You are on page 1of 9

ANALISA KARAKTERISTIK PENGGUNAAN JEMBATAN

PENYEBERANGAN PADA DAERAH PERBELANJAAN DI JALAN JENDERAL SUDIRMAN KOTA


PALEMBANG

Pendahuluan
Jembatan Pendesrian adalah fasilitas alternatif bagi pejalan kaki, karena memudahkan pejalan kaki
menyeberang jalan raya tanpa mengganggu arus lalu lintas yang lancar. Jembatan pendesrian dapat ditemukan di
kota-kota besar, seperti Palembang kota. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis
efektif dan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan
Pendesrians briges oleh pejalan kaki.Jembatan penyebrangan
merupakan salah satu alternatif dalam permasalahan penyebrangan yang digunakan oleh para pejalan kaki. Pada
Jl. Jend. Sudirman ini dilakukan penelitian pada tiga jembatan yang terdapat di daerah perbelanjaan, yaitu:
1. Jembatan A (berada di depan Perbelanjaan Maraton, area Perbelanjaan International Plaza).
2. Jembatan B (di depan di depan Toko Shopiemartin, area Perbelanjaan Dika).
3. Jembatan C (di samping Masjid Agung Palembang, area Perbelanjaan Pasar 16 Ilir).

Hasil dan Diskusi


Peneliti melakukan perbandingan pada tiga jembatan, jalan Jenderal Sudirman, Brige A di depan
pusat perbelanjaan Maraton di area perbelanjaan International Plaza, Jembatan B di depan toko Shopiemartin,
dan Jembatan C di sebelah Masjid Agung Palembang di 16 pasar perbelanjaan Ilir. Penelitian ini dimulai dari
literatur studi, pengumpulan geometris dan lalu lintas data pejalan kaki. Pemrosesan data dilakukan untuk
menentukan efektivitas jembatan pejalan kaki dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan
urutan faktor-faktor itu mempengaruhi penggunaan jembatan pejalan kaki dan urutan jembatan pejalan kaki
yang paling sering digunakan oleh pejalan kaki. Dalam hasil analisis terhadap efektivitas jembatan
penyeberangan, untuk Jembatan A, Jembatan B dan Jembatan C adalah 95,84%. Itu hasil analisis dari 100
responden menunjukkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi pemilihan penggunaan jembatan
penyeberangan keamanan 35,95% dan kenyamanan 29,06%. sedangkan dari segi kriteria teknis, lebar jembatan
33% dan pos keamanan 28%.

EFEKTIFITAS PENGGUNAAN JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (JPO) DAN VARIABEL


VARIABEL YANG MEMPENGARUHI PENYEBERANG JALAN DALAM MENGGUNAKANNYA
(Studi Kasus: Kota Semarang)

Pendahuluan
Pergerakan pejalan kaki meliputi pergerakan-pergerakan menyusuri jalan, memotong jalan dan
persimpangan. Sebagaimana lazim yang terjadi di berbagai Kota besar, karena tuntutan perkembangan ekonomi,
perdagangan dan kemudahan jangkauan pelayanan bagi masyarakat, maka fasilitas-fasilitas umum seperti hotel,
pertokoan dan lain sebagainya biasanya mengelompok pada suatu daerah tertentu, karena letak gedung satu
dengan gedung yang lain menyebar ke seluruh kawasan, maka suatu ketika pajalan kaki harus menyeberangi
lalu lintas kendaraan untuk sampai ke tempat tujuan. Namun sering kali keberadaan penyeberang jalan tersebut
pada tingkat tertentu akan mengakibatkan konflik yang tajam dengan arus kendaraan yang berakibat pada
tundaan lalu lintas dan tingginya tingkat kecelakaan. Seperti halnya di Kota Semarang dengan tingkat kepadatan
penduduk yang tinggi, penyediaan sarana tranportasi bagi pejalan kaki seperti jembatan penyeberangan sudah
mulai disediakan dimana-mana.
Penyediaan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) dimaksudkan untuk mempermudah pejalan kaki
untuk menyeberang jalan dengan aman.Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pemanfaatan JPO
tersebut dirasakan kurang efektif dalam memecahkan permasalahan sirkulasi antara pejalan kaki dalam
menyeberang jalan dengan kendaraan bermotor. Hal ini bias dilihat pada kenyataannya bahwa JPO jarang
dipakai dan terkadang sering disalah fungsikan untuk duduk duduk, tempat mangkal gelandangan serta rawan
kejahatan. Seperti yang tertulis pada Harian Suara Merdeka tanggal 24 Oktober 2001 yang menuliskan bahwa
banyak warga Kota Semarang yang enggan memanfaatkan jembatan penyeberangan. Para pejalan kaki lebih
suka melompat pagar pembatas daripada lewat jembatan penyeberangan. Keengganan penyeberang jalan dalam
menggunakan JPO serta tingkat penggunaannya yang masih rendah tersebut menunjukkan bahwa keselamatan
bukanlah satu-satunya variabel yang berpengaruh dalam penggunaan JPO.

