You are on page 1of 17

Disusun Oleh :

1. Tri Hernawayanti (BI 21602)


2. Siti Muntaqiyah (PA 21609)
3. Hendri
4. Trio Agustin (Bi -)
 Hak Asasi Manusia atau disingkat “HAM” merupakan
hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia yang
didapatkan sejak lahir dimana secara kodrati HAM
sudah melekat dalam diri manusia dan tak ada satupun
orang yang berhak mengganggu gugat karena HAM
bagian dari anugrah Tuhan.
a) John Locke, hak asasi adalah hak yang diberikan langsung
oleh Tuhan sebagai sesuatu yang bersifat kodrati. Artinya, hak
yang dimiliki manusia menurut kodratnya tidak dapat
dipisahkan dari hakikatnya, sehingga sifatnya suci.
b) Miriam Budiardjo, hak asasi membatasi pengertian hak-hak
asasi manusia sebagai hak yang dimiliki manusia yang telah
diperoleh dan dibawanya bersamaan dengan kelahiran atau
kehadirannya di dalam masyarakat.
1. Tidak dapat dicabut, artinya hak asasi manusia tidak dapat
dihilangkan atau diserahkan.
2. Tidak dapat dibagi, artinya semua orang berhak mendapatkan
semua hak, apakah hak sipil dan politik atau hak ekonomi,
social, dan budaya.
3. Hakiki, artinya hak asasi manusia adalah hak asasi semua umat
manusia yang sudah ada sejak lahir.
4. Universal, artinya hak asasi manusia berlaku untuk semua
orang tanpa memandang status, suku bangsa, gender, atau
perbedaan lainnya. Persamaan adalah salah satu dari ide-ide
hak asasi manusia yang mendasar.
1. Hak Asasi Pribadi (Personal Rights)
2. Hak Asasi Politik (Political Rights)
3. Hak Asasi Hukum (Legal Equality Rights)
4. Hak Asasi Ekonomi (Property Rigths)
5. Hak Asasi Peradilan (Procedural Rights)
6. Hak Asasi Sosial Budaya (Social Culture Rights)
 Dalam konteks dunia Islam, nilai-nilai HAM dapat
ditelusuri pada piagam Madinah. Yang menekankan
bahwa semua insan setara dalam hal martabat
kemanusiaan, tanggung jawab dan kewajiban dasar,
tanpa diskriminasi atas dasar ras, warna kulit, bahasa,
jenis kelamin, keyakinan agama, afiliasi politik, status
sosial, atau pun pertimbangan lain.
Merujuk pada Kholid N. Ishaque (1974), tokoh Sunni kenamaan
Abdurrahman Wahid (1940-2009) menyebutkan empat belas point
hak asasi manusia yang disebutkan dalam al-Qur’an, yaitu; hak
untuk hidup, hak untuk memperoleh keadilan, hak untuk mendapat
perlakuan yang sama, hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan
sosial dan negara, hak untuk menolak sesuatu yang melanggar
hukum, hak untuk memperoleh kemerdekaan, hak untuk
memperoleh kebebasan dari ancaman dan penuntutan, hak untuk
berbicara, hak atas perlindungan terhadap penuntutan, hak
memperoleh ketenangan pribadi, hak ekonomi, termasuk hak
mendapat upah yang layak, hak untuk melindungi kehormatan dan
nama baik, hak atas harta benda, dan hak untuk penggantian
kerugian yang sepadan (Wahid, 1985: 96).
Doktrin politik Sunni mengatakan bahwa kemaslahatan umat hanya dapat
terwujud jika terpenuhinya hak-hak dasar yang dimiliki seseorang.
Lima hak dasar yang dirumuskan oleh NU adalah :
1. Hifz Ad- Dîn yang berarti menjaga agama. Prinsip ini memberikan
jaminan hak kepada umat untuk memelihara agama dan keyakinan (al-
dîn). Jaminan atas keyakinan ini meliputi juga untuk mengekspresikan,
mengamalkan serta berkhidmah secara penuh dan konsekuen atas
pilihan agamanya.
2. Hifz An-nafs: memberikan jaminan hak atas setiap jiwa (nyawa)
manusia, untuk tumbuh dan berkembang secara layak. Islam menuntun
keadilan atas pemenuhan kebutuhan dasar (hak atas penghidupan)
pekerjaan, hak kemerdekaan dan keselamatan, bebas dari penganiayaan
dan kesewenangan- wenangan.
3. Hifz Al-aql: manjaga akal, suatu jaminan atas kebebasan berpikir,
bernalar serta berekspresi. Untuk menjamin terlaksananya hifz al-aql, maka
perlu kebijakan yang berpihak dan dapat mendorong pada kebebasan
mimbar, kebebasan mengeluarkan pendapat, opini, melakukan penelitian
dan berbagai aktivitas yang memanfaatkan kemampuan rasionalitas
seseorang.

4. hifz an-nasl: jaminan atas kehidupan privasi dan kesucian setiap


individu, perlindungan atas profesi, jaminan masa depan keturunan dan
generasi penerus yang lebih baik dan berkualitas.

