You are on page 1of 37

HASIL KALI KELARUTAN

Larutan adalah :
Campuran zat zat yang homogen,
memiliki komposisi merata atau
serba sama diseluruh bagian
volumenya.
Larutan mengandung :
 Zat terlarut :
satu atau lebih (jumlahnya sedikit).
 Pelarut :
komponen yang melarutkan zat
terlarut dan terdapat dalam jumlah
banyak.
Banyaknya zat terlarut yang dapat meng-
hasilkan larutan jenuh dalam jumlah ter-
tentu pelarut pada suhu tertentu disebut
kelarutan.
Jika larutan mengandung dengan jumlah
maksimum zat terlarut pada suhu tertentu
 larutan jenuh. Sebelum mencapai titik
jenuh disebut larutan tidak jenuh.
Kadang kadang dijumpai dengan zat
terlarut dalam larutan lebih banyak
daripada zat terlarut yang seharusnya
dapat melarut pada suhu tertentu.
Larutan ini disebut larutan lewat
jenuh.
Kelarutan (s)
 Kelarutan (solubility) adalah jumlah maksimum suatu zat yang
dapat larut dalam suatu pelarut.
 Satuan kelarutan umumnya dinyatakan dalam gramLˉ¹ atau
molL ˉ¹ (M)

Contoh:
 Kelarutan AgCl dalam air adalah 1,3  10ˉ²M.
 Kelarutan AgCl dalam larutan NaCl 0,1 M adalah 1,7 
10ˉ¹º M.
 Kelarutan Ca(OH)2 = 20 mg/100 ml, maka dalam 100 ml larutan
maksimal terdapat 20 mg (Ca(OH)2
Besarnya kelarutan suatu zat dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu :
JENIS PELARUT
 Senyawa polar (mempunyai kutub muatan) akan mudah larut
dalam senyawa polar.Misalnya gula, NaCl, alkohol, dan semua
asam merupakan senyawa polar.
 Senyawa non polar akan mudah larut dalam senyawa non
polar,misalnya lemak mudah larut dalam minyak.Senyawa non
polar umumnya tidak larut dalam senyawa polar,misalnya NaCl
tidak larut dalam minyak tanah.
SUHU
 Kelarutan zat padat dalam air semakin tinggi bila suhunya
dinaikkan. Adanya panas (kalor) mengakibatkan semakin
renggangnya jarak antara molekul zat padat tersebut.
Merenggangnya jarak antara molekul zat padat menjadikan
kekuatan gaya antar molekul tersebut menjadi lemah sehingga
mudah terlepas oleh gaya tarik molekul-molekul air
Hasil Kali Kelarutan (Ksp)
Hasil kali kelarutan (Ksp) dinyatakan sebagai hasil kali ion-ion
(satuan Molar) dalam larutan jenuhnya, dengan masing-masing
konsentrasi berpangkatkan bilangan koefisiennya.
Contoh
(1) AgI Ag+ + I- …… Ksp Agr = [Ag+ ] [I-]
(2) PbCl2 Pb2+ + 2 Cl- …. Ksp PbCl2 = [Pb2+ ] [Cl-]2
Secara umum :
A x By x A+y + y B-x
Ksp. AxBy = [ A+y ]x [ B-x ]y
Catatan :[ J = Molar (M)
Kelarutan suatu zat bergantung
pada :

 Sifat zat yang terlarut,


 Molekul pelarut,
 Suhu, dan
 Tekanan.
Kelarutan suatu zat

 Sangat mdh larut : kelarutannya  dari 1


 Mudah larut : kelrtannya ant. 1 – 10
 Larut : kelrtannya 10 – 100
 Sukar larut : kelrtan. 100 – 1000
 Sangat sukar larut: kelrtan 1000 – 10.000
 Praktis tidak larut : kelrtannya  dari
10.000
Zat X mempunyai kelarutan dlm 2,8
Artinya :
1 bagian zat X terlarut dlm 2,8 bagian air
( larutan jenuh ).

Larutan yg mengandung 2 komponen


disebut larutan biner, dan komposisinya
adalah 1 zat terlarut & 1 pelarut.
Soal Tuliskan rumusan Ksp dari zat-zat berikut :
 a) AgCrO4 b) Hg Br c) BaCO3
Hubungan Antara Kelarutan dan Ksp

Pada larutan jenuh senyawa ion AxBy , konsentrasi zat di dalam larutan
sama dengan harga kelarutannya dalam satuan mol Lˉ¹.
Senyawa yang terlarut akan mengalami ionisasi dalam system
kesetimbangan. A B x y

