You are on page 1of 24

HASIL PENELITIAN

Dosen pembimbing:
1. Ridho Asra, M.Farm, Apt
2. Drs. Rusdi, MS, Apt

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI


(STIFARM)
PADANG
LATAR BELAKANG

Kopi
Bubuk

Penyangraian toxic
kopi
Akrilamida  menyebabkan
C3H5NO Kanker pada
manusia dan
 bersifat
neurotoksik
RUMUSAN MASALAH TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mengetahui adanya


1. Apakah terdapat kandungan kandungan akrilamida dalam kopi
akrilamida dalam kopi bubuk bubuk tradisonal dan kopi bubuk
tradisional dan kopi bubuk luwak luwak yang dianalisis dengan
yang dianalisis dengan metode metode kromatografi cair kinerja
kromatografi cair kinerja tinggi tinggi (KCKT).
(KCKT)?

2. Untuk menentukan berapa


kadar akrilamida dalam kopi bubuk
2. Berapa kadar akrilamida dalam tradisional dan kopi bubuk luwak
kopi bubuk tradisional dan kopi yang dianalisis dengan metode
bubuk luwak yang dianalisis dengan kromatografi cair kinerja tinggi
metode kromatografi cair kinerja (KCKT).
tinggi (KCKT)?
HIPOTESIS

1. Akrilamida terdapat dalam kopi


1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi
bubuk tradisional dan kopi bubuk sumber informasi mengenai cara analisis
luwak yang dianalisis dengan metode akrilamida dalam kopi bubuk tradisional
kromatografi cair kinerja tinggi dan kopi bubuk luwak serta menjadi
(KCKT). bahan masukan bagi peneliti selanjutnya
untuk pengujian akrilamida lebih lanjut.

2. Didapatkan kadar akrilamida


dalam kopi bubuk tradisional dan
kopi bubuk luwak yang dianalisis 2. Untuk memberikan informasi yang
tepat kepada masyarakat mengenai adanya
dengan metode kromatografi cair kandungan akrilamida dalam kopi bubuk
kinerja tinggi (KCKT). tradisional dan kopi bubuk luwak dan
berapa kadarnya masing-masing sampel
kopi bubuk.
AKRILAMIDA
Akrilamida C3H5NO (sinonim: 2-propenamida, etilen karboksiamida, akrilikamida, asam
propeonik amida, vinilamida)

1. Akrilamida merupakan senyawa kimia kristalin bening hingga putih tidak berwarna dengan bobot molekul
71,08 dan tidak berbau.

2. Senyawa ini sangat mudah larut dalam air, larut dalam aseton, etanol, metanol dan dimetil eter, namun,
tidak larut dalam heksan, kloroform, dan diklorometana.

3. Akrilamida tidak bereaksi dengan asam, basa, agen pengoksidasi, logam dan garam.

4. Akrilamida adalah senyawa kimia alami yang terbentuk pada makanan yang kaya karbohidrat dalam proses
pemanasan/pemanggangan/penggorengan pada suhu tinggi diatas (120 ºC).

5. Akrilamida adalah senyawa neurotoksik yang diklasifikasikan sebagai genotoksik dan karsinogen pada
manusia.

6. Terbentuk melalui reaksi Maillard reaksi antara gula pereduksi (glukosa dan fruktosa) dengan gugus amino
dari asam amino (asam amino yang bereaksi asparagin)
PELAKSANAAN PENELITIAN

WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN

Penelitian telah dilakukan pada bulan September sampai November


2019 di Laboratorium Kimia Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi
(STIFARM) Padang dan Laboratorium Kimia Bahan Alam Fakultas
Farmasi Universitas Andalas Padang.
ALAT DAN BAHAN

Alat dan Bahan

Terlampir...
Sampel yang digunakan adalah kopi bubuk tradisional dan kopi bubuk luwak yang dijual disalah
satu minimarket di daerah Gunung Pangilun kota Padang Sumatera Barat dengan batas
kadarluarsa yang sama.

