agar para

arwah tidak marah dan merusak acara tahunan masyarakat Takimpo tersebut.

Seperti yang telah dijelaskan benteng Lipu Ogena mempunyai fungsi

ganda yaitu selain sebagai pusat pemerintahan dan keamanan, serta tempat

pengintaian musuh yang merupakan pusat pertahanan karena letaknya sangat

strategis diantara posisi jalur transportasi dan komunikasi. Benteng Lipu Ogena

juga merupakan sebagai salah satu situs sejarah yang harus tetap dijaga

kelestariannya.

47
b. Sebagai Destinasi Wisata

Dari sejumlah benteng yang ada di wilayah Pasarwajo, maka benteng

Lipu Ogena secara fisik merupakan yang terbesar serta masih menunjuhkan

bangunannya meskipun sebagian batu benteng sudah direnovasi dengan memiliki

karakteristik tersendiri jika dibandingkan dengan benteng-benteng sekitarnya.

Benteng Lipu Ogena merupakan lambang kebesaran masyarakat

Takimpo pada masa lampau dan sekaligus merupakan kebanggaan bagi

masyarakat khususnya generasi mudah pada masa sekarang ini, ditinjau dari

efektifitasnya, maka benteng Lipu Ogena selain menarik untuk menjadi obyek

studi bagi para peneliti yang ingin menggali berbagai aspek pengetahuan sejarah

yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pengunjung di wilayah Kelurahan

Takimpo. Hal ini memungkinkan oleh letaknya yang strategis pada suatu daerah

perbukitan di pinggiran Ibukota Kecamatan Pasarwajo. Kecuali lingkungannya

yang strategis dan sangat mendukung dengan lokasinya mudah dijangkau baik

berjalan kaki maupun dengan kendaraan segala jenis yang berada pada lintasan

jalan menghubungkan antara Ibukota Kecamatan dengan desa-desa/Kelurahan

yang ada disekitarnya.

Keseluruhan kondisi obyektif benteng Lipu Ogena tersebut baik secara

fisik, potensi sosio kultural maupun nilai-nilai historis yang menjadi

kandungannya memiliki prospek yang cerah dibandingkan kepariwisataan guna

memberikan nilai tambah baik untuk msasyarakat Kelurahan Takimpo khususnya

maupun Sulawesi Tenggara pada umumnya baik nilai tambahan ekonomis

maupun yang sifatnya non ekonomis.

48
D. Peninggalan Sejarah Yang Terdapat di Dalam dan Di luar Benteng Lipu
Ogena
Bangunan bersejarah atau benda cagar budaya merupakan kekayaan

bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah. Ilmu

pengetahuan dan kebudayaan sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi

memupuk jati diri bangsa sebagai kepentingan nasional untuk menjaga

peninggalan dan kelestarian cagar budaya selain itu sisa peninggalan tersebut

sangat berarti mengingat keberadaannya yang dapat membantu dalam usaha

mengungkapkan budaya manusia pada masa lampau.

Ilmu pengetahuan dan kebudayaan perlu dilindungi dan dilestarikan demi

untuk menjaga kelestarian peninggalan cagar budaya diperlukan langkah

pengaturan bagi penguasaan, pemanfaatan, dan pengawasan benda cagar budaya

yang memiliki dasar hukum dan aturan yang jelas, sebagaimana yang

dicantumkan dalam UU RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya, dan

peraturan pemerintah RI Nomor 11 Tahun 2010, yang menyatakan bahwa Cagar

budaya merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan

perilaku kehidupan manusia yang penting artinya bagi dan pengembangan sejarah,

ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,

dan bernegara sehingga perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya

pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dalam rangka memajukan

kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka benteng Lipu Ogena dengan

segala perangkat isinya yang merupakan bagian dari benteng itu sendiri sebagai

saksi sejarah dan hasil karya masyarakat pada masa lampau, merupakan bangunan

49
atau benda cagar budaya yang harus dijaga kelestariannya. Sebab mempunyai arti

penting bagi sejarah ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan. Benteng Lipu Ogena

memiliki beberapa bangunan bersejarah yang sampai pada saat ini masih dapat

disaksikan antara lain:

