You are on page 1of 25

Hama dan Penyakit

Tanaman Sorghum
PENGGEREK BATANG
Lalat Bibit Atherigona
soccata Rondani

Sumber :
balitsereal.litbang.pertanian.go.id
Bioekologi

Lalat bibit dapat hidup pada sorgum liar,


jagung, dan millet.
Telur -> Larva -> Pupa -> Menetas
Kerusakan terjadi pada tanaman sorgum
muda, bahkan dapat menyebabkan
tanaman mati akibat gerekan larva
Penggerek Batang
Sorgum
(African sorghum
stemborer),
Bioekologi
Hama utama orgum di daerah subsahara Afrika
merupakan hama utama sorgum di daerah subsahara Afrika pada
ketinggian di atas 500 mdpl. Selain sorgum, hama ini juga menyerang
tanaman jagung. Belum ada laporan keberadaan hama ini di Indonesia.
Serangga dewasa berwarna coklat tua, meletakkan telur berwarna kuning
bening berbentuk lonjong secara berkelompok, 11-25 telur pada pelepah
daun muda bagian dalam. Telur akan menetas 7-12 hari setelah diletakkan.
Larva muda akan makan pada daun muda yang masih menggulung dan
seringkali merusak titik tumbuh. Kemudian larva yang sudah instar lanjut
akan melubangi batang dan membentuk pupa. Fase larva adalah 25-35 hari.
Larva generasi kedua akan merusak bagian batang atas tempat biji sorgum.
Umumnya terdapat dua generasi per tahun.
Colocoris angustatus
(Kepik Malai)
head bug

Nimfa dan dewasa kepik mengisap cairan


biji yang mulai berkembang.
Dampak : biji jelek dengan germinasi yang
rendah. Kepik dewasa meletakkan telur di
dalam biji pada malai yang muncul atau
berkembang.
Uret Phyllophaga spp.
(Scarabacidae: Coleoptera)
Bioekologi
Hama ini dikenal sebagai white grubs yang
menyerang berbagai tanaman. Larva
menyerang atau makan akar tanaman.
Dampak : kerdil atau mati.
Telur biasanya diletakkan sebagian besar
dekat dengan daerah yang ada pohon
atau belukar.
Chilo sacchariphagus
(Bojer)
Spesies ini terdapat di Cina, Indonesia, dan Malaysia, dan
merupakan hama utama tanaman tebu, dan hama penting
sorgum. Chilo bertahan pada musim kemarau dan larva ber
diapause.
Instar larva pertama memakan daun muda dekat pangkal
lingkaran daun. Gejala ini merupakan indikasi pertama
adanya larva Chilo.
Puncak oviposisi terjadi pada pertengahan Juni untuk
generasi pertama dan pada pertengahan Agustus untuk
generasi kedua.
Kerusakan sorgum oleh C. sacchariphagus pada musim semi
dilaporkan 65% dan pada musim panas 35%. Kerusakan
tanaman sorgum yang disebabkan oleh penggerek mencapai
32% pada musim semi dan 8% pada musim panas.
PENGGEREK BUAH
Helicoverpa armigera
Telur menetas tiga hari setelah dikeluarkan.
Masa prapupa dan pupa biasanya terjadi
dalam tanah pada kedalaman bergantung
pada kekerasan tanah. Serangga ini
adakalanya berpupa pada permukaan
tumpukan limbah tanaman. Tanaman inang
selain sorgum adalah jagung, kapas, dan
tomat.
Burung Emprit dan Red
Quelea
Hama ini menyukai biji sorgum, terutama
yang berwarna putih (Numbu).
Serangan hama burung sulit dikendalikan dan
kerusakan dapat mencapai 100%, menyerang
dalam keadan cuaca mendung.
Red quelea adalah salah satu jenis burung
hama sorgum, terbang berkoloni menyerupai
gumpalan awan, dengan jumlah ribuan
bahkan jutaan. Seekor burung dengan bobot
badan 40-50 g mampu mengonsumsi 10 g biji
sorgum/hari
HAMA PASCA PANEN
Sitophilus zeamais
(Motsch)
Sitophilus zeamais Motsch atau maize weevil
atau kumbang bubuk merupakan serangga
yang bersifat polifag.
Menyerang sorgum,jagung,
beras, gandum, kacang
tanah dan lain-lain
Perkembangan populasi
sangat cepat bila bahan
disimpan pada kadar air di
atas 15%.
Corcyra cephalonica
(Stainton.)
Nama umum: Rice moth
Toleran terhadap
kelembaban tinggi.
Mampu makan biji utuh,
lebih sering ditemukan dan
cepat berbiak sebagai
hama sekunder.
Serangga ini banyak
ditemukan pada gudang
beras, jagung, dan sorgum.
Sitotroga cerealella
(Angoumois grain moth)
Spesies S. ceralella adalah infestor
internal/hama primer Terjadi pada
penyimpanan dengan sistem curah,
kerusakan hanya terbatas pada area
permukaan.
Pada penyimpanan di gudang dengan sistem
tumpuk, serangan bisa terjadi di mana saja.
Dampak kerusakan
Susut jumlah.
Kontaminasi gumpalan dari biji yang rusak,
kotoran serangga, dan benang sutra.
PENYAKIT TANAMAN
SORGUM
Penyakit Antraknosa
Penyebab : Colletrotichum graminicola.
Penyebaran : Angin atau percikan air hujan.

