You are on page 1of 76

HAMA GUDANG DAN

PENGENDALIANNYA

iman_basriman@usahid.ac.id

HAMA PENYIMPANAN/PENGGUDANGAN

(SERANGGA)

3 ordo serangga hama utama gudang

Coleoptera (kumbang)

Sayap depan keras (elytra), metamorfosis sempurna

Lepidoptera (moth/ngengat)

Punya sayap depan dan belahan, metamorfosis sempurna

Psocoptera (psocid/kutu buku)

Sering tidak bersayap, antena panjang beruas banyak, ukuran sangat kecil, transparan (sering salah identifikasi dianggap tungau, tungau sendiri kelompok mana?), metamorfosis tidak sempurna

Ordo serangga lain

Hymenoptera (semut dan tawon)

Bersifat parasit, jika jarang disemprot pestisida, metamorfosis sempurna

Diptera (lalat)

Terutama pada ikan (saat pengeringan) atau ada yang busuk,

metamorfosis sempurna

Hemiptera (kepik)

Metamorfosis sempurna, pada komoditi dengan kadar lemak tinggi, penyebab peningkatan FFA

Isoptera (rayap)

Metamorfosis tidak sempurna, hidup berkoloni, tidak bersayap kecuali akan membentuk koloni baru, tidak merusak komoditi tetapi merusak bangunan kayu

Dictyoptera (kecoak)

Metamorfosis tidak sempurna, ada yang bersayap ada yang tidak, pada

penyimpanan kecil (RT) dengan sanitasi kurang baik

Serangga hama penyimpanan bijian tropis

COLEOPTERA:

ANOBIIDAE

Lasioderma serricorne (F)

(kumbang)

BOSTRICHIDAE

Rhyzopertha dominica (F)

BRUCHIDAE

Prostephanus truncatus (Horn).

CUCUJIDAE

Acanthoscelides obtectus (Say)

CURCULIONIDAE

Callosobruchus spp.

DERMESTIDAE

Zabrotes subfasciatus Boheman

SILVANIDAE

Cryptolestes spp.

TENEBRIONIDAE

Sitophilus oryzae (L) S. zeamais Motschulsky Trogoderma granarium Everts

Dermestes spp. Oryzuephilus surinamensis (L)*

Tribolium castaneum (Herbs")

LEPIDOPTERA:

GELECHIIDAE

Sitotroga cerealella (Olivier)

(moth=ngengat)

PYRALIDAE

Ephestia cautella (Walker) Plodia interpunctella (Hubner) Corcyra cephalonica (Stainton)

Spesies Serangga pada bijian yang kurang kering

COLEOPTERA:

ANTHRIBIDAE

Araecerus fasciculatus Degeer

BOSTRICHIDAE

Dinoderus spp.

BRUCHIDAE

Bruchidius spp., Specularius spp.

CLERIDAE

Necrobia rufipes Degeer

CRYPTOPHAGIDAE

Thaneroclerus buqueti Lefevre

DERMESTIDAE

Henoticus californicus (Mann)

LATHRIDIIDAE

Cryptophagus spp

MYCETOPHAGIDAE

Attagenus spp., Dermestes spp.

NITIDULIDAE

Corticaria spp., Lathridius spp.

OSTOMIDAE

Typhaea stercorea (L)

PTINIDAE

Carpophilus spp.

SILVANIDAE

Tenebroides mauritanicus (L)

TENEBRIONIDAE

Ptinus spp.*, Trigonogenius spp., Gibbium spp.

Cathartus quadricollis (Guerin)

Alphitobius spp., Gnatocerus spp. Palorus spp.

LEPIDOPIERA:

OECOPHORIDAE

Endrosis sarcitrella (L)

PSOCOPTERA:

LIPOSCELIDAE

Liposcelis spp.

(Psocid)

Note: Common only in cool upland tropics.