1. Bangunan Fisik Benteng Lipu Ogena

Seperti yang sudah diungkapkan bahwa benteng Lipu Ogena merupakan

salah satu karya peninggalan masyarakat Takimpo masa lampau. Karena

keberdaannya sekarang dapat dijadikan sebagai saksi sejarah dan cerminan

kehidupan masa lampau bagi generasi sekarang dan yang akan datang Pada

umumnya segala hasil karya manusia yang berwujud benda selalu mempunyai

fungsi dan tujuan. Seperti halnya dengan pembangunan benteng Lipu Ogena

sebagai strategi mempertahankan diri dari serangan musuh, dan tingkat

pengetahuan serta keterampilan masyarakat pada masa itu yang dapat dilihat

dalam bentuk konstruksi benteng yang tersusun rapi, rapat dan kokoh tanpa

menggunakan semen atau bahan perekat seperti sekarang ini.

2. Lawa (Pintu Masuk)

Untuk masuk kedalam benteng Lipu Ogena terdapat lima lawa (pintu

masuk. Empat lawa pintu masuk untuk mendeteksi kedatangan musuh dan dan

satu lawa pibuni atau tersembunyi. Kelima lawa tersebut memiliki nama

tersendiri yakni sebagai berikut:

50
a. Lawa Kowolundanga merupakan pintu masuk yang yang menghadap ke utara

dimaksudkan menghalau serangan dari laut, karena posisi lawa menghadap ke

laut.

b. Lawa Naemata yaitu pintu yang menghadap ke Langge difokuskan untuk

serangan musuh dari arah barat.

c. Lawa Nawakeke yaitu pintu menghadap ke Pangilia yang dimaksudkan untuk

menghalau musuh dari arah selatan.

d. Lawa Sampu yaitu pintu menghadap Mesjid Tua Lipu Ogena atau mesjid

pertama di Takimpo difokuskan untuk menghalau serangan musuh dari arah

bagian timur.

e. Lawa Pibuni yaitu pintu masuk tersembunyi

Situs peletakan dari kelima lawa (pintu masuk) ini dimanfaatkan untuk

tempat mengintai musuh yang masing-masing lawa ada penjaganya adalah orang

yang sakti hanya menggunakan ilmu bathin, yang masyarakat Takimpo

menyebutnya dengan Jini (Jin) ( La Aisi, Wawancara 30 Juni 2018).

3. Koburu (Kuburan)

Di depan pintu gerbang benteng terdapat 2 kuburan yang lumayan

panjang, yang dipercayai kuburan terserebut adalah parabela dimasa lalu.

Terdapat bak penampung air dari mata air di atas bukit, penampung air tersebut

yang di buat oleh warga sekitar yang memiliki kebun agar lebih mendapatkan air,

dan memudahkan pengunjung benteng berwudhu pada saat mengunjungi benteng

Lipu Ogena. Selain kuburan parabela didalam benteng Lipu Ogena terdapat

kuburan penyu yang cukup besar, dimana masyarakat Takimpo dan Pasarwajo

51
mempercayai penyu tersebut adalah yang menolong orang pertama Takimpo.

Sehingga terdapat aturan adat kepada masyarakat Takimpo dan Pasarwajo bahwa

dilarang membunuh penyu. Selain kuburan penyu tersebut, terdapat batu Allah

yang memang bentuknya seperti tulisan Allah dalam tulisan Arap.

4. Galampa (Rumah Adat)

Galampa (rumah adat) merupakan sebuah tempat untuk mengatur

hubungan sosial antar masyarakat Takimpo yaitu untuk bermusyawarah dalam

membahas tentang politik, ekonomi, sosial dan persoalan-persoalan lainnya (Wa

Aeta, wawancara 22 Juni 2018).

Selain itu rumah adat ini juga digunakan sebagai tempat para tokoh adat

dan tokoh masyarakat melakukan acara adat pesta kampung dan acara ritual

seperti beramal dan berobat dengan membawa sesajian atau memberi makan

kepada sesembahan atau roh-roh leluhur disana. Ritual seperti ini masih rutin di

lakukan masyarakat Takimpo hingga kini. Di rumah ini juga pada masa lampau

terdapat perlengkapan perang berupa parang dan tombak.

