You are on page 1of 17

PENGENALAN HAMA DAN PENYAKIT

TANAMAN CABE

Oleh I Wayan Purnayase, SP


Mari berbagi senyum
• Budidaya tanaman cabe merupakan kegiatan usaha tani yang cukup
menjanjikan. Permintaan akan cabe cukup tinggi. Cabe seakan-akan sudah
menjadi bahan kebutuhan pokok masyarakat. Di masa-masa tertentu, seperti
menjelang hari raya harga cabe bisa meningkat hingga puluhan kali lipat.
• Usaha tani tanaman cabe (Capsicum annuum L.) memerlukan modal dan
keterampilan yang cukup. Tidak jarang petani cabe merugi karena abai
memperhitungkan faktor cuaca, fluktuasi harga atau serangan hama dan
penyakit. Oleh karena itu, segala resiko dalam budidaya tanaman cabe harus
dipertimbangkan secara matang.
• Dalam melakukan budidaya cabe, baik itu cabe merah, cabe hijau, cabe rawit
atau sebagainya, pastilah akan ada kendala yang dihadapi para petani
diantaranya serangan hama dan penyakit. Ada banyak jenis hama dan penyakit
yang sering menyerang tanaman cabe, kali ini kita akan membahas tentang
pengenalan beberapa hama dan penyakit yang menyerang tanaman cabe dan
cara pengendaliannya.
Hama Tanaman
Ulat Grayak (Spodoptera litura).
Cabe

• ciri berwarna hijau berukuran kecil dan jumlahnya sangat banyak, jenis hama ini menyerang
pada bagian daun, tunas dan juga batang muda. Tanaman yang terserang hama ini dapat
menyebabkan daun berlubang dan tunas muda akan rusak bahkan jika serangannya sudah
parah dapat menyebabkan tanaman gundul dan hanya menyisakan tulang daun tanaman cabe
saja sehingga pertumbuhan tanaman akan terhambat.
• Pengendalian teknis. Ulat diambil saat malam hari ketika mereka mulai berkeliaran.
Pengambilan ulat sebaiknya dilakukan secara menyeluruh dan serempak. Bisa juga dipasang
perangkap imago hama. Pencegahannya adalah dengan menjaga kebersihan kebun. Siangi
gulma pada selasar bedengan, parit atau lubang-lubang mulsa.
• Pengendalian kimiawi. Penyemprotan dilakukan apabila serangan sudah parah. Jenis racun
yang digunakan adalah insektisida. Penyemprotan sebaiknya dilakukan saat malam hari
Tungau (Polyphagotarsonemus latus,
Tetranycus sp.)

• Tungau yang menyerang tanaman cabe biasanya adalah tungau kuning (polyphagotarsonemus latus) dan
• tungau merah (tetranycus sp.). Hama ini menyebabkan daun keriting dan menggulung kearah bawah,
• bagian bawah daun yang terserang berwarna kecoklatan. Pada serangan hebat menyebabkan daun rontok.
• Pengendalian teknis. Tanaman yang terserang parah dicabut sedangkan yang belum parah dipotong pucuk-
pucuknya. Sisa tanaman yang terserang dibakar agar tidak menjangkiti yang lain. Untuk mencegahnya,
usahakan areal penanaman cabe tidak berdekatan dengan tanaman singkong. Menjaga kebersihan kebun
efektif mengurangi serangan tungau.
• Pengendalian kimiawi. Tungau hanya bisa diberantas dengan racun tungau seperti akarisida, bukan dengan
insektisida. Dilihat dari fisiknya, tungau berkaki delapan berbeda dengan serangga (insek) yang berkaki
empat.
KUTU DAUN (Myzuspersicae)

