You are on page 1of 30

PERAWATAN LUKA

PASIEN LUKA BAKAR


Dr. Budiman, SpBP
Sub SMF Bedah Plastik dan Rekonstruksi
Departemen Bedah RSPAD Gatot Soebroto
DITKESAD
TUJUAN :
Setelah selesainya topik ini para peserta
diharapkan mengetahui dan memahami dasar-
dasar perawatan luka pada kasus luka bakar.
Secara khusus para peserta akan mampu:
• Merawat luka pada luka bakar derazat II
• Merawat luka pada luka bakar derazat III
• Melakukan pencucian dan pembalutan luka
pada kasus luka bakar
• Mengetahui pentingnya eskarotomi dan
eskarektomi
PENDAHULUAN
• Perawatan luka pada kasus luka bakar segera
dilakukan setelah dilakukan tindakan resusitasi
jalan nafas, mekanisme bernafas serta
resusitasi cairan dilakukan (A,B,C,D,E)
Tindakan perawatan dilakukan dengan:
• melakukan pencucian, debridement/ nekrotomi
jaringan kulit yang mati dengan tujuan
mencegah degradasi luka dengan
mengupayakan suasana yang kondusif untuk
terjadinya proses penyembuhan.
• Mengupayakan proses epitelisasi (penutupan
luka )
a. Pembersihan luka / pencucian
• dengan cara mencuci luka dengan air mengalir (air
hangat) menggunakan sabun mandi bayi (tidak
mengandung soda) atau savlon yang sudah diencerkan.
Semua liang tubuh (telinga, mulut, anus, vagina) dicuci
dengan peroksida 3% dan povidon iodine 10%.

Tindakan pencucian ini dikerjakan bila keadaan penderita


telah stabil antara lain:
• Frekwensi nadi < 120 x / menit
• Frekwensi pernafasan < 30 x / menit
• Suhu tubuh normal ( sekitar 36,5 ◦ C – 37 C)
• Tidak ada asidosis
Pembersihan luka / pencucian
• Sebaiknya tindakan ini ditunda bila:
• Frekwensi nadi > 120 x / menit
• Frekwensi nafas > 30 x / menit
• Hypothermia (suhu tubuh dibawah 36 derazat C)
• Ada tanda-tanda asidosis
b. Perawatan bulae (blister)
• Bulae yang ukurannya kecil tak perlu dilakukan tindakan
karena akan diserap sendiri
• Bila ukurannya relatif besar (> 5 cm) dlakukan aspirasi
setelah tindakan asepsis dan antisepsis menggunakan
betadin 10 % agar tidak dijadikan media untuk
pertumbuhan kuman
• Bulae tersebut jangan dikelupas oleh karena bermanfaat
sebagai bahan pembalut alami (biological dressing).
• Bulae merupakan lapisan epidermis yang terangkat
(epidermolisis) sehingga bermanfaat dalam mencegah
penguapan dan perlengketan luka
Pasca perawatan dengan pembalutan tertutp luka bakar
grade II hari ke 8.

Sisa bulae bermanfaat sbg penutup


biologis yg paling baiktdk lengket
ke kassa saat diganti
Bullae/blister
pada luka bakar derazat II dangkal

Bullae sdh
terlanjur pecah

Bullae besar,di-
aspirasi

Bullae kecil,
dibiarkan

Hyperemia,
derazat I,
tdk dihitung
c. Perawatan Eskar
• Bila melingkar dan menyebabkan
gangguan aliran darah pada ekstremitas,
atau melingkar di dinding dada yang
menyebabkan gangguan proses bernafas,
dilakukan eskarotomi.
LUKA BAKAR LISTRIK PASCA FASCIOTOMI
Contoh Eskar pada luka bakar
derazat III/ dua dalam

Derazat II
dalam,
Eskar tipis,
derazat II dalam

Eskar tebal,
derazat III

Derazat I, hanya
hyperemia

Derazat II dangkal Derazat II


dangkal,
Bullae sdh pecah bullae (+)
d. Pembalutan luka
• Pembalutan luka dengan kasa lembab
steril, dengan atau tanpa aplikasi cream
pelembab.
• Suasana lembab (moist) merupakan
kondisi yang paling kondusif untuk
terjadinya penyembuhan dan epitelisasi
kulit.
• Prinsip dasar perawatan luka adalah
mencegah degradasi luka.
Pembalutan luka
• Perawatan luka yang basah karena
eksudasi dirawat dengan kondisi basah /
lembab, gunakan bahan cream yang
memiliki bahan dasar air (water base).
• hindari penggunaan zat yang
menggunakan bahan dasar petroleum
(yaitu salep dan ointment).
karena akan menghalangi pengeluaran
cairan.
Pembalutan luka
• Pemakaian tulle dan cream antibiotika kadang
diperlukan pada luka bakar derazat dua yang
diyakini dapat mengalami epitelisasi spontan.