EKOLOGI SERANGGA yang RELEVAN DENGAN PENGENDALIAN

Ciri umum

Ukuran tubuh relatif kecil Reproduksi sejak mulai dewasa Tingkat perkembangbiakan sangat tinggi Menghasilkan banyak telur setiap kali bertelur

Faktor biotik lingkungan yang berpengaruh

kompetisi antar spesies food web

Faktor fisik lingkungan

yang berpengaruh

suhu keberadaan oksigen RH udara kadar air komoditi pengolahan awal

DETEKSI SERANGGA HAMA • curahkan bjian • dicari • dijebak secara fisik • analisis protein dengan
DETEKSI SERANGGA HAMA
• curahkan bjian
• dicari
• dijebak secara fisik
• analisis protein dengan ELISA
• pengukuran karbondioksida (respirasi)
• dijebak dengan jebakan sinar UV
• dijebak dengan feromon
PENGENDALIAN SERANGGA HAMA • Sanitasi gudang dan komoditi (deteksi) • Pendinginan • Disinfestasi dengan panas •
PENGENDALIAN SERANGGA HAMA
• Sanitasi gudang dan komoditi (deteksi)
• Pendinginan
• Disinfestasi dengan panas
• Rotasi stok
• Impact, pneumatic augers
• Residual insecticides
• Fumigasi (metil bromida (CH 3 Br), Fosfin (PH 3 ))
• Karbondioksida

PENDINGINAN

PENDINGINAN • PEMBALIKAN TUMPUKAN • AERASI • PENDINGINAN/CHILLING Rusty grain beetle • - 5 C selama

PEMBALIKAN TUMPUKAN AERASI PENDINGINAN/CHILLING

PENDINGINAN • PEMBALIKAN TUMPUKAN • AERASI • PENDINGINAN/CHILLING Rusty grain beetle • - 5 C selama

Rusty grain beetle

- 5 o C selama 8 minggu - 10 o C selama 6 minggu - 15 oC selama 4 minggu

Acute mammalian toxicities (LD50 - mg/kg body weight) for contact insecticides currently of use in stored-Brain insect control

Acute mammalian toxicities (LD50 - mg/kg body weight) for contact insecticides currently of use in stored-Brain

Maximum residue limits (MRL) and acceptable daily intake Levels (ADI) (mg/kg or ppm) recommended by FAD/WHO as at April 1992

Maximum residue limits (MRL) and acceptable daily intake Levels (ADI) (mg/kg or ppm) recommended by FAD/WHO

FUMIGASI

KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN FOSFIN DAN METIL BROMIDA

Phosphine

Methyl bromide

Easy to transport

Refillable cylinders are expensive to transport

Easy to apply

Difficult to apply, requiring special equipment and skill

Good penetration and distribution

Distribution rather poor

Taint, residues and loss of viability in treated

Sorption occurs and may cause taint, bromide

seeds are generally negligible

residues and loss of viability in treated seeds

Slow acting, particularly at low temperatures and humidities*

Rapidly toxic and widely effective even at lower temperatures

Flammable: spontaneously explosive ignition can occur in some circumstances

Non-flammable

High acute mammalian toxicity but low chronic toxicity

Dangerous acute and chronic poison with delayed symptoms

Fairly easy to detect

Very easy to detect

Rapidly lost by leakage unless fumigation space is well sealed and gas tight soon after application

Needs very good seeing before application

* Not recommended for use at temperatures below 12°C. Source: Adapted from Pest Control for Food Security, FAO Plant Production and Protection Paper 63 (Prepared for FAO by ODNRI), FAO, Rome (1985).

Average concentrations of phosphine (mg/l) required to give 100 per cent mortality of all developmental stages of insects

under experimental conditions

Average concentrations of phosphine (mg/l) required to give 100 per cent mortality of all developmental stages

Pest control techniques: current options

Pest control techniques: current options

Kerusakan bahan pangan ditentukan interaksi antara :

kondisi bahan pangan, kondisi lingkungan dan organisme perusak kualitas bahan pangan.