• Kutu daun yang menyerang tanaman cabe biasanya berasal dari jenis Myzus persicae. Kutu daun
menyerang dengan menghisap cairan pada daun. Daun menjadi kering dan permukaan daun
keriting.
• Selain itu, kutu daun bisa mengundang berbagai penyakit secara tidak langsung. Kutu ini bisa
menjadi vektor pembawa virus, menghasilkan cairan berwarna kuning kehijaun yang
mengundang semut dan mengundang datangnya cendawan yang menimbulkan jelaga hitam pada
permukaan daun.
• Pengendalian teknis. Petik daun-daun yang terserang kemudian musnahkan. Hindari juga
penanaman cabe berdekatan dengan semangka, melon dan kacang panjang. Menjaga kebersihan
kebun dan penggunaan plastik mulsa perak efektif menekan perkembangan kutu daun.
• Pengendalian kimiawi. Gunakan jenis insektisida yang mengandung fipronil atau diafenthiuron.
Penyempotan paling efektif dilakukan pada sore hari.
Hama lalat buah (Bactrocera dorsalis)

• Serangan lalat buah (Bactrocera dorsalis) pada tanaman cabe menyebabkan kerontokan buah. Buah cabe
tidak sempat dipanen karena keburu rontok ke tanah. Pada buah yang terserang apabila di belah terdapat
larva lalat. Bila tidak dibersihkan, larva pada buah cabe yang rontok akan menjadi pupa di dalam tanah,
sehingga siklus serangan akan terus berulang.
• Pengendalian teknis. Pungut dan kumpulkan buah cabe yang rontok, kemudian musnahkan dengan cara
membakarnya. Hal tersebut penting, agar lalat tidak menjadi pupa yang bisa bersemayam di dalam tanah.
Lalat buah biasa juga menyerang jenis buah-buahan lain seperti belimbing, pisang, jeruk, dll. Jadi hindari
membudidayakan tanaman cabe berdekatan dengan kebun buah.
• Pengendalian kimiawi. Bisa menggunakan perangkap lalat dengan menggunakan atraktan yang
mengandung methyl eugenol. Teteskan obat tersebut pada kapas dan masukkan pada botol bekas air
mineral. Pemasangan perangkap bisa dilakukan setelah umur tanaman cabe satu bulan. Bila serangan
parah, semprot dengan insektisida pada pagi hari, ketika daun masih berembun dan lalat belum
berkeliaran.
Hama trips (Thrips)

• Tanaman cabe yang terserang trips daunnya akan terlihat garis-garis keperakan,
terdapat bercak-bercak kuning hingga kecoklatan dan pertumbuhannya kerdil. Bila
dibiarkan daun akan kering dan mati. Serangan trips biasanya menghebat pada musim
kemarau. Hama ini juga berperan sebagai pembawa virus dan mudah sekali menyebar.
• Pengendalian teknis. Bisa memanfaatkan predator alami hama ini, seperti kumbang
dan kepik. Pemakaian mulsa dan menjaga kebersihan kebun efektif menekan
perkembangannya. Selain itu, rotasi tanaman membantu mengendalikan hama jenis
ini.
• Pengendalian kimiawi. Penyemprotan dilakukan bila serangan meluas. Gunakan
insektisida yang berbahan aktif fipronil dan lakukan pada sore hari.
Penyakit tanaman cabe