5. Batu Pelantikan Parabela (Pimpinan Adat)

Selain itu, di dalam benteng juga terdapat tempat duduk tetua adat yang

terbuat dari batu. Tidak dijelaskan secara terperinci, namun menurut (Wa Aeta,

wawancara 22 Juni 2018) tempat duduk tetua adat tersebut sebagai tempat duduk

pelantikan ketua adat atau parabela kampung.

6. Masigi (Masjid)

Secara terminologis mesjid diartikan sebagai tempat beribadah umat

islam, khususnya dalam menegakkan sholat. Masjid sering disebut Baitullah

52
(Rumah Allah), yaitu bangunan yang didirikan sebagai sarana mengapdi kepada

allah.

Dengan demikian, mesjid menjadi pangkal tempat muslim bertolak,

sekaligus pelabuhan tempatnya bersauh. Adapun masjid memiliki dua arti, yaitu

arti umum dan arti khusus.

Masjid dalam arti umum adalah semua tempat yang digunakan untuk

sujud dinamakan masjid, oleh karena itu Hadist Nabi Muhammad SAW, Tuhan

menjadikan bumi ini sebagai mesjid, seluruh jagat adalah masjid bagi muslim.

Jadi seluruh bumi adalah tempat memperhamba diri pada Tuhan. Sujud dalam

pengertian lahir bersifat gerak jasmani, sujud dalam penegrtian batin berarti

pengabdian. Dengan Hadist itu Nabi menyatakan bahwa dalam menunaikan

kewajiban menyembah Tuhan, muslim tidak terikat oleh ruang (Gazalba, 1989:

119). Sedangkan masjid dalam arti khusus adalah tempat atau banguanan yang

dibangun khusus untuk menjalankan ibadah, terutama sholat berjamaah.

Banguanan masjid yang berada didalam Benteng Lipu Ogena yang

dulunya merupakan masjid yang digunakan oleh masyarakat setempat yang

bermukimin didalam benteng Lipu Ogena untuk beribadah. Hingga kini masjid

tersebut masih digunakan untuk beribadah bagi masyarakat yang berkebun di

sekitar benteng dan bagi pengunjung yang berwisata di benteng Lipu Ogena

tersebut.

7. Tombak dan Parang

Sebuah parang, tombak dan penangkis yang dahulu berada didalam

rumah adat benteng Lipu Ogena guna untuk menangkis serangan dari luar tetapi

53
pada saat ini alat senjata tersebut berada di salah satu rumah tokoh adat (La Aisi)

di Kelurahan Takimpo Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton.

54
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari keseluruhan pembahasan hasil penelitian yang telah diuraikan

maka penulis memberikan kesimpulan sebagai berikut:

1. Latar belakang pembangunan benteng Lipu Ogena adalah sangat erat kaitannya

dengan strategi pertahanan dan keamanan guna melindungi masyarakat yang

bermukim di tempat itu dari segala ancaman musuh. Guna menghadapi situasi

yang demikian sulit, maka penguasa di Takimpo mendirikan benteng.

2. Struktur fisik Benteng Lipu Ogena merupakan benteng pertahanan yang

strategis dengan posisinya yang berada di puncak bukit. Benteng dengan

berbentuk persegi empat ini memiliki luas ±100x120 meter persegi, struktur

fisik dengan berdindingkan batu gunung, dengan susunan batu yang tidak rata.

Susunan batu tertinggi 5 meter, sedangkan susunan batu terendah 2 meter.

Bahan bangunan yang digunakan berupa batu gunung, pasir, dan batu kapur.

Batu yang digunakan berwarna hitam yang disusun tanpa perekat.

3. Fungsi benteng Lipoogena bagi masyarakat Takimpo pada masa lampau adalah

sebagai pusat pertahanan untuk menghalau musuh juga dijadikan sebagai

tempat pemukiman masyarakat, pusat pemerintahan dan budaya. Sedangkan

pada masa kini fungsi benteng Lipu Ogena yaitu sebagai situs sejarah sekaligus

sebagai tempat wisata.