Kerugian yang ditimbulkan kehilangan berat, penurunan kualitas, meningkatnya resiko terhadap kesehatan dan kerugian ekonomis.

Bahan pangan secara umum tidak akan diserang serangga pada suhu di bawah 17 o C, kutu dapat terjadi pada suhu <3 dan >30 o C dan kadar air < 12 persen.

Aktivitas metabolik serangga dan kutu menyebabkan peningkatan kadar air dan suhu Arthropoda bertindak sebagai pembawa spora jamur dan kotorannya digunakan sebagai sumber makanan oleh jamur. Faktor fisik lingkungan mempengaruhi kehidupan serangga. Perkembangbiakan, aktivitas dan pertumbuhan serangga dipengaruhi oleh suhu lingkungan.

KADAR AIR (%)

KERUSAKAN

< 8

Tidak ada aktivitas, kecuali tikus

8-14

Gangguan serangga, tikus

14-28

Serangga, jamur, tikus

20-25

Serangga, jamur, bakteri, tikus

>25

Bakteri, tikus dan biji akan tumbuh

Hama diartikan sebagai hewan atau binatang perusak, dari berukuran tubuh kecil hingga berukuran besar. Patogen merupakan jasad renik (mikroorganisme) yang merugikan. Organisme yang paling sering menyebabkan kerusakan bahan pangan, baik secara fisik maupun kimia adalah serangga,

rodentia dan mikroorganisme.

SERANGGA HAMA GUDANG

  • 1. Spesifikasi Serangga 4 tanda spesifik yaitu: tubuhnya terdiri dari 3 bagian (kepala, dada, perut); tubuh tertutup kulit luar; serangga dewasa mempunyai 3 pasang kaki dan mengalami perubahan bentuk (metamorfosis).

SERANGGA HAMA GUDANG 1. Spesifikasi Serangga 4 tanda spesifik yaitu: • tubuhnya terdiri dari 3 bagian

Serangga tidak mempunyai tulang, bagian dalam dari badannya dilindungi oleh bagian badan yang keras yang disebut exoskeleton yang ditutup dengan lapisan lilin agar dapat mecegah terlalu banyak air ke luar (menguap) dari badannya. Pernafasan terjadi melalui series dari spiraclesyang terbuka melalui bagian samping dari badan ke dalam pipa-pipa trachea yang menghubungkan ke seluruh tubuhnya. Dengan rahangnya yang kuat serangga dapat menggigit, mengerat

maupun mengunyah bahan makanan.

ukuran serangga: 2-20 mm sampai sepanjang 25 cm. Siklus hidup serangga melalui Proses perubahan bentuk (metamorfosis) sempurna melalui tahapan: telur menetas menjadi ulat (larva) kemudian menjadi kepompong (PUPA) dan serangga dewasa (imago). Proses metamorfosis tidak sempurna (gradual) terjadi jika telur yang menetas menyerupai bentuk serangga dewasa dan tumbuh

• ukuran serangga: 2-20 mm sampai sepanjang 25 cm. Siklus hidup serangga melalui • Proses perubahan

tanpa melalui tahap pupa (kepompong).

• ukuran serangga: 2-20 mm sampai sepanjang 25 cm. Siklus hidup serangga melalui • Proses perubahan

Metamorfosis sempurna

Kutu Nimfa Telur Lebih tua Nimfa Metamorfosis tidak sempurna
Kutu
Nimfa
Telur
Lebih tua
Nimfa
Metamorfosis tidak sempurna

2. Serangan (Infestasi) Serangga

  • a. infestasi serangga pra-panen.

  • b. infestasi serangga lepas panen, yaitu waktu bahan dikeringkan atau sewaktu bahan disimpan dalam pedaringan, lumbung atau gudang.