Gejala :
Bintik-bintik kecil dan
mengalami pelukaan
sampai 5 mm
Layu
Infeksi awal terjadi
pada daun bagian
bawah
Kehilangan hasil
dapat mencapai 50%.
Rust (Karat)
Penyebab : Pucciniapurpurea
Penyebaran dapat melalui
Gejala: angin.
Terjadi pada fase
generatif.
Menyerang daun
Penyakit ini bersifat
obligat parasit
Kerugian relatif
rendah berkisar
antara 3,4-13%.
menginfeksi
nan dan
ntuknyaPenyakit busuk batang
n dalam biji
kualitas biji
Penyebab : Fusarium
n dan bila
dan hewan
. sp. Penularan pada
benih yang baru
ditanam, terjadi
pembusukan
sehingga benih gagal
berkecambah
Gejala: atau
damping of.
Akar rusak
Batang rusak
Penyakit bercak daun
Disebabkan oleh cendawan Bipolaris
turcicum atau Exserochilum
turcicum.
Gejala:
bintik kecil berwarna
kuning kecoklatan
Infeksi pertama pada
daun di bagian bawah
nekrosis
Penanggulangan
1. Kultur Teknis
Dilakukan penyiangan tanaman. Waktu tanam segera sesudah
hujan akan mengurangi serangan, terlambat tanam akan
meningkatkan infestasi lalat bibit (Reddy 1981). Rotasi tanaman
dan tanam seawal mungkin sesudah cukup hujan akan
mengurangi serangan hama. Untuk burung emprit, pemasangan
jaring/paranet pada waktu tanaman membentuk malai muda
hingga panen, namun biayanya cukup tinggi.

2. Kimiawi
Beberapa insektisida yang cukup efektif antara lain carbofuran,
fensulfothion, isofenphos (Reddy 1981), tetapi secara ekonomi
kurang menguntungkan selain berbahaya bagi kesehatan.
3. Varietas tahan
Pengembangan varietas tahan lalat bibit terus dikembangkan
oleh ICRISAT. Varietas Pirira-1 dan Pirira-2 cukup tahan terhadap
lalat bibit dan telah ditanam secara luas di Afrika Selatan (Berg
et al. 2005).

4. Pengendalian Biologi
Beberapa musuh alami telah berperan di lapangan seperti
parasit telur Trichogramma kalkae di Kenya dengan tingkat
parasitasi 50-60%, Aprostocetus spp. di Nigeria dengan tingkat
parasitasi 15-35%, parasit larva instar (1-2) Tetrastichus
nyemitawus dengan tingkat parasitasi 10% (Reddy 1981).
Namun belum ada yang digunakan secara massal dalam
pengendalian lalat bibit.