AxBy (s)  x Ay  (aq)  yBx (aq) Ksp [A y  ]x [Bx ]y


Jika kelarutan PbCl2 = s M, maka di dalam larutan terdapat s M Pb2+
dan 2s M Cl-, seperti proses berikut :
PbCl2 Pb2+ + 2 Cl-
Kelarutan s M sM 2sM
Maka : Ksp. PbCl2 = [Pb2+] [Cl- ]2
= (s)(2 s)2 = 4 S3
Sehingga : s = Ksp
3
4
Contoh lain : AgBr Ag+ + Br-
Kelarutan s s s
Ksp. AgBr = [Ag+ ]([Br-]
= (s) (s) = s2
Maka : s =
Ksp
Secara umum :
A x By x A+y + y B-x
Kelarutan sM x.s y.s
Maka : Ksp. AxBy = [A+y ]x [B-x ]y
= ( s) (y s)y
=  . yy s(x+y)
S=
x y
Ksp
x y
( x) ( y )
x dan y adalah koefisien dari ion-ion.
Jika AgCl dilarutkan dalam air, maka di
dalam larutan tersebut ada kesetimbangan
antara zat yang terlarut dan zat yang tidak
larut.
AgCl  Ag+ + Cl–
 

tak larut larut


[Ag+][Cl–
K = ------------
[AgCl]
Karena AgCl dalam fase padat dan tidak
berubah, maka :
K.[AgCl] = [Ag+][Cl–]
Ksp = [Ag+][Cl–]
Ksp adalah suatu tetapan yang dinamakan
Tetapan Hasil Kali Kelarutan.
Hasil Kali Kelarutan  hasil kali konsen-
trasi (dlm molar) semua ion dalam larutan
jenuh pada suhu dan tekanan tertentu dan
masing2 ion dipangkatkan dgn koefisien-
nya.
Jadi larutan jenuh AgCl pada suhu dan
tekanan tertentu, maka hasil kali konsen-
trasi ion perak dan ion klorida adalah
konstan.
A2B3  2 A + 3 B
Ksp = [A]2.[B]3.
Bila :
[A]2.[B]3 < Ksp  belum mengendap
[A]2.[B]3 = Ksp  larutan jenuh
[A]2.[B]3 > Ksp  larutan mengendap
Contoh :
Zat Ksp
AgCl 1,1.10–10
AgBr 1,3.10–12
AgI 1,3.10–16
CdS 1,4.10–28
CuS 2,0.10–47
SrSO4 2,8.10–7
BaSO4 9,2.10–11
Mg(OH)2 3,4.10–11
Ksp suatu garam  ukuran kelarutan
garam tersebut dalam air.
Contoh :
Hitung kelarutan AgCl dalam air !
Misal : AgCl yang larut = x
AgCl  Ag+ + Cl–
x x x
Ksp = [Ag+][Cl–]
1,1.10–10 = x2  x = 1,05.10–5 M
Kelarutan AgCl =
1,05.10–5 x 143,3 g/L = 1,5.10–3 g/L
= 1,5 mg/L

Hitung Ksp Ag2CrO4, jika diketahui 1 liter


jenuh mengandung 3,57.10–2 g !

Ag2CrO4 = 3,57.10–2/331,7
= 1,08.10–4 molar
Ag2CrO4  2 Ag+ + CrO4=
1,08.10–4 2 x 1,08.10–4 1,08.10–4
Ksp = [2Ag+][CrO4–2 ]
= [2 x 1,08.10–4][1,08.10–4]
= 4,99.10–12.

Dalam membandingkan kelarutan suatu


garam, maka perlu memperhatikan struk-
tur stoikiometrinya.
AgCl 1.10–10
AgBr 1.10–12
AgI 1.10–16
Karena AgCl, AgBr dan AgI  rumus
stoikiometrinya sama, maka zat yang
paling sukar larut kalau mempunyai Ksp
yang paling kecil.
AgCl AgBr AgI
semakin sukar larut
semakin larut

AgCl 1.10–10 manakah yang mudah


Ag2CrO4 1.10–12 larut ?
Manakah yang mempunyai kelarutan :
 Paling besar
 Paling kecil
Urutkan dari kelarutan kecil ke besar !
CdS 1,4.10–28
CuS 1.10–14
HgS 4.10–54
MnS 1,4.10–15
NiS 1,4.10–24
PbS 5.10–29
Ksp Pb3(PO4)2 = 1,5.10–32
Hitung kelarutan Pb3(PO4)2 (Mr. = 811,5)
jenuh dalam air !
Jawab : misal kelarutan Pb3(PO4)2 = x
Pb3(PO4)2  3 Pb2+ + 2 PO43–
x 3x 2x
Ksp = [Pb2+]3[PO43–]2
1,5.10–32 = [3x]3 [2x]2
X = 1,69.10–7 molar
Kelarutannya = 1,69.10–7 x 811,5 g/Liter
Kelarutan Pb3(PO4)2 = 1,37.10–4 g/L
= 0,137 mg/L