Hasil dan Diskusi


Studi ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas penggunaan JPO jalan di Kota Semarang serta
variabel-variabel yang mempengaruhi penyeberang jalan dalam menggunakannya. Penelitian ini mengambil
sampel di enam lokasi JPO di Kota Semarang yang didasarkan pada analisis kluster yang mengelompokkan JPO
menurut tata guna lahan pada lokasi JPO, fungsi jalan dan desain jalan.Metode analisis yang dipergunakan
untuk mengetahui efektifitas penggunaan JPO mempergunakan teknik analisis paired sample t-test, dari hasil
analisis tersebut dapat diketahui dari enam JPO pengamatan yaitu JPO depan SMK Antonius, JPO depan RS.
Panti Wiloso, JPO Pertigaan Ksatrian, JPO depan SMP N 2, JPO pasar Karangayu dan JPO depan Hotel Dibya
Puri hanya JPO depan Pasar Karangayu yang efektif dalam penggunaannya sedangkan lima JPO yang lainnya
belum efektif dalam penggunaannya. efektifitas jembatan penyeberangan orang (JPO) dapat diketahui bahwa 1
dari 6 JPO yang ada di Kota Semarang (16,67 %) efektif dalam penggunaannya, sedangkan 5 dari 6 JPO yang
ada di Kota Semarang (83,33%) tidak efektif. Jadi dapat disempulkan bahwa efektifitas penggunaan JPO di
Kota Semarang belum efektif.

EFEKTIVITAS DAN KEPUASAN PENGGUNA JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (JPO) DI


PASAR INDUK KRAMAT JATI

Pendahuluan
Fasilitas-fasilitas pejalan kaki (pedestrian) seperti trotoar sebagai jalur pejalan kaki dan jembatan
penyeberangan orang (JPO) sebagai prasarana penyeberangan agar pejalan kaki tidak berkonflik dengan arus
kendaraan di ruas jalan sehingga resiko kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pejalan kaki dapat
dicegah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat efektivitas, bagaimanakah tingkat
pelayanannya serta bagaimanakah kepuasan pengguna Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Pasar Induk
Kramat Jati. Pengamatan dilakukan dengan menghitung volume penyeberang yang menggunakan dan tidak
menggunakan JPO serta volume kendaraan yang melintas pada jam sibuk pagi dan jam sibuk sore baik hari
kerja maupun hari libur

Hasil dan Diskusi


Dilakukan pengamatan waktu tempuh pengguna JPO dengan sampel sebanyak 29 orang untuk masing-
masing waktu pengamatan.Pengumpulan data juga menggunakan kuesioner kepada 53 orang responden
pengguna JPO yang berisi pertanyaan berkaitan dengan komponen-komponen fisik JPO dan data pendukung
yang menjadi variabel dasar pertimbangan untuk penggunaan JPO.Hasil analisis efektvititas menunjukan bahwa
JPO tersebut tidak efektif namus tingkat pelayanan termasuk kategori A. Berdasarkan analisis kepuasan
pengguna, sebanyak 59% puas dan sangat puas menggunakan JPO dengan klasifikasirentang usia 21-30 tahun,
pendidikan mayoritas SMA, pekerjaan terbanyak wiraswasta, penghasilan perbulan 1-3 juta, frekuensi pekerjaan
pemakaian < 2x perhari, asal tujuan ke pertokoan/pasar dengan maksud bekerja.

EVALUASI EFEKTIFITAS JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (JPO) DI KOTA


SAMARINDA

Pendahuluan
Dalam merencanakan transportasi salah satu elemen lalu lintas yang perlu mendapat perhatian serius
adalah pejalan kaki. Infrastruktur bagi pejalan kaki yang memenuhi keamanan, keselamatan, kenyamanan dan
mampu meminimalisir keterlambatan atau kecelakaan lalu lintas saat menyeberang tentunya sangat dibutuhkan
fasilitas pendukung seperti jembatan pejalan kaki.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas jembatan pejalan kaki bagi pejalan
kaki.Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2018, berlokasi di Jalan S. Parman, Jalan Gajah Mada, Ir. Jalan H.
Juanda, jalan Slamet Riyadi, kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian ini menggunakan metode
pengumpulan data primer, yaitu dengan survei langsung melalui penyebaran kuesioner dan data sekunder
dengan mengumpulkan data lokasi

Hasil dan Diskusi


Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data primer, yaitu dengan survei langsung melalui
penyebaran kuesioner dan data sekunder dengan mengumpulkan data lokasi. Analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Skala Guttman atau juga disebut analisis skala dan analisis waktu persimpangan, analisis
penentuan fasilitas persimpangan.
Hasil evaluasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan analisis waktu persimpangan nilai R pada S.
Parman street 4.2. Jalan Gajah Mada 8.5. Ir. Jalan H. Juanda 5.43. Jalan Slamet Riyadi 2.8. Di keempat lokasi,
jembatan penyeberangan dapat dikatakan sebagai rute terpanjang, dan analisis penentuan fasilitas
penyeberangan keempat rekomendasi JPO adalah pelican(penyebrangan yang diatur dengan tombol dan lampu
lalu lintas. Berdasarkan analisis Guttman di jalan S. Parman 59% (kriteria cukup efektif), jalan Gajah Mada
adalah 38% (kriteria tidak efektif), Ir. Jalan H. Juanda 63,2% (kriteria efektif), jalan Slamet Riyadi 83% (kriteria
sangat efektif), JPO tidak dapat digunakan secara optimal untuk para penyandang cacat karena tidak ada fasilitas
aksesibilitas terutama bagi pengguna kursi roda.

