You are on page 1of 12

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan Tabel 1. Data Pengamatan Uji Penduga Kel Contoh DS 100 1 Air sungai 2 3 4 Es cincau +++ +++ +++ +++ Es doger Air sumur 5 6 Es cendol +++ +++ +++ Jus alpukat +++ ++ +-++ +-+-+-321 212 1.5 x 104 2.7 x 102 +++ ++ ++ +-++ --+-++ 331 223 310 4.6 x 104 4.2 x 102 4.3 x 102 Pengenceran SS 100 SS 10-1 SS 10-2 SS 10-3 333 Kombinasi MPN count/100 ml >2,4 x 103

+++ +++ +++ +++ +++

+++ +++

Tabel 2. Data Pengamatan Uji Penguat Kel Contoh Pada media EMBA Koliform fekal 1 2 3 4 5 6 Air sungai Es cincau Es doger Air sumur Es cendol Jus alpukat Koliform non fekal
V V V V V V

Tabel 3. Data Pengamatan Uji Pelengkap Kel 1 2 3 4 5 6 Contoh Air sungai Es cincau Es doger Air sumur Es cendol Jus alpukat LB (+) / (-) (+) (+) (+) (+) (+) (+) Pewarnaan gram (-) (-) (-) (-) (-) (-)

Tabel 4. Data Pengamatan Uji IMVIC Kel Contoh Indol IMVIC Merah Metil 1 Air sungai 2 Es cincau 3 Es doger + + + Voges proskauer E. coli var II E. coli var II E. aerogenes var IV 4 Air sumur 5 Es cendol 6 Jus alpukat + E. aerogenes var IV + E. coli var II Sitrat Jenis Koliform

Tabel 5. Varietas E. colli dan E. aerogenes Mikroba E. coli Var. I II E. aerogenes III IV Indol + +/MR + + VP + Sitrat + +/-

B. Pembahasan Pada praktikum AMMP kali ini dilakukan uji bakteri koliform secara lengkap yang terdiri dari 3 tahap yaitu uji penduga, uji penguat dan uji pelengkap. Untuk mengetahui jenis koliform di dalam contoh dilanjutkan dengan identifikasi koliform dengan menggunakan uji IMViC. Sampel yang digunakan pada praktikum kali ini adalah air sungai pada kelompok 1 dengan menggunakan media LB, es cincau pada kelompok 2 dengan menggunakan media BGLBB, es doger pada kelompok 3 dengan menggunakan media BGLBB, air sumur pada kelompok 4 dengan menggunakan media LB, es cendol pada kelompok 5 dengan menggunakan media BGLBB dan juice alpukat pada kelompok 6 dengan menggunakan media BGLBB. Uji koliform ini dilakukan dengan menggunakan 3 seri tabung pada tingkat pengenceran 100 sampai 10-3. 1. Uji penduga Uji penduga meupakan uji spesifik untuk menentukan bakteri koliform. Pada uji ini akan dilihat kemampuan koliform dalam menggunakan laktosa sebagai sumber karbon. Untuk contoh bahan pangan media yang digunakan adalah BGLBB sedangkan air media yang digunakan adalah LB. BGLBB dapat menghambat pertumbuhan gram positif dan memacu bakteri gram negative seperti koliform. Adanya gas dalam tabung durham merupakan uji penduga kehadiran koliform dalam contoh dan untuk mengetahui jumlah bakteri dapat diduga dengan metode MPN. Pada metode MPN digunakan DS dan SS kemudian dilakukan pengenceran sebanyak 3 kali tingkat pengenceran. Adanya gas dalam tabung durham dapat diberi nilai + sedangkan apabila tidak ada gas dalam tabung durham dapat diberi nilai -. Dari data hasil pengamatan untuk kelompok 1 dengan sampel

air sungai didapat hasil DS dan SS pada tingkat pengenceran 100 ke-3 tabung hasilnya +, SS pada tingkat pengenceran 10-1 ke-3 tabung hasilnya +, SS pada tingkat pengenceran 10-2 ke-3 tabung hasilnya +, SS pada tingkat pengenceran 10 3

