You are on page 1of 7

NOTULA PRESENTASI FISIKA RADIODIAGNOSTIK

PRINSIP PHYSIC COMPUTER TOMOGRAPHY


DIII TRR PURWOKERTO
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG

Hari/tanggal : Rabu, 27 Maret 2019


Waktu : Pukul 08.00 – 12.00 WIB
Tempat : Ruang Kelas 2B
Materi Presentasi : Prinsip Physic Computer Tomography
Moderator : Totok Purnomo (P1337430317076)

Notulis : Ananda Enggal P (P1337430317062)

Anggota : - Yusril Sela Ramadhan (P1337430317002)


- Reza Syahrial (P1337430317010)
- Ayu Wulandari (P1337430317012)
- Kukuh Adhi W (P1337430317034)
- Hendry Dwi W.P (P1337430317014)
- Wal Usliani (P1337430317032)
- Avena Sukma Devi (P1337430317060)
- Anindya Ermita N (P1337430317082)

Isi :
Pertanyaan dan jawaban
A. Kelompok 1
1. Aprilia Listiana
 Pertanyaan : Apa kelebihan dan kekurangan dari metode Slice by slice dsan Spiral?
 Jawab :
Metode slice by slice
Kelebihan :
 Dosis radiasi yang di terima pasien lebih kecil
 Harga relative murah
Kekurangan :
 Terdapat data yang hilang karena ada interscan delay yang menyebabkan
gap
 Waktu scan relative lebih lama
 Dapat di rekonstruksi namun hasilnya tidak maksimal

Metode Spiral
Kelebihan :
 Tidak ada data yang hilang
 Waktu scan relative lebih cepat
 Dapat di rekonstruksi dan hasilnya pun maksimal
Kekeurangan :
 Dosis radiasi yang di terimal pasien lebih tinggi
 Harga relative mahal

2. Fida Firdaus P
 Pertanyaan : Rekonstruksi algaoritma detail dan standart sama-sama digunakan untuk
rekonstruksi soft tissue. Apa yang membedakan keduanya dari segi gambaran yang
dihasilkan?
 Jawab :
Dalam matematika dan ilmu komputer, algoritma adalah urutan atau langkah-langkah
untuk penghitungan atau untuk menyelesaikan suatu masalah yang ditulis secara
berurutan. Sehingga, rekonstruksi algoritma adalah urutan atau langkah-langkah
untuk menyelesaikan masalah merekonstruksi gambar. Rekonstruksi algoritma
dipengaruhi oleh parameter CT Scan setelah scanning misalnya window setting.
Algoritma standar menyediakan resolusi kontras yang baik, sedangkan detail
algoritma memberikan cukup resolusi kontras dengan batas tepi yang baik. Dari
definisi tersebut, dapat dimisalkan bahwa algoritma standar yaitu melakukan
pengaturan parameter sehingga resolusi kontras nampak baik misalnya untuk
menampilkan brain, sementara detail algoritma dilakukan dengan pengaturan
parameter sehingga resolusi kontras cukup dengan batas tepi yang baik misalnya
pada soft tissue leher. Sehingga meskipun sama-sama menampakkan soft tissue,
namun terdapat perbedaan pada konsentrasi objek yang akan dilihat.

3. Muh. Fajrul Falah


 Pertanyaan : Pasien yang menggunakan gigi palsu berbahan logam akan di lakukan
scan dengan Ct-Scan. Gambaran yang dihasilkan jika gigi palsu masih di pakai dan
bagaimana cara menanggulanginya?
 Jawab :
Tergantung bagian objek yang akan diperiksa. Apabila seroang pasien menggunakan
gigi palsu namun yang di priksa atau yang di scan bagian thorax, maka itu tidak akan
berpengaruh pada hasil gambaran radiograf thorax, namun bila yang di scan di
daerah kepala maka sebaiknya gigi palsu tersebut harus di lepas, karena akan
menimbulkan artefak pada hasil radiograf.