IDENTIFIKASI RENDAHNYA MINAT MASYARAKAT MENGGUNAKAN JEMBATAN


PENYEBERANGAN DENGAN METODE FAULT TREE ANALYSIS

Pendahuluan
Jembatan penyeberangan adalah suatu sarana atau fasilitas yang diperuntukkan bagi pejalan kaki untuk
melakukan aktifitas penyeberangan/pencapaian pada tempat yang berseberangan pada ruas jalan dengan kondisi
lalu lintas yang padat dengan mobilitas yang tinggi (Adji, 2007). Jembatan penyeberangan berfungsi sebagai
jalur keselamatan bagi pejalan kaki dan juga sebagai aksesoris jalur perkotaan sehingga pejalan kaki merasa
nyaman dan aman. Jembatan penyeberangan juga mempunyai fungsi dasar sebagai sarana perpindahan moda
transportasi pejalan kaki yang akan menyeberang.
Jembatan penyeberangan berfungsi untuk mengurangi serta menghindari konflik antara pejalan kaki dan
kendaraan, namun pemanfaatannya masih sangat rendah. Hal ini menyatakan bahwa keselamatan bukan menjadi
prioritas utama bagi masyarakat khususnya bagi pejalan kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
rendahnya minat masyarakat menggunakan jembatan penyeberangan

Hasil dan Diskusi


Penelitian ini dijalankan dengan menyebarkan kuisioner kepada 163 responden pejalan kaki.
Berdasarkan metode Fault Tree Analysis dengan mencari informasi melalui wawancara berdasarkan kuesioner
diperoleh enam faktor penyebab rendahnya minat pengguna jembatan penyeberangan yaitu kenyamanan (10%),
keselamatan (5%), kemudahan (22%), desain (3%), keamanan (52%) dan hambatan (8%). Adapun alasan tidak
menggunakan jembatan penyeberangan yang paling banyak dinyatakan oleh responden adalah dari faktor
keamanan, kemudahan dan kenyamanan. Alasan yang paling banyak dari faktor keamanan adalah karena
keadaan jembatan yang gelap serta faktor kemudahan adalah karena jarak jembatan yang jauh dari tempat tujuan
menyebabkan responden enggan menggunakan jembatan penyeberangan. Faktor kondisi anak tangga jembatan
serta tidak terdapat penjaga keamanan di area jembatan juga menjadi penyebab lainnya. Sehingga perlu
diupayakan untuk mengurangi penempatan iklan dan menambahkan lampu pada jembatan dan menata ulang
posisi jembatan agar letaknya tidak terlalu jauh dari tujuan pengguna.

PEMANFAATAN JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG


DI KOTA MAKASSAR

Pendahuluan.
Fasilitas jembatan penyeberangan orang (JPO) merupakan sarana yang berintikan
memudahkan bagi pejalan kaki untuk mencapai satu titik ke titik yang lain di seberang jalan
dengan mengedepankan azas kemudahan, azas keselamatan, azas kemandirian, dan azas
kegunaan. Metode penelitian deskriptif eksplanatif, data fisik JPO dianalisis dengan
mengunakan parameter yang telah ditetapkan dalam KepMen PU No. 30 tahun 2006 dan
standarisasi yang manusiawi dan data presepsi pengunjung sebagai sampel diolah dengan
menggunakan microsoft office excel 2007. Kondisi ini mengharuskan disiapkan tangga penyeberangan atau
jembatan penyeberangan orang (JPO) yang dapat dimanfaatkan bagi masyarakat pejalan kaki untuk mencapai
satu titik ke titik yang lain diseberang jalan.
Tangga penyeberangan atau JPO di kota Makassar saat ini tersebar dibeberapa titik, yaitu (1) jalan Jenderal
Sudirman ada dua titik; (2) jalan Urip Sumoharjo; (3) jalan Andi Pangerang Pettarani; dan saat ini sementara
dibangun di jalan Peritis Kemerdekaan depan pusat perbelanjaan Mtos.

Hasil dan Diskusi


Hasil penelitian menunjukan bahwa JPO di Makassar: (a) ketinggian anak tangga relatip masih tinggi
utamanya bagi manula, wanita utamanya wanita hamil dan anak-anak; (b) tekstur lantai JPO relatip licin
utamanya pada saat hujan; (c) lebar tangga dan lebar JPO kurang lebar; (d) JPO tidak dapat digunakan secara
optimal bagi penderita cacat karena tak tersediakan fasilitas aksesibilitas utamanya pengguna kursi roda (tuna
daksa). Persepsi pengguna JPO di Makassar terhadap azas kemudahan, azas kegunaan, azas keamanan dan azas
kemandirian pemanfaatan JPO belum terpenuhi. Perlu ada petugas khusus disetiap JPO dan perlu secara berkala
pemeliharaannya agar pemanfaatan JPO lebih nyaman dan aman.