ke-3 tabung hasilnya +, sehingga dapat diketahui kombinasinya yaitu 333

dengan nilai MPN/100ml sebesar >2,4 x 103. Pada kelompok 2 dengan sampel es cincau didapat hasil DS dan SS pada tingkat pengenceran 100 ke-3 tabung hasilnya +, SS pada tingkat pengenceran 10-1 ke-3 tabung hasilnya +, SS pada tingkat pengenceran 10-2 ke-3 tabung hasilnya +, SS pada tingkat pengenceran 10-3 terdapat 1 tabung hasilnya + dan 2 tabung hasilnya -, sehingga dapat diketahui kombinasinya yaitu 331 dengan nilai MPN/100ml sebesar 4,6 x 104. Pada kelompok 3 dengan sampel es doger didapat hasil DS pada tingkat pengenceran 100 ke-3 tabung hasilnya +, SS pada tingkat pengenceran 100 terdapat 2 tabung hasilnya + dan 1 tabung hasilnya -, SS pada tingkat pengenceran 10-1 terdapat 2 tabung hasilnya + dan 1 tabung hasilnya -, SS pada tingkat pengenceran 10-2 terdapat 2 tabung hasilnya + dan 1 tabung hasilnya -, SS pada tingkat pengenceran 10-3 1 tabung hasilnya + dan 2 tabung hasilnya -, sehingga dapat diketahui kombinasinya yaitu 223 dengan nilai MPN/100ml sebesar 4,2 x 102. Pada kelompok 4 dengan sampel air sumur didapat hasil DS dan SS pada tingkat pengenceran 100 ke-3 tabung hasilnya +, SS pada tingkat pengenceran 10-1 terdapat 1 tabung hasilnya + dan 2 tabung hasilnya -, SS pada tingkat pengenceran 10-2 ke-3 tabung hasilnya -, SS pada tingkat pengenceran 10-3 ke-3 tabung hasilnya -, sehingga dapat diketahui kombinasinya yaitu 310 dengan nilai MPN/100ml sebesar 4,3 x 102. Pada kelompok 5 dengan sampel es cendol didapat hasil DS dan SS pada tingkat pengenceran 100 ke-3 tabung hasilnya +, SS pada tingkat pengenceran 10-1 ke-3 tabung hasilnya +, SS pada tingkat pengenceran 10-2 terdapat 2 tabung hasilnya + dan 1 tabung hasilnya -, SS pada tingkat pengenceran 10-3 1 tabung hasilnya + dan 2 tabung hasilnya -, sehingga dapat diketahui kombinasinya yaitu 321 dengan nilai MPN/100ml sebesar 1,5 x 104. Pada kelompok 6 dengan sampel jus didapat hasil DS pada tingkat pengenceran 100 ke-3 tabung hasilnya +, SS pada tingkat pengenceran 100 terdapat 2 tabung hasilnya + dan 1 tabung hasilnya -, SS pada tingkat pengenceran 10-1 terdapat 1 tabung hasilnya + dan 2 tabung hasilnya -, SS pada tingkat pengenceran

10-2 terdapat 1 tabung hasilnya + dan 2 tabung hasilnya -, SS pada tingkat pengenceran 10-3 1 tabung hasilnya + dan 2 tabung hasilnya -, sehingga dapat diketahui kombinasinya yaitu 212 dengan nilai MPN/100ml sebesar 2,7 x 102.

2. Uji penguat Setelah uji penduga, dilanjutkan dengan uji penguat. Uji penguat dilakukan untuk menguatkan kehadiran koliform dalam contoh. Dalam uji ini digunakan media EMBA. Pada media EMBA dapat dibedakan antara koliform fekal dan non fekal. Pada koliform fekal ditandai dengan adanya koloni berwarna gelap dengan sinar hijau metalik. Sedangkan pada koliform non fekal ditandai dengan adanya koloni yang berwarna merah dengan bintik hitam di tengah. Pada uji penguat dilakukan penggoresan kuadran dengan menggunakan media EMBA, dalam hal ini didapatkan hasil untuk kelompok 1 dengan sampel air sungai, kelompok 2 dengan sampel es cincau, kelompok 3 dengan sampel es doger, sampel 4 dengan sampel air sumur, kelompok 5 dengan sampel es cendol, dan kelompok 6 dengan sampel jus alpukat dinyatakan dengan adanya pertumbuhn koliform non fekal yang ditandai dengan adanya koloni yang berwarna merah dengan bintik hitam di tengah pada media EMBA.

3.