  • c. berpindah tempat dengan terbang dari lapangan ke gudang atau sebaliknya.

  • d. Sumber infestasi serangga : Wadah berupa karung goni maupun plastik, Lumbung dengan dinding dan lantai yang kotor Beberapa alat pengangkut yang kotor seperti gerobak dan kereta.

  • e. suhu 5 o C serangga mati, 10 o C - 26 o C jadi makin aktif, 35 o C semakin sulit hidup dan 60 o C akan mati.

Jenis Serangga 3 ordo yaitu Coleoptera (kumbang), Lepidoptera (ngengat) dan Psocoptera (Psocid). Coleoptera (kumbang)

sayap depan mengalami pengerasan seperti tanduk siklus hidup metamorfosis sempurna. Lepidoptera (ngengat)

sayap depan dan belahan

Siklus hidup metamorfosis sempurna.

Psocoptera sering tidak bersayap, antena panjang dengan ruas yang banyak, ukuran badan sangat kecil dan transparan. Ordo lain : Hymenoptera (golongan semut dan tawon), Diptera (golongan lalat), Hemiptera (golongan kepik) dan Dictyoptera (kelompok kecoa).

  • a. Kumbang padi karatan (Rusty Grain Beetle) Cryptolestes ferrugineus merusak gabah, beras, jagung dan biji lain. Kumbang dan larva biasa memakan lembaga dan merusak bagian tengah biji berwarna coklat kemerahan panjang 2-3 mm. Metamorfosis sempurna 21 hari, 31 o C dan kadar air

14.5%.

b. Kumbang Tepung Merah (Red-Flour Beetle), Tribolium castaneum merusak bahan berbentuk tepung, biji kakao, kopi dan kacang- kacangan, tetapi tidak dapat memakan bahan Ka<12%. Kumbang dewasa dan larva bersifat kanibal yang memakan telur dan pupa spesies sendiri. berwarna coklat merah, panjang tubuh 2,3-4,4 mm dan bentuk agak pipih. Siklus hidup metamorfosis sempurna. Kumbang betina bertelur sebanyak 11 butir per hari pada suhu 32,5 0 C.

b. Kumbang Tepung Merah ( Red-Flour Beetle ), Tribolium castaneum • merusak bahan berbentuk tepung, biji

6 mm

3 mm

c. Kumbang Penggerek Jagung (Maize Weevil) Sitophillus zeamais menyerang jagung yang disimpan. menyerang bahan lain seperti kopra, gandum, beras, sorgum dan biji-bijian lainnya. Siklus hidup metamorfosis sempurna.

Moncong

fase telur 4-6 hari fase larva Sayap kemerah-merahan 25-30 hari fase pupa 4-5 hari
fase telur
4-6 hari
fase larva
Sayap kemerah-merahan
25-30 hari
fase pupa
4-5 hari

Serangga dewasa

Kumbang Penggerek Padi (Lesser Grain Borer) Rhizopertha dominica dan Prostephanus truncatus) famili Bostrichidae. perusak padi-padian dan gaplek, serangga primer Tubuh kumbang dewasa berwarna coklat gelap sampai kehitaman, ramping dan agak silindris. Ukuran tubuh Rhizopertha dominica 2-3 mm, Prostephanus truncatus 3-4,5 mm Kedua spesies dapat beradaptasi pada suhu > dan kadar air < spesies Sitophillus sp. hidup secara berkelompok dan metamorfosis sempurna.

Kumbang Penggerek Padi ( Lesser Grain Borer ) • Rhizopertha dominica dan Prostephanus truncatus ) famili
Kumbang Penggerek Padi ( Lesser Grain Borer ) • Rhizopertha dominica dan Prostephanus truncatus ) famili

e. Ngengat Beras (Rice moth) Corcyra cephalonica menyerang beras giling, kopra, kacang-kacangan, kakao, tepung dan bungkil. Jagung yang digerek sering bergandengan/saling menempel karena air liurnya.

e. Ngengat Beras ( Rice moth ) • Corcyra cephalonica • menyerang beras giling, kopra, kacang-kacangan,

Ngengat dewasa (kupu-kupu) mempunyai 2 pasang sayap berwarna coklat kotor atau kelabu agak pucat.