5. hifz al-mâl: jaminan atas kepemilikan harta benda, properti, hak paten
dan sebagainya. Islam juga melarang adanya tindakan mengambil hak dari
harta orang lain, seperti mencuri, korupsi, monopoli, eksploitasi dan
seterusnya. Setiap warga punya hak untuk memiliki harta dan
memanfaatkannya demi menjamin kelangsungan hidupnya.
 NU sebagai kekuatan sipil telah, sedang dan akan menjalankan
peran perjuangan mengawal implementasi nilai-nilai HAM di
Indonesia. NU minus pergerakan kerakyatan bukanlah NU. Tanpa
spirit juang penegakan HAM untuk kemaslahat umat, posisi NU
sebagai civil society dipertanyakan. Dalam konteks inilah wilayah
kerja gerakan hak asasi manusia yang digelorakan NU dapat
bermain diberbagai level sesuai kebutuhan. Perjuangan HAM dapat
dimulai dari tingkat pengambil kebijakan, pelaksana, monitoring
hingga pada wilayah akar rumput. Mulai dari kerja legislatif,
eksekutif, yudikatif hingga pada pengawalan nilai-nilai HAM dalam
aktivitas kebangsaan.
1) Hak milik. Kasus perjuangan petani Jenggawah pada tahun
1995 merupakan contoh nyata dalam kehidupan bernegara
kita.
2) Hak kebebasan beragama. Masalah Ahmadiyah yang saat
itu menjadi isu hangat dan kontroversial.
3) Lapindo adalah tragedi kemanusiaan. Banyak
pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus ini.
‫صلَ َح ِة‬ ٌ ‫الرا ِعيَّ ِة َمنُ أو‬
‫ط ِبا أل َم أ‬ َّ ‫علَى‬ ِ‫ف أ‬
َ ‫اْل َماِم‬ َ َ‫ت‬
ُ ‫ص ُّر‬
“Tindakan imam terhadap rakyatnya harus dikaitkan dengan
kemaslahatan.”
Kebijakan penguasa terhadap persoalan rakyat harus berorientasi dan
demi menegakkan kemaslahatan bersama. Tanpa kesejahteraan dan
keadilan sosial, maka penegakan HAM menjadi sia-sia. Persoalannya,
bagaimana konsep penerapan HAM yang melahirkan mashlahah yang
diformulasi oleh NU dalam konteks keindonesiaan dan bagaimana strategi
penerapannya dalam kehidupan berbangsa-bernegara.
 Pemerintahan dalam pandangan NU harus mampu menjamin
terselenggaranya kehidupan yang berkeadilan, terjaminnya hak-
hak dasar rakyat serta dapat membangun kesejahteraan
ummatnya. Dalam konteks inilah, kehadiran institusi negara
bersinggungan dengan upaya mewujudkan kemaslahatan umat.
Negara harus mampu mewujudkan dan mengamankan
kepentingan publik yaitu jaminan hidup, aman, damai, adil dan
sejahtera.

Demi keadilan dan kesejahteraan sosial itulah, NU sebagai


kekuatan sipil memiliki andil besar untuk menekan pemerintah
agar dapat memenuhi hak asasi warga. Negara yang tidak
menjalankan kewajibannya untuk menjamin hak-hak asasi
rakyatnya, sama halnya kehadiran negara Indonesia menjadi tidak
bermakna.Ada namun tidak berfungsi, ada namun tidak berbekas.
Dalam konteks ini, NU menjadi penting sebagai institusi yang
dapat memaksa agar negara tidak absen dalam menegakkan hak
asasi untuk rakyat yang lebih adil dan sejahtera.

Dari kajian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa:
Pertama, terjaminnya hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa
merupakan syarat penting menuju tercapainya pembangunan. Dalam
konteks keindonesiaan, NU sebagai lembaga sosial kemasyarakatan
memiliki peluang, kesempatan dan potensi untuk mengontrol dan
menegakkan hak asasi manusia.

Kedua, HAM dalam konsep NU merupakan persemaian antara nilai-nilai


hak asasi yang berkembang di Barat, Islam maupun nilai-nilai lokalitas
keindonesiaan. Sebab itu, bagi NU, hak-hak beragama, berserikat,
berpendapat, berpenghasilan, hak milik dan lain sebagainya, bukan
diadopsi secara tekstual dari konsep Barat atau Islam tetapi didialogkan
secara kritis dengan realitas sosial, politik, budaya ekonomi dan lainnya.
Ketiga, dalam perjalanan kehidupan berbangsa bagi NU selama ini,
menunjukkan bahwa pemahaman dan gerakan penegakan hak asasi
manusia di Indonesia yang digalang NU adalah dalam rangka gerakan
oposisi melawan pihak lain, terutama negara, yang mengabaikan nilai dan
hak dasar manusia. NU memaknai gerakan HAM tidak untuk
melanggengkan rezim penguasa tirani atau menetang pihak-pihak yang
menghalangi tegaknya nilai-nilai hak asasi manusia.

 Keempat, hak asasi manusia ditegakkan demi terwujudknya tata


kehidupan berbangsa-bernegara yang makmur, adil, dan sejahtera. Tak
ada maksud lain gerakan HAM melainkan untuk menjamin kebebasan
berekspresi,
berserikat, bekerja, terpanuhinnya kebutuhan dasar. Dalam kondisi ini,
perjuangan NU dalam menegakkan HAM hanya didedikasikan untuk
menggelorakan agar negara dapat mewujudkan kehidupan sosial yang
sejahtera dan berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.