B. Kelompok 2
1. Destiana Putri
 Pertanyaan : Apa fungsi dari Warming Up dan bagaimana bila tidak dilakukan
Warming up ?
 Jawab :
Warming Up dilkukan untuk menstabilkan suhu tabung X-ray supaya X-ray yang
dihasilkan mempunyai kemampuan yang stabil. Jika performa suhu tabung kurang,
maka system akan otomatis meminta warming up, dan juga untuk uji fungsi yaitu
mengecek bagian yang ada dari Ct-scan contoh : kVp, mAs, exposure time,
reconstruction, slice thicknees, pitch, dan table speed. Dan jika tidak melakukan
warming up maka kita tidak tau apabila ada salah satu bagian Ct-scan yang sudah
tidak berfungsi dan untuk melihat atau mengecek performa alat. Umumnya warming
up dilakukan di pagi hari.

2. Annisa Ushalihah
 Pertanyaan : Bagaimana prinsip kerja rekonstruksi algoritma ?
 Jawaban :
Prinsip kerja rekonstruksi algoritma ada 3, yaitu :
a) Prinsip Rekonstruksi Inversi Matriks
Proyeksi tomografi dari obyek didapatkan ketika berkas foton (sinar-X
atau sinar gamma) melewati obyek. Obyek mempunyai karakteristik seperti
massa diam atau densitas spesifik yang memberikan efek resistan dan
mengurangi intensitas dari berkas foton secara eksponensial.

Dengan f (x,y) adalah koefisien absorpsi pada titik (x,y), L adalah lintasan
dari berkas dan u adalah jarak tempuh sepanjang lintasan.

b) Prinsip Rekonstruksi Back Projection


Rekonstruksi dengan back projection merupakan suatu proses matematis
yang berdasarkan trigonometri, yang dirancang untuk meniru proses akuisisi
data dengan cara terbalik (reverse). Setiap berkas yang melewati suatu obyek
masing-masing mewakili pengukuran densitas individual μ.

Bedanya dengan rekonstruksi inversi matriks, algoritma pada rekonstruksi


back projection dapat ‘mengetahui’ sudut akuisisi serta posisi dari susunan
detektor yang berkaitan dengan masing-masing berkas
Back projection mendapatkan citra kembali dengan persamaan:
𝐴 = 𝑊 −1∙𝑃
Algoritma back projection memungkinkan proses dilakukan dengan cepat,
namun hasilnya masih kurang bagus karena ketajaman batas-batas tepi dari
citra yang sebenarnya hilang atau bias. Fenomena seperti ini menghasilkan
citra yang blur. Karena itu diperlukan pemfilteran agar blur seperti itu dapat
dihilangkan atau dikurangi. Proses pemfilteran tersebut dinamakan filtered
back projection.