Panjang tubuh 11-12 mm. Ulat berwarna kelabu, berbulu jarang dan berkaki. Siklus hidup metamorfosis sempurna. Ulat yang telah menetas aktif makan dan merusak bahan.

Faktor Yang Mempengaruhi Serangan

  • 1. asal serangga, makanan tersedia, suhu, air, udara, kondisi bahan pangan, kehadiran organisme lain dan upaya untuk membasmi hama.

  • 2. Faktor-faktor pertumbuhan populasi: suhu, kelembaban relatif dan kadar air bahan pangan.

  • 3. Kandungan nutrisi dan sifat fisik bahan pangan

  • 4. Kandungan air yang tinggi (di atas 16%)

  • 5. Sebagian besar spesies serangga hama tropis mempunyai suhu optimum sekitar 28 o C.

  • 6. Kelembaban relatif, Kadar air yang rendah beriringan dengan kelembaban relatif yang rendah memberikan proteksi terhadap serangan serangga.

Kerusakan Akibat Serangan Serangga Kerusakan fisik terjadi akibat kontaminasi bahan pangan oleh kotoran, jaring, bagian tubuh dan bau kotoran. Serangga memakan dan merusak struktur fisik bahan pangan, seperti berlubang, hancur dan memicu pertumbuhan mikroorganisme lain. Aktivitas makan yang dilakukan oleh serangga menyebabkan bahan pangan kehilangan berat. Kerusakan secara kimiawi menyebabkan penurunan kualitas bahan,merubah rasa dan nilai nutrisi. Sekresi enzim lipase oleh serangga mampu meningkatkan proses kerusakan secara kimiawi. Serangan serangga dapat meningkatkan panas bahan pangan. Kerapatan populasi yang sangat tinggi dapat meningkatkan suhu hingga mencapai 45 o C dan bila diikuti dengan kehadiran mikroorganisme, seperti jamur, suhu dapat mendekati 75 o C.

PENGENDALIAN SERANGGA HAMA PASCA PANEN

ALASAN ATAU LATAR BELAKANG PERLUNYA PENGENDALIAN SERANGGA

Penyimpanan merupakan salah satu tahap

yang sangat penting dalam rangkaian kegiatan penanganan pasca panen. Kerusakan dan kehilangan bahan pangan disebabkan terutama oleh agen-agen perusak

seperti serangga, rodenta, dan mikroorganisme (terutama kapang). Serangga merupakan hama yang paling destruktif dan paling merugikan.

METODE PENGENDALIAN :

  • Metode Preventif

  • Metode Kuratif

Prinsip Pengendalian :

  • 1. Tindakan preventif jauh lebih baik dari tindakan kuratif. Alasan :

Biaya pengendalian yang harus dikeluarkan dan kerugian akibat kerusakan/kehilangan akan jauh lebih rendah.

2.

Dalam tindakan kuratif pengendalian serangan lebih baik

daripada tindakan pemberantasan total.

Alasan :

Biaya yang dikeluarkan untuk pengendalian harus jauh lebih

kecil dari harga atau nilai jual produk yang ingin dilindungi.

Artinya upaya pengendalian dipertahankan sampai tingkat serangan di bawah ambang ekonomi, tanpa harus membasmi secara total serangan tersebut.

  • 3. Pengendalian hama secara terpadu (Integrated Pest Management IPM) merupakan tindakan yang bijaksana.

Alasan :

IPM adalah tindakan pengendalian hama secara terpadu dan terkendali. Setiap metode pengendalian memiliki kelebihan dan kekurangan dari segi biaya, kelayakan teknis, dan

keamanan bagi manusia dan makhluk hidup lain non-target.

