You are on page 1of 22

CASE REPORT

OTITIS EKSTERNA
OTITIS MEDIA AKUT
HARI HARDANA
IKA NOVERINA MANIK

PERCEPTOR:
dr. Hadjiman YT, Sp. THT
Otitis media akut merupakan penyakit yang cukup sering
ditemukan di praktek kedokteran sehari-hari.
Otitis media akut merupakan peradangan sebagian atau
seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius,antrum
mastoid, dan sel-sel mastoid kurang dari 2 minggu.
Gejala klinik otitis media akut tergantung pada stadium
penyakit dan umur pasien. Keluhan yang biasanya timbul
adalah otalgia, otorea, pendengaran berkurang, rasa penuh di
telinga, demam.
Di Indonesia sendiri, belum ada data akurat yang ditemukan
untuk menunjukkan angka kejadian, insidensi, maupun
prevalensi OMA.

Pendahuluan
Identitas Pasien
Nama pasien : Nn. E
Umur : 16 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Pelajar
Tanggal Pemeriksaan: 20 Oktober 2016

Laporan Kasus
Keluhan utama: Telinga kiri terasa nyeri dan keluar cairan bening sejak 3
hari yang lalu serta pendengaran berkurang pada telinga kanan.

Keluhan tambahan: Telinga terasa berdengung dan nyeri kepala.

Riwayat penyakit sekarang:

Pasien Nn E datang Kepoliklinik THT dengan keluhan rasa nyeri pada telinga kiri sejak 3
hari yang lalu. Keluhan ini disertai dengan keluarnya cairan bening dari telinga kiri. Pasien
juga mengeluhkan telinga terasa berdengung, dan nyeri kepala. Pada telinga kanan pasien
mengeluhkan adanya hearingloss sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan ini dirasakan semakin
hari semakin memberat. Pasien menyangkal adanya demam (-).

2 minggu sebelum datang ke RS os mengalami batuk (+), pilek (+). Pasien memiliki riwayat
Telinga kanan di korek-korek menggunakan cotton bud sebelum keluhan telinganya kurang
lebih 2 minggu lalu dikarenakan telinga terasa gatal dan tidak nyaman. Selama satu minggu
pasien mengalami keluhan telinga, pasien pernah memeriksa sakitnya di puskesmas namun
keluhan tidak berkurang.
Riwayat penyakit dahulu:
Pasien mengalami batuk pilek 2 minggu sebelum ke
rumah sakit.
Riwayat penyakit keluarga/sosial:
Tidak ada di keluarganya atau orang sekitar pernah
sakit yang sama.
Riwayat pengobatan:
Sebelum kerumah sakit pasien pergi ke puskesmas
terkait keluhan ini namun keluhan yang dirasa tidak
berkurang.
Riwayat alergi:
Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi
makanan, debu ataupun obat-obatan.
Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda vital
Tekanan Darah : 120 / 80 mmhg
Nadi : 86 x/menit
Respirasi : 20 x/menit
Suhu : 36,8 C
Telinga Kanan Telinga Kiri

Normotia, deformitas (-), Daun telinga Normotia, deformitas (-),


edema (-), hiperemis (-), edema (-), hiperemis (-),
nyeri (-), fistula (-) nyeri (-), fistula (-)
Nyeri tekan (-), fistula (-), Daerah retroaurikuler Nyeri tekan (-), fistula (-),
sikatrik (-) sikatrik (-)

Lapang, serumen (-), Liang telinga Lapang, serumen (+),


hiperemis pada posterior

Gendang telinga

Hiperemis ringan Normal

Status lokalis
PemeriksaanHidung Hidungkanan Hidungkiri

Hidungluar Bentuk (normal), hiperemi (-), Bentuk (normal), hiperemi (-),


nyeri tekan (-), deformitas (-) nyeri tekan (-), deformitas (-)
Rinoskopi anterior