• Aplikasi tulle bermanfaat sebagai sarana


penutup luka yang memberikan fasilitas
drainage yang baik, sebagai matriks untuk
berlangsungnya epitelisasi dan tidak lengket
saat penggantian balutan.
Cream antibiotika
• Diperlukan untuk mengatasi infeksi luka. 
umumnya terjadi setelah hari kelima pasca
cedera.
• Cream silversulfadiazin dapat dipilih pada luka
bakar derazat tiga yang membentuk eskar.
• Keistimewaan silversulfadiazin adalah dapat
menembus eskar.
• Cream antibiotika jenis lain dipakai sesuai
dengan pola kuman pada luka bakar yang tidak
membentuk eskar.
Teknik Pembalutan
• Setelah aplikasi tulle, cream, atau salep,
dilakukan penutupan dengan kasa
lembab, kemudian dilakukan pembalutan
tertutup( occlusive dressing) dengan
kassa steril yang kering / kassa gulung
(roll gauze), untuk mencegah penguapan
yang berlebihan, mencegah hypothermia
dan kontaminasi kuman dari luar.
Kapan balutan diganti?

• Penilaian balutan dilakukan dalam waktu


24 – 48 jam.
• Bila balutan jenuh, atau basah segera
dilakukan penggantian sesuai keadaan.
(balutan lembab akan beruah menjadi
basah / jenuh oleh karena proses
eksudasi yang berlebihan)
• Balutan yang terkontaminasi urin atau
faeses segera diganti.
Ganti balutan pada luka bakar
derazat II
• Penggantian balutan pada luka bakar derazat II
dimana epithelisasi spontan diharapkan dapat
terjadi, cukup dilakukan setiap 4 – 5 hari sekali
bila terlihat mulai jenuh, tanpa mengangkat
lapisan tulle yang diyakini bermanfaat sebagai
matrik dalam epitelisasi.
• Penggantian balutan yang terlalu sering selain
menyebabkan nyeri juga akan mengangkat
lapisan epitel yang telah terbentuk.
• Balutan yang jenuh/ basah merupakan
media yang baik untuk terjadinya
kolonisasi kuman setelah 4 – 5 hari.
Ganti balutan pada
luka bakar derazat III
• Pada luka bakar derazat III, sudah terjadi
kerusakan/kematian seluruh ketebalan kulit, dan
tidak ada lagi sensibilitasnya.
• Kulit yg mati membentuk lapisan keras seperti
kertas perkamen yg disebut eskar, walaupun
tampaknya kering, karena merupakan jaringan
mati, luka bakar derazat III lebih eksudatif, cepat
basahbalutan cepat jenuh dan harus lebih
sering diganti
. e. Tindakan nekrotomi / debridement
yang disebut eskarektomi

Pada luka bakar derazat III dimana terbentuk


eskar yang tebal, sebaiknya segera dilakukan
tindakan eskarektomi. Yaitu tindakan operatif
dengan melakukan eksisi tangensial di kamar
operasi.

• Tindakan eskarektomi dikerjakan bila sirkulasi /


hemodinamik penderita telah stabil
eskarektomi

• Tindakan nekrotomi agresif  menyebabkan


kehilangan jaringan yang mengakibatkan
penguapan yang berlebihan dan mengganggu
lagi proses metabolisme(kembali ke fase akut)
• Bila tindakan eskarektomi dalm narkose belum
memungkinkan pencucian luka dengan
memandikan pasien dengan air mengalir hangat
menggunakan sabun mandi bayi / savlon encer.
• Proses memandikan pasien ideal dilakukan
dalam Hubart tank
f. Penilaian luka dalam waktu
7 s/d 10 hari
• Bila diperkirakan epitelisasi (penutupan luka
spontan) dimungkinkan terjadi, pada luka bakar
derazat II dangkal, maka perawatan luka bersifat
konservatif.
• Namun apabila proses epitelisasi spontan
(penutupan luka spontan) tidak mungkin terjadi
dalam 3 minggu, misalnya pada luka bakar
derazat III, maka dipelukan tindakan penutupan
luka secarta operatif dengan cangkok kulit yaitu
Split Thickness skin grafti (STSG).
Bagaimana dg
luka bakar derazat II dalam?
• Luka bakar derazat II dalam bila dirawat
dengan baik, mungkin dapat sembuh
dengan epithelisasi spontan,walau
waktunya lebih lama.
• Bila perawatannya tidak kondusif dapat
berubah menjadi derazat III (misal karena
infeksi)
g. fisioterapi

• Pada perawatan luka selanjutnya, perhatian


khusus ditujukan pula pada hal-hal yang
berhubungan dengan fungsi bagian tubuh
tertentu seperti posisi tangan, lengan, aksila,
sendi lutut dan tungkai.
• Bila diperlukan immobilisasi bagian tubuh
tertentu dalam waktu lama, misalnya setelah
tindakan skin grafting, maka diupayakan pada
posisi fungsionil
• luka yang melibatkan persendian, balutan di
atas bagian tersebut hendaknya dipisahkan dari
bagian lainnya sehingga daerah sendi tetap
dapat dilakukan tindakan rehabilitatif.

• Penggunaan bidai diposisikan pada posisi


fungsionil.
• Tindakan rehabilitatif  memperoleh fungsi
anggota tubuh tertentu seoptimal mungkin,
sehingga terhindar dari kekakuan (kontraktur)
yang akan mengganggu fungsi selanjutnya.

• Tindakan rehabilitatif dapat dikerjakan


dengan gerakan pasif maupun aktif
h. Asuhan psikososial terhadap
penderita
• Pada kasus luka bakar yang berat
depresi baik oleh karena rasa nyeri dan
ketidak nyamanan pada saat perawatan
yang lama, maupun oleh karena
morbiditasnya / gambaran dampak
kecacatan yang akan ditimbulkan pasca
cedera.
• Asuhan psikiatri sangat penting dilakukan
sejak awal perawatan.
TERIMA KASIH
?