METODE PREVENTIF

METODE PREVENTIF

1.CARA FISIK DAN MEKANIK

  • a. Suhu Rendah (di bawah 15 º C) 1. Refrigerasi Statik (contoh : GRANIFRIGOR) 2. Refrigerasi Mobile

  • b. Menurunkan Kadar Air Bahan

Misal : Sitophilus sp.

KA

10,5 %

R. dominica

KA

8,0 %

  • c. Penyimpanan Kedap Udara (hermetic/airtight

storage)

Prinsip : Respirasi : Kadar O 2 turun Kadar CO 2 naik Kadar O 2 Kadar
Prinsip : Respirasi : Kadar O 2 turun
Kadar CO 2 naik
Kadar O 2
Kadar CO 2
<
5 %
Sitophilus oryzae
> 30 %
akan mati

METODE PREVENTIF (lanjutan)

  • d. Kemasan Anti Seranga > tahan gigitan serangga

> tidak ada celah pada kemasan

Contoh :

> Kantong plastik fleksibel lebih baik daripada kantong plastik yang terbuat datri anyaman. > Penutupan kantong plastik secara heat sealing lebih baik daripada penutupan secara dijahit.

Contoh kemasan anti-serangga:

  • - aluminium foil

  • - laminat poliester-polikarbonat, dengan ketebalan > 40 µm

  • e. Modifikasi sifat fisik bahan pangan Contoh : beras pra-tanak (parboiled rice)

METODE PREVENTIF (lanjutan)

2. CARA KIMIA

a. Attractant

Bahan kimia yang dapat menarik/membujuk seranga untuk datang. Attractant biasanya digabungkan dengan tindakan trapping. Dalam trap itu ditempatkan insektisida untuk membunuh serangga yang datang ke perangkap itu. Contoh

attractant adalah sex pheromone. b. Repellent

Bahan kimia yang dapat mencegah datangnya serangga atau mencegah serangga yang sudah menyerang untuk melanjutkan serangan. Dengan pengertian itu serangga

berbalik menjauhi tempat penyimpanan atau serangga betina induk menunda peletakkan telur, atau larva tidak mau makan.

METODE PREVENTIF (lanjutan)

c. Chemosterilant

Bahan kimia yang dapat menyebabkan serangga menjadi

mandul sehingga tidak dapat melanjutkan proses reproduksi. Akibatnya populasi serangga tidak bertambah secara eksponensial lagi. Contoh chemosterilant adalah apholate.

d. Grain Protectant

Bahan kimia yang dapat melindungi bahan pangan yang disimpan. Pada prinsipnya grain protectant adalah insektisida. Jenis dan macam insektisida sangat banyak, termasuk diantaranya yang tidak bersifat racun bagi manusia. Bahan kimia seperti itu disebut non-toxic grain protectant (NTP),

contohnya tri calcium phosphate (TCP).

METODE PREVENTIF (lanjutan)

3. MENJAGA KONDISI SISTEM PENYIMPANAN YANG HIGIENIS

Gudang penyimpanan yang bersih akan terhindar dari serangan serangga. Sebaliknya jika di gudang terdapat sisa-sisa bahan lama yang pernah terserang serangga (secara residual), bahan

pangan yang baru datang atau baru disimpan, akan terserang

serangga juga.

Demikian juga

wadah

yang

tidak

bebas hama akan

menyebabkan timbulnya serangan baru terhadap bahan pangan yang baru diwadahi atau dikemas dengan wadah atau kemasan

tersebut.

METODE KURATIF

METODE KURATIF

  • 1. CARA FISIK

    • a. Pemanasan Pada metode ini dilakukan pemanasan bahan pangan yang sudah terserang pada suhu di atas 60 ºC selama 2 jam. Energi panas diperoleh dengan berbagai cara, antara lain :

(i) sinar infra-merah di atas ban berjalan, (ii) gelombang elektromagnetik, dan (iii) oven microwave.