Vestibulumnasi Hiperemis (-), sekret mukopurulen Hiperemis (-), sekret mukopurulen


(-) (-)
Cavum nasi Bentuk (normal), hiperemia (-) Bentuk (normal),hiperemia(-)

Meatus nasi media Mukosa hiperemis, sekret (-), Mukosa hiperemis, sekret (-),
Massa (-) Massa (-)
Konkanasi inferior Edema (-), mukosa hiperemi (-) Edema (-), mukosa hiperemi (-)

Septum nasi Deviasi (-), perdarahan (-), ulkus (-) Deviasi (-), perdarahan (-), ulkus (-)

Transluminasi Sinus
Tidak dilakukan
Bibir Mukosa bibir basah, berwarna merah muda (N)

Mulut Mukosa mulut basah berwarna merah muda

Geligi Normal

Lidah Tidak ada ulkus, pseudo membrane (-)

Uvula Bentuk normal, hiperemis (-), edema (-), bercak kekuningan (-)

Palatum mole Ulkus (-), hiperemi (-),bercak kekuningan (-)

Faring Mukosa hiperemi (-), reflex muntah (-), bercak kekuningan (-)

Tonsila palatine Kanan Kiri

T1, Infiltrat kekuningan (-) T1, Infiltrat kekuningan (-)


Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan

Diagnosis
AD Otitis Media Akut
AS otitis eksterna

Diagnosis Banding
Otitis Media Supuratif Kronik

Rencana Terapi
- Analgetik (NSAID)
- Antibiotik

Prognosis
Quo ad Vitam : ad Bonam
Quo ad Functionam : Dubia ad Malam
Quo ad Sanationam : Dubia ad Malam
Tinjauan Pustaka
Otitis eksterna ialah radang liang telinga akut maupun
kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur dan
virus.
Klasifikasi : Otitis eksterna sirkumskripta
Otitis ekterna difus
Faktor risiko : berenang, trauma, reaksi terhadap benda
asing, dan akumulasi serumen.

Otitis Eksterna
Diagnosis
Anamnesis
- otalgia
- otorea
- hearing loss
Pemeriksaan fisik
- liang telinga kemerahan, edema
- nyeri tekan tragus
- membran timpani intak
Penatalaksanaan
1. Membersihkan liang telinga dengan pengisap atau kapas
dengan berhati-hati.
2. Penilaian terhadap sekret, edema dinding kanalis, dan
membrana timpani bilamana mungkin keputusan
apakah akan menggunakan sumbu untuk mengoleskan
obat
3. Pemilihan pengobatan sistemik
Otitis media adalah inflamasi dari telinga bagian tengah
yaitu sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba
eustachius, antrum mastoid, sel-sel mastoid, dan
membrane timpani.
Otitis media akut didefinisikan bila proses peradangan
pada telinga tengah yang terjadi secara cepat dan singkat
(dalam waktu kurang dari 3 minggu) yang disertai dengan
gejala lokal dan sistemik.
Otitis media sering terjadi sebagai hasil dari infeksi
saluran pernafasan akut bagian atas.

Otitis Media Akut


Ada 5 stadium OMA berdasarkan pada perubahan
mukosa telinga tengah, yaitu :
a. Stadium Oklusi Tuba Eustachius
b. Stadium Hiperemis (Stadium Pre-Supurasi)
c. Stadium Supurasi
d. Stadium Perforasi
e. Stadium Resolusi
Diagnosis
Anamnesis
- aural fullness - demam
- otalgia
- otorea
Pemeriksaan fisik
- Pemeriksaan otoskop
Dapat dilihat adanya gendang telinga yang
menggembung, perubahan warna gendang telinga
menjadi kemerahan atau agak kuning dan suram, serta
cairan di liang telinga. Jika konfirmasi diperlukan,
umumnya dilakukan dengan otoskopi pneumatik.
Pemeriksaan penunjang
- Timpanometri
Stadium oklusi
Obat tetes hidung seperti HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik
untuk anak berusia dibawah 12 tahun atau HCl efedrin 1% dalam
larutan fisiologik untuk anak berusia diatas 12 tahun dan dewasa.
Stadium hiperemi
Antibiotik, obat tetes hidung, dan analgetik.
Stadium supurasi
Diberikan antibiotik, dan idealnya disertai dengan miringotomi, bila
membran timpani masih utuh.
Stadium perforasi
Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta
antibiotika yang adekuat.
Stadium resolusi
Apabila tidak terjadi resolusi tampak sekret mengalir, edema
mukosa telinga tengah berlanjut. Maka dilanjutkan antibiotika
sampai 3 minggu.