Maka diperoleh sampel kopi bubuk tradisional yang digunakan sebanyak 3 merek:
Sampel (1): kopi bubuk gayo lion robusta bundo kanduang (CV. Sumatera Lion) 100 g,
kadarluarsa 12.01.2019
Sampel (2): kopi bubuk asli robusta cap payung (CV. Minang saiyo) 100 g, kadarluarsa
02.01.2019
Sampel (3): kopi bubuk mandailing estate bundo kanduang (CV. Adipati Jaya Abadi) 100 g,
kadarluarsa 21.05.2019

Sampel kopi bubuk luwak yang digunakan sebanyak 3 merek:


Sampel (4): kopi bubuk luwak liar robusta (CV. Bernest Sriwijaya) 100 g, kadarluarsa
02.03.2019
Sampel (5): Kopi bubuk gayo lion coffee luwak (CV. Sumatera Lion) 100 g, kadarluarsa
16.11.2019
Sampel (6): kopi bubuk king of luwak (CV. Gajah Putih) 100 g, kadarluarsa 06.02.2019
Preparasi sampel Untuk mengekstraksi
akrilamida

2,2 g bubuk kopi


Residu kopi yang telah dihilangkan
Masukkan ke dalam beaker kandungan lemak
gelas
(+) 20 mL aseton
(+) 10 mL hexan untuk
menghilangkan kandungan
lemak
dihomogenkan menggunakan
orbital shaker dengan kecepatan
dihomogenkan 350 rpm selama 20 menit.
menggunakan orbital
Lapisan aseton disaring dengan
shaker dengan kecepatan
menggunakan kertas saring dan
350 rpm selama 5 menit. Tahap
kemudian diuapkan dengan
penghilangan waterbath
kandungan
lemak residunya ditambahkan dengan 4 mL fase
dekantasi gerak asetonitril dan aquabidest (15 : 85,
dilakukan 2x v/v)

kocok

Residu keringkan dengan Masing-masing larutan disaring dengan


penguap vakum acrodisc syringe filter 0,45 µm

Sebanyak 20 µL diinjeksikan ke sistem


KCKT
Optimasi Kondisi Analisis

Siapkan larutan fasa gerak dengan berbagai perbandingan asetonitril dan aquabidest.

Kemudian alirkan fasa gerak dengan konsentrasi standar akrilamida 10 µg/mL menggunakan
pompa dan laju alir pada suhu 28 °C ke dalam kolom yang berisi fase diam shimadzu shimpack
oktadesilsilika (ODS atau C18) dengan volume penyuntikan 20 µL.

Pemisahan akrilamida terjadi didalam kolom, hasil pemisahan dibaca oleh detektor
Photodiode-Array (PDA) dengan panjang gelombang 200 nm dalam 12,5 menit.

Selanjutnya dipilih kombinasi fase gerak dan laju alir yang memberikan pemisahan
terbaik, berdasarkan puncak yang simetris, tinggi puncak, luas area dan waktu retensi
yang sangat singkat dari larutan standar akrilamida
Pembuatan Standar dan
Kurva Kalibrasi Akrilamida
0.01 g standar akrilamida ditimbang
dimasukkan ke dalam labu
ukur 50 mL

Larutan induk akrilamida dilarutkan dengan campuran fase gerak asetonitril :


aquabidest (15 : 85, v/v) sampai tanda batas (konsentrasi 200 µg/mL).

Larutan standar akrilamida dengan konsentrasi 10; 20; 30; 40 dan 50 ppm dibuat dengan
mengencerkan larutan induk 200 µg/mL menggunakan fase gerak. Pipet larutan induk
200 µg/mL sebanyak 0,25 mL; 0.5 mL; 0.75 mL; 1 mL; dan 1.25 mL.

Masing-masing larutan dimasukan ke dalam labu ukur 5 mL. Cukupkan dengan


campuran fase gerak asetonitril : aquabidest (15 : 85, v/v) sampai tanda batas.
Masing-masing larutan dimasukan ke
dalam labu ukur 10 mL

Masing-masing larutan saring dengan membran filter 0,45 µm. Larutan standar 10; 20; 30;
40 dan 50 ppm, masing-masing diinjeksikan sebanyak 20 μL ke dalam sistem KCKT.