  • b. Radiasi

(i) Metode Langsung

Menggunakan sinar gamma atau sinar beta, seperti dengan Cobalt-60 pada pusat reaktor nuklir milik BATAN, atau milik perusahaan swasta.

METODE KURATIF (lanjutan)

Keuntungan Metode Radiasi Langsung :

  • - tidak ada residu

  • - daya penetrasi tinggi

  • - tidak terpengaruh oleh struktur gudang, jenis bahan pangan, dan suhu.

Kekurangan Metode Radiasi Langsung :

  • - biaya tinggi, sehinga proses baru layak secara ekonomi, jika bahan pangan yang diproses lebih dari 200 ribu ton/tahun.

  • - tidak dapat dilakukan di sembarang tempat.

Harus dilakukan di lokasi yang memiliki unit reaktor

nuklir.

METODE KURATIF (lanjutan)

(ii) Metode Tidak Langsung

Pada metode ini, serangga diberi perlakuan radiasi

dengan dosis rendah dan tidak mematikan. Dengan

perlakuan tersebut, serangga jantan akan menjadi steril. Setelah itu seranggga-serangga jantan mandul tersebut dilepaskan dengan sengaja. Akhirnya proses reproduksi terhambat dan populasi akan ditekan.

c. MA dan CA Storage

Modified

Atmosphere

Storage

(MAS)

atau

Controlled

Atmosphere Storage (CAS) adalah teknik pengendalian serangga hama pasca panen sekaligus juga merupakan

teknik penyimpanan. Prinsip dari sistem ini adalah mengatur komposisi atmosfir di dalam sistem

penyimpanan.

Dalam

hal

ini

komposisi

O 2

dikurangi,

sedangkan konsentrasi CO 2 dinaikkan.

METODE KURATIF (lanjutan)

(i) MA Storage

Pada Modified Atmosphere Stotage (MAS) pemberian CO 2

dilakukan sekali pada awal penyimpanan, dan tidak ada

penambahan CO 2 selama penyimpanan. Agar perlakuan MAS efektif, konsentrasi CO 2 harus bertahan di atas 35 % selama seminggu pertama. Perlakuan akan lebih efeltif jika konsentrasi CO 2 di atas 50 % selama 4 minggu pertama. Pada kondisi tersebut semua stadia serangga akan mati. Pada saat

yang sama, konsentrasi O2 dipertahankan di bawah 0,1%.

(ii) CA Storage

Pada Controlled Atmosphere Storage (CAS), konsentrasi CO2

dikontrol selama penyimpanan. Bila konsentrasi CO2 turun di

bawah 50 %, CO2 baru ditambahkan ke dalam sistem penyimpanan.

METODE KURATIF (lanjutan)

  • 2. CARA MEKANIK Salah satu cara mekanis yang dapat digunakan adalah dengan memanfaatkan gaya sentrifugal. Bahan terserang, khususnya tepung-tepungan atau grits, dilemparkan oleh gaya sentrifugal (dengan kecepatan 2.000 rpm) ke permukaan sebuah piringan/pelat.

  • 3. CARA KIMIA a. Insektisida

Insektisida adalah bahan kimia yang sangat efektif dalam

membasmi serangga hama pasca panen. Namun demikian

banyak kekurangan insektisida.

METODE KURATIF (lanjutan)

Contoh Insektisida yang digunakan dalam pengendalian serangga hama pasca panen adalah :

Generasi Lama :

  • - Golongan Organoklorin :

BHC, Lindane

  • - Organofosfat :

Malathion, Dichlorvos

  • - Carbamate :

Carbaryl

Generasi baru :

Pirimifos metil, Klorfirifos-metil, S-bioalletrin, Ciflutrin, Bifentrin

METODE KURATIF (lanjutan)

Kekurangan Insektisida Sintetis :

  • - dapat merupakan racun bagi manusia dan hewan peliharaan.