4. Peninggalan sejarah yang terdapat disekitar benteng Lipu Ogena yang memiliki

makna dan tujuan tersendiri bagi masyarakat Takimpo antara lain bangunan

55
fisik benteng Lipu Ogena, lawa (pintu masuk) . Galampa (rumah adat), koburu

(kuburan), masigi (masjid), parang dan tombak.

B. Saran-Saran

Adapun saran yang bisa dikemukakan berdasarkan hasil penelitian dan

kesimpulan di atas sebagai berikut:

1. Untuk mengungkapkan peristiwa sejarah pada masa lampau diperlukan kajian

dan penelitian yang lebih mendalam sehingga akan mendapatkan cerita sejarah

yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan.

2. Pemerintah setempat sebagai pemegang kekuasaan dan mengambil kebijakan

di daerah supaya lebih proaktif dalam memberikan perhatiannya terhadap aset-

aset sejarah lokal yang merupakan peninggalan warisan yang sangat bernilai

dalam perjalanan daerah, khususnya keberadaan benteng Takimpo Lipo Ogena

di Takimpo agar bisa terawat dan terjaga kelestariannya.

3. Sebagai generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa hendaknya tetap

mempelajarinya, memahami dan menghayati peninggalan sejarah yang terjadi

dalam suatu wilayah.

C. Implikasi Hasil Penelitian Terhadap Pembelajaran Sejarah di Sekolah

Pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan

sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan

fisik yang berlangsung sepanjang hayat dan dimulai sejak manusia lahir.

Pendidikan membutuhkan lingkungan, salah satunya adalah warisan sosial, yang

merupakan media bagi manusia untuk mengembangkan potensinya secara

56
maksimal. Keseluruhan proses pendidikan tersebut dimuarakan pada kesiapan

manusia guna meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk

mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajarana agar peserta didik secara

aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengembangan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pada zaman global sekarang, pendidikan merupakan sesuatu yang penting.

Karena pendidikan merupakan akar dari peradaban sebuah bangsa. Pendidikan

sekarang telah menjadi kebutuhan pokok yang harus dimiliki setiap orang agar

bisa menjawab tantangan kehidupan , baik melalui pendidikan formal maupun

non formal. Sehubungan dengan pelaksanaan pengembangan generasi muda perlu

memiliki pengetahuan sejarah melalui pembelajaran disekolah.

Dalam keseluruhan proses pendidikan disekolah, kegiatan belajar

merupakan kegiatan paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknyapencapaian

tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami

oleh siswa sebagai anak didik.

Sehubungan dengan perkembangan dunia pendidikan dewasa ini sangat

diperlukan oleh generasi muda utamanya untuk mengenai studi pendidikan

melalui pembelajaran sejarah disekolah. Dalam jenjang pendidikan formal sejarah

merupakan salah satu mata pelajaran IPS yang diajarkan mulai dari tingkat

SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA sampai tingkat perguruan tinggi. Karena itu

57
tidak dapat dipungkiri bahwa mata pelajaran sejarah juga memegang peranan

penting dalam peningkatan mutu pendidikan.

Pendidikan sejarah yang manifestasinya berbentuk pelajaran sejarah

diharapkan memberikan kontribusi yang besar dalam upaya mencapai tujuan

Pendidikan Nasional. Keberadaan Pelajaran Sejarah disekolah bertujuan untuk

membimbing peserta didik agar mampu memahami dan mengerti masa kini

berdasarkan perspektif masa lampau akan memberikan nilai lebih karena tidak

hanya mengetahui fakta sejarah, melainkan juga memahami interaksi makna yang

terkandung didalamnya, sehingga memotivasi siswa untuk memahami sejarah.

Implikasi hasil penelitian ini terhadap pembelajaran disekolah dapat diajarkan

pada tingkat SMP Kelas VII semester II pada Sejarah Kompetensi Keadaan

Indonesia sebelum Kedatangan Bangsa-Bangsa Eropa dan pada Kompetensi

Dasar Kedatangan Bangsa-Bangsa Eropa ke Indonesia Abad ke 15 sampai 17. Hal

ini terkait dengan kedatangan bangsa Portugis dan Belanda di wilayah

pemerintahan kesultanan Buton. Untuk membahas materi pelajaran ini

diperlukan waktu 2x45 menit yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan

materi ini. Menyadari akan pentingnya pengajaran sejarah, maka setiap institusi

pendidikan formal dituntut untuk mampu melaksanakan proses belajar mengajar

secara efektif dan efisien. Para peserta didik tidak hanya memahami fungsi

ekstrinsik suatu peristiwa tertentu, tetapi juga harus mampu memaham fungsi

rekreatif, fungsi inspiratif, serta fungsi edukatif.