Luas area di bawah kurva yang diperoleh dihitung dan buat kurva kalibrasi untuk
menentukan persamaan garis regresi linier Y= a + bx

Uji Linearitas
Dari data pengukuran kurva kalibrasi, kemudian dianalisis dengan persamaan garis
regresi linear sehingga diperoleh koefisien korelasi (r) yang menunjukkan linearitasnya.
Nilai linearitas (r) yang baik adalah < 0,999
Pengujian Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi

Batas deteksi dan batas kuantitasi ditentukan dari garis regresi


linier dari kurva baku kalibrasi yang diperoleh.

Nilai LOD = 3 × (SD/b) dan LOQ = 10 × (SD/b),

standar deviasi (SD) respon ditentukan berdasarkan standar deviasi residual


(simpangan baku residual) dari garis regresi yang dinyatakan sebagai Sy/x dan b
merupakan nilai kemiringan (slope) pada persamaan garis atau regresi linier
y = a + bx
Uji Presisi (Keterulangan)

Uji presisi dilakukan pada tingkat keterulangan (repeatability) dengan cara


mengukur sebanyak 6 kali pada kosentrasi larutan baku akrilamida 30
µg/mL.

Uji presisi (keseksamaan) ditentukan dengan parameter RSD (Relative Standar


Deviasi). Nilai RSD yang diperbolehkan adalah ≤ 1 %
Uji Akurasi (% Perolehan Kembali)

Uji perolehan kembali dilakukan dengan metode simulasi (spiked) yaitu


dengan cara menambahkan sejumlah larutan baku akrilamida ke dalam
larutan uji sampel yang tidak mengandung akrilamida.

Konsentrasi larutan baku akrilamida yang ditambahkan adalah 10 mg ke dalam 2,2 g


kopi bubuk tradisional dan kopi bubuk luwak lalu diekstraksi dengan cara yang sama
seperti pembuatan larutan sampel dilakukan masing-masing 3 kali pengulangan.

. Kemudian dihitung nilai perolehan kembali baku pembanding yang ditambahkan


pada larutan uji dinyatakan dengan % perolehan kembali. Nilai % perolehan
kembali antara 85 % - 110 %
Analisis Sampel dengan KCKT

Masing-masing larutan sampel yang telah dipreparasi, dipipet 0.5 mL dan


diencerkan dengan fase gerak ke dalam labu ukur 5 mL.

Selanjutnya masing-masing larutan disaring menggunakan membran filter


0,45 µm dan dimasukkan ke dalam vial KCKT

Sebanyak 20 µL diinjeksikan ke sistem KCKT. Selanjutnya diukur luas


areanya dengan KCKT sesuai kondisi analisis optimum, dicatat luas areanya
dan pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan. Kadar akrilamida
dihitung dengan menggunakan persamaan regresi dari kurva kalibrasi
Kromatogram
optimasi fase
gerak
akrilamida
dengan fase
gerak
campuran
asetonitril :
aquabidest (15
: 85, v/v)
pada panjang
gelombang
200 nm.
Kurva Kalibrasi Akrilamida

 Persamaan regresi
linier yang Kurva Kalibrasi Akrilamida
diperoleh adalah y 16000000
= 356468 + 14000000
14838501

293761 x dengan y = 356468 + 293761 x


12272010 r = 0.9993
nilai (r) yang 12000000

didapatkan = 10000000
9307450
0,9993.
AUC 8000000

6000000 6284064
area

4000000 Linear (area)


3144434
2000000

0
0 10 20 30 40 50 60
Konsentrasi (ppm)
No X Y Yi y-yi (y-yi)²

1 10 3144434 3294078 -149644 2,239332674 x 1010

2 20 6284064 6231688 52376 2743245376

3 30 9307450 9169298 138152 1,90859751 x 1010

4 40 12272010 12106908 165102 2,72586704 x 1010

5 50 14838501 15044518 -206017 4,244300429 x 1010

∑ 1,139242219 x 1011

N 5

SD 194871,0872

BD/LOD (µg/mL) 1,990098283

BK/LOQ (µg/mL) 6,633660942


x
x

No Konsentrasi Xi Xi -X (Xi -X)2


(µg/mL)