• Penyakit yang menyerang tanaman cabe bisa disebabkan


virus, bakteri, cendawan maupun jamur. Setidaknya ada
enam macam penyakit yang biasa menyerang tanaman cabe,
diantranya:
1. Penyakit Rebah Semai
• merupakan penyakit paling awal yang dihadapi oleh para petani cabe rawit karena
penyakit ini menyerang tanaman ketika masih dalam media persemaian. Gejala rebah
semai adalah bagian pangkal batang dekat akar akan busuk menyusut lalu patah.
Penyebab rebah semai adalah infeksi jamur.
• Cara mengatasi penyakit rebah semai pada cabe rawit adalah dengan menyemprotkan
fungisida kontak berbahan aktif karbendazim dan fungisida sistemik berbahan aktif
metalaksil atau dimetomorf.
• Penting untuk melakukan upaya pencegahan yaitu dengan merendam biji benih cabe
terlebih dahulu pada larutan fungisida sistemik dimetomorf/furadan dengan
konsentrasi 1 gram / liter guna mencegah infeksi jamur pada benih nantinya.
2. Penyakit Layu Fusarium
• Penyakit layu fusarium biasanya baru terjadi setelah tanaman cabe pindah tanam ke lahan yang
sudah disediakan. Hal ini disebabkan oleh infeksi jamur patogen fusarium pada area perakaran
yang menyebabkan tanaman cabe akan tampak layu ketika hari agak siang lalu kembali segar ketika
hari telah sore. Lama-kelamaaan tanaman cebe akan semakin kering dan menggugurkan daunya
lalu mati.
• hingga saat ini belum ada fungisida baik kontak maupun sistemik yang benar-benar ampuh untuk
mengatasi serangan layu fusarium jika itu sudah terjadi.
• melakukan langkah pencegahan dengan cara mengaplikasikan trichoderma pada pupuk kandang
dasar serta mengocorkan trichoderma beberapa hari setelah tanam.
• Trichoderma merupakan jamur baik yang bersimbiosis dengan akar tanaman dan membunuh
jamur patogen dalam tanah seperti fusarium sp yang menyebabkan penyakit layu fusarium pada
tanaman cabe.
3. Daun Keriting
• menanam cabe dimusim kemarau maka penyakit daun keriting akan mudah
menyerang tanaman cabe anda. Penyebab penyakit keriting sebenarnya ada banyak
seperti tanaman kekurangan nitrogen, serangan kutu daun dan infeksi virus gemini.
• Yang paling sering menyebabkan daun keriting adalah serangan hama kutu daun yang
sudah membawa virus gemini. Tanaman cabe yang daunnya sudah keriting akan sulit
untuk diobati namun kita bisa mencegahnya dengan mengendalikan vektornya yakni
thrips, kutu kebul, dan aphids.
• Untuk mengendalikan vektornya maka anda harus rutin menyemprotkan insektisida
berbahan aktif abamektin ataupun dimetoat minimal seminggu sekali. Gunakan juga
insektisida sistemik berbahan aktif imadikoplorid minimal 2 Minggu sekali. Diharapkan
dengan mengendalikan vektornya maka penyakit daun keriting tidak meluas.
4. Bercak daun
• Penyakit bercak daun yang menyerang tanaman cabe disebabkan oleh jamur Cercospora
capsici. Gejalanya terdapat bercak-bercak bundar berwarna abu-abu dengan pinggiran coklat
pada daun. Bila serangan menghebat daun akan berwarna kuning dan akhirnya berguguran.
Penyakit ini biasanya menyerang pada musim hujan dimana kondisi kelembaban cukup tinggi.
• Penyakit ini menyebar saat jamur masih berupa spora dan bisa dibawa oleh angin, air hujan,
hama vektor, dan alat pertanian. Spora jamur juga bisa terikut pada benih atau biji cabe.
• Pencegahan terhadap penyakit ini dengan memilih benih yang sehat bebas patogen.
Merenggangkan jarak tanam berguna meminimalkan serangan agar lingkungan tidak terlalu
lembab. Pengendalian teknis bisa dilakukan dengan memusnahkan tanaman yang terinfeksi
dengan cara dibakar. Bila serangan menghebat bisa diberikan fungisida penyemprotan