  • - jika diberikan secara terus-menerus dalam dosos tertentu

yang lebih rendah dari dosis standar, dapat menimbulkan resistensi serangga.

  • - menimbulkan efek residu yang berbahaya.

  • - dapat mencemari lingkungan.

  • - di negara berkembang tidak selalu tersedia dengan mudah.

  • - memerlukan keahlian khusus dalam aplikasinya.

Jalan keluar :

Dicari alternatif pengganti insektisida sintetis, misalnya

dengan mengembangkan insektisida alami (nabati, hewani, mineral)

METODE KURATIF (lanjutan)

Contoh Insektisida Alami :

(1) Berbasis nabati :

Kencur, mindi, nimba, brotowali, nona, srikaya, sirsak

jahe, lada, cengkeh (bubuk dan ekstraknya), minyak nabati. Bagian tanaman yang digunakan : akar, buah, daun, kulit, rimpang, bung.

(2) Berbasis hewani :

tepung tulang, abu cow dung.

(3) Berbasis mineral :

batu gamping, abu gosok, tanah diatomae (Diatomaceous

Earth DE)

METODE KURATIF (lanjutan)

Selain itu dikembangkan pula insektisida generasi baru, atau disebut generasi ketiga. Insektisida generasi baru ini membasmi serangga hama pasca panen dengan mekanisme berbeda.

Insektisida terdahulu bekerja sebagai racun kontak, atau racun yang mengganggu fungsi syaraf, fungsi metabolisme, atau pernafasan.

Insektisida generasi ketiga bekerja mengacaukan sistem fisiologis serangga, tegasnya mengganggu berlangsungnya siklus hidup yang normal. Disebut juga Insect Growth

Regulator IGR)

Contoh insektisida generasi ketiga adalah :

(i) Juvenile Hormon Analog (JHA) : Fenoxycarb, Methoprene) (ii) Chitin Synthesis Inhibitor (CSI) : Bufrofezin,Chlorfuazuron, diflubenzuron)

METODE KURATIF (lanjutan)

b. Chemosterilant

Chemosterilant yang merupakan bahan kimia yang dapat

menimbulkan gangguan reproduksi pada serangga jantan,

disemprotkan atau dibuat seperti debu. Serangga jantan yang terkontaminasi akan mandul. Jika serangga mandul dilepaskan ke alam akan mengganggu perkembangan populasi hama.

c. Fumigan

Fumigan adalah insektisida yang dalam keadaan suhu dan

tekanan ruang berbentuk gas.

Fumigan sangat efektif

membasmi hampir semua stadia serangga, karena fumigan

dapat masuk ke celah-celah biji. Fumigan bahkan dapat masuk ke dalam biji sehingga hidden infestation dapat ditanggulangi.

METODE KURATIF (lanjutan)

  • 4. CARA BIOLOGI

    • a. Musuh Alami

Di alam selalu ada musuh alami dari spesies tertentu. Di

dunia hama pasca panen pun ada musuh alami. Musuh alami ini dapat dimanfaatkan dalm pengendalian serangga hama pasca panen.

Sebagai

contoh

musuh

alami

Sitophilus

sp.

adalah

Anisopteromalus calandrae. kuehniella adalah Bracon hebetor.

Musuh

alami

Anagasta

  • b. Kontrol Mikrobial Spora Bacillus thuringiensis Berliner diketahui sejak lama dapat membunuh larva Lepidoptera. Sekarang sudah dikembangkan strain baru yang juga efektif pada Coleoptera.

PENGENDALIAN SECARA TERPADU

PENGENDALIAN HAMA SECARA TERPADU

Merupakan kombinasi dari metode-

metode kimia, fisik, dan biologi

Berkembang menjadi Pengelolaan

Hama Secara Terpadu

Aspek batas ambang ekonomi