1 30 9302120 -21786 474629796

2 30 9311014 -12892 166203664

3 30 9346601 22695 515063025

4 30 9348794 24888 619412544

5 30 9315682 -8224 67634176

6 30 9319223 -4683 21930489

∑ 55943434 -2 1864873694

9323906 -0,33 310812282

SD 19312,55

% RSD 0,207
Data uji akurasi (% perolehan kembali) akrilamida dalam sampel kopi bubuk tradisional kiniko
Kadar yang Luas Area Kadar akrilamida % perolehan Rata-rata %
ditambahkan setelah kembali akrilamida perolehan
(mg) penambahan kembali
standar akrilamida
(mg)

73045611 9.8976 98 %

10 mg 73081422 9.9028 99 % 99 %

74014123 10,0296 100 %

Data uji akurasi (% perolehan kembali) akrilamida dalam sampel kopi bubuk luwak mandailing
Kadar yang Luas Area Kadar akrilamida % perolehan Rata-rata %
ditambahkan setelah kembali akrilamida perolehan
(mg) penambahan kembali
standar akrilamida
(mg)

70131226 9,5008 95 %

10 mg 79943221 10,8368 108 % 104 %

81343411 11,0276 110 %


Hasil Penetapan Kadar akrilamida
pada kopi bubuk
Sampel Waktu retensi Luas Area Kadar akrilamida Kadar akrilamida kadar rata-rata akrilamida
(µg/mL) (µg/g) (µg/g) ± SD

1. 6,855 18462733 61,6360 1121


6,852 18151604 60,5769 1101 1115 ± 12,17
6,861 18500358 61,7641 1123
2. 6,876 11414789 37,6439 684
6,863 11370470 37,4931 682 687 ± 7,58
6,877 11606975 38,2982 696
3. 6,865 22761414 76,2693 1387
6,846 24606582 82,5505 1501 1461 ± 63,89
6,837 24500107 82,1880 1494
4. 6,873 3990244 12,3698 225
6,877 3934642 12,1806 221 221 ± 3,54
6,851 3878132 11,9882 218
5. 6,837 2490374 7,2641 132
6,825 2408954 6,9869 127 128 ± 3,24
6,829 2387727 6,9147 126
6. 6,827 3523776 10,7819 196
6,851 3490403 10,6683 194 195 ± 1
6,857 3512339 10,7430 195
Keterangan: Sampel (1): kopi bubuk gayo lion robusta bundo kanduang
Sampel (2): kopi bubuk asli robusta cap payung
Sampel (3): kopi bubuk mandailing estate bundo kanduang
Sampel (4): kopi bubuk luwak liar robusta
Sampel (5): Kopi bubuk gayo lion coffee luwak
Sampel (6): kopi bubuk king of luwak
Kesimpulan dan Saran

 kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan,  Saran


dapat disimpulkan bahwa:
1. Adanya kandungan akrilamida dalam kopi Dari penelitian ini semua sampel
bubuk tradisional dan kopi bubuk luwak kopi bubuk yang diteliti
yang dianalisis dengan metode mengandung akrilamida yang
kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). merupakan senyawa karsinogen
2. Didapatkan kadar rata-rata akrilamida dan berbahaya bagi manusia,
dalam sampel 1 - 6 berturut-turut adalah karena itu perlu adanya penelitian
1115 ± 12,17 µg/g sampel (1); 687 ± lanjutan akrilamida terhadap
7,58 sampel (2); 1461 ± 63,89 µg/g sampel kopi bubuk dengan
sampel (3); 221 ± 3,54 µg/g sampel (4); menggunakan metode ektraksi
128 ± 3,24 sampel (5); 195 ± 1 µg/g yang berbeda.
sampel (6).