c) Prinsip Rekonstruksi Filtered Back Projection


Pada filtered back projection, tampilan data yang masih mentah difilter
secara matematis sebelum dilakukan back projection terhadap matriks citra.
Tahap pemfilteran tersebut dapat melakukan pembalikan blur citra secara
matematis, sehingga citra yang ditampilkan merupakan respresentasi akurat
obyek yang dipindai. Tahap pemfilteran matematis tersebut merupakan suatu
konvolusi data proyeksi dengan menggunakan konvolusi kernel. Konvolusi
kernel tersebut mengacu pada bentuk fungsi filter daerah spasial. Konvolusi
yang dimaksud tersebut merupakan suatu kalkulus operasi integral dan
diwakilkan dengan simbol ⊗ . Apabila p(x) mewakili data proyeksi (dalam
daerah spasial) suatu sudut [p(x) merupakan satu garis sonogram saja; lihat
gambar 2), dan k(x) mewakili daerah spasial kernel]. Data yang telah difilter
dalam daerah spasial, yakni p’(x), mengikuti persamaan berikut:
p’(x) = p(x) ⊗ k(x)
3. Yoga Prihastanto
 Pertanyaan : Bagaiman prinsip kerja Ct-scan sehingga menghasilkan gambaran yang
melintang ?
 Jawaban :
Tabung sinar-X akan mengeluarkan sinar-X yang akan melewati celah sempit
(kolimator), sinar-X tersebut akan menembus organ dan akan mengalami pelemahan
(atenuasi), sinar-X itu kemudian mengenai detektor yang mengubah energi sinar-X
menjadi energi cahaya tampak, energi yang berasal dari detektor akan digandakan
oleh Image Intensifier, setelah itu, cahaya tampak akan masuk ke dalam Photo
Multiplier Tube (PMT) dan akan diubah menjadi pulsa atau sinyal listrik. Sebagai
data analog, sinyal listrik ini akan dikonversikan menjadi data digital oleh ADC
(Analog to Digital Converter), data digital dari ADC (Analog to Digital Converter)
akan diakuisisi ke dalam DAS (Data Acquisition System) dan dikirim ke CPU. Pada
CPU data akan diolah dan direkonstruksi. Pada dasarnya, CT atau Computed
Tomography mengukur distribusi spasial (ruang) suatu kuantitas fisik yang akan
diamati dari arah yang berbeda-beda dengan tujuan untuk merekonstruksi gambar
yang bebas dari superimposisi. Kuantitas fisik yang diukur adala koefisien atenuasi
(µ) dari obyek yang menyebabkan pelemahan intensitas sinar-X oleh obyek yang
ditembus oleh sinar-X tersebut. Berkas sinar-X yang menembus suatu obyek akan
menglami pelemahan (kehilangan energi) yang diakibatkan oleh penyerapan oleh
obyek penyebaran atau penghamburan.

C. Kelompok 3
1. M. Yazid Multazam N
 Pertanyaan : Bagaimana metode Spiral dan Slice by slice?
 Jawab :
Metode slice by slice. Prinsipnya, tabung sinar-x dan detector bergerak mengelilingi
pasien dan mengumpulkan data proyeksi pasien. Saat pengambilan data proyeksi,
posisi meja berhenti. Kemudian meja pasien bergerak untuk menuju posisi kedua dan
dilakukan proses scanning berikutnya. Ini berarti pada metode ini pengambilan
gambarnya terdapat jeda dan juga bertahap. Metode spiral. Pada metode ini tabung
sinar–X bergerak mengelilingi pasien yang juga bergerak. Pada metode ini, berkas
sinar-x membentuk pola spiral atau helical. Data untuk rekonstruksi citra pada setiap
slice diperoleh dengan interpolasi. Ini berarti pada metode ini pengambilan
gambarnya tidak ada jeda dan continue.
Dan pada suatu kasus terdapat hasil scan yang terjadi blur, maka untuk metode slice
by slice dapat dilakukan pengulangan scan dari titik awal terjadinya blur karena pada
metode ini pengambilan gambar di ambil secara bertahap. Sedangkan untuk metode
spiral dilakukan pengulangan scan dari awal.
2. Akbar Pambudi
 Pertanyaan : Bagaimana cara mendapatkan gambaran rekonstruksi yang baik ?
 Jawab :
Untuk mendapatkan gambar rekonstruksi yang lebih baik, maka digunakan metode
konvolusi. Tahap pemfilteran matematis tersebut merupakan suatu konvolusi data
proyeksi dengan menggunakan konvolusi kernel. Tahap pemfilteran tersebut dapat
melakukan pembalikan blur citra secara matematis, sehingga citra yang ditampilkan
merupakan respresentasi akurat obyek yang dipindai. Proses rekonstruksi dari
konvolusi dapat dinyatakan dalam bentuk matematik yaitu transformasi Fourier.
Dengan menggunakan konvolusi dan tranformasi Fourier, maka bayangan radiologi
dapat dimanipulasi dan dikoreksi sehingga dihasilkan gambaran yang lebih baik.

