You are on page 1of 24

Kelompok 6

•Mahendra Puguh P 2314100082


•Joshua Goklas B B 2314100086
•Syahdan Amir M 2314100090
•M. Aziz Rahmatullah 2314100095
Teknik pemisahan molekul berdasarkan
perbedaan pola pergerakan antara fase
KROMATOGRAFI gerak dan fase diam untuk memisahkan
komponen (berupa molekul) yang
berada pada larutan.

Keywords

FASE STASIONER FASE GERAK


 Fase stasioner adalah komponen penganalisis
sample yang posisinya tetap dan tidak
bergerak. Material – material penyusun fase
stasioner berbentuk padatan inert dan
umumnya menempel pada kolom.
 Contoh dari material fase stasioner misalnya
adalah Silica.
 Fase gerak adalah komponen penganalisis
sample yang dapat bergerak secara dinamis
dan dapat mengalir. Fase gerak ini dapat pula
disebut pelarut. Pelarut yang digunakan
dapat berupa senyawa polar atau non polar
 Contoh pelarut yang digunakan
 Polar : Air, Metanol
 Non – Polar : n - Heksana
Memadukan sifat Hidrofobik dan
Reverse phase Rendahnya polaritas komponen fase
chromatography stasioner. Digunakan untuk proses
ekstraksi analisa senyawa non –
volatil

Size exclusion Memanfaatkan gel berpori untuk


chromatography memisahkan molekul besar dan kecil

Memanfaatkan polaritas fase gerak


High Performance Liquid
dan fase stasioner, serta tekanan
Chromatography ( HPLC )
dan kecepatan fluida yang tinggi
 HPLC (High Performance Liquid
Chromatography) atau biasa juga disebut
dengan Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT)
dikembangkan pada akhir tahun 1960-an dan
awal tahun 1970-an.
 HPLC saat ini merupakan teknik pemisahan yang
diterima secara luas untuk analisa bahan obat,
baik dalam bulk maupun sediaan farmasetika
 HPLC ini dapat bekerja melalui 2 fase kerja, yaitu
Fase Kerja Normal dan Fase Kerja Balik
FASE STASIONER Polar
( ex : Silika ( Si ) )

FASE GERAK / PELARUT Non – Polar


(ex : n- Heksana)

 Senyawa-senyawa polar dalam campuran


melalui kolom akan melekat lebih lama pada
silika yang polar dibanding degan senyawa-
senyawa non polar. Oleh karena itu, senyawa
yang non polar kemudian akan lebih cepat
melewati kolom.
Non - Polar
FASE STASIONER ( ex : Silika
termodifikasi)

FASE GERAK / PELARUT Polar


(ex : Methanol)

 Secara prinsip kerja, hampir sama dengan Fase


Kerja Normal. Hanya saja pada mekanisme Fase
Kerja Balik, senyawa polar lebih cepat melewati
kolom dibandingkan dengan senyawa non –
polar yang mudah melekat pada kolom
( material fase stasioner )
 Sampel-sampel cair dan larutan disuntikkan
secara langsung ke dalam fase gerak yang
mengalir di bawah tekanan menuju kolom
menggunakan alat penyuntik yang terbuat
dari tembaga tahan karat dan katup teflon
yang dilengkapi dengan keluk sampel
(sample loop) internal atau eksternal.
 Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk
bergerak melalui kolom menuju detektor
disebut sebagai waktu retensi.
 Ada beberapa faktor yang memengaruhi
waktu retensi :
 Tekanan pada pompa
 Kondisi dari Fase Stasioner ( bahan penyusun,
ukuran )
 Komposisi pelarut
 Temperatur pada kolom
 Jika sinar UV diarahkan pada larutan yang keluar
melalui kolom dan sebuah detektor pada sisi
yang berlawanan, maka akan didapatkan
langsung berapa besar sinar yang diserap.
 Jumlah cahaya yang diserap sangat bergantung
pada jumlah partikel terlarut ( konsentrasi ) pada
larutan analit
Larutan Sejenis