Penatalaksanaan
Anamnesis
Telinga kanan: pendengaran berkurang
Telinga kiri: nyeri (otalgia) dan keluar
cairan bening (otorea)

Pemeriksaan fisik:
Pemeriksaan telinga
AD: daun telinga dan liang telinga dalam batas normal
Membran timpani hiperemis ringan
AS: daun telinga dalam batas normal
Liang telinga hiperemis pada bagian posterior, serumen (+)
Membran timpani intak , hiperemis (-)

Pembahasan
Pemeriksaan hidung: Pemeriksaan
dalam batas normal penunjang : tidak
dilakukan

Pemeriksaan
tenggorokan: dalam
batas normal

Diagnosis

AD Otitis Media Akut


AS Otitis Eksterna
Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien yaitu:
AD Otitis Media Akut : antibiotik dan analgetik oral
AS Otitis Eksterna : drainase liang telinga dan
antiinflamasi
Edukasi: menjaga kebersihan telinga dengan tidak
mengorek-ngorek telinga
DAFTAR PUSTAKA

Adams, G. L., Boies, L. R., & Highler, P. A. (2012). Buku Ajar Penyakit THT (6 th). Jakarta: EGC.

Alper, C. M., Bluestone, C. D., Caselbrant, M. L., Dohar, J. E., & Mandel, E. M. (2004). Advanced theraphy of otitis media.
Ontario: BC Decker Inc.

Burrows, H. (2013). Otitis Media Guidline, (April), 112.

Darrow, D. N., Dash, N., & Derkay, C. S. (2003). Otitis Media : Concept and controversies. Current Opin Otolaryngology
Head Neck Surgery, 11(416), 416423.

Donaldson JD. (2015). Acute Otitis Media. Medscape reference.


Harmes, K. M., Blackwood, R. A., Burrows, H. L., Cooke, J. M., Van Harrison, R., & Passamani, P. P. (2013). Otitis media:
Diagnosis and treatment. American Family Physician, 88(7), 435440.
Kerr, A. (2008). Scott-Brown Otolaryngology (7th ed.). London: Arnold.

Kong, K., & Coates, H. (2009). Natural History, definition, risk factor and burden of otitis media. Medical Jurnal Aust,
191(9), 539543.

Linsk, R., Blackwood, A., Cooke, J., Harrison, V., Lesperance, M., & Hildebrant, M. (2002). Otitis Media : Guildeline for
clinical care.
Morris, P. S., & Leach, A. J. (2009). Acute and chronic otitis media. Pediatric Clinical North America, 56(6), 13831399.

Munilson, J., & Edward, Y. (2007). Penatalaksanaan Otitis Media Akut. Penatalaksanaan Otitis Media Akut, 19.

Ramakrishnan, K., Sparks, R. a, & Berryhill, W. E. (2007). Diagnosis and Treatment of Otitis Media. Am Fam Physician.
2007 Dec 1;76(11):, 76, 16501658.

Soepardi, E. A., Iskandar, N., Bashiruddin, J., & Restuti, R. D. (2007). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorokan Kepala dan Leher (6 th). Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Tortora GJ. (2012). Principles of Anatomy and Physiology 13th ed. USA: Biological Science Textbook.