TINGKAT PEMANFAATAN DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN JEMBATAN


PENYEBERANGAN ORANG DI DEPAN MEGA MALL JALAN A.YANI KOTA PONTIANAK

Pendahuluan
Jembatan penyeberangan orang merupakan salah satu fasilitas yang disediakan untuk pejalan kaki
khususnya bagi yang akan menyeberang jalan. Fasilitas jembatan penyeberangan
tersebut sangat dibutuhkan, khususnya menyangkut keselamatan pejalan kaki,karena pejalan
kaki merupakan pengguna jalan yang paling rentan tingkat keselamatannya, padahal fasilitas
jembatan penyeberangan tersedia bagi pejalan kaki yang akan menyeberang jalan dengan
aman. Hal ini bias dilihat pada kenyataannya bahwa fungsi dan keberadaan jembatan
penyeberangan kurang dipahami oleh penyeberang jalan, serta indikator menurunnya frekuensipenggunaan
fasilitas jembatan penyeberangan.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat pemanfaatan dan
faktor yang mempengaruhi pemakaian JPO serta mengetahui tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan
pengguna JPO di depan Mega Mall jalan A.Yani Kota Pontianak.

Hasil dan Diskusi


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu prosedur
pemecahan masalah yang diteliti dengan menjabarkan keadaan objek penelitian pada saat
sekarang berdasarkan faktor–faktor yang tampak atau sebagai mana adanya. Metode
wawancara / pengisian kuisioner untuk mengetahui tingkat pemanfaatan dan faktor yang
mempengaruhi pemakaian JPO. Persepsi pejalan kaki khususnya pengguna JPO A.Yani Kota Pontianak sudah
baik dan pengguna sudah merasa nyaman. Adapun hasil penilaian dari responden adalah Intensitas penggunaan
JPO sebanyak 45% responden menyatakan ya / sering menggunakan JPO A.Yani Mega Mall. Untuk alasan
menggunakan JPO A.Yani Mega Mall sebanyak 57,5% responden menyatakan karena keselamatan. Alasan
tidak menggunakan JPO A.Yani Mega Mall adalah sebanyak 32,5% responden menyatakan karena jarak
tempuh. Untuk tingkat kenyamanan sebanyak 90% responden menyatakan Ya / sudah merasa nyaman. Untuk
tingkat kepentingan pengguna JPO A.Yani Kota Pontianak skor tertinggi adalah item kebersihan dari variable
kenyamanan dengan 91%. Artinya kebersihan sangat penting menurut responden pengguna JPO. Untuk tingkat
kepuasan Pengguna JPO A.Yani Kota Pontianak skor tertinggi adalah item pagar dari variabel keselamatan
dengan 82%. Artinya responden sudah merasa puas dengan pagar di JPO A.Yani Mega Mall Kota Pontianak.

TINGKAT KEPUASAN PENGGUNA FASILITAS PENYEBERANGAN ORANG (STUDI KASUS JPO


MUKA KUNING KOTA BATAM)

Pendahuluan

Banyak keluarga merasa lebih baik jika masyarakat mereka memiliki sebuah sistem transportasi yang efisien
dan seimbang dengan layanan angkutan umum, bersepeda dan jalan kaki berkualitas baik, daripada jika
masyarakat mereka tergantung pada mobil, yang mengharuskan setiap keluarga menanggung ongkos
kepemilikan kendaraan, mendanai pembangunan jalan dan fasilitas parkir, menghadapi kemacetan lalu lintas
dan menanggung biaya tinggi kecelakaan lalu lintas.
Praktek perencanaan konvensional memungkinkan lalu lintas mobil mendominasi ruang jalan kota. Walaupun
dalam teorinya motoris dan non-motoris memiliki hak yang sama untuk menggunakan jalan umum, lalu lintas
kendaraan bermotor mendorong keluar pengguna lainnya karena bahaya dan ukurannya yang lebih besar serta
kecepatannya yang lebih tinggi. Mobil
menggunakan 10 sampai 50 kali ruang per penumpang dibanding moda lain dan ia membahayakan keselamatan
para pejalan kaki dan pengguna sepeda. Manajemen yang lebih efisien memberikan prioritas untuk moda yang
membutuhkan lebih sedikit ruang per penumpang-kilometer, dan terutama pada perjalanan bernilai tinggi seperti
angkutan umum penumpang dan angkutan barang.
JPO atau Jembatan Penyeberangan Orang adalah fasilitas fisik penyeberangan tidak sebidang bagi pejalan kaki
yang dibangun untuk meminimalisir konflik lalu lintas dengan penyeberangan jalan. Pembangunan jembatan
penyeberangan disarankan di suatu ruas jalan apabila fasilitas penyeberangan dengan menggunakan zebra cross
dan pelican cross sudah mengganggu lalu lintas yang ada, tingginya frekuensi kecelakaan yang melibatkan
pejalan kaki, dan besarnya arus lalu lintas volume pejalan kaki di ruas jalan tersebut.