Campuran ion Cl– 0,01M & CrO4= 0,001M


ditambah AgNO3 tetes demi tetes.
Manakah yang mengendap lebih dahulu ?
Jelaskan mengapa demikian !
Ag+ yang digunakan untuk mengendapkan
Cl– : Ksp = [Ag+][Cl–]
1.10–10 = [Ag+][0,01]
[Ag+] = 1.10–8
Ag+ yang digunakan untuk mengendapkan
ion CrO4= :
Ksp = [Ag+]2[CrO4=]
1.10–12 = [Ag+]2[0,001]
[Ag+] = 3,16.10–5
Ag+ yg dibutuhkan untuk mengendapkan :
Ion Cl– : 1.10–8
Ion CrO4= : 3,16.10–5
Maka ion Cl– akan mengendap lebih
dahulu, karena . . . .
Pengaruh Ion Senama
Kelarutan garam yang sukar larut akan
berkurang kalau larutan mengandung
salah satu ion yang terdapat dalam garam
tersebut.
Misalnya melarutkan AgCl dalam larutan
yang mengandung NaCl.
Contoh :
AgCl dilarutkan dalam larutan NaCl 0,01M
Bagaimana kelarutannya ?
AgCl  Ag+ + Cl–
x x x + 0,01  0,01

Ksp = [Ag+][Cl–]
1.10–10 = [x][0,01]  x =1.10–8
Maka adanya ion Cl–, kelarutan AgCl
semakin berkurang.
Bila tidak ada ion klorida, maka :
x = 1.10–5
Ksp = [Ag+][Cl–]
1.10–10 = [x][x]  x =1.10–5
Pengendapan dengan H2S.
H2S  2 H+ + S= K = 1.10–22
[H+]2[S=]
K = ------------
[H2S]
Karena gas H2S jenuh  0,1M, maka :
K x [H2S] = [H+]2[S=]
1.10–22 x 0,1 = [H+]2[S=]
1.10–23 = [H+]2[S=]
pS = 23 – 2 pH
Contoh :
Larutan mengandung CuSO4 0,1M dan
MnSO4 0,1M.
Pertanyaan :
 Apa yang terjadi apabila larutan
diasamkan sampai pH = 1 dan dialiri gas
H2S ?
 Apabila larutan dibasakan sampai pH = 10
Diketahui :
CuS 1.10–44 MnS 1.10–15
Jawab :
Bila pH = 1, maka pS = 23 – 2 x 1
= 21
 S= = 1.10–21
Maka : [Cu2+][S=] [Mn2+][S=]
[0,1][1.10–21] [0,1][1.10–21]
1.10–22 1.10–22
Ksp 1.10–44 1.10–15
mengendap tetap larut
Bila pH = 10, maka pS = 23 – 2 x 10
pS = 3  S= = 1.10–3
Maka : [Cu2+][S=] [Mn2+][S=]
[0,1][1.10–3 ] [0,1][1.10–3]
1.10–4 1.10–4
Ksp 1.10–44 1.10–15
mengendap mengendap
karena harga Ksp hitung lebih besar dari
Ksp teori dan keduanya tidak dapat
dipisahkan.
Contoh :
Larutan NiCl2 0,001M
Pada pH berapakan NiS mulai mengen-
dap jika dialiri gas H2S ? Ksp = 1.10–24
Jawab :
[Ni2+][S=] = 1.10–24
[0,001][S=] = 1.10–24  S= = 1.10–21
pS = 23 – 2 pH
21 = 23 – 2 pH  pH = 1
Pada pH 1, NiS mulai mengendap.
Pada pH berapakah Fe(OH)3 mulai me-
ngendap dari larutan FeCl3 0,01M, jika Ksp
3,8.10–38 ?
Jawab :
[Fe3+][OH–]3 = 3,8.10–38
[0,01][OH–]3 = 3,8.10–38
[OH–] = 1,56.10–12
pOH = 11,81
pH = 14 – 11,81 = 2,19
Fe(OH)3 mulai mengendap pada pH 2,19
Soal latihan
1. Ke dalam 250 ml air dimasukkan 1 g padatan CaCO3 (Mr = 100). Setelah
diaduk, padatan yang tidak dapat larut seberat 0,50 g. Hitunglah kelarutan
CaCO3 dalam satuan mol dan M.
2. Dalam larutan jenuh ferihidroksida terdapat 0,01 M OH-. Hitung kelarutan zat
tersebut (M dan g/100 ml) (Ar. Fe = 56, H = 1, O = 16).
3. Hitung Ksp dari soal no. 1 dan 2
4. Jika kelarutan zat dinyatakan s mol/liter. Tuliskan hubungan antara s dan Ksp
dari soal no. 6
5. Berapa gram minimal NaCl (Mr=58,5) harus dimasukkan ke dalam 2 liter larutan
4x10-3 M Pb(NO3)2 agar terbentuk endapan Pb Cl2 ? (Ksp. PbCl2 = 4x10-12)
6. Ke dalam 200 ml larutan yang pHnya 8 dimasukkan 0,001 mg FeCl2 (Mr = 127).
Apakah campuran tersebut telah membentuk endapan ? (Ksp. Fe(OH)2 = 4 x
10-14).
7. Di dalam larutan manakah AgCl paling kecil kelarutannya ?
a) 0,01 M AgNO3 b) 0,01 M CaCl2 c) 0,015 M NaCl