Uji pelengkap

Uji pelengkap dilakukan untuk menegaskan kehadiran bakteri koliform dalam contoh. Koloni koliform yang terpisah dari cawan EMBA atau Endo diinokulasikan ke dalam LB dan digores pada NA miring untuk kemudian dilakukan pewarnaan gram. Dalam pengujian ini, koloni yang tumbuh dinyatakan dengan data kualitatif, yaitu ada atau tidaknya koloni yang tumbuh pada media. Berdasarkan data pengamatan di atas, pada media LB didapatkan hasil sebagai berikut, untuk kelompok 1 dengan sampel air sungai, kelompok 2 dengan sampel es cincau, kelompok 3 dengan sampel es doger, sampel 4 dengan sampel air sumur, kelompok 5 dengan sampel es cendol, dan kelompok 6 dengan sampel jus

alpukat dinyatakan dengan reaksi positif (+)/terdapatnya koloni yang tumbuh pada media yang ditandai dengan terbentuknya gas pada tabung Durham. Data yang didapatkan semua kelompok adalah positif (+) terdapat pertumbuhan bakteri, oleh karena itu dapat dilakukan tahap yang selanjutnya yaitu dengan Pewarnaan Gram atau metode Gram yang merupakan salah satu teknik pewarnaan yang paling penting dan luas yang digunakan untuk mengidentifikasi bakteri. Dalam hal ini, didapatkan hasil antara lain, untuk kelompok 1 dengan sampel air sungai, kelompok 2 dengan sampel es cincau, kelompok 3 dengan sampel es doger, sampel 4 dengan sampel air sumur, kelompok 5 dengan sampel es cendol, dan kelompok 6 dengan sampel jus alpukat dinyatakan dengan tumbuhnya bakteri gram negatif (-) yang diambil dari kultur NA. Setelah dilakukan pewarnaan gram dan diamati pada mikroskop, bakteri yang teramati dari kultur murni ialah berbentuk basil dan berwarna merah muda sehingga dapat dikatakan terdapat bakteri E. coli, sedangkan pada kultur dari semua sampel bakteri yang teramati berbentuk kokus dan bewarna merah muda sehingga dapat dikatakan air sampel tidak mengandung bakteri E. coli. Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah suatu metode empiris untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni gram-positif dan gram-negatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka. Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (18531938) yang mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae (filzahazny, 2008). Bakteri Gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram-positif akan mempertahankan zat warna metil ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri gram-negatif tidak. Pada uji pewarnaan Gram, suatu pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metil ungu, yang membuat semua bakteri gram-negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka (filzahazny, 2008).

Zat warna yang digunakan pada pewarnaan Gram meliputi crystal violet , yodium , alkohol dan safranin. Fungsi dari masing-masing zat warna tersebut adalah sebagai berikut (crystal violet) berwarna ungu. Merupakan pewarna primer (utama) yang akan memberi warna mikroorganisme target. Crystal Violet bersifat basa sehingga mampu berikatan dengan sel mikroorganisme yang bersifat asam , dengan begitu sel mikroorganisme yang transparan akan terlihat berwarna (Ungu). Yodium merupakan pewarna Mordan , yaitu pewarna yang berfungsi memfiksasi pewarna primer yang diserap mikroorganisme target. Pemberian yodium pada pengecatan Gram dimaksudkan untuk memperkuat pengikatan warna oleh bakteri. Alkohol merupakan solven organik yang berfungsi untuk membilas atau melunturkan kelebihan zat warna pada sel bakteri (mikroorganisme). Pemberian alkohol pada pengecatan ini dapat mengakibatkan terjadinya dua kemungkinan yaitu mikroorganisme (bakteri) akan tetap berwarna ungu dan bakteri menjadi tidak berwarna. Safranin merupakan pewarna tandingan atau pewarna sekunder. Zat ini berfungsi untuk mewarnai kembali sel-sel yang telah kehilangan pewarna utama setelah perlakuan dengan alkohol. Dengan kata lain , memberikan warna pada mikroorganisme non target (Wahyuningsih , 2008). Zat-zat warna tersebut dapat berikatan dengan komponen dinding sel bakteri dalam waktu singkat. Karena itulah rentang waktu pemberian zat warna yang satu ke yang lainnya tidak lama sehingga proses identifikasi bakteri berlangsung cepat (efisiensi waktu). 4. Uji IMViC Untuk mengetahui jenis koliform di dalam sampel dilanjutkan dengan identifikasi koliform dengan menggunakan uji IMViC. Uji IMViC terdiri dari uji indol, uji merah metil, uji Voges-Proskaueur dan uji sitrat. Uji indol dilakukan untuk melihat kemampuan mikroba mendegradasi asam amino triptofan menjadi indol. Asam amino triptofan merupakan komponen asam amino yang lazim terdapat pada protein, sehingga asam amino ini dengan mudah dapat digunakan oleh mikroorganisme akibat penguraian protein. Bakteri tertentu seperti misalnya E.coli mampu menggunakan triptofan sebagai sumber karbon. Dari hasil uji Indol yang dilakukan, semua tabung reaksi menghasilkan reaksi negatif.