Hasil dan diskusi

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Kawasan Industri Muka Kuning Batam yang dibangun tahun 2011,
terlihat belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui indikator apa saja yang
penting dan diharapkan penyeberang jalan ada di JPO. Beberapa tahapan survey dilakukan seperti survey
kondisi fisik JPO, geometrik jalan, serta wawancara penyeberang jalan. Data dianalisis dengan pendekatan
kuantitatif mengacu pada Perencanaan Teknis Fasilitas Pejalan Kaki, Pd 03 - 2017 – B dan pendekatan
Importance Performance Analysis (IPA) dan Customer Satisfaction Index (CSI). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa fisik jembatan yang dibuat sudah sesuai dengan standar disain jembatan penyeberangan, kecuali ukuran
optrade/tinggi tanjakan dan kemiringan tangga yang lebih besar dari yang disyaratkan. Hasil pengelompokan 8
indikator pelayanan berdasarkan interpretasi CSI menunjukkan bahwa kondisi fisik JPO (atap, lantai, pegangan
tangga, lampu penerang) merupakan hal penting yang diharapkan oleh para pengguna JPO yang dalam
pelaksanaannya belum memuaskan para pengguna JPO. Harapannya, pembangunan infrastruktur harus
dibarengi dengan kegiatan pemeliharaan insfratruktur yang ada agar sesuai dengan umur perencanaannya.
BAB IV HASIL DAN DISKUSI

ANALISA KARAKTERISTIK PENGGUNAAN JEMBATAN PENYEBERANGAN PADA DAERAH


PERBELANJAAN DI JALAN JENDERAL SUDIRMAN KOTA PALEMBANG

Peneliti melakukan perbandingan pada tiga jembatan, jalan Jenderal Sudirman, Brige A di depan pusat
perbelanjaan Maraton di area perbelanjaan International Plaza, Jembatan B di depan toko Shopiemartin, dan
Jembatan C di sebelah Masjid Agung Palembang di 16 pasar perbelanjaan Ilir. Penelitian ini dimulai dari
literatur studi, pengumpulan geometris dan lalu lintas data pejalan kaki. Pemrosesan data dilakukan untuk
menentukan efektivitas jembatan pejalan kaki dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan
urutan faktor-faktor itu mempengaruhi penggunaan jembatan pejalan kaki dan urutan jembatan pejalan kaki
yang paling sering digunakan oleh pejalan kaki.
Dalam hasil analisis terhadap efektivitas jembatan penyeberangan, untuk Jembatan A, Jembatan B dan
Jembatan C adalah 95,84%. Itu hasil analisis dari 100 responden menunjukkan bahwa faktor utama yang
mempengaruhi pemilihan penggunaan jembatan penyeberangan keamanan (35,95%) dan kenyamanan (29,06%)
sedangkan dari segi kriteria teknis, lebar jembatan (33%) dan pos keamanan (28%).Dapat dilihat bahwa faktor
yang memiliki persentase paling besar adalah faktor keamanan,maka dari itu keamanan di JPO perlu
ditingkatkan supaya pejalan kaki makin tertarik untuk menggunaan fasilitas tersebut.

Efektivitas pada JPO di Jalan Sudirman Kota Palembang adalah 95,84% dengan factor keamanan yang paling
besar,maka dari itu keamanan di JPO perlu ditingkatkan supaya pejalan kaki merasa aman dan mau
menggunakan fasilitas JPO ini.

EFEKTIFITAS PENGGUNAAN JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (JPO) DAN VARIABEL


VARIABEL YANG MEMPENGARUHI PENYEBERANG JALAN DALAM MENGGUNAKANNYA
(Studi Kasus: Kota Semarang)
Studi ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas penggunaan JPO jalan di Kota Semarang serta
variabel-variabel yang mempengaruhi penyeberang jalan dalam menggunakannya. Penelitian ini mengambil
sampel di enam lokasi JPO di Kota Semarang yang didasarkan pada analisis kluster yang mengelompokkan JPO
menurut tata guna lahan pada lokasi JPO, fungsi jalan dan desain jalan.
Metode analisis yang dipergunakan untuk mengetahui efektifitas penggunaan JPO mempergunakan
teknik analisis paired sample t-test, dari hasil analisis tersebut dapat diketahui dari enam JPO pengamatan yaitu
JPO depan SMK Antonius, JPO depan RS. Panti Wiloso, JPO Pertigaan Ksatrian, JPO depan SMP N 2, JPO
pasar Karangayu dan JPO depan Hotel Dibya Puri hanya JPO depan Pasar Karangayu yang efektif dalam
penggunaannya sedangkan lima JPO yang lainnya belum efektif dalam penggunaannya. efektifitas jembatan
penyeberangan orang (JPO) dapat diketahui bahwa 1 dari 6 JPO yang ada di Kota Semarang (16,67 %) efektif
dalam penggunaannya, sedangkan 5 dari 6 JPO yang ada di Kota Semarang (83,33%) tidak efektif. Jadi dapat
disempulkan bahwa efektifitas penggunaan JPO di Kota Semarang belum efektif.
Sedangkan untuk menganalisis variabel-variabel yang mempengaruhi penggunaan JPO digunakan
teknik analisis regresi berganda dengan metode backward selection, dari analisis ini dapat diketahui bahwa
variabel-variabel yang mempengaruhi penyeberang jalan dalam menggunakan JPO beragam, yaitu:
 Variabel-variabel yang mempengaruhi penggunaan JPO depan SMK Antonius adalah lebar JPO,
kelayakan,pemahaman peraturan dan karakteristik berjalan.
 Variabel-variabel yang mempengaruhi penggunaan JPO depan RS. Panti Wiloso adalah jarak JPO dari
pusat aktivitas dan kondisi kepadatan lalu lintas.
 Variabel-variabel yang mempengaruhi penggunaan JPO Pertigaan Ksatrian adalah kemudahan
pencapaian lokasi, usia dan pemahaman peraturan.
 Variabel-variabel yang mempengaruhi penggunaan JPO depan SMP N 2 adalah lebar JPO, kemudahan
pencapaian lokasi, pemahaman peraturan dan karakteristik berjalan.
 Variabel-variabel yang mempengaruhi penggunaan JPO depan Pasar Karangayu adalah kondisi
lingkungan sekitar (ada/tidaknya pagar pembatas median jalan), jarak JPO dari pusat aktivitas dan
kelayakan.
 Variabel-variabel yang mempengaruhi penggunaan JPO depan Hotel Dibya Puri adalah kondisi
lingkungan sekitar (ada/tidaknya pagar pembatas median jalan), tingkat pendidikan, jarak JPO dari
pusat aktivitas,tinggi JPO dan kondisi kepadatan lalu lintas.
Efektifitas jembatan penyeberangan orang (JPO) dapat diketahui bahwa 1 dari 6 JPO yang ada di Kota
Semarang (16,67 %) efektif dalam penggunaannya, sedangkan 5 dari 6 JPO yang ada di Kota Semarang
(83,33%) tidak efektif. Jadi dapat disempulkan bahwa efektifitas penggunaan JPO di Kota Semarang belum
efektif dan tiap JPO memiliki variabel yang mempengaruhi penggunaan JPO berbeda-beda tergantung lokasi
dan kondisi dari JPO itu sendiri.
EFEKTIVITAS DAN KEPUASAN PENGGUNA JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (JPO) DI
PASAR INDUK KRAMAT JATI