58
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Muhammad. 2011. Pengantar Kajian Sejarah. Bandung: Yrama Widya.

Gazalba, Sidi. 1989. Masjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam. Jakarta:
Pustaka Al Husna.
Gottschalk Louis. 1983. Understanding History. Jakarta. Ul-Press.

Hanafiah, Djuhan. 1989. Pertahanan Keamanan. Jakarta: Intermasa.

Kamisa. 1997. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Kartika.

Kartodirdjo, Sartono. 1999. Elite Dalam Perspektif Sejarah. Jakarta: LP3ES.

Kluckhon, C. 1951. Cultur and Behavior. New York: The Fre Press

Koentjaraningrat. 1983. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta:


Gramedia.
.................. 1997. Antropologi Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Lilianawati. 2012. Benteng Suo-Suo di Pulau Tomia (Suatu Tinjauan Sejarah).


Skripsi Kendari: FKIP Unhalu.
Leirissa, R.Z. (ed) dkk. 2006. Pedoman Penulisan Sejarah Lokal. Jakarta:
Depertemen Kebudayaan dan Parawisata.
Lemhanas. 1999. Ketahanan Nasional. Jakarta: Balai Pustaka.

Masuddin, La Ode, 2000. Fungsi Benteng Wali di Binongko pada masa


Kesultanan Buton (1634-1763). Skripsi Kendari: FKIP Unhalu.

Nurlian, 1998. Eksistensi Benteng Talo-Talo Pada Masa Kesultanan Skripsi.


Kendari: FKIP UHO.

Peursen. 1985. Strategi Kebudayaan. Jakarta: Balai Pustaka.

Poerwardaminta, W.J.S. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta:


Depdikbud.

Rickleft, M.C. 1999. Sejarah Indonesia Moderen. Jakarta: Gajah Mada


University.

59
Kathryn dan Mukhlis Paeni. 2005. Tapak-Tapak Waktu. Makassar: Inninawa
Robinson,.
Sarfiah. 1993. Fungsi Peninggalan Sejarah Terhadap Pengembangan Pariwisata
di Daerah Tingkat II Buton. Skripsi Kendari: FKIP Unhalu.
Sjamsuddin, Helius, 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Suparlan, Pasurdi. 1990. Model Transformasi Masyarakat Terasing Kedalam


Sistem Nasional Indonesia (Sebuah Alternatif). Jakarta: Bumi.
Tarabeka, 2007. Benteng Patua di Pulau Tomia Pada Abad XVI (Suatu Tinjauan
Sejarah). Skripsi Kendari: FKIP Unhalu.
Widagdo, Djoko, dkk. 2003. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.

60
DAFTAR INFORMAN

1. Nama : La Aisi
Usia : 80 Tahun
Pekerjaan : Tokoh Adat
Alamat : Kelurahan Takimpo

2. Nama : La Ramlia, S.Ag


Usia : 56 Tahun
Pekerjaan : Guru
Alamat : Kelurahan Takimpo

3. Nama : La Majidu
Usia : 65 Tahun
Pekerjaan : Imam Masjid
Alamat : Kelurahan Takimpo

4. Nama : Haruku
Usia : 70 Tahun
Pekerjaan : Tokoh Adat
Alamat : Kelurahan Takimpo

5. Nama : Wa Aeta
Usia : 60 Tahun
Pekerjaan : Petani
Alamat : Kelurahan Takimpo

61
6. Nama : Wa Abu
Usia : 73 Tahun
Pekerjaan : Tokoh Adat
Alamat : Kelurahan Takimpo

7. Nama : La Dila, S.IP


Usia : 55 Tahun
Pekerjaan : Lurah Takimpo
Alamat : Kelurahan Takimpo

62