Antracol, Starmil atau Score.
5. Antraknosa ( patek )
• Penyebab : cendawan Coletotrichum dan juga Gloesporium piperatum.
• Gejala penyakit ini adalah ditandai dengan munculnya bercak agak mengkilap, sedikit terbenam dan berair,
bisa berwarna hitam, oranye (apabila lingkungan lembab), dan cokelat pada buah cabai yang terserang. Luka
akan semakin melebar dan membentuk lingkaran. Dalam waktu yang tidak lama buah akan menjadi cokelat
kehitaman dan membusuk. Penyakit ini menyerang pada buah cabai yang masih muda maupun sudah tua.
Penyakit ini dapat menular melalui satu patogen yang terbawa benih dan menyebar melalui percikan air.
Penyakit akan berkembang pesat pada suhu rendah dan musim hujan.
• Pengendalian : Non kimiawi : melakukan sanitasi kebun atau lahan dan melakukan pemusnahan tanaman
yang terserang.
• Kimiawi : melakukan penyemprotan fungisida berbahan aktif berupa klorotalonil dan lainnya sesuai
petunjuk.
CARA MEMBUAT PESTISIDA NABATI DARI EKSTRAK BAWANG
PUTIH
• Kandungan kimia yang terdapat dari bawang putih antara lain : tanin, minyak atsiri, dialilsulfida, aliin,
alisin, enzim aliinase. Bagian tanaman yang digunakan untuk ekstrak bawang putih adalah Seluruh bagian
tanaman, umbi, daun dan bunga
• Bahan-bahan :
• > Bawang putih 100 gram
> Minyak sayur 50 ml
> Deterjen atau sabun colek 10 ml (1 sendok teh jika berbentuk serbuk/krim)
> Air bersih 1 liter
> Ember, alat penyaring dan botol
• Cara membuat :
• > Tumbuk atau giling 100 gram bawang putih hingga halus
> Tempatkan pada wadah dan tambahkan 50 ml minyak sayur
> Simpan dan biarkan selama sehari semalam (24 jam)
> 24 jam kemudian tambahkan 1 liter air dan deterjen atau sabun colek
> Aduk hingga tercampur rata
> Siapkan botol dan saring campuran bahan-bahan tersebut untuk memisahkan ampasnya
> Pestisida nabati bawang putih siap digunakan
> Segera aplikasikan dan jangan disimpan lebih dari 3 hari
• Cara menggunakan ;
• Larutan pestisida bawang putih tersebut dicampur dengan air bersih, dengan perbandingan 1 : 10
(1 bagian larutan pestisida nabati dan 10 bagian air)
Aduk hingga tercampur rata sebelum diaplikasikan
Semprotkan pada seluruh bagian tanaman dan dikocorkan pada akar jika digunakan untuk
mengendalikan hama yang ada didalam tanah.
Lakukan penyemprotan pada pagi hari sebelum matahari terik atau sore hari
• Hama dan penyakit sasaran ;
> Ulat grayak, ulat daun, ulat buah, ulat bunga pada tanaman kacang panjang
> Hama penghisap, kutu daun, oteng-oteng, penggerek daun
> Nematoda / puru akar
> Bakteri, antaknosa, embun tepung dan beberapa penyakit yang disebabkan oleh jamur
MEMBUAT PESTISIDA ORGANIC
Pengendali ulat pemakan daun
• Siapkan bahan-bahan yang diperlukan antara lain, air kelapa 2 liter, ragi tape 1 butir, bawang
putih 4 ons, deterjen 0,5 ons dan kapur sirih 4 ons.
• Langkah pertama adalah tumbuk bawang putih hingga halus. Kemudian larutkan deterjen
kedalam air kelapa dan aduk hingga merata. Setelah itu, masukan hasil tumbukan bawang
putih, ragi tape dan kapur tohor. Saring campuran tersebut dengan kain halus. Langkah terakhir,
fermentasikan cairan selama 20 hari dalam wadah tertutup. Pestisida organik pengusir ulat
daun siap digunakan.
• Cara penggunaan, encerkan larutan pestisida organik sebanyak 500 ml dengan 10 liter air
bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Frekuensi penggunaan
sebanyak 2 kali seminggu, lakukan terus sampai serangan ulat menurun sampai taraf aman.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
SEMOGA BERMANFAAT