Penelitian ini dilaksanakan sebuah pengamatan waktu tempuh pengguna JPO dengan sampel sebanyak
29 orang untuk masing-masing waktu pengamatan.Pengumpulan data juga menggunakan kuesioner kepada 53
orang responden pengguna JPO yang berisi pertanyaan berkaitan dengan komponen-komponen fisik JPO dan
data pendukung yang menjadi variabel dasar pertimbangan untuk penggunaan JPO.Hasil analisis efektivititas
menunjukan bahwa JPO tersebut tidak efektif namun tingkat pelayanan termasuk kategori A. Berdasarkan
analisis kepuasan pengguna, sebanyak 59% puas dan sangat puas menggunakan JPO dengan klasifikasi rentang
usia 21-30 tahun, pendidikan mayoritas SMA, pekerjaan terbanyak wiraswasta, penghasilan perbulan 1-3 juta,
frekuensi pekerjaan pemakaian < 2x perhari, asal tujuan ke pertokoan/pasar dengan maksud bekerja.Melihat
hasil yang menunjukkan bahwa JPO sudah memiliki tingkat pelayanan kategori A berarti pemerintah sudah
melakukan pembangunan dengan baik.Efektivitas JPO perlu ditingkatkan dalam hal mencapai kepuasan
pengguna JPO itu sendiri.

Hasil analisis efektivititas menunjukan bahwa JPO tersebut tidak efektif namun tingkat pelayanan termasuk
kategori A.Melihat hasil yang menunjukkan bahwa JPO sudah memiliki tingkat pelayanan kategori A berarti
pemerintah sudah melakukan pembangunan dengan baik.Efektivitas JPO perlu ditingkatkan dalam hal mencapai
kepuasan pengguna JPO itu sendiri.

EVALUASI EFEKTIFITAS JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (JPO) DI KOTA


SAMARINDA

Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data primer, yaitu dengan survei langsung melalui
penyebaran kuesioner dan data sekunder dengan mengumpulkan data lokasi. Analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Skala Guttman atau juga disebut analisis skala dan analisis waktu persimpangan, analisis
penentuan fasilitas persimpangan.
Hasil evaluasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan analisis waktu persimpangan nilai R pada S.
Parman street (4.2) , Jalan Gajah Mada (8.5) , Ir. Jalan H. Juanda (5.43) ,dan Jalan Slamet Riyadi (2.8). Di
keempat lokasi jembatan penyeberangan dapat dikatakan sebagai rute terpanjang dan analisis penentuan fasilitas
penyeberangan keempat rekomendasi JPO adalah pelican (penyebrangan yang diatur dengan tombol dan lampu
lalu lintas).
Berdasarkan analisis Guttman di jalan S. Parman 59% (kriteria cukup efektif), jalan Gajah Mada adalah
38% (kriteria tidak efektif), Ir. Jalan H. Juanda 63,2% (kriteria efektif),dan jalan Slamet Riyadi 83% (kriteria
sangat efektif).JPO tidak dapat digunakan secara optimal untuk para penyandang cacat karena tidak ada fasilitas
aksesibilitas terutama bagi pengguna kursi roda.Jalan S. Parman secara umum relatif cukup hal ini ditunjukan
pada perhitungan Skala Guttman yaitu, titik kesesuaiaan 59,6% (syarat 40,1-60).
Sehingga dapat dikatakan efektifitas jembatan penyeberangan orang termasuk di kriteria cukup
efektif.Analisa waktu penyebrangan nilai R adalah 4,2 maka jembatan ini dapat dikatakan rute yang panjang.
Jalan Gajah Mada secara umum rendah hal ini ditunjukan pada perhitungan Skala Guttman yaitu, titik
kesesuaiaan dibawah 50% yaitu 38,2%(syarat 20,1-40). sehingga dapat dikatakan efektifitas jembatan
penyeberangan orang termasuk di kriteria tidak efektif. Analisa waktu penyebrangan nilai R adalah 8,5 maka
jembatan dapat dikatakan rute terpanjang.
Jalan Ir. H. Juanda secara umum relatif cukup hal ini ditunjukan pada perhitungan Skala Guttman
yaitu, titik kesesuaiaan 63,2% (syarat 60,1-80). sehingga dapat dikatakan efektifitas jembatan penyeberangan
orang termasuk di kriteria efektif. Analisa waktu penyebrangan nilai R adalah 5,4 maka jembatan dapat
dikatakan rute panjang.Jalan Slamet Riyadi secara umum tinggi hal ini ditunjukan pada perhitungan Skala
Guttman yaitu, titik kesesuaiaan 83,6% (syarat 80,1-100). sehingga dapat dikatakan efektifitas jembatan
penyeberangan orang termasuk di kriteria sangat efektif.Analisa waktu penyebrangan nilai R adalah 2,8 maka
jembatan dapat dikatakan rute terpendek.