3. M. Zuhri Atiq I
 Pertanyaan : Maksud dari rekasi alergi pada zat kontras yang digunakan untuk
membantu tampilan gambar
 Jawab :
Pada pemeriksaan ct scan, ada beberapa objek yg dalam pemeriksaan mengharuskan
menggunakan media kontras untuk menunjang pemeriksaan shg bisa mendapatkan
diagnosa yg akurat. Misal ct thorax dengan indikasi massa paru. Saat di ct plain,
antara massa dan oaru tidak akan terlihat jelas. Untuk bisa memperjelas, makan
diberikan maka kemudian dilakukan scan kembali post contrast, nah apabila pasien
tersebut memiliki alergi thd mk, itu akan menyulitkan bagi pasien dan radiografer yg
mana radiografer tidak bisa melakukan pemeriksaan lanjut dan pasien tidak akan bisa
menerima doagnosa yg akurat. Makanya itu menjadi salah satu kekurangan ct scan.
Kesimpulan
CT-Scan merupakan alat kedokteran yang digunakan untuk menampilkan gambar
penampang tubuh yang dideteksi menggunakan sinar X-Ray dengan bantuan komputer. Ct-scan
menghasilkan gambaran yang akurat dari objek-objek dalam tubuh dan sangat berguna untuk
mendiagnosa adanya suatu penyakit seperti kanker, stroke,tumor dan kelainan organ yang lain.
Ct-scan sendiri perlu dilakukan Warming-up dengan tujuan untuk menstabilkan suhu tabung X-
ray, uji fungsi dan untuk mengecek performa alat sebelum dilakukannya pemeriksaan, kegiatan
ini umumnya di lakukan pada pagi hari sebelum dilakukan pemeriksaan.

Prinsip kerja Ct-scan yaitu tabung sinar-X akan mengeluarkan sinar-X yang akan
melewati celah sempit (kolimator), sinar-X menembus organ dan akan mengalami
pelemahan (atenuasi), sinar-X mengenai detektor yang mengubah energi sinar-X menjadi
energi cahaya tampak, energi tersebut akan digandakan oleh Image Intensifier, dan masuk ke
dalam Photo Multiplier Tube (PMT) dan diubah menjadi pulsa atau sinyal listrik. Sebagai
data analog, sinyal listrik ini akan dikonversikan menjadi data digital oleh ADC (Analog to
Digital Converter), data digital dari ADC (Analog to Digital Converter) akan diakuisisi ke
dalam DAS (Data Acquisition System) dan dikirim ke CPU. Pada CPU data akan diolah dan
direkonstruksi.
Prinsip fisika pada Ct-scan ada 3 yaitu, (1) Akuisisi data, (2) Pengolahan data,
(3) Rekonstruksi citra, representasi citra dan penyimpanan. Pada akuisisi data terdapat 2
metode yaitu metode slice by slice, merupakan pengambilan data dengan bertahap atau squen
dan metode spiral, merupakan pengambilan data secara continue. Pada rekonstruksi terdapat
rekontruksi algoritma yang dibagi lagi menjadi 3 yaitu algoritma standard, bone algoritma
dan detail algoritma. Untuk algoritma bone di gunakan pada pemeriksaan bone atau tulang,
sedangkan untuk algoritma standard dan algoritma detail sama-sama di gunakan untuk
pemeriksaan soft tissue, yang membedakan adalah algoritma standar melakukan pengaturan
parameter sehingga resolusi kontras nampak baik misalnya untuk menampilkan brain,
sementara detail algoritma dilakukan dengan pengaturan parameter sehingga resolusi kontras
cukup dengan batas tepi yang baik misalnya pada soft tissue leher.

Kelebihan CT Scan adalah cepat, akurat, tidak invasive, resolusinya tinggi dan
dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Sedangkan kekurangan CT Scan adalah dosisnya
tinggi, biasanya terjadi movement unsharpness dan resiko alergi media kontras.