Uji merah metil dilakukan untuk melihat kemampuan mikroba mengoksidasi glukosa menghasilkan asam sebagi produk akhir dan berkonsentrasi tinggi. Beberapa bakteri menfermentasi glukosa dan menghasilkan berbagai produk bersifat asam sehingga dapat menurunkan pH media pertumbuhannya menjadi 5,0 atau lebih rendah. Penambahan indikator pH methyl red dapat menunjukkan adanya perubahan pH menjadi asam. Uji ini sangat berguna dalam identifikasi kelompok bakteri yang menempati saluran pencernaan termasuk E. coli. Dari hasil uji merah metil yang dilakukan, untuk kelompok 1, 2, dan 4 yaitu air sungai, es cincau, dan air sumur menghasilkan reaksi positif (+). Sedangkan pada kelompok 3, 5, dan 6 yaitu es doger, es cendol dan jus alpukat menghasilkan reaksi yang negatif. Menurut Lay (1994), methyl red berwarna merah pada lingkungan pH 4,4 dan berwarna kuning pada lingkungan pH 6,2. Uji voges-proskaueur dilakukan untuk melihat kemampuan mikroba mengoksidasi glukosa menjadi substansi non asam atau produk akhir netral, seperti asetil metil karbinol. Hasil uji Voges-Proskauer menunjukkan reaksi negatif pada semua tabung. Tabung MR-VP tidak memperlihatkan perubahan warna setelah penambahan reagen. Hal ini membuktikan bahwa E. coli tidak membentuk asetil metil karbinol. Sedangkan uji sitrat dilakukan untuk melihat kemampuan mikroba dalam memfermentasi sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon. Dari uji yang dilakukan diperoleh hasil dari masing-masing kelompok yaitu untuk kelompok 1, 2, 4, dan 5 pada sampel air sungai, es cincau, air sumur dan es cendol diperoleh hasil yang negatif menunjukkan bahwa E. coli tidak menggunakan sitrat sebagai sumber karbon. Sedangkan pada kelompok 3 dan 6 untuk sampel es doger dan jus alpukat menunjukkan hasil yang positif. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh pada pengujian IMViC, maka dari masing-masing kelompok dapat diidentifikasi jenis koliform yang didapatkan, antara lain pada kelompok 1, 2, dan 4 yaitu air sungai, es cincau, dan air sumur teridentifikasi jenis koliformnya adalah E. coli varietas II, pada kelompok 3 dan 6 dengan sampel es doger dan jus alpukat termasuk ke dalam jenis koliform E. aerogeneses varietas IV, sedangkan untuk kelompok 5 dengan sampel es cendol, tidak masuk ke dalam kedua jenis koliform yang telah ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA

http://wahyoe-analisiskimia.blogspot.com/2011/01/uji-kualitas-airmikrobiologi.html.Diakses pada tanggal 28 November 2011, pada pukul 23.45 WIB. http://www.scribd.com/doc/16766824/uji-coliform.Diakses pada tanggal 28 November 2011, pada pukul 23.55 WIB. http://firebiology07.wordpress.com/2009/04/19/teknik-pewarnaanmikroorganisme/.Diakses pada tanggal 29 November 2011, pada pukul 06.00 WIB. http://mei-science.blogspot.com/2009/10/fungsi-zat-pewarna-pada-pengecatangram.html.Diakses pada tanggal 29 November 2011, pada pukul 06.10 WIB.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan Uji penduga meupakan uji spesifik untuk menentukan bakteri koliform. Pada uji ini akan dilihat kemampuan koliform dalam menggunakan laktosa sebagai sumber karbon. Untuk contoh bahan pangan media yang digunakan adalah BGLBB sedangkan air media yang digunakan adalah LB. Dari hasul uji penduga diperoleh hasil yang paling besar dari es cendol, ini disebabkan kandungan yang terdapat pada es cendol dan tempat penyimpanannya, es cendol lebih cenderung mudah terkontaminasi oleh mikroba dibandingkang dengan sampel lainnya. Setelah uji penduga, dilanjutkan dengan uji penguat. Uji penguat dilakukan untuk menguatkan kehadiran koliform dalam contoh. Dalam uji ini digunakan media EMBA. Pada media EMBA dapat dibedakan antara koliform fekal dan non fekal. Hasil yang diperoleh semua sampel non fekal, dengan adanya pertumbuhan koliform non fekal yang ditandai dengan adanya koloni yang berwarna merah dengan bintik hitam di tengah pada media EMBA. Uji pelengkap dilakukan untuk menegaskan kehadiran bakteri koliform dalam contoh. Koloni koliform yang terpisah dari cawan EMBA atau Endo diinokulasikan ke dalam LB dan digores pada NA miring untuk kemudian dilakukan pewarnaan gram. Dalam pengujian ini, koloni yang tumbuh dinyatakan dengan data kualitatif, yaitu ada atau tidaknya koloni yang tumbuh pada media. Diperoleh hasil dari tabung LB semua kelompok positif, dan dilanjutkan dengan menggoreskan kultur dari LB ke NA, dari agar NA diperoleh semua hasil semua sampel dari seluruh kelompok dinyatakan dengan tumbuhnya bakteri gram negatif (-). Setelah diperoleh hasil dari NA dilakukan uji pewarnaan gram, Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah suatu metode empiris untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni gram-positif dan gram-negatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka. Setelah dilakukan pewarnaan gram dan diamati pada mikroskop, bakteri yang teramati dari kultur murni ialah berbentuk basil dan berwarna merah muda sehingga dapat dikatakan terdapat bakteri E. coli, sedangkan pada kultur dari semua sampel bakteri yang

teramati berbentuk kokus dan bewarna merah muda sehingga dapat dikatakan air sampel tidak mengandung bakteri E. coli. Setelah pewarnaan gram dilakukan

uji IMViC untuk mengetahui jenis koliform di dalam sampel dilanjutkan dengan identifikasi koliform. Dari hasil indol, MR, VP, dan sitrat dinyatakan dalam (+) dan (-), dilakukan dengan mengkombinasikan hasil sesuai dengan variatif, dan bisa dibedakan menjadi beberapa golongan mikroba, pada variatif 1 dan 2 masuk ke dalam mikroba E.coli dan pada variatif 3 dan 4 masuk kedalam bakteri E. aerogenes. Diperoleh hasil dari kelompok 1 dengan sampel air sungai mikrobanya E. coli var II, kelompok 2 dengan sampel es cincau mikrobanya E. coli var II, kelompok 3 dengan sampel es doger mikrobanya E. aerogenes var IV, kelompok 4 dengan sampel air sumur E.coli var II, kelompok 5 dengan sampel es cendol tidak masuk kedalam kombinasi, sehingga tidak diketahui mikroba apa yang tumbuh, dan kelompok 6 dengan sampel jus alpukat mikrobanya E. aerogenes var IV. Dapat disimpulkan sampel dengan produk olahan pangan lebih spesifik ditumbuhi dengan mikroba E. aerogenes, sedangkan pada air biasa yang tanpa pengolahan namun pada tempat yang berbeda (sumur dan sungai) lebih spesifik mikroba yang tumbuh E. coli. B. Saran Pada saat praktikum hasul lebih steril, agar sampel tidak terkontaminasi dari lingkungan luar, dan pada saat pengamatan harus tepat pada waktunya, agar mikroba yang diteliti lebih spesifik dan mikroba yang diteliti bukan karena kontaminasi dari lingkungan luar sampel, seperti tangan praktikan atau udara yang ada di laboratorium. Pada saat inkubasi sampel disimpan pada suhu yang seharusnya, dan lebih baik tidak dicampur dengan sampel lain, agar menimalisir terjadinya kontaminasi dan mikroba yang tumbuh benar-benar dari sampel yang yang di uji.