Efektivitas JPO di Kota Samarinda rata-rata adalah 60,8 % (kriteria efektif) dan nilai R rata-rata adalah 5.23
(rute panjang)
IDENTIFIKASI RENDAHNYA MINAT MASYARAKAT MENGGUNAKAN JEMBATAN
PENYEBERANGAN DENGAN METODE FAULT TREE ANALYSIS

Penelitian ini dijalankan dengan menyebarkan kuisioner kepada 163 responden pejalan kaki.
Berdasarkan metode Fault Tree Analysis dengan mencari informasi melalui wawancara berdasarkan kuesioner
diperoleh enam faktor penyebab rendahnya minat pengguna jembatan penyeberangan yaitu kenyamanan (10%),
keselamatan (5%), kemudahan (22%), desain (3%), keamanan (52%) dan hambatan (8%). Adapun alasan tidak
menggunakan jembatan penyeberangan yang paling banyak dinyatakan oleh responden adalah dari faktor
keamanan, kemudahan dan kenyamanan. Alasan yang paling banyak dari faktor keamanan adalah karena
keadaan jembatan yang gelap ketidakamanan yang dirasakan pengguna karena faktor dari penerangan yang
tidak memadai dan dapat memicu terjadinya kriminal karena tidak adanya petugas keamanan dan terdapatnya
papan-papan iklan yang menutupi jembatan penyeberangan membuat masyarakat enggan untuk menggunakan
jembatan penyeberangan.
Faktor kemudahan adalah karena jarak jembatan yang jauh dari tempat tujuan menyebabkan responden
enggan menggunakan jembatan penyeberangan. Faktor kondisi anak tangga jembatan serta tidak terdapat
penjaga keamanan di area jembatan juga menjadi penyebab lainnya. Sehingga perlu diupayakan untuk
mengurangi penempatan iklan dan menambahkan lampu pada jembatan dan menata ulang posisi jembatan agar
letaknya tidak terlalu jauh dari tujuan pengguna.

Faktor tidak menggunakan JPO berurutan dari yang terbanyak yaitu keamanan (52%), kemudahan (22%),,faktor
kenyamanan (10%), hambatan (8%), keselamatan (5%), dan desain (3%).

PEMANFAATAN JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG


DI KOTA MAKASSAR

Hasil penelitian menunjukan bahwa JPO di Makassar: (a) ketinggian anak tangga relatip masih tinggi
utamanya bagi manula, wanita utamanya wanita hamil dan anak-anak; (b) tekstur lantai JPO relatip licin
utamanya pada saat hujan; (c) lebar tangga dan lebar JPO kurang lebar; (d) JPO tidak dapat digunakan secara
optimal bagi penderita cacat karena tak tersediakan fasilitas aksesibilitas utamanya pengguna kursi roda (tuna
daksa).

Persepsi pengguna JPO di Makassar terhadap azas kemudahan, azas kegunaan, azas keamanan dan azas
kemandirian pemanfaatan JPO belum terpenuhi.Melihat hasil penelitian maka perlu ada petugas khusus disetiap
JPO dan perlu secara berkala pemeliharaannya agar pemanfaatan JPO lebih nyaman dan aman.

TINGKAT PEMANFAATAN DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN JEMBATAN