Campuran

 Luas daerah dibawah kurva ≈ Jumlah zat


terlarut dalam sample / analit
SLIDE TAMBAHAN
 Reverse phase chromatography
 alat analitikal yang kuat dengan memadukan sifat hidrofobik serta
rendahnya polaritas fase stasioner yang terikat secara kimia pada
padatan inert seperti silika. Metode ini biasa digunakan untuk proses ekstraksi dan
pemisahan senyawa yang tidak mudah menguap.
 High performance liquid chromatography
 mempunyai prinsip yang mirip dengan reverse phase. Hanya saja dalam metode ini,
digunakan tekanan dan kecepatan yang tinggi. Kolom yang digunakan dalam HPLC lebih
pendek dan berdiameter kecil, namun dapat menghasilkan beberapa tingkatan
equilibrium dalam jumlah besar.
 Size exclusion chromatography
 biasa digunakan untuk memisahkan dan memurnikan protein. Metode ini tidak
melibatkan berbagai macam penyerapan dan sangat cepat. Perangkat kromatografi
berupa gel berpori yang dapat memisahkan molekul besar dan molekul kecil. Molekul
besar akan terelusi terlebih dahulu karena molekul tersebut tidak dapat penetrasi pada
pori-pori
Kromatografi HPLC termasuk metode analisis terbaru yaitu suatu teknik
kromatografi dengan fasa gerak cairan dan fasa diam cairan atau padat. Banyak
kelebihan metode ini jika dibandingkan dengan metode lainnya (Done dkk, 1974;
Snyder dan Kirkland, 1979; Hamilton dan Sewell, 1982; Johnson dan Stevenson,
1978). Kelebihan itu antara lain:
• mampu memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran
• mudah melaksanakannya
• kecepatan analisis dan kepekaan yang tinggi
• dapat dihindari terjadinya dekomposisi / kerusakan bahan yang dianalisis
• Resolusi yang baik
• dapat digunakan bermacam-macam detektor
• Kolom dapat digunakan kembali
• mudah melakukan "sample recovery"
Ambil dua Tablet tambahkan 0,0773 g Fenasetin kocok dengan 10 ml etanol
selama 10 menit, clan tambahkan 10 ml ammonium format 0,5 mol dm-3 dan
campuran ini diencerkan dengan fase gerak sampat 100 ml. Tablet mengandung
bahan-bahan pembawa, maka larutan ini harus disaring sebelum dikromatografi.
Dengan kondisi percobaan yang digunakan ketiga senyawa tersebut dapat
dipisahkan dalam waktu sekitar 3 menit (lihat Gambar 5.2)
Untuk menghitung respons faktor relatif dilakukan penimbangan Standar
dari senyawa-senyawa di atas dan diencerkan sehingga konsentrasinya mendekati
konsentrasi sampel dan dinjeksikan ke sistem kromatografi sebanyak tiga kali,
diperoleh data-data sebagaimana tercantum pada Tabel 5. 2. berikut :
Dengan menggunakan Rumus (5b) maka akan diperoleh harga respons faktor relatif,
sebagaimana disajikan pada Tabel 5.3. berikut

Kolom :5 silika SCX ; 12,5 cm x 4,6 mm


Fasa gerak :0,05 mol dm-3 HCOONH4 + 10% C2H5OH ; pH 4,8
Kecepatan alir : 2 cm3 min-1
Detektor : uV absorsi, 24 nm
Puncak : 1 = Aspirin , 2 = Fenasetin = , 3 = kafein
Untuk menghitung kadar aspirin dan kafein dalam tablet, setelah dilakukan Prosedur
kerja sebagaimana tercantum pada halaman 26, maka diinjeksi ke sistem
kromatografi sebanyak dua kali dan diperoleh data yang disajikan pada
Tabel 5.4 berikut :
Hitung respons faktor relatif, kadar Aspirin dan Kafein dalam tablet . Persyaratan Farmakope
untuk aspirin harus diantara 95% dan 105% sedangkan Kafein di antara 90 % dan 110 % .
Apakah tablet tersebut memenuhi persyaratan ?
Dengan menggunakn Rumus (5c) maka diperoleh hasil sebgao berikut :
Dari Gambar tersebut waktu retensi dan volume retensi dapat diketahui /dihitung.
Dengan data ini bisa digunakan untuk mengidentifikasi secara kualitatif suatu
komponen, bila kondisi kerja dapat dikontrol. Lebar puncak dan tinggi puncak
sebanding atau proporsional dengan konsentrasi dan dapat digunakan untuk
memperoleh hasil secara kuantitatif.