PENYEBERANGAN ORANG DI DEPAN MEGA MALL JALAN A.YANI KOTA PONTIANAK

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu prosedur pemecahan
masalah yang diteliti dengan menjabarkan keadaan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan faktor–
faktor yang tampak atau sebagai mana adanya. Metode wawancara/pengisian kuisioner untuk mengetahui
tingkat pemanfaatan dan faktor yang mempengaruhi pemakaian JPO. Persepsi pejalan kaki khususnya pengguna
JPO A.Yani Kota Pontianak sudah baik dan pengguna sudah merasa nyaman.
Adapun hasil penilaian dari responden adalah Intensitas penggunaan JPO sebanyak 45% responden
menyatakan ya / sering menggunakan JPO A.Yani Mega Mall. Untuk alasan menggunakan JPO A.Yani Mega
Mall sebanyak 57,5% responden menyatakan karena keselamatan. Alasan tidak menggunakan JPO A.Yani
Mega Mall adalah sebanyak 32,5% responden menyatakan karena jarak tempuh. Untuk tingkat kenyamanan
sebanyak 90% responden menyatakan Ya / sudah merasa nyaman. Untuk tingkat kepentingan pengguna JPO
A.Yani Kota Pontianak skor tertinggi adalah item kebersihan dari variable kenyamanan dengan 91%. Artinya
kebersihan sangat penting menurut responden pengguna JPO. Untuk tingkat kepuasan Pengguna JPO A.Yani
Kota Pontianak skor tertinggi adalah item pagar dari variabel keselamatan dengan 82%. Artinya responden
sudah merasa puas dengan pagar di JPO A.Yani Mega Mall Kota Pontianak.

Efektivitas JPO di depan Mega Mall Jalan A.Yani Kota Pontianak sudah baik dengan responden menyatakan
faktor keselamatan (82%) dan kenyamanan (90%) dari JPO sudah memuaskan.

TINGKAT KEPUASAN PENGGUNA FASILITAS PENYEBERANGAN ORANG (STUDI KASUS JPO


MUKA KUNING KOTA BATAM)
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Kawasan Industri Muka Kuning Batam yang dibangun tahun
2011, terlihat belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui indikator apa saja
yang penting dan diharapkan penyeberang jalan ada di JPO. Beberapa tahapan survey dilakukan seperti survey
kondisi fisik JPO, geometrik jalan, serta wawancara penyeberang jalan.
Data dianalisis dengan pendekatan kuantitatif mengacu pada Perencanaan Teknis Fasilitas Pejalan
Kaki, Pd 03 - 2017 – B dan pendekatan Importance Performance Analysis (IPA) dan Customer Satisfaction
Index (CSI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fisik jembatan yang dibuat sudah sesuai dengan standar
disain jembatan penyeberangan, kecuali ukuran optrade/tinggi tanjakan dan kemiringan tangga yang lebih besar
dari yang disyaratkan.
Hasil pengelompokan 8 indikator pelayanan berdasarkan interpretasi CSI menunjukkan bahwa kondisi
fisik JPO (atap, lantai, pegangan tangga, lampu penerang) merupakan hal penting yang diharapkan oleh para
pengguna JPO yang dalam pelaksanaannya belum memuaskan para pengguna JPO. Harapannya, pembangunan
infrastruktur harus dibarengi dengan kegiatan pemeliharaan insfratruktur yang ada agar sesuai dengan umur
perencanaannya.

Efektivitas JPO di Kota Batam belum efektif karena pengguna JPO menyatakan pelaksanaan JPO belum
memuaskan dan masih perlu pemeliharaan infrastruktur yang ada.

Kesimpulan

Efektivitas pada JPO di Jalan Sudirman Kota Palembang adalah 95,84% (kriteria efektif) dengan faktor
keamanan yang paling besar sebagai alasan pejalan kaki tidak menggunakan JPO,maka dari itu keamanan di
JPO perlu ditingkatkan.

Efektifitas jembatan penyeberangan orang (JPO) dapat diketahui bahwa 1 dari 6 JPO yang ada di Kota
Semarang (16,67 %) efektif dalam penggunaannya, sedangkan 5 dari 6 JPO yang ada di Kota Semarang
(83,33%) tidak efektif. Jadi dapat disimpulkan bahwa efektifitas penggunaan JPO di Kota Semarang belum
efektif dan tiap JPO memiliki variabel yang mempengaruhi penggunaan JPO berbeda-beda tergantung lokasi
dan kondisi dari JPO itu sendiri.

Efektivititas JPO Pasar Induk Kramat Jati menunjukan bahwa JPO tersebut tidak efektif namun tingkat
pelayanan termasuk kategori A.Melihat hasil yang menunjukkan bahwa JPO sudah memiliki tingkat pelayanan
kategori A berarti pemerintah sudah melakukan pembangunan dengan baik namun masih perlu ditingkatkan.

Efektivitas JPO di Kota Samarinda rata-rata adalah 60,8 % (kriteria efektif) dan nilai R rata-rata adalah 5.23
(rute panjang)

Faktor tidak menggunakan JPO berurutan dari yang terbanyak yaitu keamanan (52%), kemudahan (22%),faktor
kenyamanan (10%), hambatan (8%), keselamatan (5%), dan desain (3%).

Persepsi pengguna JPO di Makassar terhadap azas kemudahan, azas kegunaan, azas keamanan dan azas
kemandirian pemanfaatan JPO belum terpenuhi.Melihat hasil penelitian maka perlu ada petugas khusus disetiap
JPO dan perlu secara berkala pemeliharaannya agar pemanfaatan JPO lebih nyaman dan aman.

Efektivitas JPO di depan Mega Mall Jalan A.Yani Kota Pontianak sudah efektif dengan responden menyatakan
faktor keselamatan (82%) dan kenyamanan (90%) dari JPO sudah memuaskan.

Efektivitas JPO di Kota Batam belum efektif karena pengguna JPO menyatakan pelaksanaan JPO belum
memuaskan dan masih perlu pemeliharaan infrastruktur yang ada.